P. 1
BAB I

BAB I

|Views: 355|Likes:
Published by Priyok Bautista

More info:

Published by: Priyok Bautista on Jul 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2013

pdf

text

original

BAB I KONSEP DASAR MEDIS CA MAMAE A.

PENGERTIAN Kanker merupakan buah dari perubahan sel yang mengalami pertumbuhan tidak normal dan tidak terkontrol. Peningkatan jumlah sel tak normal ini umumnya membentuk benjolan yang disebut tumor atau kanker. Tidak semua tumor bersifat kanker. Tumor yang bersifat kanker disebut tumor ganas, sedangkan yang bukan kanker disebut tumor jinak. Tumor jinak biasanya merupakan gumpalan lemak yang terbungkus dalam suatu wadah yang menyerupai kantong, sel tumor jinak tidak menyebar ke bagian lain pada tubuh penderita. ( http;//tategea.blog.friendster.com/2007/12/ca-mamae ) Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. ( Erik T, 2005, hal : 39-40 ) Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari selsel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. ( http//www.pikiranrakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Harianto, dkk ) Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. ( Harianto dkk, 2005 ) Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. ( blogdokter, 2007) Kanker payudara adalah kanker yang relatif sering dijumpai pada wanita merupakan penyebab kematian utama pada wanita berusia antara 45 dan 64 tahun ( Elizaberth J. Corwin, 2000 ) B. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. Faktor presipitasi dan faktor predisposisi a. Faktor presitipasi Belum diketahui b. Faktor predisposisi 1) Riwayat pribadi tentang kanker payudara. Risiko mengalami kanker payudara pada payudara sebelahnya meningkat hampir 1 % setiap tahun. 2) Anak perempuan atau saudara perempuan (hubungan keluarga langsung) dari wanita dengan kanker payudara.

Resikonya meningkat dua kali jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun. Resiko meningkat 4 sampai 6 kali jika kanker pyudara terjadi pada dua orang saudara langsung. 3) Menarke dini. Resiko kanker payudara meningkat pada wanita yang menglami menstruasi sebelum usia 12 tahun. 4) Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama. Wanita yang mempunyai anak pertama setelah usia 30 tahun mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara di banding dengan wanita yang mempunyai anak pertama mereka pada usia sebelum 20 tahun. 5) Menopause pada usia lanjut. Menoupouse setelah usia 50 tahun meningkatkan resiko untuk mengalami kanker payudara. Dalam perbandingan, wanita yang telah mengalami oovorektomy bilateral sebelum usia 35 tahun mempunyai resiko 1/3 nya. 6) Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel ploriferatif mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara, wanita mengalami dengan hyperplasia tipikal mempunyai resiko empat kali lipat untuk mengalami penyakit ini. 7) Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun berisiko hampir dua kali lipat. 8) Obesitas resiko rendah diantara wanita pasca menopause. Bagaimanapun, wanita gemuk yang di diagnose penyakit ini mempunyai angka kematin lebih tinggi yang paling seringberhubungan dengan diagnosis yang lambat. 9) Kontraseptif oral. Wanita yang menggunakan kontraseptif oral beresiko tinggi untuk mengalami kanker payudara. Bagaimanapun resiko tinggi ini menurun dengan cepat setelah penghentian medikasi. 10) Terapi penggantian hormone. Terdapat laporan yang membingungkan tentang risiko kanker payudara pada terapi penggantian hormone. Wanita yang berusia lebih tua yang menggunakan estrogen. 11) Masukan alcohol. Sedikit peningkatan resiko ditemukan pada wanita yang mengkonsumsi alcohol bahkan hanya dengan sekali minum dalam sehari. Resikonya dua kali lipat diantara wanita yang minum alcohol tiga kali sehari. Beberapa temuan riset menunjukan bahwa wanita muda yang minum alcohol lebih rentan untuk mengalami kanker payudara pada tahun-tahun terakhirnya. (Brunner and

Suddarth 2002) C. PATOFISIOLOGI Neoplasma berarti “pertumbuhan baru” adalah massa abnormal dari selsel yang mengalami proliferasi sel-sel neoplasma berasal dari sel-sel yang sebelumnya adalah sel-sel normal, namun selama mengalami perubahanperubahan neoplastik mereka memperoleh derajat otonomi tertentu yaitu sel neoplastik tumbuh dengan kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang sangat tidak bergantung pada pengawasan homeostatis sebagian besar sel tubuh lainnya. Pertumbuhan sel neoplasmatik biasanya progresif yaitu tidak mencapai keseimbangan, tetapi lebih banyak mengakibatkan penambahan massa sel yang mempunyai sifat-sifat yang sama neoplasma tidak melakukan tujuan yang bersifat adaptasi yang menguntungkan hospes tetapi lebih sering membahayakan. Akhirnya oleh karena sifat otonom sel neoplastik, walaupun rangsangan yang menyebabkan neoplasma sudah dihilangkan neoplasma terus tumbuh dengan progresif. Istilah tumor kurang lebih merupakan sinonim dari istilah neoplasma, semula istilah tumor diartikan secara sederhana sebagai pembengkakan/gumpalan dan kadang-kadang istilah “Tumor Sejati” dipakai untuk membedakan neoplasma dengan gumpalan lainnya. Neoplasma dapat dibedakan berdasarkan sifat-sifatnya. Ada yang jinak, adapula yang ganas dan ada banyak tumor atau neoplasma lain yang tidak bersifat kanker ( C.J.H Van de velde dkk. 2000 ) Pemeriksaan Penunjang : 1. Histologi dan sitologi a. Eksisi ataupun giopsi b. Aspirasi jarum halus c. Hapusan sitologi Pentahapan patologi didasarkan pada histology memberikan prognosis yang lebih akurat. Tahap-tahap yang penting diringkaskan berikut ini: 1. Tahap I : terdiri atas tumor yang kurang dari 2 cm, tidak mengenai nodus limfe, dan tidak terdeteksi adanya metastasis. 2. Tahap II : terdiri atas tumor yang lebih besar dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm, dengan nodus limfe tidak terfiksasi negative atau positif, dan tidak terdeteksi adanya metastasis. 3. Tahap III : terdiri atas tumor yang lebih besar dari 5 cm, atau tumor dengan sembarang ukuran yang menginvasi kulit atau dinding, dengan nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular, dan tanpa bukti adanya metastasis.

dengan nodus limfe normal atau kankerosa. dan Metastasis (Pentahapan TNM) Tahap 0 Tis N0 M0 Tahap I T1 N0 M0 Tahap IIA T0 N1 M0 T1 N1 M0 T2 N0 M0 Tahap IIB T2 N1 M0 T3 N1 M0 Tahap IIIA T0 N2 M0 T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N1 M0 T3 N2 M0 Tahap IIIB T4 Sembarang N M0 Sembarang T N3 M0 Tahap IV Sembarang T Sembarang N M1 Keterangan: Tumor Primer (T) : • T0 : Tidak ada bukti tumor primer • Tis : Karsinoma In Situ. Pentahapan Kanker Payudara Berdasarkan Tumor. karsinoma lobular in situ. atau penyakit Paget’s putting susu dengan atau tanpa tumor • T1 : Tumor < 2 cm dalam dimensi terbesarnya • T2 : Tumor > 2 cm tetapi tidak > 5 cm dalam dimensi terbesarnya • T3 : Tumor > 5 cm dalam dimensi terbesarnya . karsinoma intraduktal. Tahap IV : terdiri atas tumor dalam sembarang ukuran. dan adanya metastasis jauh.4. Nodus.

Kerusakan DNA Sel normal Menonaktifkan gen supresor kanker Adiopatik Neoplasma ganas apoptosis Pengaruh gen yang Genom MutasiPerubahan struktur dalam mengatur gen yang meningkatkan pertumbuhan sel somatic Karsinogen oksigen Agen perusak DNA Kimia Radiasi Virus Fakto predisposisi Riwayat kanker payudara Keturunan Menarke dini • T4 : Tumor sembarang ukuran dengan Nulipara ukuran perluasan ke dinding dada atau kulit. Neroupouse setelah usia 50 tahun Nodus Limfe Regional (N) Riwayat penyakit payudara jinak N0 : Tidak ada metastasis nodus limfe regional • N1 : metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral (S) yang dapat digerakan. • N2 : metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral (s) terfiksasi pada satu sama lain atau pada struktur lainnya • N3 : metastasis ke nodus limfe mamaria internal ipsilateral Matastasis Jauh (M) • Tidak ada metastasis yang jauh • M1 : metastasis jauh (termasuk metastasis ke nodus limfe supraklavikular ipsilateral) (Brunner and Suddarth 2002) • PATHWAY .

Merusak organ tubuh mamae .

h. Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi. Keluar cairan abnormal dari putting susu berupa nanah. g. Bosman. antara lain: a. Adanya kerusakan dan retraksi pada area putting. Keterbatasan aktifitas. Terdapat massautuh kenyal. 3) Mastektomi radikal yang dimodifikasi. semua atau sebagian besar jaringan dan luasnya . saraf d. g. e. pleura C. b.com) Manifestasi klinis post oprasi : a.dibawah ketiak bentuknya tak beraturan dan jauh Metastase terfiksasi. daerah paru-paru c. Edema dengan “peant d’ orange (keriput seperti kulit kulit Brunner & Suddarth. 2000) 3. cairan encer padahal ibu tidak sedang hamil / menyusui.Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV ganas ak mengenai nodus limfe dan tidak terdeteksi adanya metastasis i kurang dari 5 cm dengan nodus limfe tidak terfiksasi negative atau positif dan tidak terdeteksi adanya metastasis Terdiri atas tumor dalam 2. Pembedahan : 1) Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). F.Th. Penatalaksanaan 1. gejala kanker payudara yaitu: a. (Bruner and suddart. Perubahan bising usus (efek anestesi). darah. Nyeri diHepar massa. Perubahan bentuk dan besar payudara. Ada dua cara yaitu dengan Pembedahan dan Non Pembedahan. biasa di kwadran atas bagian dalam. Anoreksia. ( http://ppni-klaten 2009.H Van de velde. e. f. d. Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena).J. Perubahan eliminasi. mual muntah.2002 jeruk). D.Wagener 2000 papilla mammae. Adanya tulang lekukansumsum tulang ke dalam. Kelemahan. semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor. Pengelupasan f.T. c. Seluruh payudara. Perubahan tekanan darah.J. 2) Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara. Nyeri luka oprasi. tarikan dan refraksi pada areola otak mammae. Manifestasi Klinik sembarang ukuran dengan nodus limfe normal atau kankerosa dan adanya metastase jau u tumor dengan sembarang ukuran yang menginvasi kulit atau dinding dengan nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular da Gejala yang ditimbulkan tergantung dari asal tumor primer serta arah penyebaran tumor. b.

seluruh isi aksial. antiestrogen.com) 2. Pemeriksaan Penunjang a. metastase kelenjar limfe aksila. paliatif pada penyakit yang lanjut. 2) Kemoterapi Adjuvan sistematik setelah mastektomi. Test diagnostik lain : 1) Non invasive : a) Mamografi b) Ro thorak c) USG d) MRI e) PET 2) Invasif : a) Biopsi. 3) Terapi hormon dan endokrin Kanker yang telah menyebar. otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya. b. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah. LED. (http://ppni-klaten 2009. Non pembedahan : 1) Penyinaran Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut. ada 2 macam tindakan menggunakan jarum dan 2 macam tindakan pembedahan b) Aspirasi biopsy (FNAB) Dengan aspirasi jarum halus . Pemeriksaan sitologis b. b) Mastektomi radikal yang diperluas : Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna. Test fal marker (CEA) dalam serum/plasma. coferektomiadrenalektomi hipofisektomi. memakai estrogen.aksial a) Mastektomi radikal : Seluruh payudara. sifat massa dibedakan antar kistik atau padat 3) True cut / Care biopsy Dilakukan dengan perlengkapan stereotactic biopsy mamografi untuk memandu jarum pada massa 4) Incisi biopsy 5) Eksisi biopsy Hasil biopsi dapat digunakan selama 36 jam untuk . pada metastase tulang. androgen.

fungsi peran.inflamasi ) efek samping berbagai agen terapi saraf.tindakan invasif dan malnutrisi e.Tujuan : kebutuhan rasa nyaman pasien terpenuhi . Pasien mampu istirahat / tidur dengan tepat 3. c. inflamasi) efek samping berbagai agen terapi saraf.com) D.suplai vaskuler. Kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi keterbatasan kognitif. infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan. f. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (destruksi jaringan saraf. Pasien merasakan perasaan nyeri hilang / terkontrol 2. FOKUS INTERVENSI : 1. Resiko tinggi keruskan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemoterapi. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya cairan yang berlebih.penurunan status nutrisi dan anemia . DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA KANKER 1. perpisahan dari keluarga. suplai vaskuler. d. penurunan berat badan.mual atau muntah. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah.efek samping kemoterapi. g. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekutnya masukan oral karena mual. Pasien mampu menunjukan . penularan perasaan interpersonal h. b.status hipermetabolik . pola interaksi. ancaman kematian. .Kriteria 1.dilakukan pemeriksaan histologik secara froxen section. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kanker payudara menurut Marlynn E. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi perubahan pada status kesehatan. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (destruksi jaringan saraf.anoreksia E.Doenges 2002 adalah : a. (http://ppni-klaten 2009.kehilangan rambut.

Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan 4. dengarkan secara aktif dan beri dukungan. 7. Mencegah pengeringa mukosa oral dan ketidak nyamanan menurunkan ketegangan otot.penggunaan ketrampilan relaksasi. 6.yang memerlukan intervensi medik cepat. 7. Tentukan riwayat nyeri. Berikan tindakan kenyamanan. Berikan tindakan kenyamanan dasar dan aktifitas hiburan. Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi keefektifan evaluasi 9. 5. Mengurangi nyeri. 1. 2. pijatan punggung / ubah posisi. Membantu mengevaluasi derajat karateristik intensitas ( 0-10 ). 3. misal : perawatan mulut. Berikan obat sesuai indikasi (analgetik). 8. Observasi nyeri. 2. penggunaan tehnik misalnya : napas 8. lokasi. ketidaknyamanan dan keefektifan analgetik. 6. Menurunkan ansietas / takut dapat meningkatkan kenyamanan / reseksi. Intervensi Rasional 1. hindari posisi duduk lama. Bantu pasien untuk latihan rentang gerak dan dorongan ambulasi dini. Dorong relaksasi dalam.meningkatkan kenyamanan. 5. Diduga inflamasi peritoneal. Dorong pasien menyatakan masalah. ambulasi mengembalikan organ-organ ke posisi normal dan meningkatkan kembali fungsi ke tingkat normal.meningkatkan relaksasi. . Selidiki dan laporkan adanya kekakuan otot abdominal dan nyeri tekan. 9. Menurunkan kekakuan otot/sendi.dan meningkatkan kemampuan koping. 4. Membantu pasien untuk istirahat lebih efektifdan memfokuskan kembali sehingga mengurangi nyeri dan ketidak nyamanan. 3.

larutan antibiotic.5 hari ) 6. 2. sesuai tehnik 3. gunakan aseptic Rasional 1.10. Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit cacat. Menurunkan iritasi kulit dan potensi infeksi. 10. Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan. Observasi luka. karakteristik drainase 2. . Ganti balutan kebutuhan. Dorong pasien Miring dengan kepala tinggi. Berikan rendam duduk sesuai cairan NaCL 6. Perdarahan pasca oprasi paling sering terjadi drainase. Tujuannya adalah kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS. 5.Duduk lama meningkatkan parineal. 5. 3. hindari duduk lama 4.Kriteria : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi Intervensi 1.Tujuan : Integritas area insisi dapat di pertahankan . Meningkatkan kebersihan dan memudahkan penyembuhan khususnya setelah tampon diangkat biasanya (3. Diperlukan untuk mengobati inflamasi/infeksi pra oprasi atau kontaminasi intra oprasi. 4.gangguan gram/mol.menurunkan sirkulasi ke luka sehingga mengurangi penyembuhan. 2. Irigasi luka indikasi. Evaluasi penghilang nyeri kembali perhatian. Meningkatkan drainase dari luka parineal/draine menurunkan resiko pengumpulan. Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan insisi bedah atau proses pembedahan .

ukur feces cair dan timbang berat badan tiap hari 2. 5. 4. .Tujuan : kekurangan volume cairan tidak terjadi. Untuk mempertahankan perfusi 4.catat hipotensi postural. . Ubah posisi dengan sering 7. Reaksi kulit dapat terjadi pada beberapa agen kemoterapi 8. Batasi selama gaster. 2.7.Kriteria : pasien mampu mempertahakan hidrasi adekuat di tandai dengan membrane mukosa lembab. takikardi. 3. Memberikan indikasi langsung keseimbangan cairan. masukan es batu periode instubasi Rasional 1. 9. Awasi masukan dan keluaran.turgor kulit baik dan pengisian kapiler baik. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya cairan yang berlebih. evaluasi turgor kulit pengisian kapiler dan membrane mukosa 3. Intervensi 1. Mendeteksi hemostasis atau ketidak seimbangan dan menmbantu menentukan kebutuhan penggantian. . Menunjukkan status hidrasi/kemungkinan kebutuhan untuk meningkatkan penggantian cairan. Kulit sangat sensitive selama pengobatan dan setelahnya. dan semua iritsi harus dihindari untuk mencegah cidera dermal. Ovservasi kulit dengan sering terhadap efek samping pengobatan 3. status hipermetabolik . tanda vital stabil dan mampu mengeluarkan urine secara tepat. Anjurkan penggunaan pakaian lembut dan longgar 9. Awasi hasil laboratorium( H + dan elektrolit ). Meningkatkan sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit atau jaringan yang tidak perlu 8. Es batu dapat merangsang sekresi lambung dan mencuci elektrolit. Awasi tanda vital.

Observasi tanda-tanda infeksi.infeksi tidak terjadi . 6. Pantau masukan pengeluaran. Intervensi 1.5. Peningkatan suhu 4-7 hari setelah . 8. bebas dari drinase purulen atau eritema dan demam.Tujuan :. Berikan cairan dan elektrolit. 6. Kaji turgor kilitdan kelembaban membrane mukosa. 3. Digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien monosupresi 2. Untuk infeksi mencegah terjadinya 2. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan. Membantu dalam memenuhi kebutuhan cairan dan menurunkan resiko efek samping yang membahayakan 4. Pantau tanda-tanda vital (perhatikan peningkatan suhu ). Menunjukkan volume sirkulasi keadekuatan 7. Dorong peningkatan masukan cairan sampai ml/hari sesuai toleransi 8. evaluasi nadi perife.Kriteria hasil : mencapai pemulihan luka tepat waktu. Pantau keseimbangan cairan negative terus menerus. 9. Lakukan perawatan luka. dan jaringan adekuat/fungsi organ. perhatikan keluhan haus. Indicator tidak langsung dari status dahidrasi atau drajat kekurangan 9. Rasional 1. tindakan invasif dan malnutrisi . 3. menurunkan pengeluaran renal dan konsentrasi urine menunjukan dehidrasi dan perlunya peningkatan pengganti cairan 7. Pantau tanda vital.

.Kriteria : 1. Kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi keterbatasan ognitif. 7. 8. Melindungi pasien dari sumbersumber infeksi. Mungkin digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien imunosupresi 6.Tujuan : pasien dan keluarga dapat mengerti tentang perawatan penatalaksanaan di rumah sakit dan manejemen perawatan di rumah. Intervensi Rasional 1. mencuci pembedahan sering menandakan syok septic. 5. pasien mampu mengungkapkan tentang perawatan penatalaksanaan terhadap penyakit. pasien mengungkapkan tentang manajemen perawatan di rumah. Kolaborasi pemberian antibiotik 5. 2. Melindungi pasien dari kontaminasi selama penggantian balutan. Tingkatkan prosedur tangan yang baik. Mempertahankan lingkungan yang aseptic yang optimal selama penempatan batas sentral disisi tempat tidur. 5. Pertahankan perawatan luka aseptic.4. 7. 6. Taati teknik aseptic saat prosedur infasive. Digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien monosupresi 8. Pengenalan diri dan intervensi segera. dapat mencegah progresi sepsis yang serius. Dengan menjelaskan di harapkan pasien dan keluarga dapat .pertahankan balutan kering . .abses luka atau kebocoran cairan. 4. Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang 1.

Diskusikan tanda dan gejala apa saja yang harus di laporkan segera kepada petugas. 8. Menanamkan pemahaman kepada pasien dan keluarga sangat penting di lakukan. 6. 5. dan pengobatan tepat waktu terhadap komplikasi 6. kesempatan untuk didiagnosa. 2. Untuk mencegah komplikasi dan menanganinya sedini mungkin. penatalaksanaan dan mengerti dan memahami sehingga lebih kooperatif. Tinjau ulang mengenai pentingnya mempertahankan status nutrisi optimal 9.Kriteria: 1. Berikan kesempatan bertanya 3. Memberikan pengertian pentingnya perawatan lanjut pasca perawatan rumah sakit 6. Jelaskan penggunaan alat Bantu yang di perlukan. Berikan informasi yang jelas dan adekuat. Pasien mempunyai hak untuk tahu dan berpatisipasi dalam keputusan.kondisi. Tekankan pentingnya melakukan evaluasi medis 8. 7. 5. memberikan informasi yang diperlukan. dalam cara yang nyata. . 4. 4. Memberikan pemantauan terus menerus tentang kemajuan proses penyakit. Berikan pedoman antisipasi mengenai protocol pengobatan. 2. Mencapai berat . memudahkan pemulihan dan memungkinkan pasien mentoleransi pengobatan 9. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekutnya masukan oral karena mual. Membantu penilaian diagnosa. 3. 7. Diharapkan pasien dan keluarga menggungkapkan ketidak tahuannya dan semuanya yang ingin diketahuinya. Motifasi pasien setiap akan melakukan kunjungan tindak lanjut kepada dokter pasca perawatan rumah sakit. Meningkatkan kesejahteraan. prognosis.

Kolaborasi pemberian obatobatan antiemetic sesuai . Berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makanan atau peningkatan masukan gizi Rasional 1. 2. Stimulasi GI yang dapat meningkatkan motalitas / frekuensi defekasi 5. Libatkan keluarga memberikan makan hangat untuk selagi 8. Meningkatkan nafsu makan klien 8.Intervensi 1. 7. tinjau ulang pemeriksaan laboratorium (alb. Observasi asupan diet. pasien mungkin membutuhkan dorongan untuk masukan peroral 6. makanan rendah sisa dapat menurunkan iritabilitas dan memberikan istirahat pada usus bila ada diare. 3. Hb) sesuai indikasi. 2. 4. Kebanyakan antiemetic bekerja 5.sedikit tapi sering.beri makanan sedikit. membantu mengidentifikasi derajat ketidakseimbangan biokimia atau malnutrisi dan mempengaruhi pilihan intervensi diit. 2. 7. Meningkatkan makan. badan yang mengarah kepada berat badan yang ideal. motivasi pasien menghabiskan diitnya untuk 6. Pastikan diit yang tepat. Observasi makanan favorit pasien yang di indikasikan. Beri makan sedikit dan sering dengan makanan rendah dan mempertahankan kebutuhan protein dan karbohidrat. Menurunkan iritasi gaster. 4. Makanan banyak sulit untuk mengatur bila pasien mual. selera nafsu 3.

pola interaksi. berikan sentuhan 3. Memberikan kepercayaan dan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri. mengembangkan 3. Berikan informasi akurat tentang keputusan berdasar realita pengobatan 4. Pasien tampak rileks 2. ancaman kematian. kemungkinan dibuktikan oleh : . 2. perpisahan dari keluarga. Pasien mandiri 1. Tingkatkan rasa tenangdan menghemat energi. karenenya 5. pasien. 7. 6.Kriteria hasil : 1.Tujuan : Pasien menunjukan rasa cemas. Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan membuat 4. Memudahkan istirahat. takut berkurang / hilang . Dorong dan kembangkan interaksi . fungsi peran. Dorong pasien mengungkapkan serta konsep diagnose. Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi perubahan pada status kesehatan.indikasi untuk mempengaruhi stimulasi pusat muntah sejati dan kemoreseptor mentriger agen zona yang bertindak secara feriver untuk menghambat peristaltic balik. dan lingkungan tenang meningkatkan kemampuan koping 7. Pertahankan kontak sering dengan kepercayaan. penularan perasaan interpersonal. Informasi akurat memungkinkan pasienmenghadapi situasi lebih efektif dengan realita. Jelaskan prosedur. 5. Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam pengobatan Intervensi Rasional 1. perasaan dan fikiran 2. realitas. berikan menurunkan realita dan rasa kesempatan untuk bertanya dan takut berikan jawaban jujur.

kehilangan rambut. 2. Mendemonstrasi kan adaptasi terhadap perubahan atau kejadian yang telah terjadi.anoreksia . Mulai mengembngkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif. jadwal waktu libur kerja sesuai indikasi.kriteria hasil: 1. .Tujuan : gangguan harga diri tidak terjadi .mual atau muntah.penurunan berat badan. Mengurangi rasa isolasi 7. Diskusikan dengan pasien / 1. penerimaan diri dalam situasi. Memungkinkan interaksi interpersonal lebih baik dan menurunkan ansietas 8. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah. 3.pasien dengan system pendukung 6.efek samping kemoterapi. Bimbingan antistipasi dapat orang terdekat bagaimana membantu pasien / orang tedekat diagnosis dan pengobatan yang memulai proses adaptasi pada status mempengaruhi kehidupan pribdi baru dan menyiapkan untuk beberapa pasien / rumah dan aktifitas efek samping misalnya membeli wig kerja. Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tubuh. sebelum radiasi. Intervensi Rasional 1.

Membantu merencanakan perawatan saat di rumah sakit serta setalah pulang. 4. Memvalidasi realita perasaan pasien dan memberikan izin. 5. Tinjau ulang efek samping yang di antisipasi berkenaan dengan pengobatan tertentu. orang tua dan sebagainya. menurunkan perasaan pasien tentang . 2. dengan efek kanker atau efek samping terapi . 3.2. Berikan informasi bahwa konseling sering perlu dan penting dalam proses adaptasi. Dorong diskusi tentang / apapun perlu untuk mengatasi apa pecahkan masalah tentang efek yang terjadi. Berikan dukungan emosi untuk pasien / orang terdekat selama individualitas dan tes diagnostic dan fase 6. 4. 6. Banyak memerlukan dukungan tambahan selama periode ini. Akui kesulitan pasien yang mungkin di alami. Meskipun beradaptasi/menyesuaikan diri pasien/orang terdekat. kanker / pengobatan pada peran sebagai ibu rumah tangga. Pemastian penerimaan penting dalam pengobatan. Dapat membantu menurunkan masalah yang mempengaruhi penerimaan pengobatan atau merangsang kemajuan penyakit. Untuk tindakan 3. termasuk kemungkinan efek pada aktifitas seksual dan rasa keterkaitan atau keinginan misalnya kecacatan bedah. Evaluasi strutur pendukung beberapa pasien yang ada dan di gunakan oleh 5. Beritahu pasien bahwa tidak semua efek samping terjadi.

kelompok pendukung ( Bila ada ). . Rujuk pasien atau orang positif bila system pendukung terdekat pada program pasien / orang tedekat terganggu. 7. memberikan kontak dengan pasien lain dengan kanker pada berbagai tingkatan pengobatan dan atau pemulihan. Bila dapat di terima pada pasien dan pertahankan kontak mata. 7.ketidakamanan dan keraguan diri. Mungkin perlu untuk memulai dan mempertahankan struktur psikososial 8. Gunakan Sentuhan selama interaksi. 8. Kelompok pendukung biasanya sangat6menguntungkan baik untuk pasien maupun orang terdekat.

Marillyn. Jo.2002. Edisi 9.2002.EGC:Jakarta Brunner and Suddarth. . Jakarta : EGC. Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta 2000 E.pikiran-rakyat 2005.Buku Ajar Ilmu Bedah.wim. Ann.EGC:Jakarta R.Th. Buku fisiologi kedokteran.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 2.J.H Van de velde.wim.//tategea. C.com R.EGC:Jakarta.Sjamsuhidayat & Jong de.T. F.J. Jakarta : EGC. penerbit panitia kanker RSUP Dr. D. Doengoes.com/2007/12/ca-mamae http//www. Bosman.2004.Wagener. Sardjito. Penulis :Biare Baughman. Rencana asuhan keperawatan.blog.com http.Sjamsuhidayat & Jong de.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth.friendster. Jakarta : EGC. 2002 Guyton dan Hall.Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. 1997 http://ppni-klaten 2009. 2000 C.

kerja insulin atau kedua-duanya. ginjal. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 2.BAB I KONSEP DASAR MEDIK DIABETES MELITUS A. Faktor Prespitasi a. yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata. Diabetes Mellitus (DM) adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal. Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi integritas sel Beta c. ( mansjoer Arif. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. 2002 ) Diabetes Mellitus adalah sindromo gangguan metabolisme dengan hiperglikemi yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya (Francis dan John 2000). lemak. 2001) Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. 2002) Diabetes Mellitus (DM) adalah merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin. Gangguan sistem imun d. (Sidartawan dan Soegondo 2002). saraf dan pembuluh darah. Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat. Kelainan fungsi atau jumlah sel Beta yang bersifat genetic b. dan berkembang komplikasi makrovaskuler dan neurologis. Kelainan aktivitas insulin . PENGERTIAN Diabetes Mellitus merupakan kelainan keterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar gula/glukosa dalam darah atau hiperglikemi. disertai lesi pada membran basilis. (Slamet Soeyono. (Brunner and Suddarth. Diabetes Melitus digolongkan sebagai penyakit endokrin atau hormonal karena gambaran adanya gangguan produksi atau penggunaan insulin (Barbara C. Long. 2002) B.

e. Faktor-faktor harmonal Misal : Thyroid Price. Sylvia Andreson. Patofisiologi konsep klinis proses – proses penyakit edisi 6, 2005. 2. Faktor Predisposisi Faktor resiko tidak hanya fungsi keturunan saja, tetapi ada juga faktor lain seperti : a. b. c. d. Kegemukan Pola makan yang salah Minum obat-obatan yang bisa meningatkan kadar glukosa darah Proses menua dan stres Slaimed Suyono, 2002

C. PATOFISIOLOGI Penyakit DM disebabkan karena gagalnya hormon insulin maka glukosa tidak diubah menjadi glikogen, sehingga kadar gula darah meningkat dan menjadi hiperglikemi. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini. Karena ambang batas ginjal tidak dapat menyaring dan mengobsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Berhubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. Bersama dengan keadaan glukosuria maka jumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria. Keadaan air intraseluler ditarik ke ekstraseluler. Hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien merasa haus terus yang disebut polidipsi. Produksi insulin yang berkurang menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat, lemak, protein menipis karena digunakan untuk pembakaran dalam tubuh, maka pasien akan merasa lapar sehingga menyebabkan banyak ( poliphagi) Terlalu banyak lemak yang dibakar, maka akan menyebabkan terjadinya penumpukan aceton dalam darah yang akan mengakibatkan keasaman darah meningkat / asidosis. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak sehingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernafasan, akibatnya bau urine dan nafas penderita berbau aceton. Keadaan asidosis ini bila tidak segera diobati akan menjadi koma yang disebut koma diabetikum. (Sylvia Anderson Drice.patofisiologis, konsep klinis proses – proses penyakit edisi 6, 2005)

D. MANISFESTASI KLINIS Tanda dan gejala Diabetes Melitus. adalah :

1. Diabetes Mellitus Tipe I (DMTII) adalah a) Sering berkemih merupakan konsekuensi diureasis asmotic akibat dari hiperglikemi yang menetap. b) Enunesis nakturnal akibat poliuria c) Rasa haus/polidipsi d) Gangguan penglihatan e) Berat badan menurun f) Pusing dan lemah akibat hipotensi postural g) Parathesia h) Tingkat kesadaran pasien dapat bervariasi tergantung pada derajat hiperosmolalitas. 2. Diabetes Mellitus Tipe II (DMTTI) adalah Gejala-gejala klasik yaitu poliuria, rasa haus, penglihatan kabur berulang. Parasthesia dan kelemahan merupakan manifestasi dari hiperglikemi dan aneuresis asmotik, dan karenanya lazim dijumpai pada kedua bentuk diabetes. Infeksi kulit kronik yang sering terjadi, pruritus genenalisata.

Klasifikasi Diabetes Melitus Klasifikasi Diabetes Melitus sebagai berikut : 1. DM tipe 1 (IDDM) Insulin dependen Diabetes Mellitus atau disebut dengan DMN (Diabetes Melitus tergantung insulin) - Tergantung pada usia muda - Tergantung insulin eksogen - Peningkatan kadar glukosa darah Dipengaruhi oleh beberapa faktor : - Faktor Genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes tipe I, kecenderungan ini ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leudocyle Antigen) HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggungjawab atas antigen tranplantasi dan proses intun lainnya. - Faktor Imunologi Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun ini merupakan respon abnornol dimana antibody terarah pada jaringan norma) tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan/eksternal yang dapat memicu destruksi sel B pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destruksi sel B pankreas. 2. DM Tipe II (NIDDM) Non insulin Independen Diabetes Melitus atau disebut dengan DMTTI (Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin). 3. Malnutrution Relacted Diabetes Mellitus (MRDM) atau Diabetes Mellitus tergantung makanan (DMTM). 4. DM tipe lain yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu : - Penyakit pankreas - Penyakit Hormonal - Kelainan reseptor insulin 5. DM Gestasional (GDM) Greenspan G.F dan Bexter D. John 1998

Klasifikasi Ulkus Diabetes Mellitus Terdapat 5 Grede ulkus Diabetikum, diantaranya antara lain : a) Grade 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh hanya terdapat calus. b) Grade 1 : Ulkus / kerusakan hanya sampai permukaan kulit. c) Grade 2 : Kerusakan kulit mencapai otot dan kulit / ulkus dalam, sering dengan selulitis tidak ada abses. d) Grade 3 : Ulkus dalam yang melibatkan atau pembentukan abses. e) Grede 4 : Gangren local pada jari kaki atau atau bagian distal kaki dengan atau tanpa seluliris. f) Grade 5 : Gangren pada seluruh kaki dan sebagian tungkai bawah. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tes diagnosis untuk Diabetes Mellitus harus dilakukan bila terdapat gejala DM seperti : poliuri, polidipsi dan poliphagi atau penurunan berat badan. Diagnistik dilakukan berdasarkan : 1. Pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg/dl dengan gejala DM adalah setiap waktu sepanjang hari tanpa puasa > 126 mg/dl 2. Kadar glukosa darah puasa > 126 mg/di puasa adalah tanpa intake cairan /

Pemeriksaan Bukan DM Belurt Pasti DM 1.kalori selama 8 – 10 jam.Kadar glukosa 2 jam PP ( Post prandial ) < 140 mg/dl < 120 mg/dl 2 jam mg/dl >200 F. 3. . Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa. Kerangka utama penatalaksanaan DM yaitu perencanaan makanan. PENATALAKSANAAN MEDIS Dalam jangka pendek penatalaksaan DM bertujuan untuk menghilangkan keluhan/gejala DM. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri. Untuk mempermudahkan tercapainya tujuan tersebut. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnostik. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi. Kadar glukosa sewaktu < 110 mg/dl P D < 90 mg/dl 2. Lipid dan insulin. latihan jasmani obat hipoglikemi dan penyuluhan. Kadar glukosa puasa P D < 90 mg/dl 90 – 199 mg/dl 2 > 110 mg/dl jam < 110 mg/dl 110 – 125 mg/dl > 126 mg/dl 110 – 199 mg/dl > 200 mg/dl 90 – 199 mg/dl > 200 mg/dl 3.

Menurut Tjokro Prawiro (1999) Pada konsensus perkumpulan endokrinologi indonesia (PERKENI) telah ditetapkan bahwa standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi sebagai berikut : • Karbonhidrat : 60 – 70% • Protein : 10 – 15% • Lemak : 20 – 25% Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan. stress akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Rhytmical.Normal . endurance. Jumlah kandungan serat ± 25 gr/hari.Gemuk : BB x 20 kalori / hari . Pedoman dalam memberikan diet DM yaitu. Menurut Tjokro Prawiro.Obesitas : BB x 10-15 kalori / hari 2. BB x 30 kalori / hari .Kurus : BB x 40-60 kalori / hari . selama ± 30 menit. Diutamakan jenis serat larut.1. interval. Latihan Jasmani Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu). progressive. Pada diet DM harus memperhatikan jumlah kalori. jumlah jadwal dan jenis pelru diperhatikan. status gizi. pomonaris dapat disesuaikan / digunakan secukupnya. jumlah kandungan kolesterol < 300 mg/hari. dan jenis makan yang harus dipantang gula. yang sifatnya sesuai CRIPE (continous. jadwal makan. umur. training).(1999) Penentuan gizi penderita dilakukan dengan menghitung prosentase Relatif Body Weigth dan dibedakan menjadi a) Kurus b) Normal c) Gemuk d) Obesitas : berat badan relatif : <90% : berat badan relatif : 90-110% : berat badan relatif : >110 % : berat badan relatif : >120 % Obesitas ringan 120 – 130 % Obesitas sedang 130 – 140 % Obesitas berat 140 – 200 % Obesitas morbid > 200 % Apabila sudah diketahui relatif body weigthnya maka jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM adalah sebagai berikut : . . Latihan dilakuan terus menerus tanpa berhenti otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur. Komsumsi garam dibatasi bila terdapat hipertensi.

. olahraga sedang adalah jalan cepat selama 20 menit dan olahraga berat misalnya joging. • Yang tidak boleh dilakukan : .Segera kedokter bila kaki mengalami luka. obati luka dan tutup dengan pembalut bersih.Gunting kuku kaki lurus mengikuti bentuk normal jari kaki. Dengan berbagai macam usaha tersebut. diharapkan sasaran pengendalian diabetes melitus seperti yang dianjurkan oleh pakar diabetes di Indonesia dapat dicapai. . • Yang dilakukan dalam pengelolaan kaki diabetic adalah : . Edukasi diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan bagi pasien diabetes yang bertujuan menunjang perilaku untuk meningkatkan pertahaanan pasien akan penyakitnya.Bila ada luka kecil. Penyuluhan Penyuluhan untuk rencana pengelolaan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal.Janggan menggunakan botol panas atau peralatan listrik untuk pemanasan kaki. . . .Bersihkan kaki setiap hari waktu mandi dengan air bersih dan sabun mandi. . gunakan cermin untuk melihat bagian bawah kaki.Memakai alas kaki untuk pelindung alas kaki. .Jangan mengunakan silet untuk mengurangi kapalan/kalus. Disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta.Gunakan sepatu atau sandal yang ukuran sesuai.Berikan pelembab pada daerah yang kering. .Jangan merendam kaki .Jangan memakai sepatu yang sempit. . . yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat optimal dan penyesuaian keadaan psikologik serta kualitas hidup yang lebih baik.Periksa kaki setiap hari. 3. .Jangan membiarkan luka kecil di kaki sekecil apapun luka tersebut.Selang-seling antara gerak cepat dan lambat. Sebagai contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30 menit. sehingga pada gilirannya nanti komplikasi kronik Diabetes Melitus juga dapat dicegah dan pasien Diabetes Melitus dapat hidup bahagia bersama diabetes yang dialaminya. berangsur-angsur dari sedikit kelatihan yang lebih berat secara bertahap dan bertahan dalam waktu tertentu.

Indikasi pengobatan dengan insulin : 1) Ketoasidosis diabetic/koma hiperosmolor non betotik 2) Diabetes dengan berat badan kurang 3) Diabetes yang mengalami stress (infeksi.4. OAD dibagi menjadi 2 golongan : 1) Sulfonilirea Mekanisme kerja obat golongan sulfonilirea : .5 – 20 mg/hari  Glipizid 2.Menstimulasi pelepasan insulin yang diterima (steroid insulin) .Menurut ambang sekresi insulin .Meningkatkan sel-sel insulin sebagai akibat rangsangan glukosa Contoh obat golongan sulfanilurea adalah :  Klorpropamid 100 – 500 mg/hari  Talbutamid 100 – 1000 mg/hari  Glibenklamid 2. Pengobatan dengan insulin Insulin diberikan tiga kali sehari 15 – 30 menit sebelum makan. Obat-obatan Pengobatan yang dapat dilakukan menurut Moerdowo (1989) adalah : a. operasional dan lainlain). - . time disintegration buformin b. Pusat Diabetes dan RSUP Nasional Dr. 2002. 4) Diabetes hamil 5) Diabetes tipe 1 6) Kegagalan pemakaian obat hiperglikemi oral. FKUI. OAD (Obat Anti Diabetika) Tabel OAD mempunyai khasiat untuk menurunkan kadar gula dalam darah. phenformin.Insulin masa kerja panjang (PZI : Protamin Zine Insulin) 18 – 24 jam. Cipto Mangun Kusumo.5 – 40 mg/hari  Glikuldan 30 – 120 mg/hari 2) Biqquanid Beberapa golongan biovanid adalah metformen. Ada 3 jenis aturan insulin yang penting menurut cara kerjanya : Insulin masa kerja cepat (reguler insulin) 2 – 4 jam Insulin masa kerja sedang (NHP : Netral Protamin Hegedan) 6 – 12 jam .

Ketoasidosit Diabetik b. stroke.G.Syaraf Neuropati Diabetik Komplikasi jangka panjang diabetetikum : Organ/jaringan yg terkena Yg terjadi Komplikasi Sirkulasi yg jelek menyebabkan penyembuhan luka yg jelek & bisa menyebabkan penyakit jantung.Karidiovaskuler Hipertensi. impoten & infeksi Pembuluh darah Plak aterosklerotik terbentuk & menyumbat arteri berukuran besar atau sedang di jantung.Mata Refinopati Diabetik. Kronik Disebabkan oleh perubahan dinding pembuluh darah sehingga terjadi anteriosklerosis yang khas yaitu : . yaitu : a. Akut . otak.Hipoglikemi . impark miokard. tungkai & penis. KOMPLIKASI Komlikasi Diabetes Melitus menurut Soeparno dapat dikelompokkan menjadi dua. insifisiensi koroner .Hiperglikrmi . Katarak . Dinding pembuluh darah kecil mengalami kerusakan sehingga pembuluh tidak dapat mentransfer oksigen secara normal & mengalami kebocoran Mata Terjadi kerusakan pada pembuluh darah kecil retina Gangguan penglihatan & pada akhirnya bisa terjadi kebutaan Fungsi ginjal yg buruk Ginjal  Penebalan pembuluh darah ginjal  Protein bocor ke dalam Gagal ginjal . gangren kaki & tangan.

terutama saluran kemih & kulit H. penurunan mukosa oral. terkena infeksi Kerusakan saraf Darah . kesemutan & nyeri di tangan & kaki  menahun Sistem saraf otonom Kerusakan pada saraf yg Tekanan darah yg naik-turun mengendalikan tekanan darah  Kesulitan menelan & saluran pencernaan & perubahan fungsi pencernaan disertai serangan diare Kulit Berkurangnya aliran darah ke  Luka. muntah. masukan dibatasi.air kemih  Darah tidak disaring secara normal Saraf Kerusakan saraf karena  Kelemahan tungkai yg glukosa tidak dimetabolisir terjadi secara tiba-tiba atau secara normal & karena secara perlahan aliran darah berkurang  Berkurangnya rasa. stress. hipermetobolisme. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik (dan hiperglikemi ) kehilangan genetik berlebihan diare. Doengoes (2000) . 3. infeksi dalam kulit & hilangnya rasa yg (ulkus diabetikum) menyebabkan cedera  Penyembuhan berulang luka yg jelek Gangguan fungsi sel darah putih Mudah infeksi. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan pasien Diabetes Melitus menurut Marylin E. mual. makan muntah. 1. 2. pelepasan hormon. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa.

peningkatan berat badan. mengetahui keseimbangan cairan dan membantu keefektifan terapi. perceptual berhubungan dengan perubahan kimia endogen. poliun & diare Rasional : . Resiko tinggi terhadap perubahan sensori. nadi tidak teratur.Monitor tanda-tanda vital Rasional : . Rasional sangat : .Pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat berpotensi menimbulkan kelebihan beban cairan. Kurang pengetahuan mengenai panyakit. kehilangan gastric berlebihan (mual. 5) Intervensi : . 4.Mengetahui volume cairan yang hilang sehingga memudahkan dalam tindakan perawatan selanjutnya. 1) Intervensi : . 4) Intervensi : .Menilai volume cairan yang hilang sehingga memudah kan tindakan selanjutnya. progrosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman. 6.Monitor intake dan output Rasional : . Resiko terhadap infektif penatalaksanaan regimen terapetik (individual) berhubungan dengan kompleksitas aturan teropetik.Mempertahankan hidrasi atau dikulasi volume 6) Intervensi : .Hipovilerna mungkin dapat dimanifestasikan dengan Hipotensi dan Lakikardi 3) Intervensi : . 5.Kaji lama & intensitas terjadinya muntah. efek samping terapi.penurunan fungsi leukosit prosedur invasif. kesalahan interprestasi. 2) Intervensi : . Kekurangan volume cairan berhubungan diuresis aumotik. Doengoes 2000. I. 7. . 1.Pertahankan pemasukan cairan paling sedikit 2500 ml/hr Rasional : .Menilai kekuatan cairan pengganti. ketdakseimbangan glukosa/insulin/olektrolit. tidak mengenal sumber informasi. Kelelahan berhubungan penurunan produksi energi atau metabolic perubahan kimia darah : insufisiensi insulin. kompleksitas sistem perawatan. muntah). peningkatan kebutuhan energy : status hipermetabolic atau infeksi.Lakukan pemasangan kateter Rasional : .Pertahankan adanya perasaan kelelahan yang meningkat Edema. FOKUS INTERVENSI Menurut Marlyn E.

Rasional kekurangan : Plasma pengganti kadang dibutuhkan jika mengancam hidup. . Rasional : .Timbang BB tiap hari Rasional : . 4) Intervensi : .Observasi tanda-tanda hipaglikeni Rasional : . plasma dan dextrain. muntah Rasional : . peningkatan berat badan.Hipoglikerri dapat terjadi sehingga dalam keadaan darurat dapat dilakukan tindakan perawatan cepat sesuai keefektifan prosedur. catat adanya keluhan nyeri perut.Auskultasi peristatik usus.Kolaborasi dalam pemberian albumin. mual. gangguan cairan dan elektrolit dapat menurunkan peristaltik lambung. status metabolik – intake yang tidak adekuat ditandai dengan kelemahan.Mengidentifikasi kekuatan dan penyimpangan dari kebutuhan terapetik Rasional : . nadi tidak teratur.Mengkaji tingkat hidrasi 8) Intervensi : . Kalium.Hipovilerna mungkin dapat dimanifestasikan dengan Hipotensi dan lakikardi 3) Intervensi : .7) Intervensi : . BUN. 5) Intervensi : . 2.Hiperglikemia. Observasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat.Pantau pemeriksaan laboratorium (HT. diare.Berikan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Pemberian makanan peroral lebih baik dan meningkatkan nafsu makan pasien.Mengkaji kedekatan pemasukan nutrisi 2) Intervensi : . Natrium. edema. 1) Intervensi : . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan defisiensi insulin. Penurunan kekuatan otot.

pelihara agar kulit selalu kering Rasional mengurangi : Memperlancar sirkulasi sehingga dapat terjadinya inlasi dan infeksi kulit.6) Intervensi : . 3) Intervensi : . penurunan fungsi leukosit perubahan sirkulasi prosedur invasife.Lakukan perawatan kulit secara teratur.Meminimalkan resiko terjadi infeksi 4) Intervensi : . 3. mual.Memberikan pemenuhan kebutuhan nutrisi secara tepat. 1) Intervensi : .Pengobatan awal dapat mencegah kerjanya sepsis 6) Intervensi : . Rasional ketosi : Infeksi merupakan faktor presipitasi terjadinya dosis lebih lanjut. urine keruh.Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian RI Rasional : .Observasi tanda-tanda infeksi seperti demam. sputum purulent warna merah.Membantu keefektifan insulin 7) Intervensi : .Lakukan perawatan kateter nyeri perut.Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik secara tepat. Potensial resiko infeksi b. Rasional : .d kadar glukosa yang tinggi. muntah Rasional : . 5) Intervensi : .Pelihara teknik aseptik dalam prosedur pemberian pengobatan secara IV Rasional merupakan : Keadaan glukosa yang tinggi dalam darah medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri.Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian nutrisi Rasional : .Berikan diet dan intake cairan yang adekuat Rasional : Mengurangi terjadinya infeksi meningkatkan kelancaran . 2) Intervensi : .

Mencegah kelelahan yang berlebihan.Pasien yang disorientasi mudah sekali terjadi kecelakaan khususnya pada malam hari.Mengetahui adanya perubahan persepsi sensori 5) Intervensi : . waktu dan tempat Rasional : .aliran darah.Lindungi pasien dari bahaya kecelakaan ketika kesadaran menurun. Rasional : . mengurangi pertumbuhan bakteri. Rasional : . peningkatan kebutuhan energi : status hipermetabolik atau infeksi. 1) Intervensi : . 2) Intervensi : . nyeri dan penurunan sensori. 2) Intervensi : .Meningkatkan motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. 4) Intervensi : . ketidakseimbangan glukosa (insulin/elektrolit). Rasional : .Ketidakseimbangan cairan dapat mempengaruhi perubahan kesadaran 5. 3) Intervensi : . . Rasional : .Beri alternatif aktivitas dengan adanya periode istirahat. HD/HMT.Orientasi terhadap orang.Monitor pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah.Diskusikan dengan pasien aktivitas yang dibutuhkan dan daftar rencananya dan identifikasi aktivitas yang melelahkan. berhubungan dengan penurunan produksi energy atau metabolic perubahan kimia darah : insufisiensi. 4. Rasional : . Resiko tinggi terhadap perubahan sensori. 1) Intervensi : . Kelelahan.Mengurangi kebingungan pasien dan membantu mempertahankan kontak dengan realita.d perubahan kimia endogen.Monitor adanya hyperesthesia. BUN.Monitor tanda-tanda vital dan status mental Rasional : . perceptual b. serum asmolatitas.Status dasar perbandingan tingkat abnormal.

Jelaskan pentingnya melakukan pengentasan glukosa secara teratur.Identifikasi tanda-tanda hipoglikeni dan terangkan penyebabnya.Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas Rasional : . 5) Intervensi : . perawatannya serta kemungkinan komplikasi yang diderita pasien.Tingkatkan partisipasi pasien dalam ADL sesuai dengan iderasi.d kurangnya informasi mengenai penyakit.Diskusikan dengan pasien aktivitas yang dapat mengurangi energi. Rasional : .Memudahkan deteksi awal dan pasien mengetahui tentang perawatan serta pencegahan yang diperlukan.Membantu memberikan gambaran keadaan pasien untuk dapat mengontrol penyakitnya. 3) Intervensi : .3) Intervensi : .Pasien akan lebih banyak menyelesaikan aktivitas yang lebih kecil. pengontrolan diabetik dan mengurangi resiko ketoasio dosis.Kualitas penjelasan dapat disesuaikan dengan tingkat pendidikan pasien sehingga mudah dimengerti pasien 2) Intervensi : . Rasional : .Mengikatkan kemandirian pasien secara bertahap . mengobati dan perawatannya ditandai dengan secara verbal pasien menanyakan tentang penyakitnya.Kaji tingkat pengetahuan pasien. dosis. 1) Intervensi : . 6.Meningkatkan pemeliharaan. Rasional : .Diskusikan hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara pengontrolan diabetik. . Rasional : .Mengidentifikasikan tingkat toleransi fisik pasien 4) Intervensi : . Rasional : . Rasional : . 4) Intervensi : . 5) Intervensi : . Kurang pengetahuan b. waktu cara pemberian efek yang ditimbulkan.Jelaskan tentang nama obat.

d kompeksitas aturan teropeutik. .Tingkatkan rasa percaya diri dan kemajuan diri yang positif Rasional pelaksanaan : Meningkatkan semangat dan motivasi dalam aturan perawatan. kompleksitas sistem perawatan. 7. 4) Intervensi : . 5) Intervensi : .Memudahkan deteksi awal dan menjadikan landasan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. 1) Intervensi : . Rasional : .Rasional : .Pasien mengerti dan melibatkan diri dalam tindakan perawatan dan pengobatan.Memudahkan dalam strategi pelaksanaan tindakan keperawatan. Rasional : . 3) Intervensi : .Tingkatkan sikap positif dan keikutsertaan secara aktif individu dan keluarga.Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar Rasional : .Identifikasi faktor-faktor penyebab atau penunjang yang menghalangi penatalaksanaan yang efektif.Meningkatkan semangat dan motivasi dalam pelaksanaan aturan perawatan. Rasional : . efek sampai terapi. 2) Intervensi : .Bangun rasa percaya dan kekuatan. Resiko terhadap infeksi penatalaksanaan ruginan teropitik (individu) b.Meningkatkan harga diri mendorong pasien berpartisipasi dalam program perawatan selanjutnya.

F. Pusat Diabetes dan RSUP Nasional Dr. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. Bandung: 1998. Barbara. Groespan. Tucker. Cl. Jakarta : ESC . Soeparman. Perawtaan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. 1998.F dan Dokter D. Patofisiologi Konsep Klinis Proses dan Proses Penyakit. Patient Care Standarte Nursing Process Diagnostic and Outcott. John “Endokrinologi Dasar dan Klinik” edisi 4. Marylin E. 2005. Davis Company. Susan Martin. 2. FKUI. Doengoes. 2002. 2000. Toronto : The Mosby Cistpany. Cipto Mangun Kusumo. Bruner dan Suddart.A. S. . “Nursing Care Plans Guide Lens For Planning and Documentating Patient Care Edition” Philadelpia. Buku Kedokteran Jakarta : EGC 2001. Ilmu Penyakit Dalam. 2001.DAFTAR PUSTAKA Price A Sylvia. Jakarta : EGC 2002. Jilid 2 FKUI: Jakarta.

yaitu: 1.BAB I KONSEP DASAR MEDIK A.0 dan wanita = 0.73 m2. Faktor koreksi gender untuk pria = 1. Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan ireversibel (Arif Mansjoer. Nursalam. berupa dialysis atau transplantasi ginjal (Ketut Suwitro. Nilai GFR di atas 90 ml/menit/1.2mg/dL. Nilai GRF 60-89 ml/menit/1. 2. kemudian hasilnya itu dikalikan dengan faktor koreksi (FK) gender. 2001). (DR. hasilnya dibagi dengan perkalian 72 (faktor baku 2) dengan kadar kreatinin (mg /dl). Stadium 1: Kerusakan ginjal dengan nilai GFR normal. dengan mengumpulkan jumlah urin tersebut selama 24 jam. C_crea normal untuk pria adalah 95-145 ml/menit dan wanita 75-145 ml/menit.73m2. LFG dihitung dari jumlah kadar kreatinin yang menunjukkan kemampuan fungsi ginjal menyaring darah dalam satuan ml/menit/1. Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap. 2006). Kadar kreatinin normal dalam plasma darah adalah 0. yang disebut C_crea (creatinine clearance). Kreatinin adalah hasil metabolisme sel otot yang terdapat di dalam darah setelah melakukan kegiatan.73 m2 .85. Ginjal berfungsi 60-89%. Ginjal berfungsi diatas 90%. Bila fungsi ginjal menurun. kadar kreatinin di dalam darah meningkat. Kemampuan fungsi ginjal tersebut dihitung dari kadar kreatinin dan kadar nitrogen urea di dalam darah. Ginjal akan membuang kreatinin dari darah ke urin. Kemampuan ginjal menyaring darah dinilai dengan penghitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG). 2006). gangguan fungsi ginjal dapat dikelompokkan menjadi lima stadium menurut tingkat keparahannya. yaitu: C_crea = {[(140-umur)xBB]/(72xK_crea)}xFK Clereance rate (ml/menit) sama dengan 140 (faktor baku 1) dikurangi umur (tahun).6-1. Kemampuan ginjal membuang cairan berlebih sebagai urin (creatinine clereance rate) dihitung dari jumlah urin yang dikeluarkan tubuh dalam satuan waktu. M. Stadium 2: Kerusakan ginjal ringan dengan penurunan nilai GFR. PENGERTIAN Gagal ginjal kronis (chronic renal failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialysis atau transplantasi ginjal. dikalikan berat badan (kg). Dengan rumus CockroftGault dapat diperkirakan berapa C_crea dari kadar creatinin yang didapatkan. belum terasa gejala yang mengganggu. Nurs.

1. Presipitasi a.73 m2 4. Pada glomerulonefritis kronis maka ginjal akan tampak mengisut beratnya kurang lebih 50 gram dan permukaannya berbentuk granula. Lesi ginjal yang sering dijumpai adalah nefrosklerosis akibat lesi pada arteria pielonefritis dan nekrosis pada ginjal dan glumerulosis sklerosis. Hipertensi Hipertensi dan gagal ginjal kronik saling berkaitan erat. Nefropati Toksik Ginjal sangat mudah terserang efek-efek toksis.73 m2. Waktu rata-rata diabetes sampai timbul uremia adalah 20 tahun. . sudah tingkat membahayakan Ginjal berfungsi 15-29%. Nilai GRF 30-59 ml/menit/1. Hipertensi merupakan penyakit primer dan menyebabkan keruskaan pada ginjal dan sebaliknya penyakit gagal ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi neutserpenar pada hipertensi melalui mekanisme retensi natrium dan air. masih bisa dipertahankan. d. Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus yang mulai sejak kanak-kanak 50% diantarannya berkembang menjadi gagal ginjal kronik. B. Nilai GRF kurang dari 15 ml/menit/1. b. Glumerulosklerosis dikenal juga dengan nama lesi kemadie suatu ciri khas diabetes. PROSES TERJADINYA MASALAH (Menurut Sylvia A. Stadium 5: Kerusakan parah. Stadium 3: Kerusakan sedang. Stadium 4: Kerusakan berat. c. Edisi 6. Poliarteritis Nadusa Poliarteritis Nadusa merupakan penyakit radang reterosis yang mencakup arteri-arteri ukuran sedang dan kecil diseluruh tubuh sehingga akan mengganggu perfusi atau aliran darah ke ginjal. harus cuci ginjal. Interatisis yang hiperosmatik memungkinkan zat kimia dalam jumlah besar dan konsentrasi pada daerah yang relatif hipovasculer. perubahanperubahan ini disebabkan karena berkurangnya jumlah nefron karena iskemia. Glomerulonefritis Glomerulonefritis kronik ditandai kerusakan glomerulus yang progresif lambat akibat glomerulonefritis yang sudah berlangsung lama. obat-obatan dan bahanbahan kimia karena alas sebagai berikut: Gagal menerima 25% dari curah jantung sehingga sering dan mudah kontak dengan zat kimia dalam jumlah besar.3.73 m2 5. 2005). Wilson Potofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Price Lorreine M. Nilai GRF 15-29 ml/menit/1. Fungsi ginjal kurang dari 15%. Ginjal berfungsi 30-59%. e.

lemah. 2006) Perjalanan umum gagal ginjal kronik dapat dibagi 3 stadium yaitu: a) Stadium Penurunan Cadangan Ginjal Selama stadium ini kreatinin serum dan kadar BUN normal. pasien akan meninggal kecuali kalau ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialysis. Pada keadaan ini kadar BUN baru meningkat diatas batas normal. Meskipun perjalanan klinik gagal ginjal kronik dibagi menjadi 3 stadium tetapi dalam prakteknya tidak ada batas-batas yang jelas antara stadiumstadium tersebut. c) Stadium Gagal Ginjal atau Stadium Uremia Nilai GFR hanya 10% dari keadaan normal dan kliren kreatinin mungkin 510 ml/menit atau kurang. Patofisiologi Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV Ketut Suwitro. 2. b) Stadium Insufisiensi Ginjal Pada stadium ini lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak. Obstruksi Traktus Urinarius Obstruksi Traktus Urinarius dapat terjadi pada daerah intra renal sampai uretra. Infeksi Traktus Urinarius Infeksi Traktus Urinarius jarang memperburuk GGK.Ginjal merupakan ekterosi obligatorik untuk kebanyakan obat sehingga insufisiensi ginjal mengakibatkan penimbunan-penimbunan obat dan meningkatkan konsentrasi dalam cairan tubulus. pasien asimtomatik gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan membebani kerja yang berat pada ginjal tersebut. Pada keadaan ini kreatinen serum dan kadar BUN akan meningkat dengan mencolok sekali sebagai respon terhadap GFR yang mengalami sedikit penurunan pada stadium akhir gagal ginjal. Obstruksi ini bila ditemukan harus sedapat mungkin diperbaiki dengan segera. seperti tes pemekatan urine yang lama atau dengan mengadakan tes GFR yang teliti. Faktor Predisposisi a. Pada stadium ini kadar kreatinin serum juga mulai meningkat diatas melebihi normal. mual dan pruritus. Pasien juga mungkin mengalami nokturia dan paliun yang disebabkan oleh penurunan kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasikan urine. sakit kepala. Manifestasi klinis yang nampak adalah lelah. Pasien mulai merasakan gejala-gejala yang cukup parah karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis cairan dan elektrolit dalam tubuh. . b. Biasanya infeksi memperburuk faal ginjal bila disertai obstruksi sehingga perbaikannyapun harus terpadu. kecuali infeksi yang sangat berat. Pada stadium akhir gagal ginjal. 3.

kondisi lain yang mendasari dan usia pasien. oliguri dapat timbul disertai retensi produksi sisa. Pulmoner 1) Napas dangkal. Gangguan pada sistem gastrointestional 1) Anoreksia. 3) Konstipasi dan diare. b. nausea dan vomitus yang berhubungan dengan gangguan metabolisme protein dalam usus. 4) Perikarditis (akibat iritasi pada lapisan pericardial oleh toksin uremik). Manifestasi klinis a) Menurut Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. 2) Mual. Hipertropi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR. Neurologi 1) Kelemahan dan keletihan. 4) Napas berbau ammonia. a. 3) Gastritis . Karena pada gagal ginjal kronis setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh kondisi uremia.Patofisiologi penyakit gagal kronik secara umum adalah: Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak. manifestasi klinik yang muncul pada pasien dengan gagal ginjal kronik yaitu : a. 2) Pernapasan Kusmaul d. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak. Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal. akibat diuresis osmatik disertai poliuri dan hous. Gastrointestinal 1) Anoreksia. Kardiovascular 1) Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem renin – angiotensin – aldosteron). 2) Kelemahan pada tungkai b) Menurut Suhardjono (2001). Brunner dan Suddarth Edisi 8 Vol. muntah. 2) Gagal jantung kongestif. 2) Mulut bau ammonia disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur. tangan). maka pasien akan memperlihatkan sejumlah tanda dan gejala. 5) Pitting Edema (kaki. 4. c. Nefron-nefron yang utuh. 3) Edema pulmoner (akibat cairan berlebih dalam alveolus). Metode adaptif ini memungkinkan ginjal ini untuk berfungsi sampai ¾ dari refron-refron yang bisa direabsorbsi.

menentukan derajat GGK.015 (menetap pada 1. menetapkan gangguan sistem dan membantu menetapkan etiologi. Sistem Hematologi 1) Anemia 2) Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia. Sedimen Berat Jenis : : Kotor. Gatal akibat toksin uremik. tidak bisa tidur. gangguan konsentrasi 4) Kelemahan dan hipertrofi otot-otot terutama otot-otot ekstremitas proksimal. d. Kurang dari 1. 3) Bekas-bekas garukan karena gatal.010 . fosfat atau urat. Dalam menetapkan ada dan tidaknya gagal ginjal tidak semua faal ginjal perlu diuji untuk keperluan praktis yang lazim diuji adalah laju filtrasi glomerulus. Sistem saraf dan otot 1) Pasien merasa pegal pada kakinya.b. Sistem endokrin 1) Gangguan seksual 2) Gangguan metabolisme glukosa. kecoklatan menunjukkan adanya darah. 2001. resistensi insulin 3) Gangguan metabolisme lemak 4) Gangguan metabolisme vitamin D. Warna : Urine keruh disebabkan oleh Pus. c. 5. menentukan ada dan tidaknya kegaulan. Pemeriksaan Penunjang Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. lemah. 2) Rasa semutan 3) Lemah. sehingga selalu digerakkan. e. bakteri. Kulit 1) Kulit berwarna pucat akibat anemia. 2) Ekimosis akibat gangguan hematologis. 1) Urine Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguri) atau urine tidak ada. protenuria. a) Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menetapkan adanya GGK. Kardiovasculer 1) Hipertensi 2) Akibat penimbunan cairan dan garam 3) Nyeri dada dan sesak nafas 4) Edema akibat penimbunan cairan f.

Penurunan pemasukan atau penurunan sintesis karena kurang asam amino. hipokalsemia). : Meningkat dalam proporsi 2) Darah BUN Hitung darah lengkap : Hb menurun pada adanya anemia SDM (sel darah merah) : waktu hidup menurun pada defisiensi entropoetin pH menurun asidosis metabolic terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengekspresi hydrogen dan ammonia atau hasil akhir katabolisme protein bicar bonate menurun PCO2 menurun. d) Foto Polos Abdomen Sebaiknya tanpa puasa karena dehidrasi akan memperburuk fungsi ginjal. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari adanya faktor yang reversible seperti obstruksi oleh karena batu atau massa tunas. Natrium Protein : : Lebih besar dari 40 mtg/L karena ginjal tidak mampu mereeabsorbsi natrium. sistem perviakalises. Kalium: menurun Protein (khususnya albumin): Kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine. anatomi. Gula darah: Meningkat karena adanya gangguan metabolisme karbohidrat dapat terjadi pada penyakit GGK. Derajat tinggi (3-4) secara kuat menunjukkan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada. c) Ultrasonografi (USG) Menilai besar dan bentuk ginjal. . perpindahan cairan. aritmia dan gangguan elektrolit (Hiperkalemic. tebal konteks ginjal kepadatan pareklim ginjal. ureter proximal kandung kemih serta prostate. juga untuk menilai apakah proses sudah lanjut (ginjal yang imut) USG ini sering dipakai oleh karena non inuasif (tak memerlukan persiapan apapun).menunjukkan kerusakan ginjal berat). Kalsium serum : Peningkatan sehubungan retensi sesuai dengan perpintahan seluler (asidosis). b) Pemeriksaan EKG Untuk melihat kemungkinan hipertropiventrikel ke tanda-tanda perikardites (misalnya voltase rendah). menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau obstruksi lain foto polos yang disertai homogram memberi keterangan yang lebih baik.

h) Pemeriksaan Radiologi Tulang Mencari osteodistrofi (terutama tulang/jari) dan klasifikasi metastatik. c) Pengendalian Kalium Darah Bila hiperglikemia sudah ada maka pengobatan adalah mengurangi sedapatnya intake kalium. namun tindakan pemilihan penggunaan protein akan lebih menolong. Natrium bicarbonat dapat diberikan oral atau parenterel Hemodialisis dan dialysis peritoneal juga dapat mengatasi asidosis. 6. missal: Beta bloker dan vasadilator. Diabetes Mellitus dan nesopati asam urat saat ini sudah jarang dilakukan pada GGK dapat dilakukan dengan cara intravenous infusion pielografi untuk menilai sistem pelviakalises dan ureter. Pemberian Na bicarbonat IV. e) Penanggulangan Asidosis Pemberian melalui makanan dan obat-obatan harus dihindarkan . Infuse glukosa hipertonis dengan insulin. Tak jarang ditemukan juga infeksi oleh karena imunitas tubuh yang menurun. f) Pengaturan protein dalam makanan Protein harus dikurangi. Usaha yang ditujukan untuk mengurangi gejala mencegah perburukan faal ginjal terdiri atas: a) Pengaturan Minum Pemberian yang berlebihan dapat mengakibatkan penumpukan didalam badan dan membahayakan karena menimbulkan hipovolemia yang sulit diatasi. Dengan alat tertentu tekanan darah dapat diturunkan tanpa mengurangi gagal ginjal. kadiomegali dan efusi perikordid. f) Pemeriksaan Pielograi Retroged Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang neversibel. g) Pemeriksaan Foto Dada Dapat terlihat tanda-tanda benalungan paru akibat kelebihan air (flore over load) efusi pleura. terutama pada usia lanjut. Dalam percobaan telah dibuktikan bahwa ureum darah dapat dimetabolisme bila diberi asam amoniak essential.e) Pielografi Intra Vena (PIV) Pada GGK lanjut tak bermanfaat lagi oleh karena ginjal tak dapat mengeluarkan kontras dan pada GGK ringan mempunyai resiko penurunan faal ginjal lebih berat. b) Pengendalian hipertensi. selain itu telah dibuktikan pula bahwa diet tinggi protein akan mempercepat timbulnya glomerulaskterosis sebagai akibat meningkatnya beban kerja glomerulus (hiperfiltrasi glomerulus). 2006). d) Penanggulangan Anemia Transfusi darah hanya diberikan bila ada indikasi yang kuat. Penatalaksanaan Menurut Buku Ajaran Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi IV Ketut Suwitno. diet rendah protein. Diet rendah protein .

2) Rencana aktivitas sehari-hari harus juga ada periode istirahat. mengendalikan asam-basa dan membuang zat-zat toksin dan tubuh dapat mempertahankan hidup dengan dengan sukses. hipertensi. hipokolsomia.diberikan bertahap mulai dengan 60 gram protein/jumlah protein diturunkan menjadi 40 gram kemudian 20 gram protein yang diberikan haruslah yang mempunyai nilai biologis yang tinggi (40% asam amino essential). hipertensi ensefalopati. Curah jantung. Komplikasi Menurut Soeparman. vomitus. Diet rendah natrium dan furosemid diberikan bila terjadi hipertensi atau edema. 2) Pelumas mulut dapat mempertahankan kelembaban mulut. nousea. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. C. 2000 adalah : a. 3) Obat-obat anti pruritus Insomnia dan kecapekan dapat diatasi dengan: 1) Pengobatan anemia dapat mengurangi rasa kecapekan. anemia dan perikarditas. Sesungguhnya orang yang menghadapi transplantasi ginjal kronis intinya terjadi perubahan program ketidakmampuan dari hemadidisme kronis dengan kemungkinan masalah penolakan atau resection. 2) Mengendalikan suhu kamar agar mencegah panas. penurunan. baik pada GGA atau GGK. 7. b) Komplikasi gastrointestinal: anoreksia. 2001. Usaha-usaha efektif untuk pengendaliannya yaitu: 1) Mempertahankan kulit lembab dengan pemakaian lotion dan minyak. Diagnosa yang muncul pada pasien Chronic Kidney Disease Marilyn Doengoes dkk. resiko tinggi berhubungan dengan . c) Hiperkalemia d) Asidosis Metabolik e) Kejang uremik yang disediakan terjadinya hiponatromia. h) Dialise Dialise adalah menggerakkan cairan dan partikel-partikel lewat membrane setiap permeable ini merupakan terapi yang bisa membantu mengembalilkan keseimbangan cairan elektrolit yang normal. a) Komplikasi kardiovasculer dapat terjadi kangesti sirkulasi. Hiegiene Oral 1) Membersihkan mulut beberapa kali sehari terutama sebelum makan. g) Mengusahakan kenyamanan Kebanyakan orang dengan tingkat akhir penyakit ginjal menderita pruritus. i) Transplantasi Ginjal Transplantasi ginjal dilaksanakan untuk memperpanjang maka hidup orang dengan kegagalan ginjal kronis. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.

kurang atau menolak system pendukung atau sumber. efek samping terapi. d. tempat. Auskultasi bunyi jantung dan paru. Evaluasi adanya Rasional 1. gangguan faktor pembekuan. Membrane mukosa oral. D. e. perubahan urea dalam saliva menjadi ammonia. peningkatan kerapuhan kapiler. Tujuan: Mempertahankan curah jantung dengan bukti TD dan frekuensi jantung dalam batas normal. Proses piker. pembatasan cairan. konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit. kurang terpajan atau mengingat. Cedera. Kaji adanya/derajat hipertensi (awasi TD. perubahan) berhubungan dengan keyakinan kesehatan. kompelsitas. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. kerusakan. 1 Intervensi Keperawatan 1. irama. nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler. resiko tinggi berhubungan dengan kurang/penurunan salviasi. atau immobilisasi. f. biaya. irama. contoh duduk. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan frekuensi. Hipertensi bermakna dapat terjadi gangguan pada system aldosteron renninangiotensin (disebabkan oleh disfungsi . dan kebutuhan. Ketidakpatuhan (kepatuhan. Curah jantung. salah interpretasi informasi. resiko tinggi berhubungan dengan penekanan produksi dan SDM hidupnya. iritasi kimia. pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. prognosis. c. konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit.b. penurunan aktivitas. berdiri 2. hipoksia). Integritas kulit. perubahan. hipoksia). pengaruh budaya. waktu. gangguan frekuensi. akumulasi toksin dalam kulit. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan turgor kulit (edema/dehidrasi). perhatikan perubahan postural. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). penurunan. berbaring. No. perubahan berhubungan dengan disorientasi terhadap orang. tentang kondisi. g.

kaptopril (capoten). hidralazin (Apresoline) . nadi paradoksik. Evaluasi bunyi jantung ginjal) 2.edema perifer/kongesti vaskuler dan keluhan dispnea. takipnea. 3. yang merupakan kedaruratan medik. gemerisik. mengi. dan edema/distensi jugular menunjukkan GGK. frekuensi jantung tak teratur. penyempitan tekanan nadi. dan penyimpangan mental cepat menunjukkan temponden. penurunan/tak adanya nadi perifer. Adanya hipotensi tibatiba. dispnea. S3/S4 dengan tonus muffled. takikardia. 4. 3. klonodin (Catapres). Distensi jugular. 4. Menurunkan tahanan vaskuler sistemik dan/atau pengeluaran rennin untuk menurunkan kerja miokardial. Berikan obat antihipertensi (contoh: Prazozin (minipress).

contoh sediaan besi. Berguna untuk memperbaiki gejala anemia sehubungan dengan . Cedera. asam folat (Folvite). 3. 2 Intervensi Keperawatan 1. kemampuan untuk melakukan tugas. No. peningkatan kerapuhan kapiler. resiko tinggi berhubungan dengan penekanan produksi dan SDM hidupnya. 2. Evaluasi respons terhadap aktifitas. pencukur elektrik. Berikan sikat gigi halus.kulit/Membrane mukosa pucat. perubahan aktivitas. sehingga memerlukan intevensi. dan istirahat.sianokobalamin (betalin) 4. gunakan jarum kecil bila mungkin dan lakukan penekanan lebih lama setelah penyuntikan/penusukan vaskuler. Anemia menurunkan oksigenasi jaringan dan meningkatkan kelelahan. Observasi takikardia. Rasional 1.2. Tujuan: Tak mengalami tanda/gejala perdarahan dan mempertahankan /menunjukan perbaikan nilai laboratorium. gangguan faktor pembekuan. dispnea dan nyeri dada. bantu sesuai kebutuhan dan buat jadwal untuk istirahat. Menurunkan resiko perdarahan/pembentukan hematom 4. Dapat menunjukkan anemia dan respona jantung untuk mempertahank an oksigenasi sel 2. 3. Berikan obat sesuai indikasi.

3. Pastikan dari orang terdekat. 3. Orientasikan kembali terhadap lingkungan.kekurangan nutrisi/karena dialysis (Catatan: Besi tidak boleh diberikan dengan ikatan fosfat karena menurunkan absorbsi besi 3. orang. tingkat mental pasien biasanya. perubahan berhubungan dengan disorientasi terhadap orang. Tingkatkan istirahat adekuat dan tidak mengganggu periode tidur 4. jam. waktu Tujuan: Meningkatkan tingkat mental biasanya dan mengidentifikasi cara untuk mengkompensasi gangguan kognitif/deficit memori. 4. Perbaikan hipoksia saja dapat memperbaiki kognitif. No. Rasional 1. tempat. Berikan tambahan O2 sesuai indikasi. jendela ke luar. Berikan kalender. Memberikan petunjuk untuk membantu dalam pengenalan kenyataan. 2. Intervensi Keperawatan 1. dan sebagainya. Gangguan tidur dapat mengganggu kemampuan kognitif lebih lanjut. . Memberikan perbandingan untuk mengevaluasi perkembangan/per baikan gangguan 2. 3. Proses pikir .

Menurunkan tekanan lama pada jaringan. tugor. 4. No. Menurunkan tekanan pada edema. 3. vascular. 4. 1. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. Perhatikan kemerahan. Perhatikan kemerahan. Pertahankan buku pendek. vascular. Berikan matras busa/flotasi 4. akumulasi toksin dalam kulit. 2. yang dapat membatasi perfusi selular . jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia peninggian meningkatkan aliran balik statis vena terbatas/pembent ukan edema. purpura.4. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. Tujuan: Mempertahankan kulit utuh dan menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan/cedera kulit. ekskorlasi. atau immobilisasi. 2. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan turgor kulit (edema/dehidrasi). ekskorlasi. tugor. penurunan aktivitas. kerusakan. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan (dari pada garukan) pada area pruritus. Intervensi Keperawatan Rasional 3. Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera dermal. Ubah posisi pasien dengan sering 1. purpura. Integritas kulit.

2. perubahan. iritasi kimia. mis anti histamin: kiproheptadin (periactin) Rasional 1. Membran 4. 5.yang menyebabkan iskemik 5. resiko tinggi berhubungan dengan kurang/penurunan salviasi pembatasan cairan. Dapat diberikan untuk menghilangkan gatal 4. adanya inflamasi. Anjurkan menghindar fless gigi. Memberikan kesempatan untuk intervensi segera dan mencegah infeksi. 2. Inspeksi rongga mulut: perhati kan kelembaban. 5. menimbulkan perdarahan. 3. 5 Intervensi Keperawatan 1. perubahan urea dalam saliva menjadi ammonia.Berikan perawatan mulut. Membrane mukosa oral. . Menurunkan pertumbuhan bakteri dan potensial terhadap infeksi. Berikan obat sesuai indikasi. Tujuan: Mempertahankan integritas membrane mukosa dan mengidentifikasi/melakukan intervensi khusus untuk meningkatkan kesehatan mukosa oral. 5. Anjurkan hygiene gigi yang baik setelah makan dan pada saat tidur. Flos gigi dapat melukai gusi. No. ulserasi. karakter saliva. 3.

6. tentang kondisi. Dorong pemasukan kalori tinggi. contoh respons vascular tehadap . Tujuan: Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan. Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alas an untuk tindakan. melumasi. yang sering tak menyenangkan kaena uremia dan keterbatasan masukan oral. kurang terpajan atau mengingat. 2. 2. Perawatan mulut menyejukkan. khususnya dari karbohidrat . Penyimpanan protein. prognosis. 6 Intervensi Keperawatan 1. Instruksika n dalam observasi diri dan pengawasa n TD. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. mencegah penggunaan dan memberikan energi. Insiden hipertensi meningkat pada GGK. salah interpretasi informasi. perlu untuk observasi ketat terhadap efek pengobatan. dan berpartisipasi dalam program pengobatan No. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). Menunjukan/melakukan perubahan pola hidup yang perlu. dan membantu menyegarkan rasa mulut. termasuk jadwal istirahat sebelum Rasional 1.mukosa dapat menjadi kering dan pecah-pecah. sering memerlukan penanganan dan obat anti hipertensi.

7 . Perhatika n masalah seksual. efek samping terapi. Menyamp aikan pesan masalah. Menurunkan risiko sehubungan dengan imobilisasi (termasuk demineralisasi tulang) dan mencegah kelemahan. Tujuan: Menyatakan pengetahuan akurat tentang penyakit dan pemahaman program terapi. No. menyelin gi periode istirahat dengan aktivitas. Membuat pilihan pada tingkat kesiapan berdasarkan informasi yang akurat. 4. kurang atau menolak system pendukung atau sumber. dalam kemampu an individu. Berpartisipasi dalam membuat tujuan dan rencana pengobatan.mengukur TD. Efek fisiologis uremia/terapi anti hipertensi dapat mengganggu hasrat/penampilan seksual. Intervensi Keperawatan 1. perubahan) berhubungan dengan keyakinan kesehatan. 7 Ketidakpatuhan (kepatuhan. Membantu dalam mempertahanka n tonus otot dan kelenturan sendi. 3. biaya. mengguna kan lengan/posi si yang sama. Dengarkan/mendengarkan dengan aktif pada keluhan/pernyataan pasien. dan mengidentifikasi /menggunakan sumber dengan tepat. 3. obat. Buat program latihan rutin. pengaruh budaya. Rasional 1. kompelsitas.

3. Tingkat ansietas berat mempenga ruhi kemampua n pasien mengatasi situasi. Anjurkan pilihan yang tepat. Evaluasi system pendukung/sumber yang digunakan oleh pasien. perasaan tak berdaya. Meskipun pasien secara internal termotivasi (rasa control internal). Yakinkan persepsi/pemahaman pasien/orang terdekat terhadap situasi dan konsekuensi perilaku. Kaji tingkat ansietas. kemampuan control. 2. 5. 3. Keyakinan pada kemampua n individu dan mengatasi situasi dalam cara positif. Memberik an kesadaran bagaimana pasien memandan g penyakitn ya sendiri dan program pengobata n dan membantu dalam memaham i masalah pasien.2. 4. Kaji perilaku memberi perawatan kesehatan pada pasien/perilaku. pasien cenderung .

Diagnosa Keperawatan pada pasien Congestive Heart Failure menurut Marilyn Doengoes dkk.menjadi pasif/terga ntung pada penyakit berat. 5. 4. Adanya system pendukung adekuat membantu pasien untuk mengatasi kesulitan penyakit lama. 2000 adalah : 1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan . Pendekata n yang menghaki mi dapat membuat kekuatan yang menjauhka n pasien. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 3. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 2. menurunka n kemungkin anmeningk atnya pengaruh. 1. jangka panjang.

Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 6. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen karena gagal jantung kongestif 2. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur seperti biasanya Dari kedua Diagnosa Keperawatan diatas dapat disimpulkan bahwa Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah : 1. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. oedem.4. oedem. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. dan penurunan perfusi jaringan 5. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 3. dan penurunan perfusi jaringan . Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan pemahaman / kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung / penyakit / gagal Diagnosa Keperawatan pada gagal jantung menurut Lynda Juall Carpenito edisi 8. Resiko terhadap kelebihan volume cairan : odema yang berhubungan dengan penurunan aliran darah ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan 4. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan 5. 2000 adalah : 1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 4.

Catat bunyi jantung 3. S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa jantung 3. Auskultasi nadi apical. sedang atau kronik.Peningkatan frekuensi jantung • Curah jantung meningkat Kriteria hasil : pasien menunjukkan tanda vital dalam batas normal. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 8. TD 2. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran cerna 9. Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan untuk mengambil posisi tidur yang biasanya INTERVENSI Menurut Doengoes (2000) Diagnosa 1 : Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial. Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi 4. Biasanya terjadi takikardi untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler 2. ikut sertakan dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung Intervensi 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. Palpasi nadi Perifer . terjadi penurunan dispnea. disritmia terkontrol. bebas gejala jantung. • Tujuan : . Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang informasi 7.5. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 6. Pada gagal jantung kongestif dini. frekuensi irama jantung kaji Rasional 1.

dapat meningkat sehubungan dengan Septum Ventriculler Right (SVR) 4. Untuk mengontrol gagal jantung dengan menghambat konversi angiotesin dalam paru dan menurunkan tekanan darah Dapat mempengaruhi elektrolit yang 5. Usinopril mempengaruhi irama jantung (Prinivil). Banyaknya obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup 10. Diuretic : Furosemid (Lasix). Meningkatnya persediaan O2 untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek iskemik 9. catat penurunan dan kepekatan konsentrasi urine 7. Pantau tekanan darah 5. Captopril(Capoten). Kaji adanya kulit pucat dan sianosis 6. Asam Etakrinik (Enderic).Bumetamid (Bumex) (kalium dan klorida) 11. Ginjal berrespon untuk menurunkan curah jantuingdengan menahan cairan dan natrium 7. Berikan obat sesuai indikasi 10. Istirahat fisik dipertahankan untuk memperbaiki efisiensi kontraksi jantung den menurunnya kebutuhan oksigen 8. Pantau keluaran urine.Eralapri (Vasotec) 12. Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati pasien curah jantung 11. Pantau dan ganti elektrolit Diagnosa 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air . Beri posisi nyaman pada tempat tidur atau kursi 8. Berikan O2tambahan dengan kanul nasal / masker sesuai indikasi 9. Pucat menunjukkan menurunnya Perfusi Perifer Sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung dan anemia Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung kronik 6.

berat badan normal dan tidak oedem. Pantau tekanan darah dan CVP 6. Timbang berat badan setiap hari 4. Menunjukkan kelebihan volume cairandan dapat menunjukkan terjadinya gagal jantung 6. Menurunkan air total tubuh / reakumulasi cairan Menunjukkan perubahan indikatif peningkatan / perbaikan kongesti paru 1. menyatakan tentang pembatasan cairan Intervensi Rasional 1. Auskuhasi bunyi nafas.• • Tujuan : Volume cairan pasien berkurang sampai dengan normal Kriteria hasil : Volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran bunyi nafas bersih. mencapai peningkatan toleransi aktivitas . catat penurunan dan atau bunyi tambahan 5. Pantau Foto thorax Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 / kebutuhan • • Tujuan : Pasien mampu melakukan aktivitas fisik Kriteria hasil : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri. Catat perubahan ada / hilangnya oedema sebagai respon terhadap terapi 4. Pertahankan duduk / tirah baring dengan posisi Semi Fowler 3. tanda vital dalam batas normal. catat jumlah dan warna 2. Pemberian obat sesuai indikasi : Diuretik contoh : Furosemid (Lasix) 7. Meningkatkan laju aliran urine dan dapat menghambat reabsorsi natrium / klorid pada tubulus ginjal 7. Keluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi jaringan 2. Pantau keluaran urine. Meningkatkan Filtrasi Ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan dieresis 3. Mempertahankan cairan / pembatasan natrium sesuai indikasi 8. Kelebihan volume cairan sering menimbulkan kongesti paru 5.

nafas dalam 3. Penurunan / ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktifitas dapat menyebabkan peningkatan frekuensi jantung 2. dispnea. Catat respon Kardiopulmonal terhadap aktivitas. Menurunkan konsumsi oksigen / . Intervensi 1. Menyatakan adanya kongesti paru / pengumpulan secret menunjukkan untuk intervensi lanjut 2. pucat Rasional 1. catat tachicardi disritmia. Memenuhi kebutuhan perawatan diri tanpa mempengaruhi stress Peningkatan aktivitas secara bertahap menghindari kerja jantung / konsumsi oksigen berlebihan Diagnosa 4 : Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan pertukaran gas Kriteria hasil : mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA / oksiometri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. nyeri 4.Intervensi 1. Pertahankan duduk di kursi. Kaji penyebab kelemahan. Rasional 1. Dapat menunjukkan peningkatan Decompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas 3. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi 5. Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2 3. catat krekel. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas 3. Implementasikan program rehabilitasi jantung / aktivitas 4. Anjurkan pasien batuk efektif. Kelemahan merupakan samping beberapa obat efek 2. contoh : pengobatan. Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia 4. Auskuitasi bunyi nafas. mengi 2. Anjurkan pasien selalu merubah posisi 4.

meminimalkan dengan kelembapan / ekresi 3. Memperbaiki sirkulasi / menurunkan waktu satu area yang menggangu aliran darah 2. dan penurunan perfusi jaringan • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intregritas kulit Kriteria hasil : mempertahankan integritas mendemonstrasikan perilaku / tehnik mencegah kulit kulit. Berikan obat sesuai indikasi : Diuretik. Berikan perawatan kulit.tirah baring dengan kepala tempat tidur lebih tinggi (Semi Fowler) 5. meningkatkan pertukaran gas 6. Berikan oksigen sesuai indikasi tambahan kebutuhan dan meningkatkan ekpansi paru maksimal 5. Intervensi 1. Pijat area kemerahan atau memutih Diagnosa 6 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi • • Tujuan : Pengetahuan pasien meningkat Kriteria hasil : − Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkanepisod berulang dan mencegah . oedema. bantu rentang gerak pasif / aktif 2. Terlalu kering atau lembab merusak kulit dan mempercepat kerusakan 3. Furosemid (lasix) Diagnosa 5 : Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Edema interstitial dan gangguan sirkulasimemperlambat absorsiobat dan predisposisi untuk kerusakan kulit / terjadinya infeksi 4. Meningkatkan konsentrasi alveolar yang dapat memperbaiki / memudahkan hipoksemia jaringan Menurunkan kongesti alveolar. Ubah posisi saat ditempat tidur. Hindari obat intramuskuler Rasional 1. Meningkatkan aliran darah 4.

komplikasi − Menyatakan tanda / gejala memerlukan intervensi cepat yang − Mengidentifikasi stress pribadi / faktor resiko untuk menangani − Melakukan perubahan perilaku yang perlu pola hidup / Intervensi 1. tujuan. Pemahaman kterapeutik dan pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah terjadinya komplikasi obat Menambah pengetahuan dan 3. Pembatasan diit natrium diatas 3gr/hari akan menghasilkan efek diuretic 3. Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan 2. Diskusikan obat. dan efek samping memungkinkan pasien untuk membuat 4. Diskusikan pentingnya fungsi jantung sehat 2. Jelaskan dan diskusikan peran keputusan berdasarkan informasi pasien dalam mengontrol faktor resiko dan faktor pencetus Diagnosa 7 : Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas • • Tujuan : Ansietas pasien berkurang sampai dengan hilang Kriteria hasil : − Mengakui dan mendiskusikan takut / masalah − Menunjukkan perasaan yang tepat − Wajah tampak rileks − Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi . Diskusikan pentingnya pembatasan natrium Rasional 1.

Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru untuk memilih intervensi yang tepat 2. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa 2.Intervensi 1. Dapat menambah nafsu makan. Observasi tanda-tanda malnutrisi setiap hari 2. jika mungkin anjurkan untuk menyikat gigi 3. pasien tidak merasa pahit dan enak bila mengunyah 3. menjelaskan factorfaktor bila diketahui. Berikan waktu untuk menyiapkan peristiwa atau pengobatan Rasional 1. Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit . anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan • • Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi untuk mempertahankan fungsi tubuh Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral. Diketahui adanya tanda-tanda malnutrisi yang merupakan petunjuk adanya gangguan kebutuhan nutrisi 2. Intervensi 1. Dapat memperbaiki beberapa perasaan Kontrol / kemandirian pada pasien yang merasa tidak berdaya dalam menerima diagnosa Diagnosa 8 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. Kelola kebersihan mulut setiap 2-4 jam. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi interpretasi terhadap informasi 3. Beri kesempatan untuk bertanya jawab 3. Rujuk ke indikasi ahli gizi sesuai Rasional 1. menjelaskan rasional dan prosedur untuk pengobatan. Libatkan pasien / orang terdekat dalam perencanaan perawatan 4.

Hall & Guyton. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. 2000. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta Carpenito. Marilyn E. Beri makan kecil sore hari 5. Tingkat stress dapat melonggarkan pola tidur yang mencapai tidur pulas 3. Gagal Ginjal. Aktivitas fisik dan mental meningkatkan kelelahan yang dapat meningkatkan kebingungan 2. EGC: Jakarta. . Berikan obat sesuai indikasi Rasional 1. Keseimbangan cairan. Buku agar Fisiologi Kedokteran Edisi II. Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. PL. 2007. EGC: Jakarta Doengoes. Hadibroto Iwan. 2001. 2007. elektrolit & asam basa. Rencana Asuhan Keperawatan.Diagnosa 9 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur yang biasanya • • Tujuan : Pola tidur pasien terpenuhi Kriteria hasil : − Mampu adekuat pikiran menciptakan pola tidur yang dengan penurunan terhadap − Tampak / bisa istirahat yang cukup Intervensi 1. 2006. Anjurkan istirahat sejenak. Moyet. EGC : Jakarta. 2001. Lynda Juall. Edisi 3. Lynda Juall. PT. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk Mungkin efektif dalam menangani penyakitnya kemampuan tidur untuk meningktkan DAFTAR PUSTAKA Alam Syamsir. Horne Mima M & Swearingen. Evaluasi tingkat stress 3. Mempertahankan kestabilan lingkungan 4. EGC: Jakarta Carpenito. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Perawatan. Lengkapi jadwal tidur dan ritual secara teratur 4. turunkan aktifitas mental fisik pada sore hari 2. EGC: Jakarta.

Mansjoer. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2. DR. 2005). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Lorrelne M.Price. Edisi 8. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. 2006. 2006. PENGERTIAN Gagal jantung Kongestif adalah ketidakmampuan Jantung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi (Brunner & Suddarth. Gagal jantung adalah keadaan patofisiologis ketika jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan (Sylvia A. 2000. Salemba Medika: Jakarta Price. Arif. Nursalam. Wilson.blogspot. 2002. FKUI: Jakarta BAB I KONSEP DASAR MEDIK CONGESTIF HEART FAILURE (CHF) A. Media Aeskulapius.http://keperawatan . Buku Ajar Keperawatan Medikel Bedah Brunner & Suddarth.gun. Suzanne C. B. EGC: Jakarta Soeparman. 2002). Gagal jantung Kongestif adalah kondisi patofisiologik yang diakibatkan gangguan fungsi jantung karena jantung tidak dapat mempertahankan curah yang cukup untuk kebutuhan metabolik jaringan dan organ tubuh (Robbins. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Stanley. PROSES TERJADINYA MASALAH . Sylvia A. FKUI: Jakarta M. Nurs. L. 1999). 2007. Jilid 2.com 2007/07/laporan pendahuluan gagal ginjal kronis. EGC: Jakarta Smeltzer.

2. 2002). Faktor Presipitasi − Kelainan otot jantung (Miokardium) yang menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung.1. Faktor Predisposisi Penyakit yang dapat menimbulkan penurunan fungsi ventrikel seperti : − Penyakit Arteri Koroner − Hipertensi − Kardiomiopati − Penyakit jantung Kongenital 3. Efek tersebut (hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan meningkatkan kontraktilitas jantung. Hipertrofi otot jantung tidak dapat berfungsi secara normal dan akhirnya akan terjadi gagal jantung (Smeltzer. − Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi Miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Hal ini menyebabkan volume diastolik – akhir ventrikel secara progresif bertambah. Seiring dengan peningkatan progresif volume diastolik – akhir. Terjadinya Hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). − Hipertensi sitemik atau Pulmonal (peningkatan afterload) meningkatnya beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Patofisiologi Gagal jantung kongestif terjadi sewaktu kontraktilitas jantung berkurang dan ventrikel tidak mampu memompa keluar darah sebanyak yang masuk sewaktu diastole. sel-sel otot vebtrikel mengalami peregangan melebihi panjang . Suzanne C.

(Suzanne C Smeltzer. − Ortopnea (dispnea saat berbaring). (Elizabeth J Corwin. 4. manifestasi utama dari penurunan curah jantung adalah kelemahan dan kelelahan dalam melakukan aktifitas. Respon-respon reflek tubuh yang mulai bekerja sebagai jawaban terhadap penurunan tekanan darah akan secara bermakna memperburuk situasi. dimana curah jantung (CO : Cardiac Output) adalah fungsi frekuensi jantung (HR : Heart Rate) x volume sekuncup (SV: Stroke Volume). Bila curah jantung berkurang maka sistem saraf simpatis akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan curah jantung. Semakin terisi berlebihan ventrikel. maka volume sekuncup jantunglah yang harus menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah jantung. − Kelemahan fisik. Akibatnya volume sekuncup. terutama pada posisi berbaring. Manifestasi Klinik Tanda dan gejala gagal jantung secara umum : − Dispnea. atau perasaan sulit bernafas. Tegangan yang dihasilkan menjadi berkurang karena ventrikel teregang oleh darah. − Batuk non produktif juga dapat terjadi akibat kongesti paru. Konsep curah jantung paling baik dijelaskan dengan persamaan CO = HR x SV . Bila mekanisme kompensasi ini gagal untuk mempertahankan perfusi jaringan yang memadai. dipicu oleh timbulnya edema paru interstisial. adalah manifestasi gagal jantung yang paling umum. Dispnea disebabkan oleh peningkatan kerja pernafasan akibat kongesti vaskuler paru yang mengurangi kelenturan paru. Tanda dan gejala gagal jantung kanan : . Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan kontraktilitas jantung yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal.2000).optimumnya. curah jantung dan tekan darah turun. − Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) atau mendadak terbangun karena dispnea. 2001). semakin sedikit darah yang dapat dipompa keluar sehingga akumulasi darah dan peregangan serat otot bertambah.

Tanda dan gejala gagal jantung kiri : − Sesak nafas (dispnea) − Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) − Ortopnea − Batuk-batuk − Sianosis − Jantung membesar. − Foto rontgent : Oedema Paru. − Nokturia (dieresis malam hari) yang mengurangi retensi cairan. Edema mula-mula tampak pada bagian tubuh yang tergantung (tunkai bawah. yaitu : − Derajat I : Tidak ada gejala (seperti nafas pendek. rasa penuh atau mual dapat disebabkan oleh kongesti hati dan usus. . Klasifikasi Menurut New York Heart Association (NYHA) gagal jantung dapat di klasifikasikan menurut derajatnya. − Gejala saluran cerna. nyeri dada) yang terjadi pada kegiatan fisik biasa. − Edema Perifer terjadi akibat penimbunan cairan dalam ruang interstisial. nyeri dada) bila melakukan kegiatan fisik biasa. Cor membesar. tumit). − Derajat III : Timbul gejala sewaktu melakukan kegiatan fisik ringan. − Derajat IV : kegiatan fisik hamper tidak bisa dilakukan oleh karena dengan istirahat saja telah timbul gejala (nafas pendek.Price. − Derajat II : Timbul gejala (nafas pendek. nyeri dada). tachycardia. (Sylvia A. 2005). seperti anoreksia.− Peningkatan tekanan vena jugularis (JVP) − Hepatomegali (pembesaran hati) : nyeri tekan hati dapat terjadi akibat peregangan kapsula hati.

1996). Efusi Perikardial. atau Kardiomegali. kelainan ST/T menunjukkan disfungsi venrikel kiri kronis. Pemeriksaan Penunjang • Ekokardiografi Ekokardiografi sebaiknya digunakan sebagai alat pertama dalam diagnosis dan manajemen gagal jantung. Ultrasonografi Doppler. Creatimin. • Pemeriksaan Laboratorium − Elektrolit. Edema paru. • Rontgent Dada Foto sinar X dada Posterior – Anterior dapat menunjukkan adanya Hipertensi Vena. • Elektrokardiografi (EKG) Pada pemeriksaan EKG untuk klien dengan gagal jantung dapat ditemukan kelainan EKG seperti dibawah ini : 1. Gelombang Q menunjukkan infark sebelumnya dan kelainan segmen ST. Hipertrofi Ventrikel kiri dan gelombang T terbalik menunjukkan Stenosisa Aorta dan penyakit hipertensi. 3. Left bundle branch block. Pemeriksaan ekokardiografi dapat digunakan untuk memperkirakan ukuran dan fungsi ventrikel kiri. termasuk aliran warna dapat digunakan untuk menilai regurgitasi katup dan pirau intrakardiak. Aneurisma ventrikel kiri. thrombus dalam ventrikel. Penatalaksanaan Medis . Right Bundle Branch block dan Hipertrofi ventrikel kanan menunjukkan adanya disfungsi ventrikel kanan. 2. menunjukkan penyakit jantung Iskemik. (Muttaqin Arif. BUN. 5. dan berbagai bentuk penyakit jantung korgenital juga dapat dideteksi. 5.(Long C Barbara . 2009). Serum Albumin. 4. Aritmia : Deviasi Aksis ke kanan.

obat-obatan Simptomatik. pacu jantung 3. Preparat Nitrat atau Isorbit Dinitrat meningkatkan kapsitas vena Pulmonalis. Obat-obatan Diuretik untuk memp[erbaiki gejala kongestif seperti Dispnea Misal : Diuretik Tiazid. Prosozin Melebarkan arteri Perifer Vena Pulmonalis . Preparat Digitalis untuk meningkatkan Kontraktilitas Miokardium 4.M Sjaifoellah 1996 adalah : 1. Pembatasan aktivitas kerja berat untuk menurunkan kerja jantung 2. Mengurangi beban kerja − Istirahat jasmani dan Emosional − Berat badan yang berlebihan (obesitas) sebaiknya dikurangi / diturunkan − Vasodilator 2. Hidralazin Menurunkan tahanan vaskuler sistemik 6. Pengendalian Retensi garam dan cairan − Diit rendah garam − Diuretic − Pengeluaran cairan secara mekanik (Thoracosentesis. Ultrafiltrasi) • Penatalaksanaan menurut Riiantono. Lily ismudiai 1998 adalah : 1. Memperbaiki daya pompa jantung Digitalis.• Tujuan Penatalaksanaan menurut Noer H. menurunkan secara ringan tahanan vaskuler sistemik 5. Parasentesis. Furosemid dan Asam Etakrinat baik secara oral maupun intravena 3.

2000 adalah : 7. Resiko terhadap kelebihan volume cairan : odema yang berhubungan dengan penurunan aliran darah ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan 9. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen karena gagal jantung kongestif 7.C. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. 2000 adalah : 6. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan pada pasien gagal jantung menurut Marilyn Doengoes dkk. dan penurunan perfusi jaringan 11. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan pemahaman / kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung / penyakit / gagal Diagnosa Keperawatan pada gagal jantung menurut Lynda Juall Carpenito edisi 8. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 10. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 12. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan 10. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 8. oedem. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 9. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur seperti biasanya . Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 8.

disritmia terkontrol. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang informasi 16. Rasional 1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 13. ikut sertakan dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung. oedem. bebas gejala jantung. terjadi penurunan dispnea. dan penurunan perfusi jaringan 14. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran cerna 18.Dari kedua Diagnosa Keperawatan diatas dapat disimpulkan bahwa Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah : 10. Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan untuk mengambil posisi tidur yang biasanya D. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 15. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. FOKUS INTERVENSI Menurut Doengoes (2000) Diagnosa 1 : Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 11. Biasanya terjadi takikardi untuk • A Intervensi . • Tujuan : Peningkatan frekuensi jantung • Curah jantung meningkat Kriteria hasil : pasien menunjukkan tanda vital dalam batas normal. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 17. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 12.

sedang atau kronik. S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa jantung 3. Banyaknya obat dapat 10. Beri posisi nyaman pada tempat dan natrium tidur atau kursi 7. Berikan O2tambahan dengan kontraksi jantung den menurunnya kebutuhan oksigen kanul nasal / masker sesuai 8.Bumetamid (Bumex) 10. Istirahat fisik dipertahankan untuk memperbaiki efisiensi 8. Captopril(Capoten). Meningkatnya persediaan O2 indikasi untuk kebutuhan miokard 9. digunakan untuk meningkatkan Asam Etakrinik volume sekuncup (Enderic). Diuretic : Furosemid (Lasix). Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati pasien curah jantung Intervensi Rasional 11. Eralapri (Vasotec) jantung dengan menghambat . Pantau keluaran urine. catat kronik penurunan dan kepekatan 6. Berikan obat sesuai indikasi untuk melawan efek iskemik 9. Kaji adanya kulit pucat dan 5. Ginjal berrespon untuk konsentrasi urine menurunkan curah jantuingdengan menahan cairan 7. TD dapat meningkat sehubungan dengan Septum Ventriculler Right (SVR) Intervensi Rasional 5. Untuk mengontrol gagal (Prinivil). Pada gagal jantung kongestif dini. Pucat menunjukkan sianosis menurunnya Perfusi Perifer Sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung dan anemia Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung 6. Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi 4. Usinopril 11.• C • P • P mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler 2.

menyatakan tentang pembatasan cairan.12. Intervensi Rasional 1. Keluaran urine mungkin sedikit jumlah dan warna dan pekat karena penurunan perfusi jaringan. catat respon terhadap terapi penurunan dan atau bunyi 4. Mempertahankan cairan / tubulus ginjal pembatasan natrium sesuai 7. Catat perubahan ada / hilangnya oedema sebagai 4. Meningkatkan Filtrasi Ginjal dengan posisi Semi Fowler dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan dieresis 3. Pantau Foto thorax Menunjukkan perubahan indikatif peningkatan / perbaikan . Dapat mempengaruhi elektrolit (kalium dan klorida) yang mempengaruhi irama jantung Diagnosa 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air • • Tujuan : Volume cairan pasien berkurang sampai dengan normal Kriteria hasil : Volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran bunyi nafas bersih. Pantau tekanan darah dan CVP 5. catat 1. Pertahankan duduk / tirah baring 2. Pemberian obat sesuai indikasi : jantung Diuretik contoh : Furosemid 6. Menunjukkan kelebihan volume cairan dan dapat menunjukkan terjadinya gagal 6. Meningkatkan laju aliran urine (Lasix) dan dapat menghambat reabsorsi natrium / klorid pada 7. berat badan normal dan tidak oedem. Kelebihan volume cairan sering tambahan menimbulkan kongesti paru 5. Auskuhasi bunyi nafas. Pantau dan ganti elektrolit konversi angiotesin dalam paru dan menurunkan tekanan darah 12. Intervensi Rasional 2. tanda vital dalam batas normal. Timbang berat badan setiap hari 3. Menurunkan air total tubuh / indikasi reakumulasi cairan 8. Pantau keluaran urine.

nyeri 4. Auskuitasi bunyi nafas. Catat respon Kardiopulmonal 1. meningkatkan volume pucat sekuncup selama aktifitas dapat menyebabkan peningkatan frekuensi jantung 2. Intervensi Rasional 1. mencapai peningkatan toleransi aktivitas. catat 1. Kelemahan merupakan efek samping beberapa obat 4. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas 2. Menyatakan adanya kongesti krekel. Kaji penyebab kelemahan. mengi paru / pengumpulan secret menunjukkan untuk intervensi . contoh : pengobatan.kongesti paru Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 / kebutuhan • • Tujuan : Pasien mampu melakukan aktivitas fisik Kriteria hasil : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri. dispnea. catat miokardium untuk tachicardi disritmia. Implementasikan program bertahap menghindari kerja jantung / rehabilitasi jantung / aktivitas konsumsi oksigen berlebihan Diagnosa 4 : Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan pertukaran gas Kriteria hasil : mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA / oksiometri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. Dapat menunjukkan peningkatan Decompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas 3. Intervensi Rasional 1. Penurunan / ketidakmampuan terhadap aktivitas. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi 5. Memenuhi kebutuhan perawatan diri tanpa mempengaruhi stress Peningkatan aktivitas secara 3.

Pertahankan duduk di kursi. kulit. 1. Memperbaiki sirkulasi / bantu rentang gerak pasif / aktif menurunkan waktu satu area 2. Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional tambahan 4. Berikan perawatan kulit. Hindari obat intramuskuler kerusakan Edema interstitial dan gangguan Intervensi Rasional sirkulasi memperlambat absorsiobat dan predisposisi untuk kerusakan . Membersihkan jalan nafas dan 4. Furosemid (lasix) Menurunkan kongesti alveolar. Anjurkan pasien selalu merubah posisi lanjut 2. Intervensi Rasional 1. Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia Menurunkan konsumsi oksigen / Intervensi 5. oedema. Anjurkan pasien batuk efektif. Meningkatkan konsentrasi alveolar yang dapat memperbaiki / memudahkan 6. Ubah posisi saat ditempat tidur. tirah baring dengan kepala tempat tidur lebih tinggi (Semi kebutuhan dan meningkatkan ekpansi Fowler) paru maksimal memudahkan aliran O2 3.2. Berikan obat sesuai indikasi : hipoksemia jaringan Diuretik. Terlalu kering atau lembab kelembapan / ekresi merusak kulit dan mempercepat 3. yang menggangu aliran darah meminimalkan dengan 2. nafas dalam 3. meningkatkan pertukaran gas Diagnosa 5 : Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. dan penurunan perfusi jaringan • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intregritas kulit Kriteria hasil : mempertahankan integritas mendemonstrasikan perilaku / tehnik mencegah kulit.

4. Pijat area memutih

kemerahan

atau

kulit / terjadinya infeksi 3. Meningkatkan aliran darh, meminimalkan hipoksia jaringan

Diagnosa 6 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi • • Tujuan : Pengetahuan pasien meningkat Kriteria hasil : − Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkanepisod berulang dan mencegah komplikasi − Menyatakan tanda / gejala memerlukan intervensi cepat yang

− Mengidentifikasi stress pribadi / faktor resiko untuk menangani − Melakukan perubahan perilaku yang perlu pola hidup /

Intervensi Rasional 5. Diskusikan pentingnyafungsi 4. Pengetahuan proses penyakit jantung sehat dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program 6. Diskusikan pentingnya pengobatan pembatasan Pembatasan diit natrium diatas 3gr/hari Intervensi Rasional natrium akan menghasilkan efek diuretic 5. Diskusikan obat, tujuan, dan 7. Pemahaman kterapeutik dan efek samping pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah 6. Jelaskan dan diskusikan peran terjadinya komplikasi obat pasien dalam mengontrol faktor 8. Menambah pengetahuan dan resiko dan faktor pencetus memungkinkan pasien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi Diagnosa 7 : Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas

• •

Tujuan : Ansietas pasien berkurang sampai dengan hilang Kriteria hasil : − Mengakui dan mendiskusikan takut / masalah − Menunjukkan perasaan yang tepat − Wajah tampak rileks − Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi

Intervensi Rasional 1. Evaluasi tingkat pemahaman 1. Pasien dan orang terdekat pasien / orang terdekat tentang mendengar dan mengasimilasi diagnose informasi baru Intervensi Rasional untuk memilih intervensi yang 2. Beri kesempatan untuk bertanya tepat jawab 2. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan 3. Libatkan pasien / orang terdekat persepsi interpretasi terhadap dalam perencanaan perawatan informasi 4. Berikan waktu untuk menyiapkan 3. Dapat memperbaiki beberapa peristiwa atau pengobatan perasaan 4. Kontrol / kemandirian pada pasien yang merasa tidak berdaya dalam menerima diagnosa Diagnosa 8 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual, anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan • • Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi untuk mempertahankan fungsi tubuh Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral, menjelaskan factorfaktor bila diketahui, menjelaskan rasional dan prosedur untuk pengobatan

Intervensi Rasional 1. Observasi tanda-tanda 1. Diketahui adanya tanda-tanda malnutrisi setiap hari malnutrisi yang merupakan petunjuk adanya gangguan 2. Kelola kebersihan mulut setiap kebutuhan nutrisi 2-4 jam, jika mungkin anjurkan 2. Dapat menambah nafsu makan, untuk menyikat gigi pasien tidak merasa pahit dan enak bila mengunyah Memberikan konseling dan 3. Rujuk ke ahli gizi sesuai bantuan dengan memenuhi kebutuhan indikasi diit Diagnosa 9 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur yang biasanya • • Tujuan : Pola tidur pasien terpenuhi Kriteria hasil : − Mampu adekuat pikiran menciptakan pola tidur yang dengan penurunan terhadap

− Tampak / bisa istirahat yang cukup

Intervensi Rasional 6. Anjurkan istirahat sejenak, 1. Aktivitas fisik dan mental turunkan aktifitas mental fisik meningkatkan kelelahan yang pada sore hari dapat meningkatkan kebingungan 7. Evaluasi tingkat stress 2. Tingkat stress dapat melonggarkan pola tidur yang 8. Lengkapi jadwal tidur dan mencapai tidur pulas ritual secara teratur 3. Mempertahankan kestabilan 9. Beri makan kecil sore hari lingkungan 10. Berikan obat sesuai indikasi 4. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk Mungkin efektif dalam menangani penyakitnya untuk meningktkan kemampuan tidur

Edisi 3. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Volume 2. Edisi 8. FKUI: Jakarta Rilantono. EGC: Jakarta Smeltzer. E. Buku Ajar Fundomental Keperawatan Konsep. Edisi 3. Buku Saku Dasar Patologi Panyakit. 2005. EGC: Jakarta Carpenito L. EGC: Jakarta Wolf. EGC: Jakarta Robbins. Edisi 3. J & Moyet. 2001. 1999. 1999. Buku Saku Diagnosis Keperawatan NIC dan NOC. EGC: Jakarta Corwiri. Arif. Stanley. EGC: Jakarta Sutedjo. EGC: Jakarta Lismidar. Amara Books: Ygyakarta Sylvia. Balai Penerbit UI. Lily.Y. Proses Keperawatan. J Elisabeth. 1984. M. 2009. 1990. dkk. Buku Ajar Kardiologi. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Kepeawatan). Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. 2002. EGC: Jakarta Wilkinson. Marilyn. EGC: Jakarta Perry & Potter. Judith. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Perawatan. 1996. A.Syaifullah.H. buku ke 2 . 1996. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi. 2005. 2000. EGC: Jakarta Depkes RI. 1998. Edisi 6. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart. Dasar-dasar Ilmu Keperawatan. Askep Pasien dengan Gangguan Penyakit Sistem Kardiovaskuler. Proses dan Praktek. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjadjaran. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. C. Jakarta Long C.M. Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium.A.L. Bandung Muttaqin.Price. EGC: Jakarta Doengoes. 1996.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Edisi 5. Sizanne. Buku Saku Patofisiologi. Patofisiologi. 2007. Linda Juall. Salemba Medika: Jakarta Noer. 2006. 2007. Barbara. Jilid1. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi revisi. Buku ke2. Edisi 4. I.

2000 ) . merupakan SCLC ( small cell lung cencer ) dan NSCLS ( non small cell lung cencer ) atau karsinoma skuamosa.BAB I KONSEP DASAR MEDIK A.1993 ) 3. karsinoma sel besar. Jenis tumor paru dibagi untuk tujuan pengobatan. adenokarsinoma. Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut dan letaknya di dalam rongga dada. DEFINISI 1. ( Hood Al Sagaff. Karsinoma bronkogenik adalah tumor ganas primer yang berasal dari saluran nafas. ( Hood Al Sagaff. Tumor adalah Neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan baru yang abnormal.1993 ) 2. ( Underwood. Kanker Paru merupakan abnormalitas dari sel-sel yang mengalami proliferasi dalam paru.

Faktor Predisposisi Menurut Slamet Suyono. menimbulkan tumor. c. Merokok Tak diragukan lagi merupakan faktor utama.4. Paparan zat karsinogen ( asbestos. radiasi ion. b. radon arse ) Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. 2. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam terdiri dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan. 2001. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif. Polusi udara Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap disel dalam atmosfer di kota. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). Jadi dari pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan kanker paru adalah penyakit keganasan yang terjadi dibagian paru yang mengalami proliferasi di dalam paru. B. Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Faktor Presipitasi Penyebab terjadinya kanker paru belum jelas diketahui. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. a. .

Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom.programmed cell death). Dengan demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada permulaan terbatas pada sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya. .d. selenium dan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru. Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan (insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya. tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiah. Teori Onkogenesis. Diet Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten. Pekerja pemecah hematite (paru – paru hematite) dan orang – orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden. Kanker paru akibat kerja Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenik (pembasmi rumput). Predisposisi Gen supresor tumor Inisitor Delesi/ insersi Promotor Tumor/ autonomi Progresor Ekspansi/ metastasis d. Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen).

Wheezing unilateral dapat terdengar pada auskultasi. otak.C. 2002. demam.hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe. Pada stadium lanjut. dinding esofagus. penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk.Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. pericardium. hemoptysis. Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. dispneu. dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra.hyperplasia dan displasia. tulang rangka. biasa timbul efusi pleura. PATOFISIOLOGI Menurut Practice Guidelines. 0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d46430100 0000000001006a5d0000000001000000180300000000000018030000010000006c0 000000000000000000000350000006f0000000000000000000000f04100003b32000 020454d460000010018030000120000000200000000000000000000000000000040 120000901a0000c600000020010000000000000000000000000000950403007a640 400160000000c000000180000000a00000010000000000000000000000009000000 10000000960f0000db0b0000250000000c0000000e000080250000000c0000000e00 0080120000000c00000001000000520000007001000001000000a4ffffff000000000 000000000000000900100000000000004400022430061006c006900620072006900 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 0000000000000000000000000000000000000ca0668f0ca0610000000ccf3ca064cf1 ca0652516032ccf3ca06c4f0ca061000000034f2ca06b0f3ca0624516032ccf3ca06c4f 0ca062000000049642f31c4f0ca06ccf3ca0620000000ffffffff5c1ad200d0642f31fffff fffffff0180ffff0180edff0180ffffffff000000000008000000080000430000000100000 0000000005802000025000000372e9001000000000000000000000000ef0200a07b2 0004000000000000000009f00000000000000430061006c00690062007200000000 00c4f3ca060bf32e3158f6ca0658020000c4f3ca06f8f0ca069c382731060000000100 000034f1ca0634f1ca06e8782531060000005cf1ca065c1ad20064760008000000002 50000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c0000000100 0000180000000c00000000000002540000005400000000000000000000003500000 06f00000001000000cf9d8740888787400000000057000000010000004c000000040 000000000000000000000940f0000de0b0000500000002000000036000000460000 00280000001c0000004744494302000000ffffffffffffffff970f0000dd0b00000000000 04600000014000000080000004744494303000000250000000c0000000e00008025 . khususnya pada hati. dan dingin. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia.

Karsinoma Bronkogenik. secara khas mendahului timbulnya tumor. a.D. Metastasis dini ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus. Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat). atau displasia akibat merokok jangka panjang. Ketika batuk dan menarik nafas yang dalam e) Hilang nafsu makan dan berat badan E. KLASIFIKASI KANKER PARU Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma Pleura dan Paru – paru (1977) : 1. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinik pada penderita tumor paru yaitu : a) Batuk yang terus menerus dan berkepanjangan b) Nafas pendek-pendek dan suara parau c) Batuk berdarah dan berdahak d) Nyeri pada dada. dan menonjol kedalam bronki besar. dinding dada dan mediastinum. b. Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama bronki. Terletak sentral sekitar hilus. demikian pula dengan penyebaran hematogen ke organ – . Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. Karsinoma epidermoid (skuamosa).Tumor ini timbul dari sel – sel Kulchitsky. Perubahan epitel termasuk metaplasia. Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter dan cenderung menyebar langsung ke kelenjar getah bening hilus. komponen normal dari epitel bronkus. Terbentuk dari sel – sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit.

7). Tumor papilaris dari epitel permukaan. Merupakan sel – sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam – macam.organ distal.paru perifer. Lain – lain. Sarkoma 6). F. 2). 3). c. Karsinoma sel besar. Tak terklasifikasi. Tumor karsinoid (adenoma bronkus). Sel – sel ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru . e. (Price. 1). 8). . 1995). Lesi seringkali meluas melalui pembuluh darah dan limfe pada stadium dini. Mesotelioma. Tumor kelenjar bronchial. Adenokarsinoma alveolar). (termasuk karsinoma sel Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala – gejala sampai terjadinya metastasis yang jauh. d. Patofisiologi. Tumor campuran dan Karsinosarkoma 5). tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat – tempat yang jauh. Melanoma. Kebanyakan timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang – kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut local pada paru – paru dan fibrosis interstisial kronik. STADIUM Tabel Sistem Stadium TNM untuk kanker Paru – paru: 1986 American Joint Committee on Cancer. 4).

Metastasis pada mediastinal ipsi lateral atau . harus berjarak 2 cm distal dari karina. koepua vertebra. esofagus. trakea. Tumor dengan diameter 3 cm atau dalam setiap ukuran dimana sudah menyerang pleura viseralis atau mengakibatkan atelektasis yang meluas ke hilus. pleura mediastinalis. diafragma. esofagus. trakea. Metastasis pada peribronkial dan/ atau kelenjar – kelenjar hilus ipsilateral. atau pericardium tanpa mengenai jantung. atau adanya efusi pleura yang maligna. atau karina. atau korpus vertebra. atau dalam jarak 2 cm dari karina tetapi tidak melibat karina.Gambaran TNM Tumor primer (T) T0 Defenisi Tidak terbukti adanya tumor primer Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus tetapi tidak terlihat pada radiogram atau bronkoskopi Karsinoma in situ Tumor dengan diameter ≤ 3 cm dikelilingi paru – paru atau pleura viseralis yang normal. Tumor dalam setiap ukuran yang sudah menyerang mediastinum atau mengenai jantung. T4 Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar limfe regional. Tx TIS T1 T2 T3 Tumor dalam setiap ukuran dengan perluasan langsung pada dinding dada. pembuluh darah besar. pembuluh darah besar.

kelenjar limfe subkarina. kelenjar – kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral. tidak ada Kelompok stadium Karsinoma TxN0M0 tersembunyi . Tumor termasuk klasifikasi T3 dengan atau tanpa bukti metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral. Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 dan terdapat bukti adanya metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral. N1 N2 Tidak diketahui adanya metastasis jauh. Metastasis jauh (M) M0 Karsinoma in situ. Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu (seperti otak). Kelenjar limfe regional (N) N0 Metastasis pada mediastinal atau kelenjar – kelenjar limfe hilus kontralateral. N3 Sputum mengandung sel – sel ganas tetapi tidak dapat dibuktikan adanya tumor primer atau metastasis. M1 Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 tanpa adanya bukti metastasis pada kelenjar limfe regional atau tempat yang jauh.

metastasis jauh. Setiap tumor dengan metastasis pada kelenjar limfe hilus atau mediastinal kontralateral. atau 0 pada kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular. tidak ada metastasis jauh. I Setiap tumor dengan metastsis jauh. Stadium TISN0M0 Stadium T1N0M0 T2N0M0 Stadium T1N1M0 T2N1M0 II Stadium T3N0M0 T3N0M0 IIIa Stadium Setiap T N3M0 setiap NM0 IIIb T4 . atau setiap tumor yang termasuk klasifikasi T4 dengan atau tanpa metastasis kelenjar limfe regional.

Stadium IV T. d) Bronkoskopi dapat dilakukan untuk memperoleh sample untuk biopsi dan mengumpulkan hapusan bronkial tumor yang terjadi di cabang bronkus. 1998 ) a) Foto dada menunjukkan sisi lesi b) Analisis sputum untuk sitologi menyatakan tipe sel kanker c) Skan tomografi komputer dan tomogram paru menunjukkan lokasi tumor dan ukuran tumor.M1 (Price. hepar. limpa ) g) Mediastinoskopi menentukan apakah tumor telah metastase ke limfe mediastinum. Setiap G. tulang. e) Aspirasi dengan jarum dan biopsi jaringan paru dapat dilakukan jika pemeriksaan radiologi menunjukkan lesi di paru-paru perifer.setiap N. f) Radionuklide scan terhadap organ-organ lain menentukan luasnya metastase ( otak. 3) Radioterapi paliatif .1995). namun hanya < 25 % kasus yang biasa di operasi dan hanya 25 % diantaranya ( 5 % dari semua kasus ) yang telah hidup setelah 5 tahun. Tetapi radikal sesuai untuk penyakit yang bersifat lokal dan hanya menyembuhkan sedikit diantaranya. 2) Radioterapi radikal Digunakan pada kanker paru bukan sel kecil yang tidak bisa di operasi. H. Tingkat mortalitas perioperatif sebesar 3 % pada lobektomi dan 6 % pada pneumorektomi. PEMERIKSAAN PENUNJANG ( Barbara. PENATALAKSANAAN MEDIK 1) Pembedahan Memiliki kemungkinan kesembuhan terbaik.

Pengumpulan data a. Keadaan umum : Lemah. sesak nafas atau nyeri lokal. I. batuk. PENGKAJIAN 1. kelemahan c. penurunan BB 2) pola minum : Frekuensi minum meningkat ( rasa haus ) 3) pola tidur : Susah tidur karena adanya batuk dan nyeri dada 4) Aktivasi : Keletihan.Untuk hemoptisis. Peran kemoterapi pada kanker bukan sel kecil belum jelas. meningkatkan kualitas hidup. 5) Terapi endobronkhial Seperti kerioterapi. nyeri dada b) Batuk produktif tak efektif c) Suara nafas : Mengi pada inspirasi d) Serak. sesak yang disertai nyeri dada b. 6) Perawatan Faliatif Mengurangi dampak kanker. Pemeriksaan fisik 1) Sistem pernafasan a) Sesak nafas. Kebutuhan dasar 1) pola makan : Nafsu makan berkurang karena adanya sekret dan terjadi kesulitan menelan ( disfagia ). tetapi laser atau penggunaan stent dapat memulihkan gejala dengan cepat pada pasien dengan penyakit endobronkhial yang signefikan. 4) Kemoterapi Digunakan pada kanker paru sel kecil karena pembedahan tidak pernah sesuai dengan histologi kanker jenis ini. paralysis pita suara .

muntah b) Kesulitan menelan c) Penurunan intake makanan. BB menurun 4) Sistem urinarius Peningkatan frekuensi / jumlah urine 5) Sistem neurologis a) Perasaan takut / takut hasil pembedahan b) Kegelisahan a. ukuran dan lokasi lesi. atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra. Menggambarkan bentuk. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus. effuse pleural. disritmia b) Menunjukkan pericardial ) efusi ( gesekan 3) Sistem gastrointestinal a) Mual. b) Bronkhografi. Data penunjang a) Foto rontgen dada secara posterior-anterior Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. c) CT-Scanning untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura d) MRI Untuk menilai kelainan tumor yang menginvasi kedalam .2) Sistem kardiovaskuler a) Takikardia. Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.

sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %. pemeriksaan 3-5 berturut-turut. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada cairan pleura. pemeriksaan sputum yang baik dapat memberikan hasil positif sampai 67-85 % pada karsinoma sel skuamosa. pencucian bagian. mediastinum. medula spinal. g) Pemeriksaan Histopatologi Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas diagnosis kanker paru untuk mendapatkan spesimennya dapat dengan cara biopsi melalui : a) Bronkoskopi Memungkinkan visualisasi. . b) Trans Torakal Biopsi ( TTB ) Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm.vertebrata. Pemeriksaan sitologi tidak selalu memberikan hasil positif karena ia tergantung dari : a) Letak tumor terhadap bronkus b) Jenis tumor c) Tekhnik mengeluarkan sputum d) Jumlah sputum yang diperiksa. Supraklavikula. e) Bone scanning Pemeriksaan ini diperlukan bila diduga ada tanda-tanda metastasis ke tulang. aspirasi kelenjar getah bening servikal. bilasan dan sikatan bronkus pada bronkoskopi. f) Pemeriksaan Sitologi : Pemeriksaan sitologi sputum rutin dikerjakan terutama bila pasien ada keluhan batuk.dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui). Insiden tumor Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC). Dianjurkan e) Waktu pemeriksaan sputum ( sputum harus segar ) Pada kanker paru yang letaknya sentral.

Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan krisis situasi. 8. e) Torakotomi Untuk diagnosis kanker paru dikerjakan bila berbagai prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor. Hasil biopsi memberikan nilai positif 40 % dari studi lain nilai negatif palsu pada mediastinoskopi di dapat sebesar 3-12 ( diikuti dengan torakotomi ). ancaman untuk/perubahan status kesehatan. d) Mediastinoskopi Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat dapat dilakukan dengan cara mediastinoskopi dimana mediastinoskopi dimasukkan melalui insisi supra sternal. Kerusakan Pertukaran Gas Berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dari paru dengan permukaan yang terkena karena kanker atau pneumonia. J. Perubahan proses Pikir berhubungan dengan Sindrom SSP (susunan saraf pusat) dan/atau peningkatan tekanan intracranial sekunder terhadap terapi radiasi cranial. terpasangnya jalan napas buatan yang menghambat kemampuan untuk membersihkan sekresi. 6. Dan/atau obat-obat penghilang rasa nyeri yang dapat mengganggu kemampuan untuk membersihkan sekresi. Resiko Tinggi terhadap Disfungsi Neurovaskuler Perifer berhubungan .2000 1.takut mati. 4. Perubahan Nutrisi Kurang dari kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Tidak mampu mencerna makanan yang masuk secara adekuat karena lokasi tumor dan penanganan tumor seperti kemoterapi dan/atau terapi radiasi. proses penyakit kronis 5. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Danielle Gale. 2. Resiko terhadap Bersihan Jalan Napas Tak efektif berhubungan dengan Peningkatan jumlah sekresi akibat dari manipulasi pembedahan. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder.c) Torakoskopi Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi. faktor psikologis. Kurang pengetahuan berhubungan dengan terapi radiasi kranial 7. menurunnya tingkat kesadaran karena anesthesia. 3.

Diare berhubungan dengan Perubahan pada membrane mukosa kolon dan usus besar. Nyeri berhubungan dengan parestesia menyakitkan karena agen kemoterapi. procarbazine. Perubahan Nutrisi Kurang dari kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Tidak mampu mencerna makanan yang masuk secara adekuat karena lokasi tumor dan penanganan tumor seperti kemoterapi dan/atau terapi radiasi. Batasan Karakteristik : a) b) c) d) e) f) Kriteria hasil : Pasien makan cukup makanan untuk mempertahankan berat badan dalam 5% berat badan dasar. mempengaruhi mukosa oral atau gastrointestinal yang membuat pencernaan makanan menjadi sulit. 9. stomatitis dengan kemoterapi/ radiasi yang mukolitis. muntah Tanda dan gejala yang berhubungan (berapa kali dan jumlah). K. mual.dengan kerusakan saraf Karena kemoterapi. Intervensi Rasional Anoreksia Mual. 11. nyeri mulut. dan/atau ulserasi. taxol. atau disfagia. Memberikan Kaji makanan yang disukai dan/atau informasi untuk . Dispepsia. terutama agen alkaloid vinka seperti vincristine dan vinblastine dan agen lainnya seperti ciplatin. 10.2000 dan Lynda Juall Carpenito. Kaji adanya anoreksia. Resiko terhadap Konstipasi berhubungan dengan Neurotoksistas dari agen kemoterapi alkaloid vinka seperti vinblastine dan viankritisne. Definisi : Suatu keadaan di mana individu yang tidak puasa mengalami atau yang berisiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan yang takadekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik.2000 1. muntah Berat badan turun Mengeluh masukan makan kurang Cepat merasa kenyang Tidak mampu makan sehubungan dengan dipsnea atau keletihan. FOKUS INTERVENSI Menurut Danielle Gale.

Mencegah distensi berlebihan dari lambung yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada diafragma. Meningkatkan kelembaban dalam rongga mulut yang merupakan efek Tawarkan saliva buatan jika ada maslah samping dari radiasi. Kaji adanya rasa cepat kenyang. yang membuat kesulitan bernapas. obat antiemetik sebelum Mencegah mual dan muntah dan meningkatkan pemasukan makanan yang adekuat. iritasi. jika ada Meningkatkan pemasukan makanan. pada metabolisme tubuh dan jeratanjeratan nutrient dengan memecah sel tumor secara cepat. penurunan massa otot/jaringan. dan Berikan perawatan mulut sebelum amat nyeri yang membuat kesulitan makan dan/atau anesthesia local/topical untuk makan. mulut kering. jika ada masalah nyeri mulut/oral. Akibat dari pengaruh metabolik tumor kakeksia. Stomatis dari kemo/radioterapi dapat menyebabkan mukosa kering. perencanaan diet. Tawarkan makanan sedikit tapi sering. kelemahan. Berikan makan. . Berikan kemoterapi saat malam hari.yang tidak disukai. anjurkan pasien untuk makan saat tidak merasa lapar. Menurukan stimulus pada pusat muntah dan mengurangi mual berkaitan dengan peningkatan waktu tidur. Kaji penurunan berat badan.

mencegah keletihan. Definisi : Keadaan di mana seorang individu mengalami penurunan jalannya gas ( oksigen dan karbondioksida ) yang aktual ( atau dapat mengalami potensial ) antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular. Perubahan dalam pola dan/atau frekuensi dan mudah timbul dispnea. 2. atau menggunakan otot-otot aksesoris menggunakan otot-otot Bantu napas dan/atau sianosis. dispnea. Kerusakan Pertukaran Gas Berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dari paru dengan permukaan yang terkena karena kanker atau pneumonia. Batasan Karakteristik : a) b) c) d) Kriteria Hasil : Oksigenasi jaringan dapat dipertahankan. Dipsnea Hipoksia Gelisah Gas darah abnormal Intervensi Rasional Kaji frekuensi. pernapasan. mungkin mengindikasikan distress pernapasan dan memerlukan intervensi segera. sianosis. dan/atau cairan pengganti yang mudah di konsumsi. kedalaman pernapasan.Memberikan kalori dan masukan protein tinggi untuk mempertahankan cadangan protein dan Tawarkan kudapan dengan tinggi protein kalori. .

Berikan Oksigen sesuai kebutuhan. gelisah. Adanya hal-hal ini mungkin mengindikasikan penurunan oksigenasi jaringan otak. status Difusi dan pertukaran O² dan CO² dipengaruhi jika ketersediaan permukaan jaringan berkurang atau menurun dan mungkin mengakibatkan Kaji hasil analisa gas darah jika ketidakseimbangan asam asam basa yang memerlukan intervensi segera. Kaji perubahan kesadaran. Membantu mempertahankan oksigenasi Berikan posisi semi Fowler atau Fowler jaringan adekuat tanpa menekan pusat tinggi atau izinkan untuk duduk di kursi. maksimum. Meningkatkan potensi ventilasi secara Anjurkan minum minimal 2 liter per maksimal. dan adanya kebutuhan intervensi tambahan. Peningkatan masukan cairan diperlukan untuk menghilangkan sekresi dan lebih Anjurkan untuk batuk efektif dan napas mudah untuk membatukkannya. kendali pernapasan. mental. dalam.Suara napas menurun/hilang mengindikasikan kolaps paru atau Auskultasi suara napas. hari. pake rangsang. potensial ventilasi . kaji penurunan adanya suara tambahan mengindikasikan atau hilangnya ventilasi. dilakukan. ronki. Membantu untuk mengeluarkan sekresi. suara-suara tambahan seperti mengi. Meningkatkan Biasanya dengan kanula 2-3 L/menit.

menurunnya tingkat kesadaran karena anesthesia. terpasangnya jalan napas buatan yang menghambat kemampuan untuk membersihkan sekresi. Berikan aerosal atau pengobatan nebulizer sesuai kebutuhan Berikan brokodilator sesuai kebutuhan.Meningkatkan terbukanya jalan napas. Dan/atau obat-obat penghilang rasa nyeri yang dapat mengganggu kemampuan untuk membersihkan sekresi. Batasan karakteristik : a) b) c) d) e) f) g) Suara napas abnormal (rale. krekels. ronki) Frekuensi dan kedalaman pernapasan menurun Takikardia Batuk tidak efektif Sianosis Dipsnea Nyeri yang menghambat kemampuan untuk batuk Kriteria hasil : kecepatan pernapasan kembali pada batas-batas normal dengan jalan napas paten. Risiko terhadap Bersihan Jalan Napas Takefektif berhubungan dengan Peningkatan jumlah sekresi akibat dari manipulasi pembedahan. Definisi : Suatu keadaan di mana seseorang individu mengalami suatu ancaman yang nyata atau potensial pada status pernapasan. Infeksi muncul dan hilang secara teratur pada permukaan paru karena adanya pertukaran gas. Berikan antibiotik sesuai pesanan 3. .

Membantu pasien/keluarga dalam Instruksikan pasien dan/atau keluarga mempertahankan kepatenan jalan napas tentang risiko penghisapan mulut ketika pemberi asuhan/pelayanan dan/atau nasotrakeal sesuai kebutuhan. kesehatan tidak ada. Gunakan alat-alat steril untuk setiap prosedur penghisap nasofaring. nasotrakeal masukan jalan napas nasal. selama dan setelah nasotrakel masukan jalan napas nasal. Tindakan untuk mencegah penurunan saturasi dan trauma yang berlebihan Gunakan penghisap dengan risiko selama melakukan tindakan penghisapan dimana lapisan mukosa sedikit terkena nasofaringeal. untukmempertahankan terbukanya jalan napas. dan sesudah tindakan. jika Instruksikan pasien untuk mengambil Untuk penggunaan penghisap napas sebelum. tampak adanya ektopik ventrikel dan/atau penurunan saturasi oksigen. Mencegah penghantaran infeksi bacteria kedalam paru yang dapat menimbulkan infeksi. Mengetahui /menemukan Auskultasi pengunaan penghisap penghisapan itu efektif. Tanda-tanda yang mengindikasikan distres pernapasan dan/atau jantung berkaitan dengan kekurangan oksigen. Memantau oksigen sebelum.Intervensi Rasional Tentukan kebutuhan akan Mungkin sangat diperlukan penghisapan oral dan/atau trakea. penggunaan oksigen tambahan sesuai kebutuhan. . hisapan tersebut. Meningkatkan kepatuhan Instruksikan pasien dan/atau keluarga terhadap pentingnya dilakukan penghisapan. selama. Hentikan penghisapan dan berikan suplemen oksigen jika pasien memperlihatkan adanya brakardia. Pilih kateter dengan diameter setengah dari diameter jalan napas.

proses penyakit kronis Definisi : peningkatan resiko dikarenakan mikroorganisme patogenik Kriteria hasil : Mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam intervensi untuk mencegah/mengurangi resiko infeksi Tetap tidak demam dan mencapai pemulihan tepat pada waktunya .4. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder.

Peningkatan suhu terjadi karena berbagi faktor. Menurunkan tekanan dan iritasi pada jaringan dan mencegah kerusakan kulit (sisi potensial untuk perkembangan bakteri). infeksi atau diberikan secara profilaktik pada . Berikan antibiotik sesuai indikasi. Panta suhu. seperti pangunjung dan staf pengunjung. Menurunkan resiko kontamonasi. mengidentifikasi pasien imunosupresi. invasif. misalnya efek samping kemoterapi. pertahankan linen kering dan bebas kerutan. mengalami ISK. Tekankan higiene personal. Membantu potensial sumber infeksi dan/ pertumbuhan sekunder.Intervensi Rasional Tingkatkan prosedur mencuci tangan Lindungi pasien dari smber-sumber yang baik dengan staf dan infeksi. Terjadinya stomatitis meningkatkan risiko terhadap infeksi. Ubah posisi sering. membatasi entri portal terhadap agen Tekankan pentingnya higiene oral infeksius. proses penyakit atau infeksi. Kaji semua sistem tanda/gejala infeksi. Mungkin digunakan untuk Batasi/hindari prosedur Taati tehnik aseptik. baik. Pengenalan diri dan intervensi terhadap segera dapat mencegah progresi pada situasi/sepsis yang lebih serius.

d) Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif. b) Mengakui dan mendiskusikan takut. Definisi : Keadaan di mana individu/ kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom dalam berespons terhadap ancaman yang tidak jelas.5.takut mati. faktor psikologis. . ancaman untuk/perubahan status kesehatan. c) Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani. Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan krisis situasi. Kriteria hasil : a) Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya.

Definisi : Suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalamindefisiensi pengetahuan kognitif atau keterampilanketerampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan. emosi labil. bimbingan imajinasi. Kurang pengetahuan berhubungan dengan terapi radiasi pada dada untuk kanker paru. Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan. Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol. . 6. Rasional Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas. Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi.Intervensi Observasi peningkatan gelisah. Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi. Identifikasi persepsi klien ancaman yang ada oleh situasi terhadap Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu. meditasi. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi. Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi.

Intervensi Rasional Kaji pengetahuan tentang rencana Memberikan informasi untuk pengobatan terapi radiasi dan mengembangkan rencana pengobatan kemungkinan efek sampingnya. untuk merencanakan aktivitas seharilamanya pengobatan. penilaian dan pemahaman yang . mielitis (jangka lama). Kriteria Hasil : Pasien dapat mendiskusikan kemungkinan efek samping dari penanganan radiasi pada dada dan bagaimana mengatasinya jika efek samping ini timbul/terjadi. orientasi realitas. waktu. Definisi : Keadaan di mana individu mengalami suatu gangguan dalam aktivitas mental seperti berpikir sadar. fibrosis pulmonal. berdasarakan kebutuhan pasien. pengobatan dimulai). Perubahan proses Pikir berhubungan dengan Sindrom SSP (susunan saraf pusat) dan/atau peningkatan tekanan intrakranial sekunder terhadap terapi radiasi kranial. rambut rontok.Batasan Karakteristik : Pasien mengeluh kurang pengetahuan dan/atau bertanya tentang pengobatan terapi radiasi yang bakan dijalaninya. Beritahu pasien/kelurga kapan Informasi kebutuhan pasien/keluarga pengobatan akan dimulai. pengobatan tersebut. reaksi kulit pada daerah tersebut radiasi secara fisik pada lapang paru dan (7-10 hari setelah pengobatan). sekresi bronchial yang kental. pneumotitis (1-3 bulan setelah pengobatan). Jelaskan efek samping yang mungkin Berkaitan dengan efek terapi dari terapi radiasi pada dada. 7. perikarditis. tujuan dari hari sekitar pengobatan. disfagia dan esofagitis ( 3 minggu setelah jaringan sekitarnya. pemecahan masalah.

dan sakit otak yang mengalami trauma. status mental Meningkatkan orientasi pasien. kepala. muntah. sindrom SSP yang mengakibatkan perubahan pada status mental. Pantau status neurologis secara terus Radiasi kranial dapat menyebabkan menerus. Intervensi Rasional Kaji tanda dan gejala peningkatan Radiasi cranial dapat menyebabkan tekanan intracranial (TIK) perubahan proses pembengkakan pada jaringna pengelihatan. mual. Batasan Karakteristik : a) Memori hilang b) Tremor c) Somnolen d) Bicara tidak jelas e) Tidak mampu belajar f) Sakit kepala g) Perubahan pengelihatan h) Mual dan muntah Kriteria hasil : Pasien dan/atau keluarga atau orang terdekat mampu mengidentifikasi perubahan status mental yang perlu untuk dilaporkan pada tim tenaga kesehatan. lebih lanjut.berhubungan dengan koping. . Hindari aktivitas yang meningkatkan Mencegah trauma atau kerusakan otak tekanan intracranial. Berikan keyakinan yang optimis tetapi Meningkatkan adaptasi pada perubahan realistis pada keluarga dan pasien.

karena demielinisasi dan degenerasi akson saraf. Intervensi Rasional Pantau terhadap parestesia : kebas. . keseimbangan. Pantau respons pada rangsang taktil. refleks tendon dalam. procarbazine. berjalan.Kaji orientasi dan orientasikan kembali sesuai kebutuhan. kelemahan otot atau atrofi otot. penempatan bagian tubuh tertentu. Definisi : Suatu keadaan di mana seorang individu berisiko mengalami suatu gangguan sirkulasi. terutama agen alkaloid vinka seperti vincristine dan vinblastine dan agen lainnya seperti ciplatin. atau gerakan ekstremitas. Keruskan saraf dari alkaloid vinca dapat menggangu kemampuan penerimaan stimulus taktil. taxol. Batasan karakteristik : a) Pasien mengeluh hilangnya gerakan motorik halus b) nyeri terbakar pada ekstremitas c) baal pada ekstremitas d) gangguan berdiri Kriteria hasil : perubahan persepsi/sensori akan terdeteksi secara dini dan rasa tidak nyaman dan/atau hilang fungsi darinya akan minimal. sensasi. Parastesia dari alkaloid vinca mungkin kesemutan sebelum setiap dosis obat. Risiko Tinggi terhadap Disfungsi Neurovaskuler Perifer berhubungan dengan kerusakan saraf Karena kemoterapi. 8. Kerusakan saraf dari alkaloid vinca mungkin dapat menyebabkan perubahan Kaji fungsi propriosepsi seperti gaya pada fungsi propriosepsi.

9. Batasan Karakteristik : a) Pasien mengeluh terasa terbakar b) Kesemutan c) Nyeri gesekan pada ekstremitas Kriteria Hasil : Nyeri pasien akan menurun Intervensi Rasional Kaji tingkat kenyamanan dan adanya Memberikan informasi penting untuk kesemutan hebat atau sensasi gesekan. hidup sehari-hari yang memerlukan bantuan seorang profesionalisme untuk memaksimalkan fungsi tersebut.Beritahu dokter jika ada perubahan pada Meningkatkan identifikasi dini terhadap status neurologist. . efek samping obat atau agen tertentu yang mungkin mengakibatkan penghentian atau penurunan dosis obat yang diberikan. Definisi : Keadaan di mana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam berespons terhadap suatu rangsangan yang berbahaya. Gangguan sensori dapat mempengaruhi Rujuk dengan tepat pada terapi okupasi kemampuan untuk melakukan aktivitas atau terapi fisik. Meningkatkan kemandirian dengan memaksimalkan fungsi yang ada. Nyeri berhubungan dengan parestesia menyakitkan karena agen kemoterapi. Diskusikan dampak dari perubahan neurologis terhadap aktivitas sehari-hari dan kebutuhan yang mungkin dan/atau terapi fisik.

kualitas dan frekuensi dari sensasi tersebut. . dan lain-lain. Berikan analgesic dengan kerja neurologist seperti amitriptilin HCI (Elavil). mengembangkan rencana perawatan. Agen-agen ini diindikasikan pengobatan nyeri disestetik. Nyeri neuropatik lebih sulit untuk hilang dan menggunakan penggunaan tindakan penghilang nyeri non-tradisional Beritahu pasien/keluarga mengenai dosis. dalam dapat Tawarkan pasien tindakan-tindakan nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri . masase. sperti bimbingan imajinasi. Identifikasi factor-faktor presipitasi seperti texrpajan panas atau dingin dan cara-cara menghindarinya. natrium fenitoin (Dilantin). waktu. nyeri meliputi obat-obatan dan teknik lain yang bermanfaat pada nyeri neuropatik. frekuensi dari obat-obat nyeri yang diresepkan dokter dan bahwa efek dari medikasi itu mungkin tidak segera Meningkatkan penggunaan obat yang benar untuk keuntungan maksimum. relaksasi otot progresif.kram atau rasa terbakar. catat intensitas. Tindakan-tindakan tersebut mungkin bermanfaat dalam menghilangkan nyeri yang resisten pada metode penanganan Instruksikan pasien/keluarga tentang nyeri tradisional seperti obat-obat nyeri tindakan-tindakan untuk menghilangkan non-narkotik dan narkotik. Panas dan/atau dingin meningkatkan rasa nyeri.

10. Resiko terhadap Konstipasi berhubungan dengan Neurotoksistas dari agen kemoterapi alkaloid vinka seperti vinblastine dan viankritisne. Anjurkan makan tinggi serat Degredasi serat dalam kolon membantu dalam membentuk dan pasase feses. Intervensi Kaji pola eliminasi defekasi. Meningkatkan kerja propulsif usus. Batasan Karakteristik : lebih umum dengan vineristine dan/atau vinblastine dosis tinggi (20 mg). pasase. dapat mengarah pada ileus paralitik dengan nyeri abdomen berat. Pantau bising usus dan/atau proses defekasi. Kriteria Hasil : Pasien akan mempunyai pola defekasi teratur. untuk Meningkatkan kandungan cairan lebih Anjurkan masukan cairan per hari 2-3 tinggi pada feses untuk kemudahan liter. mengeluh konstipasi. Mencegah ileus paralitik melalui . Definisi : Keadaan di mana individu berada pada risiko mengalami status usus besar. yang mengakibatkan jarang eliminasi dan/atau feses keras dan kering. Memberikan informasi memformulasikan perencanaan. Anjurkan latihan teratur. Rasional Memberikan informasi dasar.

Batasan Karakteristik : a) Feses cair b) sering defekasi c) desakan defekasi Kriteria Hasil : pasien mengungkapkan pemahamannya tentang strategi koping pada efek samping ini. dan . 11.defekasi regular. Diare berhubungan dengan Perubahan pada membrane mukosa kolon dan usus besar. Rasional informasi mengenai Evaluasi sifat pengobatan mempunyai efek samping gastrointestinal. Mencegah penggunaan obat-obat yang yang dapat menyebabkan diare. Berikan laksatif jika tidak dapat defekasi paling sedikit satu kali sehari. atau feses tidak berbentuk. Intervensi Ambil fese untuk kultur dan sensitivitas Memberikan infeksi. pada Pantau kulit pada daerah perineal Meningkatkan perawatan kulit terhadap kemungkinan iritasi dan mungkin dapat mencegah infeksi ulserasi. Definisi : Keadaan di mana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami defekasi sering dengan feses cair.

Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses Holistik. At a Giance Medicine. Edisi 3. Barbara C.Timbang berat badan secara reguler Memberikan mengenai diet yang adekuat. 1999. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran Sudoyo. Jilid II. Jakarta : EGC . hood. EGC Davey. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah volume I. Jakarta : Erlangga Engram.2001. 1993. 2000. Danielle dkk. 2003. 1996.dkk. Barbara. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 2000. Slamet. Jakarta : EGC Gale. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Surabaya : Airlangga Carpenito.C. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Suyono. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8 : Jakarta. Jakarta : EGC Long. Aru W dkk. 2006. J. informasi DAFTAR PUSTAKA Alsagaaff. Patologi Umum & Sistemik Edisi 2. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Underwood. patrick.E. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. 1998.Lynda Juall. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->