P. 1
Contoh Proposal PTK Penjas

Contoh Proposal PTK Penjas

|Views: 9,957|Likes:
Published by Chen Irma

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Chen Irma on Jul 09, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved
List Price: $4.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/07/2014

$4.99

USD

pdf

text

original

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS



PENINGKATAN KEMAMPUAN PENGUASAAN TEKNIK
DASAR MELAMBUNGKAN DAN MEMUKUL BOLA KASTI
MODEL KETERPADUAN KETERAMPILAN DAN KESEGARAN
JASMANI ( MK3 )
( PTK di Kelas IV SD Inpres Bertingkat Mamajang I – Kota. Makassar )

Proposal Penelitian ini disusun untuk pembinaan karier PTK
DIKDAS Kelompok Kerja Guru ( KKG ) gugus II Kec. Mamajang .

Di Susun Oleh :
IRMA ABDULLAH, S.Pd
NIP. 19771226 200901 2 005

SEKOLAH DASAR INPRES BERTINGKAT MAMAJANG I
UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN MAMAJANG
KOTA MAKASSAR
2012
A. Judul
“PENINGKATAN KEMAMPUAN PENGUASAAN TEKNIK DASAR
MELAMBUNGKAN DAN MEMUKUL BOLA KASTI MODEL
KETERPADUAN KETERAMPILAN DAN KESEGARAN JASMANI
( MK3 )”
( PTK di Kelas IV SD Inpres Bertingkat Mamajang I)

B. Latar Belakang
Commando Style (Gaya Komando) gaya mengajar ini sering digunakan
oleh guru-guru pendidikan jasmani pada masa lalu dan bahkan masih sering
penulis menjumpai cara mengajar ini, dimana gaya ini cenderung berorientasi
kepada kepentingan/kebutuhan guru (Teacher Centered). Kecenderungan
penggunaan gaya ini, sebenarnya semata-mata sangat tergantung dari kepribadian
guru itu sendiri. Maka gaya ini terkesan seperti gaya diktator. Kerugian gaya ini
adalah tidak peka terhadap konsep individu dalam pembelajaran. Keseriusan
melakukan hanya terbatas pada mereka yang memiliki potensi baik saja, dantidak
demikian dengan mereka yang berpotensi rendah.
Untuk mengubah pemikiran dan beralih dari penggunaan metode yang
hanya digunakan pada bagian-bagian pembelajaran ke penggunaan model yang
lebih luas dan menyeluruh maka pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran salah satunya adalah penggunaan model Keterpaduan
Keterampilan Dan Kesegaran Jasmani diharapkan dapat memacu/meningkatkan
kemampuan penguasaan motorik siswa serta pertumbuhan dan perkembangan
jasmani, mental, emosional, dan sosial siswa.
Berdasarkan hal tersebut, perlu diadakan suatu penelitian yang ilmiah guna
meningkatkan kemampuan penguasaan dan keterampilan jasmani (motorik)
dalam hal ini adalah gerak melambungkan dan memukul bola kasti sekaligus
meningkatkan kesegaran jasmani melalui aktivitas jasmani yang variatif sesuai
dengan perbedaan yang ada pada anak-anak dalam konsep permainan sederhana.
Olehnya itu penulis mengangkat sebuah judul penelitian tindakan kelas untuk
mendapatkan solusinya yaitu : “Peningkatan Kemampuan Penguasaan Teknik
Dasar Melambungkan dan Memukul Bola Kasti Model Keterpaduan
Keterampilan dan Kesegaran J asmani (MK3) Murid Kelas I V SD I npres
Bertingkat Mamajang I”.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka masalah yang
dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :
“Apakah model keterpaduan keterampilan dan kesegaran jasmani (MK3)
dapat meningkatkan kemampuan penguasaan teknik dasar melambungkan dan
memukul bola kasti pada Siswa Kelas IV SD Inpres Bertingkat Mamajang I
Kecamatan Mamajang Kota Makassar”


D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan
yang hendak dicapai pada PTK ini adalah :
“Untuk mengetahui apakah penerapan model keterpaduan keterampilan dan
kesegaran jasmani (MK3) dapat meningkatkan kemampuan penguasaan
teknik dasar melambungkan dan memukul bola kasti pada Siswa Kelas IV
SD Inpres Bertingkat Mamajang I Kecamatan Mamajang Kota Makassar”

