BAB I KONSEP DASAR MEDIS CA MAMAE A.

PENGERTIAN Kanker merupakan buah dari perubahan sel yang mengalami pertumbuhan tidak normal dan tidak terkontrol. Peningkatan jumlah sel tak normal ini umumnya membentuk benjolan yang disebut tumor atau kanker. Tidak semua tumor bersifat kanker. Tumor yang bersifat kanker disebut tumor ganas, sedangkan yang bukan kanker disebut tumor jinak. Tumor jinak biasanya merupakan gumpalan lemak yang terbungkus dalam suatu wadah yang menyerupai kantong, sel tumor jinak tidak menyebar ke bagian lain pada tubuh penderita. ( http;//tategea.blog.friendster.com/2007/12/ca-mamae ) Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. ( Erik T, 2005, hal : 39-40 ) Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari selsel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. ( http//www.pikiranrakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Harianto, dkk ) Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. ( Harianto dkk, 2005 ) Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. ( blogdokter, 2007) Kanker payudara adalah kanker yang relatif sering dijumpai pada wanita merupakan penyebab kematian utama pada wanita berusia antara 45 dan 64 tahun ( Elizaberth J. Corwin, 2000 ) B. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. Faktor presipitasi dan faktor predisposisi a. Faktor presitipasi Belum diketahui b. Faktor predisposisi 1) Riwayat pribadi tentang kanker payudara. Risiko mengalami kanker payudara pada payudara sebelahnya meningkat hampir 1 % setiap tahun. 2) Anak perempuan atau saudara perempuan (hubungan keluarga langsung) dari wanita dengan kanker payudara.

Resikonya meningkat dua kali jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun. Resiko meningkat 4 sampai 6 kali jika kanker pyudara terjadi pada dua orang saudara langsung. 3) Menarke dini. Resiko kanker payudara meningkat pada wanita yang menglami menstruasi sebelum usia 12 tahun. 4) Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama. Wanita yang mempunyai anak pertama setelah usia 30 tahun mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara di banding dengan wanita yang mempunyai anak pertama mereka pada usia sebelum 20 tahun. 5) Menopause pada usia lanjut. Menoupouse setelah usia 50 tahun meningkatkan resiko untuk mengalami kanker payudara. Dalam perbandingan, wanita yang telah mengalami oovorektomy bilateral sebelum usia 35 tahun mempunyai resiko 1/3 nya. 6) Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel ploriferatif mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara, wanita mengalami dengan hyperplasia tipikal mempunyai resiko empat kali lipat untuk mengalami penyakit ini. 7) Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun berisiko hampir dua kali lipat. 8) Obesitas resiko rendah diantara wanita pasca menopause. Bagaimanapun, wanita gemuk yang di diagnose penyakit ini mempunyai angka kematin lebih tinggi yang paling seringberhubungan dengan diagnosis yang lambat. 9) Kontraseptif oral. Wanita yang menggunakan kontraseptif oral beresiko tinggi untuk mengalami kanker payudara. Bagaimanapun resiko tinggi ini menurun dengan cepat setelah penghentian medikasi. 10) Terapi penggantian hormone. Terdapat laporan yang membingungkan tentang risiko kanker payudara pada terapi penggantian hormone. Wanita yang berusia lebih tua yang menggunakan estrogen. 11) Masukan alcohol. Sedikit peningkatan resiko ditemukan pada wanita yang mengkonsumsi alcohol bahkan hanya dengan sekali minum dalam sehari. Resikonya dua kali lipat diantara wanita yang minum alcohol tiga kali sehari. Beberapa temuan riset menunjukan bahwa wanita muda yang minum alcohol lebih rentan untuk mengalami kanker payudara pada tahun-tahun terakhirnya. (Brunner and

Suddarth 2002) C. PATOFISIOLOGI Neoplasma berarti “pertumbuhan baru” adalah massa abnormal dari selsel yang mengalami proliferasi sel-sel neoplasma berasal dari sel-sel yang sebelumnya adalah sel-sel normal, namun selama mengalami perubahanperubahan neoplastik mereka memperoleh derajat otonomi tertentu yaitu sel neoplastik tumbuh dengan kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang sangat tidak bergantung pada pengawasan homeostatis sebagian besar sel tubuh lainnya. Pertumbuhan sel neoplasmatik biasanya progresif yaitu tidak mencapai keseimbangan, tetapi lebih banyak mengakibatkan penambahan massa sel yang mempunyai sifat-sifat yang sama neoplasma tidak melakukan tujuan yang bersifat adaptasi yang menguntungkan hospes tetapi lebih sering membahayakan. Akhirnya oleh karena sifat otonom sel neoplastik, walaupun rangsangan yang menyebabkan neoplasma sudah dihilangkan neoplasma terus tumbuh dengan progresif. Istilah tumor kurang lebih merupakan sinonim dari istilah neoplasma, semula istilah tumor diartikan secara sederhana sebagai pembengkakan/gumpalan dan kadang-kadang istilah “Tumor Sejati” dipakai untuk membedakan neoplasma dengan gumpalan lainnya. Neoplasma dapat dibedakan berdasarkan sifat-sifatnya. Ada yang jinak, adapula yang ganas dan ada banyak tumor atau neoplasma lain yang tidak bersifat kanker ( C.J.H Van de velde dkk. 2000 ) Pemeriksaan Penunjang : 1. Histologi dan sitologi a. Eksisi ataupun giopsi b. Aspirasi jarum halus c. Hapusan sitologi Pentahapan patologi didasarkan pada histology memberikan prognosis yang lebih akurat. Tahap-tahap yang penting diringkaskan berikut ini: 1. Tahap I : terdiri atas tumor yang kurang dari 2 cm, tidak mengenai nodus limfe, dan tidak terdeteksi adanya metastasis. 2. Tahap II : terdiri atas tumor yang lebih besar dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm, dengan nodus limfe tidak terfiksasi negative atau positif, dan tidak terdeteksi adanya metastasis. 3. Tahap III : terdiri atas tumor yang lebih besar dari 5 cm, atau tumor dengan sembarang ukuran yang menginvasi kulit atau dinding, dengan nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular, dan tanpa bukti adanya metastasis.

karsinoma intraduktal. dan Metastasis (Pentahapan TNM) Tahap 0 Tis N0 M0 Tahap I T1 N0 M0 Tahap IIA T0 N1 M0 T1 N1 M0 T2 N0 M0 Tahap IIB T2 N1 M0 T3 N1 M0 Tahap IIIA T0 N2 M0 T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N1 M0 T3 N2 M0 Tahap IIIB T4 Sembarang N M0 Sembarang T N3 M0 Tahap IV Sembarang T Sembarang N M1 Keterangan: Tumor Primer (T) : • T0 : Tidak ada bukti tumor primer • Tis : Karsinoma In Situ. Nodus. Pentahapan Kanker Payudara Berdasarkan Tumor.4. dengan nodus limfe normal atau kankerosa. atau penyakit Paget’s putting susu dengan atau tanpa tumor • T1 : Tumor < 2 cm dalam dimensi terbesarnya • T2 : Tumor > 2 cm tetapi tidak > 5 cm dalam dimensi terbesarnya • T3 : Tumor > 5 cm dalam dimensi terbesarnya . Tahap IV : terdiri atas tumor dalam sembarang ukuran. karsinoma lobular in situ. dan adanya metastasis jauh.

Neroupouse setelah usia 50 tahun Nodus Limfe Regional (N) Riwayat penyakit payudara jinak N0 : Tidak ada metastasis nodus limfe regional • N1 : metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral (S) yang dapat digerakan.Kerusakan DNA Sel normal Menonaktifkan gen supresor kanker Adiopatik Neoplasma ganas apoptosis Pengaruh gen yang Genom MutasiPerubahan struktur dalam mengatur gen yang meningkatkan pertumbuhan sel somatic Karsinogen oksigen Agen perusak DNA Kimia Radiasi Virus Fakto predisposisi Riwayat kanker payudara Keturunan Menarke dini • T4 : Tumor sembarang ukuran dengan Nulipara ukuran perluasan ke dinding dada atau kulit. • N2 : metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral (s) terfiksasi pada satu sama lain atau pada struktur lainnya • N3 : metastasis ke nodus limfe mamaria internal ipsilateral Matastasis Jauh (M) • Tidak ada metastasis yang jauh • M1 : metastasis jauh (termasuk metastasis ke nodus limfe supraklavikular ipsilateral) (Brunner and Suddarth 2002) • PATHWAY .

Merusak organ tubuh mamae .

semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor.H Van de velde. Manifestasi Klinik sembarang ukuran dengan nodus limfe normal atau kankerosa dan adanya metastase jau u tumor dengan sembarang ukuran yang menginvasi kulit atau dinding dengan nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular da Gejala yang ditimbulkan tergantung dari asal tumor primer serta arah penyebaran tumor. b. g. Adanya tulang lekukansumsum tulang ke dalam. Penatalaksanaan 1. Ada dua cara yaitu dengan Pembedahan dan Non Pembedahan. gejala kanker payudara yaitu: a. semua atau sebagian besar jaringan dan luasnya . biasa di kwadran atas bagian dalam. 2000) 3. Nyeri luka oprasi. mual muntah. Seluruh payudara. F. e. Perubahan eliminasi. Pembedahan : 1) Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). tarikan dan refraksi pada areola otak mammae. daerah paru-paru c. h. 3) Mastektomi radikal yang dimodifikasi. b. g. cairan encer padahal ibu tidak sedang hamil / menyusui. Perubahan bising usus (efek anestesi). Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi. Adanya kerusakan dan retraksi pada area putting.com) Manifestasi klinis post oprasi : a. Perubahan bentuk dan besar payudara. darah.dibawah ketiak bentuknya tak beraturan dan jauh Metastase terfiksasi. 2) Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara.J. ( http://ppni-klaten 2009. e.Wagener 2000 papilla mammae. Pengelupasan f. Perubahan tekanan darah.2002 jeruk). Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena). D. antara lain: a. f. Bosman. Anoreksia. Nyeri diHepar massa. (Bruner and suddart. Edema dengan “peant d’ orange (keriput seperti kulit kulit Brunner & Suddarth. Keluar cairan abnormal dari putting susu berupa nanah. Terdapat massautuh kenyal.J. c. pleura C. Kelemahan. d. saraf d.Th. Keterbatasan aktifitas.T.Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV ganas ak mengenai nodus limfe dan tidak terdeteksi adanya metastasis i kurang dari 5 cm dengan nodus limfe tidak terfiksasi negative atau positif dan tidak terdeteksi adanya metastasis Terdiri atas tumor dalam 2.

coferektomiadrenalektomi hipofisektomi. LED. 3) Terapi hormon dan endokrin Kanker yang telah menyebar. Test diagnostik lain : 1) Non invasive : a) Mamografi b) Ro thorak c) USG d) MRI e) PET 2) Invasif : a) Biopsi. Pemeriksaan Penunjang a. androgen. Test fal marker (CEA) dalam serum/plasma. sifat massa dibedakan antar kistik atau padat 3) True cut / Care biopsy Dilakukan dengan perlengkapan stereotactic biopsy mamografi untuk memandu jarum pada massa 4) Incisi biopsy 5) Eksisi biopsy Hasil biopsi dapat digunakan selama 36 jam untuk . metastase kelenjar limfe aksila. otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya. 2) Kemoterapi Adjuvan sistematik setelah mastektomi. antiestrogen. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah.com) 2. paliatif pada penyakit yang lanjut. b) Mastektomi radikal yang diperluas : Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna. ada 2 macam tindakan menggunakan jarum dan 2 macam tindakan pembedahan b) Aspirasi biopsy (FNAB) Dengan aspirasi jarum halus . memakai estrogen. (http://ppni-klaten 2009. pada metastase tulang. Pemeriksaan sitologis b.aksial a) Mastektomi radikal : Seluruh payudara. b. seluruh isi aksial. Non pembedahan : 1) Penyinaran Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut.

mual atau muntah. ancaman kematian.com) D.suplai vaskuler. inflamasi) efek samping berbagai agen terapi saraf. perpisahan dari keluarga. Pasien mampu menunjukan . Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kanker payudara menurut Marlynn E. . g.status hipermetabolik . DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA KANKER 1.kehilangan rambut. (http://ppni-klaten 2009. f.Doenges 2002 adalah : a.anoreksia E.tindakan invasif dan malnutrisi e. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi perubahan pada status kesehatan. c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekutnya masukan oral karena mual. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (destruksi jaringan saraf. suplai vaskuler. d. fungsi peran. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (destruksi jaringan saraf. Pasien mampu istirahat / tidur dengan tepat 3.Kriteria 1.dilakukan pemeriksaan histologik secara froxen section. penurunan berat badan.inflamasi ) efek samping berbagai agen terapi saraf.penurunan status nutrisi dan anemia . Resiko tinggi keruskan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemoterapi. b.Tujuan : kebutuhan rasa nyaman pasien terpenuhi . Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya cairan yang berlebih. infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan. Kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi keterbatasan kognitif. pola interaksi. Pasien merasakan perasaan nyeri hilang / terkontrol 2.efek samping kemoterapi. penularan perasaan interpersonal h. FOKUS INTERVENSI : 1.

2. 7. Menurunkan kekakuan otot/sendi. Bantu pasien untuk latihan rentang gerak dan dorongan ambulasi dini. pijatan punggung / ubah posisi. Mengurangi nyeri. misal : perawatan mulut. hindari posisi duduk lama. Membantu pasien untuk istirahat lebih efektifdan memfokuskan kembali sehingga mengurangi nyeri dan ketidak nyamanan. 3. 8. 7. Tentukan riwayat nyeri. 9. Diduga inflamasi peritoneal. Membantu mengevaluasi derajat karateristik intensitas ( 0-10 ). . Mencegah pengeringa mukosa oral dan ketidak nyamanan menurunkan ketegangan otot. penggunaan tehnik misalnya : napas 8. 4.penggunaan ketrampilan relaksasi. Dorong pasien menyatakan masalah. 6. ambulasi mengembalikan organ-organ ke posisi normal dan meningkatkan kembali fungsi ke tingkat normal. Selidiki dan laporkan adanya kekakuan otot abdominal dan nyeri tekan. 6. ketidaknyamanan dan keefektifan analgetik. dengarkan secara aktif dan beri dukungan.dan meningkatkan kemampuan koping. Berikan tindakan kenyamanan dasar dan aktifitas hiburan. Berikan obat sesuai indikasi (analgetik). Intervensi Rasional 1.meningkatkan relaksasi. 5. 2. Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi keefektifan evaluasi 9. 1. lokasi.meningkatkan kenyamanan. Observasi nyeri.yang memerlukan intervensi medik cepat. 3. Menurunkan ansietas / takut dapat meningkatkan kenyamanan / reseksi. Dorong relaksasi dalam. Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan 4. Berikan tindakan kenyamanan. 5.

Diperlukan untuk mengobati inflamasi/infeksi pra oprasi atau kontaminasi intra oprasi.5 hari ) 6. 2. 2. hindari duduk lama 4.gangguan gram/mol.Duduk lama meningkatkan parineal. Evaluasi penghilang nyeri kembali perhatian. 4. Observasi luka. Ganti balutan kebutuhan. Irigasi luka indikasi. 5. Menurunkan iritasi kulit dan potensi infeksi. Dorong pasien Miring dengan kepala tinggi. Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan.menurunkan sirkulasi ke luka sehingga mengurangi penyembuhan. karakteristik drainase 2.larutan antibiotic.10.Tujuan : Integritas area insisi dapat di pertahankan . 10. 5. Berikan rendam duduk sesuai cairan NaCL 6. gunakan aseptic Rasional 1. . Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit cacat. Meningkatkan kebersihan dan memudahkan penyembuhan khususnya setelah tampon diangkat biasanya (3. Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan insisi bedah atau proses pembedahan . Tujuannya adalah kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS. Meningkatkan drainase dari luka parineal/draine menurunkan resiko pengumpulan.Kriteria : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi Intervensi 1. Perdarahan pasca oprasi paling sering terjadi drainase. sesuai tehnik 3. 3.

Ovservasi kulit dengan sering terhadap efek samping pengobatan 3. masukan es batu periode instubasi Rasional 1. 2. Awasi tanda vital. Ubah posisi dengan sering 7.turgor kulit baik dan pengisian kapiler baik. 4. Kulit sangat sensitive selama pengobatan dan setelahnya. 3. .catat hipotensi postural. Es batu dapat merangsang sekresi lambung dan mencuci elektrolit. Menunjukkan status hidrasi/kemungkinan kebutuhan untuk meningkatkan penggantian cairan.ukur feces cair dan timbang berat badan tiap hari 2.7. . tanda vital stabil dan mampu mengeluarkan urine secara tepat. 9. Memberikan indikasi langsung keseimbangan cairan. Intervensi 1. Batasi selama gaster. Untuk mempertahankan perfusi 4. evaluasi turgor kulit pengisian kapiler dan membrane mukosa 3. Awasi hasil laboratorium( H + dan elektrolit ).Tujuan : kekurangan volume cairan tidak terjadi. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya cairan yang berlebih. Reaksi kulit dapat terjadi pada beberapa agen kemoterapi 8. Awasi masukan dan keluaran. takikardi. dan semua iritsi harus dihindari untuk mencegah cidera dermal. Mendeteksi hemostasis atau ketidak seimbangan dan menmbantu menentukan kebutuhan penggantian. 5. status hipermetabolik . Anjurkan penggunaan pakaian lembut dan longgar 9. Meningkatkan sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit atau jaringan yang tidak perlu 8.Kriteria : pasien mampu mempertahakan hidrasi adekuat di tandai dengan membrane mukosa lembab. .

perhatikan keluhan haus.Tujuan :. 6. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan. Untuk infeksi mencegah terjadinya 2.5. Peningkatan suhu 4-7 hari setelah . Menunjukkan volume sirkulasi keadekuatan 7. evaluasi nadi perife. Dorong peningkatan masukan cairan sampai ml/hari sesuai toleransi 8. Pantau tanda-tanda vital (perhatikan peningkatan suhu ). Intervensi 1. Observasi tanda-tanda infeksi. dan jaringan adekuat/fungsi organ.infeksi tidak terjadi . Indicator tidak langsung dari status dahidrasi atau drajat kekurangan 9. Digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien monosupresi 2. Lakukan perawatan luka. 3. Pantau masukan pengeluaran. 3. Kaji turgor kilitdan kelembaban membrane mukosa. menurunkan pengeluaran renal dan konsentrasi urine menunjukan dehidrasi dan perlunya peningkatan pengganti cairan 7. Rasional 1. Pantau keseimbangan cairan negative terus menerus. 6. bebas dari drinase purulen atau eritema dan demam.Kriteria hasil : mencapai pemulihan luka tepat waktu. tindakan invasif dan malnutrisi . 8. Berikan cairan dan elektrolit. Pantau tanda vital. 9. Membantu dalam memenuhi kebutuhan cairan dan menurunkan resiko efek samping yang membahayakan 4.

pertahankan balutan kering . 6. Melindungi pasien dari sumbersumber infeksi.abses luka atau kebocoran cairan. Pengenalan diri dan intervensi segera. 7. mencuci pembedahan sering menandakan syok septic. pasien mengungkapkan tentang manajemen perawatan di rumah. pasien mampu mengungkapkan tentang perawatan penatalaksanaan terhadap penyakit. Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang 1.4. Taati teknik aseptic saat prosedur infasive. Melindungi pasien dari kontaminasi selama penggantian balutan. 7. Digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien monosupresi 8. Pertahankan perawatan luka aseptic. 4. Tingkatkan prosedur tangan yang baik. Kolaborasi pemberian antibiotik 5. 5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi keterbatasan ognitif. dapat mencegah progresi sepsis yang serius. Mempertahankan lingkungan yang aseptic yang optimal selama penempatan batas sentral disisi tempat tidur. Intervensi Rasional 1. Mungkin digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien imunosupresi 6. . .Tujuan : pasien dan keluarga dapat mengerti tentang perawatan penatalaksanaan di rumah sakit dan manejemen perawatan di rumah. 5. 2.Kriteria : 1. Dengan menjelaskan di harapkan pasien dan keluarga dapat . 8.

Berikan pedoman antisipasi mengenai protocol pengobatan. kesempatan untuk didiagnosa. memberikan informasi yang diperlukan. 2. Meningkatkan kesejahteraan. Mencapai berat . Untuk mencegah komplikasi dan menanganinya sedini mungkin. 5. 7. 4. Membantu penilaian diagnosa. Diskusikan tanda dan gejala apa saja yang harus di laporkan segera kepada petugas.kondisi. . prognosis.Kriteria: 1. penatalaksanaan dan mengerti dan memahami sehingga lebih kooperatif. Menanamkan pemahaman kepada pasien dan keluarga sangat penting di lakukan. Tekankan pentingnya melakukan evaluasi medis 8. Memberikan pemantauan terus menerus tentang kemajuan proses penyakit. 8. Berikan kesempatan bertanya 3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekutnya masukan oral karena mual. 3. 5. dalam cara yang nyata. 7. dan pengobatan tepat waktu terhadap komplikasi 6. Tinjau ulang mengenai pentingnya mempertahankan status nutrisi optimal 9. Motifasi pasien setiap akan melakukan kunjungan tindak lanjut kepada dokter pasca perawatan rumah sakit. 2. memudahkan pemulihan dan memungkinkan pasien mentoleransi pengobatan 9. Pasien mempunyai hak untuk tahu dan berpatisipasi dalam keputusan. Diharapkan pasien dan keluarga menggungkapkan ketidak tahuannya dan semuanya yang ingin diketahuinya. Memberikan pengertian pentingnya perawatan lanjut pasca perawatan rumah sakit 6. Jelaskan penggunaan alat Bantu yang di perlukan. 6. 4. Berikan informasi yang jelas dan adekuat.

Meningkatkan nafsu makan klien 8. badan yang mengarah kepada berat badan yang ideal. 2. motivasi pasien menghabiskan diitnya untuk 6. Stimulasi GI yang dapat meningkatkan motalitas / frekuensi defekasi 5. 4. Libatkan keluarga memberikan makan hangat untuk selagi 8. membantu mengidentifikasi derajat ketidakseimbangan biokimia atau malnutrisi dan mempengaruhi pilihan intervensi diit. Beri makan sedikit dan sering dengan makanan rendah dan mempertahankan kebutuhan protein dan karbohidrat. makanan rendah sisa dapat menurunkan iritabilitas dan memberikan istirahat pada usus bila ada diare. selera nafsu 3. 2. 7. tinjau ulang pemeriksaan laboratorium (alb. Kebanyakan antiemetic bekerja 5. Meningkatkan makan. 2. Menurunkan iritasi gaster. Pastikan diit yang tepat.Intervensi 1.beri makanan sedikit. Observasi makanan favorit pasien yang di indikasikan. 4. 7. Berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makanan atau peningkatan masukan gizi Rasional 1. Hb) sesuai indikasi. 3. pasien mungkin membutuhkan dorongan untuk masukan peroral 6. Makanan banyak sulit untuk mengatur bila pasien mual. Kolaborasi pemberian obatobatan antiemetic sesuai .sedikit tapi sering. Observasi asupan diet.

perpisahan dari keluarga. Dorong pasien mengungkapkan serta konsep diagnose. Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan membuat 4. penularan perasaan interpersonal. Pertahankan kontak sering dengan kepercayaan. takut berkurang / hilang . 2. 6. 5. Informasi akurat memungkinkan pasienmenghadapi situasi lebih efektif dengan realita. Pasien mandiri 1. Jelaskan prosedur. Dorong dan kembangkan interaksi . Memudahkan istirahat. karenenya 5.Tujuan : Pasien menunjukan rasa cemas. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi perubahan pada status kesehatan. dan lingkungan tenang meningkatkan kemampuan koping 7. realitas. kemungkinan dibuktikan oleh : . 7.Kriteria hasil : 1. ancaman kematian. Memberikan kepercayaan dan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri. fungsi peran. pasien. Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam pengobatan Intervensi Rasional 1. berikan menurunkan realita dan rasa kesempatan untuk bertanya dan takut berikan jawaban jujur. mengembangkan 3. Berikan informasi akurat tentang keputusan berdasar realita pengobatan 4. perasaan dan fikiran 2. Pasien tampak rileks 2.indikasi untuk mempengaruhi stimulasi pusat muntah sejati dan kemoreseptor mentriger agen zona yang bertindak secara feriver untuk menghambat peristaltic balik. berikan sentuhan 3. Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut. pola interaksi. Tingkatkan rasa tenangdan menghemat energi.

pasien dengan system pendukung 6. 3. Mengurangi rasa isolasi 7. Bimbingan antistipasi dapat orang terdekat bagaimana membantu pasien / orang tedekat diagnosis dan pengobatan yang memulai proses adaptasi pada status mempengaruhi kehidupan pribdi baru dan menyiapkan untuk beberapa pasien / rumah dan aktifitas efek samping misalnya membeli wig kerja. sebelum radiasi. Memungkinkan interaksi interpersonal lebih baik dan menurunkan ansietas 8. 2.mual atau muntah.penurunan berat badan.anoreksia . Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah. Mulai mengembngkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif. . Diskusikan dengan pasien / 1.kehilangan rambut. Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tubuh.efek samping kemoterapi. Intervensi Rasional 1.Tujuan : gangguan harga diri tidak terjadi .kriteria hasil: 1. jadwal waktu libur kerja sesuai indikasi. Mendemonstrasi kan adaptasi terhadap perubahan atau kejadian yang telah terjadi. penerimaan diri dalam situasi.

Dorong diskusi tentang / apapun perlu untuk mengatasi apa pecahkan masalah tentang efek yang terjadi. 5. kanker / pengobatan pada peran sebagai ibu rumah tangga. Membantu merencanakan perawatan saat di rumah sakit serta setalah pulang. Meskipun beradaptasi/menyesuaikan diri pasien/orang terdekat. 2. 4. Dapat membantu menurunkan masalah yang mempengaruhi penerimaan pengobatan atau merangsang kemajuan penyakit. Akui kesulitan pasien yang mungkin di alami. Berikan dukungan emosi untuk pasien / orang terdekat selama individualitas dan tes diagnostic dan fase 6. termasuk kemungkinan efek pada aktifitas seksual dan rasa keterkaitan atau keinginan misalnya kecacatan bedah.2. Memvalidasi realita perasaan pasien dan memberikan izin. Banyak memerlukan dukungan tambahan selama periode ini. Untuk tindakan 3. Pemastian penerimaan penting dalam pengobatan. 4. orang tua dan sebagainya. Evaluasi strutur pendukung beberapa pasien yang ada dan di gunakan oleh 5. 3. Beritahu pasien bahwa tidak semua efek samping terjadi. 6. menurunkan perasaan pasien tentang . Tinjau ulang efek samping yang di antisipasi berkenaan dengan pengobatan tertentu. dengan efek kanker atau efek samping terapi . Berikan informasi bahwa konseling sering perlu dan penting dalam proses adaptasi.

7. Bila dapat di terima pada pasien dan pertahankan kontak mata. 8. 7. memberikan kontak dengan pasien lain dengan kanker pada berbagai tingkatan pengobatan dan atau pemulihan.ketidakamanan dan keraguan diri. Gunakan Sentuhan selama interaksi. Mungkin perlu untuk memulai dan mempertahankan struktur psikososial 8. kelompok pendukung ( Bila ada ). Kelompok pendukung biasanya sangat6menguntungkan baik untuk pasien maupun orang terdekat. . Rujuk pasien atau orang positif bila system pendukung terdekat pada program pasien / orang tedekat terganggu.

friendster.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. Sardjito.EGC:Jakarta.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 2.Sjamsuhidayat & Jong de.2002.Th.H Van de velde. 2002 Guyton dan Hall.pikiran-rakyat 2005. . D. Bosman. Ann. Jakarta : EGC.Buku Ajar Ilmu Bedah. Buku fisiologi kedokteran.wim.2002.wim. Jo.Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.J. Jakarta : EGC.Sjamsuhidayat & Jong de. 1997 http://ppni-klaten 2009.2004.com R.EGC:Jakarta Brunner and Suddarth.T.blog.Wagener. Jakarta : EGC.//tategea. Yogyakarta 2000 E.com/2007/12/ca-mamae http//www. 2000 C. Edisi 9. penerbit panitia kanker RSUP Dr.J.EGC:Jakarta R. C. F. Keperawatan Medikal Bedah. Marillyn.com http. Rencana asuhan keperawatan. Penulis :Biare Baughman. Doengoes.

2001) Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. dan berkembang komplikasi makrovaskuler dan neurologis. kerja insulin atau kedua-duanya. Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi integritas sel Beta c. Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat. (Brunner and Suddarth. Gangguan sistem imun d. Faktor Prespitasi a. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. PENGERTIAN Diabetes Mellitus merupakan kelainan keterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar gula/glukosa dalam darah atau hiperglikemi. ( mansjoer Arif. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. lemak. yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata. Diabetes Melitus digolongkan sebagai penyakit endokrin atau hormonal karena gambaran adanya gangguan produksi atau penggunaan insulin (Barbara C. ginjal. saraf dan pembuluh darah. 2002 ) Diabetes Mellitus adalah sindromo gangguan metabolisme dengan hiperglikemi yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya (Francis dan John 2000). 2002) Diabetes Mellitus (DM) adalah merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin. 2002) B. Kelainan fungsi atau jumlah sel Beta yang bersifat genetic b. Kelainan aktivitas insulin . (Slamet Soeyono.BAB I KONSEP DASAR MEDIK DIABETES MELITUS A. (Sidartawan dan Soegondo 2002). Long. Diabetes Mellitus (DM) adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal. disertai lesi pada membran basilis.

e. Faktor-faktor harmonal Misal : Thyroid Price. Sylvia Andreson. Patofisiologi konsep klinis proses – proses penyakit edisi 6, 2005. 2. Faktor Predisposisi Faktor resiko tidak hanya fungsi keturunan saja, tetapi ada juga faktor lain seperti : a. b. c. d. Kegemukan Pola makan yang salah Minum obat-obatan yang bisa meningatkan kadar glukosa darah Proses menua dan stres Slaimed Suyono, 2002

C. PATOFISIOLOGI Penyakit DM disebabkan karena gagalnya hormon insulin maka glukosa tidak diubah menjadi glikogen, sehingga kadar gula darah meningkat dan menjadi hiperglikemi. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini. Karena ambang batas ginjal tidak dapat menyaring dan mengobsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Berhubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. Bersama dengan keadaan glukosuria maka jumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria. Keadaan air intraseluler ditarik ke ekstraseluler. Hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien merasa haus terus yang disebut polidipsi. Produksi insulin yang berkurang menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat, lemak, protein menipis karena digunakan untuk pembakaran dalam tubuh, maka pasien akan merasa lapar sehingga menyebabkan banyak ( poliphagi) Terlalu banyak lemak yang dibakar, maka akan menyebabkan terjadinya penumpukan aceton dalam darah yang akan mengakibatkan keasaman darah meningkat / asidosis. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak sehingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernafasan, akibatnya bau urine dan nafas penderita berbau aceton. Keadaan asidosis ini bila tidak segera diobati akan menjadi koma yang disebut koma diabetikum. (Sylvia Anderson Drice.patofisiologis, konsep klinis proses – proses penyakit edisi 6, 2005)

D. MANISFESTASI KLINIS Tanda dan gejala Diabetes Melitus. adalah :

1. Diabetes Mellitus Tipe I (DMTII) adalah a) Sering berkemih merupakan konsekuensi diureasis asmotic akibat dari hiperglikemi yang menetap. b) Enunesis nakturnal akibat poliuria c) Rasa haus/polidipsi d) Gangguan penglihatan e) Berat badan menurun f) Pusing dan lemah akibat hipotensi postural g) Parathesia h) Tingkat kesadaran pasien dapat bervariasi tergantung pada derajat hiperosmolalitas. 2. Diabetes Mellitus Tipe II (DMTTI) adalah Gejala-gejala klasik yaitu poliuria, rasa haus, penglihatan kabur berulang. Parasthesia dan kelemahan merupakan manifestasi dari hiperglikemi dan aneuresis asmotik, dan karenanya lazim dijumpai pada kedua bentuk diabetes. Infeksi kulit kronik yang sering terjadi, pruritus genenalisata.

Klasifikasi Diabetes Melitus Klasifikasi Diabetes Melitus sebagai berikut : 1. DM tipe 1 (IDDM) Insulin dependen Diabetes Mellitus atau disebut dengan DMN (Diabetes Melitus tergantung insulin) - Tergantung pada usia muda - Tergantung insulin eksogen - Peningkatan kadar glukosa darah Dipengaruhi oleh beberapa faktor : - Faktor Genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes tipe I, kecenderungan ini ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leudocyle Antigen) HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggungjawab atas antigen tranplantasi dan proses intun lainnya. - Faktor Imunologi Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun ini merupakan respon abnornol dimana antibody terarah pada jaringan norma) tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan/eksternal yang dapat memicu destruksi sel B pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destruksi sel B pankreas. 2. DM Tipe II (NIDDM) Non insulin Independen Diabetes Melitus atau disebut dengan DMTTI (Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin). 3. Malnutrution Relacted Diabetes Mellitus (MRDM) atau Diabetes Mellitus tergantung makanan (DMTM). 4. DM tipe lain yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu : - Penyakit pankreas - Penyakit Hormonal - Kelainan reseptor insulin 5. DM Gestasional (GDM) Greenspan G.F dan Bexter D. John 1998

Klasifikasi Ulkus Diabetes Mellitus Terdapat 5 Grede ulkus Diabetikum, diantaranya antara lain : a) Grade 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh hanya terdapat calus. b) Grade 1 : Ulkus / kerusakan hanya sampai permukaan kulit. c) Grade 2 : Kerusakan kulit mencapai otot dan kulit / ulkus dalam, sering dengan selulitis tidak ada abses. d) Grade 3 : Ulkus dalam yang melibatkan atau pembentukan abses. e) Grede 4 : Gangren local pada jari kaki atau atau bagian distal kaki dengan atau tanpa seluliris. f) Grade 5 : Gangren pada seluruh kaki dan sebagian tungkai bawah. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tes diagnosis untuk Diabetes Mellitus harus dilakukan bila terdapat gejala DM seperti : poliuri, polidipsi dan poliphagi atau penurunan berat badan. Diagnistik dilakukan berdasarkan : 1. Pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg/dl dengan gejala DM adalah setiap waktu sepanjang hari tanpa puasa > 126 mg/dl 2. Kadar glukosa darah puasa > 126 mg/di puasa adalah tanpa intake cairan /

Kadar glukosa puasa P D < 90 mg/dl 90 – 199 mg/dl 2 > 110 mg/dl jam < 110 mg/dl 110 – 125 mg/dl > 126 mg/dl 110 – 199 mg/dl > 200 mg/dl 90 – 199 mg/dl > 200 mg/dl 3. Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnostik.Kadar glukosa 2 jam PP ( Post prandial ) < 140 mg/dl < 120 mg/dl 2 jam mg/dl >200 F. Kerangka utama penatalaksanaan DM yaitu perencanaan makanan. PENATALAKSANAAN MEDIS Dalam jangka pendek penatalaksaan DM bertujuan untuk menghilangkan keluhan/gejala DM. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri. Kadar glukosa sewaktu < 110 mg/dl P D < 90 mg/dl 2. . Untuk mempermudahkan tercapainya tujuan tersebut. Pemeriksaan Bukan DM Belurt Pasti DM 1. 3. Lipid dan insulin.kalori selama 8 – 10 jam. latihan jasmani obat hipoglikemi dan penyuluhan. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi.

1. jumlah kandungan kolesterol < 300 mg/hari. Pada diet DM harus memperhatikan jumlah kalori. umur. progressive. Pedoman dalam memberikan diet DM yaitu. Latihan dilakuan terus menerus tanpa berhenti otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur. Latihan Jasmani Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu). endurance. Jumlah kandungan serat ± 25 gr/hari.Obesitas : BB x 10-15 kalori / hari 2.Gemuk : BB x 20 kalori / hari . stress akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Komsumsi garam dibatasi bila terdapat hipertensi. pomonaris dapat disesuaikan / digunakan secukupnya. status gizi. selama ± 30 menit. jumlah jadwal dan jenis pelru diperhatikan. . interval.Kurus : BB x 40-60 kalori / hari . yang sifatnya sesuai CRIPE (continous.Normal . Rhytmical. jadwal makan. Menurut Tjokro Prawiro. Menurut Tjokro Prawiro (1999) Pada konsensus perkumpulan endokrinologi indonesia (PERKENI) telah ditetapkan bahwa standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi sebagai berikut : • Karbonhidrat : 60 – 70% • Protein : 10 – 15% • Lemak : 20 – 25% Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan. BB x 30 kalori / hari . training). Diutamakan jenis serat larut.(1999) Penentuan gizi penderita dilakukan dengan menghitung prosentase Relatif Body Weigth dan dibedakan menjadi a) Kurus b) Normal c) Gemuk d) Obesitas : berat badan relatif : <90% : berat badan relatif : 90-110% : berat badan relatif : >110 % : berat badan relatif : >120 % Obesitas ringan 120 – 130 % Obesitas sedang 130 – 140 % Obesitas berat 140 – 200 % Obesitas morbid > 200 % Apabila sudah diketahui relatif body weigthnya maka jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM adalah sebagai berikut : . dan jenis makan yang harus dipantang gula.

. • Yang tidak boleh dilakukan : .Gunakan sepatu atau sandal yang ukuran sesuai. . .Memakai alas kaki untuk pelindung alas kaki. Dengan berbagai macam usaha tersebut.Berikan pelembab pada daerah yang kering. yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat optimal dan penyesuaian keadaan psikologik serta kualitas hidup yang lebih baik. Sebagai contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30 menit. • Yang dilakukan dalam pengelolaan kaki diabetic adalah : . .Bila ada luka kecil.Jangan merendam kaki .Periksa kaki setiap hari. Penyuluhan Penyuluhan untuk rencana pengelolaan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. 3. . olahraga sedang adalah jalan cepat selama 20 menit dan olahraga berat misalnya joging. . diharapkan sasaran pengendalian diabetes melitus seperti yang dianjurkan oleh pakar diabetes di Indonesia dapat dicapai. Disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta.Janggan menggunakan botol panas atau peralatan listrik untuk pemanasan kaki.Jangan memakai sepatu yang sempit. . berangsur-angsur dari sedikit kelatihan yang lebih berat secara bertahap dan bertahan dalam waktu tertentu.Gunting kuku kaki lurus mengikuti bentuk normal jari kaki. .Bersihkan kaki setiap hari waktu mandi dengan air bersih dan sabun mandi. Edukasi diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan bagi pasien diabetes yang bertujuan menunjang perilaku untuk meningkatkan pertahaanan pasien akan penyakitnya. .Selang-seling antara gerak cepat dan lambat.Jangan membiarkan luka kecil di kaki sekecil apapun luka tersebut.Jangan mengunakan silet untuk mengurangi kapalan/kalus.Segera kedokter bila kaki mengalami luka. . sehingga pada gilirannya nanti komplikasi kronik Diabetes Melitus juga dapat dicegah dan pasien Diabetes Melitus dapat hidup bahagia bersama diabetes yang dialaminya. obati luka dan tutup dengan pembalut bersih. gunakan cermin untuk melihat bagian bawah kaki. .

- .4. 2002. Indikasi pengobatan dengan insulin : 1) Ketoasidosis diabetic/koma hiperosmolor non betotik 2) Diabetes dengan berat badan kurang 3) Diabetes yang mengalami stress (infeksi. Pengobatan dengan insulin Insulin diberikan tiga kali sehari 15 – 30 menit sebelum makan. OAD (Obat Anti Diabetika) Tabel OAD mempunyai khasiat untuk menurunkan kadar gula dalam darah. 4) Diabetes hamil 5) Diabetes tipe 1 6) Kegagalan pemakaian obat hiperglikemi oral. Ada 3 jenis aturan insulin yang penting menurut cara kerjanya : Insulin masa kerja cepat (reguler insulin) 2 – 4 jam Insulin masa kerja sedang (NHP : Netral Protamin Hegedan) 6 – 12 jam .5 – 40 mg/hari  Glikuldan 30 – 120 mg/hari 2) Biqquanid Beberapa golongan biovanid adalah metformen. time disintegration buformin b. FKUI.Meningkatkan sel-sel insulin sebagai akibat rangsangan glukosa Contoh obat golongan sulfanilurea adalah :  Klorpropamid 100 – 500 mg/hari  Talbutamid 100 – 1000 mg/hari  Glibenklamid 2. phenformin.Menstimulasi pelepasan insulin yang diterima (steroid insulin) .5 – 20 mg/hari  Glipizid 2. operasional dan lainlain). Pusat Diabetes dan RSUP Nasional Dr. Obat-obatan Pengobatan yang dapat dilakukan menurut Moerdowo (1989) adalah : a.Insulin masa kerja panjang (PZI : Protamin Zine Insulin) 18 – 24 jam.Menurut ambang sekresi insulin . OAD dibagi menjadi 2 golongan : 1) Sulfonilirea Mekanisme kerja obat golongan sulfonilirea : . Cipto Mangun Kusumo.

otak. impark miokard.G.Syaraf Neuropati Diabetik Komplikasi jangka panjang diabetetikum : Organ/jaringan yg terkena Yg terjadi Komplikasi Sirkulasi yg jelek menyebabkan penyembuhan luka yg jelek & bisa menyebabkan penyakit jantung. Akut . Dinding pembuluh darah kecil mengalami kerusakan sehingga pembuluh tidak dapat mentransfer oksigen secara normal & mengalami kebocoran Mata Terjadi kerusakan pada pembuluh darah kecil retina Gangguan penglihatan & pada akhirnya bisa terjadi kebutaan Fungsi ginjal yg buruk Ginjal  Penebalan pembuluh darah ginjal  Protein bocor ke dalam Gagal ginjal . Katarak . yaitu : a.Ketoasidosit Diabetik b. KOMPLIKASI Komlikasi Diabetes Melitus menurut Soeparno dapat dikelompokkan menjadi dua. stroke.Hipoglikemi . tungkai & penis. gangren kaki & tangan. insifisiensi koroner .Hiperglikrmi .Mata Refinopati Diabetik. impoten & infeksi Pembuluh darah Plak aterosklerotik terbentuk & menyumbat arteri berukuran besar atau sedang di jantung. Kronik Disebabkan oleh perubahan dinding pembuluh darah sehingga terjadi anteriosklerosis yang khas yaitu : .Karidiovaskuler Hipertensi.

stress. terkena infeksi Kerusakan saraf Darah . hipermetobolisme. infeksi dalam kulit & hilangnya rasa yg (ulkus diabetikum) menyebabkan cedera  Penyembuhan berulang luka yg jelek Gangguan fungsi sel darah putih Mudah infeksi. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa. kesemutan & nyeri di tangan & kaki  menahun Sistem saraf otonom Kerusakan pada saraf yg Tekanan darah yg naik-turun mengendalikan tekanan darah  Kesulitan menelan & saluran pencernaan & perubahan fungsi pencernaan disertai serangan diare Kulit Berkurangnya aliran darah ke  Luka. makan muntah. masukan dibatasi. 3. penurunan mukosa oral. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik (dan hiperglikemi ) kehilangan genetik berlebihan diare. pelepasan hormon.air kemih  Darah tidak disaring secara normal Saraf Kerusakan saraf karena  Kelemahan tungkai yg glukosa tidak dimetabolisir terjadi secara tiba-tiba atau secara normal & karena secara perlahan aliran darah berkurang  Berkurangnya rasa. mual. Doengoes (2000) . 1. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan pasien Diabetes Melitus menurut Marylin E. muntah. 2. terutama saluran kemih & kulit H.

Monitor tanda-tanda vital Rasional : . Kurang pengetahuan mengenai panyakit. peningkatan kebutuhan energy : status hipermetabolic atau infeksi. perceptual berhubungan dengan perubahan kimia endogen. kehilangan gastric berlebihan (mual.Lakukan pemasangan kateter Rasional : . .Hipovilerna mungkin dapat dimanifestasikan dengan Hipotensi dan Lakikardi 3) Intervensi : . nadi tidak teratur. Resiko tinggi terhadap perubahan sensori.Pertahankan pemasukan cairan paling sedikit 2500 ml/hr Rasional : . ketdakseimbangan glukosa/insulin/olektrolit. Kelelahan berhubungan penurunan produksi energi atau metabolic perubahan kimia darah : insufisiensi insulin. mengetahui keseimbangan cairan dan membantu keefektifan terapi. progrosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman.Monitor intake dan output Rasional : . kesalahan interprestasi. FOKUS INTERVENSI Menurut Marlyn E. 1. 5.penurunan fungsi leukosit prosedur invasif. 7. peningkatan berat badan.Mengetahui volume cairan yang hilang sehingga memudahkan dalam tindakan perawatan selanjutnya.Mempertahankan hidrasi atau dikulasi volume 6) Intervensi : . 4. muntah).Pertahankan adanya perasaan kelelahan yang meningkat Edema. kompleksitas sistem perawatan. Rasional sangat : . efek samping terapi. 5) Intervensi : . Kekurangan volume cairan berhubungan diuresis aumotik. 2) Intervensi : .Pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat berpotensi menimbulkan kelebihan beban cairan. Resiko terhadap infektif penatalaksanaan regimen terapetik (individual) berhubungan dengan kompleksitas aturan teropetik. poliun & diare Rasional : . 1) Intervensi : .Menilai volume cairan yang hilang sehingga memudah kan tindakan selanjutnya. 6.Menilai kekuatan cairan pengganti. I.Kaji lama & intensitas terjadinya muntah. tidak mengenal sumber informasi. 4) Intervensi : . Doengoes 2000.

Hiperglikemia. BUN.Auskultasi peristatik usus.Hipovilerna mungkin dapat dimanifestasikan dengan Hipotensi dan lakikardi 3) Intervensi : . diare.Pantau pemeriksaan laboratorium (HT.7) Intervensi : . plasma dan dextrain. catat adanya keluhan nyeri perut. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan defisiensi insulin.Kolaborasi dalam pemberian albumin.Mengkaji kedekatan pemasukan nutrisi 2) Intervensi : . status metabolik – intake yang tidak adekuat ditandai dengan kelemahan.Hipoglikerri dapat terjadi sehingga dalam keadaan darurat dapat dilakukan tindakan perawatan cepat sesuai keefektifan prosedur. 2. peningkatan berat badan. mual.Berikan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Pemberian makanan peroral lebih baik dan meningkatkan nafsu makan pasien.Mengkaji tingkat hidrasi 8) Intervensi : .Timbang BB tiap hari Rasional : . gangguan cairan dan elektrolit dapat menurunkan peristaltik lambung. Natrium.Observasi tanda-tanda hipaglikeni Rasional : . muntah Rasional : . . Observasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat. Kalium. nadi tidak teratur. Rasional : .Mengidentifikasi kekuatan dan penyimpangan dari kebutuhan terapetik Rasional : . Rasional kekurangan : Plasma pengganti kadang dibutuhkan jika mengancam hidup. 1) Intervensi : . edema. 4) Intervensi : . Penurunan kekuatan otot. 5) Intervensi : .

Lakukan perawatan kateter nyeri perut. 3) Intervensi : .Memberikan pemenuhan kebutuhan nutrisi secara tepat.Pengobatan awal dapat mencegah kerjanya sepsis 6) Intervensi : . mual. 1) Intervensi : .6) Intervensi : . 2) Intervensi : .Meminimalkan resiko terjadi infeksi 4) Intervensi : . Rasional : .Observasi tanda-tanda infeksi seperti demam.Pelihara teknik aseptik dalam prosedur pemberian pengobatan secara IV Rasional merupakan : Keadaan glukosa yang tinggi dalam darah medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri.Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian RI Rasional : .d kadar glukosa yang tinggi. 3. Rasional ketosi : Infeksi merupakan faktor presipitasi terjadinya dosis lebih lanjut. penurunan fungsi leukosit perubahan sirkulasi prosedur invasife. Potensial resiko infeksi b. muntah Rasional : . urine keruh. pelihara agar kulit selalu kering Rasional mengurangi : Memperlancar sirkulasi sehingga dapat terjadinya inlasi dan infeksi kulit.Berikan diet dan intake cairan yang adekuat Rasional : Mengurangi terjadinya infeksi meningkatkan kelancaran . 5) Intervensi : .Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian nutrisi Rasional : .Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik secara tepat. sputum purulent warna merah.Membantu keefektifan insulin 7) Intervensi : .Lakukan perawatan kulit secara teratur.

Orientasi terhadap orang. Kelelahan. mengurangi pertumbuhan bakteri.Monitor adanya hyperesthesia. 2) Intervensi : . waktu dan tempat Rasional : .Monitor pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah. nyeri dan penurunan sensori.Beri alternatif aktivitas dengan adanya periode istirahat. HD/HMT. 4.Lindungi pasien dari bahaya kecelakaan ketika kesadaran menurun.Mengurangi kebingungan pasien dan membantu mempertahankan kontak dengan realita.Pasien yang disorientasi mudah sekali terjadi kecelakaan khususnya pada malam hari.Diskusikan dengan pasien aktivitas yang dibutuhkan dan daftar rencananya dan identifikasi aktivitas yang melelahkan. serum asmolatitas. Rasional : . peningkatan kebutuhan energi : status hipermetabolik atau infeksi. perceptual b.Mencegah kelelahan yang berlebihan. 2) Intervensi : .d perubahan kimia endogen. 1) Intervensi : .Monitor tanda-tanda vital dan status mental Rasional : . Rasional : . 4) Intervensi : . Resiko tinggi terhadap perubahan sensori. ketidakseimbangan glukosa (insulin/elektrolit). Rasional : .Ketidakseimbangan cairan dapat mempengaruhi perubahan kesadaran 5.Status dasar perbandingan tingkat abnormal. 3) Intervensi : . berhubungan dengan penurunan produksi energy atau metabolic perubahan kimia darah : insufisiensi. BUN. Rasional : . . 1) Intervensi : . Rasional : .aliran darah.Meningkatkan motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.Mengetahui adanya perubahan persepsi sensori 5) Intervensi : .

pengontrolan diabetik dan mengurangi resiko ketoasio dosis. . 6. waktu cara pemberian efek yang ditimbulkan. dosis.Kaji tingkat pengetahuan pasien.Diskusikan dengan pasien aktivitas yang dapat mengurangi energi. Rasional : .3) Intervensi : .Meningkatkan pemeliharaan. Kurang pengetahuan b.Tingkatkan partisipasi pasien dalam ADL sesuai dengan iderasi. Rasional : . 1) Intervensi : . 3) Intervensi : .Jelaskan tentang nama obat.Identifikasi tanda-tanda hipoglikeni dan terangkan penyebabnya. 4) Intervensi : . 5) Intervensi : .d kurangnya informasi mengenai penyakit. 5) Intervensi : . mengobati dan perawatannya ditandai dengan secara verbal pasien menanyakan tentang penyakitnya.Pasien akan lebih banyak menyelesaikan aktivitas yang lebih kecil. Rasional : .Jelaskan pentingnya melakukan pengentasan glukosa secara teratur.Memudahkan deteksi awal dan pasien mengetahui tentang perawatan serta pencegahan yang diperlukan.Mengikatkan kemandirian pasien secara bertahap . Rasional : .Diskusikan hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara pengontrolan diabetik. Rasional : . perawatannya serta kemungkinan komplikasi yang diderita pasien.Kualitas penjelasan dapat disesuaikan dengan tingkat pendidikan pasien sehingga mudah dimengerti pasien 2) Intervensi : .Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas Rasional : . Rasional : .Membantu memberikan gambaran keadaan pasien untuk dapat mengontrol penyakitnya.Mengidentifikasikan tingkat toleransi fisik pasien 4) Intervensi : .

2) Intervensi : .Memudahkan dalam strategi pelaksanaan tindakan keperawatan. kompleksitas sistem perawatan. 5) Intervensi : . efek sampai terapi.Pasien mengerti dan melibatkan diri dalam tindakan perawatan dan pengobatan. 4) Intervensi : . 3) Intervensi : . Rasional : .d kompeksitas aturan teropeutik. Resiko terhadap infeksi penatalaksanaan ruginan teropitik (individu) b.Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar Rasional : . 1) Intervensi : . 7.Tingkatkan rasa percaya diri dan kemajuan diri yang positif Rasional pelaksanaan : Meningkatkan semangat dan motivasi dalam aturan perawatan.Meningkatkan harga diri mendorong pasien berpartisipasi dalam program perawatan selanjutnya.Tingkatkan sikap positif dan keikutsertaan secara aktif individu dan keluarga.Bangun rasa percaya dan kekuatan.Memudahkan deteksi awal dan menjadikan landasan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan.Meningkatkan semangat dan motivasi dalam pelaksanaan aturan perawatan. Rasional : . . Rasional : .Rasional : .Identifikasi faktor-faktor penyebab atau penunjang yang menghalangi penatalaksanaan yang efektif.

1998. Pusat Diabetes dan RSUP Nasional Dr. Susan Martin. Jakarta : ESC . Cipto Mangun Kusumo.F dan Dokter D. 2002. FKUI. 2001. Groespan. Doengoes. Jilid 2 FKUI: Jakarta. Bandung: 1998. Cl. Toronto : The Mosby Cistpany. Patient Care Standarte Nursing Process Diagnostic and Outcott. “Nursing Care Plans Guide Lens For Planning and Documentating Patient Care Edition” Philadelpia. Perawtaan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.DAFTAR PUSTAKA Price A Sylvia. Buku Kedokteran Jakarta : EGC 2001. 2000. S. Barbara. Patofisiologi Konsep Klinis Proses dan Proses Penyakit. 2005. F. . Bruner dan Suddart. Ilmu Penyakit Dalam. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. Soeparman. John “Endokrinologi Dasar dan Klinik” edisi 4. 2. Jakarta : EGC 2002. Tucker.A. Marylin E. Davis Company.

2mg/dL. 2001). hasilnya dibagi dengan perkalian 72 (faktor baku 2) dengan kadar kreatinin (mg /dl). Ginjal akan membuang kreatinin dari darah ke urin. M. (DR. Kadar kreatinin normal dalam plasma darah adalah 0. belum terasa gejala yang mengganggu. Ginjal berfungsi diatas 90%. C_crea normal untuk pria adalah 95-145 ml/menit dan wanita 75-145 ml/menit. berupa dialysis atau transplantasi ginjal (Ketut Suwitro. gangguan fungsi ginjal dapat dikelompokkan menjadi lima stadium menurut tingkat keparahannya. Nilai GRF 60-89 ml/menit/1. 2006). kadar kreatinin di dalam darah meningkat. Kreatinin adalah hasil metabolisme sel otot yang terdapat di dalam darah setelah melakukan kegiatan. PENGERTIAN Gagal ginjal kronis (chronic renal failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialysis atau transplantasi ginjal. Stadium 1: Kerusakan ginjal dengan nilai GFR normal. Kemampuan ginjal membuang cairan berlebih sebagai urin (creatinine clereance rate) dihitung dari jumlah urin yang dikeluarkan tubuh dalam satuan waktu. Stadium 2: Kerusakan ginjal ringan dengan penurunan nilai GFR. yaitu: 1. yaitu: C_crea = {[(140-umur)xBB]/(72xK_crea)}xFK Clereance rate (ml/menit) sama dengan 140 (faktor baku 1) dikurangi umur (tahun). Kemampuan fungsi ginjal tersebut dihitung dari kadar kreatinin dan kadar nitrogen urea di dalam darah. Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan ireversibel (Arif Mansjoer. dengan mengumpulkan jumlah urin tersebut selama 24 jam. 2. Kemampuan ginjal menyaring darah dinilai dengan penghitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG).BAB I KONSEP DASAR MEDIK A.6-1.73 m2. LFG dihitung dari jumlah kadar kreatinin yang menunjukkan kemampuan fungsi ginjal menyaring darah dalam satuan ml/menit/1. Ginjal berfungsi 60-89%. Nurs.85.73 m2 . Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap. yang disebut C_crea (creatinine clearance).73m2. 2006). Dengan rumus CockroftGault dapat diperkirakan berapa C_crea dari kadar creatinin yang didapatkan. Nursalam. dikalikan berat badan (kg). Faktor koreksi gender untuk pria = 1. Bila fungsi ginjal menurun.0 dan wanita = 0. kemudian hasilnya itu dikalikan dengan faktor koreksi (FK) gender. Nilai GFR di atas 90 ml/menit/1.

e. Nilai GRF kurang dari 15 ml/menit/1. Lesi ginjal yang sering dijumpai adalah nefrosklerosis akibat lesi pada arteria pielonefritis dan nekrosis pada ginjal dan glumerulosis sklerosis. Glomerulonefritis Glomerulonefritis kronik ditandai kerusakan glomerulus yang progresif lambat akibat glomerulonefritis yang sudah berlangsung lama. Presipitasi a. 2005). PROSES TERJADINYA MASALAH (Menurut Sylvia A. perubahanperubahan ini disebabkan karena berkurangnya jumlah nefron karena iskemia. sudah tingkat membahayakan Ginjal berfungsi 15-29%. Poliarteritis Nadusa Poliarteritis Nadusa merupakan penyakit radang reterosis yang mencakup arteri-arteri ukuran sedang dan kecil diseluruh tubuh sehingga akan mengganggu perfusi atau aliran darah ke ginjal.73 m2 4. Stadium 5: Kerusakan parah. Nilai GRF 30-59 ml/menit/1. masih bisa dipertahankan. Stadium 3: Kerusakan sedang. Fungsi ginjal kurang dari 15%. Price Lorreine M.73 m2. d. Hipertensi Hipertensi dan gagal ginjal kronik saling berkaitan erat. Edisi 6. harus cuci ginjal. Pada glomerulonefritis kronis maka ginjal akan tampak mengisut beratnya kurang lebih 50 gram dan permukaannya berbentuk granula. Nilai GRF 15-29 ml/menit/1. c. Hipertensi merupakan penyakit primer dan menyebabkan keruskaan pada ginjal dan sebaliknya penyakit gagal ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi neutserpenar pada hipertensi melalui mekanisme retensi natrium dan air. obat-obatan dan bahanbahan kimia karena alas sebagai berikut: Gagal menerima 25% dari curah jantung sehingga sering dan mudah kontak dengan zat kimia dalam jumlah besar. Glumerulosklerosis dikenal juga dengan nama lesi kemadie suatu ciri khas diabetes. 1.73 m2 5. Ginjal berfungsi 30-59%. B. . Waktu rata-rata diabetes sampai timbul uremia adalah 20 tahun.3. Wilson Potofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus yang mulai sejak kanak-kanak 50% diantarannya berkembang menjadi gagal ginjal kronik. b. Stadium 4: Kerusakan berat. Nefropati Toksik Ginjal sangat mudah terserang efek-efek toksis. Interatisis yang hiperosmatik memungkinkan zat kimia dalam jumlah besar dan konsentrasi pada daerah yang relatif hipovasculer.

Obstruksi ini bila ditemukan harus sedapat mungkin diperbaiki dengan segera. . 2006) Perjalanan umum gagal ginjal kronik dapat dibagi 3 stadium yaitu: a) Stadium Penurunan Cadangan Ginjal Selama stadium ini kreatinin serum dan kadar BUN normal.Ginjal merupakan ekterosi obligatorik untuk kebanyakan obat sehingga insufisiensi ginjal mengakibatkan penimbunan-penimbunan obat dan meningkatkan konsentrasi dalam cairan tubulus. Pada stadium akhir gagal ginjal. seperti tes pemekatan urine yang lama atau dengan mengadakan tes GFR yang teliti. Meskipun perjalanan klinik gagal ginjal kronik dibagi menjadi 3 stadium tetapi dalam prakteknya tidak ada batas-batas yang jelas antara stadiumstadium tersebut. lemah. 3. Patofisiologi Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV Ketut Suwitro. pasien asimtomatik gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan membebani kerja yang berat pada ginjal tersebut. Manifestasi klinis yang nampak adalah lelah. Biasanya infeksi memperburuk faal ginjal bila disertai obstruksi sehingga perbaikannyapun harus terpadu. mual dan pruritus. Infeksi Traktus Urinarius Infeksi Traktus Urinarius jarang memperburuk GGK. Obstruksi Traktus Urinarius Obstruksi Traktus Urinarius dapat terjadi pada daerah intra renal sampai uretra. Pada stadium ini kadar kreatinin serum juga mulai meningkat diatas melebihi normal. Pada keadaan ini kadar BUN baru meningkat diatas batas normal. c) Stadium Gagal Ginjal atau Stadium Uremia Nilai GFR hanya 10% dari keadaan normal dan kliren kreatinin mungkin 510 ml/menit atau kurang. Pasien mulai merasakan gejala-gejala yang cukup parah karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis cairan dan elektrolit dalam tubuh. Faktor Predisposisi a. 2. b. b) Stadium Insufisiensi Ginjal Pada stadium ini lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak. kecuali infeksi yang sangat berat. sakit kepala. Pasien juga mungkin mengalami nokturia dan paliun yang disebabkan oleh penurunan kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasikan urine. pasien akan meninggal kecuali kalau ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialysis. Pada keadaan ini kreatinen serum dan kadar BUN akan meningkat dengan mencolok sekali sebagai respon terhadap GFR yang mengalami sedikit penurunan pada stadium akhir gagal ginjal.

c. Gastrointestinal 1) Anoreksia. Hipertropi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak. 5) Pitting Edema (kaki. 2) Gagal jantung kongestif. a. 2) Mulut bau ammonia disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur. Pulmoner 1) Napas dangkal. Karena pada gagal ginjal kronis setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh kondisi uremia. muntah. akibat diuresis osmatik disertai poliuri dan hous. 4) Napas berbau ammonia. b. nausea dan vomitus yang berhubungan dengan gangguan metabolisme protein dalam usus. Kardiovascular 1) Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem renin – angiotensin – aldosteron). 3) Gastritis . 4. 2) Pernapasan Kusmaul d. Gangguan pada sistem gastrointestional 1) Anoreksia. oliguri dapat timbul disertai retensi produksi sisa. Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal. kondisi lain yang mendasari dan usia pasien. maka pasien akan memperlihatkan sejumlah tanda dan gejala. 3) Konstipasi dan diare. tangan). 2) Kelemahan pada tungkai b) Menurut Suhardjono (2001). Neurologi 1) Kelemahan dan keletihan. manifestasi klinik yang muncul pada pasien dengan gagal ginjal kronik yaitu : a. 3) Edema pulmoner (akibat cairan berlebih dalam alveolus). Manifestasi klinis a) Menurut Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddarth Edisi 8 Vol. 2) Mual. 4) Perikarditis (akibat iritasi pada lapisan pericardial oleh toksin uremik).Patofisiologi penyakit gagal kronik secara umum adalah: Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal ini untuk berfungsi sampai ¾ dari refron-refron yang bisa direabsorbsi. Nefron-nefron yang utuh.

015 (menetap pada 1. kecoklatan menunjukkan adanya darah. Kulit 1) Kulit berwarna pucat akibat anemia. 3) Bekas-bekas garukan karena gatal. lemah. Sistem Hematologi 1) Anemia 2) Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia. fosfat atau urat.b. Sistem saraf dan otot 1) Pasien merasa pegal pada kakinya. Kurang dari 1. 2001. Sedimen Berat Jenis : : Kotor. Pemeriksaan Penunjang Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. protenuria. menentukan ada dan tidaknya kegaulan. Sistem endokrin 1) Gangguan seksual 2) Gangguan metabolisme glukosa. c. tidak bisa tidur. 5. 2) Ekimosis akibat gangguan hematologis. gangguan konsentrasi 4) Kelemahan dan hipertrofi otot-otot terutama otot-otot ekstremitas proksimal. e. bakteri. d. Gatal akibat toksin uremik. sehingga selalu digerakkan. Kardiovasculer 1) Hipertensi 2) Akibat penimbunan cairan dan garam 3) Nyeri dada dan sesak nafas 4) Edema akibat penimbunan cairan f. 2) Rasa semutan 3) Lemah. Dalam menetapkan ada dan tidaknya gagal ginjal tidak semua faal ginjal perlu diuji untuk keperluan praktis yang lazim diuji adalah laju filtrasi glomerulus. menetapkan gangguan sistem dan membantu menetapkan etiologi. Warna : Urine keruh disebabkan oleh Pus.010 . menentukan derajat GGK. resistensi insulin 3) Gangguan metabolisme lemak 4) Gangguan metabolisme vitamin D. 1) Urine Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguri) atau urine tidak ada. a) Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menetapkan adanya GGK.

juga untuk menilai apakah proses sudah lanjut (ginjal yang imut) USG ini sering dipakai oleh karena non inuasif (tak memerlukan persiapan apapun). ureter proximal kandung kemih serta prostate. Penurunan pemasukan atau penurunan sintesis karena kurang asam amino. Natrium Protein : : Lebih besar dari 40 mtg/L karena ginjal tidak mampu mereeabsorbsi natrium. sistem perviakalises. hipokalsemia). aritmia dan gangguan elektrolit (Hiperkalemic. anatomi. d) Foto Polos Abdomen Sebaiknya tanpa puasa karena dehidrasi akan memperburuk fungsi ginjal. menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau obstruksi lain foto polos yang disertai homogram memberi keterangan yang lebih baik. tebal konteks ginjal kepadatan pareklim ginjal. . perpindahan cairan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari adanya faktor yang reversible seperti obstruksi oleh karena batu atau massa tunas. : Meningkat dalam proporsi 2) Darah BUN Hitung darah lengkap : Hb menurun pada adanya anemia SDM (sel darah merah) : waktu hidup menurun pada defisiensi entropoetin pH menurun asidosis metabolic terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengekspresi hydrogen dan ammonia atau hasil akhir katabolisme protein bicar bonate menurun PCO2 menurun. c) Ultrasonografi (USG) Menilai besar dan bentuk ginjal. Kalsium serum : Peningkatan sehubungan retensi sesuai dengan perpintahan seluler (asidosis). Gula darah: Meningkat karena adanya gangguan metabolisme karbohidrat dapat terjadi pada penyakit GGK. b) Pemeriksaan EKG Untuk melihat kemungkinan hipertropiventrikel ke tanda-tanda perikardites (misalnya voltase rendah). Kalium: menurun Protein (khususnya albumin): Kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine.menunjukkan kerusakan ginjal berat). Derajat tinggi (3-4) secara kuat menunjukkan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada.

6. Dengan alat tertentu tekanan darah dapat diturunkan tanpa mengurangi gagal ginjal. f) Pemeriksaan Pielograi Retroged Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang neversibel.e) Pielografi Intra Vena (PIV) Pada GGK lanjut tak bermanfaat lagi oleh karena ginjal tak dapat mengeluarkan kontras dan pada GGK ringan mempunyai resiko penurunan faal ginjal lebih berat. Pemberian Na bicarbonat IV. missal: Beta bloker dan vasadilator. selain itu telah dibuktikan pula bahwa diet tinggi protein akan mempercepat timbulnya glomerulaskterosis sebagai akibat meningkatnya beban kerja glomerulus (hiperfiltrasi glomerulus). Natrium bicarbonat dapat diberikan oral atau parenterel Hemodialisis dan dialysis peritoneal juga dapat mengatasi asidosis. h) Pemeriksaan Radiologi Tulang Mencari osteodistrofi (terutama tulang/jari) dan klasifikasi metastatik. Penatalaksanaan Menurut Buku Ajaran Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi IV Ketut Suwitno. Infuse glukosa hipertonis dengan insulin. kadiomegali dan efusi perikordid. Usaha yang ditujukan untuk mengurangi gejala mencegah perburukan faal ginjal terdiri atas: a) Pengaturan Minum Pemberian yang berlebihan dapat mengakibatkan penumpukan didalam badan dan membahayakan karena menimbulkan hipovolemia yang sulit diatasi. Diet rendah protein . c) Pengendalian Kalium Darah Bila hiperglikemia sudah ada maka pengobatan adalah mengurangi sedapatnya intake kalium. terutama pada usia lanjut. b) Pengendalian hipertensi. Dalam percobaan telah dibuktikan bahwa ureum darah dapat dimetabolisme bila diberi asam amoniak essential. 2006). Diabetes Mellitus dan nesopati asam urat saat ini sudah jarang dilakukan pada GGK dapat dilakukan dengan cara intravenous infusion pielografi untuk menilai sistem pelviakalises dan ureter. g) Pemeriksaan Foto Dada Dapat terlihat tanda-tanda benalungan paru akibat kelebihan air (flore over load) efusi pleura. Tak jarang ditemukan juga infeksi oleh karena imunitas tubuh yang menurun. namun tindakan pemilihan penggunaan protein akan lebih menolong. f) Pengaturan protein dalam makanan Protein harus dikurangi. diet rendah protein. e) Penanggulangan Asidosis Pemberian melalui makanan dan obat-obatan harus dihindarkan . d) Penanggulangan Anemia Transfusi darah hanya diberikan bila ada indikasi yang kuat.

hipokolsomia. b) Komplikasi gastrointestinal: anoreksia. Komplikasi Menurut Soeparman. Usaha-usaha efektif untuk pengendaliannya yaitu: 1) Mempertahankan kulit lembab dengan pemakaian lotion dan minyak. 2001. Sesungguhnya orang yang menghadapi transplantasi ginjal kronis intinya terjadi perubahan program ketidakmampuan dari hemadidisme kronis dengan kemungkinan masalah penolakan atau resection. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.diberikan bertahap mulai dengan 60 gram protein/jumlah protein diturunkan menjadi 40 gram kemudian 20 gram protein yang diberikan haruslah yang mempunyai nilai biologis yang tinggi (40% asam amino essential). anemia dan perikarditas. 2) Mengendalikan suhu kamar agar mencegah panas. Diagnosa yang muncul pada pasien Chronic Kidney Disease Marilyn Doengoes dkk. vomitus. h) Dialise Dialise adalah menggerakkan cairan dan partikel-partikel lewat membrane setiap permeable ini merupakan terapi yang bisa membantu mengembalilkan keseimbangan cairan elektrolit yang normal. Diet rendah natrium dan furosemid diberikan bila terjadi hipertensi atau edema. mengendalikan asam-basa dan membuang zat-zat toksin dan tubuh dapat mempertahankan hidup dengan dengan sukses. hipertensi ensefalopati. 2) Rencana aktivitas sehari-hari harus juga ada periode istirahat. g) Mengusahakan kenyamanan Kebanyakan orang dengan tingkat akhir penyakit ginjal menderita pruritus. nousea. baik pada GGA atau GGK. 3) Obat-obat anti pruritus Insomnia dan kecapekan dapat diatasi dengan: 1) Pengobatan anemia dapat mengurangi rasa kecapekan. i) Transplantasi Ginjal Transplantasi ginjal dilaksanakan untuk memperpanjang maka hidup orang dengan kegagalan ginjal kronis. c) Hiperkalemia d) Asidosis Metabolik e) Kejang uremik yang disediakan terjadinya hiponatromia. Hiegiene Oral 1) Membersihkan mulut beberapa kali sehari terutama sebelum makan. 7. penurunan. 2000 adalah : a. Curah jantung. hipertensi. a) Komplikasi kardiovasculer dapat terjadi kangesti sirkulasi. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. C. resiko tinggi berhubungan dengan . 2) Pelumas mulut dapat mempertahankan kelembaban mulut.

perubahan) berhubungan dengan keyakinan kesehatan. prognosis. atau immobilisasi. hipoksia). Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). waktu. No. nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler. perubahan berhubungan dengan disorientasi terhadap orang. 1 Intervensi Keperawatan 1. perhatikan perubahan postural. dan kebutuhan. kurang atau menolak system pendukung atau sumber. contoh duduk. D. Kaji adanya/derajat hipertensi (awasi TD. e. gangguan frekuensi. peningkatan kerapuhan kapiler. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan turgor kulit (edema/dehidrasi). resiko tinggi berhubungan dengan kurang/penurunan salviasi. Ketidakpatuhan (kepatuhan. perubahan urea dalam saliva menjadi ammonia. f. d. gangguan faktor pembekuan. perubahan. Integritas kulit. pengaruh budaya. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. iritasi kimia. akumulasi toksin dalam kulit. kerusakan. resiko tinggi berhubungan dengan penekanan produksi dan SDM hidupnya. penurunan. biaya. berbaring. Tujuan: Mempertahankan curah jantung dengan bukti TD dan frekuensi jantung dalam batas normal. Hipertensi bermakna dapat terjadi gangguan pada system aldosteron renninangiotensin (disebabkan oleh disfungsi . Curah jantung. Proses piker. kurang terpajan atau mengingat. Membrane mukosa oral. Cedera. irama. pembatasan cairan. konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit. kompelsitas. Auskultasi bunyi jantung dan paru. g. pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. irama. tentang kondisi. Evaluasi adanya Rasional 1. efek samping terapi. berdiri 2. c. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan frekuensi. tempat. salah interpretasi informasi. penurunan aktivitas.b. konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit. hipoksia).

Berikan obat antihipertensi (contoh: Prazozin (minipress). takikardia. kaptopril (capoten). Evaluasi bunyi jantung ginjal) 2. dispnea. Adanya hipotensi tibatiba. nadi paradoksik. S3/S4 dengan tonus muffled. 3. 4. Menurunkan tahanan vaskuler sistemik dan/atau pengeluaran rennin untuk menurunkan kerja miokardial. 4.edema perifer/kongesti vaskuler dan keluhan dispnea. yang merupakan kedaruratan medik. Distensi jugular. takipnea. dan edema/distensi jugular menunjukkan GGK. mengi. penurunan/tak adanya nadi perifer. frekuensi jantung tak teratur. klonodin (Catapres). dan penyimpangan mental cepat menunjukkan temponden. 3. penyempitan tekanan nadi. hidralazin (Apresoline) . gemerisik.

Menurunkan resiko perdarahan/pembentukan hematom 4. Dapat menunjukkan anemia dan respona jantung untuk mempertahank an oksigenasi sel 2. bantu sesuai kebutuhan dan buat jadwal untuk istirahat. Cedera. Observasi takikardia. gangguan faktor pembekuan. Evaluasi respons terhadap aktifitas. dan istirahat. contoh sediaan besi. kemampuan untuk melakukan tugas. dispnea dan nyeri dada. resiko tinggi berhubungan dengan penekanan produksi dan SDM hidupnya.sianokobalamin (betalin) 4. sehingga memerlukan intevensi. 3. Tujuan: Tak mengalami tanda/gejala perdarahan dan mempertahankan /menunjukan perbaikan nilai laboratorium. No. 3. asam folat (Folvite). 2 Intervensi Keperawatan 1. peningkatan kerapuhan kapiler. Rasional 1. 2.2. gunakan jarum kecil bila mungkin dan lakukan penekanan lebih lama setelah penyuntikan/penusukan vaskuler. Anemia menurunkan oksigenasi jaringan dan meningkatkan kelelahan. pencukur elektrik. Berikan obat sesuai indikasi.kulit/Membrane mukosa pucat. Berguna untuk memperbaiki gejala anemia sehubungan dengan . perubahan aktivitas. Berikan sikat gigi halus.

Berikan tambahan O2 sesuai indikasi. dan sebagainya. Tingkatkan istirahat adekuat dan tidak mengganggu periode tidur 4. Memberikan petunjuk untuk membantu dalam pengenalan kenyataan. 2. Intervensi Keperawatan 1. 4. 3. orang. Perbaikan hipoksia saja dapat memperbaiki kognitif. waktu Tujuan: Meningkatkan tingkat mental biasanya dan mengidentifikasi cara untuk mengkompensasi gangguan kognitif/deficit memori. Orientasikan kembali terhadap lingkungan. Memberikan perbandingan untuk mengevaluasi perkembangan/per baikan gangguan 2. . Rasional 1. perubahan berhubungan dengan disorientasi terhadap orang. Pastikan dari orang terdekat. Berikan kalender. Gangguan tidur dapat mengganggu kemampuan kognitif lebih lanjut. Proses pikir . tempat.kekurangan nutrisi/karena dialysis (Catatan: Besi tidak boleh diberikan dengan ikatan fosfat karena menurunkan absorbsi besi 3. jam. 3. No. jendela ke luar. 3. tingkat mental pasien biasanya.

yang dapat membatasi perfusi selular . 4. 1. ekskorlasi. Integritas kulit. 2. vascular. Perhatikan kemerahan. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. Berikan matras busa/flotasi 4. 2. No. penurunan aktivitas. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan (dari pada garukan) pada area pruritus. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. tugor.4. kerusakan. jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia peninggian meningkatkan aliran balik statis vena terbatas/pembent ukan edema. Menurunkan tekanan lama pada jaringan. tugor. 4. Tujuan: Mempertahankan kulit utuh dan menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan/cedera kulit. purpura. 3. akumulasi toksin dalam kulit. Perhatikan kemerahan. purpura. Intervensi Keperawatan Rasional 3. vascular. atau immobilisasi. Pertahankan buku pendek. Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera dermal. ekskorlasi. Menurunkan tekanan pada edema. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan turgor kulit (edema/dehidrasi). Ubah posisi pasien dengan sering 1.

Flos gigi dapat melukai gusi. Anjurkan hygiene gigi yang baik setelah makan dan pada saat tidur. adanya inflamasi. 2. mis anti histamin: kiproheptadin (periactin) Rasional 1. perubahan urea dalam saliva menjadi ammonia. Dapat diberikan untuk menghilangkan gatal 4. 5 Intervensi Keperawatan 1. No. Tujuan: Mempertahankan integritas membrane mukosa dan mengidentifikasi/melakukan intervensi khusus untuk meningkatkan kesehatan mukosa oral. iritasi kimia. . Membrane mukosa oral. 3. resiko tinggi berhubungan dengan kurang/penurunan salviasi pembatasan cairan. perubahan. karakter saliva. Memberikan kesempatan untuk intervensi segera dan mencegah infeksi. menimbulkan perdarahan. Inspeksi rongga mulut: perhati kan kelembaban. Anjurkan menghindar fless gigi. 5.Berikan perawatan mulut. 2. 3. ulserasi. Membran 4.yang menyebabkan iskemik 5. Berikan obat sesuai indikasi. Menurunkan pertumbuhan bakteri dan potensial terhadap infeksi. 5. 5.

Menunjukan/melakukan perubahan pola hidup yang perlu. yang sering tak menyenangkan kaena uremia dan keterbatasan masukan oral. termasuk jadwal istirahat sebelum Rasional 1. Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alas an untuk tindakan. Perawatan mulut menyejukkan. dan membantu menyegarkan rasa mulut. kurang terpajan atau mengingat. tentang kondisi. khususnya dari karbohidrat . melumasi. 6 Intervensi Keperawatan 1. Instruksika n dalam observasi diri dan pengawasa n TD. Penyimpanan protein. 2. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). 2. Dorong pemasukan kalori tinggi. mencegah penggunaan dan memberikan energi. Tujuan: Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. perlu untuk observasi ketat terhadap efek pengobatan. contoh respons vascular tehadap . Insiden hipertensi meningkat pada GGK. dan berpartisipasi dalam program pengobatan No.mukosa dapat menjadi kering dan pecah-pecah. prognosis. salah interpretasi informasi. 6. sering memerlukan penanganan dan obat anti hipertensi.

Intervensi Keperawatan 1. Menurunkan risiko sehubungan dengan imobilisasi (termasuk demineralisasi tulang) dan mencegah kelemahan.mengukur TD. Membuat pilihan pada tingkat kesiapan berdasarkan informasi yang akurat. perubahan) berhubungan dengan keyakinan kesehatan. Tujuan: Menyatakan pengetahuan akurat tentang penyakit dan pemahaman program terapi. biaya. obat. No. Rasional 1. kompelsitas. 4. 7 Ketidakpatuhan (kepatuhan. efek samping terapi. pengaruh budaya. kurang atau menolak system pendukung atau sumber. Berpartisipasi dalam membuat tujuan dan rencana pengobatan. Efek fisiologis uremia/terapi anti hipertensi dapat mengganggu hasrat/penampilan seksual. Menyamp aikan pesan masalah. Perhatika n masalah seksual. Dengarkan/mendengarkan dengan aktif pada keluhan/pernyataan pasien. mengguna kan lengan/posi si yang sama. Membantu dalam mempertahanka n tonus otot dan kelenturan sendi. 7 . dan mengidentifikasi /menggunakan sumber dengan tepat. menyelin gi periode istirahat dengan aktivitas. 3. 3. dalam kemampu an individu. Buat program latihan rutin.

Memberik an kesadaran bagaimana pasien memandan g penyakitn ya sendiri dan program pengobata n dan membantu dalam memaham i masalah pasien. Anjurkan pilihan yang tepat. Yakinkan persepsi/pemahaman pasien/orang terdekat terhadap situasi dan konsekuensi perilaku. Meskipun pasien secara internal termotivasi (rasa control internal). Keyakinan pada kemampua n individu dan mengatasi situasi dalam cara positif. 3.2. Evaluasi system pendukung/sumber yang digunakan oleh pasien. 4. Tingkat ansietas berat mempenga ruhi kemampua n pasien mengatasi situasi. pasien cenderung . 3. perasaan tak berdaya. kemampuan control. Kaji tingkat ansietas. 2. Kaji perilaku memberi perawatan kesehatan pada pasien/perilaku. 5.

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 3. Pendekata n yang menghaki mi dapat membuat kekuatan yang menjauhka n pasien. menurunka n kemungkin anmeningk atnya pengaruh.menjadi pasif/terga ntung pada penyakit berat. jangka panjang. 1. 4. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 2. 5. 2000 adalah : 1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan . Diagnosa Keperawatan pada pasien Congestive Heart Failure menurut Marilyn Doengoes dkk. Adanya system pendukung adekuat membantu pasien untuk mengatasi kesulitan penyakit lama.

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan pemahaman / kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung / penyakit / gagal Diagnosa Keperawatan pada gagal jantung menurut Lynda Juall Carpenito edisi 8. Resiko terhadap kelebihan volume cairan : odema yang berhubungan dengan penurunan aliran darah ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan 4. dan penurunan perfusi jaringan 5. oedem. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan 5. dan penurunan perfusi jaringan . Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur seperti biasanya Dari kedua Diagnosa Keperawatan diatas dapat disimpulkan bahwa Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah : 1. 2000 adalah : 1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 2.4. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen karena gagal jantung kongestif 2. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 3. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 6. oedem.

Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 8. disritmia terkontrol. sedang atau kronik. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang informasi 7. TD 2. Catat bunyi jantung 3. • Tujuan : . bebas gejala jantung. Biasanya terjadi takikardi untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler 2. terjadi penurunan dispnea. Auskultasi nadi apical. Pada gagal jantung kongestif dini.5. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran cerna 9. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 6. Palpasi nadi Perifer . S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa jantung 3.Peningkatan frekuensi jantung • Curah jantung meningkat Kriteria hasil : pasien menunjukkan tanda vital dalam batas normal. Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan untuk mengambil posisi tidur yang biasanya INTERVENSI Menurut Doengoes (2000) Diagnosa 1 : Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial. Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi 4. ikut sertakan dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung Intervensi 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. frekuensi irama jantung kaji Rasional 1.

Captopril(Capoten).dapat meningkat sehubungan dengan Septum Ventriculler Right (SVR) 4. Berikan obat sesuai indikasi 10.Bumetamid (Bumex) (kalium dan klorida) 11. Asam Etakrinik (Enderic). Pantau tekanan darah 5. Pantau keluaran urine. Pantau dan ganti elektrolit Diagnosa 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air . Kaji adanya kulit pucat dan sianosis 6. Diuretic : Furosemid (Lasix). Ginjal berrespon untuk menurunkan curah jantuingdengan menahan cairan dan natrium 7. Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati pasien curah jantung 11. Usinopril mempengaruhi irama jantung (Prinivil). Meningkatnya persediaan O2 untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek iskemik 9. catat penurunan dan kepekatan konsentrasi urine 7. Berikan O2tambahan dengan kanul nasal / masker sesuai indikasi 9. Pucat menunjukkan menurunnya Perfusi Perifer Sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung dan anemia Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung kronik 6. Istirahat fisik dipertahankan untuk memperbaiki efisiensi kontraksi jantung den menurunnya kebutuhan oksigen 8. Banyaknya obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup 10. Untuk mengontrol gagal jantung dengan menghambat konversi angiotesin dalam paru dan menurunkan tekanan darah Dapat mempengaruhi elektrolit yang 5. Beri posisi nyaman pada tempat tidur atau kursi 8.Eralapri (Vasotec) 12.

Pantau Foto thorax Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 / kebutuhan • • Tujuan : Pasien mampu melakukan aktivitas fisik Kriteria hasil : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri. Mempertahankan cairan / pembatasan natrium sesuai indikasi 8. Meningkatkan Filtrasi Ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan dieresis 3. Kelebihan volume cairan sering menimbulkan kongesti paru 5. Menurunkan air total tubuh / reakumulasi cairan Menunjukkan perubahan indikatif peningkatan / perbaikan kongesti paru 1. Auskuhasi bunyi nafas. Pantau keluaran urine. menyatakan tentang pembatasan cairan Intervensi Rasional 1. catat penurunan dan atau bunyi tambahan 5. berat badan normal dan tidak oedem. tanda vital dalam batas normal. Catat perubahan ada / hilangnya oedema sebagai respon terhadap terapi 4. Keluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi jaringan 2. mencapai peningkatan toleransi aktivitas . Timbang berat badan setiap hari 4. Meningkatkan laju aliran urine dan dapat menghambat reabsorsi natrium / klorid pada tubulus ginjal 7. Pertahankan duduk / tirah baring dengan posisi Semi Fowler 3. catat jumlah dan warna 2. Pantau tekanan darah dan CVP 6. Menunjukkan kelebihan volume cairandan dapat menunjukkan terjadinya gagal jantung 6. Pemberian obat sesuai indikasi : Diuretik contoh : Furosemid (Lasix) 7.• • Tujuan : Volume cairan pasien berkurang sampai dengan normal Kriteria hasil : Volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran bunyi nafas bersih.

Dapat menunjukkan peningkatan Decompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas 3. contoh : pengobatan. Menurunkan konsumsi oksigen / . mengi 2. pucat Rasional 1. Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2 3. Rasional 1. Menyatakan adanya kongesti paru / pengumpulan secret menunjukkan untuk intervensi lanjut 2. Kaji penyebab kelemahan. Implementasikan program rehabilitasi jantung / aktivitas 4. catat tachicardi disritmia. Auskuitasi bunyi nafas. Kelemahan merupakan samping beberapa obat efek 2. Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia 4. Catat respon Kardiopulmonal terhadap aktivitas. Anjurkan pasien batuk efektif. dispnea. Intervensi 1. Penurunan / ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktifitas dapat menyebabkan peningkatan frekuensi jantung 2. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas 3. Anjurkan pasien selalu merubah posisi 4.Intervensi 1. Memenuhi kebutuhan perawatan diri tanpa mempengaruhi stress Peningkatan aktivitas secara bertahap menghindari kerja jantung / konsumsi oksigen berlebihan Diagnosa 4 : Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan pertukaran gas Kriteria hasil : mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA / oksiometri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. nyeri 4. nafas dalam 3. Pertahankan duduk di kursi. catat krekel. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi 5.

Berikan oksigen sesuai indikasi tambahan kebutuhan dan meningkatkan ekpansi paru maksimal 5. meminimalkan dengan kelembapan / ekresi 3. Meningkatkan konsentrasi alveolar yang dapat memperbaiki / memudahkan hipoksemia jaringan Menurunkan kongesti alveolar. bantu rentang gerak pasif / aktif 2. Berikan obat sesuai indikasi : Diuretik. Ubah posisi saat ditempat tidur. Furosemid (lasix) Diagnosa 5 : Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. dan penurunan perfusi jaringan • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intregritas kulit Kriteria hasil : mempertahankan integritas mendemonstrasikan perilaku / tehnik mencegah kulit kulit. Berikan perawatan kulit.tirah baring dengan kepala tempat tidur lebih tinggi (Semi Fowler) 5. Pijat area kemerahan atau memutih Diagnosa 6 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi • • Tujuan : Pengetahuan pasien meningkat Kriteria hasil : − Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkanepisod berulang dan mencegah . Edema interstitial dan gangguan sirkulasimemperlambat absorsiobat dan predisposisi untuk kerusakan kulit / terjadinya infeksi 4. Hindari obat intramuskuler Rasional 1. Memperbaiki sirkulasi / menurunkan waktu satu area yang menggangu aliran darah 2. Intervensi 1. Meningkatkan aliran darah 4. meningkatkan pertukaran gas 6. Terlalu kering atau lembab merusak kulit dan mempercepat kerusakan 3. oedema.

komplikasi − Menyatakan tanda / gejala memerlukan intervensi cepat yang − Mengidentifikasi stress pribadi / faktor resiko untuk menangani − Melakukan perubahan perilaku yang perlu pola hidup / Intervensi 1. Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan 2. Jelaskan dan diskusikan peran keputusan berdasarkan informasi pasien dalam mengontrol faktor resiko dan faktor pencetus Diagnosa 7 : Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas • • Tujuan : Ansietas pasien berkurang sampai dengan hilang Kriteria hasil : − Mengakui dan mendiskusikan takut / masalah − Menunjukkan perasaan yang tepat − Wajah tampak rileks − Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi . tujuan. Pemahaman kterapeutik dan pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah terjadinya komplikasi obat Menambah pengetahuan dan 3. Diskusikan pentingnya fungsi jantung sehat 2. Diskusikan pentingnya pembatasan natrium Rasional 1. Diskusikan obat. Pembatasan diit natrium diatas 3gr/hari akan menghasilkan efek diuretic 3. dan efek samping memungkinkan pasien untuk membuat 4.

Rujuk ke indikasi ahli gizi sesuai Rasional 1. Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru untuk memilih intervensi yang tepat 2. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan • • Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi untuk mempertahankan fungsi tubuh Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral. menjelaskan rasional dan prosedur untuk pengobatan. Dapat memperbaiki beberapa perasaan Kontrol / kemandirian pada pasien yang merasa tidak berdaya dalam menerima diagnosa Diagnosa 8 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa 2. Diketahui adanya tanda-tanda malnutrisi yang merupakan petunjuk adanya gangguan kebutuhan nutrisi 2. Kelola kebersihan mulut setiap 2-4 jam. Observasi tanda-tanda malnutrisi setiap hari 2. pasien tidak merasa pahit dan enak bila mengunyah 3. Libatkan pasien / orang terdekat dalam perencanaan perawatan 4. Intervensi 1. jika mungkin anjurkan untuk menyikat gigi 3. menjelaskan factorfaktor bila diketahui. Dapat menambah nafsu makan. Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit . Berikan waktu untuk menyiapkan peristiwa atau pengobatan Rasional 1. Beri kesempatan untuk bertanya jawab 3.Intervensi 1. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi interpretasi terhadap informasi 3.

EGC: Jakarta. EGC : Jakarta. Aktivitas fisik dan mental meningkatkan kelelahan yang dapat meningkatkan kebingungan 2. PL. Horne Mima M & Swearingen. 2001. Moyet. Lengkapi jadwal tidur dan ritual secara teratur 4. EGC: Jakarta Carpenito. Anjurkan istirahat sejenak. . elektrolit & asam basa. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta Carpenito.Diagnosa 9 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur yang biasanya • • Tujuan : Pola tidur pasien terpenuhi Kriteria hasil : − Mampu adekuat pikiran menciptakan pola tidur yang dengan penurunan terhadap − Tampak / bisa istirahat yang cukup Intervensi 1. EGC: Jakarta Doengoes. Gagal Ginjal. Marilyn E. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC: Jakarta. 2007. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk Mungkin efektif dalam menangani penyakitnya kemampuan tidur untuk meningktkan DAFTAR PUSTAKA Alam Syamsir. Hadibroto Iwan. 2000. 2001. PT. Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. turunkan aktifitas mental fisik pada sore hari 2. Keseimbangan cairan. Rencana Asuhan Keperawatan. Mempertahankan kestabilan lingkungan 4. Buku agar Fisiologi Kedokteran Edisi II. 2007. Beri makan kecil sore hari 5. Berikan obat sesuai indikasi Rasional 1. Evaluasi tingkat stress 3. Tingkat stress dapat melonggarkan pola tidur yang mencapai tidur pulas 3. 2006. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Perawatan. Edisi 3. Lynda Juall. Lynda Juall. Hall & Guyton.

Edisi 3. 1999). 2002). Sylvia A. DR. 2000. Jilid 2. B. Gagal jantung adalah keadaan patofisiologis ketika jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan (Sylvia A.http://keperawatan . Buku Ajar Keperawatan Medikel Bedah Brunner & Suddarth. Nurs.Price. Suzanne C.com 2007/07/laporan pendahuluan gagal ginjal kronis. 2002.blogspot. Salemba Medika: Jakarta Price. 2005). PROSES TERJADINYA MASALAH . Gagal jantung Kongestif adalah kondisi patofisiologik yang diakibatkan gangguan fungsi jantung karena jantung tidak dapat mempertahankan curah yang cukup untuk kebutuhan metabolik jaringan dan organ tubuh (Robbins. PENGERTIAN Gagal jantung Kongestif adalah ketidakmampuan Jantung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi (Brunner & Suddarth. Nursalam. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Arif. EGC: Jakarta Smeltzer.gun. Lorrelne M. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. FKUI: Jakarta BAB I KONSEP DASAR MEDIK CONGESTIF HEART FAILURE (CHF) A. Stanley. Mansjoer. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2. FKUI: Jakarta M. 2007. L. 2006. Media Aeskulapius. EGC: Jakarta Soeparman. Wilson. Edisi 8. Kapita Selekta Kedokteran.

− Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi Miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. − Hipertensi sitemik atau Pulmonal (peningkatan afterload) meningkatnya beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Patofisiologi Gagal jantung kongestif terjadi sewaktu kontraktilitas jantung berkurang dan ventrikel tidak mampu memompa keluar darah sebanyak yang masuk sewaktu diastole. sel-sel otot vebtrikel mengalami peregangan melebihi panjang . 2. Faktor Presipitasi − Kelainan otot jantung (Miokardium) yang menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Faktor Predisposisi Penyakit yang dapat menimbulkan penurunan fungsi ventrikel seperti : − Penyakit Arteri Koroner − Hipertensi − Kardiomiopati − Penyakit jantung Kongenital 3. Seiring dengan peningkatan progresif volume diastolik – akhir. Suzanne C. Efek tersebut (hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan meningkatkan kontraktilitas jantung. Hipertrofi otot jantung tidak dapat berfungsi secara normal dan akhirnya akan terjadi gagal jantung (Smeltzer. Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung.1. Hal ini menyebabkan volume diastolik – akhir ventrikel secara progresif bertambah. 2002). Terjadinya Hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat).

dipicu oleh timbulnya edema paru interstisial. Dispnea disebabkan oleh peningkatan kerja pernafasan akibat kongesti vaskuler paru yang mengurangi kelenturan paru. 2001). dimana curah jantung (CO : Cardiac Output) adalah fungsi frekuensi jantung (HR : Heart Rate) x volume sekuncup (SV: Stroke Volume). − Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) atau mendadak terbangun karena dispnea. Manifestasi Klinik Tanda dan gejala gagal jantung secara umum : − Dispnea. adalah manifestasi gagal jantung yang paling umum. (Suzanne C Smeltzer. maka volume sekuncup jantunglah yang harus menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah jantung. − Kelemahan fisik. Tegangan yang dihasilkan menjadi berkurang karena ventrikel teregang oleh darah. manifestasi utama dari penurunan curah jantung adalah kelemahan dan kelelahan dalam melakukan aktifitas. atau perasaan sulit bernafas. Bila mekanisme kompensasi ini gagal untuk mempertahankan perfusi jaringan yang memadai. terutama pada posisi berbaring. Tanda dan gejala gagal jantung kanan : . Konsep curah jantung paling baik dijelaskan dengan persamaan CO = HR x SV . semakin sedikit darah yang dapat dipompa keluar sehingga akumulasi darah dan peregangan serat otot bertambah. 4. curah jantung dan tekan darah turun. − Batuk non produktif juga dapat terjadi akibat kongesti paru. (Elizabeth J Corwin. Semakin terisi berlebihan ventrikel.optimumnya.2000). Respon-respon reflek tubuh yang mulai bekerja sebagai jawaban terhadap penurunan tekanan darah akan secara bermakna memperburuk situasi. Akibatnya volume sekuncup. − Ortopnea (dispnea saat berbaring). Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan kontraktilitas jantung yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal. Bila curah jantung berkurang maka sistem saraf simpatis akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan curah jantung.

− Foto rontgent : Oedema Paru. − Nokturia (dieresis malam hari) yang mengurangi retensi cairan. yaitu : − Derajat I : Tidak ada gejala (seperti nafas pendek. − Gejala saluran cerna. − Derajat II : Timbul gejala (nafas pendek. Klasifikasi Menurut New York Heart Association (NYHA) gagal jantung dapat di klasifikasikan menurut derajatnya. − Edema Perifer terjadi akibat penimbunan cairan dalam ruang interstisial. 2005). tachycardia.− Peningkatan tekanan vena jugularis (JVP) − Hepatomegali (pembesaran hati) : nyeri tekan hati dapat terjadi akibat peregangan kapsula hati.Price. . tumit). rasa penuh atau mual dapat disebabkan oleh kongesti hati dan usus. (Sylvia A. − Derajat III : Timbul gejala sewaktu melakukan kegiatan fisik ringan. nyeri dada) yang terjadi pada kegiatan fisik biasa. Edema mula-mula tampak pada bagian tubuh yang tergantung (tunkai bawah. seperti anoreksia. Cor membesar. nyeri dada). Tanda dan gejala gagal jantung kiri : − Sesak nafas (dispnea) − Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) − Ortopnea − Batuk-batuk − Sianosis − Jantung membesar. − Derajat IV : kegiatan fisik hamper tidak bisa dilakukan oleh karena dengan istirahat saja telah timbul gejala (nafas pendek. nyeri dada) bila melakukan kegiatan fisik biasa.

Left bundle branch block. Efusi Perikardial. thrombus dalam ventrikel.1996). Gelombang Q menunjukkan infark sebelumnya dan kelainan segmen ST. 4. termasuk aliran warna dapat digunakan untuk menilai regurgitasi katup dan pirau intrakardiak.(Long C Barbara . 2. Aritmia : Deviasi Aksis ke kanan. 3. Edema paru. • Rontgent Dada Foto sinar X dada Posterior – Anterior dapat menunjukkan adanya Hipertensi Vena. 5. Pemeriksaan Penunjang • Ekokardiografi Ekokardiografi sebaiknya digunakan sebagai alat pertama dalam diagnosis dan manajemen gagal jantung. Creatimin. Serum Albumin. atau Kardiomegali. Right Bundle Branch block dan Hipertrofi ventrikel kanan menunjukkan adanya disfungsi ventrikel kanan. menunjukkan penyakit jantung Iskemik. Aneurisma ventrikel kiri. Ultrasonografi Doppler. dan berbagai bentuk penyakit jantung korgenital juga dapat dideteksi. 5. BUN. • Elektrokardiografi (EKG) Pada pemeriksaan EKG untuk klien dengan gagal jantung dapat ditemukan kelainan EKG seperti dibawah ini : 1. Hipertrofi Ventrikel kiri dan gelombang T terbalik menunjukkan Stenosisa Aorta dan penyakit hipertensi. Pemeriksaan ekokardiografi dapat digunakan untuk memperkirakan ukuran dan fungsi ventrikel kiri. kelainan ST/T menunjukkan disfungsi venrikel kiri kronis. Penatalaksanaan Medis . (Muttaqin Arif. • Pemeriksaan Laboratorium − Elektrolit. 2009).

pacu jantung 3. Pengendalian Retensi garam dan cairan − Diit rendah garam − Diuretic − Pengeluaran cairan secara mekanik (Thoracosentesis.• Tujuan Penatalaksanaan menurut Noer H. Pembatasan aktivitas kerja berat untuk menurunkan kerja jantung 2.M Sjaifoellah 1996 adalah : 1. Preparat Digitalis untuk meningkatkan Kontraktilitas Miokardium 4. Preparat Nitrat atau Isorbit Dinitrat meningkatkan kapsitas vena Pulmonalis. Parasentesis. Mengurangi beban kerja − Istirahat jasmani dan Emosional − Berat badan yang berlebihan (obesitas) sebaiknya dikurangi / diturunkan − Vasodilator 2. Memperbaiki daya pompa jantung Digitalis. Prosozin Melebarkan arteri Perifer Vena Pulmonalis . Obat-obatan Diuretik untuk memp[erbaiki gejala kongestif seperti Dispnea Misal : Diuretik Tiazid. obat-obatan Simptomatik. menurunkan secara ringan tahanan vaskuler sistemik 5. Hidralazin Menurunkan tahanan vaskuler sistemik 6. Ultrafiltrasi) • Penatalaksanaan menurut Riiantono. Lily ismudiai 1998 adalah : 1. Furosemid dan Asam Etakrinat baik secara oral maupun intravena 3.

C. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 8. 2000 adalah : 6. oedem. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan pada pasien gagal jantung menurut Marilyn Doengoes dkk. 2000 adalah : 7. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan 10. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur seperti biasanya . Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 9. dan penurunan perfusi jaringan 11. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan pemahaman / kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung / penyakit / gagal Diagnosa Keperawatan pada gagal jantung menurut Lynda Juall Carpenito edisi 8. Resiko terhadap kelebihan volume cairan : odema yang berhubungan dengan penurunan aliran darah ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan 9. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen karena gagal jantung kongestif 7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 10. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 12. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 8. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual.

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 12. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 13. Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan untuk mengambil posisi tidur yang biasanya D. bebas gejala jantung. disritmia terkontrol. oedem. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 15. Biasanya terjadi takikardi untuk • A Intervensi . dan penurunan perfusi jaringan 14. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran cerna 18. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 11. ikut sertakan dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 17. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang informasi 16. FOKUS INTERVENSI Menurut Doengoes (2000) Diagnosa 1 : Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial. • Tujuan : Peningkatan frekuensi jantung • Curah jantung meningkat Kriteria hasil : pasien menunjukkan tanda vital dalam batas normal. terjadi penurunan dispnea. Rasional 1.Dari kedua Diagnosa Keperawatan diatas dapat disimpulkan bahwa Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah : 10.

Pantau keluaran urine.• C • P • P mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler 2. Ginjal berrespon untuk konsentrasi urine menurunkan curah jantuingdengan menahan cairan 7. TD dapat meningkat sehubungan dengan Septum Ventriculler Right (SVR) Intervensi Rasional 5. Berikan obat sesuai indikasi untuk melawan efek iskemik 9. digunakan untuk meningkatkan Asam Etakrinik volume sekuncup (Enderic). sedang atau kronik. catat kronik penurunan dan kepekatan 6. Captopril(Capoten). S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa jantung 3. Diuretic : Furosemid (Lasix). Eralapri (Vasotec) jantung dengan menghambat . Banyaknya obat dapat 10. Istirahat fisik dipertahankan untuk memperbaiki efisiensi 8. Pada gagal jantung kongestif dini. Berikan O2tambahan dengan kontraksi jantung den menurunnya kebutuhan oksigen kanul nasal / masker sesuai 8.Bumetamid (Bumex) 10. Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi 4. Meningkatnya persediaan O2 indikasi untuk kebutuhan miokard 9. Kaji adanya kulit pucat dan 5. Beri posisi nyaman pada tempat dan natrium tidur atau kursi 7. Usinopril 11. Untuk mengontrol gagal (Prinivil). Pucat menunjukkan sianosis menurunnya Perfusi Perifer Sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung dan anemia Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung 6. Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati pasien curah jantung Intervensi Rasional 11.

Meningkatkan laju aliran urine (Lasix) dan dapat menghambat reabsorsi natrium / klorid pada 7. menyatakan tentang pembatasan cairan. Pemberian obat sesuai indikasi : jantung Diuretik contoh : Furosemid 6. Catat perubahan ada / hilangnya oedema sebagai 4. Menunjukkan kelebihan volume cairan dan dapat menunjukkan terjadinya gagal 6. tanda vital dalam batas normal. Menurunkan air total tubuh / indikasi reakumulasi cairan 8. Auskuhasi bunyi nafas. Intervensi Rasional 2. Pantau Foto thorax Menunjukkan perubahan indikatif peningkatan / perbaikan . catat 1. Meningkatkan Filtrasi Ginjal dengan posisi Semi Fowler dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan dieresis 3.12. Kelebihan volume cairan sering tambahan menimbulkan kongesti paru 5. Timbang berat badan setiap hari 3. catat respon terhadap terapi penurunan dan atau bunyi 4. Pantau keluaran urine. Dapat mempengaruhi elektrolit (kalium dan klorida) yang mempengaruhi irama jantung Diagnosa 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air • • Tujuan : Volume cairan pasien berkurang sampai dengan normal Kriteria hasil : Volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran bunyi nafas bersih. Mempertahankan cairan / tubulus ginjal pembatasan natrium sesuai 7. Pertahankan duduk / tirah baring 2. Pantau dan ganti elektrolit konversi angiotesin dalam paru dan menurunkan tekanan darah 12. Intervensi Rasional 1. Pantau tekanan darah dan CVP 5. Keluaran urine mungkin sedikit jumlah dan warna dan pekat karena penurunan perfusi jaringan. berat badan normal dan tidak oedem.

Menyatakan adanya kongesti krekel. Auskuitasi bunyi nafas. Implementasikan program bertahap menghindari kerja jantung / rehabilitasi jantung / aktivitas konsumsi oksigen berlebihan Diagnosa 4 : Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan pertukaran gas Kriteria hasil : mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA / oksiometri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. meningkatkan volume pucat sekuncup selama aktifitas dapat menyebabkan peningkatan frekuensi jantung 2. Memenuhi kebutuhan perawatan diri tanpa mempengaruhi stress Peningkatan aktivitas secara 3. Catat respon Kardiopulmonal 1. Intervensi Rasional 1. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi 5. Kaji penyebab kelemahan. mengi paru / pengumpulan secret menunjukkan untuk intervensi . Kelemahan merupakan efek samping beberapa obat 4.kongesti paru Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 / kebutuhan • • Tujuan : Pasien mampu melakukan aktivitas fisik Kriteria hasil : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri. contoh : pengobatan. catat miokardium untuk tachicardi disritmia. catat 1. nyeri 4. dispnea. Penurunan / ketidakmampuan terhadap aktivitas. mencapai peningkatan toleransi aktivitas. Intervensi Rasional 1. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas 2. Dapat menunjukkan peningkatan Decompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas 3.

Anjurkan pasien batuk efektif. Anjurkan pasien selalu merubah posisi lanjut 2. Berikan perawatan kulit. Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia Menurunkan konsumsi oksigen / Intervensi 5. nafas dalam 3. dan penurunan perfusi jaringan • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intregritas kulit Kriteria hasil : mempertahankan integritas mendemonstrasikan perilaku / tehnik mencegah kulit. Pertahankan duduk di kursi. Berikan obat sesuai indikasi : hipoksemia jaringan Diuretik. Ubah posisi saat ditempat tidur. 1. Membersihkan jalan nafas dan 4. Terlalu kering atau lembab kelembapan / ekresi merusak kulit dan mempercepat 3. Furosemid (lasix) Menurunkan kongesti alveolar. Intervensi Rasional 1. Hindari obat intramuskuler kerusakan Edema interstitial dan gangguan Intervensi Rasional sirkulasi memperlambat absorsiobat dan predisposisi untuk kerusakan . yang menggangu aliran darah meminimalkan dengan 2. oedema. kulit. Meningkatkan konsentrasi alveolar yang dapat memperbaiki / memudahkan 6. Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional tambahan 4. Memperbaiki sirkulasi / bantu rentang gerak pasif / aktif menurunkan waktu satu area 2.2. meningkatkan pertukaran gas Diagnosa 5 : Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. tirah baring dengan kepala tempat tidur lebih tinggi (Semi kebutuhan dan meningkatkan ekpansi Fowler) paru maksimal memudahkan aliran O2 3.

4. Pijat area memutih

kemerahan

atau

kulit / terjadinya infeksi 3. Meningkatkan aliran darh, meminimalkan hipoksia jaringan

Diagnosa 6 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi • • Tujuan : Pengetahuan pasien meningkat Kriteria hasil : − Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkanepisod berulang dan mencegah komplikasi − Menyatakan tanda / gejala memerlukan intervensi cepat yang

− Mengidentifikasi stress pribadi / faktor resiko untuk menangani − Melakukan perubahan perilaku yang perlu pola hidup /

Intervensi Rasional 5. Diskusikan pentingnyafungsi 4. Pengetahuan proses penyakit jantung sehat dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program 6. Diskusikan pentingnya pengobatan pembatasan Pembatasan diit natrium diatas 3gr/hari Intervensi Rasional natrium akan menghasilkan efek diuretic 5. Diskusikan obat, tujuan, dan 7. Pemahaman kterapeutik dan efek samping pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah 6. Jelaskan dan diskusikan peran terjadinya komplikasi obat pasien dalam mengontrol faktor 8. Menambah pengetahuan dan resiko dan faktor pencetus memungkinkan pasien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi Diagnosa 7 : Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas

• •

Tujuan : Ansietas pasien berkurang sampai dengan hilang Kriteria hasil : − Mengakui dan mendiskusikan takut / masalah − Menunjukkan perasaan yang tepat − Wajah tampak rileks − Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi

Intervensi Rasional 1. Evaluasi tingkat pemahaman 1. Pasien dan orang terdekat pasien / orang terdekat tentang mendengar dan mengasimilasi diagnose informasi baru Intervensi Rasional untuk memilih intervensi yang 2. Beri kesempatan untuk bertanya tepat jawab 2. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan 3. Libatkan pasien / orang terdekat persepsi interpretasi terhadap dalam perencanaan perawatan informasi 4. Berikan waktu untuk menyiapkan 3. Dapat memperbaiki beberapa peristiwa atau pengobatan perasaan 4. Kontrol / kemandirian pada pasien yang merasa tidak berdaya dalam menerima diagnosa Diagnosa 8 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual, anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan • • Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi untuk mempertahankan fungsi tubuh Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral, menjelaskan factorfaktor bila diketahui, menjelaskan rasional dan prosedur untuk pengobatan

Intervensi Rasional 1. Observasi tanda-tanda 1. Diketahui adanya tanda-tanda malnutrisi setiap hari malnutrisi yang merupakan petunjuk adanya gangguan 2. Kelola kebersihan mulut setiap kebutuhan nutrisi 2-4 jam, jika mungkin anjurkan 2. Dapat menambah nafsu makan, untuk menyikat gigi pasien tidak merasa pahit dan enak bila mengunyah Memberikan konseling dan 3. Rujuk ke ahli gizi sesuai bantuan dengan memenuhi kebutuhan indikasi diit Diagnosa 9 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur yang biasanya • • Tujuan : Pola tidur pasien terpenuhi Kriteria hasil : − Mampu adekuat pikiran menciptakan pola tidur yang dengan penurunan terhadap

− Tampak / bisa istirahat yang cukup

Intervensi Rasional 6. Anjurkan istirahat sejenak, 1. Aktivitas fisik dan mental turunkan aktifitas mental fisik meningkatkan kelelahan yang pada sore hari dapat meningkatkan kebingungan 7. Evaluasi tingkat stress 2. Tingkat stress dapat melonggarkan pola tidur yang 8. Lengkapi jadwal tidur dan mencapai tidur pulas ritual secara teratur 3. Mempertahankan kestabilan 9. Beri makan kecil sore hari lingkungan 10. Berikan obat sesuai indikasi 4. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk Mungkin efektif dalam menangani penyakitnya untuk meningktkan kemampuan tidur

1998. 2006. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjadjaran. EGC: Jakarta Doengoes. Edisi 4. 2007. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi. EGC: Jakarta Wolf.M.Y. Arif. 1999. Edisi 3. I.Price. J & Moyet. EGC: Jakarta Lismidar. E. Buku ke2. 2005. Patofisiologi. buku ke 2 .A.L. Jilid1. Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Stanley. EGC: Jakarta Sutedjo. Barbara. 1990. Rencana Asuhan Keperawatan. Volume 2. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Perawatan.H. Balai Penerbit UI. 2002. EGC: Jakarta Smeltzer. 2005.Syaifullah. EGC: Jakarta Perry & Potter. Marilyn. Bandung Muttaqin. 2001. EGC: Jakarta Wilkinson. Edisi revisi. Jakarta Long C. Askep Pasien dengan Gangguan Penyakit Sistem Kardiovaskuler. Edisi 3. EGC: Jakarta Depkes RI. M. EGC: Jakarta Robbins. Proses dan Praktek. Buku Saku Dasar Patologi Panyakit. Salemba Medika: Jakarta Noer. Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Buku Ajar Fundomental Keperawatan Konsep. Lily. 1984. EGC: Jakarta Corwiri. C. Edisi 5. Edisi 6. Sizanne. 2009. Dasar-dasar Ilmu Keperawatan. Proses Keperawatan. Buku Ajar Kardiologi. A. Buku Saku Diagnosis Keperawatan NIC dan NOC. 1996. Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. 1996. Linda Juall. Buku Saku Patofisiologi. dkk.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Amara Books: Ygyakarta Sylvia. FKUI: Jakarta Rilantono. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Kepeawatan). 2000. Edisi 3. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. EGC: Jakarta Carpenito L. Judith. Edisi 8. 1999. J Elisabeth. 2007.

( Hood Al Sagaff.BAB I KONSEP DASAR MEDIK A.2000 ) . ( Hood Al Sagaff. Jenis tumor paru dibagi untuk tujuan pengobatan. adenokarsinoma.1993 ) 2.1993 ) 3. DEFINISI 1. ( Underwood. Kanker Paru merupakan abnormalitas dari sel-sel yang mengalami proliferasi dalam paru. karsinoma sel besar. Karsinoma bronkogenik adalah tumor ganas primer yang berasal dari saluran nafas. Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut dan letaknya di dalam rongga dada. merupakan SCLC ( small cell lung cencer ) dan NSCLS ( non small cell lung cencer ) atau karsinoma skuamosa. Tumor adalah Neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan baru yang abnormal.

Paparan zat karsinogen ( asbestos. 2001. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Polusi udara Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap disel dalam atmosfer di kota. radon arse ) Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif. Merokok Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. b. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. Jadi dari pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan kanker paru adalah penyakit keganasan yang terjadi dibagian paru yang mengalami proliferasi di dalam paru. . 2. menimbulkan tumor.4. Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Faktor Presipitasi Penyebab terjadinya kanker paru belum jelas diketahui. a. B. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). Faktor Predisposisi Menurut Slamet Suyono. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam terdiri dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan. radiasi ion. c.

Kanker paru akibat kerja Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenik (pembasmi rumput). Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom. Pekerja pemecah hematite (paru – paru hematite) dan orang – orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden. .programmed cell death). tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiah. Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen). Predisposisi Gen supresor tumor Inisitor Delesi/ insersi Promotor Tumor/ autonomi Progresor Ekspansi/ metastasis d. Diet Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten. Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan (insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya. selenium dan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru. Teori Onkogenesis. Dengan demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada permulaan terbatas pada sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya.d.

hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura. demam. 0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d46430100 0000000001006a5d0000000001000000180300000000000018030000010000006c0 000000000000000000000350000006f0000000000000000000000f04100003b32000 020454d460000010018030000120000000200000000000000000000000000000040 120000901a0000c600000020010000000000000000000000000000950403007a640 400160000000c000000180000000a00000010000000000000000000000009000000 10000000960f0000db0b0000250000000c0000000e000080250000000c0000000e00 0080120000000c00000001000000520000007001000001000000a4ffffff000000000 000000000000000900100000000000004400022430061006c006900620072006900 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 0000000000000000000000000000000000000ca0668f0ca0610000000ccf3ca064cf1 ca0652516032ccf3ca06c4f0ca061000000034f2ca06b0f3ca0624516032ccf3ca06c4f 0ca062000000049642f31c4f0ca06ccf3ca0620000000ffffffff5c1ad200d0642f31fffff fffffff0180ffff0180edff0180ffffffff000000000008000000080000430000000100000 0000000005802000025000000372e9001000000000000000000000000ef0200a07b2 0004000000000000000009f00000000000000430061006c00690062007200000000 00c4f3ca060bf32e3158f6ca0658020000c4f3ca06f8f0ca069c382731060000000100 000034f1ca0634f1ca06e8782531060000005cf1ca065c1ad20064760008000000002 50000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c0000000100 0000180000000c00000000000002540000005400000000000000000000003500000 06f00000001000000cf9d8740888787400000000057000000010000004c000000040 000000000000000000000940f0000de0b0000500000002000000036000000460000 00280000001c0000004744494302000000ffffffffffffffff970f0000dd0b00000000000 04600000014000000080000004744494303000000250000000c0000000e00008025 .hyperplasia dan displasia. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia. tulang rangka. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia. dispneu. 2002. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal.Wheezing unilateral dapat terdengar pada auskultasi. Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. hemoptysis. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk. biasa timbul efusi pleura. PATOFISIOLOGI Menurut Practice Guidelines. dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. dan dingin. khususnya pada hati. Pada stadium lanjut. pericardium. penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase. dinding esofagus.C. otak. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe.Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar.

Ketika batuk dan menarik nafas yang dalam e) Hilang nafsu makan dan berat badan E. Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter dan cenderung menyebar langsung ke kelenjar getah bening hilus. Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat).Tumor ini timbul dari sel – sel Kulchitsky. Metastasis dini ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus. demikian pula dengan penyebaran hematogen ke organ – . Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. Karsinoma epidermoid (skuamosa). komponen normal dari epitel bronkus. Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama bronki. Terletak sentral sekitar hilus. a.D. dinding dada dan mediastinum. KLASIFIKASI KANKER PARU Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma Pleura dan Paru – paru (1977) : 1. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinik pada penderita tumor paru yaitu : a) Batuk yang terus menerus dan berkepanjangan b) Nafas pendek-pendek dan suara parau c) Batuk berdarah dan berdahak d) Nyeri pada dada. atau displasia akibat merokok jangka panjang. b. secara khas mendahului timbulnya tumor. Terbentuk dari sel – sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit. dan menonjol kedalam bronki besar. Perubahan epitel termasuk metaplasia. Karsinoma Bronkogenik.

organ distal. Tumor campuran dan Karsinosarkoma 5). Mesotelioma. Lesi seringkali meluas melalui pembuluh darah dan limfe pada stadium dini. Sarkoma 6). Tak terklasifikasi. 4). 2). .paru perifer. Tumor papilaris dari epitel permukaan. dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala – gejala sampai terjadinya metastasis yang jauh. Adenokarsinoma alveolar). 3). (termasuk karsinoma sel Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. 1). (Price. F. Merupakan sel – sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam – macam. Tumor karsinoid (adenoma bronkus). Melanoma. e. tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat – tempat yang jauh. Lain – lain. Patofisiologi. Karsinoma sel besar. 8). 7). Tumor kelenjar bronchial. Kebanyakan timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang – kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut local pada paru – paru dan fibrosis interstisial kronik. 1995). STADIUM Tabel Sistem Stadium TNM untuk kanker Paru – paru: 1986 American Joint Committee on Cancer. c. d. Sel – sel ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru .

atau karina. T4 Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar limfe regional. atau adanya efusi pleura yang maligna. diafragma. atau dalam jarak 2 cm dari karina tetapi tidak melibat karina. atau korpus vertebra. Metastasis pada mediastinal ipsi lateral atau . Tx TIS T1 T2 T3 Tumor dalam setiap ukuran dengan perluasan langsung pada dinding dada. esofagus. Tumor dalam setiap ukuran yang sudah menyerang mediastinum atau mengenai jantung. Tumor dengan diameter 3 cm atau dalam setiap ukuran dimana sudah menyerang pleura viseralis atau mengakibatkan atelektasis yang meluas ke hilus. trakea. pembuluh darah besar. esofagus. trakea. Metastasis pada peribronkial dan/ atau kelenjar – kelenjar hilus ipsilateral. harus berjarak 2 cm distal dari karina. pleura mediastinalis.Gambaran TNM Tumor primer (T) T0 Defenisi Tidak terbukti adanya tumor primer Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus tetapi tidak terlihat pada radiogram atau bronkoskopi Karsinoma in situ Tumor dengan diameter ≤ 3 cm dikelilingi paru – paru atau pleura viseralis yang normal. koepua vertebra. atau pericardium tanpa mengenai jantung. pembuluh darah besar.

tidak ada Kelompok stadium Karsinoma TxN0M0 tersembunyi . kelenjar – kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral. N3 Sputum mengandung sel – sel ganas tetapi tidak dapat dibuktikan adanya tumor primer atau metastasis. Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu (seperti otak). M1 Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 tanpa adanya bukti metastasis pada kelenjar limfe regional atau tempat yang jauh. Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 dan terdapat bukti adanya metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral. N1 N2 Tidak diketahui adanya metastasis jauh. Tumor termasuk klasifikasi T3 dengan atau tanpa bukti metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral. Metastasis jauh (M) M0 Karsinoma in situ. Kelenjar limfe regional (N) N0 Metastasis pada mediastinal atau kelenjar – kelenjar limfe hilus kontralateral.kelenjar limfe subkarina.

metastasis jauh. Stadium TISN0M0 Stadium T1N0M0 T2N0M0 Stadium T1N1M0 T2N1M0 II Stadium T3N0M0 T3N0M0 IIIa Stadium Setiap T N3M0 setiap NM0 IIIb T4 . I Setiap tumor dengan metastsis jauh. tidak ada metastasis jauh. atau setiap tumor yang termasuk klasifikasi T4 dengan atau tanpa metastasis kelenjar limfe regional. Setiap tumor dengan metastasis pada kelenjar limfe hilus atau mediastinal kontralateral. atau 0 pada kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular.

f) Radionuklide scan terhadap organ-organ lain menentukan luasnya metastase ( otak. Tingkat mortalitas perioperatif sebesar 3 % pada lobektomi dan 6 % pada pneumorektomi.Stadium IV T. 3) Radioterapi paliatif .M1 (Price. tulang. d) Bronkoskopi dapat dilakukan untuk memperoleh sample untuk biopsi dan mengumpulkan hapusan bronkial tumor yang terjadi di cabang bronkus. Tetapi radikal sesuai untuk penyakit yang bersifat lokal dan hanya menyembuhkan sedikit diantaranya. H. e) Aspirasi dengan jarum dan biopsi jaringan paru dapat dilakukan jika pemeriksaan radiologi menunjukkan lesi di paru-paru perifer. PENATALAKSANAAN MEDIK 1) Pembedahan Memiliki kemungkinan kesembuhan terbaik. 2) Radioterapi radikal Digunakan pada kanker paru bukan sel kecil yang tidak bisa di operasi. Setiap G. namun hanya < 25 % kasus yang biasa di operasi dan hanya 25 % diantaranya ( 5 % dari semua kasus ) yang telah hidup setelah 5 tahun. PEMERIKSAAN PENUNJANG ( Barbara. limpa ) g) Mediastinoskopi menentukan apakah tumor telah metastase ke limfe mediastinum. 1998 ) a) Foto dada menunjukkan sisi lesi b) Analisis sputum untuk sitologi menyatakan tipe sel kanker c) Skan tomografi komputer dan tomogram paru menunjukkan lokasi tumor dan ukuran tumor. hepar.1995).setiap N.

6) Perawatan Faliatif Mengurangi dampak kanker. nyeri dada b) Batuk produktif tak efektif c) Suara nafas : Mengi pada inspirasi d) Serak. 4) Kemoterapi Digunakan pada kanker paru sel kecil karena pembedahan tidak pernah sesuai dengan histologi kanker jenis ini. Pemeriksaan fisik 1) Sistem pernafasan a) Sesak nafas. Kebutuhan dasar 1) pola makan : Nafsu makan berkurang karena adanya sekret dan terjadi kesulitan menelan ( disfagia ). PENGKAJIAN 1. Peran kemoterapi pada kanker bukan sel kecil belum jelas. meningkatkan kualitas hidup. sesak yang disertai nyeri dada b. Keadaan umum : Lemah. 5) Terapi endobronkhial Seperti kerioterapi. penurunan BB 2) pola minum : Frekuensi minum meningkat ( rasa haus ) 3) pola tidur : Susah tidur karena adanya batuk dan nyeri dada 4) Aktivasi : Keletihan. sesak nafas atau nyeri lokal. I.Untuk hemoptisis. batuk. paralysis pita suara . tetapi laser atau penggunaan stent dapat memulihkan gejala dengan cepat pada pasien dengan penyakit endobronkhial yang signefikan. Pengumpulan data a. kelemahan c.

Untuk melihat tumor di percabangan bronkus. Menggambarkan bentuk. ukuran dan lokasi lesi. Data penunjang a) Foto rontgen dada secara posterior-anterior Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. disritmia b) Menunjukkan pericardial ) efusi ( gesekan 3) Sistem gastrointestinal a) Mual.2) Sistem kardiovaskuler a) Takikardia. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus. c) CT-Scanning untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura d) MRI Untuk menilai kelainan tumor yang menginvasi kedalam . b) Bronkhografi. atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra. BB menurun 4) Sistem urinarius Peningkatan frekuensi / jumlah urine 5) Sistem neurologis a) Perasaan takut / takut hasil pembedahan b) Kegelisahan a. effuse pleural.muntah b) Kesulitan menelan c) Penurunan intake makanan.

pemeriksaan 3-5 berturut-turut. mediastinum. b) Trans Torakal Biopsi ( TTB ) Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm. medula spinal. Supraklavikula. f) Pemeriksaan Sitologi : Pemeriksaan sitologi sputum rutin dikerjakan terutama bila pasien ada keluhan batuk. aspirasi kelenjar getah bening servikal.dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui). pencucian bagian. pemeriksaan sputum yang baik dapat memberikan hasil positif sampai 67-85 % pada karsinoma sel skuamosa. Dianjurkan e) Waktu pemeriksaan sputum ( sputum harus segar ) Pada kanker paru yang letaknya sentral. Insiden tumor Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC). sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %.vertebrata. e) Bone scanning Pemeriksaan ini diperlukan bila diduga ada tanda-tanda metastasis ke tulang. . bilasan dan sikatan bronkus pada bronkoskopi. g) Pemeriksaan Histopatologi Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas diagnosis kanker paru untuk mendapatkan spesimennya dapat dengan cara biopsi melalui : a) Bronkoskopi Memungkinkan visualisasi. Pemeriksaan sitologi tidak selalu memberikan hasil positif karena ia tergantung dari : a) Letak tumor terhadap bronkus b) Jenis tumor c) Tekhnik mengeluarkan sputum d) Jumlah sputum yang diperiksa. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada cairan pleura.

Dan/atau obat-obat penghilang rasa nyeri yang dapat mengganggu kemampuan untuk membersihkan sekresi.2000 1. Resiko terhadap Bersihan Jalan Napas Tak efektif berhubungan dengan Peningkatan jumlah sekresi akibat dari manipulasi pembedahan. 2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan terapi radiasi kranial 7. Resiko Tinggi terhadap Disfungsi Neurovaskuler Perifer berhubungan . faktor psikologis. d) Mediastinoskopi Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat dapat dilakukan dengan cara mediastinoskopi dimana mediastinoskopi dimasukkan melalui insisi supra sternal. 8. Hasil biopsi memberikan nilai positif 40 % dari studi lain nilai negatif palsu pada mediastinoskopi di dapat sebesar 3-12 ( diikuti dengan torakotomi ). terpasangnya jalan napas buatan yang menghambat kemampuan untuk membersihkan sekresi. Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan krisis situasi. proses penyakit kronis 5.c) Torakoskopi Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi. ancaman untuk/perubahan status kesehatan. 4. J. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder. Kerusakan Pertukaran Gas Berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dari paru dengan permukaan yang terkena karena kanker atau pneumonia. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Danielle Gale. e) Torakotomi Untuk diagnosis kanker paru dikerjakan bila berbagai prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor. Perubahan Nutrisi Kurang dari kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Tidak mampu mencerna makanan yang masuk secara adekuat karena lokasi tumor dan penanganan tumor seperti kemoterapi dan/atau terapi radiasi. Perubahan proses Pikir berhubungan dengan Sindrom SSP (susunan saraf pusat) dan/atau peningkatan tekanan intracranial sekunder terhadap terapi radiasi cranial. 6.takut mati. 3. menurunnya tingkat kesadaran karena anesthesia.

dan/atau ulserasi.dengan kerusakan saraf Karena kemoterapi. Resiko terhadap Konstipasi berhubungan dengan Neurotoksistas dari agen kemoterapi alkaloid vinka seperti vinblastine dan viankritisne. terutama agen alkaloid vinka seperti vincristine dan vinblastine dan agen lainnya seperti ciplatin.2000 dan Lynda Juall Carpenito. 10. stomatitis dengan kemoterapi/ radiasi yang mukolitis. 9. Kaji adanya anoreksia. Nyeri berhubungan dengan parestesia menyakitkan karena agen kemoterapi. mempengaruhi mukosa oral atau gastrointestinal yang membuat pencernaan makanan menjadi sulit. Diare berhubungan dengan Perubahan pada membrane mukosa kolon dan usus besar.2000 1. taxol. muntah Berat badan turun Mengeluh masukan makan kurang Cepat merasa kenyang Tidak mampu makan sehubungan dengan dipsnea atau keletihan. 11. Memberikan Kaji makanan yang disukai dan/atau informasi untuk . FOKUS INTERVENSI Menurut Danielle Gale. procarbazine. Batasan Karakteristik : a) b) c) d) e) f) Kriteria hasil : Pasien makan cukup makanan untuk mempertahankan berat badan dalam 5% berat badan dasar. Intervensi Rasional Anoreksia Mual. mual. K. nyeri mulut. Perubahan Nutrisi Kurang dari kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Tidak mampu mencerna makanan yang masuk secara adekuat karena lokasi tumor dan penanganan tumor seperti kemoterapi dan/atau terapi radiasi. Dispepsia. muntah Tanda dan gejala yang berhubungan (berapa kali dan jumlah). Definisi : Suatu keadaan di mana individu yang tidak puasa mengalami atau yang berisiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan yang takadekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik. atau disfagia.

yang tidak disukai. penurunan massa otot/jaringan. pada metabolisme tubuh dan jeratanjeratan nutrient dengan memecah sel tumor secara cepat. jika ada Meningkatkan pemasukan makanan. Mencegah distensi berlebihan dari lambung yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada diafragma. Tawarkan makanan sedikit tapi sering. iritasi. Menurukan stimulus pada pusat muntah dan mengurangi mual berkaitan dengan peningkatan waktu tidur. kelemahan. anjurkan pasien untuk makan saat tidak merasa lapar. Kaji adanya rasa cepat kenyang. dan Berikan perawatan mulut sebelum amat nyeri yang membuat kesulitan makan dan/atau anesthesia local/topical untuk makan. Stomatis dari kemo/radioterapi dapat menyebabkan mukosa kering. Berikan makan. yang membuat kesulitan bernapas. Akibat dari pengaruh metabolik tumor kakeksia. perencanaan diet. Berikan kemoterapi saat malam hari. jika ada masalah nyeri mulut/oral. Meningkatkan kelembaban dalam rongga mulut yang merupakan efek Tawarkan saliva buatan jika ada maslah samping dari radiasi. mulut kering. Kaji penurunan berat badan. . obat antiemetik sebelum Mencegah mual dan muntah dan meningkatkan pemasukan makanan yang adekuat.

Kerusakan Pertukaran Gas Berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dari paru dengan permukaan yang terkena karena kanker atau pneumonia.Memberikan kalori dan masukan protein tinggi untuk mempertahankan cadangan protein dan Tawarkan kudapan dengan tinggi protein kalori. Dipsnea Hipoksia Gelisah Gas darah abnormal Intervensi Rasional Kaji frekuensi. mungkin mengindikasikan distress pernapasan dan memerlukan intervensi segera. atau menggunakan otot-otot aksesoris menggunakan otot-otot Bantu napas dan/atau sianosis. Definisi : Keadaan di mana seorang individu mengalami penurunan jalannya gas ( oksigen dan karbondioksida ) yang aktual ( atau dapat mengalami potensial ) antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular. Batasan Karakteristik : a) b) c) d) Kriteria Hasil : Oksigenasi jaringan dapat dipertahankan. . dan/atau cairan pengganti yang mudah di konsumsi. pernapasan. Perubahan dalam pola dan/atau frekuensi dan mudah timbul dispnea. dispnea. mencegah keletihan. 2. kedalaman pernapasan. sianosis.

Meningkatkan potensi ventilasi secara Anjurkan minum minimal 2 liter per maksimal. suara-suara tambahan seperti mengi. gelisah. hari. Meningkatkan Biasanya dengan kanula 2-3 L/menit. kendali pernapasan. ronki. Adanya hal-hal ini mungkin mengindikasikan penurunan oksigenasi jaringan otak. dilakukan. Membantu untuk mengeluarkan sekresi.Suara napas menurun/hilang mengindikasikan kolaps paru atau Auskultasi suara napas. Kaji perubahan kesadaran. dalam. potensial ventilasi . status Difusi dan pertukaran O² dan CO² dipengaruhi jika ketersediaan permukaan jaringan berkurang atau menurun dan mungkin mengakibatkan Kaji hasil analisa gas darah jika ketidakseimbangan asam asam basa yang memerlukan intervensi segera. maksimum. Peningkatan masukan cairan diperlukan untuk menghilangkan sekresi dan lebih Anjurkan untuk batuk efektif dan napas mudah untuk membatukkannya. pake rangsang. Membantu mempertahankan oksigenasi Berikan posisi semi Fowler atau Fowler jaringan adekuat tanpa menekan pusat tinggi atau izinkan untuk duduk di kursi. kaji penurunan adanya suara tambahan mengindikasikan atau hilangnya ventilasi. Berikan Oksigen sesuai kebutuhan. mental. dan adanya kebutuhan intervensi tambahan.

Berikan antibiotik sesuai pesanan 3. . Risiko terhadap Bersihan Jalan Napas Takefektif berhubungan dengan Peningkatan jumlah sekresi akibat dari manipulasi pembedahan. Batasan karakteristik : a) b) c) d) e) f) g) Suara napas abnormal (rale. Definisi : Suatu keadaan di mana seseorang individu mengalami suatu ancaman yang nyata atau potensial pada status pernapasan. Berikan aerosal atau pengobatan nebulizer sesuai kebutuhan Berikan brokodilator sesuai kebutuhan. terpasangnya jalan napas buatan yang menghambat kemampuan untuk membersihkan sekresi. ronki) Frekuensi dan kedalaman pernapasan menurun Takikardia Batuk tidak efektif Sianosis Dipsnea Nyeri yang menghambat kemampuan untuk batuk Kriteria hasil : kecepatan pernapasan kembali pada batas-batas normal dengan jalan napas paten. Dan/atau obat-obat penghilang rasa nyeri yang dapat mengganggu kemampuan untuk membersihkan sekresi.Meningkatkan terbukanya jalan napas. Infeksi muncul dan hilang secara teratur pada permukaan paru karena adanya pertukaran gas. krekels. menurunnya tingkat kesadaran karena anesthesia.

. Membantu pasien/keluarga dalam Instruksikan pasien dan/atau keluarga mempertahankan kepatenan jalan napas tentang risiko penghisapan mulut ketika pemberi asuhan/pelayanan dan/atau nasotrakeal sesuai kebutuhan.Intervensi Rasional Tentukan kebutuhan akan Mungkin sangat diperlukan penghisapan oral dan/atau trakea. Tindakan untuk mencegah penurunan saturasi dan trauma yang berlebihan Gunakan penghisap dengan risiko selama melakukan tindakan penghisapan dimana lapisan mukosa sedikit terkena nasofaringeal. Gunakan alat-alat steril untuk setiap prosedur penghisap nasofaring. untukmempertahankan terbukanya jalan napas. Pilih kateter dengan diameter setengah dari diameter jalan napas. selama dan setelah nasotrakel masukan jalan napas nasal. penggunaan oksigen tambahan sesuai kebutuhan. kesehatan tidak ada. hisapan tersebut. tampak adanya ektopik ventrikel dan/atau penurunan saturasi oksigen. Meningkatkan kepatuhan Instruksikan pasien dan/atau keluarga terhadap pentingnya dilakukan penghisapan. nasotrakeal masukan jalan napas nasal. Memantau oksigen sebelum. Tanda-tanda yang mengindikasikan distres pernapasan dan/atau jantung berkaitan dengan kekurangan oksigen. jika Instruksikan pasien untuk mengambil Untuk penggunaan penghisap napas sebelum. Mencegah penghantaran infeksi bacteria kedalam paru yang dapat menimbulkan infeksi. Hentikan penghisapan dan berikan suplemen oksigen jika pasien memperlihatkan adanya brakardia. dan sesudah tindakan. Mengetahui /menemukan Auskultasi pengunaan penghisap penghisapan itu efektif. selama.

4. proses penyakit kronis Definisi : peningkatan resiko dikarenakan mikroorganisme patogenik Kriteria hasil : Mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam intervensi untuk mencegah/mengurangi resiko infeksi Tetap tidak demam dan mencapai pemulihan tepat pada waktunya . Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder.

membatasi entri portal terhadap agen Tekankan pentingnya higiene oral infeksius. mengalami ISK. misalnya efek samping kemoterapi. Pengenalan diri dan intervensi terhadap segera dapat mencegah progresi pada situasi/sepsis yang lebih serius. Tekankan higiene personal. mengidentifikasi pasien imunosupresi. Menurunkan resiko kontamonasi. invasif. Ubah posisi sering. Panta suhu. seperti pangunjung dan staf pengunjung. proses penyakit atau infeksi.Intervensi Rasional Tingkatkan prosedur mencuci tangan Lindungi pasien dari smber-sumber yang baik dengan staf dan infeksi. Berikan antibiotik sesuai indikasi. Kaji semua sistem tanda/gejala infeksi. baik. Menurunkan tekanan dan iritasi pada jaringan dan mencegah kerusakan kulit (sisi potensial untuk perkembangan bakteri). Mungkin digunakan untuk Batasi/hindari prosedur Taati tehnik aseptik. infeksi atau diberikan secara profilaktik pada . Peningkatan suhu terjadi karena berbagi faktor. Membantu potensial sumber infeksi dan/ pertumbuhan sekunder. Terjadinya stomatitis meningkatkan risiko terhadap infeksi. pertahankan linen kering dan bebas kerutan.

d) Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif. b) Mengakui dan mendiskusikan takut. c) Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani.takut mati. Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan krisis situasi. .5. ancaman untuk/perubahan status kesehatan. Kriteria hasil : a) Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya. Definisi : Keadaan di mana individu/ kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom dalam berespons terhadap ancaman yang tidak jelas. faktor psikologis.

Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan. Rasional Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.Intervensi Observasi peningkatan gelisah. . meditasi. emosi labil. bimbingan imajinasi. Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol. 6. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi. Kurang pengetahuan berhubungan dengan terapi radiasi pada dada untuk kanker paru. Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi. Identifikasi persepsi klien ancaman yang ada oleh situasi terhadap Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu. Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi. Definisi : Suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalamindefisiensi pengetahuan kognitif atau keterampilanketerampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan.

waktu. sekresi bronchial yang kental. Jelaskan efek samping yang mungkin Berkaitan dengan efek terapi dari terapi radiasi pada dada. Intervensi Rasional Kaji pengetahuan tentang rencana Memberikan informasi untuk pengobatan terapi radiasi dan mengembangkan rencana pengobatan kemungkinan efek sampingnya. orientasi realitas. pneumotitis (1-3 bulan setelah pengobatan). 7. rambut rontok.Batasan Karakteristik : Pasien mengeluh kurang pengetahuan dan/atau bertanya tentang pengobatan terapi radiasi yang bakan dijalaninya. pengobatan tersebut. pengobatan dimulai). Kriteria Hasil : Pasien dapat mendiskusikan kemungkinan efek samping dari penanganan radiasi pada dada dan bagaimana mengatasinya jika efek samping ini timbul/terjadi. Definisi : Keadaan di mana individu mengalami suatu gangguan dalam aktivitas mental seperti berpikir sadar. penilaian dan pemahaman yang . perikarditis. tujuan dari hari sekitar pengobatan. mielitis (jangka lama). berdasarakan kebutuhan pasien. disfagia dan esofagitis ( 3 minggu setelah jaringan sekitarnya. reaksi kulit pada daerah tersebut radiasi secara fisik pada lapang paru dan (7-10 hari setelah pengobatan). Beritahu pasien/kelurga kapan Informasi kebutuhan pasien/keluarga pengobatan akan dimulai. Perubahan proses Pikir berhubungan dengan Sindrom SSP (susunan saraf pusat) dan/atau peningkatan tekanan intrakranial sekunder terhadap terapi radiasi kranial. pemecahan masalah. untuk merencanakan aktivitas seharilamanya pengobatan. fibrosis pulmonal.

. Berikan keyakinan yang optimis tetapi Meningkatkan adaptasi pada perubahan realistis pada keluarga dan pasien. mual. status mental Meningkatkan orientasi pasien. Pantau status neurologis secara terus Radiasi kranial dapat menyebabkan menerus.berhubungan dengan koping. muntah. kepala. lebih lanjut. dan sakit otak yang mengalami trauma. Hindari aktivitas yang meningkatkan Mencegah trauma atau kerusakan otak tekanan intracranial. sindrom SSP yang mengakibatkan perubahan pada status mental. Batasan Karakteristik : a) Memori hilang b) Tremor c) Somnolen d) Bicara tidak jelas e) Tidak mampu belajar f) Sakit kepala g) Perubahan pengelihatan h) Mual dan muntah Kriteria hasil : Pasien dan/atau keluarga atau orang terdekat mampu mengidentifikasi perubahan status mental yang perlu untuk dilaporkan pada tim tenaga kesehatan. Intervensi Rasional Kaji tanda dan gejala peningkatan Radiasi cranial dapat menyebabkan tekanan intracranial (TIK) perubahan proses pembengkakan pada jaringna pengelihatan.

Keruskan saraf dari alkaloid vinca dapat menggangu kemampuan penerimaan stimulus taktil. berjalan. Intervensi Rasional Pantau terhadap parestesia : kebas. penempatan bagian tubuh tertentu. . karena demielinisasi dan degenerasi akson saraf. terutama agen alkaloid vinka seperti vincristine dan vinblastine dan agen lainnya seperti ciplatin. keseimbangan. Kerusakan saraf dari alkaloid vinca mungkin dapat menyebabkan perubahan Kaji fungsi propriosepsi seperti gaya pada fungsi propriosepsi. kelemahan otot atau atrofi otot. 8. Definisi : Suatu keadaan di mana seorang individu berisiko mengalami suatu gangguan sirkulasi.Kaji orientasi dan orientasikan kembali sesuai kebutuhan. Risiko Tinggi terhadap Disfungsi Neurovaskuler Perifer berhubungan dengan kerusakan saraf Karena kemoterapi. sensasi. atau gerakan ekstremitas. procarbazine. Parastesia dari alkaloid vinca mungkin kesemutan sebelum setiap dosis obat. taxol. Pantau respons pada rangsang taktil. refleks tendon dalam. Batasan karakteristik : a) Pasien mengeluh hilangnya gerakan motorik halus b) nyeri terbakar pada ekstremitas c) baal pada ekstremitas d) gangguan berdiri Kriteria hasil : perubahan persepsi/sensori akan terdeteksi secara dini dan rasa tidak nyaman dan/atau hilang fungsi darinya akan minimal.

9. Nyeri berhubungan dengan parestesia menyakitkan karena agen kemoterapi. Meningkatkan kemandirian dengan memaksimalkan fungsi yang ada. Definisi : Keadaan di mana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam berespons terhadap suatu rangsangan yang berbahaya. .Beritahu dokter jika ada perubahan pada Meningkatkan identifikasi dini terhadap status neurologist. Batasan Karakteristik : a) Pasien mengeluh terasa terbakar b) Kesemutan c) Nyeri gesekan pada ekstremitas Kriteria Hasil : Nyeri pasien akan menurun Intervensi Rasional Kaji tingkat kenyamanan dan adanya Memberikan informasi penting untuk kesemutan hebat atau sensasi gesekan. hidup sehari-hari yang memerlukan bantuan seorang profesionalisme untuk memaksimalkan fungsi tersebut. Diskusikan dampak dari perubahan neurologis terhadap aktivitas sehari-hari dan kebutuhan yang mungkin dan/atau terapi fisik. Gangguan sensori dapat mempengaruhi Rujuk dengan tepat pada terapi okupasi kemampuan untuk melakukan aktivitas atau terapi fisik. efek samping obat atau agen tertentu yang mungkin mengakibatkan penghentian atau penurunan dosis obat yang diberikan.

Identifikasi factor-faktor presipitasi seperti texrpajan panas atau dingin dan cara-cara menghindarinya. catat intensitas. Panas dan/atau dingin meningkatkan rasa nyeri. nyeri meliputi obat-obatan dan teknik lain yang bermanfaat pada nyeri neuropatik. natrium fenitoin (Dilantin). dan lain-lain. masase. kualitas dan frekuensi dari sensasi tersebut. mengembangkan rencana perawatan. waktu. . Tindakan-tindakan tersebut mungkin bermanfaat dalam menghilangkan nyeri yang resisten pada metode penanganan Instruksikan pasien/keluarga tentang nyeri tradisional seperti obat-obat nyeri tindakan-tindakan untuk menghilangkan non-narkotik dan narkotik.kram atau rasa terbakar. sperti bimbingan imajinasi. Agen-agen ini diindikasikan pengobatan nyeri disestetik. Berikan analgesic dengan kerja neurologist seperti amitriptilin HCI (Elavil). Nyeri neuropatik lebih sulit untuk hilang dan menggunakan penggunaan tindakan penghilang nyeri non-tradisional Beritahu pasien/keluarga mengenai dosis. frekuensi dari obat-obat nyeri yang diresepkan dokter dan bahwa efek dari medikasi itu mungkin tidak segera Meningkatkan penggunaan obat yang benar untuk keuntungan maksimum. dalam dapat Tawarkan pasien tindakan-tindakan nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri . relaksasi otot progresif.

Definisi : Keadaan di mana individu berada pada risiko mengalami status usus besar. Pantau bising usus dan/atau proses defekasi. mengeluh konstipasi. Resiko terhadap Konstipasi berhubungan dengan Neurotoksistas dari agen kemoterapi alkaloid vinka seperti vinblastine dan viankritisne. yang mengakibatkan jarang eliminasi dan/atau feses keras dan kering. untuk Meningkatkan kandungan cairan lebih Anjurkan masukan cairan per hari 2-3 tinggi pada feses untuk kemudahan liter. Intervensi Kaji pola eliminasi defekasi. Mencegah ileus paralitik melalui . Anjurkan makan tinggi serat Degredasi serat dalam kolon membantu dalam membentuk dan pasase feses.10. Memberikan informasi memformulasikan perencanaan. pasase. Batasan Karakteristik : lebih umum dengan vineristine dan/atau vinblastine dosis tinggi (20 mg). Anjurkan latihan teratur. dapat mengarah pada ileus paralitik dengan nyeri abdomen berat. Kriteria Hasil : Pasien akan mempunyai pola defekasi teratur. Rasional Memberikan informasi dasar. Meningkatkan kerja propulsif usus.

Intervensi Ambil fese untuk kultur dan sensitivitas Memberikan infeksi. Rasional informasi mengenai Evaluasi sifat pengobatan mempunyai efek samping gastrointestinal. Mencegah penggunaan obat-obat yang yang dapat menyebabkan diare. pada Pantau kulit pada daerah perineal Meningkatkan perawatan kulit terhadap kemungkinan iritasi dan mungkin dapat mencegah infeksi ulserasi. Berikan laksatif jika tidak dapat defekasi paling sedikit satu kali sehari.defekasi regular. dan . Diare berhubungan dengan Perubahan pada membrane mukosa kolon dan usus besar. Batasan Karakteristik : a) Feses cair b) sering defekasi c) desakan defekasi Kriteria Hasil : pasien mengungkapkan pemahamannya tentang strategi koping pada efek samping ini. Definisi : Keadaan di mana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami defekasi sering dengan feses cair. atau feses tidak berbentuk. 11.

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II. Jakarta : EGC . Jilid II. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Danielle dkk. J. Barbara. 2000. patrick. Edisi 3.dkk. Jakarta : EGC Long.E. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Suyono. 2003. Patologi Umum & Sistemik Edisi 2. 2000. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. hood. At a Giance Medicine. informasi DAFTAR PUSTAKA Alsagaaff. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah volume I. 1996.Timbang berat badan secara reguler Memberikan mengenai diet yang adekuat. Aru W dkk. 1999.C.Lynda Juall. Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses Holistik. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran Sudoyo. Slamet. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8 : Jakarta. Surabaya : Airlangga Carpenito. Jakarta : EGC Gale. Jakarta : Erlangga Engram. 1998. EGC Davey. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Underwood.2001. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. Barbara C. 1993. 2006.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful