P. 1
filsafat sains

filsafat sains

|Views: 251|Likes:
Nama Mata Kuliah Dosen Pengampu

: Hutomo Atman Maulana : Filsafat Ilmu : Dr. Hary Soedarto Harjono

Magister Pendidikan IPA 1. Berdasarkan hasil bacaan, diskusi kelas, dan materi perkuliahan yang Anda peroleh, kemukakan pokok-pokok pikiran penting yang berkaitan dengan Filsafat Ilmu dalam kaitannya dengan Pendidikan IPA! Pada hakekatnya manusia selalu ada rasa ingin tahu. Ini muncul sejak manusia masih dalam kandungan sang ibu hingga mereka menjalani kehidupan ini. Pengalaman menambah pengetahu
Nama Mata Kuliah Dosen Pengampu

: Hutomo Atman Maulana : Filsafat Ilmu : Dr. Hary Soedarto Harjono

Magister Pendidikan IPA 1. Berdasarkan hasil bacaan, diskusi kelas, dan materi perkuliahan yang Anda peroleh, kemukakan pokok-pokok pikiran penting yang berkaitan dengan Filsafat Ilmu dalam kaitannya dengan Pendidikan IPA! Pada hakekatnya manusia selalu ada rasa ingin tahu. Ini muncul sejak manusia masih dalam kandungan sang ibu hingga mereka menjalani kehidupan ini. Pengalaman menambah pengetahu

More info:

Published by: Hutomo Atman Maulana on Jul 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/13/2015

pdf

text

Nama Mata Kuliah Dosen Pengampu

: Hutomo Atman Maulana : Filsafat Ilmu : Dr. Hary Soedarto Harjono

Magister Pendidikan IPA 1. Berdasarkan hasil bacaan, diskusi kelas, dan materi perkuliahan yang Anda peroleh, kemukakan pokok-pokok pikiran penting yang berkaitan dengan Filsafat Ilmu dalam kaitannya dengan Pendidikan IPA! Pada hakekatnya manusia selalu ada rasa ingin tahu. Ini muncul sejak manusia masih dalam kandungan sang ibu hingga mereka menjalani kehidupan ini. Pengalaman menambah pengetahuan, tetapi tidak otomatis manusia yang sudah berpengalaman memiliki persentuhan alam dengan inderanya, otomatis dikatakan berpengetahuan. Jadi, pengalaman semata tidak otomatis mendatangkan pengetahuan. Pengetahuan baru ada apabila demi pengalamannya manusia bisa memberikan putusan. Ilmu adalah seperangkat pengetahuan yang diperoleh melalui prosedur ilmiah. Ilmu harus universal, metodis, sistematis dan obyektif. Universal, artinya berlaku kapan pun dan dimana pun.Ilmu adalah mencari sesuatu yang bersifat umum, bukan khusus. Dari suatu ilmu yang bersifat umum ini akan terlahir apa yang kita sebut sebagai teori. Teori masih harus diuji kebenarannya. Sebuah teori yang sudah tidak terbantahkan kebenarannya menjadi hukum. Misalnya hukum gravitasi, hukum Newton dan sebagainya. Metodis artinya hanya pengetahuan yang memenuhi sejumlah tatacara tertentu yang layak disebut ilmu, karena ilmu tidak dibangun secara kebetulan: ada metode dan ada tatacaranya. Tatacara ini ditempuh seorang ilmuwan, agar ilmunya bisa diuji dan diuji lagi oleh ilmuwan lain: diverifikasi bukan secara kebetulan walau idenya bisa saja datang secara kebetulan yang lazim disebut inspirasi. Tata cara ilmiah ini disebut sebagai metode ilmiah. Sistematis, artinya ilmu bersifat sistematis, tersusun dalam satu rangkaian sebab akibat. Sistematis dapat juga diartikan masuk akal atau logis. Dengan kata lain ilmu itu tidak acak-acakan, tidak ruwet asal-asalan, melainkan tertib dan teratur dengan logika berpikir yang juga tertib dan teratur. Tampaknya dapat dikatakan bahwa jika suatu kesimpulan diperoleh secara sistematis, maka hal tersebut adalah ilmu, tetapi tidak semua yang benar diperoleh secara ilmiah misalnya kebenaran wahyu.

Ilmu bersifat objektif, tidak subjektif. Yang dicari ilmu adalah kebenaran. Sesuatu dinyatakan objektif apabila yang menyatakan benar adalah fakta dan data yang melekat pada objeknya. Sebaliknya, sesuatu dikatakan subjektif jika yang menyatakan benar adalah subjek manusianya. Maka yang dicari ilmu adalah kebenaran objektif, bukan subjektif. Salah satu tujuan dari filsafat adalah menemukan pemahaman dan tindakan yang sesuai. Filsafat erat kaitannya dengan ilmu. Karena konsentrasi saya adalah Pendidikan Matematika, maka menurut saya Matematika dan filsafat memiliki hubungan yang lebih erat, dibandingkan ilmu-ilmu lainnya, karena filsafat adalah pangkal untuk mempelajari ilmu dan matematika adalah ibu dari segala ilmu. Dengan kata lain, filsafat dan matematika adalah ibu dari segala ilmu. Keeratan keduanya menjadi lebih karena keduanya adalah apriori dan tidak eksperimentalis. Artinya, hasil dari keduanya tidak memerlukan bukti secara fisik. Filsafat matematika mempunyai tujuan untuk menjelaskan dan menjawab tentang kedudukan dan dasar dari obyek dan metode matematika, yaitu menjelaskan apakah secara ontologism obyek matematika itu ada, dan menjelaskan secara epistemologis apakah semua pernyataan matematika mempunyai tujuan dan menentukan suatu kebenaran. Mengingat bahwa hukum-hukum alam dan hukum-hukum matematika mempunyai kesamaan status, maka obyek-obyek pada dunia nyata mungkin dapat menjadi pondasi matematika. Pendidikan IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka seluruh kajian tentang ilmu pendidikan alam harus disertai dengan bukti-bukti yang diperoleh melalui serangkaian eksperimen ilmiah kemudian diiringi dengan mekanisme penalaran. Adapun metode-metode penalaran yang bias dilakukan adalah metode induktif dan metode deduktif. Metode induktif yaitu metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.

Metode berpikir deduktif yaitu metode yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterysnya dihubungkan dalam bagian-bagian yang khusus. 2. Selain dari bahan perkuliahan, literature apa sajakah yang pernah Anda pelajari? Kemukakan salah satu sumber bacaan yang relevan dengan konteks filsafat sains dan kemukakan gagasan penting yang anda peroleh dari bacaan tersebut! Selain dari bahan perkuliahan saya juga membaca sebuah e-book yang berjudul filsafat sains yang ditulis oleh Lilik Hendrajaya. Buku itu memuat tentang pengetahuan bagaimana perkembangan bernalar dalam sains dan bagaimana membentuk sikap dan perilaku sains. Dengan naluri ingin tahunya, manusia ingin mengetahui segala yang tersentuh inderanya, segala apa yang ia lihat dan ia rasa, termasuk ikhwal dirinya sendiri: Siapa saya? Darimana saya? Mau ke mana saya? Apakah/dimanakah pusat tatasurya? Mengapa air jika dipanaskan mendidih? Maka, manusia mencari tahu, baik melalui pengalamannya sendiri maupun pengalaman orang lain yang disampaikan kepadanya. Yang dicari manusia adalah pengetahuan yang benar. Manusia tidak suka dengan kekeliruan dan selalu mencari kebenaran. Pada awalnya manusia meyakini bahwa bumi adalah pusat tatasurya. Belakangan manusia menyadari bahwa pengetahuannya keliru. Manusia tidak suka kekeliruan. Bisa jadi tadinya ia menyangka bahwa ia benar. Manakala ia tahu bahwa ia keliru, maka tidak puaslah ia, dan mencoba mencari kebenaran. Manusia tidak akan pernah lelah dalam mencari dan menemukan kebenaran. Maka, apa itubenar? Apa pula keliru? Benar adalah kesesuaian antara pengetahuan/apa yang kita ketahui dengan kenyataan objek-nya. Jika pengetahuan kita menyatakan Kutub Utara dingin dan ternyata Kutub Utara dingin maka dikatakan bahwa pengetahuan kita benar. Sebaliknya, jika pengetahuan kita menyatakan bahwa Kutub Utara panas, padahal kenyataannya Kutub Utara dingin, maka dinyatakan bahwa pengetahuan kita keliru. Jadi, keliru adalah ketidaksesuaian antara pengetahuan dengan kenyataan objeknya. Satu objek bisa terdiri dari beberapa aspek. Maka, apabila kita hanya tahu sebagian aspek dari sebuah objek, kita tidak dikatakan keliru, melainkan pngetahuannya belum lengkap. Misalnya seseorang mengikuti ujian dengan sejumlah soal sebagai alat ukur untuk tujuan tertentu. Ia menjawab, memberikan putusan. Atas jawabannya, penilai memberi nilai, mulai dari 10 hingga 0. Bagi yang menjawab seluruh aspek dari objek yang ditanyakan, memperoleh nilai 10. Nilai 7 atau

6 jika hanya sebagian aspek yang yang diberikan putusannya. Nilai 0 diberikan untuk Anda yang keliru, atau bisa juga ketidaksesuaian antara pengetahuan dengan kenyataan objeknya. 3. Jelaskan tautan antara filsafat dan ilmu dari perspektif ontologism, epistemologis, dan metodologis! Filsafat dan Ilmu dari perspektif ontologis yakni tentang hakikatnya. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimanakah hakikat dari objek itu? Bagaimanakah hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan dan ilmu? Ontologi ilmu membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang bisa dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui panca indera manusia. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. Filsafat secara hakikat adalah suatu pengetahuan yang menggali secara mendalam segala apa saja yang dapat dipikirkan oleh manusia, demikian juga dengan ilmu yang berupaya menelaah dan meneliti apa saja yang rasional di dalam pikiran manusia. Keduanya memiliki hubungan yang sagat dekat apabila dihadapkan pada suatu objek dan kesamaan kriteria. Perspektif epistemologis yakni asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitas) pengetahuan. Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: bagaimanakah proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan menjadi ilmu? Bagaimanakah prosedurnya? Untuk hal ini, akan mengarah ke cabang fisafat metodologi. Secara epistemologis filsafat memberikan peranan sebagai dasar dalam bernalar dan berpikir dalam mencari suatu kebenaran. Langkah dalam epistemologi ilmu antara lain berpikir deduktif dan induk-tif berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikurnpuikan sebelumnya Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilmiah disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada. Secara konsisten dan koheren maka ilmu mencoba memberikan penjelasan yang rasional kepada objek yang berada dalam fokus penelaahan. Perspektif metodologis yakni tentang bagaimana cara bertindak menurut sistem aturan tertentu. Sehingga dengan menggunakan metode suatu tindakan atau kegiatan dapat terlaksana secara rasional dan terarah, serta hasilnya dapat tercapai secara optimal. Secara umum antara Filsafat dan ilmu memiliki tautan dalam hal menjelaskan (eksplanasi) suatu keadaan atau suatu hal

yang dipikirkan, kemudian digunakan dalam meramalkan suatu yang masih menjadi misteri, memprediksinya dengan diikuti oleh cara-cara berpikir yang terarah dan sistemik. 4. Berdasarkan pemahaman Anda, Apa tujuan utama dari ilmu dan bagaimana kaitannya dengan pengetahuan, pengalaman, dan etika social yang mengatur dan membatasi ruang gerak ilmuwan dalam berkreasi? Tujuan, pokok suatu ilmu adalah menemukan kebenaran, yaitu kebenaran ilmiah yang dapat ditemukan secara ilmiah atau dengan menggunakan Metode Ilmiah. Dalam proses menemukan kebenaran ilmiah ini dapat berkembang nilai-nilai lain yang sering dinamakan pola umum.Pemikiran Ilmiah yaitu kebenaran berfikir, kejujuran intelektual sikap obyektif, berpandangan terbuka dan sebagainya. Mempunyai pemikiran ilmiah belum menjamin seseorang berkembang dalam menemukan kebenaran ilmiah tadi bila tidak didukung dengan sikap ilmiah. Sikap ilmiah bisa diartikan sebagai suatu kecenderungan pribadi seorang (ilmuwan) untuk berprilaku atau mcmberi tanggapan dalam hal-hal tertentu yang sesuai dengan pemikiran ilmiahnya atau tidak bertentangan dengan cita keilmuan pada umumnya. Etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran. Ilmu dan etika sebagai suatu pengetahuan yang diharapkan dapat meminimalkan dan menghentikan perilaku penyimpangan dan kejahatan di kalangan masyarakat. Disamping itu, ilmu dan etika diharapkan mampu mengembangkan kesadaran moral di lingkungan masyarakat sekitar agar dapat menjadi cendekiawan yang memiliki moral dan akhlak yang baik. Sebagai suatu subyek, etika berkaitan dengan konsep yang di miliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah di kerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Dengan begitu dalam proses penilaiannya ilmu sangat berguna dalam menentukan arah dan tujuan masing-masing orang. Etika memberikan batasan maupun standar yang mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Etika ini kemudian dituangkan kedalam bentuk aturan tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat dibutuhkan dapat difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logikarasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Ilmu sebagai asas moral atau

etika mempunyai kegunaan khusus yakni kegunaan universal bagi umat manusia dalam meningkatkan martabat kemanusiaan. 5. Apa fungsi etika dan religi dalam pengembangan ilmu dan teknologi? Jelaskan dengan disertai contoh kasus yang relevan! Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berlansung sangat cepat. Dengan pekembangan tersebut diharapkan akan dapat mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup manusia. Untuk menjadi manusia secara utuh. Maka tidak cukup dengan mengandalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, manusia juga harus menghayati secara mendalam kode etik ilmu, teknologi dan kehidupan. Apabila manusia sudah jauh dari nalai-nilai, maka kehidupan ini akan terasa kering dan hampa. Oleh karena ilmu dan teknologi yang dikembangkan oleh manusia harus tidak mengabaikan nilai-nilai kehidupan dan keluhuran. Secara umum, etika menuntut kejujuran dan dalam iptek ini berarti kejujuran ilmiah (scientific honesty). Mengubah, menambah, dan mengurangi data demi kepentingan tertentu termasuk dalam ketidakjujuran ilmiah. fungsi etika dan religi dalam pengembangan ilmu dan teknologi adalah sebagai penuntun para pelaku ilmu dan teknologi dalam melakukan berbagai pengembangan terkait imu dan teknologi tersebut Ilmu sangat bermanfaat, tetapi juga bisa menimbulkan bencana bagi manusia dan alam semesta tergantung dengan orang-orang yang menggunakannya. Karena itu ilmu sebagai masyarakat, karena ilmu didukung dan dikembangkan oleh masyarakat yang mematuhi kaedahkaedah tertentu. Untuk itu perlu ada etika dan religi yang berfungsi sebagai ukuran-ukuran yang diyakini oleh para ilmuwan yang dapat menjadikan pengembangan ilmu dan aplikasinya bagi kehidupan manusia tidak menimbulkan dampak negatif. Contoh kasus kaitan antara etika dan agama dalam pengembangan ilmu dan teknologi adalah dalam dunia ilmu telah ditemukan DNA sebagai konstitusi genetik makhluk hidup. Ditemukan DNA unggul dan DNA cacat. Ketika mengembangkan DNA jati unggul untuk memperluas, mempercepat dan meningkatkan kualitas reboisasi kita, tidak jadi masalah. Juga ketika kloning domba kita berhasil dan tergambarkan bagaimana domba masa depan akan lebih dapat memberikan protein hewani kepada manusia yang semakin bertambah dengan pesat, juga tidak menimbulkan masalah. Tetapi ketika masuk ranah manusia, apakah manusia unggul perlu

dikloning? Maka akan menimbulkan masalah yaitu pelanggaran etika dan religi. Etika dan religi harus difungsikan dalam menuntun para ilmuwan dan teknolog dalam bertindak. Pemahaman tentag etika dan religi akan menjadikan ilmuwan dan teknolog tersebut menjadi lebih peka terhadap nilai yang berlaku di masyarakat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->