E. MANFAAT PENELITIAN
Hasil akhir dari PTK ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, guru
penjasorkes, dan untuk sekolah yang bersangkutan, yaitu SD Inpres
Bertingkat Mamajang I.
1. Bagi siswa
1.1 Siswa dapat melakukan teknik dasar permainan bola kasti
1.2 Siswa dapat mempunyai pengetahuan yang memadai tentang prinsip-
prinsip dan etika dalam permainan.
2. Bagi guru
2.1 Sebagai bahan masukan dan menambah ilmu pengetahuan pada
permainan kasti
2.2 Sebagai tambahan kompetensi dan inspirasi dalam pengetahuan
administrasi pendidikan jasmani.
3. Bagi Sekolah
3.1 Sebagai bahan peningkatan kualitas pembelajaran dan pengajaran yang
berakibat terhadap peningkatan kualitas siswa dan guru, sehingga pada
akhirnya akan mampu meningkatkan kualitas sekolah secara keseluruhan.
F. KAJIAN PUSTAKA
1. Model Pembelajaran Dalam Pendidikan Jasmani
Model pembelajaran (models of teaching) dalam konteks
pendidikan jasmani lebih banyak berkembang berdasarkan orientasi dan
model kurikulumnya. Dalam hal ini, model pembelajaran lebih sering
dilihat sebagai “pilihan” guru untuk melihat manfaat dari pendidikan
jasmani terhadap siswa, atau lebih sering disebut sebagai orientasi. Oleh
karena itu dapat dipahami bahwa sebagian ahli menunjuk model
pembelajaran dalam penjas sebagai jawaban atas pertanyaan guru tentang
”esensi apa yang diharapkan dari siswa melalui pendidikan jasmani?“.
Mengikuti alur pikir tentang model di atas, model pembelajaran
pendidikan olahraga, model pendidikan kebugaran, model kinesiological
studies, model pengembangan disiplin, bahkan model petualangan
(Jewett: 1994).
Secara khusus istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual
yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Dalam
pengertian lain model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk
mewujudkan suatu proses, pemilihan media dan evaluasi.
Dalam kaitan dengan proses pembelajaran, model pembelajaran
adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis
dalam mengorganisasi pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar
tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para pengajar dalam
merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Dalam pengembangan kurikulum pendidikan gerak, keseluruhan
konsep itu dimanfaatkan dan dielaborasi, serta menjadi wahana bagi anak
untuk mengeksplorasi kemampuan geraknya. Termasuk, jika ke dalam
kurikulum tersebut dimasukkan beberapa orientasi kecabangan olahraga
seperti senam atau permainan, bahkan dansa sekalipun. Di bawah ini akan
diuraikan ruang lingkup kurikulum pendidikan gerak yang diorientasikan
melalui permainan kependidikan. Jewet dan Bain (1985) menyatakan
bahwa :
Model pendidikan gerak telah dikritik dalam hal tidak di
temukannya klaim tentang transfer belajar” dan juga
mengakibatkan menurunnya waktu aktif bergerak yang disebabkan
oleh penekanan berlebihan pada pengajaran konsep gerak.
Meskipun secara teoritis tersedia cukup banyak model
pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru penjas, di dalam
pelaksanaan pembelajaran guru seyogyanya memilih model yang paling
efektif dan penulis mencoba menerapkan salah satunya yaitu model
keterpaduan Keterampilan dan Kesegaran jasmani (MK3) untuk
memecahkan permasalahan yang terjadi pada siswa kelas IV SD Inpres
Bertingkat Mamajang I yaitu kesulitan siswa dalam hal penguasaan
teknik dasar melambungkan dan memukul bola kasti.
Dasar penerapan model meliputi:
a) menekankan pada partisipasi yang menyenangkan pada kegiatan-kegiatan
yang mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
b) menyediakan kegiatan-kegiatan kompetitif dan non-kompetitif dengan
rentang yang bervariasi sesuai dengan tuntutan perbedaan kemampuan
siswa
c) memberikan keterampilan (skill) dan keyakinan (confidence) yang
diperlukan siswa agar dapat berpartisipasi aktif secara fisik.
d) melakukan promosi aktivitas fisik/olahraga pada seluruh komponen
program sekolah dan mengembangkan hubungan antara program sekolah
dan program masyarakat.
Dengan menggunakan dasar penerapan di atas, model ini diharapkan dapat
mengembangkan skill, kebugaran jasmani, pengetahuan, sikap, dan perilaku
yang dapat menggiring siswa memiliki gaya hidup aktif dan sehat (active-
healthy lifestyles). Model pembelajaran ini berkeyakinan bahwa keberhasilan
pendidikan jasmani berawal dari tertanamnya kesenangan siswa terhadap
berbagai aktivitas fisik. Oleh karena itu, berbagai pembekalan seperti skill,
kebugaran jasmani, sikap, pengetahuan, dan perilaku sehari-hari harus
selalu berorientasi pada kesenangan dan keyakinan individu dalam rangka
pembentukan gaya hidup aktif yang sehat di masa yang akan datang.

Peranan guru dalam penerapan model ini lebih ditekankan pada upaya
untuk membimbing siswa pada program kegiatan kesegaran jasmani,
mengajar keterampilan dalam pengelolaan dan pembuatan keputusan,
menanamkan komitmen terhadap gaya hidup yang aktif, dan
mengadministrasi program asesmen kesegaran jasmani individu siswa.
Mengingat kritik yang mengatakan bahwa ruang lingkup dari program ini
sangat terbatas pada aktivitas kebugaran saja, maka program ini berisikan
pengembangan berbagai variasi keterampilan dan pengalaman yang
memungkinkan siswa dapat berpartisipasi dalam aneka ragam olahraga dan
aktivitas fisik.
Kemampuan guru merupakan komponen penting dalam pembelajaran
sebagai fasilitator dan motivator bagi anak untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang diharapkan. Fleksibilitas dan visibilitas suatu model
pembelajaran harus cukup tinggi, sebab bagaimanapun juga faktor-faktor
tersebut di atas saling terkait dan saling mendukung untuk menjamin
efektivitas suatu model pembelajaran.
a. Lima faktor penentu efektifitas penggunaan model pembelajaran :
1. Ekspektasi guru tentang kemampuan siswa yang akan
dikembangkan
2. Keterampilan guru dalam mengelola kelas
3. Jumlah waktu yang digunakan oleh siswa untuk melakukan tugas-
tugas belajar
4. Kemampuan guru dalam mengambil keputusan pembelajaran
5. Variasi metode mengajar yang digunakan
b. Keterampilan yang harus di miliki guru :
Kemampuan mentransfer pengetahuan
Ketekunan
Dapat memenuhi tuntutan kognitif dalam pembelajaran
Mempunyai fleksibilitas terhadap inovasi
2. Model Keterpaduan Keterampilan dan Kesegaran Jasmani
Joyce dan Weil (1972:12) mendefinisikan model pembelajaran sebagai
berikut : Model pembelajaran adalah “sebuah rencana” atau pola-pola yang
dapat digunakan untuk menajamkan kurikulum (kajian pembelajaran jangka
panjang), untuk mendesain materi-materi pembelajaran dan untuk penuntun
pembelajaran di kelas dan tempat lain. Sedangkan metode, strategi, atau
gaya secara khusus digunakan untuk satu atau aktivitas dan hasil belajar
jangka pendek, dan kemudian diberikan lagi metode, strategi, dan gaya yang
lain.
Model merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai
pedoman dalam melakukan kegiatan. Istilah Model Pembelajaran (model of
teaching) sebagaimana dijelaskan Toeti dan Sarifudin (1996:78), model
pembelajaran didifinisikan sebagai suatu kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagi pedoman
bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan
melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Sudrajat, (2008:2) juga
menjelaskan tentang model pembelajaran, yaitu sebagai landasan praktik
pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan belajar, yang
dirancang berdasarkan proses analisis yang diarahkan pada implementasi
kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di depan kelas.
Model Keterpaduan Keterampilan dan Kesegaran jasmani (MK3) yang
di definisikan oleh Tandiyo Rahayu (2002:14) adalah : “merupakan suatu
model pembelajaran yang mengkondisikan aktivitas kesegaran jasmani dan
aktivitas penguasaan keterampilan jasmani yang di ramu dalam suatu aktivitas
bermain/permainan yang dimulai dari bentuk sederhana sampai ke bentuk
yang lebih kompleks”.
Dengan model MK3 dapat dikembangkan aspek-aspek keterampilan
jasmani (motorik) sekaligus meningkatkan kesegaran jasmani yang variatif
sesuai dengan perbedaan yang ada pada anak-anak


Penggunaan Model MK3 guru berusaha meningkatkan kemampuan
keterampilan dan kesegaran jasmani siswa dalam proses
pembelajaran maka model ini memiliki keuntungan sebagai berikut :
Menanamkan kesadaran tentang manfaat jasmani bagi diri anak
Menanamkan kegemaran mengikuti aktivitas jasmani secara teratur,
terarah dan terseleksi sejak kecil.
Terjadinya perubahan pandang yang positif terhadap aktivitas jasmani
sejak dini.
Mengembangkan keterampilan motorik melalui aktivitas jasmani yang
terarah.
KONSEP KESEGARAN JASMANI DI SEKOLAH DASAR

Yang Sesuai Yang tidak sesuai
Partisipasi maksimal anak dalam
berbagai aktivitas kesegaran
jasmani.
Membantu siswa memahami nilai-
nilai kesegaran
Membantu untuk membudayakan
hidup sehat
Anak dianjurkan untuk
mengikuti aktivitas
kesegaran jasmani tanpa
disertai alasan yang jelas
mengapa anak mengikuti
aktifitas tersebut


