IDE DIVERSI DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DI INDONESIA Anak merupakan amanah dari Tuhan Yang Maha

Esa yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Setiap anak mempunyai harkat dan martabat yang patut dijunjung tinggi dan setiap anak yang terlahir harus mendapatkan hak – haknya tanpa anak tersebut meminta. Hal ini sesuai dengan ketentuan Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child ) yang diratifikasi oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990, kemudian juga dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak dan Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang kesemuanya mengemukakan prinsip-prinsip umum perlindungan anak, yaitu non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang, dan menghargai partisipasi anak. Kurang lebih dari 4.000 anak Indonesia diajukan ke pengadilan setiap tahunnya atas kejahatan ringan, seperti pencurian. Pada umumnya mereka tidak mendapatkan dukungan, baik dari pengacara maupun dinas sosial. Dengan demikian, tidak mengejutkan jika sembilan dari sepuluh anak yang melakukan tindak pidana dijebloskan ke penjara atau rumah tahanan. Sebagai contoh sepanjang tahun 2000 tercatat dalam statistik kriminal Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) terdapat lebih dari 11.344 anak yang disangka sebagai pelaku tindak pidana. Hal ini dapat dilihat dari jumlah anak didik dari tahun ke tahun cenderung bertambah. Pada tahun 2005 anak didik yang ditangani oleh Ditjenpas berjumlah 1645 anak, pada tahun 2006 berjumlah 1814 anak, pada tahun 2007 berjumlah 2149 anak, pada tahun 2008 berjumlah 2726 anak, pada tahun 2009 berjumlah 2536 anak yang menjadi tahanan anak di rumah tahanan

dan lembaga pemasyarakatan di seluruh Indonesia1. Kemudian pada tahun 2008 di provinsi Jawa Timur tercatat anak yang berstatus anak didik (anak sipil, anak Negara, dan anak pidana) tersebar di seluruh Rumah tahanan dan Lembaga Pemasyarakatan untuk orang dewasa sebanyak 20.2622. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena banyak anak yang harus berhadapan dengan sistem peradilan dan mereka ditempatkan di tempat penahanan dan pemenjaraan bersama orang dewasa sehingga mereka rawan mengalami tindak kekerasan. Melihat prinsip tentang perlindungan anak terutama prinsip non diskriminasi yang mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak dan hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan tumbuh kembang anak sehingga diperlukan penghargaan terhadap anak, termasuk terhadap anak yang melakukan tindak pidanan. Oleh karena itu maka diperlukan suatu system peradilan pidana anak yang di dalamnya terdapat proses penyelesaian perkara anak di luar mekanisme pidana konvensional. Muncul suatu pemiiran atau gagasan untuk hal tersebut dengan cara pengalihan atau biasa disebut ide diversi, karena lembaga pemasyarakatan bukanlah jalan untuk menyelesaikan permasalahan anak dan justru dalam Lembaga Pemasyarakatan rawan terjadi pelanggaran – pelanggaran terhadap hak anak3. Hal inilah yang mendorong ide diversi khususnya melalui konsep Restorative Justice menjadi suatu pertimbangan yang sangat penting dalam menyelesaikan perkara pidana yang dilakukan oleh anak. Seorang anak yang melakukan tindak pidana wajib disidangkan di pengadilan khusus anak yang berada di lingkungan peradilan umum, dengan proses khusus serta pejabat khusus yang memahami masalah anak, mulai dari penangkapan, penahanan, proses mengadili dan pembinaan. Sementara itu dari
<http://www.Ditjenpas.go.id/index.php ? Option = com_content & task = view&id =34&Itemid=45>, diakses pada hari selasa tanggal 3 Juli 2012 pukul 20.00wib 2 http://www.menegpp.go.id/, diakses pada hari hari selasa tanggal 3 Juli 2012 pukul 20.00wib 3 DS.Dewi,Fatahilla A.Syukur, 2011, Mediasi Penal: Penerapan Restorative Justice di Pengadilan Anak Indonesia,Indie Pre Publishing, Depok, hal : 13
1

yaitu mencapai 50 persen. terlihat pada anak-anak.perspektif ilmu pemidanaan. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak. Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara. hal ini dikarenakan tingginya jumlah anak yang dipenjara kerena kejahatan ringan. yang berupa stigma (cap jahat). dicampurnya tahanan anak bersama orang dewasa dan batas yang terdapat dalam Undang – Undang Peradilan Anak sangatlah rendah (8 tahun). Reconviction rate yang tertinggi. Berdasarkan hasil studi perbandingan efektivitas pidana dari Komite Hak Anak PBB . CV Ananta. 1994. hal 18 4 . karena itu harus dinaikkan agar lebih rasional menjadi (12 tahun) sesuai dengan Beijing Rules5. meyakini bahwa penjatuhan pidana terhadap anak nakal (delinkuen) cenderung merugikan perkembangan jiwa anak di masa mendatang. Semarang. bahwa hukum perlindungan sosial mensyaratkan penghapusan pertanggungjawaban pidana (kesalahan) dan digantikan tempatnya oleh pandangan tentang perbuatan anti sosial. pengertian anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan. kecuali berdasarkan yang berlaku bagi anak tersebut ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal. Pengertian Anak dan Kenakalan Anak Pasal 1 angka 1 Undang – Undang No. angka perbandingan rata – rata pengulangan atau penghukuman kembali (reconviction rate) orang yang pertama kali melakukan kejahatan berbanding terbalik dengan usia pelaku. Anak adalah setiap manusia Barda Nawawi Arief. Angka itu lebih tinggi lagi setelah orang dijatuhi pidana penjara dari pada pidana bukan penjara. Sedangkan dalam Konvensi Hak – hak Anak. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Sementara itu dalam UU No.20 5 Ibid. Dikemukakan juga oleh Barda Nawawi Arief4. anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun. Kecenderungan merugikan ini akibat dari efek penjatuhan pidana terutama pidana penjara. hal.

Secara umum dalam peraturan perundang – undangan di Indonesia. Batas usia anak memberikan pengelompokan terhadap seseorang untuk dapat disebut sebagai seorang anak. sebagaimana layaknya seorang subyek hukum yang normal. hakim konstitusi berpandangan bahwa usia 12 (dua belas) tahun. Sesuai Undang – Undang Pengadilan Anak batas usia anak dapat diperlakukan atas suatu pelanggaran hukum adalah 8 (delapan) sampai 18 (delapan belas) tahun.yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya. Namun sejak Putusan MK No. Yang dimaksud dengan batas usia anak adalah pengelompokan usia maksimal sebagai wujud kemampuan anak dalam status hukum sehingga anak tersebut beralih status menjadi usia dewasa atau menjadi seorang subyek hukum yang dapat bertanggungjawab secara mandiri terhadap perbuatan – perbuatan dan tindakan – tindakan hukum yang dilakukannya. batas maksimal manusia dikelompokkan sebagai anak adalah 18 (delapan belas) tahun. batas anak diperlakukan atas suatu pelanggaran hukum adalah 12 (dua belas) sampai 18 (delapan belas) tahun. Perlindungan anak lebih diutamakan dalam pemahaman terhadap hak – hak anak yang harus dilindungi. karena secara kodrat memiliki substansi yang lemah (kurang) dan di dalam hukum dipandang sebagai subyek hukum yang ditanamkan dari bentuk pertanggungjawaban. Dalam pertimbangannya. maka pelaksanaan system peradilan pidana anak hanya dapat diterapkan pada anak usia 12 (dua belas) sampai dengan . anak sudah dianggap mengetahui dan mampu bertanggung jawab atas perbuatannya. Pengertian anak dalam lapangan hukum pidana menimbulkan aspek hukum positif terhadap proses normalisasi anak dari perilaku menyimpang (kejahatan dan pelanggaran pidana) untuk membentuk kepribadian dan tanggung jawab yang akhirnya anak tersebut berhak atas kesejahteraan yang layak dan masa depan yang lebih baik. Dengan putusan ini.

sedangkan terhadap anak yang telah mencapai umur diatas umur 12 (dua belas) tahun sampai 18 (delapan belas) tahun dapat dijatuhkan pidana. Batasan usia dalam putusan MK tersebut telah sesuai dengan Beijing Rules. termasuk juga memberikan pendidikan terhadap anak agar menjadi Marlina.18 (delapan belas) tahun. Bandung : Reflika Aditama. seperti dikembalikan kepada orang tuanya. hal 127 6 . Pembedaan perlakuan tersebut didasarkan atas pertumbuhan dan perkembangan fisik. Dasar pertimbangan ini dalam pertimbangan pemindanaan anak di bawah umur tidaklah relevan kalau menggunakan tiga teori klasik yaitu : 1) Teori absolute atau pembalasan yaitu dalam teori pembalasan diharapkan dapat menjarakan pelaku tindak pidana 2) Teori relative atau tujuan yaitu tidak seluruhnya dapat dikesampingkan dalam pemindanaananak di bawah umur sebab teori ini tidak saja masih mempertimbangkan kepentingan pelaku. masyarakat tetapi juga kepentingan masa depan pelaku. pedegogis (pendidikan) sosial anak. sosiologi. korban. psikologis. yaitu bagi anak yang masih di 8 – 18 tahun dan melakukan tindak pidana diperlakukan atas suatu pelanggaran hukum dengan cara yang berbeda dari perlakuan terhadap orang dewasa setelah melampaui batas usia 18 tahun maka anak yang melakukan tindak pidana ditangani dengan cara yang berlaku terhadap orang dewasa. hak asasi manusia dan Beijing Rules6 berumur 8 (delapan) tahun sampai 12 (dua belas) tahun hanya dapat dikenakan tindakan. Penindakan secara hukum pidana anak ditentukan berdasarkan perbedaan umur anak. Hal tersebut sesuai dengan Undang – Undang Perlidungan Anak. mental.Peradilan Pidana Anak Di Indonesia Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative Justice. ditempatkan pada organisasi social atau diserahkan kepada Negara. 2009.

insaf dan sadar. Dengan demikian mengingat pada pasal 67 bahwa berlakunya Undang – Undang Nomor 3 tahun 1997 tentang Peradilan Anak. jadi pembedaan perlakuan dan sanksi pidana diatur dalam pasal 22 – 34 Undang – Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak dan pasal 16 – 18 Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dimaksudkan untuk lebih melindungi dan mengayomi anak yang bermasalah dengan hukum agar dapat menyongsong masa depannya. tidak mau mengulangi lagi perbuatannya dan dapat menjadi manusia yang baik. karena dalam teori yang masih berlaku toeri pembalasan yang hanya memandang kejadian masa lampau tanpa memandang kepentingan masa depan pelaku tindak pidana yang acapkali menimbulkan penderitaan tanpa batas. 46 dan 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dinyatakan tidak berlaku. Pasal – pasal khusus yang mengatur tentang hak – hak anak adalah pasal 52 – 66 dan yang berkaitan dengan jaminan perlakuan terhadap anak-anak yang berhadapan dengan hukum diatur secara khusus pada butir – butir Pasal 66 yang dengan jelas menyebutkan sebagai berikut: 1. berkaitan dengan jaminan pemenuhan Hak Asasi Manusia termasuk di dalamnya hak – hak anak. maka pasal 45. . telah ditetapkan Undang – Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 3) Teori gabungan atau konvergensi yaitu teori yang mengambil dari teori pembalasan dan teori relative di atas. jelas tidak relevan lagi dengan teori pemindanaan pada saat sekarang. Setiap anak berhak untuk tidak dijadikan sasaran penganiayaan. penyiksaan atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Selain itu.

3. kecuali demi kepentingannya. Setiap anak berhak untuk tidak dirampas kebebasannya secara melawan hukum. Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang obyektif dan tidak memihak dalam sidang yang tertutup untuk umum. 7. 4. penahanan atau pidana penjara anak hanya boleh dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir. 6. Penangkapan. Hukuman mati atau hukuman seumur hidup tidak dapat dijatuhkan pada pelaku tindak pidana yang masih anak-anak. Mengenai perlindungan anak. Pasal 64 Undang – Undang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa : 1.2. Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan melalui: . Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak mendapat perlakuan secara manusiawi dan dengan memperhatikan kebutuhan pengembangan pribadi sesuai dengan usianya dan harus dipisahkan dari orang dewasa. 5. merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. 2. Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 meliputi anak yang berkonflik dengan hukum dan anak korban tindak pidana. Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku.

Upaya perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi. e. Perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi. (Selanjunya disingkat dengan Undang – Undang Pengadilan Anak) dalam pasal 1 angka 1 dan angka 2 menyatakan secara jelas status dan kedudukan anak nakal yang menyebutkan bahwa: Pasal 1 angka 1 Undang – Undang Pengadilan Anak : . mental maupun sosial. Pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang tua atau keluarga. Pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi ahli. baik dalam lembaga maupun di luar lembaga. Dalam system peradilan pidana anak. b. Perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak anak. 3. d. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan anak. b. Penyediaan sarana dan prasarana khusus. Upaya rehabilitasi. Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban tindak pidana sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan melalui: a.a. d. Penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik bagi anak. Pemberian aksesbilitas untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan perkara. seorang anak yang melakukan suatu tindak pidana disebut anak nakal. Pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan anak yang berhadapan dengan hukum. c. baik fisik. d. f. c. Penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini.

dan pencurian. a social. atau adolescent (remaja). tak mau patuh. sergapan. pelanggar aturan. Terdapat dua bentuk Deliquency yaitu criminal Deliquency offence atau Juvenile crime dan status Deliquency offence. baik menurut peraturan perundang undangan maupun menurut peraturan hukum lain hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. tidak dapat dikendalikan. terabaikan/mengabaikan. 29 7 . meninggalkan rumah. tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. Yogyakarta : Genta hal. atau penjaga/wali. Setya Wahyudi. dan Deliquency yang menunjuk pada tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh anak. Anak melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak. atau b. Tindakan atau perbuatan yang tergolong Criminal Deliquency offence seperti pembunuhan. perampokan. 2011. terbiasa menentang perintah yang sah menurut hukum dan yang layak dari suatu orang tua. Kenakalan anak yang menunjuk pada perbuatan anak nakal adalah istilah yang diambil dari istilah asing Juvenile Deliquency yang berasal dari kata juvenile yang merupakan sinonim dari kata young person (orang yang muda). Sedangkan tindakan atau perbuatan status Deliquency offence antara lain pembolosan. child (anak – anak). Deliquency juga berarti doing wrong. dimana jika tindakan atau perbuatan itu dilakukan oleh orang dewasa merupakan suatu kejahatan. dan pelanggaran hukum minum minuman keras7. Implementasi Ide Diversi dalam Pembaruan Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia.Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun. youngster (masa muda). yang kemudian diperluas artinya sebagai jahat. youth (kaum muda). atau perilaku yang tak terkendalikan. Pasal 1 angka 2 Undang – Undang Pengadilan Anak a. wali. Anak yang melakukan tindak pidana. criminal.

8 9 Wagiati Soetodjo. Seseorang dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya apabila ia mempunyai kesalahan sehingga perbuatannya patut dicelakakan kepada orang tersebut. 91 . pengacau dan lain – lain8. Setya Wahyudi hal. hal 8 – 9. Penggunaan istilah kejahatan anak untuk Juvenile Deliquency juga dapat menimbulkan dampak negative secara psikologis terhadap anak yang menjadi pelakunya. Penggunaan istilah kenakalan anak untuk menunjuk pada perbuatan pidana yang dilakukan oleh anak dilakukan agar tidak menimbulkan kesan yang terlampau ekstrim dibandingkan dengan menggunakan istilah kejahatan anak. 1990. Op. Bandung : PT. 2) Hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa). cit. 30 10 Sudarto. Fakultas Hukum Undip. Seseorang dikatakan bersalah apabila10 : 1) Orang tersebut mempunyai kemampuan bertanggungjawab karena keadaan jiwanya normal. tujuannya adalah untuk membuktikan apakah perbuatan yang dilakukannyadapat dipertanggungjawabkan dan pengenaan sanksi hukum pidana yang tepat kepada orang tersebut. Menurut Setya Wahyudi9. Semarag : Yayasan Sudarto. dan dilihat dari pelakunya maka Juvenile Deliquency memiliki arti penjahat anak atau anak jahat. Hukum Pidana Anak. baik norma hukum maupun norma social yang dilakukan oleh anak – anak usia muda. hal. Juvenile Deliquency adalah suatu tindakan atau perbuatan pelanggaran norma. Hukum Pidana I. 2006. Dengan demikian secara etimologis Juvenile Deliquency adalah kejahatan anak. Kenakalan anak timbul sebagai akibat prose salami setiap manusia yang harus mengalami kegoncangan jiwa semasa menjelang kedewasaannya.pembuat rebut. Refika Aditama. Pertanggungjawaban Anak dalam Sistem Peradilan Pidana Anak Seseorang dihadapkan ke depan siding pengadilan pidana.

dan restitusi. Ketentuan sanksi terhadap anak dalam The Beijing Rules. 2003. tidaklah melepaskan pembicaraan sanksi – sanksi yang mengandung penekanan aspek kesejahteraan anak. 2) Probation. 4) Sanksi denda.secara garis besar jenis sanksi hukum pidana adalah pidana (punishment) dan tindakan (treatment). 7) Perintah pembimbingan masyarakat. Ketentuan sanksi (pidana dan tindakan) bagi anak tertuang dalam The Beijing Rules dan The Tokyo Rules tentang United Standard Minimum Rules for Non-custodial Measures. 3) Perintah pelayanan masyarakat.3) Tidak terdapat alasan pemaaf atau tidak ada alasan penghapus kesalahan. 8) Perintah lain yang relevan. pembimbingan. 350 11 . Disertasi Ilmu Hukum. dan pengawasan. Pemberian Malu Reintegratif sebagai Sarana Non-penal Penanggulangan Perilaku Delikuensi Anak (Studi kasus di Semarang dan Surakarta. Undip. sanksi yang dijatuhkan pada anak memperhatikan tujuan pemidanaan di mana unsur paedologi menjadi unsur utama11. Pembicaraan tentang pertanggujawaban anak. Paulus Hadisaputro. 5) Perintah untuk pembinaan langsung atau tindakan pembinaan lainnya. kompensasi. hidup di tengah masyarakat. 6) Perintahuntuk berperan serta dalam kelompok konseling atau tindakan serupa. Hal. terdapat dalam Rules 18 tentang “Berbagai tindakan penempatan anak (various disposition neasures)” yaitu : 1) Perintah pengasuhan. atau tindakan pendidikan lain. Dengan kata lain.

3) Pidana yang berhubungan dengan status. Sementara itu Rules 8. 6) Pembayaran ganti rugi korban atau kompensasi lain.1 mengatur bahwa pejabat pengadilan berwenang di dalam menetapkan sanksi non-custodial yang beragam dengan mempertimbangkan : (a) kebutuhan anak. Ide Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak Memenuhi cita – cita Undang – Undang Perlindungan Anak yang menginginkan agar anak terhindar dari stigma (cap jahat) ketika anak tersebut melakukan suatu tindak pidana. dan peringatan keras. teguran keras. 4) Sanksi ekonomi dan pidana yang bersifat uang seperti denda dan denda harian. 7) Pidana bersayarat. (b) perilaku perlindngan masyarakat dan kepentingan korban. Ide diversi adalah pemikiran. Rule 8. 5) Perampasan dan perintah pengambilalihan. diatur dalam Rules 8 tentang sentencing disposition. 2) Pembebasan bersyarat. muncul suatu ide untuk melakukan suatu upaya pengalihan (diversi) dalam menangani anak pelaku tindak pidana. 9) Perintah kerja social. atau 12) Kombinasi dari tindakan – tindakan di atas. 8) Pengawasan.Sedangkan sanksi terhadap anak berdasarkan The Tokyo Rules.2 mengatur tentang pejabat pembinaan dapat saja menerapkan berbagai jenis sanksi yang berupa : 1) Sanksi verbal dalam bentuk nasihat yang baik. gagasan tentang pengalihan dipergunakan untuk menuntun dalam memecahkan permasalahan – permasalahan yang muncul dalam . 10) Pengiriman pada pusat kehadiran. 11) Penahanan rumah.

maupun Pembina Lembaga Pemasyarakatan. baik efek negative proses peradilan maupun efek negative stigma (cap jahat) proses peradilan. 14 Op. seperti penyerahan pembinaan oleh orang tua/walinya. 2. diberikan wewenang untuk mengalihkan proses peradilan kepada bentuk – bentuk kegiatan.Diakses hari selasa. pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Setya Wahyudi hal. peringatan. Pengadilan. maka setiap saat dalam tahapan – tahapan system peradilan anak. hal 14 15 Barda Nawawi Arief. 56 http:// doktormarlina. 25 Juni 1994. tanggal 3 juli 2012 pukul 20.Penerapan Konsep Diversi Terhadap Anak Pelaku Tindak Pidana dalam Sistem Peradilan Pidana Anak . Untuk menghindari cap/label anak sebagai penjahat. cit. Beberapa Aspek Pengembangan Ilmu Hukum Pidana (Menyongsong Generasi Baru Hukum Pidana Indonesia). dan kepada anak tersebut dikenakan program – program diversi. cit. pembebanan denda/restitusi. penegak hukum system peradilan pidana anak (Kepolisian. pembinaan oleh departemen social atau lembaga social masyarakat maupun konseling14. Kejaksaan. Hal 65. 13 12 .masyarakat12.00 wib. Penerapan diversi di semua tingkatan dalam system peradilan pidana anak diharapkan dapat mengurangi efek negative keterlibatan anak dalam proses peradilan tersebut15. maupun pihak Lembaga Pemasyarakatan). Adapun yang menjadi tujuan upaya diversi adalah : 1. Untuk menghindari anak dari penahanan. Kejaksaan. Diversi adalah sebuah tindakan atau perlakuan untuk mengalihkan atau menempatkan pelaku tindak pidana anak keluar dari sistem peradilan pidana13. Semarang. Op. Diversi dalam peradilan anak pidana anak dimaksudkan untuk menghindari efek negative dari pemeriksaan konvensional peradilan pidana terhadap anak. Tindakan diversi dapat dilakukan oleh pihak Kepolisian.htm Marlina. maka pemeriksaan secara konvensional dialihkan. Pengadilan. Ide diversi ini muncul dengan pertimbangan yang layak untuk menghindari stigma (cap jahat) pada anak.

. Ketiga. aktivitas pemeriksaan dan pemutusan perkara tertuju pada kepentingan anak. Menghindari anak mengikuti proses sistem peradilan.3. Sudarto mengatakan bahwa dalam system peradilan pidana anak. Pengadilan Anak. Untuk mencegah pengulangan tindak pidana yang dilakukan oleh anak. Implementasi dari ide diversi tersebut dalam penanganan masalah anak yang berhadapan dengan hukum dilakukan dengan menerapkan peradilan restroatif (Restorative Justice) dalam peradilan pidana anak. (iii) dan untuk mencapai kesejahteraan sosial. Agar anak bertanggung jawab atas perbuatannya. Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Justice System) adalah segala unsur sistem peradilan pidana yang terkait di dalam penanganan kasus – kasus kenakalan anak. Sehubungan dengan hal ini. Muladi yang menyatakan bahwa criminal justice system memiliki tujuan untuk : (i) resosialisasi dan rehabilitasi pelaku tindak pidana. polisi sebagai institusi formal ketika anak nakal pertama kali bersentuhan dengan sistem peradilan. (ii) pemberantasan kejahatan. mulai dari dibebaskan sampai dimasukkan dalam institusi penghukuman. yang juga akan menentukan apakah anak akan dibebaskan atau diproses lebih lanjut. Untuk melakukan intervensi-intervensi yang diperlukan bagi korban dan anak tanpa harus melalui proses formal 6. Pertama. jaksa dan lembaga pembebasan bersyarat yang juga akan menentukan apakah anak akan dibebaskan atau diproses ke pengadilan anak. tahapan ketika anak akan ditempatkan dalam pilihanpilihan. maka tujuan system peradilan pidana anak terpadu lebih ditekankan kepada upaya pertama (resosialiasi dan rehabilitasi) dan ketiga (kesejahteraan sosial). 7. 4. Kedua. Menjauhkan anak dari pengaruh dan implikasi negatif dari proses peradilan. 5. oleh karenanya segala aktivitas yang dilakukan oleh polisi. Berangkat dari pemikiran ini.

restorasi masyarakat. pelayanan korban. Restorative Justice dilaksanakan untuk mencapai keadilan restroatif. kesadaran pelaku atas perbuatannya. Volume 9 No. c. hakim dan pejabat lain harus didasarkan pada suatu prinsip yaitu demi kesejahteraan anak dan kepentingan anak16. Menetapkan hubungan langsung dan nyata antara kesalahan dengan reaksi social yang formal17.. besarnya ganti rugi. sekolah. dan teman sebaya. jumlah Sudarto. Fakultas Hukum. dkk. keluarga. Restorative Justice merupakan cara penjatuhan sanksi terhadap anak nakal dengan memberikan hak kepada korban untuk ikut serta secara aktif dalam proses peradilan. Kapita Selekta Hukum Pidana.Jurnal Dinamika Hukum. pelayanan di masyarakat yang bersifat pemulihan baik bagi korban maupun pelaku. 1981. Indicator pencapaian tujuan penjatuhan sanksi dalam penerapan Restorative Justice dapat dilihat dari apakah korban telahdirestorasi. d. Pelaksanaan Restorative Justice dapat dilakukan melalui kegiatan – kegiatan seperti : restitusi.jaksa. b. Berdasarkan tujuan system peradilan pidana anak tersebut maka salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan Restorative Justice. atau denda restroatif. 140 Angkasa. 3 September 2009 17 16 . Melibatkan para korban. halaman 129.. orang tua. mediasi korban dengan pelaku/pelanggar. Model Peradilan Restroatif dalam Sistem Peradilan Anak. Universitas Jenderal Soedirman. Bandung : Alumni. musyawarah kelompok keluarga. kepuasan korban. Membuat pelanggar bertanggung jawab untuk memperbaiki kerugian yang ditimbulkan untuk memperbaiki kerugian yang ditimbulkan oleh kesalahan pelaku. Menciptakan forum untuk bekerjasama dalam menyelesaikan masalah. Restorative Justice mempunyai prinsip – prinsip sebagai berikut : a. Restorative Justice memiliki prinsip yang berbeda dengan model peradilan konvensional.

Tindakan kekerasan saat penangkapan membawa sifat keterpaksaan sebagai hasil dari penegakan hukum. Anjar's Blog. 3. KONSEP DIVERSI DANRESTORATIVE JUSTICE . untuk mengalihkan suatu kasus dari proses formal ke proses informal. Pukul 20. Tujuannya menegakkan hukum tanpa melakukan tindakan kekerasan dan menyakitkan http:// Blog pada WordPress. Memberikan kesempatan bagi si korban untuk ikut serta dalam proses. kualitas pelayanan kerja dan keseluruhan proses yang terjadi. Memberikan kesempatan bagi rekonsiliasi dan penyembuhan dalam masyarakat yang dirugikan oleh tindak pidana18.kesepakatan perbaikan yang dibuat. 4. Petugas dalam melaksanakan diversi menunjukkan pentingnya ketaatan kepada hukum dan aturan kepada anak yang berhadapan dengan hukum (pelaku). Diakses hari selasa tanggal 2 Juli 2012. Penghindaran penangkapan dengan kekerasan dan pemaksaan menjadi tujuan dari pelaksanaan diversi.com. Prinsip utama pelaksanaan konsep diversi yaitu tindakan persuasif atau pendekatan non penal dan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memperbaiki kesalahan. 5. Mendorong anak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Memberikan kesempatan bagi anak untuk dapat mempertahankan hubungan dengan keluarga. 2. Petugas melakukan diversi dengan cara pendekatan persuasif dan menghindari penangkapan yang menggunakan tindakan kekerasan dan pemaksaan. Proses pengalihan ditujukan untuk memberikan perlindungan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum. Memberikan kesempatan bagi anak untuk mengganti kesalahan yang dilakukan dengan berbuat kebaikan bagi si korban. Program diversi dapat menjadi bentuk Restorative Justice jika : 1.00 wib 18 .

Kedua keadilan tersebut dipaparkan melalui sebuah penelitian terhadap keadaan dan situasi untuk memperoleh sanksi atau tindakan yang tepat (appropriate treatment). Di negara Philipina angka keterlibatan anak dengan tindak pidana dan menjalani peradilan sampai pemenjaraan cukup tinggi dan 94% adalah anak pelaku pidana untuk pertama kalinya (first-time offender).dengan memberi kesempatan kepada seseorang untuk memperbaiki kesalahannya tanpa melalui hukuman pidana oleh negara yang mempunyai otoritas penuh. Salah satu contoh latar belakang pentingnya kebijakan diversi dilakukan karena tingginya jumlah anak yang masuk ke peradilan pidana dan diputus dengan penjara dan mengalami kekerasan saat menjalani rangkaian proses dalam sistem peradilan pidana. . Tiga jenis pelaksanaan program diversi yaitu 1. Diversi dilakukan dengan alasan untuk memberikan suatu kesempatan kepada pelanggar hukum agar menjadi orang yang baik kembali melalui jalur non formal dengan melibatkan sumber daya masyarakat. Diversi berupaya memberikan keadilan kepada kasus anak yang telah terlanjur melakukan tindak pidana sampai kepada aparat penegak hukum sebagai pihak penegak hukum. Pelaksanaan kontrol secara sosial (social control orientation). sebaliknya usaha dukungan untuk mengembalikan anak ke komunitasnya sangat rendah. Jumlah anak yang menjalani pemenjaraan tidak diiringi dengan adanya kebijakan diversi dan program pencegahan tindak pidana anak secara formal. yaitu aparat penegak hukum menyerahkan pelaku dalam tanggung jawab pengawasan atau pengamatan masyarakat. Pelaku menerima tanggung jawab atas perbuatannya dan tidak diharapkan adanya kesempatan kedua kali bagi pelaku oleh masyarakat. dengan ketaatan pada persetujuan atau peringatan yang diberikan. yaitu Philipina.

Selanjutnya jika anak yang melakukan pelanggaran sudah terlanjur ditangkap oleh polisi dalam setiap pemeriksaan peradilan untuk dapat melekukan diversi dalam bentuk menghentikan pemeriksaan demi pelindungan terhadap pelaku anak. Pelaksanaan diversi oleh aparat penegak hukum didasari oleh kewenangan aparat penegak hukum yang disebut discretion atau dalam bahasa Indonesia diskresi. memberi kesempatan pelaku bertanggung jawab langsung pada korban dan masyarakat dan membuat kesepakatan bersama antara korban pelaku dan masyarakat. yaitu melindungi masyarakat. Pelayanan sosial oleh masyarakat terhadap pelaku (social service orientation). mencampuri. Dengan penerapan konsep diversi bentuk peradilan formal yang ada selama ini lebih mengutamakan usaha memberikan perlindungan bagi anak dari tindakan pemenjaraan.2. Setelah itu jika ada anak yang melakukan pelanggaran maka tidak perlu diproses ke polisi. yaitu melaksanakan fungsi untuk mengawasi. Kemudian apabila kasus anak sudah sampai di pengadilan. Masyarakat dapat mencampuri keluarga pelaku untuk memberikan perbaikan atau pelayanan. Selain itu terlihat bahwa perlindungan anak dengan kebijakan diversi dapat dilakukan di semua tingkat peradilan mulai dari masyarakat sebelum terjadinya tindak pidana dengan melakukan pencegahan. memperbaiki dan menyediakan pelayanan pada pelaku dan keluarganya. maka . Pelaksanaannya semua pihak yang terkait dipertemukan untuk bersama-sama mencapai kesepakatan tindakan pada pelaku. 3. Menuju proses restorative justice atau perundingan (balanced or restorative justice orientation). Pelaksanaan diversi dilatarbelakangi keinginan menghindari efek negatif terhadap jiwa dan perkembangan anak oleh keterlibatannya dengan sistem peradilan pidana.

Kejahatan dapat dikategorikan dalam tiga kategori yaitu tingkat ringan. dan berat. hobi. serta peraturan perundang undangan lainnya. Terakhir bila anak sudah terlanjur berada di dalam penjara. sedang. Secara umum anak – anak yang melakukan . pelindungan dari penyiksaan dan perlakuan fisik dan mental dan proses peradilan yang singkat dan cepat. maka petugas penjara dapat membuat kebijakan diversi terhadap anak sehingga anak dapat di limpahkan kelembaga sosial. Penempatan terhadap pelaku anak yang terlanjur ditahan. setelah itu anak akan dilepas dan merupakan akhir dari permasalahan terkecuali kalau anak tersebut melakukan pelanggaran selanjutnya (mengulangi) maka akan dilakukan proses lanjutan. Undang – Undang Peradilan Anak. dibedakan tempat penahannya dengan orang dewasa dengan menjamin pemenuhan fasilitas yang melindungi perkembangan anak. atau sanksi alternatif yang berguna bagi perkembangan dan masa depan anak tapi diversi untuk mengeluarkan dari system peradilan. dimana anak muda yang telah ditangani polisi hanya diberikan peringatan lisan dan tertulis. Undang – Undang tentang HAM. Kenakalan anak yang dapat dipertimbangkan dalam hal ini dilihat dari kategori kenakalan atau kejahatan yang dilakukannya tersebut. Penahanan yang dilakukan terhadap anak tetap berpedoman kepada aturan hukum mengenai hak anak yang tercantum dalam aturan yang ada mengenai hak anak yaitu konvensi hak anak.hakim dapat mengimplementasikan ide diversi demi kepentingan pelaku anak tersebut yang sesuai dengan prosedurnya dan diutamakan anak dapat dibebaskan dari pidana penjara. perlindungan hak propesi anak. Implementasi diversi bagaimanapun juga harus dilakukan secara selektif setelah melalui berbagai pertimbangan. Satu hal utama dari bentuk ini yaitu sikap kehati-hatian dari polisi. pendidikan. akses dengan keluarga. Undang – Undang Perlindungan Anak.

atau kerusakan ringan pada harta benda. Santi Kusumaningrum. penyerangan ringan tanpa menimbulkan luka. Op.pdf. 4. Sikap anak terhadap perbuatan tersebut. Tingkat keseriusan perbuatan : ringan. 3. 2. Penggunaan Diversi untuk Anak yang Berhadapan dengan Hukum (dikembangkan dari Laporan yang disusun oleh Chris Graveson). 5. Keadaan – keadaan yang terdapat pada anak sebagai pelaku kejahatan berbeda – beda. Kenakalan atau kejahatan yang tergolong sedang adalah tipe kejahatan yang di dalamnya terdapat kombinasi antara semua kondisi. Pelanggaran yang sebelumnya dilakukan. Diakses hari selasa tanggal 2 Juli 2012.org/wpcontent/uploads/2009/05/diversion-guidelines_adopted-from-chris-report. Derajat keterlibatan anak dalam kasus. http ://ajrc-aceh. 6.kenakalan ringan sedapat mungkin diversi dilakukan. Jika anak mengakui dan menyesali.00 wib 20 19 . Untuk kejahatan berat maka diversi bukanlah pilihan19. Hal 303. dkk…. hal ini dapat menjadi pertimbangan. Reaksi orang tua dan/atau keluarga terhadap perbuatan tersebut. Beberapa factor situasi yang menjadi pertimbangan implementasi diversi. Kejahatan yang tergolong ringan sebagai petty crime. Dampak perbuatan terhadap korban. Untuk kejahatan berat seperti penyerangan seksual dan penyerangan fisik yang menimbulkan luka parah. Pukul 20. dapat dikemukakan sebagai berikut 20: 1. Oleh karena itu. Apong Herlina. sedang atau berat. seperti pencurian ringan. Latar belakang perbuatan timbul dapat menjadi pertimbangan. factor – factor yang dapat menjadi pertimbangan implementasi diversi perlu dicermati. Semua kondisi menjadi pertimbangan untuk menentukan ketepatan untuk dilakukan diversi atau tidak dilakukan diversi. 7. cit. Usul yang diberikan untuk melakukan perbaikan atau meminta maaf pada korban.

si pelaku akan meminta maaf pada korban. 10. keluarga. Diversi dalam bentuk peringatan. Apabila demi kepentingan umum. dan kalau mungkin orang tua dimintai pertanggungjawaban atas kejadian tersebut. yang diterapkan terhadap pelanggaran ringan di mana dirasakan kurang pantas jika hanya sekedar member peringatan kepada pelaku. dan anak. korban tentang metode penanganan yang 9. Diversi formal. Rencana diversi informal ini. tetapi tidak memerlukan intervensi pengadilan. Secara garis besar. dan kepada pelaku diperlukan rencana intervensi yang lebih komperhensif. mengakui kebutuhan – kebutuhan korban dan anak. 3. Sebagai bagian dari peringatan. Diversi dapat dimplementasikan dalam beberapa bentuk. Beberapa korban akan merasa perlu mengatakan pada anak betapa marah dan terlukanya mereka. ini akan diberikan kepada polisi untuk pelanggaran ringan. yaitu : 1. Peringatan seperti ini telah sering dilakukan. Pihak korban harus diajak untuk memastikan pandangannya tentang diversi informal dan apa yang mereka inginkan di dalam rencana tersebut. terdapat tiga bentuk diversi. yang dilakukan jika diversi informal tidak dapat dilakukan. atau mereka ingin . Yaitu dipastikan bahwa pelaku anak akan cocok diberikan diversi informal. Diversi informal harus berdampak positif kepada korban. 2.8. Diversi informal. anak akan bertanggung jawab. Dampak sanksi atau hukuman yang sebelumnya pernah diterima oleh pelaku anak. Pandangan ditawarkan. maka proses hukum harus dilakukan.

Hambatan Implementasi Ide Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia Ide diversi secara konseptual akan lebih sesuai dalam melakukan upaya penindakan dan penjatuhan sanksi terhadap anak nakal dalam kerangka perlindungan anak terhadap stigma (cap jahat) ketika seorang anak melakukan perbuatan kejahatan atau pelanggaran hukum. Factor – factor tersebut yaitu : 1) Hambatan Internal Walaupun keadilan Restoratif Justice dan Diversi sudah mulai dikenal sebagai alternatif penanganan anak berhadapan dengan hukum dari peradilan pidana dan mulai mendapatkan dukungan banyak pihak masih banyak hambatan yang dihadapi oleh sistem peradilan anak yaitu : a) Kebutuhan yang semakin meningkat tidak sebanding dengan sumber daya (baik personel maupun fasilitas). Karena permasalahannya muncul dari dalam keluarga anak. Proses diversi fomal di mana pelaku dan korban bertatap muka. Namun demikian dalam system peradilan pidana anak di Indonesia.mendengarkannya langsung dari anak. secara internasional ini disebut sebagai “Restroatif Justice”. Terdapat factor – factor penghambat terhadap upaya implementasi ide diversi dalam system peradilan pidana anak Indonesia saat ini. ide diversi tersebut tidak mudah untuk diimplementasikan. maka ada baiknya ada anggota keluarga lainnya yang hadir untuk mendiskusikan dan menyusun rencana diversi yang baik untuk semua pihak yang terkena dampak dari perbuatan itu. .

Dewi.cit.Fatahilla A. f) Belum ada persamaan persepsi antar-aparat penegak hukum mengenai penanganan anak berhadapan dengan hukum untuk kepentingan terbaik bagi anak. DS. hal 59 . Hakim. pembinaan dan latihan kerja sehingga dapat dikirim ke panti sosial untuk dibina secara khusus diberi pemulihan mental dan perilaku. g) Terbatasnya sarana dan prasarana penanganan anak berhadapan dengan hukum selama proses pengadilan (pra dan pasca putusan pengadilan)21. e) Koordinasi antara aparat penegak hukum (Polisi. Advokat. Lapas) masih tersendat karena kendala ego sektoral.Syukur…. Jaksa. j) Pandangan penegak hukum sisem peradilan pidana anak masih berpangkal pada tujuan pembalasan atas perbuatan jahat pelaku 21 Op. h) Kurangnya kebijakan formulasi untuk melaksanakan proses rehabilitasi sosial anak nakal dalam hal ini Departemen social atau Organisasi sosial kemasyarakat yang bergerak dibidang pendidikan. Rutan. i) Kurangnya perlindungan anak yang melakukan tindak pidana namun kehendak demikian tidaklah mudah dilakukan karena kerena ketentuan dalam sistem pemasyakatan anak saat ini tidak memberi peluang yang demikian. d) Permasalahan etika dan hambatan birokrasi dalam penukaran data dan informasi antara aparat penegak hukum. Bapas.b) Pemahaman yang berbeda dalam penanganan anak berhadapan dengan hukum dan korban di antara aparat penegak hukum c) Kurangnya kerja sama antara pihak yang terlibat (aparat penegak hukum dan pekerja sosial anak).

terdapat ketentuan yang mengarah dan menghendaki implementasi diversi. dan Keputusan Presiden tentang Pengesahan Hak – Hak Anak. Patut disayangkan karena penegak hukum cenderung melalaikan hal tersebut. Ketiadaan payung hukum Belum adanya payung hukum menyebabkan tidak semua pihak memahami implementasi keadilan restorative dengan tujuan pemulihan bagi pelaku. korban. Inkonsistensi penerapan peraturan 22 Op. Selain itu Undang – Undang tentang Pengadilan Anak saat ini tidak memberikan ruang yang cukup bagi implementasi ide diversi. hal 302 . dan masyarakat. Setya Wahyudi. penjatuhan hukuman pidana bagi anak adalah upaya terakhir. 2) Hambatan Eksternal Bahwa dalam menerapkan sistem Restoratif Justice dan Diversi masih banyak hambatan eksternal yang ditimbulkan yaitu : a.anak. penahanan. b. Undang – Undang Perlindungan Anak. cit. sehingga hakim akan menjatuhkan pidana semata – mata diharapkan agar anak jera22. Namun demikian sebenarnya jika melihat pada Undang – Undang Hak Asasi Manusia. Akibatnya sering ada pihak-pihak yang mengintervensi jalanya proses mediasi. Banyak pihak yang belum memahami prinsip dalam ketentuan pasal 16 ayat (3) Undang – Undang tentang perlindungan anak yang menyebutkan bahwa penangkapan.

23 Ibid hal 60 . c. Pandangan masyarakat terhadap perbuatan tindak pidana Ide diversi masih terhalang adana pandangan masyarakat yang cenderung dendam dan ingin melakukan pembalasan terhadap pelaku kejahatan. Akibatnya aparat penegak hukum membuat putusan yang tidak konsisten dalam kasus anak berhadapan dengan hukum yang memiliki kemiripan unsur-unsur perbuatan. termasuk penanganan anak berhadapan dengan hukum banyak kalangan professional hukum yang masih menganggap mediasi sebagai metode pencarian keadilan kelas dua dengan berpandangan bahwa mediasi tidak berhasil mencapai keadilan sama sekali karena tidak lebih dari hasi kompromi pihak – pihak yang terlibat. inkonsistensi penerapan peraturan di lapangan dalam penanganan anak berhadapan dengan hukum masalah yang paling sederhana dapat dilihat pada beragamnya batasan yang menjadi umur minimal seorang anak pada peraturan-peraturan yang terkait. padahal saat ini hakim adalah satu-satu pihak yang bisa memediasi perkara anak yang berhadapan dengan hukum tidak seperti mediasi perdata yang memperbolehkan non-hakim menjadi mediator di pengadilan23. Kurangnya dukungan dan kerja sama antar lembaga Masalah ini merupakan hambatan yang lain yang masih banyak terjadi dalam menegakkan suatu ketentuan hukum.Belum adanya payung hukum sebagai landasan dan pedoman bagi semua lembaga penegak hukum. d. termasuk pada pelaku anak.

system hukum formal anak. Implementasi diversi dalam system peradilan pidana anak dapat dijadikan wahana untuk mendidik anak yang sudah terlanjur melakukan kejahatan atau pelanggaran hukum tentang pentingnya mentaati hukum. Mengenalkan hukum dan mengajarkan anak untuk taat hukum sejak dini juga perlu dilakukan oleh orang tua dan pendidik di sekolah. maka perlu dilakukan segera pembaruan system peradilan pidana materiel anak. Dari aspek masyarakat luas. Selain itu penegak hukum harus diberikan pelatihan tentang diversi agar dalam menerapkan diversi terhadap anak nakal dapat dilakukan dengan tepat.Melihat hambatan – hambatan dalam rangka implementasi ide diversi dalam system peradilan pidana anak. Untuk itu diharapkan generasi muda di masa datang lebih bisa mentaati hukum yang berlaku. Mendidik anak merupakan hal yang penting untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia yang akan datang. Hukum juga harus memberikan ruang bagi anak untuk terus berkembang dan terlindungi sesuai kapasitas pertumbuhannya. Pelatihan tersebut juga bertujuan untuk menyamakan persepsi penyidik anak. dan system pelaksanaan sanksi hukum pidana anak. . maka dibutuhkan suatu penyuluhan kepada masyarakat tentang ide diversi sehingga masyarakat akan pentingnya diversi dalam penyelenggaraan system peradilan pidana anak. dan hakim anak tentang kepentingan terbaik bagi anak dalam pelaksanaan system peradilan pidanan anak. penuntut umum anak.

Sudarto. dkk. Fakultas Hukum. Depok : Indie Pre Publishing Marlina. 2006. Hal 65.DAFTAR PUSTAKA Literatur Arief.Wagiati. Implementasi Ide Diversi dalam Pembaruan Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia. 2011. 2009. pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. 1990.Jurnal Dinamika Hukum. Kapita Selekta Hukum Pidana. Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara. Wahyudi. Yogyakarta : Genta Soetodjo. Bandung : PT. 25 Juni 1994. Bandung : Alumni Dokumen Angkasa.. 3 September 2009 Barda Nawawi Arief. Bandung : Refika Aditama. Universitas Jenderal Soedirman.Syukur. .Setya. Semarang. Volume 9 No. Beberapa Aspek Pengembangan Ilmu Hukum Pidana (Menyongsong Generasi Baru Hukum Pidana Indonesia).DS. Barda Nawawi. Mediasi Penal: Penerapan Restorative Justice di Pengadilan Anak Indonesia. Peradilan Pidana Anak Di Indonesia Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative Justice. Semarang : CV Ananta Dewi. 2011. Fatahilla A. Sudarto. Refika Aditama. Model Peradilan Restroatif dalam Sistem Peradilan Anak. Semarag : Yayasan Sudarto. Hukum Pidana I. 1994. 1981. Fakultas Hukum Undip. Hukum Pidana Anak.

php ? Option = com_content & task = view&id =34&Itemid=45. Undip.com. Disertasi Ilmu Hukum. Pukul 20.org/wp-content/uploads/2009/05/diversion-guidelines_adopted-fromchris-report.htm Marlina. Hal.Penerapan Konsep Diversi Terhadap Anak Pelaku Tindak Pidana dalam Sistem Peradilan Pidana Anak .00wib http://www. Anjar's Blog. Penggunaan Diversi untuk Anak yang Berhadapan dengan Hukum (dikembangkan dari Laporan yang disusun oleh Chris Graveson).pdf. KONSEP DIVERSI DANRESTORATIVE JUSTICE.go.00 wib Perundang – undangan Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak Undang – Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia . Pukul 20. http ://ajrc-aceh.id/. Pemberian Malu Reintegratif sebagai Sarana Nonpenal Penanggulangan Perilaku Delikuensi Anak (Studi kasus di Semarang dan Surakarta.00 wib. 350 Internet Santi Kusumaningrum. diakses pada hari selasa tanggal 3 Juli 2012 pukul 20. Paulus.Ditjenpas. 2003.menegpp. Diakses hari selasa tanggal 2 Juli 2012. tanggal 3 juli 2012 pukul 20.id/index.go. diakses pada hari hari selasa tanggal 3 Juli 2012 pukul 20.00 wib http://www. Diakses hari selasa tanggal 2 Juli 2012.00wib http:// doktormarlina.Diakses hari selasa. http://Blog pada WordPress.Hadisaputro.

Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 Tentang Pengesahan Convention on the Rights of the Child (Konvensi Hak – Hak Anak) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful