BAB I KONSEP DASAR MEDIS CA MAMAE A.

PENGERTIAN Kanker merupakan buah dari perubahan sel yang mengalami pertumbuhan tidak normal dan tidak terkontrol. Peningkatan jumlah sel tak normal ini umumnya membentuk benjolan yang disebut tumor atau kanker. Tidak semua tumor bersifat kanker. Tumor yang bersifat kanker disebut tumor ganas, sedangkan yang bukan kanker disebut tumor jinak. Tumor jinak biasanya merupakan gumpalan lemak yang terbungkus dalam suatu wadah yang menyerupai kantong, sel tumor jinak tidak menyebar ke bagian lain pada tubuh penderita. ( http;//tategea.blog.friendster.com/2007/12/ca-mamae ) Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. ( Erik T, 2005, hal : 39-40 ) Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari selsel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. ( http//www.pikiranrakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Harianto, dkk ) Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. ( Harianto dkk, 2005 ) Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. ( blogdokter, 2007) Kanker payudara adalah kanker yang relatif sering dijumpai pada wanita merupakan penyebab kematian utama pada wanita berusia antara 45 dan 64 tahun ( Elizaberth J. Corwin, 2000 ) B. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. Faktor presipitasi dan faktor predisposisi a. Faktor presitipasi Belum diketahui b. Faktor predisposisi 1) Riwayat pribadi tentang kanker payudara. Risiko mengalami kanker payudara pada payudara sebelahnya meningkat hampir 1 % setiap tahun. 2) Anak perempuan atau saudara perempuan (hubungan keluarga langsung) dari wanita dengan kanker payudara.

Resikonya meningkat dua kali jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun. Resiko meningkat 4 sampai 6 kali jika kanker pyudara terjadi pada dua orang saudara langsung. 3) Menarke dini. Resiko kanker payudara meningkat pada wanita yang menglami menstruasi sebelum usia 12 tahun. 4) Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama. Wanita yang mempunyai anak pertama setelah usia 30 tahun mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara di banding dengan wanita yang mempunyai anak pertama mereka pada usia sebelum 20 tahun. 5) Menopause pada usia lanjut. Menoupouse setelah usia 50 tahun meningkatkan resiko untuk mengalami kanker payudara. Dalam perbandingan, wanita yang telah mengalami oovorektomy bilateral sebelum usia 35 tahun mempunyai resiko 1/3 nya. 6) Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel ploriferatif mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara, wanita mengalami dengan hyperplasia tipikal mempunyai resiko empat kali lipat untuk mengalami penyakit ini. 7) Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun berisiko hampir dua kali lipat. 8) Obesitas resiko rendah diantara wanita pasca menopause. Bagaimanapun, wanita gemuk yang di diagnose penyakit ini mempunyai angka kematin lebih tinggi yang paling seringberhubungan dengan diagnosis yang lambat. 9) Kontraseptif oral. Wanita yang menggunakan kontraseptif oral beresiko tinggi untuk mengalami kanker payudara. Bagaimanapun resiko tinggi ini menurun dengan cepat setelah penghentian medikasi. 10) Terapi penggantian hormone. Terdapat laporan yang membingungkan tentang risiko kanker payudara pada terapi penggantian hormone. Wanita yang berusia lebih tua yang menggunakan estrogen. 11) Masukan alcohol. Sedikit peningkatan resiko ditemukan pada wanita yang mengkonsumsi alcohol bahkan hanya dengan sekali minum dalam sehari. Resikonya dua kali lipat diantara wanita yang minum alcohol tiga kali sehari. Beberapa temuan riset menunjukan bahwa wanita muda yang minum alcohol lebih rentan untuk mengalami kanker payudara pada tahun-tahun terakhirnya. (Brunner and

Suddarth 2002) C. PATOFISIOLOGI Neoplasma berarti “pertumbuhan baru” adalah massa abnormal dari selsel yang mengalami proliferasi sel-sel neoplasma berasal dari sel-sel yang sebelumnya adalah sel-sel normal, namun selama mengalami perubahanperubahan neoplastik mereka memperoleh derajat otonomi tertentu yaitu sel neoplastik tumbuh dengan kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang sangat tidak bergantung pada pengawasan homeostatis sebagian besar sel tubuh lainnya. Pertumbuhan sel neoplasmatik biasanya progresif yaitu tidak mencapai keseimbangan, tetapi lebih banyak mengakibatkan penambahan massa sel yang mempunyai sifat-sifat yang sama neoplasma tidak melakukan tujuan yang bersifat adaptasi yang menguntungkan hospes tetapi lebih sering membahayakan. Akhirnya oleh karena sifat otonom sel neoplastik, walaupun rangsangan yang menyebabkan neoplasma sudah dihilangkan neoplasma terus tumbuh dengan progresif. Istilah tumor kurang lebih merupakan sinonim dari istilah neoplasma, semula istilah tumor diartikan secara sederhana sebagai pembengkakan/gumpalan dan kadang-kadang istilah “Tumor Sejati” dipakai untuk membedakan neoplasma dengan gumpalan lainnya. Neoplasma dapat dibedakan berdasarkan sifat-sifatnya. Ada yang jinak, adapula yang ganas dan ada banyak tumor atau neoplasma lain yang tidak bersifat kanker ( C.J.H Van de velde dkk. 2000 ) Pemeriksaan Penunjang : 1. Histologi dan sitologi a. Eksisi ataupun giopsi b. Aspirasi jarum halus c. Hapusan sitologi Pentahapan patologi didasarkan pada histology memberikan prognosis yang lebih akurat. Tahap-tahap yang penting diringkaskan berikut ini: 1. Tahap I : terdiri atas tumor yang kurang dari 2 cm, tidak mengenai nodus limfe, dan tidak terdeteksi adanya metastasis. 2. Tahap II : terdiri atas tumor yang lebih besar dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm, dengan nodus limfe tidak terfiksasi negative atau positif, dan tidak terdeteksi adanya metastasis. 3. Tahap III : terdiri atas tumor yang lebih besar dari 5 cm, atau tumor dengan sembarang ukuran yang menginvasi kulit atau dinding, dengan nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular, dan tanpa bukti adanya metastasis.

dan Metastasis (Pentahapan TNM) Tahap 0 Tis N0 M0 Tahap I T1 N0 M0 Tahap IIA T0 N1 M0 T1 N1 M0 T2 N0 M0 Tahap IIB T2 N1 M0 T3 N1 M0 Tahap IIIA T0 N2 M0 T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N1 M0 T3 N2 M0 Tahap IIIB T4 Sembarang N M0 Sembarang T N3 M0 Tahap IV Sembarang T Sembarang N M1 Keterangan: Tumor Primer (T) : • T0 : Tidak ada bukti tumor primer • Tis : Karsinoma In Situ. Tahap IV : terdiri atas tumor dalam sembarang ukuran. Pentahapan Kanker Payudara Berdasarkan Tumor. dan adanya metastasis jauh.4. karsinoma intraduktal. atau penyakit Paget’s putting susu dengan atau tanpa tumor • T1 : Tumor < 2 cm dalam dimensi terbesarnya • T2 : Tumor > 2 cm tetapi tidak > 5 cm dalam dimensi terbesarnya • T3 : Tumor > 5 cm dalam dimensi terbesarnya . Nodus. karsinoma lobular in situ. dengan nodus limfe normal atau kankerosa.

Kerusakan DNA Sel normal Menonaktifkan gen supresor kanker Adiopatik Neoplasma ganas apoptosis Pengaruh gen yang Genom MutasiPerubahan struktur dalam mengatur gen yang meningkatkan pertumbuhan sel somatic Karsinogen oksigen Agen perusak DNA Kimia Radiasi Virus Fakto predisposisi Riwayat kanker payudara Keturunan Menarke dini • T4 : Tumor sembarang ukuran dengan Nulipara ukuran perluasan ke dinding dada atau kulit. Neroupouse setelah usia 50 tahun Nodus Limfe Regional (N) Riwayat penyakit payudara jinak N0 : Tidak ada metastasis nodus limfe regional • N1 : metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral (S) yang dapat digerakan. • N2 : metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral (s) terfiksasi pada satu sama lain atau pada struktur lainnya • N3 : metastasis ke nodus limfe mamaria internal ipsilateral Matastasis Jauh (M) • Tidak ada metastasis yang jauh • M1 : metastasis jauh (termasuk metastasis ke nodus limfe supraklavikular ipsilateral) (Brunner and Suddarth 2002) • PATHWAY .

Merusak organ tubuh mamae .

darah. mual muntah. Perubahan tekanan darah. g.2002 jeruk). Pengelupasan f. Terdapat massautuh kenyal. g. b. saraf d. Perubahan eliminasi. Bosman. semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor. gejala kanker payudara yaitu: a. Anoreksia. Manifestasi Klinik sembarang ukuran dengan nodus limfe normal atau kankerosa dan adanya metastase jau u tumor dengan sembarang ukuran yang menginvasi kulit atau dinding dengan nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular da Gejala yang ditimbulkan tergantung dari asal tumor primer serta arah penyebaran tumor. Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena). Kelemahan.dibawah ketiak bentuknya tak beraturan dan jauh Metastase terfiksasi.com) Manifestasi klinis post oprasi : a. Ada dua cara yaitu dengan Pembedahan dan Non Pembedahan. Edema dengan “peant d’ orange (keriput seperti kulit kulit Brunner & Suddarth. h. F. ( http://ppni-klaten 2009. Seluruh payudara. tarikan dan refraksi pada areola otak mammae. pleura C. 2000) 3. e. Pembedahan : 1) Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). e.J.Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV ganas ak mengenai nodus limfe dan tidak terdeteksi adanya metastasis i kurang dari 5 cm dengan nodus limfe tidak terfiksasi negative atau positif dan tidak terdeteksi adanya metastasis Terdiri atas tumor dalam 2. Nyeri luka oprasi. b.H Van de velde. D.J. c. Nyeri diHepar massa. biasa di kwadran atas bagian dalam. cairan encer padahal ibu tidak sedang hamil / menyusui. Keterbatasan aktifitas. Penatalaksanaan 1. Keluar cairan abnormal dari putting susu berupa nanah. antara lain: a. 2) Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara.Wagener 2000 papilla mammae. d. semua atau sebagian besar jaringan dan luasnya . Adanya tulang lekukansumsum tulang ke dalam. (Bruner and suddart. 3) Mastektomi radikal yang dimodifikasi. f. daerah paru-paru c. Perubahan bising usus (efek anestesi).T.Th. Perubahan bentuk dan besar payudara. Adanya kerusakan dan retraksi pada area putting. Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi.

otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya. LED. Pemeriksaan sitologis b. b. ada 2 macam tindakan menggunakan jarum dan 2 macam tindakan pembedahan b) Aspirasi biopsy (FNAB) Dengan aspirasi jarum halus . Pemeriksaan Penunjang a. Test fal marker (CEA) dalam serum/plasma. pada metastase tulang. Test diagnostik lain : 1) Non invasive : a) Mamografi b) Ro thorak c) USG d) MRI e) PET 2) Invasif : a) Biopsi. Non pembedahan : 1) Penyinaran Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut. b) Mastektomi radikal yang diperluas : Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna. metastase kelenjar limfe aksila. coferektomiadrenalektomi hipofisektomi. sifat massa dibedakan antar kistik atau padat 3) True cut / Care biopsy Dilakukan dengan perlengkapan stereotactic biopsy mamografi untuk memandu jarum pada massa 4) Incisi biopsy 5) Eksisi biopsy Hasil biopsi dapat digunakan selama 36 jam untuk . Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah. seluruh isi aksial.aksial a) Mastektomi radikal : Seluruh payudara. (http://ppni-klaten 2009. 3) Terapi hormon dan endokrin Kanker yang telah menyebar.com) 2. memakai estrogen. 2) Kemoterapi Adjuvan sistematik setelah mastektomi. paliatif pada penyakit yang lanjut. androgen. antiestrogen.

mual atau muntah. (http://ppni-klaten 2009. Pasien mampu menunjukan . infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan.inflamasi ) efek samping berbagai agen terapi saraf. ancaman kematian.penurunan status nutrisi dan anemia . DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA KANKER 1.com) D. pola interaksi. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya cairan yang berlebih. g. Kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi keterbatasan kognitif.suplai vaskuler.tindakan invasif dan malnutrisi e. fungsi peran.Doenges 2002 adalah : a. f. d. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (destruksi jaringan saraf. perpisahan dari keluarga.status hipermetabolik . Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (destruksi jaringan saraf.dilakukan pemeriksaan histologik secara froxen section.efek samping kemoterapi. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekutnya masukan oral karena mual. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kanker payudara menurut Marlynn E.kehilangan rambut. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah.Tujuan : kebutuhan rasa nyaman pasien terpenuhi . c. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi perubahan pada status kesehatan. penularan perasaan interpersonal h. penurunan berat badan. Pasien mampu istirahat / tidur dengan tepat 3.Kriteria 1.anoreksia E. Resiko tinggi keruskan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemoterapi. inflamasi) efek samping berbagai agen terapi saraf. Pasien merasakan perasaan nyeri hilang / terkontrol 2. b. FOKUS INTERVENSI : 1. suplai vaskuler. .

Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi keefektifan evaluasi 9. dengarkan secara aktif dan beri dukungan. ketidaknyamanan dan keefektifan analgetik. Berikan obat sesuai indikasi (analgetik). misal : perawatan mulut. Diduga inflamasi peritoneal. Berikan tindakan kenyamanan. pijatan punggung / ubah posisi. Mencegah pengeringa mukosa oral dan ketidak nyamanan menurunkan ketegangan otot.dan meningkatkan kemampuan koping. Bantu pasien untuk latihan rentang gerak dan dorongan ambulasi dini. 7. . Intervensi Rasional 1. 3. hindari posisi duduk lama. Dorong relaksasi dalam. penggunaan tehnik misalnya : napas 8.meningkatkan relaksasi. 8. 9.penggunaan ketrampilan relaksasi. Membantu pasien untuk istirahat lebih efektifdan memfokuskan kembali sehingga mengurangi nyeri dan ketidak nyamanan. Menurunkan kekakuan otot/sendi. 2. 3. Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan 4.yang memerlukan intervensi medik cepat. 4. lokasi.meningkatkan kenyamanan. Membantu mengevaluasi derajat karateristik intensitas ( 0-10 ). 2. 6. Menurunkan ansietas / takut dapat meningkatkan kenyamanan / reseksi. ambulasi mengembalikan organ-organ ke posisi normal dan meningkatkan kembali fungsi ke tingkat normal. Observasi nyeri. Selidiki dan laporkan adanya kekakuan otot abdominal dan nyeri tekan. Mengurangi nyeri. 6. Tentukan riwayat nyeri. 7. Dorong pasien menyatakan masalah. 1. 5. Berikan tindakan kenyamanan dasar dan aktifitas hiburan. 5.

10. 3. Meningkatkan drainase dari luka parineal/draine menurunkan resiko pengumpulan.Duduk lama meningkatkan parineal. Observasi luka. Irigasi luka indikasi. 2. 10. Perdarahan pasca oprasi paling sering terjadi drainase.Tujuan : Integritas area insisi dapat di pertahankan . Evaluasi penghilang nyeri kembali perhatian.5 hari ) 6. hindari duduk lama 4. Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit cacat.menurunkan sirkulasi ke luka sehingga mengurangi penyembuhan. 5. 4.Kriteria : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi Intervensi 1. 5.gangguan gram/mol.larutan antibiotic. Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan. . Ganti balutan kebutuhan. Menurunkan iritasi kulit dan potensi infeksi. Diperlukan untuk mengobati inflamasi/infeksi pra oprasi atau kontaminasi intra oprasi. Berikan rendam duduk sesuai cairan NaCL 6. Dorong pasien Miring dengan kepala tinggi. gunakan aseptic Rasional 1. Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan insisi bedah atau proses pembedahan . Tujuannya adalah kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS. sesuai tehnik 3. Meningkatkan kebersihan dan memudahkan penyembuhan khususnya setelah tampon diangkat biasanya (3. karakteristik drainase 2. 2.

Batasi selama gaster. Meningkatkan sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit atau jaringan yang tidak perlu 8. 5. Untuk mempertahankan perfusi 4. dan semua iritsi harus dihindari untuk mencegah cidera dermal. Ovservasi kulit dengan sering terhadap efek samping pengobatan 3. Anjurkan penggunaan pakaian lembut dan longgar 9.ukur feces cair dan timbang berat badan tiap hari 2. Awasi tanda vital. Es batu dapat merangsang sekresi lambung dan mencuci elektrolit. Kulit sangat sensitive selama pengobatan dan setelahnya. evaluasi turgor kulit pengisian kapiler dan membrane mukosa 3. Intervensi 1.Kriteria : pasien mampu mempertahakan hidrasi adekuat di tandai dengan membrane mukosa lembab. 9. tanda vital stabil dan mampu mengeluarkan urine secara tepat. Awasi hasil laboratorium( H + dan elektrolit ). 2. 4. Mendeteksi hemostasis atau ketidak seimbangan dan menmbantu menentukan kebutuhan penggantian. . 3. masukan es batu periode instubasi Rasional 1. . Reaksi kulit dapat terjadi pada beberapa agen kemoterapi 8. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya cairan yang berlebih.Tujuan : kekurangan volume cairan tidak terjadi.7. Memberikan indikasi langsung keseimbangan cairan.catat hipotensi postural. Awasi masukan dan keluaran. . Menunjukkan status hidrasi/kemungkinan kebutuhan untuk meningkatkan penggantian cairan. status hipermetabolik .turgor kulit baik dan pengisian kapiler baik. takikardi. Ubah posisi dengan sering 7.

Membantu dalam memenuhi kebutuhan cairan dan menurunkan resiko efek samping yang membahayakan 4. 6. 3. Dorong peningkatan masukan cairan sampai ml/hari sesuai toleransi 8. Pantau tanda vital. 6. Indicator tidak langsung dari status dahidrasi atau drajat kekurangan 9. Untuk infeksi mencegah terjadinya 2. Intervensi 1.Tujuan :. dan jaringan adekuat/fungsi organ. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan.5. evaluasi nadi perife. menurunkan pengeluaran renal dan konsentrasi urine menunjukan dehidrasi dan perlunya peningkatan pengganti cairan 7. Rasional 1. Berikan cairan dan elektrolit. Pantau masukan pengeluaran. Pantau keseimbangan cairan negative terus menerus. 8. 3. Digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien monosupresi 2. Observasi tanda-tanda infeksi. perhatikan keluhan haus. tindakan invasif dan malnutrisi .Kriteria hasil : mencapai pemulihan luka tepat waktu. Lakukan perawatan luka. Peningkatan suhu 4-7 hari setelah . Kaji turgor kilitdan kelembaban membrane mukosa. Pantau tanda-tanda vital (perhatikan peningkatan suhu ).infeksi tidak terjadi . 9. bebas dari drinase purulen atau eritema dan demam. Menunjukkan volume sirkulasi keadekuatan 7.

Melindungi pasien dari kontaminasi selama penggantian balutan. Pengenalan diri dan intervensi segera. Tingkatkan prosedur tangan yang baik. dapat mencegah progresi sepsis yang serius.Tujuan : pasien dan keluarga dapat mengerti tentang perawatan penatalaksanaan di rumah sakit dan manejemen perawatan di rumah. 4. Pertahankan perawatan luka aseptic. . Intervensi Rasional 1. 6. Kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi keterbatasan ognitif. pasien mampu mengungkapkan tentang perawatan penatalaksanaan terhadap penyakit. 5. 5. . 7. 8.abses luka atau kebocoran cairan. Dengan menjelaskan di harapkan pasien dan keluarga dapat .pertahankan balutan kering . 2. pasien mengungkapkan tentang manajemen perawatan di rumah. Taati teknik aseptic saat prosedur infasive. Digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien monosupresi 8. Mungkin digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien imunosupresi 6. Melindungi pasien dari sumbersumber infeksi. mencuci pembedahan sering menandakan syok septic. Mempertahankan lingkungan yang aseptic yang optimal selama penempatan batas sentral disisi tempat tidur.Kriteria : 1.4. Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang 1. Kolaborasi pemberian antibiotik 5. 7.

Mencapai berat . penatalaksanaan dan mengerti dan memahami sehingga lebih kooperatif. dan pengobatan tepat waktu terhadap komplikasi 6. kesempatan untuk didiagnosa. dalam cara yang nyata. Tekankan pentingnya melakukan evaluasi medis 8. memudahkan pemulihan dan memungkinkan pasien mentoleransi pengobatan 9. . 2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekutnya masukan oral karena mual. 5. Diharapkan pasien dan keluarga menggungkapkan ketidak tahuannya dan semuanya yang ingin diketahuinya. prognosis. 4. 7. Memberikan pemantauan terus menerus tentang kemajuan proses penyakit. 7. Tinjau ulang mengenai pentingnya mempertahankan status nutrisi optimal 9. Berikan kesempatan bertanya 3. Diskusikan tanda dan gejala apa saja yang harus di laporkan segera kepada petugas. Memberikan pengertian pentingnya perawatan lanjut pasca perawatan rumah sakit 6. Membantu penilaian diagnosa. Untuk mencegah komplikasi dan menanganinya sedini mungkin. 4. Jelaskan penggunaan alat Bantu yang di perlukan. 2.Kriteria: 1. 3. 6. 8. Motifasi pasien setiap akan melakukan kunjungan tindak lanjut kepada dokter pasca perawatan rumah sakit. Menanamkan pemahaman kepada pasien dan keluarga sangat penting di lakukan.kondisi. memberikan informasi yang diperlukan. Berikan pedoman antisipasi mengenai protocol pengobatan. Pasien mempunyai hak untuk tahu dan berpatisipasi dalam keputusan. Meningkatkan kesejahteraan. Berikan informasi yang jelas dan adekuat. 5.

Libatkan keluarga memberikan makan hangat untuk selagi 8. Berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makanan atau peningkatan masukan gizi Rasional 1. Hb) sesuai indikasi. tinjau ulang pemeriksaan laboratorium (alb. selera nafsu 3. 3. motivasi pasien menghabiskan diitnya untuk 6. Pastikan diit yang tepat. Observasi asupan diet. 7. Stimulasi GI yang dapat meningkatkan motalitas / frekuensi defekasi 5.Intervensi 1. pasien mungkin membutuhkan dorongan untuk masukan peroral 6. makanan rendah sisa dapat menurunkan iritabilitas dan memberikan istirahat pada usus bila ada diare. 2. Makanan banyak sulit untuk mengatur bila pasien mual. membantu mengidentifikasi derajat ketidakseimbangan biokimia atau malnutrisi dan mempengaruhi pilihan intervensi diit. 2. Meningkatkan nafsu makan klien 8. Meningkatkan makan. 2. Kolaborasi pemberian obatobatan antiemetic sesuai . Beri makan sedikit dan sering dengan makanan rendah dan mempertahankan kebutuhan protein dan karbohidrat. Menurunkan iritasi gaster. 4. Observasi makanan favorit pasien yang di indikasikan. Kebanyakan antiemetic bekerja 5. 4.sedikit tapi sering. badan yang mengarah kepada berat badan yang ideal.beri makanan sedikit. 7.

berikan menurunkan realita dan rasa kesempatan untuk bertanya dan takut berikan jawaban jujur. penularan perasaan interpersonal. Berikan informasi akurat tentang keputusan berdasar realita pengobatan 4. ancaman kematian. dan lingkungan tenang meningkatkan kemampuan koping 7. Informasi akurat memungkinkan pasienmenghadapi situasi lebih efektif dengan realita.indikasi untuk mempengaruhi stimulasi pusat muntah sejati dan kemoreseptor mentriger agen zona yang bertindak secara feriver untuk menghambat peristaltic balik.Kriteria hasil : 1. Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam pengobatan Intervensi Rasional 1. pola interaksi. 7. Jelaskan prosedur. Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut.Tujuan : Pasien menunjukan rasa cemas. 2. Dorong pasien mengungkapkan serta konsep diagnose. 6. realitas. Memberikan kepercayaan dan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri. fungsi peran. perpisahan dari keluarga. Dorong dan kembangkan interaksi . perasaan dan fikiran 2. pasien. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi perubahan pada status kesehatan. mengembangkan 3. karenenya 5. Tingkatkan rasa tenangdan menghemat energi. takut berkurang / hilang . berikan sentuhan 3. Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan membuat 4. kemungkinan dibuktikan oleh : . Pasien tampak rileks 2. 5. Pertahankan kontak sering dengan kepercayaan. Memudahkan istirahat. Pasien mandiri 1.

Tujuan : gangguan harga diri tidak terjadi . .anoreksia . Mendemonstrasi kan adaptasi terhadap perubahan atau kejadian yang telah terjadi.mual atau muntah. 3.pasien dengan system pendukung 6. Bimbingan antistipasi dapat orang terdekat bagaimana membantu pasien / orang tedekat diagnosis dan pengobatan yang memulai proses adaptasi pada status mempengaruhi kehidupan pribdi baru dan menyiapkan untuk beberapa pasien / rumah dan aktifitas efek samping misalnya membeli wig kerja. Mulai mengembngkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif. Diskusikan dengan pasien / 1. Mengurangi rasa isolasi 7. 2. sebelum radiasi.kriteria hasil: 1. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah. jadwal waktu libur kerja sesuai indikasi. Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tubuh.penurunan berat badan. Memungkinkan interaksi interpersonal lebih baik dan menurunkan ansietas 8. Intervensi Rasional 1.efek samping kemoterapi. penerimaan diri dalam situasi.kehilangan rambut.

2. Dorong diskusi tentang / apapun perlu untuk mengatasi apa pecahkan masalah tentang efek yang terjadi. Beritahu pasien bahwa tidak semua efek samping terjadi. Meskipun beradaptasi/menyesuaikan diri pasien/orang terdekat. Banyak memerlukan dukungan tambahan selama periode ini. 5. kanker / pengobatan pada peran sebagai ibu rumah tangga.2. 6. Akui kesulitan pasien yang mungkin di alami. Untuk tindakan 3. 3. Membantu merencanakan perawatan saat di rumah sakit serta setalah pulang. Dapat membantu menurunkan masalah yang mempengaruhi penerimaan pengobatan atau merangsang kemajuan penyakit. Memvalidasi realita perasaan pasien dan memberikan izin. Berikan dukungan emosi untuk pasien / orang terdekat selama individualitas dan tes diagnostic dan fase 6. termasuk kemungkinan efek pada aktifitas seksual dan rasa keterkaitan atau keinginan misalnya kecacatan bedah. 4. Tinjau ulang efek samping yang di antisipasi berkenaan dengan pengobatan tertentu. Berikan informasi bahwa konseling sering perlu dan penting dalam proses adaptasi. Pemastian penerimaan penting dalam pengobatan. 4. menurunkan perasaan pasien tentang . orang tua dan sebagainya. dengan efek kanker atau efek samping terapi . Evaluasi strutur pendukung beberapa pasien yang ada dan di gunakan oleh 5.

memberikan kontak dengan pasien lain dengan kanker pada berbagai tingkatan pengobatan dan atau pemulihan. Bila dapat di terima pada pasien dan pertahankan kontak mata.ketidakamanan dan keraguan diri. Mungkin perlu untuk memulai dan mempertahankan struktur psikososial 8. 8. Kelompok pendukung biasanya sangat6menguntungkan baik untuk pasien maupun orang terdekat. kelompok pendukung ( Bila ada ). 7. 7. Rujuk pasien atau orang positif bila system pendukung terdekat pada program pasien / orang tedekat terganggu. . Gunakan Sentuhan selama interaksi.

Yogyakarta 2000 E.J.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. Ann.Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Sardjito. Jo. D.Sjamsuhidayat & Jong de. Buku fisiologi kedokteran.2002.com/2007/12/ca-mamae http//www.pikiran-rakyat 2005. F. 2002 Guyton dan Hall.EGC:Jakarta Brunner and Suddarth.J.com R.wim. 1997 http://ppni-klaten 2009.blog.2002. 2000 C. .2004.EGC:Jakarta R.Wagener. Marillyn.com http.friendster. penerbit panitia kanker RSUP Dr.wim.Buku Ajar Ilmu Bedah.EGC:Jakarta. Bosman. Rencana asuhan keperawatan.Sjamsuhidayat & Jong de. Jakarta : EGC.//tategea. C.T. Jakarta : EGC. Edisi 9. Penulis :Biare Baughman. Jakarta : EGC. Doengoes.H Van de velde.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 2.Th. Keperawatan Medikal Bedah.

Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat. lemak. disertai lesi pada membran basilis. Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi integritas sel Beta c. (Slamet Soeyono. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. ginjal. 2001) Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Gangguan sistem imun d. saraf dan pembuluh darah. Kelainan fungsi atau jumlah sel Beta yang bersifat genetic b. Diabetes Melitus digolongkan sebagai penyakit endokrin atau hormonal karena gambaran adanya gangguan produksi atau penggunaan insulin (Barbara C. yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata. kerja insulin atau kedua-duanya. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. Kelainan aktivitas insulin . PENGERTIAN Diabetes Mellitus merupakan kelainan keterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar gula/glukosa dalam darah atau hiperglikemi. Faktor Prespitasi a. 2002 ) Diabetes Mellitus adalah sindromo gangguan metabolisme dengan hiperglikemi yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya (Francis dan John 2000). 2002) Diabetes Mellitus (DM) adalah merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin. 2002) B. (Sidartawan dan Soegondo 2002). dan berkembang komplikasi makrovaskuler dan neurologis. (Brunner and Suddarth. Long. Diabetes Mellitus (DM) adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal. ( mansjoer Arif.BAB I KONSEP DASAR MEDIK DIABETES MELITUS A.

e. Faktor-faktor harmonal Misal : Thyroid Price. Sylvia Andreson. Patofisiologi konsep klinis proses – proses penyakit edisi 6, 2005. 2. Faktor Predisposisi Faktor resiko tidak hanya fungsi keturunan saja, tetapi ada juga faktor lain seperti : a. b. c. d. Kegemukan Pola makan yang salah Minum obat-obatan yang bisa meningatkan kadar glukosa darah Proses menua dan stres Slaimed Suyono, 2002

C. PATOFISIOLOGI Penyakit DM disebabkan karena gagalnya hormon insulin maka glukosa tidak diubah menjadi glikogen, sehingga kadar gula darah meningkat dan menjadi hiperglikemi. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini. Karena ambang batas ginjal tidak dapat menyaring dan mengobsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Berhubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. Bersama dengan keadaan glukosuria maka jumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria. Keadaan air intraseluler ditarik ke ekstraseluler. Hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien merasa haus terus yang disebut polidipsi. Produksi insulin yang berkurang menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat, lemak, protein menipis karena digunakan untuk pembakaran dalam tubuh, maka pasien akan merasa lapar sehingga menyebabkan banyak ( poliphagi) Terlalu banyak lemak yang dibakar, maka akan menyebabkan terjadinya penumpukan aceton dalam darah yang akan mengakibatkan keasaman darah meningkat / asidosis. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak sehingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernafasan, akibatnya bau urine dan nafas penderita berbau aceton. Keadaan asidosis ini bila tidak segera diobati akan menjadi koma yang disebut koma diabetikum. (Sylvia Anderson Drice.patofisiologis, konsep klinis proses – proses penyakit edisi 6, 2005)

D. MANISFESTASI KLINIS Tanda dan gejala Diabetes Melitus. adalah :

1. Diabetes Mellitus Tipe I (DMTII) adalah a) Sering berkemih merupakan konsekuensi diureasis asmotic akibat dari hiperglikemi yang menetap. b) Enunesis nakturnal akibat poliuria c) Rasa haus/polidipsi d) Gangguan penglihatan e) Berat badan menurun f) Pusing dan lemah akibat hipotensi postural g) Parathesia h) Tingkat kesadaran pasien dapat bervariasi tergantung pada derajat hiperosmolalitas. 2. Diabetes Mellitus Tipe II (DMTTI) adalah Gejala-gejala klasik yaitu poliuria, rasa haus, penglihatan kabur berulang. Parasthesia dan kelemahan merupakan manifestasi dari hiperglikemi dan aneuresis asmotik, dan karenanya lazim dijumpai pada kedua bentuk diabetes. Infeksi kulit kronik yang sering terjadi, pruritus genenalisata.

Klasifikasi Diabetes Melitus Klasifikasi Diabetes Melitus sebagai berikut : 1. DM tipe 1 (IDDM) Insulin dependen Diabetes Mellitus atau disebut dengan DMN (Diabetes Melitus tergantung insulin) - Tergantung pada usia muda - Tergantung insulin eksogen - Peningkatan kadar glukosa darah Dipengaruhi oleh beberapa faktor : - Faktor Genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes tipe I, kecenderungan ini ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leudocyle Antigen) HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggungjawab atas antigen tranplantasi dan proses intun lainnya. - Faktor Imunologi Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun ini merupakan respon abnornol dimana antibody terarah pada jaringan norma) tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan/eksternal yang dapat memicu destruksi sel B pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destruksi sel B pankreas. 2. DM Tipe II (NIDDM) Non insulin Independen Diabetes Melitus atau disebut dengan DMTTI (Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin). 3. Malnutrution Relacted Diabetes Mellitus (MRDM) atau Diabetes Mellitus tergantung makanan (DMTM). 4. DM tipe lain yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu : - Penyakit pankreas - Penyakit Hormonal - Kelainan reseptor insulin 5. DM Gestasional (GDM) Greenspan G.F dan Bexter D. John 1998

Klasifikasi Ulkus Diabetes Mellitus Terdapat 5 Grede ulkus Diabetikum, diantaranya antara lain : a) Grade 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh hanya terdapat calus. b) Grade 1 : Ulkus / kerusakan hanya sampai permukaan kulit. c) Grade 2 : Kerusakan kulit mencapai otot dan kulit / ulkus dalam, sering dengan selulitis tidak ada abses. d) Grade 3 : Ulkus dalam yang melibatkan atau pembentukan abses. e) Grede 4 : Gangren local pada jari kaki atau atau bagian distal kaki dengan atau tanpa seluliris. f) Grade 5 : Gangren pada seluruh kaki dan sebagian tungkai bawah. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tes diagnosis untuk Diabetes Mellitus harus dilakukan bila terdapat gejala DM seperti : poliuri, polidipsi dan poliphagi atau penurunan berat badan. Diagnistik dilakukan berdasarkan : 1. Pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg/dl dengan gejala DM adalah setiap waktu sepanjang hari tanpa puasa > 126 mg/dl 2. Kadar glukosa darah puasa > 126 mg/di puasa adalah tanpa intake cairan /

Kadar glukosa puasa P D < 90 mg/dl 90 – 199 mg/dl 2 > 110 mg/dl jam < 110 mg/dl 110 – 125 mg/dl > 126 mg/dl 110 – 199 mg/dl > 200 mg/dl 90 – 199 mg/dl > 200 mg/dl 3. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri. Kerangka utama penatalaksanaan DM yaitu perencanaan makanan. Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnostik. 3. latihan jasmani obat hipoglikemi dan penyuluhan. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi. Untuk mempermudahkan tercapainya tujuan tersebut. Pemeriksaan Bukan DM Belurt Pasti DM 1. Lipid dan insulin.Kadar glukosa 2 jam PP ( Post prandial ) < 140 mg/dl < 120 mg/dl 2 jam mg/dl >200 F. .kalori selama 8 – 10 jam. PENATALAKSANAAN MEDIS Dalam jangka pendek penatalaksaan DM bertujuan untuk menghilangkan keluhan/gejala DM. Kadar glukosa sewaktu < 110 mg/dl P D < 90 mg/dl 2.

Normal . . Jumlah kandungan serat ± 25 gr/hari. Latihan dilakuan terus menerus tanpa berhenti otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur. pomonaris dapat disesuaikan / digunakan secukupnya. Menurut Tjokro Prawiro. umur. interval.(1999) Penentuan gizi penderita dilakukan dengan menghitung prosentase Relatif Body Weigth dan dibedakan menjadi a) Kurus b) Normal c) Gemuk d) Obesitas : berat badan relatif : <90% : berat badan relatif : 90-110% : berat badan relatif : >110 % : berat badan relatif : >120 % Obesitas ringan 120 – 130 % Obesitas sedang 130 – 140 % Obesitas berat 140 – 200 % Obesitas morbid > 200 % Apabila sudah diketahui relatif body weigthnya maka jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM adalah sebagai berikut : .Kurus : BB x 40-60 kalori / hari . Pada diet DM harus memperhatikan jumlah kalori. training). jumlah kandungan kolesterol < 300 mg/hari. jadwal makan. yang sifatnya sesuai CRIPE (continous. Menurut Tjokro Prawiro (1999) Pada konsensus perkumpulan endokrinologi indonesia (PERKENI) telah ditetapkan bahwa standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi sebagai berikut : • Karbonhidrat : 60 – 70% • Protein : 10 – 15% • Lemak : 20 – 25% Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan. dan jenis makan yang harus dipantang gula.1. Latihan Jasmani Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu). Pedoman dalam memberikan diet DM yaitu. stress akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Rhytmical. endurance. BB x 30 kalori / hari .Obesitas : BB x 10-15 kalori / hari 2. jumlah jadwal dan jenis pelru diperhatikan.Gemuk : BB x 20 kalori / hari . progressive. status gizi. Diutamakan jenis serat larut. selama ± 30 menit. Komsumsi garam dibatasi bila terdapat hipertensi.

Periksa kaki setiap hari.Jangan membiarkan luka kecil di kaki sekecil apapun luka tersebut.Memakai alas kaki untuk pelindung alas kaki.Bila ada luka kecil.Berikan pelembab pada daerah yang kering. . olahraga sedang adalah jalan cepat selama 20 menit dan olahraga berat misalnya joging. Penyuluhan Penyuluhan untuk rencana pengelolaan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal.Bersihkan kaki setiap hari waktu mandi dengan air bersih dan sabun mandi. .Gunakan sepatu atau sandal yang ukuran sesuai. Edukasi diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan bagi pasien diabetes yang bertujuan menunjang perilaku untuk meningkatkan pertahaanan pasien akan penyakitnya. . .Janggan menggunakan botol panas atau peralatan listrik untuk pemanasan kaki. Dengan berbagai macam usaha tersebut. • Yang tidak boleh dilakukan : .Jangan merendam kaki . yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat optimal dan penyesuaian keadaan psikologik serta kualitas hidup yang lebih baik. .Gunting kuku kaki lurus mengikuti bentuk normal jari kaki. 3. Sebagai contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30 menit. . gunakan cermin untuk melihat bagian bawah kaki. . diharapkan sasaran pengendalian diabetes melitus seperti yang dianjurkan oleh pakar diabetes di Indonesia dapat dicapai. sehingga pada gilirannya nanti komplikasi kronik Diabetes Melitus juga dapat dicegah dan pasien Diabetes Melitus dapat hidup bahagia bersama diabetes yang dialaminya. berangsur-angsur dari sedikit kelatihan yang lebih berat secara bertahap dan bertahan dalam waktu tertentu. .Segera kedokter bila kaki mengalami luka.Jangan memakai sepatu yang sempit. obati luka dan tutup dengan pembalut bersih.Selang-seling antara gerak cepat dan lambat. • Yang dilakukan dalam pengelolaan kaki diabetic adalah : . . Disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta. . .Jangan mengunakan silet untuk mengurangi kapalan/kalus.

Ada 3 jenis aturan insulin yang penting menurut cara kerjanya : Insulin masa kerja cepat (reguler insulin) 2 – 4 jam Insulin masa kerja sedang (NHP : Netral Protamin Hegedan) 6 – 12 jam . Indikasi pengobatan dengan insulin : 1) Ketoasidosis diabetic/koma hiperosmolor non betotik 2) Diabetes dengan berat badan kurang 3) Diabetes yang mengalami stress (infeksi. FKUI. OAD (Obat Anti Diabetika) Tabel OAD mempunyai khasiat untuk menurunkan kadar gula dalam darah. 4) Diabetes hamil 5) Diabetes tipe 1 6) Kegagalan pemakaian obat hiperglikemi oral.Menstimulasi pelepasan insulin yang diterima (steroid insulin) . operasional dan lainlain).Menurut ambang sekresi insulin . Pusat Diabetes dan RSUP Nasional Dr. time disintegration buformin b. OAD dibagi menjadi 2 golongan : 1) Sulfonilirea Mekanisme kerja obat golongan sulfonilirea : . - . Cipto Mangun Kusumo.Meningkatkan sel-sel insulin sebagai akibat rangsangan glukosa Contoh obat golongan sulfanilurea adalah :  Klorpropamid 100 – 500 mg/hari  Talbutamid 100 – 1000 mg/hari  Glibenklamid 2.4.Insulin masa kerja panjang (PZI : Protamin Zine Insulin) 18 – 24 jam.5 – 40 mg/hari  Glikuldan 30 – 120 mg/hari 2) Biqquanid Beberapa golongan biovanid adalah metformen.5 – 20 mg/hari  Glipizid 2. Obat-obatan Pengobatan yang dapat dilakukan menurut Moerdowo (1989) adalah : a. 2002. Pengobatan dengan insulin Insulin diberikan tiga kali sehari 15 – 30 menit sebelum makan. phenformin.

Hiperglikrmi . impark miokard.Ketoasidosit Diabetik b.Hipoglikemi . otak. insifisiensi koroner .Syaraf Neuropati Diabetik Komplikasi jangka panjang diabetetikum : Organ/jaringan yg terkena Yg terjadi Komplikasi Sirkulasi yg jelek menyebabkan penyembuhan luka yg jelek & bisa menyebabkan penyakit jantung. Dinding pembuluh darah kecil mengalami kerusakan sehingga pembuluh tidak dapat mentransfer oksigen secara normal & mengalami kebocoran Mata Terjadi kerusakan pada pembuluh darah kecil retina Gangguan penglihatan & pada akhirnya bisa terjadi kebutaan Fungsi ginjal yg buruk Ginjal  Penebalan pembuluh darah ginjal  Protein bocor ke dalam Gagal ginjal .Karidiovaskuler Hipertensi. KOMPLIKASI Komlikasi Diabetes Melitus menurut Soeparno dapat dikelompokkan menjadi dua. gangren kaki & tangan. Kronik Disebabkan oleh perubahan dinding pembuluh darah sehingga terjadi anteriosklerosis yang khas yaitu : . tungkai & penis. Katarak . Akut .Mata Refinopati Diabetik. stroke. impoten & infeksi Pembuluh darah Plak aterosklerotik terbentuk & menyumbat arteri berukuran besar atau sedang di jantung.G. yaitu : a.

DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan pasien Diabetes Melitus menurut Marylin E. infeksi dalam kulit & hilangnya rasa yg (ulkus diabetikum) menyebabkan cedera  Penyembuhan berulang luka yg jelek Gangguan fungsi sel darah putih Mudah infeksi. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin. makan muntah. 3. terutama saluran kemih & kulit H.air kemih  Darah tidak disaring secara normal Saraf Kerusakan saraf karena  Kelemahan tungkai yg glukosa tidak dimetabolisir terjadi secara tiba-tiba atau secara normal & karena secara perlahan aliran darah berkurang  Berkurangnya rasa. pelepasan hormon. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik (dan hiperglikemi ) kehilangan genetik berlebihan diare. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa. kesemutan & nyeri di tangan & kaki  menahun Sistem saraf otonom Kerusakan pada saraf yg Tekanan darah yg naik-turun mengendalikan tekanan darah  Kesulitan menelan & saluran pencernaan & perubahan fungsi pencernaan disertai serangan diare Kulit Berkurangnya aliran darah ke  Luka. hipermetobolisme. 2. stress. terkena infeksi Kerusakan saraf Darah . masukan dibatasi. Doengoes (2000) . mual. 1. muntah. penurunan mukosa oral.

Menilai volume cairan yang hilang sehingga memudah kan tindakan selanjutnya. 4) Intervensi : .Mempertahankan hidrasi atau dikulasi volume 6) Intervensi : . ketdakseimbangan glukosa/insulin/olektrolit.Hipovilerna mungkin dapat dimanifestasikan dengan Hipotensi dan Lakikardi 3) Intervensi : . Doengoes 2000. 6. kesalahan interprestasi. Kekurangan volume cairan berhubungan diuresis aumotik.Lakukan pemasangan kateter Rasional : .Menilai kekuatan cairan pengganti. tidak mengenal sumber informasi. Resiko tinggi terhadap perubahan sensori. Resiko terhadap infektif penatalaksanaan regimen terapetik (individual) berhubungan dengan kompleksitas aturan teropetik. 5) Intervensi : . 1.Pertahankan pemasukan cairan paling sedikit 2500 ml/hr Rasional : . kompleksitas sistem perawatan.Monitor intake dan output Rasional : .Pertahankan adanya perasaan kelelahan yang meningkat Edema. kehilangan gastric berlebihan (mual. 2) Intervensi : . I.Kaji lama & intensitas terjadinya muntah. efek samping terapi. 5. peningkatan kebutuhan energy : status hipermetabolic atau infeksi. peningkatan berat badan.penurunan fungsi leukosit prosedur invasif. 1) Intervensi : . Rasional sangat : . Kurang pengetahuan mengenai panyakit. muntah). progrosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman. 4. poliun & diare Rasional : .Pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat berpotensi menimbulkan kelebihan beban cairan. mengetahui keseimbangan cairan dan membantu keefektifan terapi.Mengetahui volume cairan yang hilang sehingga memudahkan dalam tindakan perawatan selanjutnya. nadi tidak teratur. FOKUS INTERVENSI Menurut Marlyn E. perceptual berhubungan dengan perubahan kimia endogen. 7. Kelelahan berhubungan penurunan produksi energi atau metabolic perubahan kimia darah : insufisiensi insulin. .Monitor tanda-tanda vital Rasional : .

Timbang BB tiap hari Rasional : .Observasi tanda-tanda hipaglikeni Rasional : .Kolaborasi dalam pemberian albumin.Berikan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Pemberian makanan peroral lebih baik dan meningkatkan nafsu makan pasien. Observasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat.Pantau pemeriksaan laboratorium (HT.Hiperglikemia.Mengkaji tingkat hidrasi 8) Intervensi : .7) Intervensi : .Hipovilerna mungkin dapat dimanifestasikan dengan Hipotensi dan lakikardi 3) Intervensi : .Mengkaji kedekatan pemasukan nutrisi 2) Intervensi : . Rasional : . BUN. edema. Rasional kekurangan : Plasma pengganti kadang dibutuhkan jika mengancam hidup.Hipoglikerri dapat terjadi sehingga dalam keadaan darurat dapat dilakukan tindakan perawatan cepat sesuai keefektifan prosedur. status metabolik – intake yang tidak adekuat ditandai dengan kelemahan. mual. gangguan cairan dan elektrolit dapat menurunkan peristaltik lambung. 2. diare.Mengidentifikasi kekuatan dan penyimpangan dari kebutuhan terapetik Rasional : . muntah Rasional : . .Auskultasi peristatik usus. Kalium. 5) Intervensi : . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan defisiensi insulin. Natrium. nadi tidak teratur. 1) Intervensi : . 4) Intervensi : . plasma dan dextrain. Penurunan kekuatan otot. catat adanya keluhan nyeri perut. peningkatan berat badan.

sputum purulent warna merah. mual.Lakukan perawatan kulit secara teratur. 3) Intervensi : . Potensial resiko infeksi b. 1) Intervensi : .Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik secara tepat. muntah Rasional : .Observasi tanda-tanda infeksi seperti demam.Meminimalkan resiko terjadi infeksi 4) Intervensi : .Pelihara teknik aseptik dalam prosedur pemberian pengobatan secara IV Rasional merupakan : Keadaan glukosa yang tinggi dalam darah medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri.Pengobatan awal dapat mencegah kerjanya sepsis 6) Intervensi : . urine keruh.Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian RI Rasional : . penurunan fungsi leukosit perubahan sirkulasi prosedur invasife.Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian nutrisi Rasional : .Berikan diet dan intake cairan yang adekuat Rasional : Mengurangi terjadinya infeksi meningkatkan kelancaran . Rasional ketosi : Infeksi merupakan faktor presipitasi terjadinya dosis lebih lanjut. 3.d kadar glukosa yang tinggi. 5) Intervensi : . pelihara agar kulit selalu kering Rasional mengurangi : Memperlancar sirkulasi sehingga dapat terjadinya inlasi dan infeksi kulit.Lakukan perawatan kateter nyeri perut. Rasional : .6) Intervensi : .Memberikan pemenuhan kebutuhan nutrisi secara tepat. 2) Intervensi : .Membantu keefektifan insulin 7) Intervensi : .

4) Intervensi : . Resiko tinggi terhadap perubahan sensori.Meningkatkan motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.Mengurangi kebingungan pasien dan membantu mempertahankan kontak dengan realita.Orientasi terhadap orang. Rasional : . waktu dan tempat Rasional : . Kelelahan. 4.aliran darah. 2) Intervensi : . 1) Intervensi : . Rasional : . mengurangi pertumbuhan bakteri.Monitor adanya hyperesthesia. .Pasien yang disorientasi mudah sekali terjadi kecelakaan khususnya pada malam hari. 1) Intervensi : . nyeri dan penurunan sensori.Lindungi pasien dari bahaya kecelakaan ketika kesadaran menurun.Mencegah kelelahan yang berlebihan. Rasional : . 3) Intervensi : .Monitor pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah. berhubungan dengan penurunan produksi energy atau metabolic perubahan kimia darah : insufisiensi.d perubahan kimia endogen. peningkatan kebutuhan energi : status hipermetabolik atau infeksi. serum asmolatitas.Beri alternatif aktivitas dengan adanya periode istirahat.Monitor tanda-tanda vital dan status mental Rasional : .Status dasar perbandingan tingkat abnormal. Rasional : . perceptual b. BUN.Diskusikan dengan pasien aktivitas yang dibutuhkan dan daftar rencananya dan identifikasi aktivitas yang melelahkan. HD/HMT. ketidakseimbangan glukosa (insulin/elektrolit). Rasional : .Mengetahui adanya perubahan persepsi sensori 5) Intervensi : . 2) Intervensi : .Ketidakseimbangan cairan dapat mempengaruhi perubahan kesadaran 5.

waktu cara pemberian efek yang ditimbulkan. perawatannya serta kemungkinan komplikasi yang diderita pasien. 6. 5) Intervensi : .Pasien akan lebih banyak menyelesaikan aktivitas yang lebih kecil.Diskusikan hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara pengontrolan diabetik.d kurangnya informasi mengenai penyakit.Identifikasi tanda-tanda hipoglikeni dan terangkan penyebabnya. . mengobati dan perawatannya ditandai dengan secara verbal pasien menanyakan tentang penyakitnya. 4) Intervensi : .Mengidentifikasikan tingkat toleransi fisik pasien 4) Intervensi : .Meningkatkan pemeliharaan.Jelaskan pentingnya melakukan pengentasan glukosa secara teratur. Rasional : . Rasional : . 1) Intervensi : .3) Intervensi : . Rasional : . 5) Intervensi : .Memudahkan deteksi awal dan pasien mengetahui tentang perawatan serta pencegahan yang diperlukan.Mengikatkan kemandirian pasien secara bertahap . dosis. pengontrolan diabetik dan mengurangi resiko ketoasio dosis. Kurang pengetahuan b.Jelaskan tentang nama obat.Diskusikan dengan pasien aktivitas yang dapat mengurangi energi.Membantu memberikan gambaran keadaan pasien untuk dapat mengontrol penyakitnya. Rasional : .Kualitas penjelasan dapat disesuaikan dengan tingkat pendidikan pasien sehingga mudah dimengerti pasien 2) Intervensi : .Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas Rasional : .Tingkatkan partisipasi pasien dalam ADL sesuai dengan iderasi. Rasional : . 3) Intervensi : . Rasional : .Kaji tingkat pengetahuan pasien.

Tingkatkan rasa percaya diri dan kemajuan diri yang positif Rasional pelaksanaan : Meningkatkan semangat dan motivasi dalam aturan perawatan. Rasional : . . Rasional : . 1) Intervensi : .Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar Rasional : .Meningkatkan harga diri mendorong pasien berpartisipasi dalam program perawatan selanjutnya. 4) Intervensi : .Rasional : . Rasional : . efek sampai terapi. 7. 2) Intervensi : .Pasien mengerti dan melibatkan diri dalam tindakan perawatan dan pengobatan.Bangun rasa percaya dan kekuatan. 3) Intervensi : . 5) Intervensi : .Tingkatkan sikap positif dan keikutsertaan secara aktif individu dan keluarga.Meningkatkan semangat dan motivasi dalam pelaksanaan aturan perawatan.Memudahkan dalam strategi pelaksanaan tindakan keperawatan.Memudahkan deteksi awal dan menjadikan landasan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan.d kompeksitas aturan teropeutik. Resiko terhadap infeksi penatalaksanaan ruginan teropitik (individu) b. kompleksitas sistem perawatan.Identifikasi faktor-faktor penyebab atau penunjang yang menghalangi penatalaksanaan yang efektif.

Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. Toronto : The Mosby Cistpany. 1998. Cl. Tucker. F. Perawtaan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. 2. Groespan.A. FKUI. Susan Martin. 2002. Jakarta : EGC 2002. 2000. S. 2005. Bruner dan Suddart.DAFTAR PUSTAKA Price A Sylvia. Cipto Mangun Kusumo. “Nursing Care Plans Guide Lens For Planning and Documentating Patient Care Edition” Philadelpia. Buku Kedokteran Jakarta : EGC 2001. Barbara.F dan Dokter D. Patient Care Standarte Nursing Process Diagnostic and Outcott. Patofisiologi Konsep Klinis Proses dan Proses Penyakit. Davis Company. 2001. John “Endokrinologi Dasar dan Klinik” edisi 4. Pusat Diabetes dan RSUP Nasional Dr. Jilid 2 FKUI: Jakarta. Jakarta : ESC . Doengoes. Marylin E. . Ilmu Penyakit Dalam. Soeparman. Bandung: 1998.

Ginjal berfungsi diatas 90%. Dengan rumus CockroftGault dapat diperkirakan berapa C_crea dari kadar creatinin yang didapatkan. Stadium 2: Kerusakan ginjal ringan dengan penurunan nilai GFR. dikalikan berat badan (kg). berupa dialysis atau transplantasi ginjal (Ketut Suwitro. hasilnya dibagi dengan perkalian 72 (faktor baku 2) dengan kadar kreatinin (mg /dl). Ginjal akan membuang kreatinin dari darah ke urin. Nursalam. dengan mengumpulkan jumlah urin tersebut selama 24 jam. Ginjal berfungsi 60-89%.2mg/dL. yaitu: C_crea = {[(140-umur)xBB]/(72xK_crea)}xFK Clereance rate (ml/menit) sama dengan 140 (faktor baku 1) dikurangi umur (tahun). 2006). Kemampuan fungsi ginjal tersebut dihitung dari kadar kreatinin dan kadar nitrogen urea di dalam darah. Bila fungsi ginjal menurun. 2001). Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan ireversibel (Arif Mansjoer. 2. (DR. 2006).0 dan wanita = 0.85. PENGERTIAN Gagal ginjal kronis (chronic renal failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialysis atau transplantasi ginjal. Nurs. Kreatinin adalah hasil metabolisme sel otot yang terdapat di dalam darah setelah melakukan kegiatan. M. Kemampuan ginjal membuang cairan berlebih sebagai urin (creatinine clereance rate) dihitung dari jumlah urin yang dikeluarkan tubuh dalam satuan waktu. Nilai GFR di atas 90 ml/menit/1. yaitu: 1. C_crea normal untuk pria adalah 95-145 ml/menit dan wanita 75-145 ml/menit. LFG dihitung dari jumlah kadar kreatinin yang menunjukkan kemampuan fungsi ginjal menyaring darah dalam satuan ml/menit/1.BAB I KONSEP DASAR MEDIK A. Faktor koreksi gender untuk pria = 1. Kemampuan ginjal menyaring darah dinilai dengan penghitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG). gangguan fungsi ginjal dapat dikelompokkan menjadi lima stadium menurut tingkat keparahannya.73m2. Stadium 1: Kerusakan ginjal dengan nilai GFR normal. kemudian hasilnya itu dikalikan dengan faktor koreksi (FK) gender. kadar kreatinin di dalam darah meningkat.73 m2.6-1. Kadar kreatinin normal dalam plasma darah adalah 0. Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap. yang disebut C_crea (creatinine clearance). belum terasa gejala yang mengganggu. Nilai GRF 60-89 ml/menit/1.73 m2 .

obat-obatan dan bahanbahan kimia karena alas sebagai berikut: Gagal menerima 25% dari curah jantung sehingga sering dan mudah kontak dengan zat kimia dalam jumlah besar. Hipertensi Hipertensi dan gagal ginjal kronik saling berkaitan erat. 2005). Lesi ginjal yang sering dijumpai adalah nefrosklerosis akibat lesi pada arteria pielonefritis dan nekrosis pada ginjal dan glumerulosis sklerosis.73 m2 4. Waktu rata-rata diabetes sampai timbul uremia adalah 20 tahun. Presipitasi a. . Fungsi ginjal kurang dari 15%. Pada glomerulonefritis kronis maka ginjal akan tampak mengisut beratnya kurang lebih 50 gram dan permukaannya berbentuk granula. Stadium 3: Kerusakan sedang. Stadium 4: Kerusakan berat. Glumerulosklerosis dikenal juga dengan nama lesi kemadie suatu ciri khas diabetes. B. Poliarteritis Nadusa Poliarteritis Nadusa merupakan penyakit radang reterosis yang mencakup arteri-arteri ukuran sedang dan kecil diseluruh tubuh sehingga akan mengganggu perfusi atau aliran darah ke ginjal. harus cuci ginjal. Hipertensi merupakan penyakit primer dan menyebabkan keruskaan pada ginjal dan sebaliknya penyakit gagal ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi neutserpenar pada hipertensi melalui mekanisme retensi natrium dan air. e. Glomerulonefritis Glomerulonefritis kronik ditandai kerusakan glomerulus yang progresif lambat akibat glomerulonefritis yang sudah berlangsung lama. Stadium 5: Kerusakan parah.3.73 m2 5. c. Nefropati Toksik Ginjal sangat mudah terserang efek-efek toksis. Edisi 6. Interatisis yang hiperosmatik memungkinkan zat kimia dalam jumlah besar dan konsentrasi pada daerah yang relatif hipovasculer. perubahanperubahan ini disebabkan karena berkurangnya jumlah nefron karena iskemia. b. masih bisa dipertahankan. d. Wilson Potofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Price Lorreine M. PROSES TERJADINYA MASALAH (Menurut Sylvia A. Nilai GRF kurang dari 15 ml/menit/1. Ginjal berfungsi 30-59%. Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus yang mulai sejak kanak-kanak 50% diantarannya berkembang menjadi gagal ginjal kronik. 1. sudah tingkat membahayakan Ginjal berfungsi 15-29%. Nilai GRF 15-29 ml/menit/1. Nilai GRF 30-59 ml/menit/1.73 m2.

Meskipun perjalanan klinik gagal ginjal kronik dibagi menjadi 3 stadium tetapi dalam prakteknya tidak ada batas-batas yang jelas antara stadiumstadium tersebut. Faktor Predisposisi a. Obstruksi ini bila ditemukan harus sedapat mungkin diperbaiki dengan segera. Pasien juga mungkin mengalami nokturia dan paliun yang disebabkan oleh penurunan kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasikan urine. . Pada keadaan ini kadar BUN baru meningkat diatas batas normal. mual dan pruritus. Pasien mulai merasakan gejala-gejala yang cukup parah karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis cairan dan elektrolit dalam tubuh. Infeksi Traktus Urinarius Infeksi Traktus Urinarius jarang memperburuk GGK. b.Ginjal merupakan ekterosi obligatorik untuk kebanyakan obat sehingga insufisiensi ginjal mengakibatkan penimbunan-penimbunan obat dan meningkatkan konsentrasi dalam cairan tubulus. pasien asimtomatik gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan membebani kerja yang berat pada ginjal tersebut. lemah. pasien akan meninggal kecuali kalau ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialysis. Obstruksi Traktus Urinarius Obstruksi Traktus Urinarius dapat terjadi pada daerah intra renal sampai uretra. Pada keadaan ini kreatinen serum dan kadar BUN akan meningkat dengan mencolok sekali sebagai respon terhadap GFR yang mengalami sedikit penurunan pada stadium akhir gagal ginjal. c) Stadium Gagal Ginjal atau Stadium Uremia Nilai GFR hanya 10% dari keadaan normal dan kliren kreatinin mungkin 510 ml/menit atau kurang. Patofisiologi Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV Ketut Suwitro. 2006) Perjalanan umum gagal ginjal kronik dapat dibagi 3 stadium yaitu: a) Stadium Penurunan Cadangan Ginjal Selama stadium ini kreatinin serum dan kadar BUN normal. Pada stadium akhir gagal ginjal. Pada stadium ini kadar kreatinin serum juga mulai meningkat diatas melebihi normal. 3. kecuali infeksi yang sangat berat. Biasanya infeksi memperburuk faal ginjal bila disertai obstruksi sehingga perbaikannyapun harus terpadu. 2. b) Stadium Insufisiensi Ginjal Pada stadium ini lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak. seperti tes pemekatan urine yang lama atau dengan mengadakan tes GFR yang teliti. sakit kepala. Manifestasi klinis yang nampak adalah lelah.

Karena pada gagal ginjal kronis setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh kondisi uremia. maka pasien akan memperlihatkan sejumlah tanda dan gejala. oliguri dapat timbul disertai retensi produksi sisa. kondisi lain yang mendasari dan usia pasien. nausea dan vomitus yang berhubungan dengan gangguan metabolisme protein dalam usus. a. tangan). 2) Gagal jantung kongestif. 2) Mual. Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal. 4) Napas berbau ammonia. 2) Pernapasan Kusmaul d. 3) Konstipasi dan diare. 5) Pitting Edema (kaki.Patofisiologi penyakit gagal kronik secara umum adalah: Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak. b. 4. Neurologi 1) Kelemahan dan keletihan. Kardiovascular 1) Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem renin – angiotensin – aldosteron). manifestasi klinik yang muncul pada pasien dengan gagal ginjal kronik yaitu : a. Gangguan pada sistem gastrointestional 1) Anoreksia. akibat diuresis osmatik disertai poliuri dan hous. 2) Kelemahan pada tungkai b) Menurut Suhardjono (2001). 3) Gastritis . muntah. 3) Edema pulmoner (akibat cairan berlebih dalam alveolus). Gastrointestinal 1) Anoreksia. Nefron-nefron yang utuh. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal ini untuk berfungsi sampai ¾ dari refron-refron yang bisa direabsorbsi. 4) Perikarditis (akibat iritasi pada lapisan pericardial oleh toksin uremik). 2) Mulut bau ammonia disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur. Hipertropi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR. Brunner dan Suddarth Edisi 8 Vol. Manifestasi klinis a) Menurut Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. c. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak. Pulmoner 1) Napas dangkal.

2001. 2) Rasa semutan 3) Lemah. gangguan konsentrasi 4) Kelemahan dan hipertrofi otot-otot terutama otot-otot ekstremitas proksimal. e.015 (menetap pada 1. Sistem saraf dan otot 1) Pasien merasa pegal pada kakinya. 3) Bekas-bekas garukan karena gatal. 5. Gatal akibat toksin uremik. 2) Ekimosis akibat gangguan hematologis. menentukan ada dan tidaknya kegaulan. d. menentukan derajat GGK.b. Sistem endokrin 1) Gangguan seksual 2) Gangguan metabolisme glukosa. kecoklatan menunjukkan adanya darah. protenuria. lemah.010 . 1) Urine Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguri) atau urine tidak ada. a) Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menetapkan adanya GGK. tidak bisa tidur. sehingga selalu digerakkan. menetapkan gangguan sistem dan membantu menetapkan etiologi. Warna : Urine keruh disebabkan oleh Pus. bakteri. Pemeriksaan Penunjang Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Kulit 1) Kulit berwarna pucat akibat anemia. Kurang dari 1. Sistem Hematologi 1) Anemia 2) Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia. Sedimen Berat Jenis : : Kotor. Dalam menetapkan ada dan tidaknya gagal ginjal tidak semua faal ginjal perlu diuji untuk keperluan praktis yang lazim diuji adalah laju filtrasi glomerulus. resistensi insulin 3) Gangguan metabolisme lemak 4) Gangguan metabolisme vitamin D. Kardiovasculer 1) Hipertensi 2) Akibat penimbunan cairan dan garam 3) Nyeri dada dan sesak nafas 4) Edema akibat penimbunan cairan f. c. fosfat atau urat.

Penurunan pemasukan atau penurunan sintesis karena kurang asam amino. perpindahan cairan. anatomi. tebal konteks ginjal kepadatan pareklim ginjal. b) Pemeriksaan EKG Untuk melihat kemungkinan hipertropiventrikel ke tanda-tanda perikardites (misalnya voltase rendah). : Meningkat dalam proporsi 2) Darah BUN Hitung darah lengkap : Hb menurun pada adanya anemia SDM (sel darah merah) : waktu hidup menurun pada defisiensi entropoetin pH menurun asidosis metabolic terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengekspresi hydrogen dan ammonia atau hasil akhir katabolisme protein bicar bonate menurun PCO2 menurun. . hipokalsemia). ureter proximal kandung kemih serta prostate. juga untuk menilai apakah proses sudah lanjut (ginjal yang imut) USG ini sering dipakai oleh karena non inuasif (tak memerlukan persiapan apapun). Kalsium serum : Peningkatan sehubungan retensi sesuai dengan perpintahan seluler (asidosis). Derajat tinggi (3-4) secara kuat menunjukkan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada. Gula darah: Meningkat karena adanya gangguan metabolisme karbohidrat dapat terjadi pada penyakit GGK. d) Foto Polos Abdomen Sebaiknya tanpa puasa karena dehidrasi akan memperburuk fungsi ginjal. menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau obstruksi lain foto polos yang disertai homogram memberi keterangan yang lebih baik. c) Ultrasonografi (USG) Menilai besar dan bentuk ginjal. aritmia dan gangguan elektrolit (Hiperkalemic. sistem perviakalises. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari adanya faktor yang reversible seperti obstruksi oleh karena batu atau massa tunas.menunjukkan kerusakan ginjal berat). Kalium: menurun Protein (khususnya albumin): Kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine. Natrium Protein : : Lebih besar dari 40 mtg/L karena ginjal tidak mampu mereeabsorbsi natrium.

d) Penanggulangan Anemia Transfusi darah hanya diberikan bila ada indikasi yang kuat. 6. b) Pengendalian hipertensi. Tak jarang ditemukan juga infeksi oleh karena imunitas tubuh yang menurun. f) Pengaturan protein dalam makanan Protein harus dikurangi. diet rendah protein. terutama pada usia lanjut. Penatalaksanaan Menurut Buku Ajaran Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi IV Ketut Suwitno. 2006). g) Pemeriksaan Foto Dada Dapat terlihat tanda-tanda benalungan paru akibat kelebihan air (flore over load) efusi pleura. Diabetes Mellitus dan nesopati asam urat saat ini sudah jarang dilakukan pada GGK dapat dilakukan dengan cara intravenous infusion pielografi untuk menilai sistem pelviakalises dan ureter. Diet rendah protein . Infuse glukosa hipertonis dengan insulin.e) Pielografi Intra Vena (PIV) Pada GGK lanjut tak bermanfaat lagi oleh karena ginjal tak dapat mengeluarkan kontras dan pada GGK ringan mempunyai resiko penurunan faal ginjal lebih berat. Usaha yang ditujukan untuk mengurangi gejala mencegah perburukan faal ginjal terdiri atas: a) Pengaturan Minum Pemberian yang berlebihan dapat mengakibatkan penumpukan didalam badan dan membahayakan karena menimbulkan hipovolemia yang sulit diatasi. Dengan alat tertentu tekanan darah dapat diturunkan tanpa mengurangi gagal ginjal. h) Pemeriksaan Radiologi Tulang Mencari osteodistrofi (terutama tulang/jari) dan klasifikasi metastatik. f) Pemeriksaan Pielograi Retroged Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang neversibel. missal: Beta bloker dan vasadilator. Natrium bicarbonat dapat diberikan oral atau parenterel Hemodialisis dan dialysis peritoneal juga dapat mengatasi asidosis. namun tindakan pemilihan penggunaan protein akan lebih menolong. kadiomegali dan efusi perikordid. selain itu telah dibuktikan pula bahwa diet tinggi protein akan mempercepat timbulnya glomerulaskterosis sebagai akibat meningkatnya beban kerja glomerulus (hiperfiltrasi glomerulus). e) Penanggulangan Asidosis Pemberian melalui makanan dan obat-obatan harus dihindarkan . c) Pengendalian Kalium Darah Bila hiperglikemia sudah ada maka pengobatan adalah mengurangi sedapatnya intake kalium. Pemberian Na bicarbonat IV. Dalam percobaan telah dibuktikan bahwa ureum darah dapat dimetabolisme bila diberi asam amoniak essential.

diberikan bertahap mulai dengan 60 gram protein/jumlah protein diturunkan menjadi 40 gram kemudian 20 gram protein yang diberikan haruslah yang mempunyai nilai biologis yang tinggi (40% asam amino essential). 7. c) Hiperkalemia d) Asidosis Metabolik e) Kejang uremik yang disediakan terjadinya hiponatromia. Hiegiene Oral 1) Membersihkan mulut beberapa kali sehari terutama sebelum makan. resiko tinggi berhubungan dengan . Diagnosa yang muncul pada pasien Chronic Kidney Disease Marilyn Doengoes dkk. nousea. 2) Rencana aktivitas sehari-hari harus juga ada periode istirahat. Usaha-usaha efektif untuk pengendaliannya yaitu: 1) Mempertahankan kulit lembab dengan pemakaian lotion dan minyak. baik pada GGA atau GGK. penurunan. Sesungguhnya orang yang menghadapi transplantasi ginjal kronis intinya terjadi perubahan program ketidakmampuan dari hemadidisme kronis dengan kemungkinan masalah penolakan atau resection. vomitus. Curah jantung. h) Dialise Dialise adalah menggerakkan cairan dan partikel-partikel lewat membrane setiap permeable ini merupakan terapi yang bisa membantu mengembalilkan keseimbangan cairan elektrolit yang normal. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Komplikasi Menurut Soeparman. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. i) Transplantasi Ginjal Transplantasi ginjal dilaksanakan untuk memperpanjang maka hidup orang dengan kegagalan ginjal kronis. g) Mengusahakan kenyamanan Kebanyakan orang dengan tingkat akhir penyakit ginjal menderita pruritus. anemia dan perikarditas. Diet rendah natrium dan furosemid diberikan bila terjadi hipertensi atau edema. 2001. hipertensi. hipertensi ensefalopati. 2) Pelumas mulut dapat mempertahankan kelembaban mulut. 2000 adalah : a. mengendalikan asam-basa dan membuang zat-zat toksin dan tubuh dapat mempertahankan hidup dengan dengan sukses. b) Komplikasi gastrointestinal: anoreksia. C. hipokolsomia. a) Komplikasi kardiovasculer dapat terjadi kangesti sirkulasi. 3) Obat-obat anti pruritus Insomnia dan kecapekan dapat diatasi dengan: 1) Pengobatan anemia dapat mengurangi rasa kecapekan. 2) Mengendalikan suhu kamar agar mencegah panas.

hipoksia). akumulasi toksin dalam kulit. 1 Intervensi Keperawatan 1. Ketidakpatuhan (kepatuhan. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. irama. hipoksia). kompelsitas. konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit. g. efek samping terapi. resiko tinggi berhubungan dengan kurang/penurunan salviasi. prognosis. nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler. perubahan. Evaluasi adanya Rasional 1. gangguan frekuensi. Membrane mukosa oral. Kaji adanya/derajat hipertensi (awasi TD. resiko tinggi berhubungan dengan penekanan produksi dan SDM hidupnya. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan frekuensi. d. tempat. perubahan berhubungan dengan disorientasi terhadap orang. pembatasan cairan. salah interpretasi informasi. f. c. e. Curah jantung. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). irama. perubahan urea dalam saliva menjadi ammonia. perubahan) berhubungan dengan keyakinan kesehatan. perhatikan perubahan postural. biaya. dan kebutuhan. Proses piker. kerusakan. peningkatan kerapuhan kapiler. kurang terpajan atau mengingat. gangguan faktor pembekuan. Tujuan: Mempertahankan curah jantung dengan bukti TD dan frekuensi jantung dalam batas normal. iritasi kimia. Cedera. konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit. Hipertensi bermakna dapat terjadi gangguan pada system aldosteron renninangiotensin (disebabkan oleh disfungsi .b. No. pengaruh budaya. pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. berbaring. kurang atau menolak system pendukung atau sumber. contoh duduk. berdiri 2. atau immobilisasi. tentang kondisi. penurunan. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan turgor kulit (edema/dehidrasi). waktu. Auskultasi bunyi jantung dan paru. penurunan aktivitas. D. Integritas kulit.

takipnea. kaptopril (capoten). yang merupakan kedaruratan medik. frekuensi jantung tak teratur. 4. dan penyimpangan mental cepat menunjukkan temponden. dan edema/distensi jugular menunjukkan GGK. takikardia. Berikan obat antihipertensi (contoh: Prazozin (minipress). hidralazin (Apresoline) . mengi. nadi paradoksik. dispnea. penurunan/tak adanya nadi perifer. 3. Distensi jugular. Evaluasi bunyi jantung ginjal) 2. Adanya hipotensi tibatiba. Menurunkan tahanan vaskuler sistemik dan/atau pengeluaran rennin untuk menurunkan kerja miokardial. S3/S4 dengan tonus muffled. 3. penyempitan tekanan nadi. 4. gemerisik. klonodin (Catapres).edema perifer/kongesti vaskuler dan keluhan dispnea.

Menurunkan resiko perdarahan/pembentukan hematom 4. Tujuan: Tak mengalami tanda/gejala perdarahan dan mempertahankan /menunjukan perbaikan nilai laboratorium. dan istirahat.sianokobalamin (betalin) 4.kulit/Membrane mukosa pucat. No. 2 Intervensi Keperawatan 1. pencukur elektrik. Berikan sikat gigi halus. Berikan obat sesuai indikasi. gunakan jarum kecil bila mungkin dan lakukan penekanan lebih lama setelah penyuntikan/penusukan vaskuler. 2. 3. perubahan aktivitas. kemampuan untuk melakukan tugas. peningkatan kerapuhan kapiler.2. Dapat menunjukkan anemia dan respona jantung untuk mempertahank an oksigenasi sel 2. Observasi takikardia. 3. sehingga memerlukan intevensi. Berguna untuk memperbaiki gejala anemia sehubungan dengan . asam folat (Folvite). contoh sediaan besi. Rasional 1. Anemia menurunkan oksigenasi jaringan dan meningkatkan kelelahan. Cedera. Evaluasi respons terhadap aktifitas. bantu sesuai kebutuhan dan buat jadwal untuk istirahat. resiko tinggi berhubungan dengan penekanan produksi dan SDM hidupnya. dispnea dan nyeri dada. gangguan faktor pembekuan.

. Orientasikan kembali terhadap lingkungan. Memberikan petunjuk untuk membantu dalam pengenalan kenyataan. dan sebagainya. Proses pikir . Gangguan tidur dapat mengganggu kemampuan kognitif lebih lanjut.kekurangan nutrisi/karena dialysis (Catatan: Besi tidak boleh diberikan dengan ikatan fosfat karena menurunkan absorbsi besi 3. tingkat mental pasien biasanya. 3. 3. 3. orang. perubahan berhubungan dengan disorientasi terhadap orang. No. Pastikan dari orang terdekat. Intervensi Keperawatan 1. 2. Memberikan perbandingan untuk mengevaluasi perkembangan/per baikan gangguan 2. Tingkatkan istirahat adekuat dan tidak mengganggu periode tidur 4. 4. Perbaikan hipoksia saja dapat memperbaiki kognitif. Berikan tambahan O2 sesuai indikasi. jendela ke luar. jam. tempat. waktu Tujuan: Meningkatkan tingkat mental biasanya dan mengidentifikasi cara untuk mengkompensasi gangguan kognitif/deficit memori. Rasional 1. Berikan kalender.

akumulasi toksin dalam kulit. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan turgor kulit (edema/dehidrasi).4. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. tugor. 2. jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia peninggian meningkatkan aliran balik statis vena terbatas/pembent ukan edema. Intervensi Keperawatan Rasional 3. 4. atau immobilisasi. 3. kerusakan. Tujuan: Mempertahankan kulit utuh dan menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan/cedera kulit. penurunan aktivitas. No. vascular. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan (dari pada garukan) pada area pruritus. vascular. Perhatikan kemerahan. ekskorlasi. Menurunkan tekanan pada edema. Pertahankan buku pendek. tugor. Integritas kulit. yang dapat membatasi perfusi selular . ekskorlasi. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. purpura. 2. Perhatikan kemerahan. Berikan matras busa/flotasi 4. purpura. Menurunkan tekanan lama pada jaringan. 1. Ubah posisi pasien dengan sering 1. Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera dermal. 4.

Anjurkan menghindar fless gigi. . iritasi kimia. adanya inflamasi. 5. Anjurkan hygiene gigi yang baik setelah makan dan pada saat tidur. 2. 3. Berikan obat sesuai indikasi. Tujuan: Mempertahankan integritas membrane mukosa dan mengidentifikasi/melakukan intervensi khusus untuk meningkatkan kesehatan mukosa oral. Inspeksi rongga mulut: perhati kan kelembaban. mis anti histamin: kiproheptadin (periactin) Rasional 1. karakter saliva. Memberikan kesempatan untuk intervensi segera dan mencegah infeksi. 5 Intervensi Keperawatan 1. 2. 5. Membrane mukosa oral. resiko tinggi berhubungan dengan kurang/penurunan salviasi pembatasan cairan. ulserasi. Menurunkan pertumbuhan bakteri dan potensial terhadap infeksi. Flos gigi dapat melukai gusi. Membran 4. 5. perubahan urea dalam saliva menjadi ammonia. Dapat diberikan untuk menghilangkan gatal 4.yang menyebabkan iskemik 5. perubahan. No. menimbulkan perdarahan. 3.Berikan perawatan mulut.

Instruksika n dalam observasi diri dan pengawasa n TD. perlu untuk observasi ketat terhadap efek pengobatan. Dorong pemasukan kalori tinggi. 6 Intervensi Keperawatan 1. kurang terpajan atau mengingat. 6. Menunjukan/melakukan perubahan pola hidup yang perlu. Penyimpanan protein. dan membantu menyegarkan rasa mulut. tentang kondisi. Perawatan mulut menyejukkan. prognosis.mukosa dapat menjadi kering dan pecah-pecah. 2. termasuk jadwal istirahat sebelum Rasional 1. Insiden hipertensi meningkat pada GGK. sering memerlukan penanganan dan obat anti hipertensi. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. mencegah penggunaan dan memberikan energi. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). dan berpartisipasi dalam program pengobatan No. 2. Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alas an untuk tindakan. contoh respons vascular tehadap . khususnya dari karbohidrat . melumasi. yang sering tak menyenangkan kaena uremia dan keterbatasan masukan oral. Tujuan: Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan. salah interpretasi informasi.

7 Ketidakpatuhan (kepatuhan. obat.mengukur TD. pengaruh budaya. menyelin gi periode istirahat dengan aktivitas. efek samping terapi. Buat program latihan rutin. Intervensi Keperawatan 1. 7 . biaya. mengguna kan lengan/posi si yang sama. 3. 3. dalam kemampu an individu. Membantu dalam mempertahanka n tonus otot dan kelenturan sendi. perubahan) berhubungan dengan keyakinan kesehatan. 4. Rasional 1. Menyamp aikan pesan masalah. Menurunkan risiko sehubungan dengan imobilisasi (termasuk demineralisasi tulang) dan mencegah kelemahan. kompelsitas. Efek fisiologis uremia/terapi anti hipertensi dapat mengganggu hasrat/penampilan seksual. dan mengidentifikasi /menggunakan sumber dengan tepat. Perhatika n masalah seksual. Dengarkan/mendengarkan dengan aktif pada keluhan/pernyataan pasien. No. Tujuan: Menyatakan pengetahuan akurat tentang penyakit dan pemahaman program terapi. kurang atau menolak system pendukung atau sumber. Membuat pilihan pada tingkat kesiapan berdasarkan informasi yang akurat. Berpartisipasi dalam membuat tujuan dan rencana pengobatan.

3. Kaji perilaku memberi perawatan kesehatan pada pasien/perilaku. perasaan tak berdaya. Meskipun pasien secara internal termotivasi (rasa control internal). 3. Yakinkan persepsi/pemahaman pasien/orang terdekat terhadap situasi dan konsekuensi perilaku. Evaluasi system pendukung/sumber yang digunakan oleh pasien. 2. pasien cenderung . 5.2. Anjurkan pilihan yang tepat. Tingkat ansietas berat mempenga ruhi kemampua n pasien mengatasi situasi. 4. Kaji tingkat ansietas. Memberik an kesadaran bagaimana pasien memandan g penyakitn ya sendiri dan program pengobata n dan membantu dalam memaham i masalah pasien. Keyakinan pada kemampua n individu dan mengatasi situasi dalam cara positif. kemampuan control.

menurunka n kemungkin anmeningk atnya pengaruh. 2000 adalah : 1. 1. 5. jangka panjang. 4. Pendekata n yang menghaki mi dapat membuat kekuatan yang menjauhka n pasien.menjadi pasif/terga ntung pada penyakit berat. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 3. Adanya system pendukung adekuat membantu pasien untuk mengatasi kesulitan penyakit lama. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan . Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 2. Diagnosa Keperawatan pada pasien Congestive Heart Failure menurut Marilyn Doengoes dkk.

oedem. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 3. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen karena gagal jantung kongestif 2. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan pemahaman / kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung / penyakit / gagal Diagnosa Keperawatan pada gagal jantung menurut Lynda Juall Carpenito edisi 8. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. dan penurunan perfusi jaringan . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan 5. 2000 adalah : 1. Resiko terhadap kelebihan volume cairan : odema yang berhubungan dengan penurunan aliran darah ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan 4. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 2.4. dan penurunan perfusi jaringan 5. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 6. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur seperti biasanya Dari kedua Diagnosa Keperawatan diatas dapat disimpulkan bahwa Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah : 1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 4. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 3. oedem. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama.

Catat bunyi jantung 3. terjadi penurunan dispnea. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran cerna 9. • Tujuan : . Auskultasi nadi apical. Palpasi nadi Perifer . Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi 4. Pada gagal jantung kongestif dini. S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa jantung 3. bebas gejala jantung. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang informasi 7. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 8. disritmia terkontrol.Peningkatan frekuensi jantung • Curah jantung meningkat Kriteria hasil : pasien menunjukkan tanda vital dalam batas normal. Biasanya terjadi takikardi untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler 2. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 6. ikut sertakan dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung Intervensi 1.5. frekuensi irama jantung kaji Rasional 1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan untuk mengambil posisi tidur yang biasanya INTERVENSI Menurut Doengoes (2000) Diagnosa 1 : Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial. TD 2. sedang atau kronik.

Untuk mengontrol gagal jantung dengan menghambat konversi angiotesin dalam paru dan menurunkan tekanan darah Dapat mempengaruhi elektrolit yang 5.Bumetamid (Bumex) (kalium dan klorida) 11. catat penurunan dan kepekatan konsentrasi urine 7. Pantau dan ganti elektrolit Diagnosa 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air . Berikan obat sesuai indikasi 10. Diuretic : Furosemid (Lasix).Eralapri (Vasotec) 12. Istirahat fisik dipertahankan untuk memperbaiki efisiensi kontraksi jantung den menurunnya kebutuhan oksigen 8. Pucat menunjukkan menurunnya Perfusi Perifer Sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung dan anemia Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung kronik 6. Captopril(Capoten). Pantau tekanan darah 5. Asam Etakrinik (Enderic). Usinopril mempengaruhi irama jantung (Prinivil). Ginjal berrespon untuk menurunkan curah jantuingdengan menahan cairan dan natrium 7.dapat meningkat sehubungan dengan Septum Ventriculler Right (SVR) 4. Berikan O2tambahan dengan kanul nasal / masker sesuai indikasi 9. Beri posisi nyaman pada tempat tidur atau kursi 8. Pantau keluaran urine. Kaji adanya kulit pucat dan sianosis 6. Meningkatnya persediaan O2 untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek iskemik 9. Banyaknya obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup 10. Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati pasien curah jantung 11.

Keluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi jaringan 2. Mempertahankan cairan / pembatasan natrium sesuai indikasi 8. Pantau keluaran urine. Catat perubahan ada / hilangnya oedema sebagai respon terhadap terapi 4. mencapai peningkatan toleransi aktivitas . Pertahankan duduk / tirah baring dengan posisi Semi Fowler 3. catat penurunan dan atau bunyi tambahan 5. Meningkatkan Filtrasi Ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan dieresis 3.• • Tujuan : Volume cairan pasien berkurang sampai dengan normal Kriteria hasil : Volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran bunyi nafas bersih. Kelebihan volume cairan sering menimbulkan kongesti paru 5. Pemberian obat sesuai indikasi : Diuretik contoh : Furosemid (Lasix) 7. tanda vital dalam batas normal. Auskuhasi bunyi nafas. menyatakan tentang pembatasan cairan Intervensi Rasional 1. Menunjukkan kelebihan volume cairandan dapat menunjukkan terjadinya gagal jantung 6. Pantau tekanan darah dan CVP 6. Pantau Foto thorax Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 / kebutuhan • • Tujuan : Pasien mampu melakukan aktivitas fisik Kriteria hasil : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri. catat jumlah dan warna 2. berat badan normal dan tidak oedem. Menurunkan air total tubuh / reakumulasi cairan Menunjukkan perubahan indikatif peningkatan / perbaikan kongesti paru 1. Timbang berat badan setiap hari 4. Meningkatkan laju aliran urine dan dapat menghambat reabsorsi natrium / klorid pada tubulus ginjal 7.

nafas dalam 3. Rasional 1. contoh : pengobatan. Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia 4. Kelemahan merupakan samping beberapa obat efek 2. Anjurkan pasien selalu merubah posisi 4. Auskuitasi bunyi nafas. catat tachicardi disritmia. pucat Rasional 1. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas 3. Pertahankan duduk di kursi. Menurunkan konsumsi oksigen / . dispnea. Catat respon Kardiopulmonal terhadap aktivitas. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi 5. Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2 3. Intervensi 1. Memenuhi kebutuhan perawatan diri tanpa mempengaruhi stress Peningkatan aktivitas secara bertahap menghindari kerja jantung / konsumsi oksigen berlebihan Diagnosa 4 : Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan pertukaran gas Kriteria hasil : mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA / oksiometri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. mengi 2. Menyatakan adanya kongesti paru / pengumpulan secret menunjukkan untuk intervensi lanjut 2. catat krekel. nyeri 4. Implementasikan program rehabilitasi jantung / aktivitas 4.Intervensi 1. Penurunan / ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktifitas dapat menyebabkan peningkatan frekuensi jantung 2. Kaji penyebab kelemahan. Anjurkan pasien batuk efektif. Dapat menunjukkan peningkatan Decompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas 3.

Intervensi 1. Terlalu kering atau lembab merusak kulit dan mempercepat kerusakan 3. Meningkatkan aliran darah 4. oedema. Berikan perawatan kulit. Berikan oksigen sesuai indikasi tambahan kebutuhan dan meningkatkan ekpansi paru maksimal 5. Ubah posisi saat ditempat tidur. bantu rentang gerak pasif / aktif 2. Hindari obat intramuskuler Rasional 1. Memperbaiki sirkulasi / menurunkan waktu satu area yang menggangu aliran darah 2. Pijat area kemerahan atau memutih Diagnosa 6 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi • • Tujuan : Pengetahuan pasien meningkat Kriteria hasil : − Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkanepisod berulang dan mencegah . Edema interstitial dan gangguan sirkulasimemperlambat absorsiobat dan predisposisi untuk kerusakan kulit / terjadinya infeksi 4. meningkatkan pertukaran gas 6. Furosemid (lasix) Diagnosa 5 : Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Meningkatkan konsentrasi alveolar yang dapat memperbaiki / memudahkan hipoksemia jaringan Menurunkan kongesti alveolar. meminimalkan dengan kelembapan / ekresi 3. dan penurunan perfusi jaringan • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intregritas kulit Kriteria hasil : mempertahankan integritas mendemonstrasikan perilaku / tehnik mencegah kulit kulit. Berikan obat sesuai indikasi : Diuretik.tirah baring dengan kepala tempat tidur lebih tinggi (Semi Fowler) 5.

Pemahaman kterapeutik dan pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah terjadinya komplikasi obat Menambah pengetahuan dan 3. Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan 2. Diskusikan pentingnya pembatasan natrium Rasional 1. dan efek samping memungkinkan pasien untuk membuat 4. Jelaskan dan diskusikan peran keputusan berdasarkan informasi pasien dalam mengontrol faktor resiko dan faktor pencetus Diagnosa 7 : Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas • • Tujuan : Ansietas pasien berkurang sampai dengan hilang Kriteria hasil : − Mengakui dan mendiskusikan takut / masalah − Menunjukkan perasaan yang tepat − Wajah tampak rileks − Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi . Pembatasan diit natrium diatas 3gr/hari akan menghasilkan efek diuretic 3. tujuan. Diskusikan obat.komplikasi − Menyatakan tanda / gejala memerlukan intervensi cepat yang − Mengidentifikasi stress pribadi / faktor resiko untuk menangani − Melakukan perubahan perilaku yang perlu pola hidup / Intervensi 1. Diskusikan pentingnya fungsi jantung sehat 2.

menjelaskan rasional dan prosedur untuk pengobatan. Rujuk ke indikasi ahli gizi sesuai Rasional 1. Beri kesempatan untuk bertanya jawab 3. Libatkan pasien / orang terdekat dalam perencanaan perawatan 4. pasien tidak merasa pahit dan enak bila mengunyah 3. Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru untuk memilih intervensi yang tepat 2. Intervensi 1. Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit . menjelaskan factorfaktor bila diketahui. Berikan waktu untuk menyiapkan peristiwa atau pengobatan Rasional 1. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa 2. Observasi tanda-tanda malnutrisi setiap hari 2. Diketahui adanya tanda-tanda malnutrisi yang merupakan petunjuk adanya gangguan kebutuhan nutrisi 2.Intervensi 1. jika mungkin anjurkan untuk menyikat gigi 3. Dapat memperbaiki beberapa perasaan Kontrol / kemandirian pada pasien yang merasa tidak berdaya dalam menerima diagnosa Diagnosa 8 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. Dapat menambah nafsu makan. Kelola kebersihan mulut setiap 2-4 jam. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan • • Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi untuk mempertahankan fungsi tubuh Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi interpretasi terhadap informasi 3.

2000. 2007. . EGC: Jakarta Doengoes. Horne Mima M & Swearingen. Hadibroto Iwan. Buku agar Fisiologi Kedokteran Edisi II. Hall & Guyton. Lynda Juall. turunkan aktifitas mental fisik pada sore hari 2. Lynda Juall. Moyet. EGC: Jakarta. Berikan obat sesuai indikasi Rasional 1. EGC: Jakarta Carpenito. PT. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Perawatan. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta Carpenito. Edisi 3. Evaluasi tingkat stress 3. PL. Lengkapi jadwal tidur dan ritual secara teratur 4. EGC : Jakarta. 2006. Aktivitas fisik dan mental meningkatkan kelelahan yang dapat meningkatkan kebingungan 2. Mempertahankan kestabilan lingkungan 4. Anjurkan istirahat sejenak. 2001. elektrolit & asam basa. Gagal Ginjal. Keseimbangan cairan. Marilyn E. EGC: Jakarta. Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. 2007. 2001. Beri makan kecil sore hari 5. Rencana Asuhan Keperawatan.Diagnosa 9 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur yang biasanya • • Tujuan : Pola tidur pasien terpenuhi Kriteria hasil : − Mampu adekuat pikiran menciptakan pola tidur yang dengan penurunan terhadap − Tampak / bisa istirahat yang cukup Intervensi 1. Tingkat stress dapat melonggarkan pola tidur yang mencapai tidur pulas 3. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk Mungkin efektif dalam menangani penyakitnya kemampuan tidur untuk meningktkan DAFTAR PUSTAKA Alam Syamsir.

com 2007/07/laporan pendahuluan gagal ginjal kronis. Nurs.Price. Salemba Medika: Jakarta Price. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Suzanne C. EGC: Jakarta Smeltzer. PENGERTIAN Gagal jantung Kongestif adalah ketidakmampuan Jantung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi (Brunner & Suddarth. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI: Jakarta M. 1999). Edisi 3. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2. 2005).http://keperawatan . Nursalam. DR. Wilson. 2002. 2006. Gagal jantung adalah keadaan patofisiologis ketika jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan (Sylvia A. 2000. Media Aeskulapius.gun. PROSES TERJADINYA MASALAH . Lorrelne M. Edisi 8. B. Gagal jantung Kongestif adalah kondisi patofisiologik yang diakibatkan gangguan fungsi jantung karena jantung tidak dapat mempertahankan curah yang cukup untuk kebutuhan metabolik jaringan dan organ tubuh (Robbins. 2006. FKUI: Jakarta BAB I KONSEP DASAR MEDIK CONGESTIF HEART FAILURE (CHF) A.blogspot. Stanley. Sylvia A. Jilid 2. 2002). EGC: Jakarta Soeparman. Mansjoer. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Buku Ajar Keperawatan Medikel Bedah Brunner & Suddarth. L. Arif. 2007.

Seiring dengan peningkatan progresif volume diastolik – akhir. Hal ini menyebabkan volume diastolik – akhir ventrikel secara progresif bertambah. 2. Suzanne C. Hipertrofi otot jantung tidak dapat berfungsi secara normal dan akhirnya akan terjadi gagal jantung (Smeltzer. Terjadinya Hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat).1. 2002). Faktor Predisposisi Penyakit yang dapat menimbulkan penurunan fungsi ventrikel seperti : − Penyakit Arteri Koroner − Hipertensi − Kardiomiopati − Penyakit jantung Kongenital 3. Faktor Presipitasi − Kelainan otot jantung (Miokardium) yang menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Patofisiologi Gagal jantung kongestif terjadi sewaktu kontraktilitas jantung berkurang dan ventrikel tidak mampu memompa keluar darah sebanyak yang masuk sewaktu diastole. Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. sel-sel otot vebtrikel mengalami peregangan melebihi panjang . − Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi Miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. − Hipertensi sitemik atau Pulmonal (peningkatan afterload) meningkatnya beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Efek tersebut (hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan meningkatkan kontraktilitas jantung.

− Kelemahan fisik. Dispnea disebabkan oleh peningkatan kerja pernafasan akibat kongesti vaskuler paru yang mengurangi kelenturan paru. adalah manifestasi gagal jantung yang paling umum. maka volume sekuncup jantunglah yang harus menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah jantung. − Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) atau mendadak terbangun karena dispnea. atau perasaan sulit bernafas. Konsep curah jantung paling baik dijelaskan dengan persamaan CO = HR x SV . Manifestasi Klinik Tanda dan gejala gagal jantung secara umum : − Dispnea.optimumnya. − Batuk non produktif juga dapat terjadi akibat kongesti paru. Semakin terisi berlebihan ventrikel. manifestasi utama dari penurunan curah jantung adalah kelemahan dan kelelahan dalam melakukan aktifitas. Akibatnya volume sekuncup. (Suzanne C Smeltzer. (Elizabeth J Corwin. dipicu oleh timbulnya edema paru interstisial. Respon-respon reflek tubuh yang mulai bekerja sebagai jawaban terhadap penurunan tekanan darah akan secara bermakna memperburuk situasi. Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan kontraktilitas jantung yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal. 2001). terutama pada posisi berbaring. semakin sedikit darah yang dapat dipompa keluar sehingga akumulasi darah dan peregangan serat otot bertambah. Bila curah jantung berkurang maka sistem saraf simpatis akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan curah jantung. Tegangan yang dihasilkan menjadi berkurang karena ventrikel teregang oleh darah. − Ortopnea (dispnea saat berbaring). 4. Bila mekanisme kompensasi ini gagal untuk mempertahankan perfusi jaringan yang memadai. curah jantung dan tekan darah turun. dimana curah jantung (CO : Cardiac Output) adalah fungsi frekuensi jantung (HR : Heart Rate) x volume sekuncup (SV: Stroke Volume).2000). Tanda dan gejala gagal jantung kanan : .

Tanda dan gejala gagal jantung kiri : − Sesak nafas (dispnea) − Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) − Ortopnea − Batuk-batuk − Sianosis − Jantung membesar.− Peningkatan tekanan vena jugularis (JVP) − Hepatomegali (pembesaran hati) : nyeri tekan hati dapat terjadi akibat peregangan kapsula hati. 2005). − Nokturia (dieresis malam hari) yang mengurangi retensi cairan. nyeri dada). nyeri dada) yang terjadi pada kegiatan fisik biasa. Cor membesar. (Sylvia A. − Foto rontgent : Oedema Paru. seperti anoreksia. Klasifikasi Menurut New York Heart Association (NYHA) gagal jantung dapat di klasifikasikan menurut derajatnya. . tumit). − Derajat III : Timbul gejala sewaktu melakukan kegiatan fisik ringan. − Gejala saluran cerna. yaitu : − Derajat I : Tidak ada gejala (seperti nafas pendek. tachycardia. Edema mula-mula tampak pada bagian tubuh yang tergantung (tunkai bawah.Price. rasa penuh atau mual dapat disebabkan oleh kongesti hati dan usus. − Derajat II : Timbul gejala (nafas pendek. nyeri dada) bila melakukan kegiatan fisik biasa. − Edema Perifer terjadi akibat penimbunan cairan dalam ruang interstisial. − Derajat IV : kegiatan fisik hamper tidak bisa dilakukan oleh karena dengan istirahat saja telah timbul gejala (nafas pendek.

dan berbagai bentuk penyakit jantung korgenital juga dapat dideteksi. Left bundle branch block. kelainan ST/T menunjukkan disfungsi venrikel kiri kronis. Pemeriksaan ekokardiografi dapat digunakan untuk memperkirakan ukuran dan fungsi ventrikel kiri. Hipertrofi Ventrikel kiri dan gelombang T terbalik menunjukkan Stenosisa Aorta dan penyakit hipertensi. • Elektrokardiografi (EKG) Pada pemeriksaan EKG untuk klien dengan gagal jantung dapat ditemukan kelainan EKG seperti dibawah ini : 1. thrombus dalam ventrikel. 2. Creatimin. termasuk aliran warna dapat digunakan untuk menilai regurgitasi katup dan pirau intrakardiak. 3. Edema paru. • Pemeriksaan Laboratorium − Elektrolit. Serum Albumin. menunjukkan penyakit jantung Iskemik. Right Bundle Branch block dan Hipertrofi ventrikel kanan menunjukkan adanya disfungsi ventrikel kanan. (Muttaqin Arif. 5. • Rontgent Dada Foto sinar X dada Posterior – Anterior dapat menunjukkan adanya Hipertensi Vena. Aritmia : Deviasi Aksis ke kanan.1996). BUN. 5. Aneurisma ventrikel kiri. 4. Pemeriksaan Penunjang • Ekokardiografi Ekokardiografi sebaiknya digunakan sebagai alat pertama dalam diagnosis dan manajemen gagal jantung. 2009). Penatalaksanaan Medis .(Long C Barbara . atau Kardiomegali. Efusi Perikardial. Ultrasonografi Doppler. Gelombang Q menunjukkan infark sebelumnya dan kelainan segmen ST.

Prosozin Melebarkan arteri Perifer Vena Pulmonalis . Hidralazin Menurunkan tahanan vaskuler sistemik 6. Furosemid dan Asam Etakrinat baik secara oral maupun intravena 3. menurunkan secara ringan tahanan vaskuler sistemik 5.M Sjaifoellah 1996 adalah : 1. Lily ismudiai 1998 adalah : 1. Ultrafiltrasi) • Penatalaksanaan menurut Riiantono. Preparat Digitalis untuk meningkatkan Kontraktilitas Miokardium 4. Preparat Nitrat atau Isorbit Dinitrat meningkatkan kapsitas vena Pulmonalis. Memperbaiki daya pompa jantung Digitalis.• Tujuan Penatalaksanaan menurut Noer H. Parasentesis. Pembatasan aktivitas kerja berat untuk menurunkan kerja jantung 2. Mengurangi beban kerja − Istirahat jasmani dan Emosional − Berat badan yang berlebihan (obesitas) sebaiknya dikurangi / diturunkan − Vasodilator 2. obat-obatan Simptomatik. Pengendalian Retensi garam dan cairan − Diit rendah garam − Diuretic − Pengeluaran cairan secara mekanik (Thoracosentesis. pacu jantung 3. Obat-obatan Diuretik untuk memp[erbaiki gejala kongestif seperti Dispnea Misal : Diuretik Tiazid.

Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan pemahaman / kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung / penyakit / gagal Diagnosa Keperawatan pada gagal jantung menurut Lynda Juall Carpenito edisi 8. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 9. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen karena gagal jantung kongestif 7. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur seperti biasanya . DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan pada pasien gagal jantung menurut Marilyn Doengoes dkk. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 10. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan 10. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 8. 2000 adalah : 6. dan penurunan perfusi jaringan 11. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 12. 2000 adalah : 7. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual.C. Resiko terhadap kelebihan volume cairan : odema yang berhubungan dengan penurunan aliran darah ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan 9. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 8. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. oedem.

Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 11. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual.Dari kedua Diagnosa Keperawatan diatas dapat disimpulkan bahwa Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah : 10. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. • Tujuan : Peningkatan frekuensi jantung • Curah jantung meningkat Kriteria hasil : pasien menunjukkan tanda vital dalam batas normal. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang informasi 16. Rasional 1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 13. Biasanya terjadi takikardi untuk • A Intervensi . bebas gejala jantung. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 17. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran cerna 18. Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan untuk mengambil posisi tidur yang biasanya D. terjadi penurunan dispnea. oedem. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 15. dan penurunan perfusi jaringan 14. ikut sertakan dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung. disritmia terkontrol. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 12. FOKUS INTERVENSI Menurut Doengoes (2000) Diagnosa 1 : Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial.

digunakan untuk meningkatkan Asam Etakrinik volume sekuncup (Enderic). Captopril(Capoten). Pantau keluaran urine. Pada gagal jantung kongestif dini.Bumetamid (Bumex) 10. Kaji adanya kulit pucat dan 5. Meningkatnya persediaan O2 indikasi untuk kebutuhan miokard 9. Pucat menunjukkan sianosis menurunnya Perfusi Perifer Sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung dan anemia Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung 6. S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa jantung 3. Berikan O2tambahan dengan kontraksi jantung den menurunnya kebutuhan oksigen kanul nasal / masker sesuai 8. sedang atau kronik. TD dapat meningkat sehubungan dengan Septum Ventriculler Right (SVR) Intervensi Rasional 5. Banyaknya obat dapat 10. catat kronik penurunan dan kepekatan 6. Istirahat fisik dipertahankan untuk memperbaiki efisiensi 8. Berikan obat sesuai indikasi untuk melawan efek iskemik 9. Diuretic : Furosemid (Lasix). Eralapri (Vasotec) jantung dengan menghambat . Untuk mengontrol gagal (Prinivil).• C • P • P mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler 2. Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati pasien curah jantung Intervensi Rasional 11. Ginjal berrespon untuk konsentrasi urine menurunkan curah jantuingdengan menahan cairan 7. Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi 4. Usinopril 11. Beri posisi nyaman pada tempat dan natrium tidur atau kursi 7.

catat respon terhadap terapi penurunan dan atau bunyi 4. Auskuhasi bunyi nafas. Pemberian obat sesuai indikasi : jantung Diuretik contoh : Furosemid 6.12. Meningkatkan Filtrasi Ginjal dengan posisi Semi Fowler dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan dieresis 3. catat 1. Kelebihan volume cairan sering tambahan menimbulkan kongesti paru 5. Intervensi Rasional 1. Pantau Foto thorax Menunjukkan perubahan indikatif peningkatan / perbaikan . Pantau keluaran urine. Dapat mempengaruhi elektrolit (kalium dan klorida) yang mempengaruhi irama jantung Diagnosa 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air • • Tujuan : Volume cairan pasien berkurang sampai dengan normal Kriteria hasil : Volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran bunyi nafas bersih. tanda vital dalam batas normal. Keluaran urine mungkin sedikit jumlah dan warna dan pekat karena penurunan perfusi jaringan. Menurunkan air total tubuh / indikasi reakumulasi cairan 8. Intervensi Rasional 2. Mempertahankan cairan / tubulus ginjal pembatasan natrium sesuai 7. berat badan normal dan tidak oedem. Catat perubahan ada / hilangnya oedema sebagai 4. menyatakan tentang pembatasan cairan. Menunjukkan kelebihan volume cairan dan dapat menunjukkan terjadinya gagal 6. Pantau tekanan darah dan CVP 5. Pantau dan ganti elektrolit konversi angiotesin dalam paru dan menurunkan tekanan darah 12. Pertahankan duduk / tirah baring 2. Timbang berat badan setiap hari 3. Meningkatkan laju aliran urine (Lasix) dan dapat menghambat reabsorsi natrium / klorid pada 7.

Catat respon Kardiopulmonal 1. contoh : pengobatan. Intervensi Rasional 1. Penurunan / ketidakmampuan terhadap aktivitas. nyeri 4. Memenuhi kebutuhan perawatan diri tanpa mempengaruhi stress Peningkatan aktivitas secara 3. Dapat menunjukkan peningkatan Decompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas 3. Intervensi Rasional 1. Auskuitasi bunyi nafas. Kaji penyebab kelemahan. mengi paru / pengumpulan secret menunjukkan untuk intervensi . meningkatkan volume pucat sekuncup selama aktifitas dapat menyebabkan peningkatan frekuensi jantung 2. dispnea. Implementasikan program bertahap menghindari kerja jantung / rehabilitasi jantung / aktivitas konsumsi oksigen berlebihan Diagnosa 4 : Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan pertukaran gas Kriteria hasil : mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA / oksiometri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. Menyatakan adanya kongesti krekel. Kelemahan merupakan efek samping beberapa obat 4. mencapai peningkatan toleransi aktivitas. catat miokardium untuk tachicardi disritmia. catat 1. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas 2.kongesti paru Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 / kebutuhan • • Tujuan : Pasien mampu melakukan aktivitas fisik Kriteria hasil : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi 5.

2. Anjurkan pasien batuk efektif. Ubah posisi saat ditempat tidur. Hindari obat intramuskuler kerusakan Edema interstitial dan gangguan Intervensi Rasional sirkulasi memperlambat absorsiobat dan predisposisi untuk kerusakan . meningkatkan pertukaran gas Diagnosa 5 : Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Meningkatkan konsentrasi alveolar yang dapat memperbaiki / memudahkan 6. nafas dalam 3. yang menggangu aliran darah meminimalkan dengan 2. Membersihkan jalan nafas dan 4. Terlalu kering atau lembab kelembapan / ekresi merusak kulit dan mempercepat 3. Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional tambahan 4. Intervensi Rasional 1. tirah baring dengan kepala tempat tidur lebih tinggi (Semi kebutuhan dan meningkatkan ekpansi Fowler) paru maksimal memudahkan aliran O2 3. dan penurunan perfusi jaringan • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intregritas kulit Kriteria hasil : mempertahankan integritas mendemonstrasikan perilaku / tehnik mencegah kulit. Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia Menurunkan konsumsi oksigen / Intervensi 5. kulit. 1. Pertahankan duduk di kursi. Memperbaiki sirkulasi / bantu rentang gerak pasif / aktif menurunkan waktu satu area 2. Anjurkan pasien selalu merubah posisi lanjut 2. Furosemid (lasix) Menurunkan kongesti alveolar. Berikan perawatan kulit. oedema. Berikan obat sesuai indikasi : hipoksemia jaringan Diuretik.

4. Pijat area memutih

kemerahan

atau

kulit / terjadinya infeksi 3. Meningkatkan aliran darh, meminimalkan hipoksia jaringan

Diagnosa 6 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi • • Tujuan : Pengetahuan pasien meningkat Kriteria hasil : − Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkanepisod berulang dan mencegah komplikasi − Menyatakan tanda / gejala memerlukan intervensi cepat yang

− Mengidentifikasi stress pribadi / faktor resiko untuk menangani − Melakukan perubahan perilaku yang perlu pola hidup /

Intervensi Rasional 5. Diskusikan pentingnyafungsi 4. Pengetahuan proses penyakit jantung sehat dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program 6. Diskusikan pentingnya pengobatan pembatasan Pembatasan diit natrium diatas 3gr/hari Intervensi Rasional natrium akan menghasilkan efek diuretic 5. Diskusikan obat, tujuan, dan 7. Pemahaman kterapeutik dan efek samping pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah 6. Jelaskan dan diskusikan peran terjadinya komplikasi obat pasien dalam mengontrol faktor 8. Menambah pengetahuan dan resiko dan faktor pencetus memungkinkan pasien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi Diagnosa 7 : Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas

• •

Tujuan : Ansietas pasien berkurang sampai dengan hilang Kriteria hasil : − Mengakui dan mendiskusikan takut / masalah − Menunjukkan perasaan yang tepat − Wajah tampak rileks − Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi

Intervensi Rasional 1. Evaluasi tingkat pemahaman 1. Pasien dan orang terdekat pasien / orang terdekat tentang mendengar dan mengasimilasi diagnose informasi baru Intervensi Rasional untuk memilih intervensi yang 2. Beri kesempatan untuk bertanya tepat jawab 2. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan 3. Libatkan pasien / orang terdekat persepsi interpretasi terhadap dalam perencanaan perawatan informasi 4. Berikan waktu untuk menyiapkan 3. Dapat memperbaiki beberapa peristiwa atau pengobatan perasaan 4. Kontrol / kemandirian pada pasien yang merasa tidak berdaya dalam menerima diagnosa Diagnosa 8 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual, anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan • • Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi untuk mempertahankan fungsi tubuh Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral, menjelaskan factorfaktor bila diketahui, menjelaskan rasional dan prosedur untuk pengobatan

Intervensi Rasional 1. Observasi tanda-tanda 1. Diketahui adanya tanda-tanda malnutrisi setiap hari malnutrisi yang merupakan petunjuk adanya gangguan 2. Kelola kebersihan mulut setiap kebutuhan nutrisi 2-4 jam, jika mungkin anjurkan 2. Dapat menambah nafsu makan, untuk menyikat gigi pasien tidak merasa pahit dan enak bila mengunyah Memberikan konseling dan 3. Rujuk ke ahli gizi sesuai bantuan dengan memenuhi kebutuhan indikasi diit Diagnosa 9 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur yang biasanya • • Tujuan : Pola tidur pasien terpenuhi Kriteria hasil : − Mampu adekuat pikiran menciptakan pola tidur yang dengan penurunan terhadap

− Tampak / bisa istirahat yang cukup

Intervensi Rasional 6. Anjurkan istirahat sejenak, 1. Aktivitas fisik dan mental turunkan aktifitas mental fisik meningkatkan kelelahan yang pada sore hari dapat meningkatkan kebingungan 7. Evaluasi tingkat stress 2. Tingkat stress dapat melonggarkan pola tidur yang 8. Lengkapi jadwal tidur dan mencapai tidur pulas ritual secara teratur 3. Mempertahankan kestabilan 9. Beri makan kecil sore hari lingkungan 10. Berikan obat sesuai indikasi 4. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk Mungkin efektif dalam menangani penyakitnya untuk meningktkan kemampuan tidur

M. J & Moyet. 1996.L. Arif. A. 2005. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 6. 1998. Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart. 2006.A. Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Linda Juall. Buku Saku Diagnosis Keperawatan NIC dan NOC. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Barbara. 2002. buku ke 2 . Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Kepeawatan). EGC: Jakarta Depkes RI. Stanley. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Perawatan.Syaifullah. Edisi revisi. EGC: Jakarta Smeltzer. Edisi 3. Balai Penerbit UI. EGC: Jakarta Perry & Potter. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjadjaran. EGC: Jakarta Wilkinson. EGC: Jakarta Robbins. dkk. J Elisabeth. Buku ke2. Edisi 3. Patofisiologi. Amara Books: Ygyakarta Sylvia. Dasar-dasar Ilmu Keperawatan. Proses dan Praktek. Lily. 1990.H. 1999. Salemba Medika: Jakarta Noer.Price. Askep Pasien dengan Gangguan Penyakit Sistem Kardiovaskuler. Buku Ajar Kardiologi. 2007. Buku Ajar Fundomental Keperawatan Konsep. 1984. 1999. Marilyn. EGC: Jakarta Sutedjo. 2000. Edisi 3. EGC: Jakarta Carpenito L. 2001. Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. EGC: Jakarta Lismidar. Edisi 4. Buku Saku Dasar Patologi Panyakit. Volume 2. EGC: Jakarta Wolf. 2009. 2005. Bandung Muttaqin. EGC: Jakarta Doengoes. 1996. Edisi 8. Proses Keperawatan. I. Buku Saku Patofisiologi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 2007. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi. Edisi 5. C. FKUI: Jakarta Rilantono. Jilid1.M.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. EGC: Jakarta Corwiri. Jakarta Long C. 1996.Y. Sizanne. E. Judith.

Tumor adalah Neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan baru yang abnormal. DEFINISI 1. Kanker Paru merupakan abnormalitas dari sel-sel yang mengalami proliferasi dalam paru.BAB I KONSEP DASAR MEDIK A. Karsinoma bronkogenik adalah tumor ganas primer yang berasal dari saluran nafas. adenokarsinoma. ( Hood Al Sagaff.1993 ) 2. merupakan SCLC ( small cell lung cencer ) dan NSCLS ( non small cell lung cencer ) atau karsinoma skuamosa. ( Hood Al Sagaff.1993 ) 3.2000 ) . karsinoma sel besar. Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut dan letaknya di dalam rongga dada. ( Underwood. Jenis tumor paru dibagi untuk tujuan pengobatan.

b. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam terdiri dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan. radiasi ion. Merokok Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. a. menimbulkan tumor. B. Faktor Presipitasi Penyebab terjadinya kanker paru belum jelas diketahui. Faktor Predisposisi Menurut Slamet Suyono.4. 2001. Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. . 2. radon arse ) Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. c. Jadi dari pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan kanker paru adalah penyakit keganasan yang terjadi dibagian paru yang mengalami proliferasi di dalam paru. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). Paparan zat karsinogen ( asbestos. Polusi udara Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap disel dalam atmosfer di kota. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif.

Kanker paru akibat kerja Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenik (pembasmi rumput). Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen). Pekerja pemecah hematite (paru – paru hematite) dan orang – orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden. tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiah. . selenium dan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru.programmed cell death). Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom. Diet Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten. Predisposisi Gen supresor tumor Inisitor Delesi/ insersi Promotor Tumor/ autonomi Progresor Ekspansi/ metastasis d. Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan (insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya.d. Dengan demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada permulaan terbatas pada sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya. Teori Onkogenesis.

penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase. Pada stadium lanjut. hemoptysis.Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar.Wheezing unilateral dapat terdengar pada auskultasi. PATOFISIOLOGI Menurut Practice Guidelines. dispneu. otak. khususnya pada hati. pericardium. dinding esofagus. 2002.hyperplasia dan displasia. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia. biasa timbul efusi pleura. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk.C. tulang rangka. 0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d46430100 0000000001006a5d0000000001000000180300000000000018030000010000006c0 000000000000000000000350000006f0000000000000000000000f04100003b32000 020454d460000010018030000120000000200000000000000000000000000000040 120000901a0000c600000020010000000000000000000000000000950403007a640 400160000000c000000180000000a00000010000000000000000000000009000000 10000000960f0000db0b0000250000000c0000000e000080250000000c0000000e00 0080120000000c00000001000000520000007001000001000000a4ffffff000000000 000000000000000900100000000000004400022430061006c006900620072006900 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 0000000000000000000000000000000000000ca0668f0ca0610000000ccf3ca064cf1 ca0652516032ccf3ca06c4f0ca061000000034f2ca06b0f3ca0624516032ccf3ca06c4f 0ca062000000049642f31c4f0ca06ccf3ca0620000000ffffffff5c1ad200d0642f31fffff fffffff0180ffff0180edff0180ffffffff000000000008000000080000430000000100000 0000000005802000025000000372e9001000000000000000000000000ef0200a07b2 0004000000000000000009f00000000000000430061006c00690062007200000000 00c4f3ca060bf32e3158f6ca0658020000c4f3ca06f8f0ca069c382731060000000100 000034f1ca0634f1ca06e8782531060000005cf1ca065c1ad20064760008000000002 50000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c0000000100 0000180000000c00000000000002540000005400000000000000000000003500000 06f00000001000000cf9d8740888787400000000057000000010000004c000000040 000000000000000000000940f0000de0b0000500000002000000036000000460000 00280000001c0000004744494302000000ffffffffffffffff970f0000dd0b00000000000 04600000014000000080000004744494303000000250000000c0000000e00008025 .hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. dan dingin. dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. demam. Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen.

KLASIFIKASI KANKER PARU Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma Pleura dan Paru – paru (1977) : 1. Perubahan epitel termasuk metaplasia. Terletak sentral sekitar hilus. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinik pada penderita tumor paru yaitu : a) Batuk yang terus menerus dan berkepanjangan b) Nafas pendek-pendek dan suara parau c) Batuk berdarah dan berdahak d) Nyeri pada dada.D. Metastasis dini ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus. komponen normal dari epitel bronkus. a.Tumor ini timbul dari sel – sel Kulchitsky. atau displasia akibat merokok jangka panjang. Karsinoma Bronkogenik. Ketika batuk dan menarik nafas yang dalam e) Hilang nafsu makan dan berat badan E. dan menonjol kedalam bronki besar. Terbentuk dari sel – sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit. Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat). secara khas mendahului timbulnya tumor. Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. demikian pula dengan penyebaran hematogen ke organ – . Karsinoma epidermoid (skuamosa). b. Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter dan cenderung menyebar langsung ke kelenjar getah bening hilus. dinding dada dan mediastinum. Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama bronki.

STADIUM Tabel Sistem Stadium TNM untuk kanker Paru – paru: 1986 American Joint Committee on Cancer. 3). tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat – tempat yang jauh. Tumor papilaris dari epitel permukaan. Karsinoma sel besar. Sarkoma 6).organ distal. Merupakan sel – sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam – macam. Melanoma. (termasuk karsinoma sel Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. Adenokarsinoma alveolar). 1). 7). c. Mesotelioma. F. Lesi seringkali meluas melalui pembuluh darah dan limfe pada stadium dini. e. Patofisiologi. Lain – lain. 4).paru perifer. Kebanyakan timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang – kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut local pada paru – paru dan fibrosis interstisial kronik. Tumor campuran dan Karsinosarkoma 5). 1995). (Price. Tak terklasifikasi. Sel – sel ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru . Tumor karsinoid (adenoma bronkus). . d. Tumor kelenjar bronchial. 2). 8). dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala – gejala sampai terjadinya metastasis yang jauh.

pembuluh darah besar. T4 Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar limfe regional. diafragma. pleura mediastinalis.Gambaran TNM Tumor primer (T) T0 Defenisi Tidak terbukti adanya tumor primer Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus tetapi tidak terlihat pada radiogram atau bronkoskopi Karsinoma in situ Tumor dengan diameter ≤ 3 cm dikelilingi paru – paru atau pleura viseralis yang normal. esofagus. trakea. atau korpus vertebra. atau pericardium tanpa mengenai jantung. Tx TIS T1 T2 T3 Tumor dalam setiap ukuran dengan perluasan langsung pada dinding dada. koepua vertebra. Tumor dengan diameter 3 cm atau dalam setiap ukuran dimana sudah menyerang pleura viseralis atau mengakibatkan atelektasis yang meluas ke hilus. Metastasis pada peribronkial dan/ atau kelenjar – kelenjar hilus ipsilateral. harus berjarak 2 cm distal dari karina. Metastasis pada mediastinal ipsi lateral atau . atau adanya efusi pleura yang maligna. esofagus. pembuluh darah besar. atau dalam jarak 2 cm dari karina tetapi tidak melibat karina. trakea. atau karina. Tumor dalam setiap ukuran yang sudah menyerang mediastinum atau mengenai jantung.

Kelenjar limfe regional (N) N0 Metastasis pada mediastinal atau kelenjar – kelenjar limfe hilus kontralateral. N3 Sputum mengandung sel – sel ganas tetapi tidak dapat dibuktikan adanya tumor primer atau metastasis. M1 Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 tanpa adanya bukti metastasis pada kelenjar limfe regional atau tempat yang jauh. Tumor termasuk klasifikasi T3 dengan atau tanpa bukti metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral. Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu (seperti otak). tidak ada Kelompok stadium Karsinoma TxN0M0 tersembunyi . Metastasis jauh (M) M0 Karsinoma in situ. Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 dan terdapat bukti adanya metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral. kelenjar – kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral.kelenjar limfe subkarina. N1 N2 Tidak diketahui adanya metastasis jauh.

atau setiap tumor yang termasuk klasifikasi T4 dengan atau tanpa metastasis kelenjar limfe regional. Stadium TISN0M0 Stadium T1N0M0 T2N0M0 Stadium T1N1M0 T2N1M0 II Stadium T3N0M0 T3N0M0 IIIa Stadium Setiap T N3M0 setiap NM0 IIIb T4 . atau 0 pada kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular. Setiap tumor dengan metastasis pada kelenjar limfe hilus atau mediastinal kontralateral. tidak ada metastasis jauh.metastasis jauh. I Setiap tumor dengan metastsis jauh.

setiap N.Stadium IV T. H. Tingkat mortalitas perioperatif sebesar 3 % pada lobektomi dan 6 % pada pneumorektomi. tulang.1995). PEMERIKSAAN PENUNJANG ( Barbara. namun hanya < 25 % kasus yang biasa di operasi dan hanya 25 % diantaranya ( 5 % dari semua kasus ) yang telah hidup setelah 5 tahun. 2) Radioterapi radikal Digunakan pada kanker paru bukan sel kecil yang tidak bisa di operasi.M1 (Price. e) Aspirasi dengan jarum dan biopsi jaringan paru dapat dilakukan jika pemeriksaan radiologi menunjukkan lesi di paru-paru perifer. Setiap G. PENATALAKSANAAN MEDIK 1) Pembedahan Memiliki kemungkinan kesembuhan terbaik. 1998 ) a) Foto dada menunjukkan sisi lesi b) Analisis sputum untuk sitologi menyatakan tipe sel kanker c) Skan tomografi komputer dan tomogram paru menunjukkan lokasi tumor dan ukuran tumor. d) Bronkoskopi dapat dilakukan untuk memperoleh sample untuk biopsi dan mengumpulkan hapusan bronkial tumor yang terjadi di cabang bronkus. f) Radionuklide scan terhadap organ-organ lain menentukan luasnya metastase ( otak. Tetapi radikal sesuai untuk penyakit yang bersifat lokal dan hanya menyembuhkan sedikit diantaranya. limpa ) g) Mediastinoskopi menentukan apakah tumor telah metastase ke limfe mediastinum. hepar. 3) Radioterapi paliatif .

I. 4) Kemoterapi Digunakan pada kanker paru sel kecil karena pembedahan tidak pernah sesuai dengan histologi kanker jenis ini. paralysis pita suara .Untuk hemoptisis. tetapi laser atau penggunaan stent dapat memulihkan gejala dengan cepat pada pasien dengan penyakit endobronkhial yang signefikan. meningkatkan kualitas hidup. penurunan BB 2) pola minum : Frekuensi minum meningkat ( rasa haus ) 3) pola tidur : Susah tidur karena adanya batuk dan nyeri dada 4) Aktivasi : Keletihan. 5) Terapi endobronkhial Seperti kerioterapi. sesak nafas atau nyeri lokal. batuk. sesak yang disertai nyeri dada b. PENGKAJIAN 1. kelemahan c. Peran kemoterapi pada kanker bukan sel kecil belum jelas. Pemeriksaan fisik 1) Sistem pernafasan a) Sesak nafas. Keadaan umum : Lemah. 6) Perawatan Faliatif Mengurangi dampak kanker. Kebutuhan dasar 1) pola makan : Nafsu makan berkurang karena adanya sekret dan terjadi kesulitan menelan ( disfagia ). Pengumpulan data a. nyeri dada b) Batuk produktif tak efektif c) Suara nafas : Mengi pada inspirasi d) Serak.

Menggambarkan bentuk.muntah b) Kesulitan menelan c) Penurunan intake makanan. BB menurun 4) Sistem urinarius Peningkatan frekuensi / jumlah urine 5) Sistem neurologis a) Perasaan takut / takut hasil pembedahan b) Kegelisahan a. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus. effuse pleural. Untuk melihat tumor di percabangan bronkus. atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra. ukuran dan lokasi lesi. c) CT-Scanning untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura d) MRI Untuk menilai kelainan tumor yang menginvasi kedalam . disritmia b) Menunjukkan pericardial ) efusi ( gesekan 3) Sistem gastrointestinal a) Mual. Data penunjang a) Foto rontgen dada secara posterior-anterior Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. b) Bronkhografi.2) Sistem kardiovaskuler a) Takikardia.

Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada cairan pleura.vertebrata. mediastinum. sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %. pemeriksaan 3-5 berturut-turut. b) Trans Torakal Biopsi ( TTB ) Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm. aspirasi kelenjar getah bening servikal. Dianjurkan e) Waktu pemeriksaan sputum ( sputum harus segar ) Pada kanker paru yang letaknya sentral. f) Pemeriksaan Sitologi : Pemeriksaan sitologi sputum rutin dikerjakan terutama bila pasien ada keluhan batuk. . pemeriksaan sputum yang baik dapat memberikan hasil positif sampai 67-85 % pada karsinoma sel skuamosa. Pemeriksaan sitologi tidak selalu memberikan hasil positif karena ia tergantung dari : a) Letak tumor terhadap bronkus b) Jenis tumor c) Tekhnik mengeluarkan sputum d) Jumlah sputum yang diperiksa. bilasan dan sikatan bronkus pada bronkoskopi. Supraklavikula. pencucian bagian. medula spinal. g) Pemeriksaan Histopatologi Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas diagnosis kanker paru untuk mendapatkan spesimennya dapat dengan cara biopsi melalui : a) Bronkoskopi Memungkinkan visualisasi. e) Bone scanning Pemeriksaan ini diperlukan bila diduga ada tanda-tanda metastasis ke tulang.dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui). Insiden tumor Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC).

2000 1. 6. Resiko Tinggi terhadap Disfungsi Neurovaskuler Perifer berhubungan .takut mati. proses penyakit kronis 5. 8. e) Torakotomi Untuk diagnosis kanker paru dikerjakan bila berbagai prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor. Dan/atau obat-obat penghilang rasa nyeri yang dapat mengganggu kemampuan untuk membersihkan sekresi. ancaman untuk/perubahan status kesehatan. d) Mediastinoskopi Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat dapat dilakukan dengan cara mediastinoskopi dimana mediastinoskopi dimasukkan melalui insisi supra sternal.c) Torakoskopi Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi. Hasil biopsi memberikan nilai positif 40 % dari studi lain nilai negatif palsu pada mediastinoskopi di dapat sebesar 3-12 ( diikuti dengan torakotomi ). Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan krisis situasi. J. Perubahan Nutrisi Kurang dari kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Tidak mampu mencerna makanan yang masuk secara adekuat karena lokasi tumor dan penanganan tumor seperti kemoterapi dan/atau terapi radiasi. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Danielle Gale. terpasangnya jalan napas buatan yang menghambat kemampuan untuk membersihkan sekresi. Resiko terhadap Bersihan Jalan Napas Tak efektif berhubungan dengan Peningkatan jumlah sekresi akibat dari manipulasi pembedahan. 4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan terapi radiasi kranial 7. Perubahan proses Pikir berhubungan dengan Sindrom SSP (susunan saraf pusat) dan/atau peningkatan tekanan intracranial sekunder terhadap terapi radiasi cranial. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder. Kerusakan Pertukaran Gas Berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dari paru dengan permukaan yang terkena karena kanker atau pneumonia. 2. menurunnya tingkat kesadaran karena anesthesia. 3. faktor psikologis.

2000 1. muntah Berat badan turun Mengeluh masukan makan kurang Cepat merasa kenyang Tidak mampu makan sehubungan dengan dipsnea atau keletihan. Diare berhubungan dengan Perubahan pada membrane mukosa kolon dan usus besar. Dispepsia. Resiko terhadap Konstipasi berhubungan dengan Neurotoksistas dari agen kemoterapi alkaloid vinka seperti vinblastine dan viankritisne. K. Intervensi Rasional Anoreksia Mual. Batasan Karakteristik : a) b) c) d) e) f) Kriteria hasil : Pasien makan cukup makanan untuk mempertahankan berat badan dalam 5% berat badan dasar.dengan kerusakan saraf Karena kemoterapi. FOKUS INTERVENSI Menurut Danielle Gale. dan/atau ulserasi.2000 dan Lynda Juall Carpenito. 11. Memberikan Kaji makanan yang disukai dan/atau informasi untuk . muntah Tanda dan gejala yang berhubungan (berapa kali dan jumlah). Definisi : Suatu keadaan di mana individu yang tidak puasa mengalami atau yang berisiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan yang takadekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik. Perubahan Nutrisi Kurang dari kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Tidak mampu mencerna makanan yang masuk secara adekuat karena lokasi tumor dan penanganan tumor seperti kemoterapi dan/atau terapi radiasi. taxol. mual. Kaji adanya anoreksia. terutama agen alkaloid vinka seperti vincristine dan vinblastine dan agen lainnya seperti ciplatin. mempengaruhi mukosa oral atau gastrointestinal yang membuat pencernaan makanan menjadi sulit. 9. stomatitis dengan kemoterapi/ radiasi yang mukolitis. procarbazine. 10. nyeri mulut. atau disfagia. Nyeri berhubungan dengan parestesia menyakitkan karena agen kemoterapi.

Mencegah distensi berlebihan dari lambung yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada diafragma. penurunan massa otot/jaringan. Stomatis dari kemo/radioterapi dapat menyebabkan mukosa kering. jika ada Meningkatkan pemasukan makanan. anjurkan pasien untuk makan saat tidak merasa lapar. obat antiemetik sebelum Mencegah mual dan muntah dan meningkatkan pemasukan makanan yang adekuat. dan Berikan perawatan mulut sebelum amat nyeri yang membuat kesulitan makan dan/atau anesthesia local/topical untuk makan. mulut kering.yang tidak disukai. Berikan makan. Menurukan stimulus pada pusat muntah dan mengurangi mual berkaitan dengan peningkatan waktu tidur. perencanaan diet. Kaji penurunan berat badan. Akibat dari pengaruh metabolik tumor kakeksia. Berikan kemoterapi saat malam hari. Meningkatkan kelembaban dalam rongga mulut yang merupakan efek Tawarkan saliva buatan jika ada maslah samping dari radiasi. iritasi. jika ada masalah nyeri mulut/oral. . pada metabolisme tubuh dan jeratanjeratan nutrient dengan memecah sel tumor secara cepat. kelemahan. Tawarkan makanan sedikit tapi sering. Kaji adanya rasa cepat kenyang. yang membuat kesulitan bernapas.

. Kerusakan Pertukaran Gas Berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dari paru dengan permukaan yang terkena karena kanker atau pneumonia. mencegah keletihan. sianosis. mungkin mengindikasikan distress pernapasan dan memerlukan intervensi segera. pernapasan. 2. Perubahan dalam pola dan/atau frekuensi dan mudah timbul dispnea. kedalaman pernapasan. dispnea. dan/atau cairan pengganti yang mudah di konsumsi. Batasan Karakteristik : a) b) c) d) Kriteria Hasil : Oksigenasi jaringan dapat dipertahankan. Definisi : Keadaan di mana seorang individu mengalami penurunan jalannya gas ( oksigen dan karbondioksida ) yang aktual ( atau dapat mengalami potensial ) antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular. Dipsnea Hipoksia Gelisah Gas darah abnormal Intervensi Rasional Kaji frekuensi. atau menggunakan otot-otot aksesoris menggunakan otot-otot Bantu napas dan/atau sianosis.Memberikan kalori dan masukan protein tinggi untuk mempertahankan cadangan protein dan Tawarkan kudapan dengan tinggi protein kalori.

suara-suara tambahan seperti mengi. gelisah. Berikan Oksigen sesuai kebutuhan. Membantu untuk mengeluarkan sekresi. dan adanya kebutuhan intervensi tambahan. Meningkatkan Biasanya dengan kanula 2-3 L/menit. Meningkatkan potensi ventilasi secara Anjurkan minum minimal 2 liter per maksimal.Suara napas menurun/hilang mengindikasikan kolaps paru atau Auskultasi suara napas. ronki. Membantu mempertahankan oksigenasi Berikan posisi semi Fowler atau Fowler jaringan adekuat tanpa menekan pusat tinggi atau izinkan untuk duduk di kursi. status Difusi dan pertukaran O² dan CO² dipengaruhi jika ketersediaan permukaan jaringan berkurang atau menurun dan mungkin mengakibatkan Kaji hasil analisa gas darah jika ketidakseimbangan asam asam basa yang memerlukan intervensi segera. Kaji perubahan kesadaran. dilakukan. dalam. Adanya hal-hal ini mungkin mengindikasikan penurunan oksigenasi jaringan otak. potensial ventilasi . kaji penurunan adanya suara tambahan mengindikasikan atau hilangnya ventilasi. mental. maksimum. hari. kendali pernapasan. pake rangsang. Peningkatan masukan cairan diperlukan untuk menghilangkan sekresi dan lebih Anjurkan untuk batuk efektif dan napas mudah untuk membatukkannya.

ronki) Frekuensi dan kedalaman pernapasan menurun Takikardia Batuk tidak efektif Sianosis Dipsnea Nyeri yang menghambat kemampuan untuk batuk Kriteria hasil : kecepatan pernapasan kembali pada batas-batas normal dengan jalan napas paten. Definisi : Suatu keadaan di mana seseorang individu mengalami suatu ancaman yang nyata atau potensial pada status pernapasan. . Berikan aerosal atau pengobatan nebulizer sesuai kebutuhan Berikan brokodilator sesuai kebutuhan. menurunnya tingkat kesadaran karena anesthesia. Risiko terhadap Bersihan Jalan Napas Takefektif berhubungan dengan Peningkatan jumlah sekresi akibat dari manipulasi pembedahan. Infeksi muncul dan hilang secara teratur pada permukaan paru karena adanya pertukaran gas. Berikan antibiotik sesuai pesanan 3. krekels. terpasangnya jalan napas buatan yang menghambat kemampuan untuk membersihkan sekresi. Batasan karakteristik : a) b) c) d) e) f) g) Suara napas abnormal (rale. Dan/atau obat-obat penghilang rasa nyeri yang dapat mengganggu kemampuan untuk membersihkan sekresi.Meningkatkan terbukanya jalan napas.

selama dan setelah nasotrakel masukan jalan napas nasal. untukmempertahankan terbukanya jalan napas. Membantu pasien/keluarga dalam Instruksikan pasien dan/atau keluarga mempertahankan kepatenan jalan napas tentang risiko penghisapan mulut ketika pemberi asuhan/pelayanan dan/atau nasotrakeal sesuai kebutuhan. Tanda-tanda yang mengindikasikan distres pernapasan dan/atau jantung berkaitan dengan kekurangan oksigen. hisapan tersebut. . dan sesudah tindakan. jika Instruksikan pasien untuk mengambil Untuk penggunaan penghisap napas sebelum. nasotrakeal masukan jalan napas nasal. Meningkatkan kepatuhan Instruksikan pasien dan/atau keluarga terhadap pentingnya dilakukan penghisapan. Tindakan untuk mencegah penurunan saturasi dan trauma yang berlebihan Gunakan penghisap dengan risiko selama melakukan tindakan penghisapan dimana lapisan mukosa sedikit terkena nasofaringeal. penggunaan oksigen tambahan sesuai kebutuhan. Mengetahui /menemukan Auskultasi pengunaan penghisap penghisapan itu efektif. Memantau oksigen sebelum. Gunakan alat-alat steril untuk setiap prosedur penghisap nasofaring. Hentikan penghisapan dan berikan suplemen oksigen jika pasien memperlihatkan adanya brakardia. Mencegah penghantaran infeksi bacteria kedalam paru yang dapat menimbulkan infeksi. tampak adanya ektopik ventrikel dan/atau penurunan saturasi oksigen. selama.Intervensi Rasional Tentukan kebutuhan akan Mungkin sangat diperlukan penghisapan oral dan/atau trakea. Pilih kateter dengan diameter setengah dari diameter jalan napas. kesehatan tidak ada.

4. proses penyakit kronis Definisi : peningkatan resiko dikarenakan mikroorganisme patogenik Kriteria hasil : Mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam intervensi untuk mencegah/mengurangi resiko infeksi Tetap tidak demam dan mencapai pemulihan tepat pada waktunya . Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder.

proses penyakit atau infeksi. Menurunkan tekanan dan iritasi pada jaringan dan mencegah kerusakan kulit (sisi potensial untuk perkembangan bakteri). Ubah posisi sering. pertahankan linen kering dan bebas kerutan. membatasi entri portal terhadap agen Tekankan pentingnya higiene oral infeksius. invasif. mengidentifikasi pasien imunosupresi. seperti pangunjung dan staf pengunjung. misalnya efek samping kemoterapi. Peningkatan suhu terjadi karena berbagi faktor. Mungkin digunakan untuk Batasi/hindari prosedur Taati tehnik aseptik. Berikan antibiotik sesuai indikasi. Kaji semua sistem tanda/gejala infeksi. Terjadinya stomatitis meningkatkan risiko terhadap infeksi. Membantu potensial sumber infeksi dan/ pertumbuhan sekunder. Panta suhu. mengalami ISK. infeksi atau diberikan secara profilaktik pada . Pengenalan diri dan intervensi terhadap segera dapat mencegah progresi pada situasi/sepsis yang lebih serius. Tekankan higiene personal. baik. Menurunkan resiko kontamonasi.Intervensi Rasional Tingkatkan prosedur mencuci tangan Lindungi pasien dari smber-sumber yang baik dengan staf dan infeksi.

Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan krisis situasi. d) Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif. Definisi : Keadaan di mana individu/ kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom dalam berespons terhadap ancaman yang tidak jelas. Kriteria hasil : a) Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya. c) Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani. faktor psikologis.5. b) Mengakui dan mendiskusikan takut. ancaman untuk/perubahan status kesehatan. .takut mati.

Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi. 6. Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi. Identifikasi persepsi klien ancaman yang ada oleh situasi terhadap Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu. Rasional Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.Intervensi Observasi peningkatan gelisah. emosi labil. meditasi. Definisi : Suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalamindefisiensi pengetahuan kognitif atau keterampilanketerampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan. bimbingan imajinasi. . Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi. Kurang pengetahuan berhubungan dengan terapi radiasi pada dada untuk kanker paru. Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan. Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol.

Beritahu pasien/kelurga kapan Informasi kebutuhan pasien/keluarga pengobatan akan dimulai. penilaian dan pemahaman yang . Definisi : Keadaan di mana individu mengalami suatu gangguan dalam aktivitas mental seperti berpikir sadar.Batasan Karakteristik : Pasien mengeluh kurang pengetahuan dan/atau bertanya tentang pengobatan terapi radiasi yang bakan dijalaninya. berdasarakan kebutuhan pasien. untuk merencanakan aktivitas seharilamanya pengobatan. Jelaskan efek samping yang mungkin Berkaitan dengan efek terapi dari terapi radiasi pada dada. Intervensi Rasional Kaji pengetahuan tentang rencana Memberikan informasi untuk pengobatan terapi radiasi dan mengembangkan rencana pengobatan kemungkinan efek sampingnya. tujuan dari hari sekitar pengobatan. pengobatan dimulai). Perubahan proses Pikir berhubungan dengan Sindrom SSP (susunan saraf pusat) dan/atau peningkatan tekanan intrakranial sekunder terhadap terapi radiasi kranial. pengobatan tersebut. Kriteria Hasil : Pasien dapat mendiskusikan kemungkinan efek samping dari penanganan radiasi pada dada dan bagaimana mengatasinya jika efek samping ini timbul/terjadi. disfagia dan esofagitis ( 3 minggu setelah jaringan sekitarnya. sekresi bronchial yang kental. waktu. reaksi kulit pada daerah tersebut radiasi secara fisik pada lapang paru dan (7-10 hari setelah pengobatan). pneumotitis (1-3 bulan setelah pengobatan). perikarditis. pemecahan masalah. fibrosis pulmonal. mielitis (jangka lama). rambut rontok. orientasi realitas. 7.

. Hindari aktivitas yang meningkatkan Mencegah trauma atau kerusakan otak tekanan intracranial. Berikan keyakinan yang optimis tetapi Meningkatkan adaptasi pada perubahan realistis pada keluarga dan pasien. dan sakit otak yang mengalami trauma. muntah. mual. sindrom SSP yang mengakibatkan perubahan pada status mental. status mental Meningkatkan orientasi pasien. Pantau status neurologis secara terus Radiasi kranial dapat menyebabkan menerus.berhubungan dengan koping. Intervensi Rasional Kaji tanda dan gejala peningkatan Radiasi cranial dapat menyebabkan tekanan intracranial (TIK) perubahan proses pembengkakan pada jaringna pengelihatan. lebih lanjut. kepala. Batasan Karakteristik : a) Memori hilang b) Tremor c) Somnolen d) Bicara tidak jelas e) Tidak mampu belajar f) Sakit kepala g) Perubahan pengelihatan h) Mual dan muntah Kriteria hasil : Pasien dan/atau keluarga atau orang terdekat mampu mengidentifikasi perubahan status mental yang perlu untuk dilaporkan pada tim tenaga kesehatan.

refleks tendon dalam. Intervensi Rasional Pantau terhadap parestesia : kebas. Pantau respons pada rangsang taktil. 8. atau gerakan ekstremitas. berjalan. terutama agen alkaloid vinka seperti vincristine dan vinblastine dan agen lainnya seperti ciplatin. . keseimbangan.Kaji orientasi dan orientasikan kembali sesuai kebutuhan. penempatan bagian tubuh tertentu. Definisi : Suatu keadaan di mana seorang individu berisiko mengalami suatu gangguan sirkulasi. Batasan karakteristik : a) Pasien mengeluh hilangnya gerakan motorik halus b) nyeri terbakar pada ekstremitas c) baal pada ekstremitas d) gangguan berdiri Kriteria hasil : perubahan persepsi/sensori akan terdeteksi secara dini dan rasa tidak nyaman dan/atau hilang fungsi darinya akan minimal. Parastesia dari alkaloid vinca mungkin kesemutan sebelum setiap dosis obat. kelemahan otot atau atrofi otot. Risiko Tinggi terhadap Disfungsi Neurovaskuler Perifer berhubungan dengan kerusakan saraf Karena kemoterapi. sensasi. procarbazine. Keruskan saraf dari alkaloid vinca dapat menggangu kemampuan penerimaan stimulus taktil. taxol. karena demielinisasi dan degenerasi akson saraf. Kerusakan saraf dari alkaloid vinca mungkin dapat menyebabkan perubahan Kaji fungsi propriosepsi seperti gaya pada fungsi propriosepsi.

Nyeri berhubungan dengan parestesia menyakitkan karena agen kemoterapi. Meningkatkan kemandirian dengan memaksimalkan fungsi yang ada. . Definisi : Keadaan di mana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam berespons terhadap suatu rangsangan yang berbahaya.Beritahu dokter jika ada perubahan pada Meningkatkan identifikasi dini terhadap status neurologist. efek samping obat atau agen tertentu yang mungkin mengakibatkan penghentian atau penurunan dosis obat yang diberikan. Gangguan sensori dapat mempengaruhi Rujuk dengan tepat pada terapi okupasi kemampuan untuk melakukan aktivitas atau terapi fisik. 9. Diskusikan dampak dari perubahan neurologis terhadap aktivitas sehari-hari dan kebutuhan yang mungkin dan/atau terapi fisik. hidup sehari-hari yang memerlukan bantuan seorang profesionalisme untuk memaksimalkan fungsi tersebut. Batasan Karakteristik : a) Pasien mengeluh terasa terbakar b) Kesemutan c) Nyeri gesekan pada ekstremitas Kriteria Hasil : Nyeri pasien akan menurun Intervensi Rasional Kaji tingkat kenyamanan dan adanya Memberikan informasi penting untuk kesemutan hebat atau sensasi gesekan.

Nyeri neuropatik lebih sulit untuk hilang dan menggunakan penggunaan tindakan penghilang nyeri non-tradisional Beritahu pasien/keluarga mengenai dosis. relaksasi otot progresif. Berikan analgesic dengan kerja neurologist seperti amitriptilin HCI (Elavil). catat intensitas. mengembangkan rencana perawatan. dalam dapat Tawarkan pasien tindakan-tindakan nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri . kualitas dan frekuensi dari sensasi tersebut. frekuensi dari obat-obat nyeri yang diresepkan dokter dan bahwa efek dari medikasi itu mungkin tidak segera Meningkatkan penggunaan obat yang benar untuk keuntungan maksimum. dan lain-lain. natrium fenitoin (Dilantin). sperti bimbingan imajinasi. waktu.kram atau rasa terbakar. Agen-agen ini diindikasikan pengobatan nyeri disestetik. Identifikasi factor-faktor presipitasi seperti texrpajan panas atau dingin dan cara-cara menghindarinya. Panas dan/atau dingin meningkatkan rasa nyeri. Tindakan-tindakan tersebut mungkin bermanfaat dalam menghilangkan nyeri yang resisten pada metode penanganan Instruksikan pasien/keluarga tentang nyeri tradisional seperti obat-obat nyeri tindakan-tindakan untuk menghilangkan non-narkotik dan narkotik. masase. nyeri meliputi obat-obatan dan teknik lain yang bermanfaat pada nyeri neuropatik. .

Intervensi Kaji pola eliminasi defekasi. pasase. Meningkatkan kerja propulsif usus. untuk Meningkatkan kandungan cairan lebih Anjurkan masukan cairan per hari 2-3 tinggi pada feses untuk kemudahan liter. Batasan Karakteristik : lebih umum dengan vineristine dan/atau vinblastine dosis tinggi (20 mg). Mencegah ileus paralitik melalui . dapat mengarah pada ileus paralitik dengan nyeri abdomen berat. Pantau bising usus dan/atau proses defekasi. Anjurkan latihan teratur. Memberikan informasi memformulasikan perencanaan. Definisi : Keadaan di mana individu berada pada risiko mengalami status usus besar. Resiko terhadap Konstipasi berhubungan dengan Neurotoksistas dari agen kemoterapi alkaloid vinka seperti vinblastine dan viankritisne.10. yang mengakibatkan jarang eliminasi dan/atau feses keras dan kering. Anjurkan makan tinggi serat Degredasi serat dalam kolon membantu dalam membentuk dan pasase feses. Rasional Memberikan informasi dasar. Kriteria Hasil : Pasien akan mempunyai pola defekasi teratur. mengeluh konstipasi.

dan . Rasional informasi mengenai Evaluasi sifat pengobatan mempunyai efek samping gastrointestinal. Batasan Karakteristik : a) Feses cair b) sering defekasi c) desakan defekasi Kriteria Hasil : pasien mengungkapkan pemahamannya tentang strategi koping pada efek samping ini. Diare berhubungan dengan Perubahan pada membrane mukosa kolon dan usus besar. Mencegah penggunaan obat-obat yang yang dapat menyebabkan diare. Berikan laksatif jika tidak dapat defekasi paling sedikit satu kali sehari.defekasi regular. Definisi : Keadaan di mana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami defekasi sering dengan feses cair. pada Pantau kulit pada daerah perineal Meningkatkan perawatan kulit terhadap kemungkinan iritasi dan mungkin dapat mencegah infeksi ulserasi. atau feses tidak berbentuk. Intervensi Ambil fese untuk kultur dan sensitivitas Memberikan infeksi. 11.

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II. Edisi 3.dkk. Barbara. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi.C. 2000. Jakarta : Erlangga Engram. 2006. 1998. hood. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran Sudoyo. Patologi Umum & Sistemik Edisi 2. 1993. Danielle dkk. Jilid II. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah volume I. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Suyono.E. Surabaya : Airlangga Carpenito. 2003. 1996. 2000. Jakarta : EGC Gale. Jakarta : EGC . Jakarta : EGC Long. At a Giance Medicine. Barbara C.Timbang berat badan secara reguler Memberikan mengenai diet yang adekuat. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 1999. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8 : Jakarta. Slamet. informasi DAFTAR PUSTAKA Alsagaaff. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Underwood. Aru W dkk. Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses Holistik. patrick. EGC Davey.Lynda Juall. J.2001.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.