Walaupun baiknya model ini, masih ada kelemahan yang perlu
diperhatikan ialah :
Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara
belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui
keadaan sekitarnya dengan baik.
Bila kelas terlalu besar, ruang gerak pengamatan guru terbatas
Dengan model ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini
terlalu mementingkan proses pengertian saja dan pencapaian teknik
gerak secara baku tidak tercapai
Aktivitas Pelaksanaan Keterpaduan antara kesegaran Jasmani
dan Keterampilan dengan format Permainan Sederhana
(Low Organized Games)
Permainan sederhana merupakan istilah yang digunakan untuk
menunjukkan aktivitas bermain yang mudah dimainkan, mempunyai aturan
yang sederhana, tidak membutuhkan banyak peralatan dan mempunyai
banyak variasi. Permainan sederhana atau bermain sederhana digunakan
karena mudah disesuaikan dengan tujuan belajar, luas ruang kegiatan bermain
dan jumlah anak dalam kelompok. Permainan sederhana harus dilakukan
berdasarkan pada alasan-alasan khusus, dan dilakukan dengan menyenangkan.
Aktivitas permainan sederhan didasarkan pada 3 jenis aktivitas yaitu :
1. Aktivitas permainan lokomotor
2. Aktivitas permainan manipulative
3. Aktivitas permainan lingkaran
Langkah-langkah pembelajaran model keterpaduan keterampilan dan
kesegaran jasmani (MK3) :
1. Aktivitas permainan Lokomotor
Bola Kejar
Sasaran Pengembangan : Lari, start
Perlengkapan : Bola Tennis
Jumlah Pemain : 10 – 30 anak
Formasi : Lingkaran
Pelaksanaan :
- Anak-anak berdiri membentuk formasi lingkaran dengan menghadap
kedalam
- Kedua tangan berada dibelakang badan dengan kedua telapak tangan
terbuka menghadap keatas
- Permainan di mulai oleh salah seorang anak yang membawa bola, anak
tersebut mengelilingi lingkaran dan memilih satu anak untuk diberi bola
dengan cara meletakkannya pada telapak tangan yang terbuka
- Anak yang menerima bola harus menggenggam bola tersebut segera
mengejar anak yang member bola tadi
2. Aktivitas permainan Manipulatif
Bola Tembak
Sasaran Pengembangan : Melempar
Perlengkapan : Bola kecil berbahan plastic/kertas
Jumlah Pemain : 10 – 30 anak
Formasi : Lingkaran
Pelaksanaan :
- Anak di bagi menjadi dua kelompok
- Satu kelompok sebagai penembak berjumlah 4 orang dan selebihnya
menjadi kelompok yang menghindari tembakan
- Kelompok yang menghindari tembakan berdiri bebas di dalam lingkaran
- Kelompok penembak berdiri pada empat penjuru di luar lingkaran
- Permainan di mulai oleh kelompok penembak dengan berusaha
menembakkan bola kearah kaki sedangkan kelompok yang berada dalam
lingkaran berusaha menghindari lemparan.
- Pelempar yang berhasil mengenai kaki segera masuk kedalam lingkaran,
penembak digantikan oleh anak yang baru saja tertembak
- Aktivitas ini dilakukan sampai semua anak atau sebagian besar anak telah
mengalami menjadi penembak
3. Aktivitas permainan Lingkaran
Menjaga Tongkat
Sasaran Pengembangan : Melempar, kelincahan, koordinasi mata kaki
Perlengkapan : Tongkat yang dapat berdiri dan bola voli mini
Jumlah Pemain : 10 anak dalam setiap kelompok
Formasi : Lingkaran
Pelaksanaan :
- Kelompok membentuk lingkaran mengelilingi penjaga tongkat yang
berada di tengah lingkaran.
- Tongkat ditancapkan ditengah lingkaran dan akan menjadi target lemparan
pemain yang ada dipinggir lingkaran
- Penjaga tongkat berusaha menjaga tongkat agar tidak roboh dengan cara
menangkap bola, memukul bola, atau menahan bola dengan semua bagian
anggota tubuh
- Pemain luar yang berhasil merobohkan tongkat akan menjadi penjaga baru

3. Sejarah singkat permainan Kasti
Orang telah bermain-main dengan bola dan tongkat selama berabad-
abad. Sebuah permainan yang disebut “dasar-bola” telah berkembang di
Inggris pada awal abad ke-18, dan itu terus disebut “baseball” sampai setelah
1800. Seperti halnya dengan semua permainan rakyat, ada banyak variasi.
Permainan yang menggunakan bola dan tongkat ini dimainkan di Amerika
jauh sebelum 1800. Permaian Baseball (dan softball), adalah olahraga
permainan modern evolusi dari permainan rakyat seperti kasti batsball,
catsball, stoolball, dan banyak jenis permainan yang serupa. Terlepas dari
perbedaan nyata dalam terminologi, perbedaan permainan dalam peralatan
yang digunakan (bola, bat, klub, target, dll, (dan media/alat apa pun yang
tersedia), teknik di mana bola dilemparkan, metode skor, aturan out, tata letak
lapangan dan jumlah pemain yang terlibat. Asal usul permainan ini telah
menjadi kontroversi oleh para sejarawan Inggris dan Amerika.
Hingga saat ini olahraga permainan kasti di simpulkan sebagai
olahraga permainan masyarakat, dimana masyarakat melakukannya pada
waktu senggang oleh anak atau murid sekolah. Olahraga ini termasuk
olahraga tradisional yang juga banyak diminati anak-anak remaja karena
dalam permainan kasti meningkatkan ketangkasan dan kekompakan regu atau
pemain. Sehingga melalui permainan kasti dapat menjalin hubungan
persahabatan dan kerjasama yang baik. Biasanya permainan bola kasti
kebanyakan dilakukan pada waktu sore hari dan kegiatan bola kasti dapat
dilakukan oleh siapapun.

1. Pengertian
Bola kasti adalah suatu bentuk permainan yang dimainkan 2 regu berjumlah
15 orang. Perinciannya adalah 12 orang pemain inti (yang bermain ditengah
lapangan) dan 3 orang sebagai pemain cadangan atau pengganti. Teknik
adalah suatu proses membuktikan dalam praktek dengan sebaik mungkin
dalam permainan bola kasti.
2. Komponen Teknik dasar permainan kasti
Adapun beberapa teknik dalam permainan bola kasti adalah sebagai berikut :
(1) Melambungkan bola dengan berbagai variasi
(2) Melempar Bola ke berbagai arah dan kecepatan
(3) Menangkap Bola dalam berbagai dan kecepatan
(4) Memukul Bola yang dilambungkan/ dilemparkan dari berbagai
arah dan jarak
(5) Berlari dengan berbagai variasi, arah, dan kecepatan

2.1 Melambungkan bola dengan berbagai variasi
Melambungkan Bola ke Atas, langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Berdiri dengan salah satu kaki di depan (kaki kanan /kiri).
2. Pegang bola dengan tangan kanan, sejajar dengan dada
3. Bola berada pada pangkal jari-jari, tangan kanan membuat cekungan
dan menghadap ke atas.
4. Tangan kanan di depan dada dengan siku sedikit ditekuk dan tangan
kiri didepan dada.
5. Tarik tangan kanan ke bawah hingga di samping belakang lutut.
6. Condongkan badan agak kedepan dan tekuklah kedua lutut.
7. Ayunkan tangan keatas dengan siku lurus.
8. Lepaskan bola disertai dengan lecutan telapak tangan kearah atas.
Melambungkan Bola ke Depan, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Berdiri dengan kaki kiri di depan
2. Tangan kanan memegang bola.
3. Tangan kanan yang memegang bola lurus berada di samping paha.
4. Posisi bola terletak pada pangkal jari-jari dan telapak tangan membuat
cekungan.
5. Selanjutnya tarik tangan kanan lurus kebelakang.
6. Tekuk kedua lutut dan badan condong kedepan (badan tidak
membungkuk).
7. Ayunkan tangan yang memegang bola kearah depan,langkahkan kaki
kanan dan luruskan lutut kiri.

2.2 Melempar Bola dari Atas Kepala, lemparan bola dari arah atas
biasanya digunakan dari jarak yang jauh dari pemukul atau pemain yang
berlari, langkah-langkah melempar bola ke pada pemukul antara lain:
1. Berdiri dalam sikap siap melempar
2. Posisi bola terletak pada pangkal jari-jari, ketiga jari-jari berada pada
belakang bola, ibu jari dan jari kelingking berada di samping bola.
3. Tariklah tangan kebelakang bersama dengan gerakan memutar
kesamping dan langkahkan kaki kiri kedepan.
4. Badan condong kebelakang lalu ayunkan tangan yang memegang bola
dari belakang dan lemparkan dengan kaki kanan ikut maju.

2.3 Menangkap Bola
teknik menangkap bola dalam permainan kasti, teknik ini digunakan oleh
pemain penjaga.berbagai teknik tangkapan antara lain:
A. Menangkap Bola Lambung, langkah-langkahnya adalah :
1. berdiri dengan kaki sedikit kangkang, lutut sedikit ditekuk pandangan
mata tertuju kearah datangnya bola.
2. julurkan tangan keatas depan kepala badan sedikit condong kedepan.
3. kedua telapak tangan membuka menyerupai bunga yang merekah dan
siap menangkap bola, pandangan tetap kebola.
B. Menangkap Bola Mendatar teknik menangkapnya sebagai berikut :
1. berdiri dengan kaki sedikit kangkang, lutut sedikit ditekuk pandangan
mata tertuju kearah datangnya bola.
2. posisi kedua telapak tangan, kedua lengan lurus kedepan dan tangan
kanan atau tangan kiri yang di atas seperti bentuk tepuk tangan dari
atas.
C. Menangkap Bola Dari Bawah, tekniknya sebagai berikut:
1. kedua tangan siap menerima bola dengan berjongkok.
2. jari-jari tangan berada di bawah sejajar arah bola yang akan datang
3. pandangan lurus kearah bola agar dapat melihat arah bola dating



2.4 Memukul Bola
Memukul bola, teknik ini merupakan teknik yang harus dikuasai setiap
pemain karena sebuah pukulan yang dapat menentukan berhasil tidaknya
permainan. Ada beberapa teknik memukul yang harus dikuasai pemain kasti
antara lain:
1. memukul bola mendatar
2. memukul bola merendah atau menyusur tanah
3. memukul bola atas kepala

2.5 Teknik Berlari
Berlari, teknik berlari merupakan teknik yang dapat dilakukan oleh setiap
pemain. Alangkah baiknya bila teknik berlari bagi pemain kasti di perdalam
lagi agar tidak kecapean bila sedang berlari. Ada beberapa teknik berlari
antara lain:
1. berlari lurus
2. berlari zig-zag

3. Koordinasi
Untuk mencapai gerakan yang lebih efesien dalam olahraga permainan
kasti, siswa harus dilatih untuk melakukan gerak cepat dan tepat, dengan
koordinasi yang baik. Gerakan harus merupakan rangkaian tugas yang
dilakukan dengan serasi dan luwes. Kesalahan-kesalahan dalam
melakukan gerak memukul dan melambungkan bola secara bervariasi
dapat diperbaiki dengan penguasaan dan melakukan teknik gerak berulang
yang lebih baik.
Menurut Moch. Sajoto (1988:53) bahwa : “Koordinasi adalah
kemampuan untuk menyatukan berbagai system syaraf gerak, yang
terpisah, ke dalam suatu pola gerak yang efesien”. Makin kompleks gerak
yang dilakukan, makin besar tingkat koordinasi yang diperlukan untuk
melaksanakan ketangkasan tersebut. “Koordinasi berhubungan dengan
kemampuan motorik yang lain, seperti keseimbangan, kecepatan dan
agility” (Sajoto, 1988:53).
Harus dipahami bahwa koordinasi adalah suatu kemampuan
biomotorik yang sangat kompleks. Menurut Bompa (1983) yang dikutip
Harsono (1988:219) bahwa : “Koordinasi erat hubungannya dengan
kecepatan, kekuatan, daya tahan, fleksibilitas, dan sangat penting untuk
mempelajari dan menyempurnakan teknik dan taktik”. Lebih lanjut
Harsono (1988:219) mengemukakan pendapat Barrow dan McGee (1979)
Bahwa : “ … dalam koordinasi termasuk juga agilitas, balance
(keseimbangan, dan kinesthetic sense”. Olehnya itu Pendapat Zernicke
(1979) yang dikemukakan Harsono (1988) bahwa : “ Koordinasi adalah
perpaduan fungsi beberapa otot secara tepat dan seimbang menjadi satu
pola gerak.
Untuk menegetahui baik tidaknya koordinasi seseorang dalam
melakukan gerakan aktif terpadu, tercermin dalam kemampuannya untuk
melakukan gerakan tersebut dengan tepat dan akurat secara optimal.
Dengan demikian gerakan yang terjadi benar-benar gerakan yang
terkoordinir secara rapi dan lincah. Seseorang yang koordinasinya baik
akan dapat mengubah dan berpisah secara tepat dari pola gerak yang satu
ke pola gerak yang lain sehingga gerakannya menjadi lebih efesien.

G. Kerangka Berpikir
Sehubungan dengan tinjauan pustaka yang telah di kemukakan, maka
kerangka berpikir, adalah, sebagai berikut :
Pada proses pelaksanaan pembelajaran olahraga permainan kasti perlu di
tunjang dengan adanya kemampuan motorik dengan koordinasi gerak yang
baik oleh seorang siswa dalam prosesnya, komponen-komponen motorik
tersebut di jadikan sebagai alat ukur di dalam mengontrol kemampuan siswa
untuk melakukan gerakan-gerakan teknik dasar olahraga permainan kasti.
Untuk itu dengan model MK3 di harapkan dapat di kembangkan menjadi
aspek-aspek keterampilan jasmani (motorik) sekaligus meningkatkan
kesegaran jasmani melalui aktivitas jasmani yang variatif sesuai dengan
perbedaan yang ada pada anak-anak.
Dengan demikian konsep proses pembelajaran pendidikan jasmani
dalam menggunakan metode yang berbeda yaitu model keterpaduan
keterampilan dan kesegaran jasmani dan Commando style (gaya komando)
akan membawa peningkatan skill dan kesegaran jasmani siswa yang berbeda.
Secara sistematis kerangka konseptual PTK ini dapat di gambarkan
sebagai berikut :









H. Hipotesis Penelitian
Jika dalam pembelajaran Penjasorkes guru memanfaatkan model
keterpaduan keterampilan dan kesegaran jasmani (MK3) yang bercirikan
mengkondisikan aktivitas kesegaran jasmani dan aktivitas penguasaan
keterampilan jasmani yang diramu dalam suatu aktivitas bermain/permainan,
maka kemampuan penguasaan teknik dasar melambungkan dan memukul bola
kasti pada siswa kelas IV SD Inpres Bertingkat Mamajang I akan meningkat.
Penerapan Model keterpaduan
keterampilan dan kesegaran jasmani
(MK3)
Commando style (gaya komando)
Peningkatan
Skill dan
Kesegaran
Jasmani Siswa
I. METODE PENELITIAN

1. Tempat, Waktu Penelitian dan Jumlah Siswa
1.1. Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “ Peningkatan Kemampuan
Penguasaan Teknik dasar Melambungkan dan Memukul Bola Kasti Model
Keterpaduan Keterampilan Dan Kesegaran Jasmani (MK3) Siswa Kelas IV “
ini dilaksanakan di kelas VI SD Inpres Bertingkat Mamajang I, Jl. Singa No.
56 – Kota. Makassar.
1.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari mulai 02 s.d 31 Juli 2012
1.3. Jumlah Siswa
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Inpres Bertingkat
Mamajang I dengan jumlah siswa putri 14 orang dan putra 19 orang, jadi
jumlah total 33 orang siswa.
2. Gambaran Umum Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Prosedur atau
langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian ini dilaksanakan dalam 2
siklus. Tiap siklus dilaksanakan 4 kali pertemuan (2 minggu). Setiap siklus
penelitian terdiri dari empat kegiatan pokok yaitu, perencanaan, tindakan
pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Prosedur PTK ini secara rinci diuraikan
sebagai berikut :
 Siklus I
1) Tahap perencanaan
2) Pelaksanaan tindakan
3) Observasi dan evaluasi
4) refleksi
 Siklus II
Siklus kedua dalam PTK ini prosedurnya relative sama dengan siklus
pertama, meliputi : tahap perencanaaan, tahap pelaksanaan, observasi/evaluasi
dan refleksi. Namun tetap dilakukan pembenahan-pembenahan yang dianggap
perlu dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dengan model Keterpaduan
Keterampilan Dan Kesegaran J asmani (MK3) berkaitan dengan kelemahan
yang terdapat pada siklus pertama.

3. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data penelitian, dilakukan dengan cara
menentukan sumber data terlebih dahulu, kemudian jenis data, teknik
pengumpulan data, dan instrumen yang digunakan. Teknik pengumpulan data
secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini :

Tabel 5
Teknik Pengumpulan Data
No Sumber Data Jenis Data
Teknik
Pengumpulan
Data
Instrumen
1 Siswa Aktivitas siswa
dalam belajar
Bola Kasti
Observasi Pedoman
Observasi
2 Guru Aktivitas guru
dalam mengajar
Bola Kasti
Observasi Pedoman
Observasi
3 Siswa Hasil Belajar
siswa
Tes Siswa
melakukan awalan,
cara melempar,
cara memukul,
sikap akhir

4 Siswa Respon siswa
(tingkat
Kepuasan
Belajar) terhadap
proses Belajar
Bola Kasti
Penyebaran angket
Angket kepuasan
belajar siswa


4. Teknik Analisis Data
Dalam PTK ini penulis menggunakan rancangan analisis deskriptif
yaitu untuk medeskripsikan skor responden untuk masing-masing sub
variable yang meliputi rata-rata, standar deviasi, skor maksimum, skor
minimum, prosentasi dan table frekuensi.
5. Indikator Keberhasilan
Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk mengukur sejauh mana
peningkatan kemampuan penguasaan teknik dasar Bola Kasti dengan
menggunakan model keterpaduan keterampilan dan kesegaran jasmani
(MK3), indikator dari kemampuan penguasaan belajar adalah meningkatnya
hasil belajar siswa dengan kata lain bahwa untuk melihat meningkat atau
tidaknya sebuah proses pembelajaran bisa dilihat dari pencapaian hasil
pembelajarannya. Berikut ini Tabel 1 Indikator Hasil Belajar Siswa.
Tabel 1
Indikator Hasil Belajar Siswa
No Aspek Ketuntasan Kriteria
1 Awalan 80 - 100%
60 – 79%
40 – 59%
Sangat Efektif
Efektif
Cukup efektif
20 – 39%
0 – 19%
Kurang efektif
Tidak efektif
2 Cara Melempar
dan Memukul
80 - 100%
60 – 79%
40 – 59%
20 – 39%
0 – 19%
Sangat Efektif
Efektif
Cukup efektif
Kurang efektif
Tidak efektif
3 Sikap Akhir 80 - 100%
60 – 79%
40 – 59%
20 – 39%
0 – 19%
Sangat Efektif
Efektif
Cukup efektif
Kurang efektif
Tidak efektif

Tabel 2
Indikator Keaktifan Siswa
No Aspek Keaktifan Siswa Kriteria
1 Aktivitas siswa
dalam belajar
Bola Kasti
80 - 100%
60 – 79%
40 – 59%
20 – 39%
0 – 19%
Sangat Aktif
Aktif
Cukup Aktif
Kurang Aktif
Tidak Aktif
Tabel 3
Indikator Aktivitas Guru
No Aspek Keaktifan Guru Kriteria
1 Aktivitas guru
dalam mengajar
Bola Kasti
80 - 100%
60 – 79%
40 – 59%
20 – 39%
0 – 19%
Sangat Aktif
Aktif
Cukup Aktif
Kurang Aktif
Tidak Aktif

Tabel 4
Indikator Respon (Tingkat Kepuasan Belajar) Siswa
No Aspek
Tingkat Kepuasaan
Belajar Siswa
Kriteria
1 Respon siswa
terhadap proses
Belajar Bola
Kasti
80 - 100%
60 – 79%
40 – 59%
20 – 39%
0 – 19%
Sangat Puas
Puas
Cukup Puas
Kurang Puas
Tidak Puas


6. Jadwal Kegiatan PTK
Tabel. Jadwal Kegiatan PTK
No Jenis Kegiatan
Bulan Ke ..
1 2 3
1.
Penyusunan proposal X
2.
Menyusun pedoman observasi dan
instrument penelitian dan instrument lain
yang digunakan.
X
3.
Pertemuan persiapan dan pembahasan
rencana penelitian
X
4.
Penelitian siklus I : observasi dasar,
pembekalan pelaksanaan tindakan, refleksi
dan evaluasi
X
5.
Penelitian siklus II : observasi dasar,
pembekalan pelaksanaan tindakan, refleksi
dan evaluasi
X
6.
Penyusunan laporan X
7.
Diskusi/musyawarah hasil penelitian X
8.
Pelaporan/Finalisasi X







7. DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur penelitian; suatu pendekatan praktis. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.

Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas Untuk : Guru. Bandung: Yrama
Widya.

Harsono, 1998. Coaching dan Aspek-Aspek Psikologi dalam Kosing. Jakarta:
Depdikbud Dirjen Dikti.

Joyce, dan weil. 1972. Models Of Teaching.

Rahayu, Tandiyo. 2002. Pembelajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar.
Jakarta: Direktorat Olahraga Masyarakat, Direktorat Jenderal Olahraga,
Departemen Pendidikan Nasional.

Sajoto, Moch. 1988. Pembinaan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Depdikbud Dirjen
Dikti. Jakarta.

Suprianto, Joko. 2007. Gembira Berolahraga Kelas 6. Solo: Tiga Serangkai.

Toeti, Soekamto. Udin Syarifudin Winataputra. 1996. Teori Belajar dan Model
model Pembelajaran. Pusat antar Universitas untuk Peningkatan dan
Pengembangan Aktivitas Intruksional Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta:
PAU-PPAI.

Vannier, Maryhelen, Gallahue, David L. Teaching Physical education In Elementary
School. 6 Edition. Philadelphia: Saunders College Publishing, 1978.

Werner, Peter, Thorpe, Rod, Bunker, David. “Teaching Games For Understanding:
Evolution of A Model”. JOPERD. Volume 67. Number 1. Resten:
AAHPERD. 1996.



“PENINGKATAN KEMAMPUAN PENGUASAAN TEKNIK DASAR MELAMBUNGKAN DAN MEMUKUL BOLA KASTI MODEL KETERPADUAN KETERAMPILAN DAN KESEGARAN JASMANI ( MK3 )” ( PTK di Kelas IV SD Inpres Bertingkat Mamajang I)

B. Latar Belakang Commando Style (Gaya Komando) gaya mengajar ini sering digunakan oleh guru-guru pendidikan jasmani pada masa lalu dan bahkan masih sering penulis menjumpai cara mengajar ini, dimana gaya ini cenderung berorientasi kepada kepentingan/kebutuhan guru (Teacher Centered). Kecenderungan penggunaan gaya ini, sebenarnya semata-mata sangat tergantung dari kepribadian guru itu sendiri. Maka gaya ini terkesan seperti gaya diktator. Kerugian gaya ini adalah tidak peka terhadap konsep individu dalam pembelajaran. Keseriusan melakukan hanya terbatas pada mereka yang memiliki potensi baik saja, dantidak demikian dengan mereka yang berpotensi rendah. Untuk mengubah pemikiran dan beralih dari penggunaan metode yang hanya digunakan pada bagian-bagian pembelajaran ke penggunaan model yang lebih luas dan menyeluruh maka pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran salah satunya adalah penggunaan model Keterpaduan

Keterampilan Dan Kesegaran Jasmani diharapkan dapat memacu/meningkatkan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->