UPACARA KEMATIAN SAUR MATUA PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI SUMATERA UTARA SEBAGAI SUATU SISTEM SOSIAL BUDAYA

DISUSUN OLEH :

NAMA : JAHYA P SIDAURUK NIM : 115030500111011

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

setiap manusia juga sudah mempunyai jalan kehidupannya masing-masing yang telah ditentukan batas akhir kehidupannya. maka harus dilaksanakan dengan sempurna. Lain halnya dengan orang yang meninggal sari matua atau belum beranak cucu ataupun belum lengkap beranak cucu dari anak laki-laki maupun perempuan.2012 Upacara Kematian Saur Matua Pada Masyarakat Batak Toba.Batas akhir kehidupan manusia ini (mati) dapat terjadi dikarenakan berbagai hal. Sesuai dengan hari yang sudah ditentukan. hal seperti itu belum tentu dilakukan karena masih ada dari keturunannya belum sempurna dalam hal kekerabatan. dan jumlahnya serta biaya yang diperlukan untuk mempersiapkan makanan tersebut. telah beranak cucu. Sebelum diadakan acara manulangi ini.karena keterbatasan. Saur artinya lengkap/sempurna dalam kekerabatan. Adapun maksud dan tujuan masyarakat Batak Toba untuk mengadakan upacara kematian itu tentunya berlatar belakang kepercayaan tentang kehidupan . kemampuan dan akal pikiran yang dimiliki oleh manusia. Dalam melaksanakan sesuatu upacara harus melalui fase-fase (tahapan-tahapan) yang harus dilalui oleh setiap yang melaksanakannya. jenis ternak yang akan dipotong. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui adalah sebagai berikut. Pada masyarakat Batak Toba. Saur matua adalah orang yang meninggal dunia telah beranak cucu baik dari anak lakilaki maupun anak perempuan. maka pada keturunannya beserta sanak famili lebih dahulu harus mengadakan musyawarah untuk menentukan berbagai persyaratan. seperti menentukan hari pelaksanaan adat panulangion itu. yang disebut dengan Manulangi (memberi makan) oleh seluruh keluarga. Upacara kematian pada masyarakat Batak Toba merupakan pengakuan bahwa masih ada kehidupan lain dibalik kehidupan di dunia ini. Selain itu. Tetapi usaha untuk mencapai keinginan tersebut adalah di luar jangkauan manusia.misalnya karena penyakit yang diderita dan tidak dapat disembuhkan lagi kecelakaan dan sebab-sebab lain yang tidak dapat diketahui secara pasti. Kalaupun suhut membuat acara adat sempurna sesuai dengan Adat Dalihan Na Tolu. maupun disebabkan penyakit. Acara Sebelum Upacara di Mulai Dalam kehidupan ini. Karena yang telah meninggal itu adalah sempurna dalam kekerabatan. maka pada keturunanya beserta sanak family biasanya melakukan acara adat khusus baginya. setiap manusia dalam suatu kebudayaan selalu berkeinginan dan berharap dapat menikmati isi dunia ini dalam jangka waktu yang lama. bila ada orangtua yang menderita penyakit yang sulit untuk disembuhkan. 1. berkumpullah semua keturunan dan sanak famili di rumah orangtua .

Gaor bontar (kepala bagian atas sebelah kiri untuk boru (anak perempuan). . Sambil makan. maka dilanjutkan oleh adikadiknya sampai kepada yang bungsu beserta cucu-cucunya. disitulah merka memberikan ulos naganjang (ulos yang panjang) kepada orangtua itu dengan meletakkannya di atas pundak (bahu) orangtua tersebut. Pada waktu itu ada juga orangtua yang membagi harta warisannya walaupun belum resmi berlaku. maka acarapun selesai dan diadakanlah doa penutup. Setelah selesai makan. Maka sebelum tiba waktunya. salah seorang dari pihak boru (suhut) memotong haliang (leher babi) dan dibagi-bagikan kepada hadirin. Ia juga mendoakan agar orangtuanya dapat lekas sembuh. Setelah anaknya yang sulung selesai memberikan makan. Osang (mulut bagian bawah) untuk hula-hula. dongan tubu ( satu marga ataupun satu rumpun marga ). diadakanlah pembagian jambar (suku-suku daging). Setelah acara panulangion itu selesai. Setelah selesai memberi makan. maka selanjutnya keturunan dari orangtua itu harus manulangi hula-hulanya dengan makanan agar hula-hulanya juga memberkati mereka. Setelah pemberian ikan dan ulos itu maka pihak boru berdoa dan menyuguhkan daging lengkap dengan suku-sukunya kepada pihak hula-hula. Pada waktu Manulangi. dongan sabutuha. dan natua-tua ni huta (orang yang dituakan di kampung tersebut).tersebut dan dipotonglah seekor ternak babi untuk kemudian dimasak lagi dengan baik sebagai makanan yang akan disuguhkan untuk dimakan bersama-sama. murah rezeki dan tercapai kesatuan yang lebih mantap. ia berharap agar orangtuanya dapat merestui semua keturunananya hingga beroleh umur yang panjang. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama-sama. Setelah selesai kata mangampui. diberikan kepada orangtua tersebut oleh anak sulungnya. dan terakhir dari hula-hula. si anak tersebut menyatakan kepada orangtuanya bahwa mereka sebenarnya khawatir melihat penyakitnya. Tujuan dari pemberian ulos dan makanan ini adalah supaya orangtua tersebut cepat sembuh. berumur panjang dan dapat membimbing semua keturunannya hingga selamat dan sejahtera di hari-hari mendatang. soit (perut bagian tengah) untuk dongan sabutuha (teman semarga) dan jambar (potongan daging-daging) untuk semua yang hadir). Kemudian acara panulangion dimulai dengan sepiring makanan yang terdiri dari sepiring nasi dan lauk yang sudah dipersiapkan. Pada waktu itu juga turut diundang hula-hula dari suhut ( kelompok paman dari orang tua tersebut ). dongan sahuta. Sambil disuguhi makanan. Hasatan (ekor) untuk keluarga suhut. Ketika hula-hula menyampaikan makanan itu kepada orangtua yang sakit. maka pada hari berikutnya pihak hula-hula pergi menjenguk orangtua tadi dengan membawa dengke (ikan) dan sehelai ulos (kain adat batak) yang disebut ulos mangalohon ulos naganjang (memberikan kain adat). Setelah pembagian jambar maka mulailah kata-kata sambutan yang pertama oleh anak Sulung dari orangtua ini dilanjutkan dari pihak boru. semua keturunannya direstui dan diberi nasehat-nasehat.

membeli dan mempersiapkan beberapa ekor ternak (kerbau atau babi atau yang lainnya) sebagai makanan pesta atau untuk borotan.Pada waktu yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. dongan sabutuha (yang terdiri dari ternan semarga. boru. Pelaksanaan upacara kematian saur matua ini terbagi atas dua bagian yaitu : 1. pihak laki-laki baik dari keturunan orangtua yang meninggal maupun sanak saudara berkumpul di rumah duka dan membicarakan bagaimana upacara yang akan dilaksanakan kepada orangtua yang sudah saur matua itu. selanjutnya dibaringkan di ruang tengah yang kakinya mengarah ke jabu (bona rumah suhut). Pihak suhut lainnya ada yang memesan peti mayat. 2. penentuan hari untuk musyawarah umum ini juga sudah ditentukan. cucu laki-laki dari yang pertama (sulung) dan cucu laki-laki dari anaknya perempuan. maka semua keluarga menangis dan ada yang meratap sebagai pertanda bahwa sudah tiba waktunya bagi mereka untuk berpisah. Sesudah acara mangarapot selesai. Pada saat yang bersamaan. Raja adat. akhirnya orangtua yang saur matua itu meninggal dunia. dongan tubu. Dari musyawarah keluarga akan diperoleh hasilhasil dari setiap hal yang dibicarakan. Pemberian napuran tiar ini menunjukkan sikap hormat kepada pargonsi agar pargonsi bersedia menerima undangan tersebut dan tidak menerima undangan lain pada waktu yang bersamaan. Mereka yang bekerja pada saat upacara adalah pihak boru yang disebut Parhobas. Hasil-hasil ini dicatat oleh para suhut untuk kemudian untuk dipersiapkan ke musyawarah umum. Sesudah mayat tersebut dibersihkan maka dikenakan pakaian yang rapi dan diselimuti dengan kain batak (ulos). . Pihak boru lainnya pergi mengundang pargonsi (pemain musik Gondang Batak) dengan memberikan napuran tiar (sirih) yang diletakkan di atas sebuah piring beserta dengan uang honor dari pargonsi selama mereka memainkan gondang sabangunan (seperangkat alat musik tradisional Batak) dalam upacara saur matua. Upacara maralaman (di halaman) Kedua bentuk upacara inilah yang dilaksanakan oleh masyarakat Batak Toba sebelum mengantarkan jenazah ke liang kubur. Upacara di jabu (di dalam rumah) termasuk di dalamnya upacara di jabu menuju maralaman (upacara di rumah menuju ke halaman ). Acara Pelaksanaan Upacara Saur Matua Setelah keperluan upacara selesai dipersiapkan barulah upacara kematian saur matua ini dapat dimulai. Dan sebagian dari pihak suhut mempersiapkan pakaian adat untuk keturunan orangtua yang meninggal saur matua itu. parsuhuton supaya hadir dalam musyawarah umum (Mangarapot). teman sahuta. boru. Dan mulailah dihubungi pihak famili dan mengundang pihak hula-hula. maka diadakanlah pembagian tugas bagi pihak hasuhuton. yaitu semua anak laki-lakinya. 2. Beberapa orang dari pihak hasuhuton pergi mengundang (Manggokkon) hula-hula. teman satu kampung) serta sanak saudara yang ada di rantau. Pakaian adat ini terdiri dari ulos yang diselempangkan di atas bahu dan topi adat yang dipakai di atas kepala.

Dan semua unsur dari dalihan natolu sudah hadir di rumah duka dengan mengenakan ulos. Pihak suhut berdiri di sebelah kanan yang meninggal. Pada saat yang bersamaan. Upacara di jabu (di dalam rumah) Pada saat upacara di jabu akan dimulai. Dan pada malam hari tiba. Kemudian pargonsi disambut oleh suhut dan dipersilahkan duduk di jabu soding (sebelah kiri ruang rumah yang beralaskan tikar). merata atau beras yang ditumbuk dan disertai dengan napuran tiar (sirih). Kemudian diikuti oleh anak laki-laki mulai dari anak yang paling besar sampai anak yang paling kecil. Lalu suhut menjamu makan para pargonsi dengan memberikan sepiring makanan yang berisi ikan (dengke) Batak. Anak perempuan dari orangtua yang meninggal. Umumnya semua pemain duduk menghadap kepada yang meninggal. Kemudian pargonsi memainkan gondang Lae-lae atau gondang elek-elek. Dan pada saat gondang tersebut berbunyi. boru disebelah kiri yang meninggal dan hula-hula berdiri di depan yang meninggal. sagu-sagu. datanglah pargonsi sesuai dengan undangan yang disampaikan pihak suhut kepada mereka. pargonsi pun sudah bersiap-siap untuk memainkan gondang sabangunan. Upacara di jabu ini biasanya di buka pada pagi hari (sekitar jam 10. yaitu gondang yang memeberitahukan dan mengundang masyarakat sekitarnya supaya hadir di rumah duka untuk turut menari (manortor) bersama-sama. di sebelah kanan tepat di samping muka yang meninggal. Jika masih . Setelah acara makan bersama para pargonsi pun mengambil tempat mereka yang ada di atas rumah dan mempersiapkan instrumen-instrumen mereka masing-masing. Sedangkan cucu dan cicitnya ada yang duduk di belakang atau di depan orangtua meeka masing-masing. Letaknya berhadapan dengan kamar orangtua yang meninggal ataupun kamar anak-anaknya dan diselimuti dengan ulos sibolang (jenis ulos yang dipergunakan dalam upacara ini). rudang. duduk di sebelah kiri dari peti mayat. sedangkan pada siang hari harinya dipergunakan pargonsi untuk istirahat.Gondang ini juga dijadikan sebagai pengumuman kepada masyarakat bahwa ada orang tua yang meninggal saur matua.1. Kemudian diaturlah posisi masing-masing unsure Dalihan Natolu. mayat dari orangtua yang meninggal dibaringkan di jabu bona (ruang tamu). pihak suhut juga bersiap-siap mengenakan ulos dan topi adat karena sebentar lagi kegiatan margondang saur matua akan dimulai. Ketika acara penyampaian kata-kata penghiburan oleh unsur-unsur dalihan natolu sedang berlangsung.00 Wib) oleh pengurus gereja. Kegiatan margondang di dalam rumah biasanya dilakukan pada malam hari. Tempat untuk pargonsi sudah dipersiapkan lebih dahulu yaitu di bagian atas rumah (bonggar). Suami atau isteri yang ditinggalkan duduk . diantara keturunan orangtua yang meninggal masih ada yang menangis. Kemudian masing-masing unsur dalihan natolu mengadakan acara penyampaian kata-kata penghiburan kepada suhut. nasi.

apabila peti mayat yang telah dipesan sebelumnya oleh suhut sudah selesai. Gondang Liat-liat. Pengurus Gereja berkata kepada pargonsi agar dimainkan gondang mula-mula. baik itu manusia. yang memasukkan mayat ke dalam peti adalah dongan sabutuha saja. Jika upacara ini berlangsung beberapa malam. Dan pihak suhut menari mendatangi pengurus Gereja satu persatu dan minta berkat dari mereka dengan rneletakkan ulos ke bahu rnasing-masing pengurus Gereja. Gondang ke dua yaitu gondang yang indah dan baik (tanpa ada menyebutkan gondangnya). . Tapi dibeberapa daerah Batak Toba. kekayaan dan kehormatan. nama 3. Semua unsur Dalihan Natolu berdiri di tempatnya masingmasing. Setelah gondang berbunyi. maka peti mayat dibawa rnasuk kedalam rumah dan mayat dipersiapkan untuk dimasukkan ke dalam peti. Gondang yang terakhir. 4. Sedangkan pengurus Gereja menaruh tangan mereka ke atas kepala suhut. Gondang Simba-simba maksudnya agar kita patut menghormati Gereja. Kemudian dengan hati-hati sekali mayat dimasukkan ke dalam peti dan diselimuti dengan ulos sibolang. Gondang ini dibunyikan untuk menggambarkan bahwa segala yang ada di dunia ini ada mulanya. Yang mengangkat mayat tersebut ke dalam peti biasanya adalah pihak hasuhutan yang dibantu dengan dongan sabutuha. para pengurus gereja menari mengelilingi mayat memberkati semua suhut dengan meletakkan tangan yang memegang ulos ke atas kepala suhut dan suhut membalasnya dengan meletakkan tangannya di wajah pengurus gereja. 5. 2. mereka juga sering memberikan uang kepada pargonsi tetapi yang memberikan biasanya adalah pihak boru walaupun uang tersebut adalah dari pihak hula-hula atau dongan sabutuha. Maka aktivitas selanjutnya adalah pemberian ulos tujung. Keesokan harinya. hasuhuton meminta gondang hasahatan dan sitio-tio agar semua mendapat hidup sejahtera bahagia dan penuh rejeki dan setelah selesai ditarikan rnereka semuanya mengucapkan horas sebanyak tiga kali.ada suami atau isteri yang meninggal maka mereka berdiri di sebelah kanan yang meninggal bersama dengan suhut hanya tapi mereka paling depan. Kemudian masing-masing unsur dari Dalihan Natolu meminta gondang kepada pargonsi. ulus sampe. hula-hula dan boru. Ketika itu hadirlah dongan sabutuha. maka kegiatan-kegiatan pada malammalam hari tersebut diisi dengan menotor semua unsur Dalihan Na Tolu. maka semua menari. Kemudian kegiatan margondang dibuka oleh pengurus Gereja (pangulani huria). Maksud dari pemberian uang itu adalah sebagai penghormatan kepada pargonsi dan untuk memberi semangat kepada pargonsi dalam memainkan gondang sabangunan. ulus panggabei. posisi peti diletakkan sarna dengan posisi mayat sebelumnya.

Mulai dari pihak suhut. Pemberian ulos bermakna suatu pengakuan resmi dari kedudukan seorang yang telah menjadi janda atau duda dan berada dalam suatu keadaan duka yang terberat dalam hidup seseorang ditinggalkan oleh teman sehidup semati. Kemudian aktivitas selanjutnya setelah pemberian ulos atau uang kepada boru adalah kegiatan margondang. Setelah semuanya hadir di rumah duka. Semuanya menari diiringi gondang sabungan dan mereka sesuka hati meminta jenis gondang yang akan ditarikan. . Sesudah semua rombongan selesai menari. pengganti dari ulos ini dapat diberikan sejumlah uang. Dan ulos itu hanya diletakkan diatas bahu dan tidak diatas kepala. kemudian tulang dari yang meninggal memberikan ulos saput (sejenis ulos ragihotang atau ragidup). Setelah ulos tujung diberikan. Sehari sebelumnya peti mayat dibawa ke halaman rumah orangtua yang saur matua tersebut. Adat ini menunjukkan aktivitas memberi makan (sepiring nasi beserta lauknya) kepada orangtua yang saur matua dan kepada semua sanak famili. sekaligus pernyataan turut berduka cita yang sedalamdalamnya dari pihak hula-hula.00 Wib). boru. Dan pada waktu pemberian ulos sampe-sampe itu semua anak keturunan yang meninggal berdiri di sebelah kanan dan golongan boru di sebelah kiri dari peti mati.lalu semua unsur Dalihan na Tolu kembali menari. Dan bona tulang atau bona ni ari memberikan ulos saput tetapi tidak langsung diletakkan di atas badan yang meninggal tetapi digerbangkan diatas peti mati saja. Kemudian acara dipimpin oleh pengurus Gereja mengenakan pakaian resmi (jubah). maka semua hadirin diundang untuk makan bersama. Setelah hula-hula selesai memberikan ulos-ulos tersebut kepada suhut. maka sekarang giliran pihak suhut memberikan ulos atau yang lainnya sebagai pengganti dari ulos kepada semua pihak boru. Acara ini berlangsung sampai selesai ( pagi hari ). maka upacara ini dimulai. yang diletakkan pada mayat dengan digerbangkan (diherbangkan) diatas badannya. boru dan ale-ale. 1.siap lengkap dengan pakaian adatnya untuk mengadakan upacara di jabu menuju maralaman. tepatnya pada waktu matahari akan naik (sekitar pukul 10.Yang pertama sekali memberikan ulos adalah hula-hula yaitu ulos tujung sejenis ulos sibolang kepada yang ditinggalkan (janda atau duda) disertai isak tangis baik dari pihak suhut maupun hula-hula sendiri. Upacara di jabu menuju maralaman (upacara di dalam rumah menuju ke halaman) Keesokan harinya (tepat pada hari penguburan) semua suhut sudah bersiap. diadakanlah adat pandungoi yang biasanya dilakukan rada sore hari. hula-hula bersama pengurus gereja berdiri di depan peti mayat dan dongan sabutuha berdiri di belakang boru. hula-hula dan ale-ale. Maksud dari pemberian ulos ini adalah menunjukkan hubungan yang baik dan akrab antara tulang dengan bere (kemenakannya). Anak laki-laki berdiri di sebelah kanan peti mayat. dimulai dari pihak suhut. Ulos itu disebut ulos sampe atau ulos tali-tali. hasuhutan yang menari kemudian dongan sabutuha. Setelah pembagian harta warisan selesai dilaksanakan. anak perempuan (pihak boru) berdiri di sebelah kiri. dongan sabutuha.

Sesampainya di halaman. pihak suhut berbaris mulai dari kanan ke kiri (yang paling besar ke yang bungsu). Upacara Maralaman (di halaman rumah) Upacara maralaman adalah upacara teakhir sebelum penguburan mayat yang saur matua. posisi mereka sudah menghadap ke halaman rumah (sebelumnya di bonggar rumah. Posisi pemain gondang sabangunan pun sudah berbeda dengan posisi mereka ketika di dalam rumah. Pada upacara ini. kata sambutan dan penghiburan dari pengurus gereja. Kemudian pargonsi pun bersiap-siap dengan instrumennya masing-masing. lalu pengurus Gereja membuka kembali upacara di halaman ini dengan bernyanyi lebih dahulu. Ke semua posisi ini mengelilingi kayu borotan yang ada di tengahtengah halaman rumah.Setelah acara Gereja selesai maka pengurus gereja menyuruh pihak boru untuk mengangkat peti mayat ke halaman rumah sambil diiringi dengan nyanyian Gereja yang dinyanyikan oleh hadirin. Pertama sekali mereka meminta kepada pargonsi supaya memainkan sitolu Gondang (tanpa menyebut nama gondangnya) . bernyanyi lagi. Anak perempuan dari yang meninggal beserta dengan pihak boru lainnya berdiri membelakangi rumah duka kemudian hula-hula berdiri di samping kanan rumah duka. yaitu gondang yang dipersembahkan kepada Debata (Tuhan) agar kiranya Yang Maha Kuasa berkenan memberkati upacara ini dari awal hingga akhirnya dan memberkati semua suhut agar beroleh hidup yang sejahtera di masa mendatang. kalau seseorang yang gaur matua meninggal maka harus diberangkatkan dari antaran bidang (halaman) ke kuburan (disebut Partuatna). Setelah semua unsur Dalihan Na Tolu dan pargonsi berada pada tempatnya. Kemudian rombongan dari pengurus gereja mengawali kegiatan margondang. dan di belakang mereka berdiri parumaen (menantu perempuan dari yang meninggal) posisi dari suhut berdiri tepat di hadapan rumah duka. . koor dari ibu-ibu gereja dan terakhir doa penutup. 2. lalu pembacaan firman Tuhan. Lalu peti mayat ditutup (tetapi belum dipaku) dan diangkat secara hatihati dan perlahan-lahan oleh pihak boru dibantu oleh hasuhuton juga dongan sabutuha ke halaman rumah. peti mayat tersebut masih tetap ditutup dengan ulos sibolang. tetapi pada upacara maralaman mereka berada di bilik bonggar sebelah kanan). Sedangkan peti mayat diletakkan di sebelah kanan rumah duka dan agak jauh dari tiang kayu borotan. Lalu peti mayat itu diletakkan di halaman rumah sebelah kanan dan di depannya diletakkan palang salib kristen yang bertuliskan nama orangtua yang meninggal. Di dalam adat Batak Toba. Semua unsur dalihan Na Tolu yang ada di dalam rumah kemudian berkumpul di halaman rumah untuk mengikuti acara selanjutnya. Maka dalam upacara maralaman akan dilaksanakan adat partuatna. Lalu pargonsi memainkan sitolu Gondang itu secara berturut-turut tanpa ada yang menari. peti mayat ditutup dan diletakkan di atas kayu sebagai penyanggahnya. Semuanya mengenakan ulos yang disandang di atas bahu. Pada upacara ini posisi dari semua unsur dalihan Na Tolu berbeda dengan posisi mereka ketika mengikuti upacara di dalam ruah.

Pada akhir dari setiap kelompok yang menari selalu dimintakan gondang Hasahatan atau sitio-tio dan mengucapkan 'horas' sebanyak 3 kali. . Sementara diadakan pembagian jambar.Setelah sitolu Gondang itu selesai dimainkan. maka menarilah dongan sabutuha juga dengan gondang Mangaliat. Setelah mengelilingi borotan. ada juga yang mengadakan pembagian jambar. Biasanya setelah keturunan yang meninggal ini menerima ulos yang diberikan hulahula. maka pihak pengurus gereja memberkati semua boru dan suhut. dengan memberikan sepotong daging yang diletakkan dalam sebuah piring dan diberikan kepada siapa yang berkepentingan. rombongan Gereja menari (manortor) mengelilingi borotan (yang diikatkan kepadanya seekor kuda) sebanyak tiga kali. Kemudian pihak ale-ale yang mangaliat. Pada jenis gondang ini. Kegiatan margondang selanjutnya diisi oleh pihak hasuhutan yang meminta gondang Mangaliat kepada pargonsi. pengurus gereja kemudian meminta kepada pargonsi yaitu gondang liat-liat. yang disambut oleh pihak boru dengan gerakan mundur. Lagi giliran pihak hula-hula untuk mangaliat. Maksud dari gondang ini agar pengurus gereja dengan pihak suhut saling bekerja sama.Sedangkan boru memegang wajah suhut. maka pengurus gereja menutup kegiatan margondang mereka dengan meminta kepada pargonsi gondang Hasahatan tu sitiotio. lalu mereka mengelilingi sekali lagi borotan. Semua unsur : Dalihan Na Tolu menari di tempat dan kemudian mengucapkan 'horas' sebanyak 3 kali. juga memberikan beras atau uang. dengan memberikan 'beras si pir ni tondi' kepada suhut. Pada saat setiap kelompok Dalihan Na Tolu menari. yang disambut oleh pihak boru dengan gerakan mundur. Setelah gondang ini selesai. Ulos yang diberikan hula-hula kepada suhut itu merupakan ulos holong. kegiatan margondang terus berlanjut. Pada waktu menari pengurus gereja mendatangi suhut dan unsur Dalihan Natolu lainnya satu persatu dan memberkati mereka dengan meletakkan ulos di atas bahu atau saling memegang wajah. Setelah hasuhutan selesai menari pada gondang Mangaliat. Kemudian pengurus gereja meminta gondang Marolop-olopan. Kemudian mangaliatlah (mengelilingi borotan) pihak boru sambil memberikan beras atau uang. Setelah gondang ini selesai maka suhut mendatangi pihak boru dan memberkati mereka dengan memegang kepala boru atau meletakkan ulos di atas bahu boru. Gerakan tangan sama seperti gerak yang dilakukan oleh pengurus gereja pada waktu mereka menari gondang Mangaliat. Dan kegiatan gondang ini diakhiri dengan pihak parhobas dan naposobulung yang menari. Semua suhut berbaris menari mengelilingi kuda sebanyak 3 kali. mereka juga memberikan ulos kepada semua keturunan orangtua yang meninggal (baik anak laki-laki dan anak perempuan). Pihak hula-hula selain memberikan beras atau liang. Gerak tari pada gondang ini ialah kedua tangan ditutup dan digerakkan menurut irama gondang. Maksud dari gondang ini adalah agar semua keturunan dari yang meninggal saur matua ini selamat-selamat dan sejahtera. sedang suhut dan unsur Dalihan Na Tolu lainnya memegang wajah pengurus Gereja.

bernyanyi. maka upacara ditutup oleh pengetua adat.hula yang memberikan ulos karena meninggal saur matua orang tua ini. penyampaian firman Tuhan. Salah satu uraian yang diberikan dalam pembagian jambar ini adalah sebagai berikut:       Kepala untuk tulang Telur untuk pangoli Somba-somba untuk bona tulang Satu tulang paha belakang untuk bona ni ari Satu tulang belakang lainnya untuk parbonaan Leher dan sekerat daging untuk boru Setelah pembagian jambar ini selesai dilaksanakan maka kepada setiap hula. Lalu semua unsur Dalihan Na Tolu mengelilingi peti mayat yang tertutup. Di mulai acara gereja dengan bernyanyi. pusaka. Buha Hombung artinya membuka simpanan dari ibu yang meninggal. Tetapi terdapat berbagai variasi pada beberapa tempat yang ada pada masyarakat batak toba. Hombung ialah suatu tempat tersembunyi dalam rumah. yang dilakukan oleh hula-hula dari ibu yang meninggal. maka acara diserahkan kepada pengurus gereja. 3. akan diberikan piso yang disebut "pasahathon piso-piso".Setelah semuanya selesai menari. dimana seorang ibu biasanya menyimpan harta keluarga . biasanya dijalankan oleh amana posona (anak dari ito atau abang adik yang meninggal). Bilamana seorang ibu yang meninggal saur matua maka diadakan mangungkap hombung (buha hombung). Beberapa hari setelah selesai upacara kematian saur matua. juga sebagai kesempatan terakhir untuk meminta sesuatu dari simpanan "borunya" setelah selesai mangungkap hombung. kata sambutan dari pengurus Gereja. perhiasan. dongan sabutuha. Sesampainya pihak suhut . maka acara selanjutnya adalah makan bersama. hula-hula di rumah duka. Kemudian peti mayat dipakukan dan siap untuk dibawa ke tempat penguburannya yang terakhir yang telah dipersiapkan sebelumnya peti mayat diangkat oleh hasuhutan dibantu dengan boru dan dong an sahuta. Acara pemakaman diserahkan sepenuhnya kepada pengurus gereja. bernyanyi dan doa penutup. Pada saat itulah kuda yang diborotkan tadi sudah dapat dilepaskan dan ternak (babi) yang khusus untuk makanan pesta atau upacara yang dibagikan kepada semua yang hadir. Setelah selesai acara pemakaman. jumlahnya menurut kedudukan masing-masing dan keadaan. sambil diiringi nyanyian gereja yang dinyanyikan oleh hadirin sampai ke tempat pemakamannya. kembalilah semua yang turut mengantar ke rumah duka. karena merekalah yang akan menurup upacara ini. emas dan uang. berdoa. hula-hula dating untuk mangapuli (memberikan penghiburan) kepada keluarga dari orang yang meninggal saur matua . hasuhutan. boru. Acara Sesudah Upacara Kematian. yaitu menyerahkan sejumlah uang kepada hula-hula. Pembagian jambar ini dipimpin langsung oleh pengetua adat. Harta kekayaan itu diminta oleh hula-hula sebagai kenang-kenangan.

Dan acara ataupun prosesi kematian saur matua masih berlaku hingga saat ini. . Yang bekerja menyedikan keperluan acara adalah pihak boru. Latar belakang dari pelaksanaan upacara kematian saur matua ini adalah karena faktor adat. Sebagai salah satu bentuk aktivitas adat . Somba Marhula-hula/semba/hormat kepada keluarga pihak istri. berdoa. yang dimaksud adalah saudara perempuan atau anak perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia yang masih hidup dengan para kerabatnya yang sudah meninggal masih ada hubungan ini juga menentukan hidup manusia itu di dunia dan di akhirat. Pelaksanaan upacara ini juga diwujudkan sebagai penghormatan kepada orang tua yang meninggal. Dalam kehidupan sekarang. maka selesailah pelaksanaan upacara kematian saur matua. Ketiga elemen tersebut adalah Pertama.dengan membawa makanan berupa ikan mas. kata-kata penghiburan setelah itu dibalas (diapu) oleh suhut. Maka dalihan natolu inilah yang mengatur peranan tersebut sehingga prilaku setiap unsur khususnya dalam kegiatan adat maupun dalam kehidupan sehari-hari tidak menyimpang dari adat yang sudah ada. Acara mangapuli dimulai dengan bernyanyi. Kedua. Manat Mardongan Tubu (hati-hati terhadap teman satu marga). yang harus dijalankan oleh para keturunan orang tua yang meninggal tersebut. maka pelaksanaan upacara ini tidak terlepas dari kehadiran dari unsur-unsur Dalihan Natolu yang memainkan peranan berupa hak dan kewajiban mereka. dengan harapan agar orang tua tersebut dapat menghormati kelangsungan hidup dari para keturunannya yang sejahtera dan damai. Ketiga. Elek Marboru (lemah lembut terhadap perempuan atau boru. terkhusus di lingkungan Batak Toba masih memegang teguh adat istiadat ini dan selalu menggunakannya dalam kehidupan bermasyarakat. Dalihan Natolu diibaratkan 3 tiang penyangga sebuah tunggu yang berarti 3 elemen yang menyangga kehidupan sosial masyarakat Batak. Setelah acara ini selesai.

org/wiki/Suku_Batak_Toba diakses tanggal 15 Juni 2012 http://patambor1.com/journal/item/10?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem diakses tanggal 15 Juni 2012 .com/2008/06/18/upacara-saur-matua-konsep%E2%80%9Dkematian-ideal%E2%80%9D-pada-masyarakat-batak-studi-etnoarkeologi/ di akses tanggal 15 Juni 2012 http://id.Daftar Pustaka Sinaga. Jakarta http://balarmedan. Meninggal Adat Dalihan Natolu.wordpress. 1999. Dian Utama.wikipedia.multiply. Richard.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful