BAB I KONSEP DASAR MEDIS CA MAMAE A.

PENGERTIAN Kanker merupakan buah dari perubahan sel yang mengalami pertumbuhan tidak normal dan tidak terkontrol. Peningkatan jumlah sel tak normal ini umumnya membentuk benjolan yang disebut tumor atau kanker. Tidak semua tumor bersifat kanker. Tumor yang bersifat kanker disebut tumor ganas, sedangkan yang bukan kanker disebut tumor jinak. Tumor jinak biasanya merupakan gumpalan lemak yang terbungkus dalam suatu wadah yang menyerupai kantong, sel tumor jinak tidak menyebar ke bagian lain pada tubuh penderita. ( http;//tategea.blog.friendster.com/2007/12/ca-mamae ) Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. ( Erik T, 2005, hal : 39-40 ) Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari selsel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. ( http//www.pikiranrakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Harianto, dkk ) Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. ( Harianto dkk, 2005 ) Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. ( blogdokter, 2007) Kanker payudara adalah kanker yang relatif sering dijumpai pada wanita merupakan penyebab kematian utama pada wanita berusia antara 45 dan 64 tahun ( Elizaberth J. Corwin, 2000 ) B. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. Faktor presipitasi dan faktor predisposisi a. Faktor presitipasi Belum diketahui b. Faktor predisposisi 1) Riwayat pribadi tentang kanker payudara. Risiko mengalami kanker payudara pada payudara sebelahnya meningkat hampir 1 % setiap tahun. 2) Anak perempuan atau saudara perempuan (hubungan keluarga langsung) dari wanita dengan kanker payudara.

Resikonya meningkat dua kali jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun. Resiko meningkat 4 sampai 6 kali jika kanker pyudara terjadi pada dua orang saudara langsung. 3) Menarke dini. Resiko kanker payudara meningkat pada wanita yang menglami menstruasi sebelum usia 12 tahun. 4) Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama. Wanita yang mempunyai anak pertama setelah usia 30 tahun mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara di banding dengan wanita yang mempunyai anak pertama mereka pada usia sebelum 20 tahun. 5) Menopause pada usia lanjut. Menoupouse setelah usia 50 tahun meningkatkan resiko untuk mengalami kanker payudara. Dalam perbandingan, wanita yang telah mengalami oovorektomy bilateral sebelum usia 35 tahun mempunyai resiko 1/3 nya. 6) Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel ploriferatif mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara, wanita mengalami dengan hyperplasia tipikal mempunyai resiko empat kali lipat untuk mengalami penyakit ini. 7) Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun berisiko hampir dua kali lipat. 8) Obesitas resiko rendah diantara wanita pasca menopause. Bagaimanapun, wanita gemuk yang di diagnose penyakit ini mempunyai angka kematin lebih tinggi yang paling seringberhubungan dengan diagnosis yang lambat. 9) Kontraseptif oral. Wanita yang menggunakan kontraseptif oral beresiko tinggi untuk mengalami kanker payudara. Bagaimanapun resiko tinggi ini menurun dengan cepat setelah penghentian medikasi. 10) Terapi penggantian hormone. Terdapat laporan yang membingungkan tentang risiko kanker payudara pada terapi penggantian hormone. Wanita yang berusia lebih tua yang menggunakan estrogen. 11) Masukan alcohol. Sedikit peningkatan resiko ditemukan pada wanita yang mengkonsumsi alcohol bahkan hanya dengan sekali minum dalam sehari. Resikonya dua kali lipat diantara wanita yang minum alcohol tiga kali sehari. Beberapa temuan riset menunjukan bahwa wanita muda yang minum alcohol lebih rentan untuk mengalami kanker payudara pada tahun-tahun terakhirnya. (Brunner and

Suddarth 2002) C. PATOFISIOLOGI Neoplasma berarti “pertumbuhan baru” adalah massa abnormal dari selsel yang mengalami proliferasi sel-sel neoplasma berasal dari sel-sel yang sebelumnya adalah sel-sel normal, namun selama mengalami perubahanperubahan neoplastik mereka memperoleh derajat otonomi tertentu yaitu sel neoplastik tumbuh dengan kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang sangat tidak bergantung pada pengawasan homeostatis sebagian besar sel tubuh lainnya. Pertumbuhan sel neoplasmatik biasanya progresif yaitu tidak mencapai keseimbangan, tetapi lebih banyak mengakibatkan penambahan massa sel yang mempunyai sifat-sifat yang sama neoplasma tidak melakukan tujuan yang bersifat adaptasi yang menguntungkan hospes tetapi lebih sering membahayakan. Akhirnya oleh karena sifat otonom sel neoplastik, walaupun rangsangan yang menyebabkan neoplasma sudah dihilangkan neoplasma terus tumbuh dengan progresif. Istilah tumor kurang lebih merupakan sinonim dari istilah neoplasma, semula istilah tumor diartikan secara sederhana sebagai pembengkakan/gumpalan dan kadang-kadang istilah “Tumor Sejati” dipakai untuk membedakan neoplasma dengan gumpalan lainnya. Neoplasma dapat dibedakan berdasarkan sifat-sifatnya. Ada yang jinak, adapula yang ganas dan ada banyak tumor atau neoplasma lain yang tidak bersifat kanker ( C.J.H Van de velde dkk. 2000 ) Pemeriksaan Penunjang : 1. Histologi dan sitologi a. Eksisi ataupun giopsi b. Aspirasi jarum halus c. Hapusan sitologi Pentahapan patologi didasarkan pada histology memberikan prognosis yang lebih akurat. Tahap-tahap yang penting diringkaskan berikut ini: 1. Tahap I : terdiri atas tumor yang kurang dari 2 cm, tidak mengenai nodus limfe, dan tidak terdeteksi adanya metastasis. 2. Tahap II : terdiri atas tumor yang lebih besar dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm, dengan nodus limfe tidak terfiksasi negative atau positif, dan tidak terdeteksi adanya metastasis. 3. Tahap III : terdiri atas tumor yang lebih besar dari 5 cm, atau tumor dengan sembarang ukuran yang menginvasi kulit atau dinding, dengan nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular, dan tanpa bukti adanya metastasis.

dengan nodus limfe normal atau kankerosa. Nodus. Pentahapan Kanker Payudara Berdasarkan Tumor.4. dan Metastasis (Pentahapan TNM) Tahap 0 Tis N0 M0 Tahap I T1 N0 M0 Tahap IIA T0 N1 M0 T1 N1 M0 T2 N0 M0 Tahap IIB T2 N1 M0 T3 N1 M0 Tahap IIIA T0 N2 M0 T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N1 M0 T3 N2 M0 Tahap IIIB T4 Sembarang N M0 Sembarang T N3 M0 Tahap IV Sembarang T Sembarang N M1 Keterangan: Tumor Primer (T) : • T0 : Tidak ada bukti tumor primer • Tis : Karsinoma In Situ. Tahap IV : terdiri atas tumor dalam sembarang ukuran. atau penyakit Paget’s putting susu dengan atau tanpa tumor • T1 : Tumor < 2 cm dalam dimensi terbesarnya • T2 : Tumor > 2 cm tetapi tidak > 5 cm dalam dimensi terbesarnya • T3 : Tumor > 5 cm dalam dimensi terbesarnya . karsinoma intraduktal. dan adanya metastasis jauh. karsinoma lobular in situ.

Neroupouse setelah usia 50 tahun Nodus Limfe Regional (N) Riwayat penyakit payudara jinak N0 : Tidak ada metastasis nodus limfe regional • N1 : metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral (S) yang dapat digerakan. • N2 : metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral (s) terfiksasi pada satu sama lain atau pada struktur lainnya • N3 : metastasis ke nodus limfe mamaria internal ipsilateral Matastasis Jauh (M) • Tidak ada metastasis yang jauh • M1 : metastasis jauh (termasuk metastasis ke nodus limfe supraklavikular ipsilateral) (Brunner and Suddarth 2002) • PATHWAY .Kerusakan DNA Sel normal Menonaktifkan gen supresor kanker Adiopatik Neoplasma ganas apoptosis Pengaruh gen yang Genom MutasiPerubahan struktur dalam mengatur gen yang meningkatkan pertumbuhan sel somatic Karsinogen oksigen Agen perusak DNA Kimia Radiasi Virus Fakto predisposisi Riwayat kanker payudara Keturunan Menarke dini • T4 : Tumor sembarang ukuran dengan Nulipara ukuran perluasan ke dinding dada atau kulit.

Merusak organ tubuh mamae .

Adanya tulang lekukansumsum tulang ke dalam. (Bruner and suddart. Nyeri diHepar massa.J. ( http://ppni-klaten 2009. Adanya kerusakan dan retraksi pada area putting. daerah paru-paru c. Seluruh payudara.2002 jeruk).J. g.Wagener 2000 papilla mammae. cairan encer padahal ibu tidak sedang hamil / menyusui. Pengelupasan f. Terdapat massautuh kenyal. Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi. Anoreksia. Keluar cairan abnormal dari putting susu berupa nanah.Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV ganas ak mengenai nodus limfe dan tidak terdeteksi adanya metastasis i kurang dari 5 cm dengan nodus limfe tidak terfiksasi negative atau positif dan tidak terdeteksi adanya metastasis Terdiri atas tumor dalam 2.dibawah ketiak bentuknya tak beraturan dan jauh Metastase terfiksasi. Ada dua cara yaitu dengan Pembedahan dan Non Pembedahan. tarikan dan refraksi pada areola otak mammae. Penatalaksanaan 1. antara lain: a. Bosman. g. Nyeri luka oprasi. Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena). biasa di kwadran atas bagian dalam. saraf d. e. 2000) 3. darah. Perubahan eliminasi. e. Manifestasi Klinik sembarang ukuran dengan nodus limfe normal atau kankerosa dan adanya metastase jau u tumor dengan sembarang ukuran yang menginvasi kulit atau dinding dengan nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular da Gejala yang ditimbulkan tergantung dari asal tumor primer serta arah penyebaran tumor. d. 2) Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara. pleura C.Th. Keterbatasan aktifitas. Perubahan bising usus (efek anestesi). Perubahan tekanan darah. D. h. mual muntah.com) Manifestasi klinis post oprasi : a. gejala kanker payudara yaitu: a. f.H Van de velde.T. c. 3) Mastektomi radikal yang dimodifikasi. F. semua atau sebagian besar jaringan dan luasnya . Edema dengan “peant d’ orange (keriput seperti kulit kulit Brunner & Suddarth. Pembedahan : 1) Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Perubahan bentuk dan besar payudara. b. b. Kelemahan. semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor.

coferektomiadrenalektomi hipofisektomi. Test fal marker (CEA) dalam serum/plasma. otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya.aksial a) Mastektomi radikal : Seluruh payudara. 2) Kemoterapi Adjuvan sistematik setelah mastektomi. memakai estrogen. pada metastase tulang. ada 2 macam tindakan menggunakan jarum dan 2 macam tindakan pembedahan b) Aspirasi biopsy (FNAB) Dengan aspirasi jarum halus . antiestrogen. metastase kelenjar limfe aksila. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan sitologis b. seluruh isi aksial. (http://ppni-klaten 2009. 3) Terapi hormon dan endokrin Kanker yang telah menyebar. androgen.com) 2. b) Mastektomi radikal yang diperluas : Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna. paliatif pada penyakit yang lanjut. b. sifat massa dibedakan antar kistik atau padat 3) True cut / Care biopsy Dilakukan dengan perlengkapan stereotactic biopsy mamografi untuk memandu jarum pada massa 4) Incisi biopsy 5) Eksisi biopsy Hasil biopsi dapat digunakan selama 36 jam untuk . Non pembedahan : 1) Penyinaran Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut. Test diagnostik lain : 1) Non invasive : a) Mamografi b) Ro thorak c) USG d) MRI e) PET 2) Invasif : a) Biopsi. LED. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah.

ancaman kematian.kehilangan rambut. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah. . Resiko tinggi keruskan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemoterapi. penurunan berat badan. penularan perasaan interpersonal h.mual atau muntah. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya cairan yang berlebih.Kriteria 1. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (destruksi jaringan saraf. d.com) D. FOKUS INTERVENSI : 1. infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekutnya masukan oral karena mual. perpisahan dari keluarga. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kanker payudara menurut Marlynn E.tindakan invasif dan malnutrisi e. fungsi peran.status hipermetabolik . DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA KANKER 1.dilakukan pemeriksaan histologik secara froxen section. g. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi perubahan pada status kesehatan. Pasien mampu menunjukan .anoreksia E.Tujuan : kebutuhan rasa nyaman pasien terpenuhi .penurunan status nutrisi dan anemia . Pasien mampu istirahat / tidur dengan tepat 3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi keterbatasan kognitif.suplai vaskuler. (http://ppni-klaten 2009.Doenges 2002 adalah : a. pola interaksi. c. f. inflamasi) efek samping berbagai agen terapi saraf.inflamasi ) efek samping berbagai agen terapi saraf. Pasien merasakan perasaan nyeri hilang / terkontrol 2. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (destruksi jaringan saraf. b. suplai vaskuler.efek samping kemoterapi.

3.dan meningkatkan kemampuan koping. Membantu pasien untuk istirahat lebih efektifdan memfokuskan kembali sehingga mengurangi nyeri dan ketidak nyamanan. Menurunkan kekakuan otot/sendi. 5. Berikan obat sesuai indikasi (analgetik). Menurunkan ansietas / takut dapat meningkatkan kenyamanan / reseksi.meningkatkan relaksasi. dengarkan secara aktif dan beri dukungan. 4. 2. Mengurangi nyeri. 2. 1. lokasi. 5. misal : perawatan mulut. 6. 7. Mencegah pengeringa mukosa oral dan ketidak nyamanan menurunkan ketegangan otot. Tentukan riwayat nyeri. 6. Observasi nyeri. Diduga inflamasi peritoneal. hindari posisi duduk lama. 3. Membantu mengevaluasi derajat karateristik intensitas ( 0-10 ). pijatan punggung / ubah posisi. ketidaknyamanan dan keefektifan analgetik.yang memerlukan intervensi medik cepat. Berikan tindakan kenyamanan dasar dan aktifitas hiburan. Bantu pasien untuk latihan rentang gerak dan dorongan ambulasi dini.penggunaan ketrampilan relaksasi.meningkatkan kenyamanan. Intervensi Rasional 1. Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan 4. 8. penggunaan tehnik misalnya : napas 8. ambulasi mengembalikan organ-organ ke posisi normal dan meningkatkan kembali fungsi ke tingkat normal. Dorong relaksasi dalam. Selidiki dan laporkan adanya kekakuan otot abdominal dan nyeri tekan. 9. . Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi keefektifan evaluasi 9. Berikan tindakan kenyamanan. Dorong pasien menyatakan masalah. 7.

Duduk lama meningkatkan parineal. 3. 5.Tujuan : Integritas area insisi dapat di pertahankan . Perdarahan pasca oprasi paling sering terjadi drainase.gangguan gram/mol. Tujuannya adalah kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS. 5. 10.5 hari ) 6. Irigasi luka indikasi. Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit cacat.Kriteria : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi Intervensi 1. Menurunkan iritasi kulit dan potensi infeksi. 4. Berikan rendam duduk sesuai cairan NaCL 6. hindari duduk lama 4. . Meningkatkan drainase dari luka parineal/draine menurunkan resiko pengumpulan. sesuai tehnik 3. 2. Observasi luka. gunakan aseptic Rasional 1.10. karakteristik drainase 2. Diperlukan untuk mengobati inflamasi/infeksi pra oprasi atau kontaminasi intra oprasi.larutan antibiotic. Ganti balutan kebutuhan. Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan insisi bedah atau proses pembedahan . Evaluasi penghilang nyeri kembali perhatian. Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan. 2. Dorong pasien Miring dengan kepala tinggi. Meningkatkan kebersihan dan memudahkan penyembuhan khususnya setelah tampon diangkat biasanya (3.menurunkan sirkulasi ke luka sehingga mengurangi penyembuhan.

turgor kulit baik dan pengisian kapiler baik. Menunjukkan status hidrasi/kemungkinan kebutuhan untuk meningkatkan penggantian cairan. Awasi masukan dan keluaran. Kulit sangat sensitive selama pengobatan dan setelahnya. Memberikan indikasi langsung keseimbangan cairan. 3. . evaluasi turgor kulit pengisian kapiler dan membrane mukosa 3. Untuk mempertahankan perfusi 4. Awasi tanda vital. Intervensi 1.Kriteria : pasien mampu mempertahakan hidrasi adekuat di tandai dengan membrane mukosa lembab. Awasi hasil laboratorium( H + dan elektrolit ).Tujuan : kekurangan volume cairan tidak terjadi. Batasi selama gaster. masukan es batu periode instubasi Rasional 1. Mendeteksi hemostasis atau ketidak seimbangan dan menmbantu menentukan kebutuhan penggantian. 5. 9. 2. Meningkatkan sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit atau jaringan yang tidak perlu 8. Es batu dapat merangsang sekresi lambung dan mencuci elektrolit. Ovservasi kulit dengan sering terhadap efek samping pengobatan 3. 4.catat hipotensi postural.7.ukur feces cair dan timbang berat badan tiap hari 2. Anjurkan penggunaan pakaian lembut dan longgar 9. tanda vital stabil dan mampu mengeluarkan urine secara tepat. dan semua iritsi harus dihindari untuk mencegah cidera dermal. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya cairan yang berlebih. Reaksi kulit dapat terjadi pada beberapa agen kemoterapi 8. Ubah posisi dengan sering 7. . status hipermetabolik . . takikardi.

bebas dari drinase purulen atau eritema dan demam. 8. Observasi tanda-tanda infeksi. evaluasi nadi perife. Untuk infeksi mencegah terjadinya 2. Indicator tidak langsung dari status dahidrasi atau drajat kekurangan 9. perhatikan keluhan haus. Peningkatan suhu 4-7 hari setelah .infeksi tidak terjadi . Pantau keseimbangan cairan negative terus menerus. 9. Rasional 1. Pantau tanda-tanda vital (perhatikan peningkatan suhu ). Berikan cairan dan elektrolit. Pantau tanda vital. Kaji turgor kilitdan kelembaban membrane mukosa.Kriteria hasil : mencapai pemulihan luka tepat waktu.5. Intervensi 1. Menunjukkan volume sirkulasi keadekuatan 7. Lakukan perawatan luka. Digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien monosupresi 2. tindakan invasif dan malnutrisi . dan jaringan adekuat/fungsi organ. 3. 3.Tujuan :. 6. Dorong peningkatan masukan cairan sampai ml/hari sesuai toleransi 8. Pantau masukan pengeluaran. Membantu dalam memenuhi kebutuhan cairan dan menurunkan resiko efek samping yang membahayakan 4. menurunkan pengeluaran renal dan konsentrasi urine menunjukan dehidrasi dan perlunya peningkatan pengganti cairan 7. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan. 6.

Melindungi pasien dari kontaminasi selama penggantian balutan. . 7. 5. Mungkin digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien imunosupresi 6.pertahankan balutan kering .Tujuan : pasien dan keluarga dapat mengerti tentang perawatan penatalaksanaan di rumah sakit dan manejemen perawatan di rumah.Kriteria : 1. Mempertahankan lingkungan yang aseptic yang optimal selama penempatan batas sentral disisi tempat tidur. 2. pasien mampu mengungkapkan tentang perawatan penatalaksanaan terhadap penyakit. 4. pasien mengungkapkan tentang manajemen perawatan di rumah. 6. Intervensi Rasional 1. 8. Kolaborasi pemberian antibiotik 5.4. . Tingkatkan prosedur tangan yang baik. 5. Pengenalan diri dan intervensi segera. 7. Digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien monosupresi 8. Melindungi pasien dari sumbersumber infeksi. Pertahankan perawatan luka aseptic. Kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi keterbatasan ognitif. mencuci pembedahan sering menandakan syok septic. dapat mencegah progresi sepsis yang serius.abses luka atau kebocoran cairan. Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang 1. Dengan menjelaskan di harapkan pasien dan keluarga dapat . Taati teknik aseptic saat prosedur infasive.

Mencapai berat . Untuk mencegah komplikasi dan menanganinya sedini mungkin. Diskusikan tanda dan gejala apa saja yang harus di laporkan segera kepada petugas. Membantu penilaian diagnosa. Jelaskan penggunaan alat Bantu yang di perlukan. prognosis. dan pengobatan tepat waktu terhadap komplikasi 6. Berikan informasi yang jelas dan adekuat. Memberikan pengertian pentingnya perawatan lanjut pasca perawatan rumah sakit 6. Tekankan pentingnya melakukan evaluasi medis 8. 7.Kriteria: 1. memudahkan pemulihan dan memungkinkan pasien mentoleransi pengobatan 9. 7. 4. Menanamkan pemahaman kepada pasien dan keluarga sangat penting di lakukan. 3. Meningkatkan kesejahteraan. Berikan kesempatan bertanya 3. 2. Tinjau ulang mengenai pentingnya mempertahankan status nutrisi optimal 9.kondisi. Memberikan pemantauan terus menerus tentang kemajuan proses penyakit. 6. 2. dalam cara yang nyata. 4. 5. Diharapkan pasien dan keluarga menggungkapkan ketidak tahuannya dan semuanya yang ingin diketahuinya. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekutnya masukan oral karena mual. Berikan pedoman antisipasi mengenai protocol pengobatan. . Motifasi pasien setiap akan melakukan kunjungan tindak lanjut kepada dokter pasca perawatan rumah sakit. penatalaksanaan dan mengerti dan memahami sehingga lebih kooperatif. memberikan informasi yang diperlukan. Pasien mempunyai hak untuk tahu dan berpatisipasi dalam keputusan. 8. kesempatan untuk didiagnosa. 5.

4. Meningkatkan makan. Kebanyakan antiemetic bekerja 5. membantu mengidentifikasi derajat ketidakseimbangan biokimia atau malnutrisi dan mempengaruhi pilihan intervensi diit. Libatkan keluarga memberikan makan hangat untuk selagi 8.sedikit tapi sering. pasien mungkin membutuhkan dorongan untuk masukan peroral 6. Makanan banyak sulit untuk mengatur bila pasien mual. Berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makanan atau peningkatan masukan gizi Rasional 1. Menurunkan iritasi gaster. 2.beri makanan sedikit. 7. selera nafsu 3. Stimulasi GI yang dapat meningkatkan motalitas / frekuensi defekasi 5. tinjau ulang pemeriksaan laboratorium (alb. motivasi pasien menghabiskan diitnya untuk 6. Hb) sesuai indikasi. 4. Kolaborasi pemberian obatobatan antiemetic sesuai . 3. Pastikan diit yang tepat. Observasi makanan favorit pasien yang di indikasikan. makanan rendah sisa dapat menurunkan iritabilitas dan memberikan istirahat pada usus bila ada diare. Observasi asupan diet. 2. 7.Intervensi 1. 2. Beri makan sedikit dan sering dengan makanan rendah dan mempertahankan kebutuhan protein dan karbohidrat. Meningkatkan nafsu makan klien 8. badan yang mengarah kepada berat badan yang ideal.

Pertahankan kontak sering dengan kepercayaan. 5. realitas. karenenya 5. Memberikan kepercayaan dan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri. Berikan informasi akurat tentang keputusan berdasar realita pengobatan 4. 2. ancaman kematian. 7. takut berkurang / hilang . perpisahan dari keluarga. Pasien mandiri 1. perasaan dan fikiran 2. Jelaskan prosedur.Tujuan : Pasien menunjukan rasa cemas. Pasien tampak rileks 2. berikan sentuhan 3.indikasi untuk mempengaruhi stimulasi pusat muntah sejati dan kemoreseptor mentriger agen zona yang bertindak secara feriver untuk menghambat peristaltic balik. pola interaksi. Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan membuat 4. Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut. 6. penularan perasaan interpersonal. Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam pengobatan Intervensi Rasional 1. Tingkatkan rasa tenangdan menghemat energi. Informasi akurat memungkinkan pasienmenghadapi situasi lebih efektif dengan realita. Dorong dan kembangkan interaksi . dan lingkungan tenang meningkatkan kemampuan koping 7. mengembangkan 3. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi perubahan pada status kesehatan. kemungkinan dibuktikan oleh : .Kriteria hasil : 1. fungsi peran. Dorong pasien mengungkapkan serta konsep diagnose. pasien. berikan menurunkan realita dan rasa kesempatan untuk bertanya dan takut berikan jawaban jujur. Memudahkan istirahat.

Bimbingan antistipasi dapat orang terdekat bagaimana membantu pasien / orang tedekat diagnosis dan pengobatan yang memulai proses adaptasi pada status mempengaruhi kehidupan pribdi baru dan menyiapkan untuk beberapa pasien / rumah dan aktifitas efek samping misalnya membeli wig kerja. 3.pasien dengan system pendukung 6. Mengurangi rasa isolasi 7. 2.kehilangan rambut. Memungkinkan interaksi interpersonal lebih baik dan menurunkan ansietas 8.kriteria hasil: 1. Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tubuh. jadwal waktu libur kerja sesuai indikasi.penurunan berat badan. Mulai mengembngkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif.mual atau muntah.Tujuan : gangguan harga diri tidak terjadi . Intervensi Rasional 1. sebelum radiasi. Diskusikan dengan pasien / 1.efek samping kemoterapi.anoreksia . Mendemonstrasi kan adaptasi terhadap perubahan atau kejadian yang telah terjadi. . Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah. penerimaan diri dalam situasi.

Dapat membantu menurunkan masalah yang mempengaruhi penerimaan pengobatan atau merangsang kemajuan penyakit.2. kanker / pengobatan pada peran sebagai ibu rumah tangga. 4. Berikan dukungan emosi untuk pasien / orang terdekat selama individualitas dan tes diagnostic dan fase 6. Banyak memerlukan dukungan tambahan selama periode ini. Akui kesulitan pasien yang mungkin di alami. Membantu merencanakan perawatan saat di rumah sakit serta setalah pulang. 4. Memvalidasi realita perasaan pasien dan memberikan izin. Pemastian penerimaan penting dalam pengobatan. termasuk kemungkinan efek pada aktifitas seksual dan rasa keterkaitan atau keinginan misalnya kecacatan bedah. 2. Evaluasi strutur pendukung beberapa pasien yang ada dan di gunakan oleh 5. Untuk tindakan 3. Tinjau ulang efek samping yang di antisipasi berkenaan dengan pengobatan tertentu. Meskipun beradaptasi/menyesuaikan diri pasien/orang terdekat. 3. 6. Dorong diskusi tentang / apapun perlu untuk mengatasi apa pecahkan masalah tentang efek yang terjadi. Berikan informasi bahwa konseling sering perlu dan penting dalam proses adaptasi. menurunkan perasaan pasien tentang . 5. orang tua dan sebagainya. dengan efek kanker atau efek samping terapi . Beritahu pasien bahwa tidak semua efek samping terjadi.

Kelompok pendukung biasanya sangat6menguntungkan baik untuk pasien maupun orang terdekat. 7. Gunakan Sentuhan selama interaksi. Rujuk pasien atau orang positif bila system pendukung terdekat pada program pasien / orang tedekat terganggu. kelompok pendukung ( Bila ada ). Bila dapat di terima pada pasien dan pertahankan kontak mata. . 7. memberikan kontak dengan pasien lain dengan kanker pada berbagai tingkatan pengobatan dan atau pemulihan. 8.ketidakamanan dan keraguan diri. Mungkin perlu untuk memulai dan mempertahankan struktur psikososial 8.

J. Sardjito. Bosman. Marillyn. 1997 http://ppni-klaten 2009. Edisi 9. 2000 C.Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.Th. 2002 Guyton dan Hall.H Van de velde.2002.Sjamsuhidayat & Jong de.//tategea. Jakarta : EGC. .Buku Ajar Ilmu Bedah.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 2.Wagener. Jo.friendster. Ann. C.EGC:Jakarta R.2002.T. Yogyakarta 2000 E.pikiran-rakyat 2005. F.EGC:Jakarta.wim.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth.J.com R. Rencana asuhan keperawatan.blog. D.wim.EGC:Jakarta Brunner and Suddarth.com/2007/12/ca-mamae http//www. Penulis :Biare Baughman.com http.Sjamsuhidayat & Jong de. Jakarta : EGC. Buku fisiologi kedokteran. Jakarta : EGC. penerbit panitia kanker RSUP Dr. Keperawatan Medikal Bedah. Doengoes.2004.

lemak. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. Kelainan fungsi atau jumlah sel Beta yang bersifat genetic b. PENGERTIAN Diabetes Mellitus merupakan kelainan keterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar gula/glukosa dalam darah atau hiperglikemi. Long. dan berkembang komplikasi makrovaskuler dan neurologis. Faktor Prespitasi a. ( mansjoer Arif.BAB I KONSEP DASAR MEDIK DIABETES MELITUS A. kerja insulin atau kedua-duanya. Kelainan aktivitas insulin . Diabetes Mellitus (DM) adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal. (Sidartawan dan Soegondo 2002). disertai lesi pada membran basilis. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata. Gangguan sistem imun d. 2002 ) Diabetes Mellitus adalah sindromo gangguan metabolisme dengan hiperglikemi yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya (Francis dan John 2000). (Slamet Soeyono. ginjal. Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi integritas sel Beta c. 2002) Diabetes Mellitus (DM) adalah merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin. 2001) Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. 2002) B. Diabetes Melitus digolongkan sebagai penyakit endokrin atau hormonal karena gambaran adanya gangguan produksi atau penggunaan insulin (Barbara C. saraf dan pembuluh darah. (Brunner and Suddarth. Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat.

e. Faktor-faktor harmonal Misal : Thyroid Price. Sylvia Andreson. Patofisiologi konsep klinis proses – proses penyakit edisi 6, 2005. 2. Faktor Predisposisi Faktor resiko tidak hanya fungsi keturunan saja, tetapi ada juga faktor lain seperti : a. b. c. d. Kegemukan Pola makan yang salah Minum obat-obatan yang bisa meningatkan kadar glukosa darah Proses menua dan stres Slaimed Suyono, 2002

C. PATOFISIOLOGI Penyakit DM disebabkan karena gagalnya hormon insulin maka glukosa tidak diubah menjadi glikogen, sehingga kadar gula darah meningkat dan menjadi hiperglikemi. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini. Karena ambang batas ginjal tidak dapat menyaring dan mengobsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Berhubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. Bersama dengan keadaan glukosuria maka jumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria. Keadaan air intraseluler ditarik ke ekstraseluler. Hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien merasa haus terus yang disebut polidipsi. Produksi insulin yang berkurang menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat, lemak, protein menipis karena digunakan untuk pembakaran dalam tubuh, maka pasien akan merasa lapar sehingga menyebabkan banyak ( poliphagi) Terlalu banyak lemak yang dibakar, maka akan menyebabkan terjadinya penumpukan aceton dalam darah yang akan mengakibatkan keasaman darah meningkat / asidosis. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak sehingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernafasan, akibatnya bau urine dan nafas penderita berbau aceton. Keadaan asidosis ini bila tidak segera diobati akan menjadi koma yang disebut koma diabetikum. (Sylvia Anderson Drice.patofisiologis, konsep klinis proses – proses penyakit edisi 6, 2005)

D. MANISFESTASI KLINIS Tanda dan gejala Diabetes Melitus. adalah :

1. Diabetes Mellitus Tipe I (DMTII) adalah a) Sering berkemih merupakan konsekuensi diureasis asmotic akibat dari hiperglikemi yang menetap. b) Enunesis nakturnal akibat poliuria c) Rasa haus/polidipsi d) Gangguan penglihatan e) Berat badan menurun f) Pusing dan lemah akibat hipotensi postural g) Parathesia h) Tingkat kesadaran pasien dapat bervariasi tergantung pada derajat hiperosmolalitas. 2. Diabetes Mellitus Tipe II (DMTTI) adalah Gejala-gejala klasik yaitu poliuria, rasa haus, penglihatan kabur berulang. Parasthesia dan kelemahan merupakan manifestasi dari hiperglikemi dan aneuresis asmotik, dan karenanya lazim dijumpai pada kedua bentuk diabetes. Infeksi kulit kronik yang sering terjadi, pruritus genenalisata.

Klasifikasi Diabetes Melitus Klasifikasi Diabetes Melitus sebagai berikut : 1. DM tipe 1 (IDDM) Insulin dependen Diabetes Mellitus atau disebut dengan DMN (Diabetes Melitus tergantung insulin) - Tergantung pada usia muda - Tergantung insulin eksogen - Peningkatan kadar glukosa darah Dipengaruhi oleh beberapa faktor : - Faktor Genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes tipe I, kecenderungan ini ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leudocyle Antigen) HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggungjawab atas antigen tranplantasi dan proses intun lainnya. - Faktor Imunologi Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun ini merupakan respon abnornol dimana antibody terarah pada jaringan norma) tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan/eksternal yang dapat memicu destruksi sel B pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destruksi sel B pankreas. 2. DM Tipe II (NIDDM) Non insulin Independen Diabetes Melitus atau disebut dengan DMTTI (Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin). 3. Malnutrution Relacted Diabetes Mellitus (MRDM) atau Diabetes Mellitus tergantung makanan (DMTM). 4. DM tipe lain yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu : - Penyakit pankreas - Penyakit Hormonal - Kelainan reseptor insulin 5. DM Gestasional (GDM) Greenspan G.F dan Bexter D. John 1998

Klasifikasi Ulkus Diabetes Mellitus Terdapat 5 Grede ulkus Diabetikum, diantaranya antara lain : a) Grade 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh hanya terdapat calus. b) Grade 1 : Ulkus / kerusakan hanya sampai permukaan kulit. c) Grade 2 : Kerusakan kulit mencapai otot dan kulit / ulkus dalam, sering dengan selulitis tidak ada abses. d) Grade 3 : Ulkus dalam yang melibatkan atau pembentukan abses. e) Grede 4 : Gangren local pada jari kaki atau atau bagian distal kaki dengan atau tanpa seluliris. f) Grade 5 : Gangren pada seluruh kaki dan sebagian tungkai bawah. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tes diagnosis untuk Diabetes Mellitus harus dilakukan bila terdapat gejala DM seperti : poliuri, polidipsi dan poliphagi atau penurunan berat badan. Diagnistik dilakukan berdasarkan : 1. Pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg/dl dengan gejala DM adalah setiap waktu sepanjang hari tanpa puasa > 126 mg/dl 2. Kadar glukosa darah puasa > 126 mg/di puasa adalah tanpa intake cairan /

latihan jasmani obat hipoglikemi dan penyuluhan. 3. PENATALAKSANAAN MEDIS Dalam jangka pendek penatalaksaan DM bertujuan untuk menghilangkan keluhan/gejala DM. Kadar glukosa puasa P D < 90 mg/dl 90 – 199 mg/dl 2 > 110 mg/dl jam < 110 mg/dl 110 – 125 mg/dl > 126 mg/dl 110 – 199 mg/dl > 200 mg/dl 90 – 199 mg/dl > 200 mg/dl 3. Lipid dan insulin. Pemeriksaan Bukan DM Belurt Pasti DM 1. Untuk mempermudahkan tercapainya tujuan tersebut.kalori selama 8 – 10 jam. . Kadar glukosa sewaktu < 110 mg/dl P D < 90 mg/dl 2. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi. Kerangka utama penatalaksanaan DM yaitu perencanaan makanan.Kadar glukosa 2 jam PP ( Post prandial ) < 140 mg/dl < 120 mg/dl 2 jam mg/dl >200 F. Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnostik.

dan jenis makan yang harus dipantang gula. stress akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Rhytmical. jumlah jadwal dan jenis pelru diperhatikan. jadwal makan. Menurut Tjokro Prawiro. Latihan dilakuan terus menerus tanpa berhenti otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur. training). Menurut Tjokro Prawiro (1999) Pada konsensus perkumpulan endokrinologi indonesia (PERKENI) telah ditetapkan bahwa standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi sebagai berikut : • Karbonhidrat : 60 – 70% • Protein : 10 – 15% • Lemak : 20 – 25% Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan. Komsumsi garam dibatasi bila terdapat hipertensi. interval.Normal . progressive. Jumlah kandungan serat ± 25 gr/hari. Latihan Jasmani Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu). Diutamakan jenis serat larut.Gemuk : BB x 20 kalori / hari .Obesitas : BB x 10-15 kalori / hari 2. Pedoman dalam memberikan diet DM yaitu. Pada diet DM harus memperhatikan jumlah kalori. pomonaris dapat disesuaikan / digunakan secukupnya.(1999) Penentuan gizi penderita dilakukan dengan menghitung prosentase Relatif Body Weigth dan dibedakan menjadi a) Kurus b) Normal c) Gemuk d) Obesitas : berat badan relatif : <90% : berat badan relatif : 90-110% : berat badan relatif : >110 % : berat badan relatif : >120 % Obesitas ringan 120 – 130 % Obesitas sedang 130 – 140 % Obesitas berat 140 – 200 % Obesitas morbid > 200 % Apabila sudah diketahui relatif body weigthnya maka jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM adalah sebagai berikut : . jumlah kandungan kolesterol < 300 mg/hari.1.Kurus : BB x 40-60 kalori / hari . yang sifatnya sesuai CRIPE (continous. status gizi. umur. selama ± 30 menit. . endurance. BB x 30 kalori / hari .

. obati luka dan tutup dengan pembalut bersih. . Penyuluhan Penyuluhan untuk rencana pengelolaan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. sehingga pada gilirannya nanti komplikasi kronik Diabetes Melitus juga dapat dicegah dan pasien Diabetes Melitus dapat hidup bahagia bersama diabetes yang dialaminya.Gunting kuku kaki lurus mengikuti bentuk normal jari kaki.Periksa kaki setiap hari. .Janggan menggunakan botol panas atau peralatan listrik untuk pemanasan kaki.Jangan memakai sepatu yang sempit. Edukasi diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan bagi pasien diabetes yang bertujuan menunjang perilaku untuk meningkatkan pertahaanan pasien akan penyakitnya. diharapkan sasaran pengendalian diabetes melitus seperti yang dianjurkan oleh pakar diabetes di Indonesia dapat dicapai. Disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta. . • Yang dilakukan dalam pengelolaan kaki diabetic adalah : . berangsur-angsur dari sedikit kelatihan yang lebih berat secara bertahap dan bertahan dalam waktu tertentu. . 3. • Yang tidak boleh dilakukan : . gunakan cermin untuk melihat bagian bawah kaki.Segera kedokter bila kaki mengalami luka. . .Jangan membiarkan luka kecil di kaki sekecil apapun luka tersebut. .Jangan mengunakan silet untuk mengurangi kapalan/kalus. Dengan berbagai macam usaha tersebut.Berikan pelembab pada daerah yang kering. .Gunakan sepatu atau sandal yang ukuran sesuai.Memakai alas kaki untuk pelindung alas kaki.Selang-seling antara gerak cepat dan lambat.Bersihkan kaki setiap hari waktu mandi dengan air bersih dan sabun mandi. yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat optimal dan penyesuaian keadaan psikologik serta kualitas hidup yang lebih baik. Sebagai contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30 menit. olahraga sedang adalah jalan cepat selama 20 menit dan olahraga berat misalnya joging. . .Bila ada luka kecil.Jangan merendam kaki .

4. Ada 3 jenis aturan insulin yang penting menurut cara kerjanya : Insulin masa kerja cepat (reguler insulin) 2 – 4 jam Insulin masa kerja sedang (NHP : Netral Protamin Hegedan) 6 – 12 jam . OAD (Obat Anti Diabetika) Tabel OAD mempunyai khasiat untuk menurunkan kadar gula dalam darah.Meningkatkan sel-sel insulin sebagai akibat rangsangan glukosa Contoh obat golongan sulfanilurea adalah :  Klorpropamid 100 – 500 mg/hari  Talbutamid 100 – 1000 mg/hari  Glibenklamid 2.5 – 40 mg/hari  Glikuldan 30 – 120 mg/hari 2) Biqquanid Beberapa golongan biovanid adalah metformen.Menurut ambang sekresi insulin . - .Insulin masa kerja panjang (PZI : Protamin Zine Insulin) 18 – 24 jam. Cipto Mangun Kusumo. FKUI. Pengobatan dengan insulin Insulin diberikan tiga kali sehari 15 – 30 menit sebelum makan.Menstimulasi pelepasan insulin yang diterima (steroid insulin) . phenformin. operasional dan lainlain). Obat-obatan Pengobatan yang dapat dilakukan menurut Moerdowo (1989) adalah : a. 2002.5 – 20 mg/hari  Glipizid 2. Pusat Diabetes dan RSUP Nasional Dr. OAD dibagi menjadi 2 golongan : 1) Sulfonilirea Mekanisme kerja obat golongan sulfonilirea : . 4) Diabetes hamil 5) Diabetes tipe 1 6) Kegagalan pemakaian obat hiperglikemi oral. time disintegration buformin b. Indikasi pengobatan dengan insulin : 1) Ketoasidosis diabetic/koma hiperosmolor non betotik 2) Diabetes dengan berat badan kurang 3) Diabetes yang mengalami stress (infeksi.

insifisiensi koroner . Dinding pembuluh darah kecil mengalami kerusakan sehingga pembuluh tidak dapat mentransfer oksigen secara normal & mengalami kebocoran Mata Terjadi kerusakan pada pembuluh darah kecil retina Gangguan penglihatan & pada akhirnya bisa terjadi kebutaan Fungsi ginjal yg buruk Ginjal  Penebalan pembuluh darah ginjal  Protein bocor ke dalam Gagal ginjal . Kronik Disebabkan oleh perubahan dinding pembuluh darah sehingga terjadi anteriosklerosis yang khas yaitu : . yaitu : a. stroke. otak.Syaraf Neuropati Diabetik Komplikasi jangka panjang diabetetikum : Organ/jaringan yg terkena Yg terjadi Komplikasi Sirkulasi yg jelek menyebabkan penyembuhan luka yg jelek & bisa menyebabkan penyakit jantung.Karidiovaskuler Hipertensi. KOMPLIKASI Komlikasi Diabetes Melitus menurut Soeparno dapat dikelompokkan menjadi dua.G.Hiperglikrmi . Akut . Katarak . impoten & infeksi Pembuluh darah Plak aterosklerotik terbentuk & menyumbat arteri berukuran besar atau sedang di jantung.Hipoglikemi . tungkai & penis.Ketoasidosit Diabetik b. impark miokard. gangren kaki & tangan.Mata Refinopati Diabetik.

stress. mual. terutama saluran kemih & kulit H. 1. pelepasan hormon.air kemih  Darah tidak disaring secara normal Saraf Kerusakan saraf karena  Kelemahan tungkai yg glukosa tidak dimetabolisir terjadi secara tiba-tiba atau secara normal & karena secara perlahan aliran darah berkurang  Berkurangnya rasa. infeksi dalam kulit & hilangnya rasa yg (ulkus diabetikum) menyebabkan cedera  Penyembuhan berulang luka yg jelek Gangguan fungsi sel darah putih Mudah infeksi. terkena infeksi Kerusakan saraf Darah . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin. hipermetobolisme. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan pasien Diabetes Melitus menurut Marylin E. masukan dibatasi. 2. kesemutan & nyeri di tangan & kaki  menahun Sistem saraf otonom Kerusakan pada saraf yg Tekanan darah yg naik-turun mengendalikan tekanan darah  Kesulitan menelan & saluran pencernaan & perubahan fungsi pencernaan disertai serangan diare Kulit Berkurangnya aliran darah ke  Luka. makan muntah. muntah. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik (dan hiperglikemi ) kehilangan genetik berlebihan diare. penurunan mukosa oral. Doengoes (2000) . 3.

1) Intervensi : . 5.Lakukan pemasangan kateter Rasional : . Doengoes 2000. I.Monitor tanda-tanda vital Rasional : . kesalahan interprestasi. tidak mengenal sumber informasi. perceptual berhubungan dengan perubahan kimia endogen. Kelelahan berhubungan penurunan produksi energi atau metabolic perubahan kimia darah : insufisiensi insulin. progrosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman. ketdakseimbangan glukosa/insulin/olektrolit. poliun & diare Rasional : . Resiko tinggi terhadap perubahan sensori. mengetahui keseimbangan cairan dan membantu keefektifan terapi. 7. Resiko terhadap infektif penatalaksanaan regimen terapetik (individual) berhubungan dengan kompleksitas aturan teropetik. 2) Intervensi : . kehilangan gastric berlebihan (mual. muntah).Hipovilerna mungkin dapat dimanifestasikan dengan Hipotensi dan Lakikardi 3) Intervensi : . 5) Intervensi : . efek samping terapi.Monitor intake dan output Rasional : . 1. .penurunan fungsi leukosit prosedur invasif. kompleksitas sistem perawatan. nadi tidak teratur.Pertahankan adanya perasaan kelelahan yang meningkat Edema. Kurang pengetahuan mengenai panyakit. 6. Rasional sangat : . 4.Mempertahankan hidrasi atau dikulasi volume 6) Intervensi : .Pertahankan pemasukan cairan paling sedikit 2500 ml/hr Rasional : .Pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat berpotensi menimbulkan kelebihan beban cairan. Kekurangan volume cairan berhubungan diuresis aumotik.Kaji lama & intensitas terjadinya muntah.Menilai volume cairan yang hilang sehingga memudah kan tindakan selanjutnya.Menilai kekuatan cairan pengganti. FOKUS INTERVENSI Menurut Marlyn E. peningkatan berat badan. 4) Intervensi : . peningkatan kebutuhan energy : status hipermetabolic atau infeksi.Mengetahui volume cairan yang hilang sehingga memudahkan dalam tindakan perawatan selanjutnya.

Natrium. 4) Intervensi : .Mengkaji kedekatan pemasukan nutrisi 2) Intervensi : . plasma dan dextrain.7) Intervensi : . status metabolik – intake yang tidak adekuat ditandai dengan kelemahan.Mengidentifikasi kekuatan dan penyimpangan dari kebutuhan terapetik Rasional : .Hipoglikerri dapat terjadi sehingga dalam keadaan darurat dapat dilakukan tindakan perawatan cepat sesuai keefektifan prosedur. . mual.Mengkaji tingkat hidrasi 8) Intervensi : . edema.Berikan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Pemberian makanan peroral lebih baik dan meningkatkan nafsu makan pasien. gangguan cairan dan elektrolit dapat menurunkan peristaltik lambung.Hipovilerna mungkin dapat dimanifestasikan dengan Hipotensi dan lakikardi 3) Intervensi : . Rasional : . diare. nadi tidak teratur. Observasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat. Penurunan kekuatan otot. muntah Rasional : . BUN.Timbang BB tiap hari Rasional : .Pantau pemeriksaan laboratorium (HT.Observasi tanda-tanda hipaglikeni Rasional : . 1) Intervensi : .Hiperglikemia. peningkatan berat badan. Rasional kekurangan : Plasma pengganti kadang dibutuhkan jika mengancam hidup.Auskultasi peristatik usus.Kolaborasi dalam pemberian albumin. Kalium. 5) Intervensi : . 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan defisiensi insulin. catat adanya keluhan nyeri perut.

Berikan diet dan intake cairan yang adekuat Rasional : Mengurangi terjadinya infeksi meningkatkan kelancaran . pelihara agar kulit selalu kering Rasional mengurangi : Memperlancar sirkulasi sehingga dapat terjadinya inlasi dan infeksi kulit.Lakukan perawatan kateter nyeri perut. urine keruh.Meminimalkan resiko terjadi infeksi 4) Intervensi : . Rasional : . sputum purulent warna merah.Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian nutrisi Rasional : . muntah Rasional : . mual. 5) Intervensi : .Membantu keefektifan insulin 7) Intervensi : . penurunan fungsi leukosit perubahan sirkulasi prosedur invasife. 2) Intervensi : .Memberikan pemenuhan kebutuhan nutrisi secara tepat.Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik secara tepat.Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian RI Rasional : .Pengobatan awal dapat mencegah kerjanya sepsis 6) Intervensi : . Potensial resiko infeksi b. 3) Intervensi : .6) Intervensi : . 1) Intervensi : .Lakukan perawatan kulit secara teratur. Rasional ketosi : Infeksi merupakan faktor presipitasi terjadinya dosis lebih lanjut.Pelihara teknik aseptik dalam prosedur pemberian pengobatan secara IV Rasional merupakan : Keadaan glukosa yang tinggi dalam darah medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri.d kadar glukosa yang tinggi.Observasi tanda-tanda infeksi seperti demam. 3.

4) Intervensi : .Mengetahui adanya perubahan persepsi sensori 5) Intervensi : .Meningkatkan motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. Kelelahan.Mengurangi kebingungan pasien dan membantu mempertahankan kontak dengan realita. Rasional : .Monitor tanda-tanda vital dan status mental Rasional : . . ketidakseimbangan glukosa (insulin/elektrolit). peningkatan kebutuhan energi : status hipermetabolik atau infeksi.Mencegah kelelahan yang berlebihan. Rasional : .Ketidakseimbangan cairan dapat mempengaruhi perubahan kesadaran 5. Rasional : . 4. HD/HMT. serum asmolatitas. 2) Intervensi : .Monitor adanya hyperesthesia.Monitor pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah.d perubahan kimia endogen. 2) Intervensi : .Lindungi pasien dari bahaya kecelakaan ketika kesadaran menurun.Diskusikan dengan pasien aktivitas yang dibutuhkan dan daftar rencananya dan identifikasi aktivitas yang melelahkan. Rasional : . 1) Intervensi : . 1) Intervensi : . mengurangi pertumbuhan bakteri. Rasional : .Pasien yang disorientasi mudah sekali terjadi kecelakaan khususnya pada malam hari.Orientasi terhadap orang. BUN. perceptual b. 3) Intervensi : .Status dasar perbandingan tingkat abnormal. berhubungan dengan penurunan produksi energy atau metabolic perubahan kimia darah : insufisiensi. nyeri dan penurunan sensori. Resiko tinggi terhadap perubahan sensori. waktu dan tempat Rasional : .aliran darah.Beri alternatif aktivitas dengan adanya periode istirahat.

Diskusikan hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara pengontrolan diabetik. Rasional : .Jelaskan tentang nama obat. 4) Intervensi : .Membantu memberikan gambaran keadaan pasien untuk dapat mengontrol penyakitnya. Rasional : . waktu cara pemberian efek yang ditimbulkan. 5) Intervensi : . 5) Intervensi : . Rasional : .Tingkatkan partisipasi pasien dalam ADL sesuai dengan iderasi.Identifikasi tanda-tanda hipoglikeni dan terangkan penyebabnya. dosis. Rasional : .Kualitas penjelasan dapat disesuaikan dengan tingkat pendidikan pasien sehingga mudah dimengerti pasien 2) Intervensi : . 3) Intervensi : .3) Intervensi : . Rasional : .Kaji tingkat pengetahuan pasien.Jelaskan pentingnya melakukan pengentasan glukosa secara teratur. Kurang pengetahuan b. pengontrolan diabetik dan mengurangi resiko ketoasio dosis.Mengidentifikasikan tingkat toleransi fisik pasien 4) Intervensi : .Pasien akan lebih banyak menyelesaikan aktivitas yang lebih kecil.Memudahkan deteksi awal dan pasien mengetahui tentang perawatan serta pencegahan yang diperlukan.Mengikatkan kemandirian pasien secara bertahap .Diskusikan dengan pasien aktivitas yang dapat mengurangi energi.Meningkatkan pemeliharaan. 1) Intervensi : .d kurangnya informasi mengenai penyakit. Rasional : . 6. . perawatannya serta kemungkinan komplikasi yang diderita pasien. mengobati dan perawatannya ditandai dengan secara verbal pasien menanyakan tentang penyakitnya.Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas Rasional : .

.Pasien mengerti dan melibatkan diri dalam tindakan perawatan dan pengobatan.Memudahkan dalam strategi pelaksanaan tindakan keperawatan.Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar Rasional : .Identifikasi faktor-faktor penyebab atau penunjang yang menghalangi penatalaksanaan yang efektif.Tingkatkan rasa percaya diri dan kemajuan diri yang positif Rasional pelaksanaan : Meningkatkan semangat dan motivasi dalam aturan perawatan. efek sampai terapi. 5) Intervensi : .d kompeksitas aturan teropeutik. kompleksitas sistem perawatan.Meningkatkan semangat dan motivasi dalam pelaksanaan aturan perawatan. Rasional : . 2) Intervensi : . Resiko terhadap infeksi penatalaksanaan ruginan teropitik (individu) b. Rasional : . 1) Intervensi : . Rasional : . 4) Intervensi : .Meningkatkan harga diri mendorong pasien berpartisipasi dalam program perawatan selanjutnya.Memudahkan deteksi awal dan menjadikan landasan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan.Tingkatkan sikap positif dan keikutsertaan secara aktif individu dan keluarga.Bangun rasa percaya dan kekuatan. 3) Intervensi : . 7.Rasional : .

Ilmu Penyakit Dalam. Cipto Mangun Kusumo. Patofisiologi Konsep Klinis Proses dan Proses Penyakit. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol.DAFTAR PUSTAKA Price A Sylvia. Soeparman. Davis Company. F. Jakarta : ESC . Barbara. 2000. Susan Martin. 2005. Jakarta : EGC 2002. Doengoes. Perawtaan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Buku Kedokteran Jakarta : EGC 2001. John “Endokrinologi Dasar dan Klinik” edisi 4. Patient Care Standarte Nursing Process Diagnostic and Outcott. Jilid 2 FKUI: Jakarta. 2001. Bandung: 1998. Tucker. 1998. Toronto : The Mosby Cistpany.A. S. Groespan. Cl. FKUI.F dan Dokter D. 2. “Nursing Care Plans Guide Lens For Planning and Documentating Patient Care Edition” Philadelpia. Marylin E. 2002. Pusat Diabetes dan RSUP Nasional Dr. Bruner dan Suddart. .

Nursalam. 2006). Nurs. gangguan fungsi ginjal dapat dikelompokkan menjadi lima stadium menurut tingkat keparahannya.73m2. Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan ireversibel (Arif Mansjoer. (DR.2mg/dL. yaitu: C_crea = {[(140-umur)xBB]/(72xK_crea)}xFK Clereance rate (ml/menit) sama dengan 140 (faktor baku 1) dikurangi umur (tahun). belum terasa gejala yang mengganggu. C_crea normal untuk pria adalah 95-145 ml/menit dan wanita 75-145 ml/menit. Stadium 2: Kerusakan ginjal ringan dengan penurunan nilai GFR. Ginjal berfungsi diatas 90%. Ginjal akan membuang kreatinin dari darah ke urin. berupa dialysis atau transplantasi ginjal (Ketut Suwitro. Bila fungsi ginjal menurun. Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap. yaitu: 1. Kemampuan ginjal menyaring darah dinilai dengan penghitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG). M. yang disebut C_crea (creatinine clearance). PENGERTIAN Gagal ginjal kronis (chronic renal failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialysis atau transplantasi ginjal. Faktor koreksi gender untuk pria = 1. kadar kreatinin di dalam darah meningkat. dikalikan berat badan (kg). Stadium 1: Kerusakan ginjal dengan nilai GFR normal. kemudian hasilnya itu dikalikan dengan faktor koreksi (FK) gender. hasilnya dibagi dengan perkalian 72 (faktor baku 2) dengan kadar kreatinin (mg /dl). Kemampuan ginjal membuang cairan berlebih sebagai urin (creatinine clereance rate) dihitung dari jumlah urin yang dikeluarkan tubuh dalam satuan waktu. Nilai GRF 60-89 ml/menit/1.73 m2 . Ginjal berfungsi 60-89%. 2.85. Kemampuan fungsi ginjal tersebut dihitung dari kadar kreatinin dan kadar nitrogen urea di dalam darah. 2006). Kreatinin adalah hasil metabolisme sel otot yang terdapat di dalam darah setelah melakukan kegiatan.0 dan wanita = 0.73 m2.6-1. Nilai GFR di atas 90 ml/menit/1. Dengan rumus CockroftGault dapat diperkirakan berapa C_crea dari kadar creatinin yang didapatkan.BAB I KONSEP DASAR MEDIK A. 2001). Kadar kreatinin normal dalam plasma darah adalah 0. LFG dihitung dari jumlah kadar kreatinin yang menunjukkan kemampuan fungsi ginjal menyaring darah dalam satuan ml/menit/1. dengan mengumpulkan jumlah urin tersebut selama 24 jam.

1. Nilai GRF 15-29 ml/menit/1. Nefropati Toksik Ginjal sangat mudah terserang efek-efek toksis. obat-obatan dan bahanbahan kimia karena alas sebagai berikut: Gagal menerima 25% dari curah jantung sehingga sering dan mudah kontak dengan zat kimia dalam jumlah besar. Poliarteritis Nadusa Poliarteritis Nadusa merupakan penyakit radang reterosis yang mencakup arteri-arteri ukuran sedang dan kecil diseluruh tubuh sehingga akan mengganggu perfusi atau aliran darah ke ginjal. d. e. Wilson Potofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Interatisis yang hiperosmatik memungkinkan zat kimia dalam jumlah besar dan konsentrasi pada daerah yang relatif hipovasculer. . Stadium 4: Kerusakan berat. Stadium 3: Kerusakan sedang. Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus yang mulai sejak kanak-kanak 50% diantarannya berkembang menjadi gagal ginjal kronik. harus cuci ginjal. Waktu rata-rata diabetes sampai timbul uremia adalah 20 tahun. Presipitasi a. c. Lesi ginjal yang sering dijumpai adalah nefrosklerosis akibat lesi pada arteria pielonefritis dan nekrosis pada ginjal dan glumerulosis sklerosis. b. Nilai GRF 30-59 ml/menit/1. Glumerulosklerosis dikenal juga dengan nama lesi kemadie suatu ciri khas diabetes. perubahanperubahan ini disebabkan karena berkurangnya jumlah nefron karena iskemia. Pada glomerulonefritis kronis maka ginjal akan tampak mengisut beratnya kurang lebih 50 gram dan permukaannya berbentuk granula.73 m2 5. 2005). Fungsi ginjal kurang dari 15%. Glomerulonefritis Glomerulonefritis kronik ditandai kerusakan glomerulus yang progresif lambat akibat glomerulonefritis yang sudah berlangsung lama.73 m2 4. Hipertensi Hipertensi dan gagal ginjal kronik saling berkaitan erat.73 m2. masih bisa dipertahankan. B. Hipertensi merupakan penyakit primer dan menyebabkan keruskaan pada ginjal dan sebaliknya penyakit gagal ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi neutserpenar pada hipertensi melalui mekanisme retensi natrium dan air.3. Stadium 5: Kerusakan parah. PROSES TERJADINYA MASALAH (Menurut Sylvia A. Ginjal berfungsi 30-59%. Edisi 6. Nilai GRF kurang dari 15 ml/menit/1. sudah tingkat membahayakan Ginjal berfungsi 15-29%. Price Lorreine M.

c) Stadium Gagal Ginjal atau Stadium Uremia Nilai GFR hanya 10% dari keadaan normal dan kliren kreatinin mungkin 510 ml/menit atau kurang. Pasien juga mungkin mengalami nokturia dan paliun yang disebabkan oleh penurunan kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasikan urine. . Meskipun perjalanan klinik gagal ginjal kronik dibagi menjadi 3 stadium tetapi dalam prakteknya tidak ada batas-batas yang jelas antara stadiumstadium tersebut. 3. Obstruksi ini bila ditemukan harus sedapat mungkin diperbaiki dengan segera. 2006) Perjalanan umum gagal ginjal kronik dapat dibagi 3 stadium yaitu: a) Stadium Penurunan Cadangan Ginjal Selama stadium ini kreatinin serum dan kadar BUN normal. kecuali infeksi yang sangat berat. lemah. Pasien mulai merasakan gejala-gejala yang cukup parah karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis cairan dan elektrolit dalam tubuh. Biasanya infeksi memperburuk faal ginjal bila disertai obstruksi sehingga perbaikannyapun harus terpadu.Ginjal merupakan ekterosi obligatorik untuk kebanyakan obat sehingga insufisiensi ginjal mengakibatkan penimbunan-penimbunan obat dan meningkatkan konsentrasi dalam cairan tubulus. pasien akan meninggal kecuali kalau ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialysis. Pada stadium akhir gagal ginjal. Infeksi Traktus Urinarius Infeksi Traktus Urinarius jarang memperburuk GGK. Manifestasi klinis yang nampak adalah lelah. mual dan pruritus. seperti tes pemekatan urine yang lama atau dengan mengadakan tes GFR yang teliti. b) Stadium Insufisiensi Ginjal Pada stadium ini lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak. Pada keadaan ini kreatinen serum dan kadar BUN akan meningkat dengan mencolok sekali sebagai respon terhadap GFR yang mengalami sedikit penurunan pada stadium akhir gagal ginjal. Faktor Predisposisi a. Patofisiologi Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV Ketut Suwitro. pasien asimtomatik gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan membebani kerja yang berat pada ginjal tersebut. b. 2. Pada stadium ini kadar kreatinin serum juga mulai meningkat diatas melebihi normal. Pada keadaan ini kadar BUN baru meningkat diatas batas normal. sakit kepala. Obstruksi Traktus Urinarius Obstruksi Traktus Urinarius dapat terjadi pada daerah intra renal sampai uretra.

maka pasien akan memperlihatkan sejumlah tanda dan gejala. Gastrointestinal 1) Anoreksia. Neurologi 1) Kelemahan dan keletihan. Brunner dan Suddarth Edisi 8 Vol. 3) Edema pulmoner (akibat cairan berlebih dalam alveolus). Kardiovascular 1) Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem renin – angiotensin – aldosteron). 2) Mulut bau ammonia disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur. c. Karena pada gagal ginjal kronis setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh kondisi uremia. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak. muntah.Patofisiologi penyakit gagal kronik secara umum adalah: Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak. nausea dan vomitus yang berhubungan dengan gangguan metabolisme protein dalam usus. 5) Pitting Edema (kaki. Gangguan pada sistem gastrointestional 1) Anoreksia. a. 3) Konstipasi dan diare. Hipertropi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR. 3) Gastritis . Metode adaptif ini memungkinkan ginjal ini untuk berfungsi sampai ¾ dari refron-refron yang bisa direabsorbsi. 2) Pernapasan Kusmaul d. Nefron-nefron yang utuh. 4. tangan). 2) Kelemahan pada tungkai b) Menurut Suhardjono (2001). oliguri dapat timbul disertai retensi produksi sisa. akibat diuresis osmatik disertai poliuri dan hous. manifestasi klinik yang muncul pada pasien dengan gagal ginjal kronik yaitu : a. kondisi lain yang mendasari dan usia pasien. b. 2) Gagal jantung kongestif. 2) Mual. 4) Napas berbau ammonia. 4) Perikarditis (akibat iritasi pada lapisan pericardial oleh toksin uremik). Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal. Pulmoner 1) Napas dangkal. Manifestasi klinis a) Menurut Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.

gangguan konsentrasi 4) Kelemahan dan hipertrofi otot-otot terutama otot-otot ekstremitas proksimal. Pemeriksaan Penunjang Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. menetapkan gangguan sistem dan membantu menetapkan etiologi. a) Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menetapkan adanya GGK.010 . protenuria. menentukan ada dan tidaknya kegaulan. Kardiovasculer 1) Hipertensi 2) Akibat penimbunan cairan dan garam 3) Nyeri dada dan sesak nafas 4) Edema akibat penimbunan cairan f. Kulit 1) Kulit berwarna pucat akibat anemia.015 (menetap pada 1. Kurang dari 1. Gatal akibat toksin uremik. Dalam menetapkan ada dan tidaknya gagal ginjal tidak semua faal ginjal perlu diuji untuk keperluan praktis yang lazim diuji adalah laju filtrasi glomerulus. 2) Rasa semutan 3) Lemah. Warna : Urine keruh disebabkan oleh Pus. menentukan derajat GGK. 5. sehingga selalu digerakkan. Sistem endokrin 1) Gangguan seksual 2) Gangguan metabolisme glukosa. lemah. tidak bisa tidur. d. bakteri. 1) Urine Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguri) atau urine tidak ada. c. Sistem saraf dan otot 1) Pasien merasa pegal pada kakinya.b. fosfat atau urat. 2001. Sedimen Berat Jenis : : Kotor. resistensi insulin 3) Gangguan metabolisme lemak 4) Gangguan metabolisme vitamin D. e. Sistem Hematologi 1) Anemia 2) Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia. 2) Ekimosis akibat gangguan hematologis. 3) Bekas-bekas garukan karena gatal. kecoklatan menunjukkan adanya darah.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari adanya faktor yang reversible seperti obstruksi oleh karena batu atau massa tunas. aritmia dan gangguan elektrolit (Hiperkalemic.menunjukkan kerusakan ginjal berat). Natrium Protein : : Lebih besar dari 40 mtg/L karena ginjal tidak mampu mereeabsorbsi natrium. menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau obstruksi lain foto polos yang disertai homogram memberi keterangan yang lebih baik. juga untuk menilai apakah proses sudah lanjut (ginjal yang imut) USG ini sering dipakai oleh karena non inuasif (tak memerlukan persiapan apapun). sistem perviakalises. Derajat tinggi (3-4) secara kuat menunjukkan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada. Kalium: menurun Protein (khususnya albumin): Kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine. Gula darah: Meningkat karena adanya gangguan metabolisme karbohidrat dapat terjadi pada penyakit GGK. anatomi. d) Foto Polos Abdomen Sebaiknya tanpa puasa karena dehidrasi akan memperburuk fungsi ginjal. Penurunan pemasukan atau penurunan sintesis karena kurang asam amino. b) Pemeriksaan EKG Untuk melihat kemungkinan hipertropiventrikel ke tanda-tanda perikardites (misalnya voltase rendah). tebal konteks ginjal kepadatan pareklim ginjal. hipokalsemia). . ureter proximal kandung kemih serta prostate. : Meningkat dalam proporsi 2) Darah BUN Hitung darah lengkap : Hb menurun pada adanya anemia SDM (sel darah merah) : waktu hidup menurun pada defisiensi entropoetin pH menurun asidosis metabolic terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengekspresi hydrogen dan ammonia atau hasil akhir katabolisme protein bicar bonate menurun PCO2 menurun. Kalsium serum : Peningkatan sehubungan retensi sesuai dengan perpintahan seluler (asidosis). perpindahan cairan. c) Ultrasonografi (USG) Menilai besar dan bentuk ginjal.

f) Pengaturan protein dalam makanan Protein harus dikurangi. Penatalaksanaan Menurut Buku Ajaran Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi IV Ketut Suwitno. 2006). h) Pemeriksaan Radiologi Tulang Mencari osteodistrofi (terutama tulang/jari) dan klasifikasi metastatik. d) Penanggulangan Anemia Transfusi darah hanya diberikan bila ada indikasi yang kuat. Natrium bicarbonat dapat diberikan oral atau parenterel Hemodialisis dan dialysis peritoneal juga dapat mengatasi asidosis. b) Pengendalian hipertensi. selain itu telah dibuktikan pula bahwa diet tinggi protein akan mempercepat timbulnya glomerulaskterosis sebagai akibat meningkatnya beban kerja glomerulus (hiperfiltrasi glomerulus). kadiomegali dan efusi perikordid. g) Pemeriksaan Foto Dada Dapat terlihat tanda-tanda benalungan paru akibat kelebihan air (flore over load) efusi pleura. Infuse glukosa hipertonis dengan insulin. f) Pemeriksaan Pielograi Retroged Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang neversibel. diet rendah protein. Diet rendah protein . Dalam percobaan telah dibuktikan bahwa ureum darah dapat dimetabolisme bila diberi asam amoniak essential.e) Pielografi Intra Vena (PIV) Pada GGK lanjut tak bermanfaat lagi oleh karena ginjal tak dapat mengeluarkan kontras dan pada GGK ringan mempunyai resiko penurunan faal ginjal lebih berat. missal: Beta bloker dan vasadilator. terutama pada usia lanjut. Usaha yang ditujukan untuk mengurangi gejala mencegah perburukan faal ginjal terdiri atas: a) Pengaturan Minum Pemberian yang berlebihan dapat mengakibatkan penumpukan didalam badan dan membahayakan karena menimbulkan hipovolemia yang sulit diatasi. 6. Tak jarang ditemukan juga infeksi oleh karena imunitas tubuh yang menurun. Diabetes Mellitus dan nesopati asam urat saat ini sudah jarang dilakukan pada GGK dapat dilakukan dengan cara intravenous infusion pielografi untuk menilai sistem pelviakalises dan ureter. c) Pengendalian Kalium Darah Bila hiperglikemia sudah ada maka pengobatan adalah mengurangi sedapatnya intake kalium. Dengan alat tertentu tekanan darah dapat diturunkan tanpa mengurangi gagal ginjal. e) Penanggulangan Asidosis Pemberian melalui makanan dan obat-obatan harus dihindarkan . namun tindakan pemilihan penggunaan protein akan lebih menolong. Pemberian Na bicarbonat IV.

mengendalikan asam-basa dan membuang zat-zat toksin dan tubuh dapat mempertahankan hidup dengan dengan sukses. Usaha-usaha efektif untuk pengendaliannya yaitu: 1) Mempertahankan kulit lembab dengan pemakaian lotion dan minyak. Diet rendah natrium dan furosemid diberikan bila terjadi hipertensi atau edema. a) Komplikasi kardiovasculer dapat terjadi kangesti sirkulasi. 7. 2000 adalah : a. 2) Pelumas mulut dapat mempertahankan kelembaban mulut. h) Dialise Dialise adalah menggerakkan cairan dan partikel-partikel lewat membrane setiap permeable ini merupakan terapi yang bisa membantu mengembalilkan keseimbangan cairan elektrolit yang normal. i) Transplantasi Ginjal Transplantasi ginjal dilaksanakan untuk memperpanjang maka hidup orang dengan kegagalan ginjal kronis. 2) Mengendalikan suhu kamar agar mencegah panas. Curah jantung.diberikan bertahap mulai dengan 60 gram protein/jumlah protein diturunkan menjadi 40 gram kemudian 20 gram protein yang diberikan haruslah yang mempunyai nilai biologis yang tinggi (40% asam amino essential). C. b) Komplikasi gastrointestinal: anoreksia. hipertensi ensefalopati. resiko tinggi berhubungan dengan . penurunan. Sesungguhnya orang yang menghadapi transplantasi ginjal kronis intinya terjadi perubahan program ketidakmampuan dari hemadidisme kronis dengan kemungkinan masalah penolakan atau resection. Hiegiene Oral 1) Membersihkan mulut beberapa kali sehari terutama sebelum makan. hipertensi. 2001. Diagnosa yang muncul pada pasien Chronic Kidney Disease Marilyn Doengoes dkk. 3) Obat-obat anti pruritus Insomnia dan kecapekan dapat diatasi dengan: 1) Pengobatan anemia dapat mengurangi rasa kecapekan. anemia dan perikarditas. Komplikasi Menurut Soeparman. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. 2) Rencana aktivitas sehari-hari harus juga ada periode istirahat. c) Hiperkalemia d) Asidosis Metabolik e) Kejang uremik yang disediakan terjadinya hiponatromia. hipokolsomia. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. baik pada GGA atau GGK. vomitus. nousea. g) Mengusahakan kenyamanan Kebanyakan orang dengan tingkat akhir penyakit ginjal menderita pruritus.

salah interpretasi informasi. 1 Intervensi Keperawatan 1. waktu. No. Ketidakpatuhan (kepatuhan. d. perubahan berhubungan dengan disorientasi terhadap orang. Proses piker. gangguan frekuensi. Auskultasi bunyi jantung dan paru. efek samping terapi. perhatikan perubahan postural. pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. contoh duduk. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan turgor kulit (edema/dehidrasi). biaya. penurunan aktivitas. Hipertensi bermakna dapat terjadi gangguan pada system aldosteron renninangiotensin (disebabkan oleh disfungsi . Cedera. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan frekuensi. Kaji adanya/derajat hipertensi (awasi TD. perubahan urea dalam saliva menjadi ammonia.b. perubahan) berhubungan dengan keyakinan kesehatan. dan kebutuhan. kurang atau menolak system pendukung atau sumber. Evaluasi adanya Rasional 1. penurunan. D. c. Membrane mukosa oral. konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit. kompelsitas. prognosis. kurang terpajan atau mengingat. tentang kondisi. e. perubahan. gangguan faktor pembekuan. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). irama. tempat. akumulasi toksin dalam kulit. pengaruh budaya. pembatasan cairan. resiko tinggi berhubungan dengan kurang/penurunan salviasi. iritasi kimia. berbaring. hipoksia). kerusakan. Integritas kulit. konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit. hipoksia). berdiri 2. irama. g. f. Curah jantung. peningkatan kerapuhan kapiler. atau immobilisasi. resiko tinggi berhubungan dengan penekanan produksi dan SDM hidupnya. nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler. Tujuan: Mempertahankan curah jantung dengan bukti TD dan frekuensi jantung dalam batas normal.

3. Distensi jugular. dispnea. dan penyimpangan mental cepat menunjukkan temponden. kaptopril (capoten). takipnea. Menurunkan tahanan vaskuler sistemik dan/atau pengeluaran rennin untuk menurunkan kerja miokardial. gemerisik. penyempitan tekanan nadi. S3/S4 dengan tonus muffled. nadi paradoksik. 4. Evaluasi bunyi jantung ginjal) 2. 3. klonodin (Catapres). takikardia. hidralazin (Apresoline) . Berikan obat antihipertensi (contoh: Prazozin (minipress). 4. penurunan/tak adanya nadi perifer. frekuensi jantung tak teratur. yang merupakan kedaruratan medik. dan edema/distensi jugular menunjukkan GGK. Adanya hipotensi tibatiba. mengi.edema perifer/kongesti vaskuler dan keluhan dispnea.

Evaluasi respons terhadap aktifitas. Berguna untuk memperbaiki gejala anemia sehubungan dengan . bantu sesuai kebutuhan dan buat jadwal untuk istirahat. asam folat (Folvite). Berikan obat sesuai indikasi. Observasi takikardia. Tujuan: Tak mengalami tanda/gejala perdarahan dan mempertahankan /menunjukan perbaikan nilai laboratorium. resiko tinggi berhubungan dengan penekanan produksi dan SDM hidupnya. Dapat menunjukkan anemia dan respona jantung untuk mempertahank an oksigenasi sel 2. kemampuan untuk melakukan tugas. dispnea dan nyeri dada. gangguan faktor pembekuan. 3. Rasional 1. contoh sediaan besi. Anemia menurunkan oksigenasi jaringan dan meningkatkan kelelahan. Berikan sikat gigi halus. pencukur elektrik. 2. Cedera. 2 Intervensi Keperawatan 1. perubahan aktivitas. gunakan jarum kecil bila mungkin dan lakukan penekanan lebih lama setelah penyuntikan/penusukan vaskuler.sianokobalamin (betalin) 4. peningkatan kerapuhan kapiler.kulit/Membrane mukosa pucat. dan istirahat. Menurunkan resiko perdarahan/pembentukan hematom 4. 3. sehingga memerlukan intevensi. No.2.

orang. 3. 3. jam. No. Perbaikan hipoksia saja dapat memperbaiki kognitif. jendela ke luar. Gangguan tidur dapat mengganggu kemampuan kognitif lebih lanjut. Orientasikan kembali terhadap lingkungan. 3. tempat.kekurangan nutrisi/karena dialysis (Catatan: Besi tidak boleh diberikan dengan ikatan fosfat karena menurunkan absorbsi besi 3. . Memberikan petunjuk untuk membantu dalam pengenalan kenyataan. tingkat mental pasien biasanya. perubahan berhubungan dengan disorientasi terhadap orang. Intervensi Keperawatan 1. Memberikan perbandingan untuk mengevaluasi perkembangan/per baikan gangguan 2. Berikan kalender. Berikan tambahan O2 sesuai indikasi. Rasional 1. waktu Tujuan: Meningkatkan tingkat mental biasanya dan mengidentifikasi cara untuk mengkompensasi gangguan kognitif/deficit memori. Tingkatkan istirahat adekuat dan tidak mengganggu periode tidur 4. Pastikan dari orang terdekat. 4. dan sebagainya. 2. Proses pikir .

4. Perhatikan kemerahan. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia peninggian meningkatkan aliran balik statis vena terbatas/pembent ukan edema. ekskorlasi. yang dapat membatasi perfusi selular . tugor. purpura. akumulasi toksin dalam kulit. tugor. Menurunkan tekanan pada edema. Menurunkan tekanan lama pada jaringan. 2. vascular. purpura. 3. Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera dermal. penurunan aktivitas. Integritas kulit. Tujuan: Mempertahankan kulit utuh dan menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan/cedera kulit. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan (dari pada garukan) pada area pruritus. vascular. Pertahankan buku pendek. No. 4. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. ekskorlasi.4. 2. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan turgor kulit (edema/dehidrasi). Ubah posisi pasien dengan sering 1. Perhatikan kemerahan. Berikan matras busa/flotasi 4. 1. Intervensi Keperawatan Rasional 3. atau immobilisasi. kerusakan.

Memberikan kesempatan untuk intervensi segera dan mencegah infeksi. 3. 5 Intervensi Keperawatan 1. Flos gigi dapat melukai gusi. Anjurkan hygiene gigi yang baik setelah makan dan pada saat tidur. perubahan urea dalam saliva menjadi ammonia. 5. Tujuan: Mempertahankan integritas membrane mukosa dan mengidentifikasi/melakukan intervensi khusus untuk meningkatkan kesehatan mukosa oral. iritasi kimia. 2. karakter saliva. Berikan obat sesuai indikasi. 5. Anjurkan menghindar fless gigi. adanya inflamasi. Membran 4. 3. resiko tinggi berhubungan dengan kurang/penurunan salviasi pembatasan cairan. mis anti histamin: kiproheptadin (periactin) Rasional 1. Inspeksi rongga mulut: perhati kan kelembaban. Membrane mukosa oral. perubahan. .Berikan perawatan mulut. 5. menimbulkan perdarahan. Dapat diberikan untuk menghilangkan gatal 4. No.yang menyebabkan iskemik 5. Menurunkan pertumbuhan bakteri dan potensial terhadap infeksi. 2. ulserasi.

sering memerlukan penanganan dan obat anti hipertensi. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). tentang kondisi. contoh respons vascular tehadap . kurang terpajan atau mengingat. khususnya dari karbohidrat . dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. dan berpartisipasi dalam program pengobatan No. 2. Insiden hipertensi meningkat pada GGK.mukosa dapat menjadi kering dan pecah-pecah. Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alas an untuk tindakan. termasuk jadwal istirahat sebelum Rasional 1. Dorong pemasukan kalori tinggi. Perawatan mulut menyejukkan. yang sering tak menyenangkan kaena uremia dan keterbatasan masukan oral. melumasi. 6. 6 Intervensi Keperawatan 1. dan membantu menyegarkan rasa mulut. 2. prognosis. Tujuan: Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan. mencegah penggunaan dan memberikan energi. perlu untuk observasi ketat terhadap efek pengobatan. Instruksika n dalam observasi diri dan pengawasa n TD. salah interpretasi informasi. Menunjukan/melakukan perubahan pola hidup yang perlu. Penyimpanan protein.

Tujuan: Menyatakan pengetahuan akurat tentang penyakit dan pemahaman program terapi. dan mengidentifikasi /menggunakan sumber dengan tepat. menyelin gi periode istirahat dengan aktivitas. Perhatika n masalah seksual. 7 Ketidakpatuhan (kepatuhan. 4. obat. 3. Efek fisiologis uremia/terapi anti hipertensi dapat mengganggu hasrat/penampilan seksual. 3. 7 . Dengarkan/mendengarkan dengan aktif pada keluhan/pernyataan pasien. Menyamp aikan pesan masalah. Buat program latihan rutin. biaya. Rasional 1. Membantu dalam mempertahanka n tonus otot dan kelenturan sendi. kurang atau menolak system pendukung atau sumber.mengukur TD. dalam kemampu an individu. Berpartisipasi dalam membuat tujuan dan rencana pengobatan. kompelsitas. mengguna kan lengan/posi si yang sama. efek samping terapi. Menurunkan risiko sehubungan dengan imobilisasi (termasuk demineralisasi tulang) dan mencegah kelemahan. Intervensi Keperawatan 1. pengaruh budaya. perubahan) berhubungan dengan keyakinan kesehatan. No. Membuat pilihan pada tingkat kesiapan berdasarkan informasi yang akurat.

Meskipun pasien secara internal termotivasi (rasa control internal). Memberik an kesadaran bagaimana pasien memandan g penyakitn ya sendiri dan program pengobata n dan membantu dalam memaham i masalah pasien. Kaji perilaku memberi perawatan kesehatan pada pasien/perilaku. 4. Yakinkan persepsi/pemahaman pasien/orang terdekat terhadap situasi dan konsekuensi perilaku. kemampuan control. 3. pasien cenderung . perasaan tak berdaya. Keyakinan pada kemampua n individu dan mengatasi situasi dalam cara positif. Anjurkan pilihan yang tepat. 5.2. Kaji tingkat ansietas. 3. 2. Tingkat ansietas berat mempenga ruhi kemampua n pasien mengatasi situasi. Evaluasi system pendukung/sumber yang digunakan oleh pasien.

Pendekata n yang menghaki mi dapat membuat kekuatan yang menjauhka n pasien. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan . jangka panjang. menurunka n kemungkin anmeningk atnya pengaruh.menjadi pasif/terga ntung pada penyakit berat. 4. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 2. Adanya system pendukung adekuat membantu pasien untuk mengatasi kesulitan penyakit lama. 1. 5. Diagnosa Keperawatan pada pasien Congestive Heart Failure menurut Marilyn Doengoes dkk. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 3. 2000 adalah : 1.

Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 3. Resiko terhadap kelebihan volume cairan : odema yang berhubungan dengan penurunan aliran darah ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan 4. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur seperti biasanya Dari kedua Diagnosa Keperawatan diatas dapat disimpulkan bahwa Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah : 1. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. oedem. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan 5. dan penurunan perfusi jaringan 5. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 4. dan penurunan perfusi jaringan . Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan pemahaman / kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung / penyakit / gagal Diagnosa Keperawatan pada gagal jantung menurut Lynda Juall Carpenito edisi 8. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 3.4. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 6. oedem. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen karena gagal jantung kongestif 2. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 2. 2000 adalah : 1.

Catat bunyi jantung 3. bebas gejala jantung. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 8. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. Biasanya terjadi takikardi untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler 2. Pada gagal jantung kongestif dini. Auskultasi nadi apical. Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi 4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang informasi 7. TD 2. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran cerna 9. terjadi penurunan dispnea.Peningkatan frekuensi jantung • Curah jantung meningkat Kriteria hasil : pasien menunjukkan tanda vital dalam batas normal. sedang atau kronik. frekuensi irama jantung kaji Rasional 1. • Tujuan : . ikut sertakan dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung Intervensi 1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan untuk mengambil posisi tidur yang biasanya INTERVENSI Menurut Doengoes (2000) Diagnosa 1 : Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 6. Palpasi nadi Perifer . disritmia terkontrol.5. S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa jantung 3.

Pantau dan ganti elektrolit Diagnosa 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air .Eralapri (Vasotec) 12. Kaji adanya kulit pucat dan sianosis 6. Berikan O2tambahan dengan kanul nasal / masker sesuai indikasi 9. Istirahat fisik dipertahankan untuk memperbaiki efisiensi kontraksi jantung den menurunnya kebutuhan oksigen 8. Pantau tekanan darah 5. catat penurunan dan kepekatan konsentrasi urine 7. Untuk mengontrol gagal jantung dengan menghambat konversi angiotesin dalam paru dan menurunkan tekanan darah Dapat mempengaruhi elektrolit yang 5.Bumetamid (Bumex) (kalium dan klorida) 11. Pantau keluaran urine. Banyaknya obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup 10. Asam Etakrinik (Enderic).dapat meningkat sehubungan dengan Septum Ventriculler Right (SVR) 4. Diuretic : Furosemid (Lasix). Meningkatnya persediaan O2 untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek iskemik 9. Berikan obat sesuai indikasi 10. Captopril(Capoten). Usinopril mempengaruhi irama jantung (Prinivil). Ginjal berrespon untuk menurunkan curah jantuingdengan menahan cairan dan natrium 7. Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati pasien curah jantung 11. Pucat menunjukkan menurunnya Perfusi Perifer Sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung dan anemia Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung kronik 6. Beri posisi nyaman pada tempat tidur atau kursi 8.

Kelebihan volume cairan sering menimbulkan kongesti paru 5. menyatakan tentang pembatasan cairan Intervensi Rasional 1. Pantau keluaran urine. Auskuhasi bunyi nafas. Pantau tekanan darah dan CVP 6. catat jumlah dan warna 2. Pemberian obat sesuai indikasi : Diuretik contoh : Furosemid (Lasix) 7. Pantau Foto thorax Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 / kebutuhan • • Tujuan : Pasien mampu melakukan aktivitas fisik Kriteria hasil : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri. tanda vital dalam batas normal. Catat perubahan ada / hilangnya oedema sebagai respon terhadap terapi 4. Mempertahankan cairan / pembatasan natrium sesuai indikasi 8.• • Tujuan : Volume cairan pasien berkurang sampai dengan normal Kriteria hasil : Volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran bunyi nafas bersih. Timbang berat badan setiap hari 4. Meningkatkan laju aliran urine dan dapat menghambat reabsorsi natrium / klorid pada tubulus ginjal 7. Meningkatkan Filtrasi Ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan dieresis 3. Pertahankan duduk / tirah baring dengan posisi Semi Fowler 3. mencapai peningkatan toleransi aktivitas . Keluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi jaringan 2. catat penurunan dan atau bunyi tambahan 5. Menurunkan air total tubuh / reakumulasi cairan Menunjukkan perubahan indikatif peningkatan / perbaikan kongesti paru 1. berat badan normal dan tidak oedem. Menunjukkan kelebihan volume cairandan dapat menunjukkan terjadinya gagal jantung 6.

Implementasikan program rehabilitasi jantung / aktivitas 4. Kelemahan merupakan samping beberapa obat efek 2. pucat Rasional 1. Anjurkan pasien selalu merubah posisi 4. Menurunkan konsumsi oksigen / . Auskuitasi bunyi nafas. Catat respon Kardiopulmonal terhadap aktivitas. contoh : pengobatan. nyeri 4. catat krekel. mengi 2. Dapat menunjukkan peningkatan Decompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas 3. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas 3. Pertahankan duduk di kursi. Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2 3. Penurunan / ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktifitas dapat menyebabkan peningkatan frekuensi jantung 2. Anjurkan pasien batuk efektif. nafas dalam 3. dispnea. Intervensi 1. Memenuhi kebutuhan perawatan diri tanpa mempengaruhi stress Peningkatan aktivitas secara bertahap menghindari kerja jantung / konsumsi oksigen berlebihan Diagnosa 4 : Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan pertukaran gas Kriteria hasil : mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA / oksiometri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan.Intervensi 1. Menyatakan adanya kongesti paru / pengumpulan secret menunjukkan untuk intervensi lanjut 2. Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia 4. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi 5. Rasional 1. Kaji penyebab kelemahan. catat tachicardi disritmia.

Intervensi 1. Furosemid (lasix) Diagnosa 5 : Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama.tirah baring dengan kepala tempat tidur lebih tinggi (Semi Fowler) 5. Terlalu kering atau lembab merusak kulit dan mempercepat kerusakan 3. oedema. Hindari obat intramuskuler Rasional 1. bantu rentang gerak pasif / aktif 2. dan penurunan perfusi jaringan • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intregritas kulit Kriteria hasil : mempertahankan integritas mendemonstrasikan perilaku / tehnik mencegah kulit kulit. Edema interstitial dan gangguan sirkulasimemperlambat absorsiobat dan predisposisi untuk kerusakan kulit / terjadinya infeksi 4. Meningkatkan konsentrasi alveolar yang dapat memperbaiki / memudahkan hipoksemia jaringan Menurunkan kongesti alveolar. Pijat area kemerahan atau memutih Diagnosa 6 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi • • Tujuan : Pengetahuan pasien meningkat Kriteria hasil : − Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkanepisod berulang dan mencegah . Berikan perawatan kulit. Berikan oksigen sesuai indikasi tambahan kebutuhan dan meningkatkan ekpansi paru maksimal 5. meningkatkan pertukaran gas 6. Meningkatkan aliran darah 4. Ubah posisi saat ditempat tidur. Memperbaiki sirkulasi / menurunkan waktu satu area yang menggangu aliran darah 2. Berikan obat sesuai indikasi : Diuretik. meminimalkan dengan kelembapan / ekresi 3.

Pemahaman kterapeutik dan pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah terjadinya komplikasi obat Menambah pengetahuan dan 3. dan efek samping memungkinkan pasien untuk membuat 4. Jelaskan dan diskusikan peran keputusan berdasarkan informasi pasien dalam mengontrol faktor resiko dan faktor pencetus Diagnosa 7 : Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas • • Tujuan : Ansietas pasien berkurang sampai dengan hilang Kriteria hasil : − Mengakui dan mendiskusikan takut / masalah − Menunjukkan perasaan yang tepat − Wajah tampak rileks − Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi .komplikasi − Menyatakan tanda / gejala memerlukan intervensi cepat yang − Mengidentifikasi stress pribadi / faktor resiko untuk menangani − Melakukan perubahan perilaku yang perlu pola hidup / Intervensi 1. tujuan. Diskusikan pentingnya pembatasan natrium Rasional 1. Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan 2. Diskusikan pentingnya fungsi jantung sehat 2. Diskusikan obat. Pembatasan diit natrium diatas 3gr/hari akan menghasilkan efek diuretic 3.

Beri kesempatan untuk bertanya jawab 3. Libatkan pasien / orang terdekat dalam perencanaan perawatan 4. pasien tidak merasa pahit dan enak bila mengunyah 3.Intervensi 1. jika mungkin anjurkan untuk menyikat gigi 3. menjelaskan factorfaktor bila diketahui. Intervensi 1. Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru untuk memilih intervensi yang tepat 2. Kelola kebersihan mulut setiap 2-4 jam. Diketahui adanya tanda-tanda malnutrisi yang merupakan petunjuk adanya gangguan kebutuhan nutrisi 2. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa 2. Dapat memperbaiki beberapa perasaan Kontrol / kemandirian pada pasien yang merasa tidak berdaya dalam menerima diagnosa Diagnosa 8 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan • • Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi untuk mempertahankan fungsi tubuh Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral. Rujuk ke indikasi ahli gizi sesuai Rasional 1. Dapat menambah nafsu makan. Observasi tanda-tanda malnutrisi setiap hari 2. Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit . Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi interpretasi terhadap informasi 3. Berikan waktu untuk menyiapkan peristiwa atau pengobatan Rasional 1. menjelaskan rasional dan prosedur untuk pengobatan.

Mempertahankan kestabilan lingkungan 4. Anjurkan istirahat sejenak. Edisi 3. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC : Jakarta. EGC: Jakarta Carpenito. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta Carpenito. EGC: Jakarta. Lynda Juall. Lynda Juall. Tingkat stress dapat melonggarkan pola tidur yang mencapai tidur pulas 3. Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. . Rencana Asuhan dan Dokumentasi Perawatan. 2007. Gagal Ginjal. 2001. Buku agar Fisiologi Kedokteran Edisi II. 2001. Hall & Guyton. turunkan aktifitas mental fisik pada sore hari 2. Lengkapi jadwal tidur dan ritual secara teratur 4. PL. Horne Mima M & Swearingen. Keseimbangan cairan. 2000. PT. Evaluasi tingkat stress 3. Rencana Asuhan Keperawatan. Aktivitas fisik dan mental meningkatkan kelelahan yang dapat meningkatkan kebingungan 2. 2006. Moyet. elektrolit & asam basa. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk Mungkin efektif dalam menangani penyakitnya kemampuan tidur untuk meningktkan DAFTAR PUSTAKA Alam Syamsir. Beri makan kecil sore hari 5. Marilyn E.Diagnosa 9 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur yang biasanya • • Tujuan : Pola tidur pasien terpenuhi Kriteria hasil : − Mampu adekuat pikiran menciptakan pola tidur yang dengan penurunan terhadap − Tampak / bisa istirahat yang cukup Intervensi 1. 2007. Hadibroto Iwan. EGC: Jakarta Doengoes. EGC: Jakarta. Berikan obat sesuai indikasi Rasional 1.

com 2007/07/laporan pendahuluan gagal ginjal kronis.http://keperawatan . Edisi 8. EGC: Jakarta Soeparman. Kapita Selekta Kedokteran. 2006. 2000. 2002. 1999). Media Aeskulapius.blogspot. Suzanne C. PROSES TERJADINYA MASALAH . FKUI: Jakarta BAB I KONSEP DASAR MEDIK CONGESTIF HEART FAILURE (CHF) A. FKUI: Jakarta M. Nursalam. EGC: Jakarta Smeltzer. PENGERTIAN Gagal jantung Kongestif adalah ketidakmampuan Jantung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi (Brunner & Suddarth.gun. Salemba Medika: Jakarta Price. Mansjoer. 2002). B. Sylvia A. Stanley. 2005). DR. 2006. Wilson. Buku Ajar Keperawatan Medikel Bedah Brunner & Suddarth. Nurs. Edisi 3. Lorrelne M.Price. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. 2007. Gagal jantung adalah keadaan patofisiologis ketika jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan (Sylvia A. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Arif. L. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2. Jilid 2. Gagal jantung Kongestif adalah kondisi patofisiologik yang diakibatkan gangguan fungsi jantung karena jantung tidak dapat mempertahankan curah yang cukup untuk kebutuhan metabolik jaringan dan organ tubuh (Robbins.

Hipertrofi otot jantung tidak dapat berfungsi secara normal dan akhirnya akan terjadi gagal jantung (Smeltzer. 2. Faktor Presipitasi − Kelainan otot jantung (Miokardium) yang menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. sel-sel otot vebtrikel mengalami peregangan melebihi panjang . Efek tersebut (hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan meningkatkan kontraktilitas jantung. Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. − Hipertensi sitemik atau Pulmonal (peningkatan afterload) meningkatnya beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Seiring dengan peningkatan progresif volume diastolik – akhir. Hal ini menyebabkan volume diastolik – akhir ventrikel secara progresif bertambah. Patofisiologi Gagal jantung kongestif terjadi sewaktu kontraktilitas jantung berkurang dan ventrikel tidak mampu memompa keluar darah sebanyak yang masuk sewaktu diastole. Faktor Predisposisi Penyakit yang dapat menimbulkan penurunan fungsi ventrikel seperti : − Penyakit Arteri Koroner − Hipertensi − Kardiomiopati − Penyakit jantung Kongenital 3. 2002). Suzanne C. − Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi Miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung.1. Terjadinya Hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat).

terutama pada posisi berbaring. (Elizabeth J Corwin. Respon-respon reflek tubuh yang mulai bekerja sebagai jawaban terhadap penurunan tekanan darah akan secara bermakna memperburuk situasi. Dispnea disebabkan oleh peningkatan kerja pernafasan akibat kongesti vaskuler paru yang mengurangi kelenturan paru. Tegangan yang dihasilkan menjadi berkurang karena ventrikel teregang oleh darah. Akibatnya volume sekuncup. (Suzanne C Smeltzer. curah jantung dan tekan darah turun. Tanda dan gejala gagal jantung kanan : . semakin sedikit darah yang dapat dipompa keluar sehingga akumulasi darah dan peregangan serat otot bertambah. Bila mekanisme kompensasi ini gagal untuk mempertahankan perfusi jaringan yang memadai. 4. − Kelemahan fisik. dimana curah jantung (CO : Cardiac Output) adalah fungsi frekuensi jantung (HR : Heart Rate) x volume sekuncup (SV: Stroke Volume). 2001).optimumnya. atau perasaan sulit bernafas. Semakin terisi berlebihan ventrikel.2000). Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan kontraktilitas jantung yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal. − Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) atau mendadak terbangun karena dispnea. Manifestasi Klinik Tanda dan gejala gagal jantung secara umum : − Dispnea. maka volume sekuncup jantunglah yang harus menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah jantung. dipicu oleh timbulnya edema paru interstisial. adalah manifestasi gagal jantung yang paling umum. − Batuk non produktif juga dapat terjadi akibat kongesti paru. − Ortopnea (dispnea saat berbaring). manifestasi utama dari penurunan curah jantung adalah kelemahan dan kelelahan dalam melakukan aktifitas. Konsep curah jantung paling baik dijelaskan dengan persamaan CO = HR x SV . Bila curah jantung berkurang maka sistem saraf simpatis akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan curah jantung.

tumit). − Nokturia (dieresis malam hari) yang mengurangi retensi cairan. − Foto rontgent : Oedema Paru.Price. Cor membesar. yaitu : − Derajat I : Tidak ada gejala (seperti nafas pendek. (Sylvia A. tachycardia. seperti anoreksia. nyeri dada) yang terjadi pada kegiatan fisik biasa. Tanda dan gejala gagal jantung kiri : − Sesak nafas (dispnea) − Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) − Ortopnea − Batuk-batuk − Sianosis − Jantung membesar. − Derajat II : Timbul gejala (nafas pendek. − Gejala saluran cerna.− Peningkatan tekanan vena jugularis (JVP) − Hepatomegali (pembesaran hati) : nyeri tekan hati dapat terjadi akibat peregangan kapsula hati. − Derajat III : Timbul gejala sewaktu melakukan kegiatan fisik ringan. − Edema Perifer terjadi akibat penimbunan cairan dalam ruang interstisial. 2005). rasa penuh atau mual dapat disebabkan oleh kongesti hati dan usus. − Derajat IV : kegiatan fisik hamper tidak bisa dilakukan oleh karena dengan istirahat saja telah timbul gejala (nafas pendek. . Edema mula-mula tampak pada bagian tubuh yang tergantung (tunkai bawah. nyeri dada). nyeri dada) bila melakukan kegiatan fisik biasa. Klasifikasi Menurut New York Heart Association (NYHA) gagal jantung dapat di klasifikasikan menurut derajatnya.

menunjukkan penyakit jantung Iskemik. • Pemeriksaan Laboratorium − Elektrolit. dan berbagai bentuk penyakit jantung korgenital juga dapat dideteksi. • Elektrokardiografi (EKG) Pada pemeriksaan EKG untuk klien dengan gagal jantung dapat ditemukan kelainan EKG seperti dibawah ini : 1. Right Bundle Branch block dan Hipertrofi ventrikel kanan menunjukkan adanya disfungsi ventrikel kanan. 2. Pemeriksaan Penunjang • Ekokardiografi Ekokardiografi sebaiknya digunakan sebagai alat pertama dalam diagnosis dan manajemen gagal jantung.1996). thrombus dalam ventrikel. kelainan ST/T menunjukkan disfungsi venrikel kiri kronis. 5. (Muttaqin Arif. Aritmia : Deviasi Aksis ke kanan. Ultrasonografi Doppler. • Rontgent Dada Foto sinar X dada Posterior – Anterior dapat menunjukkan adanya Hipertensi Vena. Creatimin. Efusi Perikardial. Hipertrofi Ventrikel kiri dan gelombang T terbalik menunjukkan Stenosisa Aorta dan penyakit hipertensi. BUN. 2009). 4. Left bundle branch block. 3. Edema paru.(Long C Barbara . Aneurisma ventrikel kiri. Penatalaksanaan Medis . Pemeriksaan ekokardiografi dapat digunakan untuk memperkirakan ukuran dan fungsi ventrikel kiri. Gelombang Q menunjukkan infark sebelumnya dan kelainan segmen ST. atau Kardiomegali. Serum Albumin. termasuk aliran warna dapat digunakan untuk menilai regurgitasi katup dan pirau intrakardiak. 5.

Prosozin Melebarkan arteri Perifer Vena Pulmonalis . Memperbaiki daya pompa jantung Digitalis. Preparat Nitrat atau Isorbit Dinitrat meningkatkan kapsitas vena Pulmonalis. Lily ismudiai 1998 adalah : 1. Hidralazin Menurunkan tahanan vaskuler sistemik 6. obat-obatan Simptomatik. Pembatasan aktivitas kerja berat untuk menurunkan kerja jantung 2. Parasentesis. Preparat Digitalis untuk meningkatkan Kontraktilitas Miokardium 4.M Sjaifoellah 1996 adalah : 1.• Tujuan Penatalaksanaan menurut Noer H. Pengendalian Retensi garam dan cairan − Diit rendah garam − Diuretic − Pengeluaran cairan secara mekanik (Thoracosentesis. menurunkan secara ringan tahanan vaskuler sistemik 5. Obat-obatan Diuretik untuk memp[erbaiki gejala kongestif seperti Dispnea Misal : Diuretik Tiazid. pacu jantung 3. Mengurangi beban kerja − Istirahat jasmani dan Emosional − Berat badan yang berlebihan (obesitas) sebaiknya dikurangi / diturunkan − Vasodilator 2. Furosemid dan Asam Etakrinat baik secara oral maupun intravena 3. Ultrafiltrasi) • Penatalaksanaan menurut Riiantono.

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 9. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 8. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. 2000 adalah : 6. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan pada pasien gagal jantung menurut Marilyn Doengoes dkk. dan penurunan perfusi jaringan 11. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 12. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur seperti biasanya . Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 8. oedem. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen karena gagal jantung kongestif 7.C. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan pemahaman / kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung / penyakit / gagal Diagnosa Keperawatan pada gagal jantung menurut Lynda Juall Carpenito edisi 8. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 10. 2000 adalah : 7. Resiko terhadap kelebihan volume cairan : odema yang berhubungan dengan penurunan aliran darah ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan 9. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan 10.

Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang informasi 16. FOKUS INTERVENSI Menurut Doengoes (2000) Diagnosa 1 : Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial. Biasanya terjadi takikardi untuk • A Intervensi . Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 15. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 17. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 11. dan penurunan perfusi jaringan 14. Rasional 1. disritmia terkontrol. oedem. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 13. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. • Tujuan : Peningkatan frekuensi jantung • Curah jantung meningkat Kriteria hasil : pasien menunjukkan tanda vital dalam batas normal. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 12. bebas gejala jantung. ikut sertakan dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung.Dari kedua Diagnosa Keperawatan diatas dapat disimpulkan bahwa Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah : 10. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran cerna 18. Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan untuk mengambil posisi tidur yang biasanya D. terjadi penurunan dispnea.

Ginjal berrespon untuk konsentrasi urine menurunkan curah jantuingdengan menahan cairan 7. Diuretic : Furosemid (Lasix). TD dapat meningkat sehubungan dengan Septum Ventriculler Right (SVR) Intervensi Rasional 5. Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati pasien curah jantung Intervensi Rasional 11. Kaji adanya kulit pucat dan 5. Beri posisi nyaman pada tempat dan natrium tidur atau kursi 7. Berikan obat sesuai indikasi untuk melawan efek iskemik 9. Eralapri (Vasotec) jantung dengan menghambat . Pucat menunjukkan sianosis menurunnya Perfusi Perifer Sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung dan anemia Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung 6. catat kronik penurunan dan kepekatan 6. S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa jantung 3. Usinopril 11. Berikan O2tambahan dengan kontraksi jantung den menurunnya kebutuhan oksigen kanul nasal / masker sesuai 8. digunakan untuk meningkatkan Asam Etakrinik volume sekuncup (Enderic). Captopril(Capoten). Banyaknya obat dapat 10. Untuk mengontrol gagal (Prinivil).• C • P • P mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler 2.Bumetamid (Bumex) 10. Meningkatnya persediaan O2 indikasi untuk kebutuhan miokard 9. Istirahat fisik dipertahankan untuk memperbaiki efisiensi 8. sedang atau kronik. Pantau keluaran urine. Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi 4. Pada gagal jantung kongestif dini.

Meningkatkan laju aliran urine (Lasix) dan dapat menghambat reabsorsi natrium / klorid pada 7. Pemberian obat sesuai indikasi : jantung Diuretik contoh : Furosemid 6. berat badan normal dan tidak oedem. Timbang berat badan setiap hari 3. catat 1. Intervensi Rasional 1. Catat perubahan ada / hilangnya oedema sebagai 4. Auskuhasi bunyi nafas. Kelebihan volume cairan sering tambahan menimbulkan kongesti paru 5. Pertahankan duduk / tirah baring 2. Keluaran urine mungkin sedikit jumlah dan warna dan pekat karena penurunan perfusi jaringan. catat respon terhadap terapi penurunan dan atau bunyi 4. Pantau tekanan darah dan CVP 5. Pantau Foto thorax Menunjukkan perubahan indikatif peningkatan / perbaikan .12. Mempertahankan cairan / tubulus ginjal pembatasan natrium sesuai 7. Intervensi Rasional 2. menyatakan tentang pembatasan cairan. Menunjukkan kelebihan volume cairan dan dapat menunjukkan terjadinya gagal 6. tanda vital dalam batas normal. Pantau dan ganti elektrolit konversi angiotesin dalam paru dan menurunkan tekanan darah 12. Pantau keluaran urine. Dapat mempengaruhi elektrolit (kalium dan klorida) yang mempengaruhi irama jantung Diagnosa 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air • • Tujuan : Volume cairan pasien berkurang sampai dengan normal Kriteria hasil : Volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran bunyi nafas bersih. Menurunkan air total tubuh / indikasi reakumulasi cairan 8. Meningkatkan Filtrasi Ginjal dengan posisi Semi Fowler dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan dieresis 3.

Intervensi Rasional 1. nyeri 4. Kelemahan merupakan efek samping beberapa obat 4. Catat respon Kardiopulmonal 1. contoh : pengobatan. Implementasikan program bertahap menghindari kerja jantung / rehabilitasi jantung / aktivitas konsumsi oksigen berlebihan Diagnosa 4 : Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan pertukaran gas Kriteria hasil : mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA / oksiometri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. Auskuitasi bunyi nafas.kongesti paru Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 / kebutuhan • • Tujuan : Pasien mampu melakukan aktivitas fisik Kriteria hasil : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri. catat miokardium untuk tachicardi disritmia. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas 2. Memenuhi kebutuhan perawatan diri tanpa mempengaruhi stress Peningkatan aktivitas secara 3. Kaji penyebab kelemahan. Intervensi Rasional 1. dispnea. Dapat menunjukkan peningkatan Decompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas 3. Menyatakan adanya kongesti krekel. Penurunan / ketidakmampuan terhadap aktivitas. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi 5. mencapai peningkatan toleransi aktivitas. meningkatkan volume pucat sekuncup selama aktifitas dapat menyebabkan peningkatan frekuensi jantung 2. catat 1. mengi paru / pengumpulan secret menunjukkan untuk intervensi .

Hindari obat intramuskuler kerusakan Edema interstitial dan gangguan Intervensi Rasional sirkulasi memperlambat absorsiobat dan predisposisi untuk kerusakan . Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional tambahan 4.2. Furosemid (lasix) Menurunkan kongesti alveolar. dan penurunan perfusi jaringan • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intregritas kulit Kriteria hasil : mempertahankan integritas mendemonstrasikan perilaku / tehnik mencegah kulit. Anjurkan pasien selalu merubah posisi lanjut 2. oedema. Intervensi Rasional 1. tirah baring dengan kepala tempat tidur lebih tinggi (Semi kebutuhan dan meningkatkan ekpansi Fowler) paru maksimal memudahkan aliran O2 3. kulit. Memperbaiki sirkulasi / bantu rentang gerak pasif / aktif menurunkan waktu satu area 2. Pertahankan duduk di kursi. Berikan perawatan kulit. meningkatkan pertukaran gas Diagnosa 5 : Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Anjurkan pasien batuk efektif. Ubah posisi saat ditempat tidur. Berikan obat sesuai indikasi : hipoksemia jaringan Diuretik. 1. Meningkatkan konsentrasi alveolar yang dapat memperbaiki / memudahkan 6. Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia Menurunkan konsumsi oksigen / Intervensi 5. yang menggangu aliran darah meminimalkan dengan 2. Terlalu kering atau lembab kelembapan / ekresi merusak kulit dan mempercepat 3. nafas dalam 3. Membersihkan jalan nafas dan 4.

4. Pijat area memutih

kemerahan

atau

kulit / terjadinya infeksi 3. Meningkatkan aliran darh, meminimalkan hipoksia jaringan

Diagnosa 6 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi • • Tujuan : Pengetahuan pasien meningkat Kriteria hasil : − Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkanepisod berulang dan mencegah komplikasi − Menyatakan tanda / gejala memerlukan intervensi cepat yang

− Mengidentifikasi stress pribadi / faktor resiko untuk menangani − Melakukan perubahan perilaku yang perlu pola hidup /

Intervensi Rasional 5. Diskusikan pentingnyafungsi 4. Pengetahuan proses penyakit jantung sehat dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program 6. Diskusikan pentingnya pengobatan pembatasan Pembatasan diit natrium diatas 3gr/hari Intervensi Rasional natrium akan menghasilkan efek diuretic 5. Diskusikan obat, tujuan, dan 7. Pemahaman kterapeutik dan efek samping pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah 6. Jelaskan dan diskusikan peran terjadinya komplikasi obat pasien dalam mengontrol faktor 8. Menambah pengetahuan dan resiko dan faktor pencetus memungkinkan pasien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi Diagnosa 7 : Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas

• •

Tujuan : Ansietas pasien berkurang sampai dengan hilang Kriteria hasil : − Mengakui dan mendiskusikan takut / masalah − Menunjukkan perasaan yang tepat − Wajah tampak rileks − Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi

Intervensi Rasional 1. Evaluasi tingkat pemahaman 1. Pasien dan orang terdekat pasien / orang terdekat tentang mendengar dan mengasimilasi diagnose informasi baru Intervensi Rasional untuk memilih intervensi yang 2. Beri kesempatan untuk bertanya tepat jawab 2. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan 3. Libatkan pasien / orang terdekat persepsi interpretasi terhadap dalam perencanaan perawatan informasi 4. Berikan waktu untuk menyiapkan 3. Dapat memperbaiki beberapa peristiwa atau pengobatan perasaan 4. Kontrol / kemandirian pada pasien yang merasa tidak berdaya dalam menerima diagnosa Diagnosa 8 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual, anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan • • Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi untuk mempertahankan fungsi tubuh Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral, menjelaskan factorfaktor bila diketahui, menjelaskan rasional dan prosedur untuk pengobatan

Intervensi Rasional 1. Observasi tanda-tanda 1. Diketahui adanya tanda-tanda malnutrisi setiap hari malnutrisi yang merupakan petunjuk adanya gangguan 2. Kelola kebersihan mulut setiap kebutuhan nutrisi 2-4 jam, jika mungkin anjurkan 2. Dapat menambah nafsu makan, untuk menyikat gigi pasien tidak merasa pahit dan enak bila mengunyah Memberikan konseling dan 3. Rujuk ke ahli gizi sesuai bantuan dengan memenuhi kebutuhan indikasi diit Diagnosa 9 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur yang biasanya • • Tujuan : Pola tidur pasien terpenuhi Kriteria hasil : − Mampu adekuat pikiran menciptakan pola tidur yang dengan penurunan terhadap

− Tampak / bisa istirahat yang cukup

Intervensi Rasional 6. Anjurkan istirahat sejenak, 1. Aktivitas fisik dan mental turunkan aktifitas mental fisik meningkatkan kelelahan yang pada sore hari dapat meningkatkan kebingungan 7. Evaluasi tingkat stress 2. Tingkat stress dapat melonggarkan pola tidur yang 8. Lengkapi jadwal tidur dan mencapai tidur pulas ritual secara teratur 3. Mempertahankan kestabilan 9. Beri makan kecil sore hari lingkungan 10. Berikan obat sesuai indikasi 4. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk Mungkin efektif dalam menangani penyakitnya untuk meningktkan kemampuan tidur

1984. Barbara. Sizanne. Amara Books: Ygyakarta Sylvia. EGC: Jakarta Carpenito L. Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC: Jakarta Lismidar. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart.A. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi. EGC: Jakarta Perry & Potter. Balai Penerbit UI. Buku Ajar Kardiologi. Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Arif. Salemba Medika: Jakarta Noer. Edisi 6. Buku Saku Patofisiologi. EGC: Jakarta Smeltzer. M. EGC: Jakarta Robbins.Syaifullah. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan NIC dan NOC.L. Askep Pasien dengan Gangguan Penyakit Sistem Kardiovaskuler. A. 2005. Buku Saku Dasar Patologi Panyakit. Jakarta Long C. Edisi 3. Buku ke2. Linda Juall. 1996. Edisi revisi. Edisi 8.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Edisi 3. Edisi 3. Buku Ajar Fundomental Keperawatan Konsep. 1996. Dasar-dasar Ilmu Keperawatan.H. Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjadjaran. 1990. 1998. Lily.Y. EGC: Jakarta Sutedjo. J Elisabeth. EGC: Jakarta Wolf. buku ke 2 . Bandung Muttaqin. EGC: Jakarta Wilkinson. Proses dan Praktek. C.M. Jilid1. J & Moyet. Volume 2. I. 1999. 2009. Stanley. FKUI: Jakarta Rilantono. Patofisiologi. 1999. Edisi 4. Edisi 5. Proses Keperawatan. E. 2002. 2007.Price. 2001. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Kepeawatan). Rencana Asuhan Keperawatan. 1996. EGC: Jakarta Doengoes. 2005. Judith. Marilyn. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Perawatan. dkk. 2000. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC: Jakarta Corwiri. EGC: Jakarta Depkes RI.

adenokarsinoma. Jenis tumor paru dibagi untuk tujuan pengobatan. Karsinoma bronkogenik adalah tumor ganas primer yang berasal dari saluran nafas. DEFINISI 1. ( Hood Al Sagaff. Kanker Paru merupakan abnormalitas dari sel-sel yang mengalami proliferasi dalam paru. ( Hood Al Sagaff. merupakan SCLC ( small cell lung cencer ) dan NSCLS ( non small cell lung cencer ) atau karsinoma skuamosa.1993 ) 2. karsinoma sel besar.1993 ) 3. ( Underwood. Tumor adalah Neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan baru yang abnormal.BAB I KONSEP DASAR MEDIK A.2000 ) . Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut dan letaknya di dalam rongga dada.

Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam terdiri dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif. radiasi ion. 2. Paparan zat karsinogen ( asbestos. Merokok Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. 2001.4. . B. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). PROSES TERJADINYA MASALAH 1. b. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Faktor Predisposisi Menurut Slamet Suyono. Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Jadi dari pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan kanker paru adalah penyakit keganasan yang terjadi dibagian paru yang mengalami proliferasi di dalam paru. radon arse ) Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. a. Faktor Presipitasi Penyebab terjadinya kanker paru belum jelas diketahui. Polusi udara Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap disel dalam atmosfer di kota. menimbulkan tumor. c.

selenium dan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru.d. Pekerja pemecah hematite (paru – paru hematite) dan orang – orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden. Dengan demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada permulaan terbatas pada sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya. Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom. Diet Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten. Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan (insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya. Kanker paru akibat kerja Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenik (pembasmi rumput). Predisposisi Gen supresor tumor Inisitor Delesi/ insersi Promotor Tumor/ autonomi Progresor Ekspansi/ metastasis d. Teori Onkogenesis. tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiah. Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen).programmed cell death). .

Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. PATOFISIOLOGI Menurut Practice Guidelines.hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura. hemoptysis. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia. dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra.hyperplasia dan displasia.C. penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia. pericardium. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk. dispneu. Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. dinding esofagus.Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar.Wheezing unilateral dapat terdengar pada auskultasi. 0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d46430100 0000000001006a5d0000000001000000180300000000000018030000010000006c0 000000000000000000000350000006f0000000000000000000000f04100003b32000 020454d460000010018030000120000000200000000000000000000000000000040 120000901a0000c600000020010000000000000000000000000000950403007a640 400160000000c000000180000000a00000010000000000000000000000009000000 10000000960f0000db0b0000250000000c0000000e000080250000000c0000000e00 0080120000000c00000001000000520000007001000001000000a4ffffff000000000 000000000000000900100000000000004400022430061006c006900620072006900 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 0000000000000000000000000000000000000ca0668f0ca0610000000ccf3ca064cf1 ca0652516032ccf3ca06c4f0ca061000000034f2ca06b0f3ca0624516032ccf3ca06c4f 0ca062000000049642f31c4f0ca06ccf3ca0620000000ffffffff5c1ad200d0642f31fffff fffffff0180ffff0180edff0180ffffffff000000000008000000080000430000000100000 0000000005802000025000000372e9001000000000000000000000000ef0200a07b2 0004000000000000000009f00000000000000430061006c00690062007200000000 00c4f3ca060bf32e3158f6ca0658020000c4f3ca06f8f0ca069c382731060000000100 000034f1ca0634f1ca06e8782531060000005cf1ca065c1ad20064760008000000002 50000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c0000000100 0000180000000c00000000000002540000005400000000000000000000003500000 06f00000001000000cf9d8740888787400000000057000000010000004c000000040 000000000000000000000940f0000de0b0000500000002000000036000000460000 00280000001c0000004744494302000000ffffffffffffffff970f0000dd0b00000000000 04600000014000000080000004744494303000000250000000c0000000e00008025 . demam. khususnya pada hati. otak. tulang rangka. Pada stadium lanjut. biasa timbul efusi pleura. dan dingin. 2002.

MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinik pada penderita tumor paru yaitu : a) Batuk yang terus menerus dan berkepanjangan b) Nafas pendek-pendek dan suara parau c) Batuk berdarah dan berdahak d) Nyeri pada dada. Terbentuk dari sel – sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit. Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus.D. Ketika batuk dan menarik nafas yang dalam e) Hilang nafsu makan dan berat badan E. Metastasis dini ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus. demikian pula dengan penyebaran hematogen ke organ – . dan menonjol kedalam bronki besar. secara khas mendahului timbulnya tumor. Karsinoma Bronkogenik.Tumor ini timbul dari sel – sel Kulchitsky. komponen normal dari epitel bronkus. a. Terletak sentral sekitar hilus. dinding dada dan mediastinum. Karsinoma epidermoid (skuamosa). Perubahan epitel termasuk metaplasia. Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama bronki. KLASIFIKASI KANKER PARU Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma Pleura dan Paru – paru (1977) : 1. b. Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter dan cenderung menyebar langsung ke kelenjar getah bening hilus. atau displasia akibat merokok jangka panjang. Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat).

Kebanyakan timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang – kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut local pada paru – paru dan fibrosis interstisial kronik. Tumor kelenjar bronchial.paru perifer. Tumor karsinoid (adenoma bronkus). Patofisiologi. Tak terklasifikasi. Mesotelioma. Karsinoma sel besar. Tumor campuran dan Karsinosarkoma 5). . c. 1995). 4). Melanoma. (termasuk karsinoma sel Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. 2). Merupakan sel – sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam – macam. dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala – gejala sampai terjadinya metastasis yang jauh. Lain – lain. e. 3). Sel – sel ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru .organ distal. 8). tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat – tempat yang jauh. d. (Price. 1). Lesi seringkali meluas melalui pembuluh darah dan limfe pada stadium dini. 7). Tumor papilaris dari epitel permukaan. STADIUM Tabel Sistem Stadium TNM untuk kanker Paru – paru: 1986 American Joint Committee on Cancer. Sarkoma 6). Adenokarsinoma alveolar). F.

atau dalam jarak 2 cm dari karina tetapi tidak melibat karina. diafragma. trakea.Gambaran TNM Tumor primer (T) T0 Defenisi Tidak terbukti adanya tumor primer Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus tetapi tidak terlihat pada radiogram atau bronkoskopi Karsinoma in situ Tumor dengan diameter ≤ 3 cm dikelilingi paru – paru atau pleura viseralis yang normal. pembuluh darah besar. esofagus. T4 Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar limfe regional. Metastasis pada mediastinal ipsi lateral atau . atau adanya efusi pleura yang maligna. pleura mediastinalis. koepua vertebra. atau korpus vertebra. atau pericardium tanpa mengenai jantung. atau karina. pembuluh darah besar. esofagus. Tumor dalam setiap ukuran yang sudah menyerang mediastinum atau mengenai jantung. Tx TIS T1 T2 T3 Tumor dalam setiap ukuran dengan perluasan langsung pada dinding dada. Tumor dengan diameter 3 cm atau dalam setiap ukuran dimana sudah menyerang pleura viseralis atau mengakibatkan atelektasis yang meluas ke hilus. Metastasis pada peribronkial dan/ atau kelenjar – kelenjar hilus ipsilateral. trakea. harus berjarak 2 cm distal dari karina.

N3 Sputum mengandung sel – sel ganas tetapi tidak dapat dibuktikan adanya tumor primer atau metastasis. Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu (seperti otak). N1 N2 Tidak diketahui adanya metastasis jauh. Tumor termasuk klasifikasi T3 dengan atau tanpa bukti metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral. M1 Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 tanpa adanya bukti metastasis pada kelenjar limfe regional atau tempat yang jauh.kelenjar limfe subkarina. tidak ada Kelompok stadium Karsinoma TxN0M0 tersembunyi . Kelenjar limfe regional (N) N0 Metastasis pada mediastinal atau kelenjar – kelenjar limfe hilus kontralateral. kelenjar – kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral. Metastasis jauh (M) M0 Karsinoma in situ. Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 dan terdapat bukti adanya metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral.

Setiap tumor dengan metastasis pada kelenjar limfe hilus atau mediastinal kontralateral. atau 0 pada kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular. atau setiap tumor yang termasuk klasifikasi T4 dengan atau tanpa metastasis kelenjar limfe regional. I Setiap tumor dengan metastsis jauh.metastasis jauh. Stadium TISN0M0 Stadium T1N0M0 T2N0M0 Stadium T1N1M0 T2N1M0 II Stadium T3N0M0 T3N0M0 IIIa Stadium Setiap T N3M0 setiap NM0 IIIb T4 . tidak ada metastasis jauh.

hepar.setiap N. PEMERIKSAAN PENUNJANG ( Barbara. PENATALAKSANAAN MEDIK 1) Pembedahan Memiliki kemungkinan kesembuhan terbaik.1995). tulang. f) Radionuklide scan terhadap organ-organ lain menentukan luasnya metastase ( otak. e) Aspirasi dengan jarum dan biopsi jaringan paru dapat dilakukan jika pemeriksaan radiologi menunjukkan lesi di paru-paru perifer.Stadium IV T. d) Bronkoskopi dapat dilakukan untuk memperoleh sample untuk biopsi dan mengumpulkan hapusan bronkial tumor yang terjadi di cabang bronkus. Tingkat mortalitas perioperatif sebesar 3 % pada lobektomi dan 6 % pada pneumorektomi. Tetapi radikal sesuai untuk penyakit yang bersifat lokal dan hanya menyembuhkan sedikit diantaranya. namun hanya < 25 % kasus yang biasa di operasi dan hanya 25 % diantaranya ( 5 % dari semua kasus ) yang telah hidup setelah 5 tahun.M1 (Price. 2) Radioterapi radikal Digunakan pada kanker paru bukan sel kecil yang tidak bisa di operasi. 1998 ) a) Foto dada menunjukkan sisi lesi b) Analisis sputum untuk sitologi menyatakan tipe sel kanker c) Skan tomografi komputer dan tomogram paru menunjukkan lokasi tumor dan ukuran tumor. H. Setiap G. 3) Radioterapi paliatif . limpa ) g) Mediastinoskopi menentukan apakah tumor telah metastase ke limfe mediastinum.

Pemeriksaan fisik 1) Sistem pernafasan a) Sesak nafas. 6) Perawatan Faliatif Mengurangi dampak kanker. 4) Kemoterapi Digunakan pada kanker paru sel kecil karena pembedahan tidak pernah sesuai dengan histologi kanker jenis ini. sesak nafas atau nyeri lokal. tetapi laser atau penggunaan stent dapat memulihkan gejala dengan cepat pada pasien dengan penyakit endobronkhial yang signefikan. penurunan BB 2) pola minum : Frekuensi minum meningkat ( rasa haus ) 3) pola tidur : Susah tidur karena adanya batuk dan nyeri dada 4) Aktivasi : Keletihan.Untuk hemoptisis. 5) Terapi endobronkhial Seperti kerioterapi. Keadaan umum : Lemah. sesak yang disertai nyeri dada b. meningkatkan kualitas hidup. Peran kemoterapi pada kanker bukan sel kecil belum jelas. kelemahan c. I. Kebutuhan dasar 1) pola makan : Nafsu makan berkurang karena adanya sekret dan terjadi kesulitan menelan ( disfagia ). Pengumpulan data a. batuk. PENGKAJIAN 1. paralysis pita suara . nyeri dada b) Batuk produktif tak efektif c) Suara nafas : Mengi pada inspirasi d) Serak.

Menggambarkan bentuk. Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.muntah b) Kesulitan menelan c) Penurunan intake makanan. BB menurun 4) Sistem urinarius Peningkatan frekuensi / jumlah urine 5) Sistem neurologis a) Perasaan takut / takut hasil pembedahan b) Kegelisahan a. disritmia b) Menunjukkan pericardial ) efusi ( gesekan 3) Sistem gastrointestinal a) Mual. effuse pleural. Data penunjang a) Foto rontgen dada secara posterior-anterior Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus. c) CT-Scanning untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura d) MRI Untuk menilai kelainan tumor yang menginvasi kedalam .2) Sistem kardiovaskuler a) Takikardia. ukuran dan lokasi lesi. b) Bronkhografi.

Insiden tumor Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC). Pemeriksaan sitologi tidak selalu memberikan hasil positif karena ia tergantung dari : a) Letak tumor terhadap bronkus b) Jenis tumor c) Tekhnik mengeluarkan sputum d) Jumlah sputum yang diperiksa. aspirasi kelenjar getah bening servikal. . pemeriksaan 3-5 berturut-turut. g) Pemeriksaan Histopatologi Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas diagnosis kanker paru untuk mendapatkan spesimennya dapat dengan cara biopsi melalui : a) Bronkoskopi Memungkinkan visualisasi. f) Pemeriksaan Sitologi : Pemeriksaan sitologi sputum rutin dikerjakan terutama bila pasien ada keluhan batuk.dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui). Dianjurkan e) Waktu pemeriksaan sputum ( sputum harus segar ) Pada kanker paru yang letaknya sentral. e) Bone scanning Pemeriksaan ini diperlukan bila diduga ada tanda-tanda metastasis ke tulang. sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %. mediastinum.vertebrata. medula spinal. b) Trans Torakal Biopsi ( TTB ) Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm. Supraklavikula. bilasan dan sikatan bronkus pada bronkoskopi. pencucian bagian. pemeriksaan sputum yang baik dapat memberikan hasil positif sampai 67-85 % pada karsinoma sel skuamosa. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada cairan pleura.

6. Perubahan proses Pikir berhubungan dengan Sindrom SSP (susunan saraf pusat) dan/atau peningkatan tekanan intracranial sekunder terhadap terapi radiasi cranial. faktor psikologis. ancaman untuk/perubahan status kesehatan.c) Torakoskopi Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi. Hasil biopsi memberikan nilai positif 40 % dari studi lain nilai negatif palsu pada mediastinoskopi di dapat sebesar 3-12 ( diikuti dengan torakotomi ). Dan/atau obat-obat penghilang rasa nyeri yang dapat mengganggu kemampuan untuk membersihkan sekresi. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Danielle Gale. J. Kurang pengetahuan berhubungan dengan terapi radiasi kranial 7. terpasangnya jalan napas buatan yang menghambat kemampuan untuk membersihkan sekresi. e) Torakotomi Untuk diagnosis kanker paru dikerjakan bila berbagai prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor. 3.takut mati. Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan krisis situasi. menurunnya tingkat kesadaran karena anesthesia. Perubahan Nutrisi Kurang dari kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Tidak mampu mencerna makanan yang masuk secara adekuat karena lokasi tumor dan penanganan tumor seperti kemoterapi dan/atau terapi radiasi. Kerusakan Pertukaran Gas Berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dari paru dengan permukaan yang terkena karena kanker atau pneumonia. Resiko terhadap Bersihan Jalan Napas Tak efektif berhubungan dengan Peningkatan jumlah sekresi akibat dari manipulasi pembedahan. Resiko Tinggi terhadap Disfungsi Neurovaskuler Perifer berhubungan . proses penyakit kronis 5. 2. 8. d) Mediastinoskopi Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat dapat dilakukan dengan cara mediastinoskopi dimana mediastinoskopi dimasukkan melalui insisi supra sternal. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder. 4.2000 1.

Perubahan Nutrisi Kurang dari kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Tidak mampu mencerna makanan yang masuk secara adekuat karena lokasi tumor dan penanganan tumor seperti kemoterapi dan/atau terapi radiasi. dan/atau ulserasi. Resiko terhadap Konstipasi berhubungan dengan Neurotoksistas dari agen kemoterapi alkaloid vinka seperti vinblastine dan viankritisne. 11. 10.dengan kerusakan saraf Karena kemoterapi. Diare berhubungan dengan Perubahan pada membrane mukosa kolon dan usus besar. 9. terutama agen alkaloid vinka seperti vincristine dan vinblastine dan agen lainnya seperti ciplatin. stomatitis dengan kemoterapi/ radiasi yang mukolitis. Memberikan Kaji makanan yang disukai dan/atau informasi untuk .2000 dan Lynda Juall Carpenito.2000 1. Definisi : Suatu keadaan di mana individu yang tidak puasa mengalami atau yang berisiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan yang takadekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik. Kaji adanya anoreksia. nyeri mulut. mual. muntah Tanda dan gejala yang berhubungan (berapa kali dan jumlah). muntah Berat badan turun Mengeluh masukan makan kurang Cepat merasa kenyang Tidak mampu makan sehubungan dengan dipsnea atau keletihan. taxol. atau disfagia. procarbazine. K. Intervensi Rasional Anoreksia Mual. Dispepsia. mempengaruhi mukosa oral atau gastrointestinal yang membuat pencernaan makanan menjadi sulit. Batasan Karakteristik : a) b) c) d) e) f) Kriteria hasil : Pasien makan cukup makanan untuk mempertahankan berat badan dalam 5% berat badan dasar. Nyeri berhubungan dengan parestesia menyakitkan karena agen kemoterapi. FOKUS INTERVENSI Menurut Danielle Gale.

jika ada Meningkatkan pemasukan makanan. Menurukan stimulus pada pusat muntah dan mengurangi mual berkaitan dengan peningkatan waktu tidur. Berikan makan. Stomatis dari kemo/radioterapi dapat menyebabkan mukosa kering. yang membuat kesulitan bernapas. kelemahan. obat antiemetik sebelum Mencegah mual dan muntah dan meningkatkan pemasukan makanan yang adekuat. iritasi. Meningkatkan kelembaban dalam rongga mulut yang merupakan efek Tawarkan saliva buatan jika ada maslah samping dari radiasi. Tawarkan makanan sedikit tapi sering. pada metabolisme tubuh dan jeratanjeratan nutrient dengan memecah sel tumor secara cepat. anjurkan pasien untuk makan saat tidak merasa lapar. Kaji penurunan berat badan. dan Berikan perawatan mulut sebelum amat nyeri yang membuat kesulitan makan dan/atau anesthesia local/topical untuk makan. Berikan kemoterapi saat malam hari. Kaji adanya rasa cepat kenyang.yang tidak disukai. Akibat dari pengaruh metabolik tumor kakeksia. . jika ada masalah nyeri mulut/oral. mulut kering. perencanaan diet. penurunan massa otot/jaringan. Mencegah distensi berlebihan dari lambung yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada diafragma.

Kerusakan Pertukaran Gas Berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dari paru dengan permukaan yang terkena karena kanker atau pneumonia. mungkin mengindikasikan distress pernapasan dan memerlukan intervensi segera. kedalaman pernapasan. Dipsnea Hipoksia Gelisah Gas darah abnormal Intervensi Rasional Kaji frekuensi. 2.Memberikan kalori dan masukan protein tinggi untuk mempertahankan cadangan protein dan Tawarkan kudapan dengan tinggi protein kalori. atau menggunakan otot-otot aksesoris menggunakan otot-otot Bantu napas dan/atau sianosis. Perubahan dalam pola dan/atau frekuensi dan mudah timbul dispnea. pernapasan. dan/atau cairan pengganti yang mudah di konsumsi. mencegah keletihan. sianosis. Definisi : Keadaan di mana seorang individu mengalami penurunan jalannya gas ( oksigen dan karbondioksida ) yang aktual ( atau dapat mengalami potensial ) antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular. . Batasan Karakteristik : a) b) c) d) Kriteria Hasil : Oksigenasi jaringan dapat dipertahankan. dispnea.

Meningkatkan potensi ventilasi secara Anjurkan minum minimal 2 liter per maksimal. mental. kaji penurunan adanya suara tambahan mengindikasikan atau hilangnya ventilasi. kendali pernapasan. pake rangsang. suara-suara tambahan seperti mengi. hari. dalam. Kaji perubahan kesadaran. Meningkatkan Biasanya dengan kanula 2-3 L/menit. ronki. dilakukan. Adanya hal-hal ini mungkin mengindikasikan penurunan oksigenasi jaringan otak. potensial ventilasi . gelisah. dan adanya kebutuhan intervensi tambahan. Membantu untuk mengeluarkan sekresi.Suara napas menurun/hilang mengindikasikan kolaps paru atau Auskultasi suara napas. status Difusi dan pertukaran O² dan CO² dipengaruhi jika ketersediaan permukaan jaringan berkurang atau menurun dan mungkin mengakibatkan Kaji hasil analisa gas darah jika ketidakseimbangan asam asam basa yang memerlukan intervensi segera. Peningkatan masukan cairan diperlukan untuk menghilangkan sekresi dan lebih Anjurkan untuk batuk efektif dan napas mudah untuk membatukkannya. Membantu mempertahankan oksigenasi Berikan posisi semi Fowler atau Fowler jaringan adekuat tanpa menekan pusat tinggi atau izinkan untuk duduk di kursi. maksimum. Berikan Oksigen sesuai kebutuhan.

. menurunnya tingkat kesadaran karena anesthesia. Berikan aerosal atau pengobatan nebulizer sesuai kebutuhan Berikan brokodilator sesuai kebutuhan.Meningkatkan terbukanya jalan napas. Batasan karakteristik : a) b) c) d) e) f) g) Suara napas abnormal (rale. Infeksi muncul dan hilang secara teratur pada permukaan paru karena adanya pertukaran gas. krekels. Dan/atau obat-obat penghilang rasa nyeri yang dapat mengganggu kemampuan untuk membersihkan sekresi. terpasangnya jalan napas buatan yang menghambat kemampuan untuk membersihkan sekresi. ronki) Frekuensi dan kedalaman pernapasan menurun Takikardia Batuk tidak efektif Sianosis Dipsnea Nyeri yang menghambat kemampuan untuk batuk Kriteria hasil : kecepatan pernapasan kembali pada batas-batas normal dengan jalan napas paten. Definisi : Suatu keadaan di mana seseorang individu mengalami suatu ancaman yang nyata atau potensial pada status pernapasan. Risiko terhadap Bersihan Jalan Napas Takefektif berhubungan dengan Peningkatan jumlah sekresi akibat dari manipulasi pembedahan. Berikan antibiotik sesuai pesanan 3.

tampak adanya ektopik ventrikel dan/atau penurunan saturasi oksigen. selama. Memantau oksigen sebelum.Intervensi Rasional Tentukan kebutuhan akan Mungkin sangat diperlukan penghisapan oral dan/atau trakea. nasotrakeal masukan jalan napas nasal. hisapan tersebut. Pilih kateter dengan diameter setengah dari diameter jalan napas. Mengetahui /menemukan Auskultasi pengunaan penghisap penghisapan itu efektif. jika Instruksikan pasien untuk mengambil Untuk penggunaan penghisap napas sebelum. kesehatan tidak ada. . Tindakan untuk mencegah penurunan saturasi dan trauma yang berlebihan Gunakan penghisap dengan risiko selama melakukan tindakan penghisapan dimana lapisan mukosa sedikit terkena nasofaringeal. penggunaan oksigen tambahan sesuai kebutuhan. untukmempertahankan terbukanya jalan napas. Tanda-tanda yang mengindikasikan distres pernapasan dan/atau jantung berkaitan dengan kekurangan oksigen. Hentikan penghisapan dan berikan suplemen oksigen jika pasien memperlihatkan adanya brakardia. Mencegah penghantaran infeksi bacteria kedalam paru yang dapat menimbulkan infeksi. dan sesudah tindakan. Meningkatkan kepatuhan Instruksikan pasien dan/atau keluarga terhadap pentingnya dilakukan penghisapan. selama dan setelah nasotrakel masukan jalan napas nasal. Gunakan alat-alat steril untuk setiap prosedur penghisap nasofaring. Membantu pasien/keluarga dalam Instruksikan pasien dan/atau keluarga mempertahankan kepatenan jalan napas tentang risiko penghisapan mulut ketika pemberi asuhan/pelayanan dan/atau nasotrakeal sesuai kebutuhan.

Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder. proses penyakit kronis Definisi : peningkatan resiko dikarenakan mikroorganisme patogenik Kriteria hasil : Mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam intervensi untuk mencegah/mengurangi resiko infeksi Tetap tidak demam dan mencapai pemulihan tepat pada waktunya .4.

Kaji semua sistem tanda/gejala infeksi. mengidentifikasi pasien imunosupresi. Peningkatan suhu terjadi karena berbagi faktor. pertahankan linen kering dan bebas kerutan.Intervensi Rasional Tingkatkan prosedur mencuci tangan Lindungi pasien dari smber-sumber yang baik dengan staf dan infeksi. mengalami ISK. misalnya efek samping kemoterapi. invasif. Tekankan higiene personal. seperti pangunjung dan staf pengunjung. Menurunkan tekanan dan iritasi pada jaringan dan mencegah kerusakan kulit (sisi potensial untuk perkembangan bakteri). Mungkin digunakan untuk Batasi/hindari prosedur Taati tehnik aseptik. Pengenalan diri dan intervensi terhadap segera dapat mencegah progresi pada situasi/sepsis yang lebih serius. Terjadinya stomatitis meningkatkan risiko terhadap infeksi. membatasi entri portal terhadap agen Tekankan pentingnya higiene oral infeksius. proses penyakit atau infeksi. Ubah posisi sering. baik. Berikan antibiotik sesuai indikasi. Membantu potensial sumber infeksi dan/ pertumbuhan sekunder. Panta suhu. infeksi atau diberikan secara profilaktik pada . Menurunkan resiko kontamonasi.

d) Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif. Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan krisis situasi.takut mati. faktor psikologis. ancaman untuk/perubahan status kesehatan. Definisi : Keadaan di mana individu/ kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom dalam berespons terhadap ancaman yang tidak jelas. Kriteria hasil : a) Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya. c) Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani. . b) Mengakui dan mendiskusikan takut.5.

meditasi. . 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan terapi radiasi pada dada untuk kanker paru. Rasional Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas. Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi. Definisi : Suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalamindefisiensi pengetahuan kognitif atau keterampilanketerampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan. Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan. emosi labil. Identifikasi persepsi klien ancaman yang ada oleh situasi terhadap Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu. Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi. bimbingan imajinasi. Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi.Intervensi Observasi peningkatan gelisah. Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.

penilaian dan pemahaman yang . pneumotitis (1-3 bulan setelah pengobatan). rambut rontok. Jelaskan efek samping yang mungkin Berkaitan dengan efek terapi dari terapi radiasi pada dada. berdasarakan kebutuhan pasien. untuk merencanakan aktivitas seharilamanya pengobatan. pengobatan dimulai). orientasi realitas. 7. mielitis (jangka lama). Kriteria Hasil : Pasien dapat mendiskusikan kemungkinan efek samping dari penanganan radiasi pada dada dan bagaimana mengatasinya jika efek samping ini timbul/terjadi. pengobatan tersebut. Beritahu pasien/kelurga kapan Informasi kebutuhan pasien/keluarga pengobatan akan dimulai.Batasan Karakteristik : Pasien mengeluh kurang pengetahuan dan/atau bertanya tentang pengobatan terapi radiasi yang bakan dijalaninya. Definisi : Keadaan di mana individu mengalami suatu gangguan dalam aktivitas mental seperti berpikir sadar. disfagia dan esofagitis ( 3 minggu setelah jaringan sekitarnya. Intervensi Rasional Kaji pengetahuan tentang rencana Memberikan informasi untuk pengobatan terapi radiasi dan mengembangkan rencana pengobatan kemungkinan efek sampingnya. sekresi bronchial yang kental. waktu. fibrosis pulmonal. perikarditis. reaksi kulit pada daerah tersebut radiasi secara fisik pada lapang paru dan (7-10 hari setelah pengobatan). pemecahan masalah. tujuan dari hari sekitar pengobatan. Perubahan proses Pikir berhubungan dengan Sindrom SSP (susunan saraf pusat) dan/atau peningkatan tekanan intrakranial sekunder terhadap terapi radiasi kranial.

.berhubungan dengan koping. Intervensi Rasional Kaji tanda dan gejala peningkatan Radiasi cranial dapat menyebabkan tekanan intracranial (TIK) perubahan proses pembengkakan pada jaringna pengelihatan. mual. Hindari aktivitas yang meningkatkan Mencegah trauma atau kerusakan otak tekanan intracranial. Pantau status neurologis secara terus Radiasi kranial dapat menyebabkan menerus. dan sakit otak yang mengalami trauma. muntah. status mental Meningkatkan orientasi pasien. Berikan keyakinan yang optimis tetapi Meningkatkan adaptasi pada perubahan realistis pada keluarga dan pasien. kepala. Batasan Karakteristik : a) Memori hilang b) Tremor c) Somnolen d) Bicara tidak jelas e) Tidak mampu belajar f) Sakit kepala g) Perubahan pengelihatan h) Mual dan muntah Kriteria hasil : Pasien dan/atau keluarga atau orang terdekat mampu mengidentifikasi perubahan status mental yang perlu untuk dilaporkan pada tim tenaga kesehatan. lebih lanjut. sindrom SSP yang mengakibatkan perubahan pada status mental.

Keruskan saraf dari alkaloid vinca dapat menggangu kemampuan penerimaan stimulus taktil. karena demielinisasi dan degenerasi akson saraf. Definisi : Suatu keadaan di mana seorang individu berisiko mengalami suatu gangguan sirkulasi. taxol. Intervensi Rasional Pantau terhadap parestesia : kebas. Parastesia dari alkaloid vinca mungkin kesemutan sebelum setiap dosis obat. kelemahan otot atau atrofi otot. . terutama agen alkaloid vinka seperti vincristine dan vinblastine dan agen lainnya seperti ciplatin. atau gerakan ekstremitas. Pantau respons pada rangsang taktil. Risiko Tinggi terhadap Disfungsi Neurovaskuler Perifer berhubungan dengan kerusakan saraf Karena kemoterapi. berjalan. penempatan bagian tubuh tertentu. refleks tendon dalam. procarbazine. Kerusakan saraf dari alkaloid vinca mungkin dapat menyebabkan perubahan Kaji fungsi propriosepsi seperti gaya pada fungsi propriosepsi. keseimbangan.Kaji orientasi dan orientasikan kembali sesuai kebutuhan. Batasan karakteristik : a) Pasien mengeluh hilangnya gerakan motorik halus b) nyeri terbakar pada ekstremitas c) baal pada ekstremitas d) gangguan berdiri Kriteria hasil : perubahan persepsi/sensori akan terdeteksi secara dini dan rasa tidak nyaman dan/atau hilang fungsi darinya akan minimal. sensasi. 8.

Meningkatkan kemandirian dengan memaksimalkan fungsi yang ada. Gangguan sensori dapat mempengaruhi Rujuk dengan tepat pada terapi okupasi kemampuan untuk melakukan aktivitas atau terapi fisik. 9. Batasan Karakteristik : a) Pasien mengeluh terasa terbakar b) Kesemutan c) Nyeri gesekan pada ekstremitas Kriteria Hasil : Nyeri pasien akan menurun Intervensi Rasional Kaji tingkat kenyamanan dan adanya Memberikan informasi penting untuk kesemutan hebat atau sensasi gesekan. Diskusikan dampak dari perubahan neurologis terhadap aktivitas sehari-hari dan kebutuhan yang mungkin dan/atau terapi fisik. hidup sehari-hari yang memerlukan bantuan seorang profesionalisme untuk memaksimalkan fungsi tersebut. Definisi : Keadaan di mana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam berespons terhadap suatu rangsangan yang berbahaya. .Beritahu dokter jika ada perubahan pada Meningkatkan identifikasi dini terhadap status neurologist. efek samping obat atau agen tertentu yang mungkin mengakibatkan penghentian atau penurunan dosis obat yang diberikan. Nyeri berhubungan dengan parestesia menyakitkan karena agen kemoterapi.

frekuensi dari obat-obat nyeri yang diresepkan dokter dan bahwa efek dari medikasi itu mungkin tidak segera Meningkatkan penggunaan obat yang benar untuk keuntungan maksimum.kram atau rasa terbakar. Identifikasi factor-faktor presipitasi seperti texrpajan panas atau dingin dan cara-cara menghindarinya. catat intensitas. Panas dan/atau dingin meningkatkan rasa nyeri. waktu. natrium fenitoin (Dilantin). . sperti bimbingan imajinasi. masase. dalam dapat Tawarkan pasien tindakan-tindakan nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri . mengembangkan rencana perawatan. relaksasi otot progresif. dan lain-lain. Tindakan-tindakan tersebut mungkin bermanfaat dalam menghilangkan nyeri yang resisten pada metode penanganan Instruksikan pasien/keluarga tentang nyeri tradisional seperti obat-obat nyeri tindakan-tindakan untuk menghilangkan non-narkotik dan narkotik. Berikan analgesic dengan kerja neurologist seperti amitriptilin HCI (Elavil). Agen-agen ini diindikasikan pengobatan nyeri disestetik. kualitas dan frekuensi dari sensasi tersebut. nyeri meliputi obat-obatan dan teknik lain yang bermanfaat pada nyeri neuropatik. Nyeri neuropatik lebih sulit untuk hilang dan menggunakan penggunaan tindakan penghilang nyeri non-tradisional Beritahu pasien/keluarga mengenai dosis.

Intervensi Kaji pola eliminasi defekasi. Memberikan informasi memformulasikan perencanaan. Resiko terhadap Konstipasi berhubungan dengan Neurotoksistas dari agen kemoterapi alkaloid vinka seperti vinblastine dan viankritisne. pasase. dapat mengarah pada ileus paralitik dengan nyeri abdomen berat. untuk Meningkatkan kandungan cairan lebih Anjurkan masukan cairan per hari 2-3 tinggi pada feses untuk kemudahan liter. Kriteria Hasil : Pasien akan mempunyai pola defekasi teratur. Anjurkan makan tinggi serat Degredasi serat dalam kolon membantu dalam membentuk dan pasase feses. Definisi : Keadaan di mana individu berada pada risiko mengalami status usus besar. Rasional Memberikan informasi dasar. yang mengakibatkan jarang eliminasi dan/atau feses keras dan kering. Meningkatkan kerja propulsif usus.10. mengeluh konstipasi. Anjurkan latihan teratur. Pantau bising usus dan/atau proses defekasi. Batasan Karakteristik : lebih umum dengan vineristine dan/atau vinblastine dosis tinggi (20 mg). Mencegah ileus paralitik melalui .

Intervensi Ambil fese untuk kultur dan sensitivitas Memberikan infeksi. Mencegah penggunaan obat-obat yang yang dapat menyebabkan diare. pada Pantau kulit pada daerah perineal Meningkatkan perawatan kulit terhadap kemungkinan iritasi dan mungkin dapat mencegah infeksi ulserasi. atau feses tidak berbentuk. Batasan Karakteristik : a) Feses cair b) sering defekasi c) desakan defekasi Kriteria Hasil : pasien mengungkapkan pemahamannya tentang strategi koping pada efek samping ini. dan . Definisi : Keadaan di mana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami defekasi sering dengan feses cair. Berikan laksatif jika tidak dapat defekasi paling sedikit satu kali sehari. Diare berhubungan dengan Perubahan pada membrane mukosa kolon dan usus besar.defekasi regular. 11. Rasional informasi mengenai Evaluasi sifat pengobatan mempunyai efek samping gastrointestinal.

2000. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Underwood. J. Surabaya : Airlangga Carpenito. hood. Jilid II. patrick. 2006. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta : Erlangga Engram. 1999. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II.E. At a Giance Medicine. Jakarta : EGC . 1993. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8 : Jakarta. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah volume I. Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses Holistik. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Suyono. Danielle dkk. Barbara C. Barbara. Edisi 3. Jakarta : EGC Gale. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran Sudoyo. 1998.2001.C. 2003. 1996. Patologi Umum & Sistemik Edisi 2. Jakarta : EGC Long. Pengantar Ilmu Penyakit Paru.Timbang berat badan secara reguler Memberikan mengenai diet yang adekuat. 2000.dkk. EGC Davey. Slamet.Lynda Juall. informasi DAFTAR PUSTAKA Alsagaaff. Aru W dkk.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful