BAB I KONSEP DASAR MEDIS CA MAMAE A.

PENGERTIAN Kanker merupakan buah dari perubahan sel yang mengalami pertumbuhan tidak normal dan tidak terkontrol. Peningkatan jumlah sel tak normal ini umumnya membentuk benjolan yang disebut tumor atau kanker. Tidak semua tumor bersifat kanker. Tumor yang bersifat kanker disebut tumor ganas, sedangkan yang bukan kanker disebut tumor jinak. Tumor jinak biasanya merupakan gumpalan lemak yang terbungkus dalam suatu wadah yang menyerupai kantong, sel tumor jinak tidak menyebar ke bagian lain pada tubuh penderita. ( http;//tategea.blog.friendster.com/2007/12/ca-mamae ) Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. ( Erik T, 2005, hal : 39-40 ) Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari selsel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. ( http//www.pikiranrakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Harianto, dkk ) Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. ( Harianto dkk, 2005 ) Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. ( blogdokter, 2007) Kanker payudara adalah kanker yang relatif sering dijumpai pada wanita merupakan penyebab kematian utama pada wanita berusia antara 45 dan 64 tahun ( Elizaberth J. Corwin, 2000 ) B. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. Faktor presipitasi dan faktor predisposisi a. Faktor presitipasi Belum diketahui b. Faktor predisposisi 1) Riwayat pribadi tentang kanker payudara. Risiko mengalami kanker payudara pada payudara sebelahnya meningkat hampir 1 % setiap tahun. 2) Anak perempuan atau saudara perempuan (hubungan keluarga langsung) dari wanita dengan kanker payudara.

Resikonya meningkat dua kali jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun. Resiko meningkat 4 sampai 6 kali jika kanker pyudara terjadi pada dua orang saudara langsung. 3) Menarke dini. Resiko kanker payudara meningkat pada wanita yang menglami menstruasi sebelum usia 12 tahun. 4) Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama. Wanita yang mempunyai anak pertama setelah usia 30 tahun mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara di banding dengan wanita yang mempunyai anak pertama mereka pada usia sebelum 20 tahun. 5) Menopause pada usia lanjut. Menoupouse setelah usia 50 tahun meningkatkan resiko untuk mengalami kanker payudara. Dalam perbandingan, wanita yang telah mengalami oovorektomy bilateral sebelum usia 35 tahun mempunyai resiko 1/3 nya. 6) Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel ploriferatif mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara, wanita mengalami dengan hyperplasia tipikal mempunyai resiko empat kali lipat untuk mengalami penyakit ini. 7) Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun berisiko hampir dua kali lipat. 8) Obesitas resiko rendah diantara wanita pasca menopause. Bagaimanapun, wanita gemuk yang di diagnose penyakit ini mempunyai angka kematin lebih tinggi yang paling seringberhubungan dengan diagnosis yang lambat. 9) Kontraseptif oral. Wanita yang menggunakan kontraseptif oral beresiko tinggi untuk mengalami kanker payudara. Bagaimanapun resiko tinggi ini menurun dengan cepat setelah penghentian medikasi. 10) Terapi penggantian hormone. Terdapat laporan yang membingungkan tentang risiko kanker payudara pada terapi penggantian hormone. Wanita yang berusia lebih tua yang menggunakan estrogen. 11) Masukan alcohol. Sedikit peningkatan resiko ditemukan pada wanita yang mengkonsumsi alcohol bahkan hanya dengan sekali minum dalam sehari. Resikonya dua kali lipat diantara wanita yang minum alcohol tiga kali sehari. Beberapa temuan riset menunjukan bahwa wanita muda yang minum alcohol lebih rentan untuk mengalami kanker payudara pada tahun-tahun terakhirnya. (Brunner and

Suddarth 2002) C. PATOFISIOLOGI Neoplasma berarti “pertumbuhan baru” adalah massa abnormal dari selsel yang mengalami proliferasi sel-sel neoplasma berasal dari sel-sel yang sebelumnya adalah sel-sel normal, namun selama mengalami perubahanperubahan neoplastik mereka memperoleh derajat otonomi tertentu yaitu sel neoplastik tumbuh dengan kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang sangat tidak bergantung pada pengawasan homeostatis sebagian besar sel tubuh lainnya. Pertumbuhan sel neoplasmatik biasanya progresif yaitu tidak mencapai keseimbangan, tetapi lebih banyak mengakibatkan penambahan massa sel yang mempunyai sifat-sifat yang sama neoplasma tidak melakukan tujuan yang bersifat adaptasi yang menguntungkan hospes tetapi lebih sering membahayakan. Akhirnya oleh karena sifat otonom sel neoplastik, walaupun rangsangan yang menyebabkan neoplasma sudah dihilangkan neoplasma terus tumbuh dengan progresif. Istilah tumor kurang lebih merupakan sinonim dari istilah neoplasma, semula istilah tumor diartikan secara sederhana sebagai pembengkakan/gumpalan dan kadang-kadang istilah “Tumor Sejati” dipakai untuk membedakan neoplasma dengan gumpalan lainnya. Neoplasma dapat dibedakan berdasarkan sifat-sifatnya. Ada yang jinak, adapula yang ganas dan ada banyak tumor atau neoplasma lain yang tidak bersifat kanker ( C.J.H Van de velde dkk. 2000 ) Pemeriksaan Penunjang : 1. Histologi dan sitologi a. Eksisi ataupun giopsi b. Aspirasi jarum halus c. Hapusan sitologi Pentahapan patologi didasarkan pada histology memberikan prognosis yang lebih akurat. Tahap-tahap yang penting diringkaskan berikut ini: 1. Tahap I : terdiri atas tumor yang kurang dari 2 cm, tidak mengenai nodus limfe, dan tidak terdeteksi adanya metastasis. 2. Tahap II : terdiri atas tumor yang lebih besar dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm, dengan nodus limfe tidak terfiksasi negative atau positif, dan tidak terdeteksi adanya metastasis. 3. Tahap III : terdiri atas tumor yang lebih besar dari 5 cm, atau tumor dengan sembarang ukuran yang menginvasi kulit atau dinding, dengan nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular, dan tanpa bukti adanya metastasis.

dan adanya metastasis jauh. karsinoma intraduktal. dengan nodus limfe normal atau kankerosa. dan Metastasis (Pentahapan TNM) Tahap 0 Tis N0 M0 Tahap I T1 N0 M0 Tahap IIA T0 N1 M0 T1 N1 M0 T2 N0 M0 Tahap IIB T2 N1 M0 T3 N1 M0 Tahap IIIA T0 N2 M0 T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N1 M0 T3 N2 M0 Tahap IIIB T4 Sembarang N M0 Sembarang T N3 M0 Tahap IV Sembarang T Sembarang N M1 Keterangan: Tumor Primer (T) : • T0 : Tidak ada bukti tumor primer • Tis : Karsinoma In Situ. Tahap IV : terdiri atas tumor dalam sembarang ukuran. Nodus. Pentahapan Kanker Payudara Berdasarkan Tumor.4. atau penyakit Paget’s putting susu dengan atau tanpa tumor • T1 : Tumor < 2 cm dalam dimensi terbesarnya • T2 : Tumor > 2 cm tetapi tidak > 5 cm dalam dimensi terbesarnya • T3 : Tumor > 5 cm dalam dimensi terbesarnya . karsinoma lobular in situ.

Kerusakan DNA Sel normal Menonaktifkan gen supresor kanker Adiopatik Neoplasma ganas apoptosis Pengaruh gen yang Genom MutasiPerubahan struktur dalam mengatur gen yang meningkatkan pertumbuhan sel somatic Karsinogen oksigen Agen perusak DNA Kimia Radiasi Virus Fakto predisposisi Riwayat kanker payudara Keturunan Menarke dini • T4 : Tumor sembarang ukuran dengan Nulipara ukuran perluasan ke dinding dada atau kulit. Neroupouse setelah usia 50 tahun Nodus Limfe Regional (N) Riwayat penyakit payudara jinak N0 : Tidak ada metastasis nodus limfe regional • N1 : metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral (S) yang dapat digerakan. • N2 : metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral (s) terfiksasi pada satu sama lain atau pada struktur lainnya • N3 : metastasis ke nodus limfe mamaria internal ipsilateral Matastasis Jauh (M) • Tidak ada metastasis yang jauh • M1 : metastasis jauh (termasuk metastasis ke nodus limfe supraklavikular ipsilateral) (Brunner and Suddarth 2002) • PATHWAY .

Merusak organ tubuh mamae .

Kelemahan.dibawah ketiak bentuknya tak beraturan dan jauh Metastase terfiksasi. biasa di kwadran atas bagian dalam. e. mual muntah. Perubahan tekanan darah. darah. Nyeri luka oprasi. Anoreksia.com) Manifestasi klinis post oprasi : a. Bosman.J. g. D. Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena). 2) Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara.T. e. saraf d. Nyeri diHepar massa. Adanya kerusakan dan retraksi pada area putting. semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor. 3) Mastektomi radikal yang dimodifikasi. c. cairan encer padahal ibu tidak sedang hamil / menyusui. Ada dua cara yaitu dengan Pembedahan dan Non Pembedahan. tarikan dan refraksi pada areola otak mammae.H Van de velde.2002 jeruk). 2000) 3. Pengelupasan f. Pembedahan : 1) Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Adanya tulang lekukansumsum tulang ke dalam. Penatalaksanaan 1. F. gejala kanker payudara yaitu: a.Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV ganas ak mengenai nodus limfe dan tidak terdeteksi adanya metastasis i kurang dari 5 cm dengan nodus limfe tidak terfiksasi negative atau positif dan tidak terdeteksi adanya metastasis Terdiri atas tumor dalam 2. antara lain: a.Th. Seluruh payudara. h. Terdapat massautuh kenyal. d. semua atau sebagian besar jaringan dan luasnya .J. Edema dengan “peant d’ orange (keriput seperti kulit kulit Brunner & Suddarth. ( http://ppni-klaten 2009. Perubahan bising usus (efek anestesi). pleura C. Manifestasi Klinik sembarang ukuran dengan nodus limfe normal atau kankerosa dan adanya metastase jau u tumor dengan sembarang ukuran yang menginvasi kulit atau dinding dengan nodus limfe terfiksasi positif dalam area klavikular da Gejala yang ditimbulkan tergantung dari asal tumor primer serta arah penyebaran tumor. Perubahan bentuk dan besar payudara. Keluar cairan abnormal dari putting susu berupa nanah. Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi. f.Wagener 2000 papilla mammae. daerah paru-paru c. b. b. Perubahan eliminasi. Keterbatasan aktifitas. (Bruner and suddart. g.

Non pembedahan : 1) Penyinaran Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut. pada metastase tulang.com) 2. paliatif pada penyakit yang lanjut. metastase kelenjar limfe aksila. sifat massa dibedakan antar kistik atau padat 3) True cut / Care biopsy Dilakukan dengan perlengkapan stereotactic biopsy mamografi untuk memandu jarum pada massa 4) Incisi biopsy 5) Eksisi biopsy Hasil biopsi dapat digunakan selama 36 jam untuk . 3) Terapi hormon dan endokrin Kanker yang telah menyebar. 2) Kemoterapi Adjuvan sistematik setelah mastektomi. memakai estrogen. antiestrogen. Test diagnostik lain : 1) Non invasive : a) Mamografi b) Ro thorak c) USG d) MRI e) PET 2) Invasif : a) Biopsi. Test fal marker (CEA) dalam serum/plasma. (http://ppni-klaten 2009. seluruh isi aksial. Pemeriksaan Penunjang a. ada 2 macam tindakan menggunakan jarum dan 2 macam tindakan pembedahan b) Aspirasi biopsy (FNAB) Dengan aspirasi jarum halus . otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya. b. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah. Pemeriksaan sitologis b. LED.aksial a) Mastektomi radikal : Seluruh payudara. androgen. coferektomiadrenalektomi hipofisektomi. b) Mastektomi radikal yang diperluas : Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna.

ancaman kematian.penurunan status nutrisi dan anemia . inflamasi) efek samping berbagai agen terapi saraf. Pasien mampu menunjukan . Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (destruksi jaringan saraf.inflamasi ) efek samping berbagai agen terapi saraf.Doenges 2002 adalah : a. fungsi peran.anoreksia E. pola interaksi. DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA KANKER 1. b.mual atau muntah. perpisahan dari keluarga.efek samping kemoterapi. FOKUS INTERVENSI : 1.dilakukan pemeriksaan histologik secara froxen section. f.suplai vaskuler. suplai vaskuler. c.com) D. Kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi keterbatasan kognitif. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kanker payudara menurut Marlynn E.status hipermetabolik . (http://ppni-klaten 2009. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (destruksi jaringan saraf. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi perubahan pada status kesehatan. Pasien mampu istirahat / tidur dengan tepat 3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekutnya masukan oral karena mual. d. penurunan berat badan. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya cairan yang berlebih. . penularan perasaan interpersonal h.tindakan invasif dan malnutrisi e.kehilangan rambut. Pasien merasakan perasaan nyeri hilang / terkontrol 2. g. infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan.Tujuan : kebutuhan rasa nyaman pasien terpenuhi .Kriteria 1. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah. Resiko tinggi keruskan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemoterapi.

meningkatkan relaksasi. 3. Tentukan riwayat nyeri. dengarkan secara aktif dan beri dukungan. . Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi keefektifan evaluasi 9. Membantu mengevaluasi derajat karateristik intensitas ( 0-10 ).dan meningkatkan kemampuan koping.penggunaan ketrampilan relaksasi. 3. Berikan obat sesuai indikasi (analgetik). Dorong pasien menyatakan masalah. Mencegah pengeringa mukosa oral dan ketidak nyamanan menurunkan ketegangan otot.yang memerlukan intervensi medik cepat. 4. Dorong relaksasi dalam. Membantu pasien untuk istirahat lebih efektifdan memfokuskan kembali sehingga mengurangi nyeri dan ketidak nyamanan. 7. Berikan tindakan kenyamanan. Bantu pasien untuk latihan rentang gerak dan dorongan ambulasi dini. Selidiki dan laporkan adanya kekakuan otot abdominal dan nyeri tekan.meningkatkan kenyamanan. 6. Diduga inflamasi peritoneal. 6. Berikan tindakan kenyamanan dasar dan aktifitas hiburan. pijatan punggung / ubah posisi. 2. Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan 4. Mengurangi nyeri. 5. Menurunkan ansietas / takut dapat meningkatkan kenyamanan / reseksi. 1. Menurunkan kekakuan otot/sendi. ketidaknyamanan dan keefektifan analgetik. hindari posisi duduk lama. ambulasi mengembalikan organ-organ ke posisi normal dan meningkatkan kembali fungsi ke tingkat normal. Observasi nyeri. 8. 9. misal : perawatan mulut. penggunaan tehnik misalnya : napas 8. 2. 7. Intervensi Rasional 1. lokasi. 5.

Dorong pasien Miring dengan kepala tinggi.gangguan gram/mol. 2. Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan.5 hari ) 6. Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan insisi bedah atau proses pembedahan . 3. Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit cacat.Duduk lama meningkatkan parineal. Evaluasi penghilang nyeri kembali perhatian. 2. Meningkatkan kebersihan dan memudahkan penyembuhan khususnya setelah tampon diangkat biasanya (3.larutan antibiotic. Berikan rendam duduk sesuai cairan NaCL 6. 5. 10.Kriteria : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi Intervensi 1. Meningkatkan drainase dari luka parineal/draine menurunkan resiko pengumpulan. Irigasi luka indikasi. hindari duduk lama 4. 4.menurunkan sirkulasi ke luka sehingga mengurangi penyembuhan. sesuai tehnik 3. . Observasi luka. Menurunkan iritasi kulit dan potensi infeksi. Ganti balutan kebutuhan. Diperlukan untuk mengobati inflamasi/infeksi pra oprasi atau kontaminasi intra oprasi. 5. gunakan aseptic Rasional 1.10. Tujuannya adalah kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS. Perdarahan pasca oprasi paling sering terjadi drainase. karakteristik drainase 2.Tujuan : Integritas area insisi dapat di pertahankan .

2. Awasi hasil laboratorium( H + dan elektrolit ). masukan es batu periode instubasi Rasional 1. Batasi selama gaster. Menunjukkan status hidrasi/kemungkinan kebutuhan untuk meningkatkan penggantian cairan. . Awasi masukan dan keluaran. evaluasi turgor kulit pengisian kapiler dan membrane mukosa 3.7. Anjurkan penggunaan pakaian lembut dan longgar 9.ukur feces cair dan timbang berat badan tiap hari 2. tanda vital stabil dan mampu mengeluarkan urine secara tepat. Kulit sangat sensitive selama pengobatan dan setelahnya. Awasi tanda vital. Es batu dapat merangsang sekresi lambung dan mencuci elektrolit. Meningkatkan sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit atau jaringan yang tidak perlu 8. Intervensi 1.catat hipotensi postural. Mendeteksi hemostasis atau ketidak seimbangan dan menmbantu menentukan kebutuhan penggantian. Ovservasi kulit dengan sering terhadap efek samping pengobatan 3.Kriteria : pasien mampu mempertahakan hidrasi adekuat di tandai dengan membrane mukosa lembab.Tujuan : kekurangan volume cairan tidak terjadi. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya cairan yang berlebih.turgor kulit baik dan pengisian kapiler baik. Reaksi kulit dapat terjadi pada beberapa agen kemoterapi 8. dan semua iritsi harus dihindari untuk mencegah cidera dermal. 9. Memberikan indikasi langsung keseimbangan cairan. 4. Untuk mempertahankan perfusi 4. 5. takikardi. . status hipermetabolik . 3. Ubah posisi dengan sering 7. .

Observasi tanda-tanda infeksi. Rasional 1. Intervensi 1.Kriteria hasil : mencapai pemulihan luka tepat waktu. Pantau tanda-tanda vital (perhatikan peningkatan suhu ). Peningkatan suhu 4-7 hari setelah . bebas dari drinase purulen atau eritema dan demam. Untuk infeksi mencegah terjadinya 2. dan jaringan adekuat/fungsi organ. tindakan invasif dan malnutrisi . 8. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan. evaluasi nadi perife. perhatikan keluhan haus. 6. 3. Indicator tidak langsung dari status dahidrasi atau drajat kekurangan 9. Menunjukkan volume sirkulasi keadekuatan 7. 3. Membantu dalam memenuhi kebutuhan cairan dan menurunkan resiko efek samping yang membahayakan 4. Pantau tanda vital. Kaji turgor kilitdan kelembaban membrane mukosa. menurunkan pengeluaran renal dan konsentrasi urine menunjukan dehidrasi dan perlunya peningkatan pengganti cairan 7. Pantau keseimbangan cairan negative terus menerus.Tujuan :. Digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien monosupresi 2. 9. Pantau masukan pengeluaran.5. Lakukan perawatan luka. 6. Dorong peningkatan masukan cairan sampai ml/hari sesuai toleransi 8.infeksi tidak terjadi . Berikan cairan dan elektrolit.

Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang 1. . 5. . Taati teknik aseptic saat prosedur infasive. Kolaborasi pemberian antibiotik 5. Pengenalan diri dan intervensi segera.Tujuan : pasien dan keluarga dapat mengerti tentang perawatan penatalaksanaan di rumah sakit dan manejemen perawatan di rumah.4. 6. Melindungi pasien dari sumbersumber infeksi. 4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi keterbatasan ognitif. 5. 2.Kriteria : 1. 7.abses luka atau kebocoran cairan. dapat mencegah progresi sepsis yang serius. Tingkatkan prosedur tangan yang baik. Pertahankan perawatan luka aseptic. Digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien monosupresi 8. pasien mampu mengungkapkan tentang perawatan penatalaksanaan terhadap penyakit. 7. Mungkin digunakan untuk mengidentifikasi infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien imunosupresi 6. Melindungi pasien dari kontaminasi selama penggantian balutan. Mempertahankan lingkungan yang aseptic yang optimal selama penempatan batas sentral disisi tempat tidur.pertahankan balutan kering . Dengan menjelaskan di harapkan pasien dan keluarga dapat . Intervensi Rasional 1. pasien mengungkapkan tentang manajemen perawatan di rumah. 8. mencuci pembedahan sering menandakan syok septic.

Pasien mempunyai hak untuk tahu dan berpatisipasi dalam keputusan. . 7. prognosis.kondisi. kesempatan untuk didiagnosa. 4. 4. dan pengobatan tepat waktu terhadap komplikasi 6. Memberikan pemantauan terus menerus tentang kemajuan proses penyakit. 7. Motifasi pasien setiap akan melakukan kunjungan tindak lanjut kepada dokter pasca perawatan rumah sakit. Diharapkan pasien dan keluarga menggungkapkan ketidak tahuannya dan semuanya yang ingin diketahuinya. 3.Kriteria: 1. Berikan kesempatan bertanya 3. Diskusikan tanda dan gejala apa saja yang harus di laporkan segera kepada petugas. 5. Menanamkan pemahaman kepada pasien dan keluarga sangat penting di lakukan. Tinjau ulang mengenai pentingnya mempertahankan status nutrisi optimal 9. Untuk mencegah komplikasi dan menanganinya sedini mungkin. Membantu penilaian diagnosa. Mencapai berat . Tekankan pentingnya melakukan evaluasi medis 8. 2. 6. Berikan pedoman antisipasi mengenai protocol pengobatan. memberikan informasi yang diperlukan. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekutnya masukan oral karena mual. Memberikan pengertian pentingnya perawatan lanjut pasca perawatan rumah sakit 6. Jelaskan penggunaan alat Bantu yang di perlukan. memudahkan pemulihan dan memungkinkan pasien mentoleransi pengobatan 9. dalam cara yang nyata. penatalaksanaan dan mengerti dan memahami sehingga lebih kooperatif. Berikan informasi yang jelas dan adekuat. 8. 5. Meningkatkan kesejahteraan. 2.

motivasi pasien menghabiskan diitnya untuk 6. Hb) sesuai indikasi. Kolaborasi pemberian obatobatan antiemetic sesuai . Menurunkan iritasi gaster.beri makanan sedikit. Observasi asupan diet. Stimulasi GI yang dapat meningkatkan motalitas / frekuensi defekasi 5. badan yang mengarah kepada berat badan yang ideal. Berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makanan atau peningkatan masukan gizi Rasional 1. makanan rendah sisa dapat menurunkan iritabilitas dan memberikan istirahat pada usus bila ada diare. 4. Libatkan keluarga memberikan makan hangat untuk selagi 8. pasien mungkin membutuhkan dorongan untuk masukan peroral 6. 7. 2. membantu mengidentifikasi derajat ketidakseimbangan biokimia atau malnutrisi dan mempengaruhi pilihan intervensi diit. 7. Pastikan diit yang tepat. selera nafsu 3.Intervensi 1. Meningkatkan nafsu makan klien 8. 2. 4. Observasi makanan favorit pasien yang di indikasikan. 2. tinjau ulang pemeriksaan laboratorium (alb. Makanan banyak sulit untuk mengatur bila pasien mual. Kebanyakan antiemetic bekerja 5. 3. Beri makan sedikit dan sering dengan makanan rendah dan mempertahankan kebutuhan protein dan karbohidrat. Meningkatkan makan.sedikit tapi sering.

berikan menurunkan realita dan rasa kesempatan untuk bertanya dan takut berikan jawaban jujur. Dorong dan kembangkan interaksi . 6. Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut. Jelaskan prosedur. Berikan informasi akurat tentang keputusan berdasar realita pengobatan 4. fungsi peran. takut berkurang / hilang . Informasi akurat memungkinkan pasienmenghadapi situasi lebih efektif dengan realita. dan lingkungan tenang meningkatkan kemampuan koping 7. Pasien mandiri 1. Pertahankan kontak sering dengan kepercayaan.Kriteria hasil : 1. mengembangkan 3. 2. Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan membuat 4. realitas. pola interaksi. kemungkinan dibuktikan oleh : . Memberikan kepercayaan dan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri. Dorong pasien mengungkapkan serta konsep diagnose. perasaan dan fikiran 2. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi perubahan pada status kesehatan. Tingkatkan rasa tenangdan menghemat energi. 7. penularan perasaan interpersonal. perpisahan dari keluarga. Pasien tampak rileks 2.indikasi untuk mempengaruhi stimulasi pusat muntah sejati dan kemoreseptor mentriger agen zona yang bertindak secara feriver untuk menghambat peristaltic balik. pasien.Tujuan : Pasien menunjukan rasa cemas. berikan sentuhan 3. ancaman kematian. Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam pengobatan Intervensi Rasional 1. karenenya 5. 5. Memudahkan istirahat.

Tujuan : gangguan harga diri tidak terjadi . Mendemonstrasi kan adaptasi terhadap perubahan atau kejadian yang telah terjadi. Mulai mengembngkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif. jadwal waktu libur kerja sesuai indikasi.kriteria hasil: 1. Mengurangi rasa isolasi 7. . sebelum radiasi. Bimbingan antistipasi dapat orang terdekat bagaimana membantu pasien / orang tedekat diagnosis dan pengobatan yang memulai proses adaptasi pada status mempengaruhi kehidupan pribdi baru dan menyiapkan untuk beberapa pasien / rumah dan aktifitas efek samping misalnya membeli wig kerja.anoreksia .penurunan berat badan. 2. Diskusikan dengan pasien / 1. Intervensi Rasional 1. penerimaan diri dalam situasi. Memungkinkan interaksi interpersonal lebih baik dan menurunkan ansietas 8. 3.pasien dengan system pendukung 6. Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tubuh.kehilangan rambut. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah.mual atau muntah.efek samping kemoterapi.

Berikan informasi bahwa konseling sering perlu dan penting dalam proses adaptasi. 3. 5. Dorong diskusi tentang / apapun perlu untuk mengatasi apa pecahkan masalah tentang efek yang terjadi. Memvalidasi realita perasaan pasien dan memberikan izin. menurunkan perasaan pasien tentang .2. Akui kesulitan pasien yang mungkin di alami. Beritahu pasien bahwa tidak semua efek samping terjadi. Dapat membantu menurunkan masalah yang mempengaruhi penerimaan pengobatan atau merangsang kemajuan penyakit. Untuk tindakan 3. 2. Pemastian penerimaan penting dalam pengobatan. dengan efek kanker atau efek samping terapi . Evaluasi strutur pendukung beberapa pasien yang ada dan di gunakan oleh 5. Tinjau ulang efek samping yang di antisipasi berkenaan dengan pengobatan tertentu. Banyak memerlukan dukungan tambahan selama periode ini. 6. Meskipun beradaptasi/menyesuaikan diri pasien/orang terdekat. termasuk kemungkinan efek pada aktifitas seksual dan rasa keterkaitan atau keinginan misalnya kecacatan bedah. Berikan dukungan emosi untuk pasien / orang terdekat selama individualitas dan tes diagnostic dan fase 6. 4. orang tua dan sebagainya. kanker / pengobatan pada peran sebagai ibu rumah tangga. Membantu merencanakan perawatan saat di rumah sakit serta setalah pulang. 4.

kelompok pendukung ( Bila ada ). Kelompok pendukung biasanya sangat6menguntungkan baik untuk pasien maupun orang terdekat. 7. 7.ketidakamanan dan keraguan diri. 8. . memberikan kontak dengan pasien lain dengan kanker pada berbagai tingkatan pengobatan dan atau pemulihan. Gunakan Sentuhan selama interaksi. Bila dapat di terima pada pasien dan pertahankan kontak mata. Rujuk pasien atau orang positif bila system pendukung terdekat pada program pasien / orang tedekat terganggu. Mungkin perlu untuk memulai dan mempertahankan struktur psikososial 8.

D.Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.J.T.2002.Wagener. Sardjito. Jakarta : EGC.wim.//tategea. F. 2000 C. 2002 Guyton dan Hall. Rencana asuhan keperawatan.EGC:Jakarta Brunner and Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth.2004. Jakarta : EGC.Th.EGC:Jakarta. Jakarta : EGC. penerbit panitia kanker RSUP Dr.Sjamsuhidayat & Jong de.EGC:Jakarta R.Buku Ajar Ilmu Bedah.J.2002. 1997 http://ppni-klaten 2009.Sjamsuhidayat & Jong de. Marillyn.blog. .com/2007/12/ca-mamae http//www.pikiran-rakyat 2005.com http.friendster.H Van de velde. Penulis :Biare Baughman. Buku fisiologi kedokteran. Doengoes.wim. Yogyakarta 2000 E. C.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 2.com R. Ann. Jo. Bosman. Edisi 9.

(Sidartawan dan Soegondo 2002). 2002) B. Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi integritas sel Beta c. saraf dan pembuluh darah. 2002 ) Diabetes Mellitus adalah sindromo gangguan metabolisme dengan hiperglikemi yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya (Francis dan John 2000). ( mansjoer Arif. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. dan berkembang komplikasi makrovaskuler dan neurologis. Kelainan aktivitas insulin . Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. 2002) Diabetes Mellitus (DM) adalah merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin. lemak. ginjal. yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata. Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat. disertai lesi pada membran basilis. Gangguan sistem imun d.BAB I KONSEP DASAR MEDIK DIABETES MELITUS A. (Brunner and Suddarth. kerja insulin atau kedua-duanya. Long. (Slamet Soeyono. 2001) Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Kelainan fungsi atau jumlah sel Beta yang bersifat genetic b. Diabetes Melitus digolongkan sebagai penyakit endokrin atau hormonal karena gambaran adanya gangguan produksi atau penggunaan insulin (Barbara C. PENGERTIAN Diabetes Mellitus merupakan kelainan keterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar gula/glukosa dalam darah atau hiperglikemi. Faktor Prespitasi a. Diabetes Mellitus (DM) adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal.

e. Faktor-faktor harmonal Misal : Thyroid Price. Sylvia Andreson. Patofisiologi konsep klinis proses – proses penyakit edisi 6, 2005. 2. Faktor Predisposisi Faktor resiko tidak hanya fungsi keturunan saja, tetapi ada juga faktor lain seperti : a. b. c. d. Kegemukan Pola makan yang salah Minum obat-obatan yang bisa meningatkan kadar glukosa darah Proses menua dan stres Slaimed Suyono, 2002

C. PATOFISIOLOGI Penyakit DM disebabkan karena gagalnya hormon insulin maka glukosa tidak diubah menjadi glikogen, sehingga kadar gula darah meningkat dan menjadi hiperglikemi. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini. Karena ambang batas ginjal tidak dapat menyaring dan mengobsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Berhubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. Bersama dengan keadaan glukosuria maka jumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria. Keadaan air intraseluler ditarik ke ekstraseluler. Hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien merasa haus terus yang disebut polidipsi. Produksi insulin yang berkurang menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat, lemak, protein menipis karena digunakan untuk pembakaran dalam tubuh, maka pasien akan merasa lapar sehingga menyebabkan banyak ( poliphagi) Terlalu banyak lemak yang dibakar, maka akan menyebabkan terjadinya penumpukan aceton dalam darah yang akan mengakibatkan keasaman darah meningkat / asidosis. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak sehingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernafasan, akibatnya bau urine dan nafas penderita berbau aceton. Keadaan asidosis ini bila tidak segera diobati akan menjadi koma yang disebut koma diabetikum. (Sylvia Anderson Drice.patofisiologis, konsep klinis proses – proses penyakit edisi 6, 2005)

D. MANISFESTASI KLINIS Tanda dan gejala Diabetes Melitus. adalah :

1. Diabetes Mellitus Tipe I (DMTII) adalah a) Sering berkemih merupakan konsekuensi diureasis asmotic akibat dari hiperglikemi yang menetap. b) Enunesis nakturnal akibat poliuria c) Rasa haus/polidipsi d) Gangguan penglihatan e) Berat badan menurun f) Pusing dan lemah akibat hipotensi postural g) Parathesia h) Tingkat kesadaran pasien dapat bervariasi tergantung pada derajat hiperosmolalitas. 2. Diabetes Mellitus Tipe II (DMTTI) adalah Gejala-gejala klasik yaitu poliuria, rasa haus, penglihatan kabur berulang. Parasthesia dan kelemahan merupakan manifestasi dari hiperglikemi dan aneuresis asmotik, dan karenanya lazim dijumpai pada kedua bentuk diabetes. Infeksi kulit kronik yang sering terjadi, pruritus genenalisata.

Klasifikasi Diabetes Melitus Klasifikasi Diabetes Melitus sebagai berikut : 1. DM tipe 1 (IDDM) Insulin dependen Diabetes Mellitus atau disebut dengan DMN (Diabetes Melitus tergantung insulin) - Tergantung pada usia muda - Tergantung insulin eksogen - Peningkatan kadar glukosa darah Dipengaruhi oleh beberapa faktor : - Faktor Genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes tipe I, kecenderungan ini ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leudocyle Antigen) HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggungjawab atas antigen tranplantasi dan proses intun lainnya. - Faktor Imunologi Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun ini merupakan respon abnornol dimana antibody terarah pada jaringan norma) tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan/eksternal yang dapat memicu destruksi sel B pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destruksi sel B pankreas. 2. DM Tipe II (NIDDM) Non insulin Independen Diabetes Melitus atau disebut dengan DMTTI (Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin). 3. Malnutrution Relacted Diabetes Mellitus (MRDM) atau Diabetes Mellitus tergantung makanan (DMTM). 4. DM tipe lain yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu : - Penyakit pankreas - Penyakit Hormonal - Kelainan reseptor insulin 5. DM Gestasional (GDM) Greenspan G.F dan Bexter D. John 1998

Klasifikasi Ulkus Diabetes Mellitus Terdapat 5 Grede ulkus Diabetikum, diantaranya antara lain : a) Grade 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh hanya terdapat calus. b) Grade 1 : Ulkus / kerusakan hanya sampai permukaan kulit. c) Grade 2 : Kerusakan kulit mencapai otot dan kulit / ulkus dalam, sering dengan selulitis tidak ada abses. d) Grade 3 : Ulkus dalam yang melibatkan atau pembentukan abses. e) Grede 4 : Gangren local pada jari kaki atau atau bagian distal kaki dengan atau tanpa seluliris. f) Grade 5 : Gangren pada seluruh kaki dan sebagian tungkai bawah. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tes diagnosis untuk Diabetes Mellitus harus dilakukan bila terdapat gejala DM seperti : poliuri, polidipsi dan poliphagi atau penurunan berat badan. Diagnistik dilakukan berdasarkan : 1. Pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg/dl dengan gejala DM adalah setiap waktu sepanjang hari tanpa puasa > 126 mg/dl 2. Kadar glukosa darah puasa > 126 mg/di puasa adalah tanpa intake cairan /

Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnostik. 3. . Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi. Kerangka utama penatalaksanaan DM yaitu perencanaan makanan.Kadar glukosa 2 jam PP ( Post prandial ) < 140 mg/dl < 120 mg/dl 2 jam mg/dl >200 F. Kadar glukosa sewaktu < 110 mg/dl P D < 90 mg/dl 2. Kadar glukosa puasa P D < 90 mg/dl 90 – 199 mg/dl 2 > 110 mg/dl jam < 110 mg/dl 110 – 125 mg/dl > 126 mg/dl 110 – 199 mg/dl > 200 mg/dl 90 – 199 mg/dl > 200 mg/dl 3. Lipid dan insulin. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri. Untuk mempermudahkan tercapainya tujuan tersebut.kalori selama 8 – 10 jam. PENATALAKSANAAN MEDIS Dalam jangka pendek penatalaksaan DM bertujuan untuk menghilangkan keluhan/gejala DM. latihan jasmani obat hipoglikemi dan penyuluhan. Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa. Pemeriksaan Bukan DM Belurt Pasti DM 1.

dan jenis makan yang harus dipantang gula. .(1999) Penentuan gizi penderita dilakukan dengan menghitung prosentase Relatif Body Weigth dan dibedakan menjadi a) Kurus b) Normal c) Gemuk d) Obesitas : berat badan relatif : <90% : berat badan relatif : 90-110% : berat badan relatif : >110 % : berat badan relatif : >120 % Obesitas ringan 120 – 130 % Obesitas sedang 130 – 140 % Obesitas berat 140 – 200 % Obesitas morbid > 200 % Apabila sudah diketahui relatif body weigthnya maka jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM adalah sebagai berikut : . umur. Pedoman dalam memberikan diet DM yaitu. jumlah jadwal dan jenis pelru diperhatikan. jadwal makan.Gemuk : BB x 20 kalori / hari . selama ± 30 menit. BB x 30 kalori / hari .Obesitas : BB x 10-15 kalori / hari 2. training). endurance. Menurut Tjokro Prawiro. Menurut Tjokro Prawiro (1999) Pada konsensus perkumpulan endokrinologi indonesia (PERKENI) telah ditetapkan bahwa standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi sebagai berikut : • Karbonhidrat : 60 – 70% • Protein : 10 – 15% • Lemak : 20 – 25% Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan. status gizi. jumlah kandungan kolesterol < 300 mg/hari. yang sifatnya sesuai CRIPE (continous.1. Komsumsi garam dibatasi bila terdapat hipertensi.Normal . Latihan Jasmani Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu). stress akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Jumlah kandungan serat ± 25 gr/hari.Kurus : BB x 40-60 kalori / hari . Latihan dilakuan terus menerus tanpa berhenti otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur. Pada diet DM harus memperhatikan jumlah kalori. Rhytmical. progressive. Diutamakan jenis serat larut. pomonaris dapat disesuaikan / digunakan secukupnya. interval.

Selang-seling antara gerak cepat dan lambat. sehingga pada gilirannya nanti komplikasi kronik Diabetes Melitus juga dapat dicegah dan pasien Diabetes Melitus dapat hidup bahagia bersama diabetes yang dialaminya.Gunakan sepatu atau sandal yang ukuran sesuai.Jangan membiarkan luka kecil di kaki sekecil apapun luka tersebut. . . obati luka dan tutup dengan pembalut bersih.Berikan pelembab pada daerah yang kering.Janggan menggunakan botol panas atau peralatan listrik untuk pemanasan kaki.Segera kedokter bila kaki mengalami luka. berangsur-angsur dari sedikit kelatihan yang lebih berat secara bertahap dan bertahan dalam waktu tertentu.Memakai alas kaki untuk pelindung alas kaki.Jangan merendam kaki . • Yang tidak boleh dilakukan : . . 3. Dengan berbagai macam usaha tersebut. . .Periksa kaki setiap hari. . Sebagai contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30 menit. Penyuluhan Penyuluhan untuk rencana pengelolaan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. . yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat optimal dan penyesuaian keadaan psikologik serta kualitas hidup yang lebih baik. diharapkan sasaran pengendalian diabetes melitus seperti yang dianjurkan oleh pakar diabetes di Indonesia dapat dicapai. . Edukasi diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan bagi pasien diabetes yang bertujuan menunjang perilaku untuk meningkatkan pertahaanan pasien akan penyakitnya.Bila ada luka kecil. Disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta. .Gunting kuku kaki lurus mengikuti bentuk normal jari kaki. • Yang dilakukan dalam pengelolaan kaki diabetic adalah : .Jangan mengunakan silet untuk mengurangi kapalan/kalus.Bersihkan kaki setiap hari waktu mandi dengan air bersih dan sabun mandi. . gunakan cermin untuk melihat bagian bawah kaki. olahraga sedang adalah jalan cepat selama 20 menit dan olahraga berat misalnya joging. .Jangan memakai sepatu yang sempit.

FKUI.Menurut ambang sekresi insulin . time disintegration buformin b. Cipto Mangun Kusumo. Obat-obatan Pengobatan yang dapat dilakukan menurut Moerdowo (1989) adalah : a. Ada 3 jenis aturan insulin yang penting menurut cara kerjanya : Insulin masa kerja cepat (reguler insulin) 2 – 4 jam Insulin masa kerja sedang (NHP : Netral Protamin Hegedan) 6 – 12 jam .4.Insulin masa kerja panjang (PZI : Protamin Zine Insulin) 18 – 24 jam. OAD dibagi menjadi 2 golongan : 1) Sulfonilirea Mekanisme kerja obat golongan sulfonilirea : . 2002. operasional dan lainlain). Pengobatan dengan insulin Insulin diberikan tiga kali sehari 15 – 30 menit sebelum makan. phenformin.Menstimulasi pelepasan insulin yang diterima (steroid insulin) . - .Meningkatkan sel-sel insulin sebagai akibat rangsangan glukosa Contoh obat golongan sulfanilurea adalah :  Klorpropamid 100 – 500 mg/hari  Talbutamid 100 – 1000 mg/hari  Glibenklamid 2.5 – 40 mg/hari  Glikuldan 30 – 120 mg/hari 2) Biqquanid Beberapa golongan biovanid adalah metformen. OAD (Obat Anti Diabetika) Tabel OAD mempunyai khasiat untuk menurunkan kadar gula dalam darah. 4) Diabetes hamil 5) Diabetes tipe 1 6) Kegagalan pemakaian obat hiperglikemi oral. Indikasi pengobatan dengan insulin : 1) Ketoasidosis diabetic/koma hiperosmolor non betotik 2) Diabetes dengan berat badan kurang 3) Diabetes yang mengalami stress (infeksi. Pusat Diabetes dan RSUP Nasional Dr.5 – 20 mg/hari  Glipizid 2.

Ketoasidosit Diabetik b.Hiperglikrmi . KOMPLIKASI Komlikasi Diabetes Melitus menurut Soeparno dapat dikelompokkan menjadi dua.G. otak.Hipoglikemi .Syaraf Neuropati Diabetik Komplikasi jangka panjang diabetetikum : Organ/jaringan yg terkena Yg terjadi Komplikasi Sirkulasi yg jelek menyebabkan penyembuhan luka yg jelek & bisa menyebabkan penyakit jantung. yaitu : a. Akut . stroke. Dinding pembuluh darah kecil mengalami kerusakan sehingga pembuluh tidak dapat mentransfer oksigen secara normal & mengalami kebocoran Mata Terjadi kerusakan pada pembuluh darah kecil retina Gangguan penglihatan & pada akhirnya bisa terjadi kebutaan Fungsi ginjal yg buruk Ginjal  Penebalan pembuluh darah ginjal  Protein bocor ke dalam Gagal ginjal . Kronik Disebabkan oleh perubahan dinding pembuluh darah sehingga terjadi anteriosklerosis yang khas yaitu : . insifisiensi koroner . gangren kaki & tangan. tungkai & penis. Katarak .Mata Refinopati Diabetik. impoten & infeksi Pembuluh darah Plak aterosklerotik terbentuk & menyumbat arteri berukuran besar atau sedang di jantung. impark miokard.Karidiovaskuler Hipertensi.

terkena infeksi Kerusakan saraf Darah .air kemih  Darah tidak disaring secara normal Saraf Kerusakan saraf karena  Kelemahan tungkai yg glukosa tidak dimetabolisir terjadi secara tiba-tiba atau secara normal & karena secara perlahan aliran darah berkurang  Berkurangnya rasa. 1. terutama saluran kemih & kulit H. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik (dan hiperglikemi ) kehilangan genetik berlebihan diare. penurunan mukosa oral. muntah. 3. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan pasien Diabetes Melitus menurut Marylin E. 2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa. pelepasan hormon. kesemutan & nyeri di tangan & kaki  menahun Sistem saraf otonom Kerusakan pada saraf yg Tekanan darah yg naik-turun mengendalikan tekanan darah  Kesulitan menelan & saluran pencernaan & perubahan fungsi pencernaan disertai serangan diare Kulit Berkurangnya aliran darah ke  Luka. masukan dibatasi. hipermetobolisme. infeksi dalam kulit & hilangnya rasa yg (ulkus diabetikum) menyebabkan cedera  Penyembuhan berulang luka yg jelek Gangguan fungsi sel darah putih Mudah infeksi. mual. Doengoes (2000) . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin. makan muntah. stress.

Lakukan pemasangan kateter Rasional : . . 1) Intervensi : . Resiko tinggi terhadap perubahan sensori.Kaji lama & intensitas terjadinya muntah.Mengetahui volume cairan yang hilang sehingga memudahkan dalam tindakan perawatan selanjutnya. Rasional sangat : . muntah). kesalahan interprestasi. Kurang pengetahuan mengenai panyakit. 4) Intervensi : . 2) Intervensi : . 4. 1. 5) Intervensi : . poliun & diare Rasional : . FOKUS INTERVENSI Menurut Marlyn E. peningkatan kebutuhan energy : status hipermetabolic atau infeksi. kompleksitas sistem perawatan. efek samping terapi. tidak mengenal sumber informasi.Monitor tanda-tanda vital Rasional : . perceptual berhubungan dengan perubahan kimia endogen. nadi tidak teratur. progrosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman.Menilai kekuatan cairan pengganti. Kelelahan berhubungan penurunan produksi energi atau metabolic perubahan kimia darah : insufisiensi insulin. mengetahui keseimbangan cairan dan membantu keefektifan terapi.Pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat berpotensi menimbulkan kelebihan beban cairan.Menilai volume cairan yang hilang sehingga memudah kan tindakan selanjutnya. Kekurangan volume cairan berhubungan diuresis aumotik. Resiko terhadap infektif penatalaksanaan regimen terapetik (individual) berhubungan dengan kompleksitas aturan teropetik. ketdakseimbangan glukosa/insulin/olektrolit.Monitor intake dan output Rasional : . kehilangan gastric berlebihan (mual. 5. Doengoes 2000. peningkatan berat badan. 6.Hipovilerna mungkin dapat dimanifestasikan dengan Hipotensi dan Lakikardi 3) Intervensi : .penurunan fungsi leukosit prosedur invasif. 7.Pertahankan adanya perasaan kelelahan yang meningkat Edema.Mempertahankan hidrasi atau dikulasi volume 6) Intervensi : .Pertahankan pemasukan cairan paling sedikit 2500 ml/hr Rasional : . I.

Pantau pemeriksaan laboratorium (HT. peningkatan berat badan.Hiperglikemia.Mengkaji kedekatan pemasukan nutrisi 2) Intervensi : .Hipoglikerri dapat terjadi sehingga dalam keadaan darurat dapat dilakukan tindakan perawatan cepat sesuai keefektifan prosedur.Auskultasi peristatik usus.Mengidentifikasi kekuatan dan penyimpangan dari kebutuhan terapetik Rasional : . Kalium. . 1) Intervensi : . plasma dan dextrain. muntah Rasional : . gangguan cairan dan elektrolit dapat menurunkan peristaltik lambung.7) Intervensi : .Berikan makan sedikit demi sedikit tapi sering Rasional : Pemberian makanan peroral lebih baik dan meningkatkan nafsu makan pasien.Hipovilerna mungkin dapat dimanifestasikan dengan Hipotensi dan lakikardi 3) Intervensi : . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan defisiensi insulin. Rasional kekurangan : Plasma pengganti kadang dibutuhkan jika mengancam hidup. 5) Intervensi : . mual.Mengkaji tingkat hidrasi 8) Intervensi : . Penurunan kekuatan otot. Rasional : . nadi tidak teratur. diare. 4) Intervensi : .Kolaborasi dalam pemberian albumin. edema. 2.Timbang BB tiap hari Rasional : .Observasi tanda-tanda hipaglikeni Rasional : . status metabolik – intake yang tidak adekuat ditandai dengan kelemahan. Observasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat. Natrium. catat adanya keluhan nyeri perut. BUN.

urine keruh. Potensial resiko infeksi b. Rasional : .Pengobatan awal dapat mencegah kerjanya sepsis 6) Intervensi : .Observasi tanda-tanda infeksi seperti demam. Rasional ketosi : Infeksi merupakan faktor presipitasi terjadinya dosis lebih lanjut. 3. 2) Intervensi : . sputum purulent warna merah.6) Intervensi : .Membantu keefektifan insulin 7) Intervensi : .Lakukan perawatan kateter nyeri perut.d kadar glukosa yang tinggi.Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik secara tepat. pelihara agar kulit selalu kering Rasional mengurangi : Memperlancar sirkulasi sehingga dapat terjadinya inlasi dan infeksi kulit. muntah Rasional : . mual.Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian nutrisi Rasional : . penurunan fungsi leukosit perubahan sirkulasi prosedur invasife.Memberikan pemenuhan kebutuhan nutrisi secara tepat.Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian RI Rasional : .Meminimalkan resiko terjadi infeksi 4) Intervensi : .Lakukan perawatan kulit secara teratur.Pelihara teknik aseptik dalam prosedur pemberian pengobatan secara IV Rasional merupakan : Keadaan glukosa yang tinggi dalam darah medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri. 5) Intervensi : .Berikan diet dan intake cairan yang adekuat Rasional : Mengurangi terjadinya infeksi meningkatkan kelancaran . 3) Intervensi : . 1) Intervensi : .

Rasional : .Monitor pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah. Rasional : . . BUN. 1) Intervensi : . 4. Rasional : . peningkatan kebutuhan energi : status hipermetabolik atau infeksi. serum asmolatitas. ketidakseimbangan glukosa (insulin/elektrolit).Orientasi terhadap orang. Rasional : . 4) Intervensi : .Diskusikan dengan pasien aktivitas yang dibutuhkan dan daftar rencananya dan identifikasi aktivitas yang melelahkan. mengurangi pertumbuhan bakteri. berhubungan dengan penurunan produksi energy atau metabolic perubahan kimia darah : insufisiensi.Monitor tanda-tanda vital dan status mental Rasional : . Kelelahan. HD/HMT. 2) Intervensi : .Mencegah kelelahan yang berlebihan. 3) Intervensi : . Rasional : . nyeri dan penurunan sensori.Status dasar perbandingan tingkat abnormal.Mengetahui adanya perubahan persepsi sensori 5) Intervensi : .d perubahan kimia endogen. Resiko tinggi terhadap perubahan sensori.aliran darah.Ketidakseimbangan cairan dapat mempengaruhi perubahan kesadaran 5. 2) Intervensi : .Pasien yang disorientasi mudah sekali terjadi kecelakaan khususnya pada malam hari.Lindungi pasien dari bahaya kecelakaan ketika kesadaran menurun.Beri alternatif aktivitas dengan adanya periode istirahat. perceptual b.Meningkatkan motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. waktu dan tempat Rasional : .Monitor adanya hyperesthesia.Mengurangi kebingungan pasien dan membantu mempertahankan kontak dengan realita. 1) Intervensi : .

perawatannya serta kemungkinan komplikasi yang diderita pasien. Kurang pengetahuan b. Rasional : . . 5) Intervensi : . 6.Diskusikan hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara pengontrolan diabetik.Meningkatkan pemeliharaan.Pasien akan lebih banyak menyelesaikan aktivitas yang lebih kecil.Diskusikan dengan pasien aktivitas yang dapat mengurangi energi. mengobati dan perawatannya ditandai dengan secara verbal pasien menanyakan tentang penyakitnya. Rasional : . Rasional : . Rasional : .Mengidentifikasikan tingkat toleransi fisik pasien 4) Intervensi : .Memudahkan deteksi awal dan pasien mengetahui tentang perawatan serta pencegahan yang diperlukan.Membantu memberikan gambaran keadaan pasien untuk dapat mengontrol penyakitnya. 4) Intervensi : . pengontrolan diabetik dan mengurangi resiko ketoasio dosis.Kualitas penjelasan dapat disesuaikan dengan tingkat pendidikan pasien sehingga mudah dimengerti pasien 2) Intervensi : . Rasional : .Jelaskan tentang nama obat.d kurangnya informasi mengenai penyakit. waktu cara pemberian efek yang ditimbulkan.Jelaskan pentingnya melakukan pengentasan glukosa secara teratur. 3) Intervensi : .3) Intervensi : . 1) Intervensi : . 5) Intervensi : .Tingkatkan partisipasi pasien dalam ADL sesuai dengan iderasi. Rasional : .Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas Rasional : .Mengikatkan kemandirian pasien secara bertahap . dosis.Identifikasi tanda-tanda hipoglikeni dan terangkan penyebabnya.Kaji tingkat pengetahuan pasien.

5) Intervensi : .Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar Rasional : .Bangun rasa percaya dan kekuatan. Rasional : . 1) Intervensi : . Rasional : . 2) Intervensi : .Meningkatkan harga diri mendorong pasien berpartisipasi dalam program perawatan selanjutnya. . 7. 3) Intervensi : .Tingkatkan sikap positif dan keikutsertaan secara aktif individu dan keluarga.d kompeksitas aturan teropeutik. 4) Intervensi : . efek sampai terapi.Meningkatkan semangat dan motivasi dalam pelaksanaan aturan perawatan. Rasional : . kompleksitas sistem perawatan.Tingkatkan rasa percaya diri dan kemajuan diri yang positif Rasional pelaksanaan : Meningkatkan semangat dan motivasi dalam aturan perawatan.Memudahkan deteksi awal dan menjadikan landasan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Resiko terhadap infeksi penatalaksanaan ruginan teropitik (individu) b.Identifikasi faktor-faktor penyebab atau penunjang yang menghalangi penatalaksanaan yang efektif.Pasien mengerti dan melibatkan diri dalam tindakan perawatan dan pengobatan.Rasional : .Memudahkan dalam strategi pelaksanaan tindakan keperawatan.

Doengoes. Susan Martin. Groespan.A. Marylin E. Patient Care Standarte Nursing Process Diagnostic and Outcott. Ilmu Penyakit Dalam. 2001. Cipto Mangun Kusumo. Tucker. . Pusat Diabetes dan RSUP Nasional Dr. 2000. 2002. F. 1998.F dan Dokter D. Cl. Patofisiologi Konsep Klinis Proses dan Proses Penyakit. Buku Kedokteran Jakarta : EGC 2001. Soeparman. S. 2005. Toronto : The Mosby Cistpany. Barbara. Jilid 2 FKUI: Jakarta. John “Endokrinologi Dasar dan Klinik” edisi 4. FKUI. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. “Nursing Care Plans Guide Lens For Planning and Documentating Patient Care Edition” Philadelpia. 2.DAFTAR PUSTAKA Price A Sylvia. Perawtaan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung: 1998. Bruner dan Suddart. Jakarta : ESC . Davis Company. Jakarta : EGC 2002.

2mg/dL.6-1. PENGERTIAN Gagal ginjal kronis (chronic renal failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialysis atau transplantasi ginjal. Nilai GRF 60-89 ml/menit/1. 2001). kadar kreatinin di dalam darah meningkat. yang disebut C_crea (creatinine clearance). M.85. Stadium 2: Kerusakan ginjal ringan dengan penurunan nilai GFR. yaitu: 1. belum terasa gejala yang mengganggu. Kemampuan fungsi ginjal tersebut dihitung dari kadar kreatinin dan kadar nitrogen urea di dalam darah. 2. yaitu: C_crea = {[(140-umur)xBB]/(72xK_crea)}xFK Clereance rate (ml/menit) sama dengan 140 (faktor baku 1) dikurangi umur (tahun). Ginjal berfungsi 60-89%. Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan ireversibel (Arif Mansjoer. dikalikan berat badan (kg). Kemampuan ginjal membuang cairan berlebih sebagai urin (creatinine clereance rate) dihitung dari jumlah urin yang dikeluarkan tubuh dalam satuan waktu.73m2. Nilai GFR di atas 90 ml/menit/1. Ginjal akan membuang kreatinin dari darah ke urin. Kemampuan ginjal menyaring darah dinilai dengan penghitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG). hasilnya dibagi dengan perkalian 72 (faktor baku 2) dengan kadar kreatinin (mg /dl). Faktor koreksi gender untuk pria = 1. C_crea normal untuk pria adalah 95-145 ml/menit dan wanita 75-145 ml/menit. (DR.73 m2. berupa dialysis atau transplantasi ginjal (Ketut Suwitro.BAB I KONSEP DASAR MEDIK A. Nursalam. dengan mengumpulkan jumlah urin tersebut selama 24 jam.73 m2 . Stadium 1: Kerusakan ginjal dengan nilai GFR normal. 2006). Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap. Dengan rumus CockroftGault dapat diperkirakan berapa C_crea dari kadar creatinin yang didapatkan. kemudian hasilnya itu dikalikan dengan faktor koreksi (FK) gender. Kreatinin adalah hasil metabolisme sel otot yang terdapat di dalam darah setelah melakukan kegiatan. 2006). LFG dihitung dari jumlah kadar kreatinin yang menunjukkan kemampuan fungsi ginjal menyaring darah dalam satuan ml/menit/1. Nurs.0 dan wanita = 0. gangguan fungsi ginjal dapat dikelompokkan menjadi lima stadium menurut tingkat keparahannya. Kadar kreatinin normal dalam plasma darah adalah 0. Bila fungsi ginjal menurun. Ginjal berfungsi diatas 90%.

c. Poliarteritis Nadusa Poliarteritis Nadusa merupakan penyakit radang reterosis yang mencakup arteri-arteri ukuran sedang dan kecil diseluruh tubuh sehingga akan mengganggu perfusi atau aliran darah ke ginjal. Edisi 6. Interatisis yang hiperosmatik memungkinkan zat kimia dalam jumlah besar dan konsentrasi pada daerah yang relatif hipovasculer. Nilai GRF 30-59 ml/menit/1. perubahanperubahan ini disebabkan karena berkurangnya jumlah nefron karena iskemia. Wilson Potofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Glomerulonefritis Glomerulonefritis kronik ditandai kerusakan glomerulus yang progresif lambat akibat glomerulonefritis yang sudah berlangsung lama. b. 1. Nilai GRF kurang dari 15 ml/menit/1. Waktu rata-rata diabetes sampai timbul uremia adalah 20 tahun. Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus yang mulai sejak kanak-kanak 50% diantarannya berkembang menjadi gagal ginjal kronik. obat-obatan dan bahanbahan kimia karena alas sebagai berikut: Gagal menerima 25% dari curah jantung sehingga sering dan mudah kontak dengan zat kimia dalam jumlah besar.73 m2 4. masih bisa dipertahankan. Nefropati Toksik Ginjal sangat mudah terserang efek-efek toksis. PROSES TERJADINYA MASALAH (Menurut Sylvia A. Ginjal berfungsi 30-59%. harus cuci ginjal. d. Pada glomerulonefritis kronis maka ginjal akan tampak mengisut beratnya kurang lebih 50 gram dan permukaannya berbentuk granula. Stadium 4: Kerusakan berat. Stadium 5: Kerusakan parah. B. sudah tingkat membahayakan Ginjal berfungsi 15-29%. Fungsi ginjal kurang dari 15%. 2005). Hipertensi Hipertensi dan gagal ginjal kronik saling berkaitan erat. Presipitasi a. . e. Lesi ginjal yang sering dijumpai adalah nefrosklerosis akibat lesi pada arteria pielonefritis dan nekrosis pada ginjal dan glumerulosis sklerosis. Price Lorreine M. Glumerulosklerosis dikenal juga dengan nama lesi kemadie suatu ciri khas diabetes. Stadium 3: Kerusakan sedang. Nilai GRF 15-29 ml/menit/1.3.73 m2 5. Hipertensi merupakan penyakit primer dan menyebabkan keruskaan pada ginjal dan sebaliknya penyakit gagal ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi neutserpenar pada hipertensi melalui mekanisme retensi natrium dan air.73 m2.

2006) Perjalanan umum gagal ginjal kronik dapat dibagi 3 stadium yaitu: a) Stadium Penurunan Cadangan Ginjal Selama stadium ini kreatinin serum dan kadar BUN normal. Pasien mulai merasakan gejala-gejala yang cukup parah karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis cairan dan elektrolit dalam tubuh. lemah. Manifestasi klinis yang nampak adalah lelah. . mual dan pruritus. pasien akan meninggal kecuali kalau ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialysis. Pada keadaan ini kreatinen serum dan kadar BUN akan meningkat dengan mencolok sekali sebagai respon terhadap GFR yang mengalami sedikit penurunan pada stadium akhir gagal ginjal. seperti tes pemekatan urine yang lama atau dengan mengadakan tes GFR yang teliti. pasien asimtomatik gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan membebani kerja yang berat pada ginjal tersebut. b. Pada stadium akhir gagal ginjal. Faktor Predisposisi a. Obstruksi Traktus Urinarius Obstruksi Traktus Urinarius dapat terjadi pada daerah intra renal sampai uretra. 2. b) Stadium Insufisiensi Ginjal Pada stadium ini lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak. Meskipun perjalanan klinik gagal ginjal kronik dibagi menjadi 3 stadium tetapi dalam prakteknya tidak ada batas-batas yang jelas antara stadiumstadium tersebut. c) Stadium Gagal Ginjal atau Stadium Uremia Nilai GFR hanya 10% dari keadaan normal dan kliren kreatinin mungkin 510 ml/menit atau kurang. sakit kepala. Obstruksi ini bila ditemukan harus sedapat mungkin diperbaiki dengan segera. kecuali infeksi yang sangat berat. Pasien juga mungkin mengalami nokturia dan paliun yang disebabkan oleh penurunan kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasikan urine. 3. Infeksi Traktus Urinarius Infeksi Traktus Urinarius jarang memperburuk GGK. Patofisiologi Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV Ketut Suwitro. Biasanya infeksi memperburuk faal ginjal bila disertai obstruksi sehingga perbaikannyapun harus terpadu.Ginjal merupakan ekterosi obligatorik untuk kebanyakan obat sehingga insufisiensi ginjal mengakibatkan penimbunan-penimbunan obat dan meningkatkan konsentrasi dalam cairan tubulus. Pada stadium ini kadar kreatinin serum juga mulai meningkat diatas melebihi normal. Pada keadaan ini kadar BUN baru meningkat diatas batas normal.

Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal. Karena pada gagal ginjal kronis setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh kondisi uremia. Gastrointestinal 1) Anoreksia. Manifestasi klinis a) Menurut Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. akibat diuresis osmatik disertai poliuri dan hous. 4) Napas berbau ammonia. 2) Gagal jantung kongestif. 4) Perikarditis (akibat iritasi pada lapisan pericardial oleh toksin uremik). 2) Kelemahan pada tungkai b) Menurut Suhardjono (2001). 3) Gastritis . Brunner dan Suddarth Edisi 8 Vol. Neurologi 1) Kelemahan dan keletihan. tangan). kondisi lain yang mendasari dan usia pasien. 2) Pernapasan Kusmaul d. 2) Mulut bau ammonia disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur. manifestasi klinik yang muncul pada pasien dengan gagal ginjal kronik yaitu : a. Pulmoner 1) Napas dangkal. Nefron-nefron yang utuh. a. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal ini untuk berfungsi sampai ¾ dari refron-refron yang bisa direabsorbsi. muntah. oliguri dapat timbul disertai retensi produksi sisa. nausea dan vomitus yang berhubungan dengan gangguan metabolisme protein dalam usus. b. Kardiovascular 1) Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem renin – angiotensin – aldosteron). 3) Edema pulmoner (akibat cairan berlebih dalam alveolus). Gangguan pada sistem gastrointestional 1) Anoreksia. 4. 3) Konstipasi dan diare. c. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak. 2) Mual.Patofisiologi penyakit gagal kronik secara umum adalah: Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak. maka pasien akan memperlihatkan sejumlah tanda dan gejala. 5) Pitting Edema (kaki. Hipertropi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR.

Sistem saraf dan otot 1) Pasien merasa pegal pada kakinya. gangguan konsentrasi 4) Kelemahan dan hipertrofi otot-otot terutama otot-otot ekstremitas proksimal. Gatal akibat toksin uremik. 1) Urine Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguri) atau urine tidak ada. kecoklatan menunjukkan adanya darah. 3) Bekas-bekas garukan karena gatal. Pemeriksaan Penunjang Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. lemah. sehingga selalu digerakkan. 2) Rasa semutan 3) Lemah. d. 2) Ekimosis akibat gangguan hematologis. menetapkan gangguan sistem dan membantu menetapkan etiologi. resistensi insulin 3) Gangguan metabolisme lemak 4) Gangguan metabolisme vitamin D. a) Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menetapkan adanya GGK. 5. fosfat atau urat. menentukan derajat GGK. bakteri. tidak bisa tidur. Kardiovasculer 1) Hipertensi 2) Akibat penimbunan cairan dan garam 3) Nyeri dada dan sesak nafas 4) Edema akibat penimbunan cairan f. protenuria. e. Sedimen Berat Jenis : : Kotor. menentukan ada dan tidaknya kegaulan. Sistem Hematologi 1) Anemia 2) Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia. Dalam menetapkan ada dan tidaknya gagal ginjal tidak semua faal ginjal perlu diuji untuk keperluan praktis yang lazim diuji adalah laju filtrasi glomerulus. Warna : Urine keruh disebabkan oleh Pus. 2001.015 (menetap pada 1.010 . c. Kulit 1) Kulit berwarna pucat akibat anemia. Sistem endokrin 1) Gangguan seksual 2) Gangguan metabolisme glukosa.b. Kurang dari 1.

Kalium: menurun Protein (khususnya albumin): Kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine. juga untuk menilai apakah proses sudah lanjut (ginjal yang imut) USG ini sering dipakai oleh karena non inuasif (tak memerlukan persiapan apapun). c) Ultrasonografi (USG) Menilai besar dan bentuk ginjal.menunjukkan kerusakan ginjal berat). : Meningkat dalam proporsi 2) Darah BUN Hitung darah lengkap : Hb menurun pada adanya anemia SDM (sel darah merah) : waktu hidup menurun pada defisiensi entropoetin pH menurun asidosis metabolic terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengekspresi hydrogen dan ammonia atau hasil akhir katabolisme protein bicar bonate menurun PCO2 menurun. Kalsium serum : Peningkatan sehubungan retensi sesuai dengan perpintahan seluler (asidosis). sistem perviakalises. menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau obstruksi lain foto polos yang disertai homogram memberi keterangan yang lebih baik. ureter proximal kandung kemih serta prostate. aritmia dan gangguan elektrolit (Hiperkalemic. d) Foto Polos Abdomen Sebaiknya tanpa puasa karena dehidrasi akan memperburuk fungsi ginjal. tebal konteks ginjal kepadatan pareklim ginjal. Gula darah: Meningkat karena adanya gangguan metabolisme karbohidrat dapat terjadi pada penyakit GGK. perpindahan cairan. anatomi. b) Pemeriksaan EKG Untuk melihat kemungkinan hipertropiventrikel ke tanda-tanda perikardites (misalnya voltase rendah). Derajat tinggi (3-4) secara kuat menunjukkan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari adanya faktor yang reversible seperti obstruksi oleh karena batu atau massa tunas. Natrium Protein : : Lebih besar dari 40 mtg/L karena ginjal tidak mampu mereeabsorbsi natrium. hipokalsemia). . Penurunan pemasukan atau penurunan sintesis karena kurang asam amino.

Penatalaksanaan Menurut Buku Ajaran Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi IV Ketut Suwitno. Dalam percobaan telah dibuktikan bahwa ureum darah dapat dimetabolisme bila diberi asam amoniak essential. c) Pengendalian Kalium Darah Bila hiperglikemia sudah ada maka pengobatan adalah mengurangi sedapatnya intake kalium. f) Pemeriksaan Pielograi Retroged Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang neversibel. diet rendah protein. Diabetes Mellitus dan nesopati asam urat saat ini sudah jarang dilakukan pada GGK dapat dilakukan dengan cara intravenous infusion pielografi untuk menilai sistem pelviakalises dan ureter. 6. Pemberian Na bicarbonat IV. namun tindakan pemilihan penggunaan protein akan lebih menolong. Dengan alat tertentu tekanan darah dapat diturunkan tanpa mengurangi gagal ginjal. Diet rendah protein . Infuse glukosa hipertonis dengan insulin. Natrium bicarbonat dapat diberikan oral atau parenterel Hemodialisis dan dialysis peritoneal juga dapat mengatasi asidosis. f) Pengaturan protein dalam makanan Protein harus dikurangi. g) Pemeriksaan Foto Dada Dapat terlihat tanda-tanda benalungan paru akibat kelebihan air (flore over load) efusi pleura.e) Pielografi Intra Vena (PIV) Pada GGK lanjut tak bermanfaat lagi oleh karena ginjal tak dapat mengeluarkan kontras dan pada GGK ringan mempunyai resiko penurunan faal ginjal lebih berat. kadiomegali dan efusi perikordid. Usaha yang ditujukan untuk mengurangi gejala mencegah perburukan faal ginjal terdiri atas: a) Pengaturan Minum Pemberian yang berlebihan dapat mengakibatkan penumpukan didalam badan dan membahayakan karena menimbulkan hipovolemia yang sulit diatasi. b) Pengendalian hipertensi. h) Pemeriksaan Radiologi Tulang Mencari osteodistrofi (terutama tulang/jari) dan klasifikasi metastatik. Tak jarang ditemukan juga infeksi oleh karena imunitas tubuh yang menurun. selain itu telah dibuktikan pula bahwa diet tinggi protein akan mempercepat timbulnya glomerulaskterosis sebagai akibat meningkatnya beban kerja glomerulus (hiperfiltrasi glomerulus). terutama pada usia lanjut. e) Penanggulangan Asidosis Pemberian melalui makanan dan obat-obatan harus dihindarkan . missal: Beta bloker dan vasadilator. d) Penanggulangan Anemia Transfusi darah hanya diberikan bila ada indikasi yang kuat. 2006).

Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. 7. g) Mengusahakan kenyamanan Kebanyakan orang dengan tingkat akhir penyakit ginjal menderita pruritus. Usaha-usaha efektif untuk pengendaliannya yaitu: 1) Mempertahankan kulit lembab dengan pemakaian lotion dan minyak. C. mengendalikan asam-basa dan membuang zat-zat toksin dan tubuh dapat mempertahankan hidup dengan dengan sukses. Curah jantung. Diet rendah natrium dan furosemid diberikan bila terjadi hipertensi atau edema. 3) Obat-obat anti pruritus Insomnia dan kecapekan dapat diatasi dengan: 1) Pengobatan anemia dapat mengurangi rasa kecapekan. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. 2) Rencana aktivitas sehari-hari harus juga ada periode istirahat. resiko tinggi berhubungan dengan . c) Hiperkalemia d) Asidosis Metabolik e) Kejang uremik yang disediakan terjadinya hiponatromia. vomitus. 2001. Sesungguhnya orang yang menghadapi transplantasi ginjal kronis intinya terjadi perubahan program ketidakmampuan dari hemadidisme kronis dengan kemungkinan masalah penolakan atau resection. Komplikasi Menurut Soeparman. 2) Pelumas mulut dapat mempertahankan kelembaban mulut. nousea. hipokolsomia. penurunan. b) Komplikasi gastrointestinal: anoreksia. hipertensi ensefalopati. h) Dialise Dialise adalah menggerakkan cairan dan partikel-partikel lewat membrane setiap permeable ini merupakan terapi yang bisa membantu mengembalilkan keseimbangan cairan elektrolit yang normal. anemia dan perikarditas. baik pada GGA atau GGK. 2000 adalah : a. 2) Mengendalikan suhu kamar agar mencegah panas. hipertensi. i) Transplantasi Ginjal Transplantasi ginjal dilaksanakan untuk memperpanjang maka hidup orang dengan kegagalan ginjal kronis. a) Komplikasi kardiovasculer dapat terjadi kangesti sirkulasi. Hiegiene Oral 1) Membersihkan mulut beberapa kali sehari terutama sebelum makan.diberikan bertahap mulai dengan 60 gram protein/jumlah protein diturunkan menjadi 40 gram kemudian 20 gram protein yang diberikan haruslah yang mempunyai nilai biologis yang tinggi (40% asam amino essential). Diagnosa yang muncul pada pasien Chronic Kidney Disease Marilyn Doengoes dkk.

g. f. pengaruh budaya. iritasi kimia. kurang terpajan atau mengingat. perubahan berhubungan dengan disorientasi terhadap orang. perubahan. konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit. Integritas kulit. penurunan aktivitas. hipoksia). prognosis. contoh duduk. Ketidakpatuhan (kepatuhan. 1 Intervensi Keperawatan 1. Curah jantung. gangguan frekuensi. D. tempat. perubahan urea dalam saliva menjadi ammonia. efek samping terapi. pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. biaya. perubahan) berhubungan dengan keyakinan kesehatan. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit. d. tentang kondisi. berbaring. perhatikan perubahan postural. atau immobilisasi. kerusakan. Kaji adanya/derajat hipertensi (awasi TD. gangguan faktor pembekuan. Tujuan: Mempertahankan curah jantung dengan bukti TD dan frekuensi jantung dalam batas normal. c. irama. kompelsitas. Evaluasi adanya Rasional 1. No.b. Proses piker. Cedera. akumulasi toksin dalam kulit. dan kebutuhan. irama. salah interpretasi informasi. nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler. kurang atau menolak system pendukung atau sumber. waktu. berdiri 2. resiko tinggi berhubungan dengan penekanan produksi dan SDM hidupnya. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan turgor kulit (edema/dehidrasi). Membrane mukosa oral. pembatasan cairan. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). e. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan frekuensi. hipoksia). Hipertensi bermakna dapat terjadi gangguan pada system aldosteron renninangiotensin (disebabkan oleh disfungsi . resiko tinggi berhubungan dengan kurang/penurunan salviasi. Auskultasi bunyi jantung dan paru. penurunan. peningkatan kerapuhan kapiler.

gemerisik. Berikan obat antihipertensi (contoh: Prazozin (minipress). Adanya hipotensi tibatiba. nadi paradoksik. penyempitan tekanan nadi. 4. takikardia. klonodin (Catapres). yang merupakan kedaruratan medik. Menurunkan tahanan vaskuler sistemik dan/atau pengeluaran rennin untuk menurunkan kerja miokardial. penurunan/tak adanya nadi perifer.edema perifer/kongesti vaskuler dan keluhan dispnea. 3. dan penyimpangan mental cepat menunjukkan temponden. frekuensi jantung tak teratur. mengi. kaptopril (capoten). Evaluasi bunyi jantung ginjal) 2. 4. takipnea. dan edema/distensi jugular menunjukkan GGK. Distensi jugular. S3/S4 dengan tonus muffled. 3. dispnea. hidralazin (Apresoline) .

sehingga memerlukan intevensi. 3. Observasi takikardia. Tujuan: Tak mengalami tanda/gejala perdarahan dan mempertahankan /menunjukan perbaikan nilai laboratorium. asam folat (Folvite). Anemia menurunkan oksigenasi jaringan dan meningkatkan kelelahan. dan istirahat. dispnea dan nyeri dada. gangguan faktor pembekuan.sianokobalamin (betalin) 4. bantu sesuai kebutuhan dan buat jadwal untuk istirahat. gunakan jarum kecil bila mungkin dan lakukan penekanan lebih lama setelah penyuntikan/penusukan vaskuler. Dapat menunjukkan anemia dan respona jantung untuk mempertahank an oksigenasi sel 2. Cedera. 2. Berikan obat sesuai indikasi.kulit/Membrane mukosa pucat. Berikan sikat gigi halus. pencukur elektrik. Rasional 1. kemampuan untuk melakukan tugas. Berguna untuk memperbaiki gejala anemia sehubungan dengan . Menurunkan resiko perdarahan/pembentukan hematom 4. 2 Intervensi Keperawatan 1. perubahan aktivitas. contoh sediaan besi. resiko tinggi berhubungan dengan penekanan produksi dan SDM hidupnya. peningkatan kerapuhan kapiler. Evaluasi respons terhadap aktifitas. No. 3.2.

Perbaikan hipoksia saja dapat memperbaiki kognitif. tempat. Berikan tambahan O2 sesuai indikasi. 4. Tingkatkan istirahat adekuat dan tidak mengganggu periode tidur 4. perubahan berhubungan dengan disorientasi terhadap orang. tingkat mental pasien biasanya. jam.kekurangan nutrisi/karena dialysis (Catatan: Besi tidak boleh diberikan dengan ikatan fosfat karena menurunkan absorbsi besi 3. Memberikan perbandingan untuk mengevaluasi perkembangan/per baikan gangguan 2. Gangguan tidur dapat mengganggu kemampuan kognitif lebih lanjut. . orang. waktu Tujuan: Meningkatkan tingkat mental biasanya dan mengidentifikasi cara untuk mengkompensasi gangguan kognitif/deficit memori. Berikan kalender. 3. Memberikan petunjuk untuk membantu dalam pengenalan kenyataan. dan sebagainya. Orientasikan kembali terhadap lingkungan. Proses pikir . 2. Pastikan dari orang terdekat. 3. 3. jendela ke luar. Intervensi Keperawatan 1. Rasional 1. No.

Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. ekskorlasi. tugor. No. 2. kerusakan. Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera dermal. tugor. Berikan matras busa/flotasi 4. jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia peninggian meningkatkan aliran balik statis vena terbatas/pembent ukan edema. Ubah posisi pasien dengan sering 1. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. Intervensi Keperawatan Rasional 3. ekskorlasi. Perhatikan kemerahan. yang dapat membatasi perfusi selular . 3. vascular. Integritas kulit. Tujuan: Mempertahankan kulit utuh dan menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan/cedera kulit. Perhatikan kemerahan. 2. 4. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan (dari pada garukan) pada area pruritus. purpura. 1. Menurunkan tekanan lama pada jaringan. Menurunkan tekanan pada edema. 4. penurunan aktivitas. vascular. resiko tinggi berhubungan dengan gangguan turgor kulit (edema/dehidrasi). atau immobilisasi.4. akumulasi toksin dalam kulit. Pertahankan buku pendek. purpura.

Anjurkan menghindar fless gigi. 5 Intervensi Keperawatan 1. Menurunkan pertumbuhan bakteri dan potensial terhadap infeksi. 3. No. menimbulkan perdarahan. Dapat diberikan untuk menghilangkan gatal 4. 2. 5. Memberikan kesempatan untuk intervensi segera dan mencegah infeksi. Membrane mukosa oral. Flos gigi dapat melukai gusi. iritasi kimia. 5. karakter saliva. perubahan urea dalam saliva menjadi ammonia. 3. Anjurkan hygiene gigi yang baik setelah makan dan pada saat tidur. . ulserasi. Inspeksi rongga mulut: perhati kan kelembaban. adanya inflamasi. 5. Tujuan: Mempertahankan integritas membrane mukosa dan mengidentifikasi/melakukan intervensi khusus untuk meningkatkan kesehatan mukosa oral. perubahan. mis anti histamin: kiproheptadin (periactin) Rasional 1. 2. Berikan obat sesuai indikasi. Membran 4.yang menyebabkan iskemik 5.Berikan perawatan mulut. resiko tinggi berhubungan dengan kurang/penurunan salviasi pembatasan cairan.

6 Intervensi Keperawatan 1. sering memerlukan penanganan dan obat anti hipertensi. Penyimpanan protein.mukosa dapat menjadi kering dan pecah-pecah. khususnya dari karbohidrat . Perawatan mulut menyejukkan. tentang kondisi. Menunjukan/melakukan perubahan pola hidup yang perlu. Dorong pemasukan kalori tinggi. yang sering tak menyenangkan kaena uremia dan keterbatasan masukan oral. melumasi. Insiden hipertensi meningkat pada GGK. Tujuan: Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan. kurang terpajan atau mengingat. perlu untuk observasi ketat terhadap efek pengobatan. 2. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). Instruksika n dalam observasi diri dan pengawasa n TD. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. termasuk jadwal istirahat sebelum Rasional 1. 6. prognosis. dan membantu menyegarkan rasa mulut. 2. Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alas an untuk tindakan. mencegah penggunaan dan memberikan energi. salah interpretasi informasi. contoh respons vascular tehadap . dan berpartisipasi dalam program pengobatan No.

Rasional 1. 7 . Menyamp aikan pesan masalah. mengguna kan lengan/posi si yang sama. Membuat pilihan pada tingkat kesiapan berdasarkan informasi yang akurat. perubahan) berhubungan dengan keyakinan kesehatan.mengukur TD. dan mengidentifikasi /menggunakan sumber dengan tepat. Dengarkan/mendengarkan dengan aktif pada keluhan/pernyataan pasien. Membantu dalam mempertahanka n tonus otot dan kelenturan sendi. Intervensi Keperawatan 1. Perhatika n masalah seksual. Tujuan: Menyatakan pengetahuan akurat tentang penyakit dan pemahaman program terapi. No. 7 Ketidakpatuhan (kepatuhan. kurang atau menolak system pendukung atau sumber. Menurunkan risiko sehubungan dengan imobilisasi (termasuk demineralisasi tulang) dan mencegah kelemahan. obat. 4. kompelsitas. Berpartisipasi dalam membuat tujuan dan rencana pengobatan. 3. menyelin gi periode istirahat dengan aktivitas. efek samping terapi. 3. Efek fisiologis uremia/terapi anti hipertensi dapat mengganggu hasrat/penampilan seksual. pengaruh budaya. biaya. Buat program latihan rutin. dalam kemampu an individu.

2. 5. Yakinkan persepsi/pemahaman pasien/orang terdekat terhadap situasi dan konsekuensi perilaku. Kaji tingkat ansietas. kemampuan control. 4. perasaan tak berdaya. Evaluasi system pendukung/sumber yang digunakan oleh pasien.2. pasien cenderung . Anjurkan pilihan yang tepat. 3. Kaji perilaku memberi perawatan kesehatan pada pasien/perilaku. Tingkat ansietas berat mempenga ruhi kemampua n pasien mengatasi situasi. 3. Keyakinan pada kemampua n individu dan mengatasi situasi dalam cara positif. Memberik an kesadaran bagaimana pasien memandan g penyakitn ya sendiri dan program pengobata n dan membantu dalam memaham i masalah pasien. Meskipun pasien secara internal termotivasi (rasa control internal).

2000 adalah : 1.menjadi pasif/terga ntung pada penyakit berat. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan . Adanya system pendukung adekuat membantu pasien untuk mengatasi kesulitan penyakit lama. 5. Pendekata n yang menghaki mi dapat membuat kekuatan yang menjauhka n pasien. 1. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 2. menurunka n kemungkin anmeningk atnya pengaruh. Diagnosa Keperawatan pada pasien Congestive Heart Failure menurut Marilyn Doengoes dkk. jangka panjang. 4.

dan penurunan perfusi jaringan . 2000 adalah : 1. oedem. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 6. dan penurunan perfusi jaringan 5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan pemahaman / kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung / penyakit / gagal Diagnosa Keperawatan pada gagal jantung menurut Lynda Juall Carpenito edisi 8. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan 5. oedem. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 2.4. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur seperti biasanya Dari kedua Diagnosa Keperawatan diatas dapat disimpulkan bahwa Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah : 1. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 3. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen karena gagal jantung kongestif 2. Resiko terhadap kelebihan volume cairan : odema yang berhubungan dengan penurunan aliran darah ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 4.

Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi 4. S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa jantung 3. Auskultasi nadi apical. terjadi penurunan dispnea. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang informasi 7. Palpasi nadi Perifer .5. TD 2. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan untuk mengambil posisi tidur yang biasanya INTERVENSI Menurut Doengoes (2000) Diagnosa 1 : Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial. sedang atau kronik. disritmia terkontrol. frekuensi irama jantung kaji Rasional 1. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran cerna 9. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 8. • Tujuan : . Catat bunyi jantung 3. Biasanya terjadi takikardi untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. ikut sertakan dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung Intervensi 1.Peningkatan frekuensi jantung • Curah jantung meningkat Kriteria hasil : pasien menunjukkan tanda vital dalam batas normal. bebas gejala jantung. Pada gagal jantung kongestif dini.

Bumetamid (Bumex) (kalium dan klorida) 11. Pucat menunjukkan menurunnya Perfusi Perifer Sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung dan anemia Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung kronik 6. Beri posisi nyaman pada tempat tidur atau kursi 8. Ginjal berrespon untuk menurunkan curah jantuingdengan menahan cairan dan natrium 7. Berikan obat sesuai indikasi 10. Pantau keluaran urine. Pantau dan ganti elektrolit Diagnosa 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air . catat penurunan dan kepekatan konsentrasi urine 7. Usinopril mempengaruhi irama jantung (Prinivil). Untuk mengontrol gagal jantung dengan menghambat konversi angiotesin dalam paru dan menurunkan tekanan darah Dapat mempengaruhi elektrolit yang 5. Istirahat fisik dipertahankan untuk memperbaiki efisiensi kontraksi jantung den menurunnya kebutuhan oksigen 8. Berikan O2tambahan dengan kanul nasal / masker sesuai indikasi 9. Meningkatnya persediaan O2 untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek iskemik 9.Eralapri (Vasotec) 12. Diuretic : Furosemid (Lasix). Kaji adanya kulit pucat dan sianosis 6. Pantau tekanan darah 5. Captopril(Capoten). Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati pasien curah jantung 11. Banyaknya obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup 10. Asam Etakrinik (Enderic).dapat meningkat sehubungan dengan Septum Ventriculler Right (SVR) 4.

Meningkatkan laju aliran urine dan dapat menghambat reabsorsi natrium / klorid pada tubulus ginjal 7. Pantau Foto thorax Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 / kebutuhan • • Tujuan : Pasien mampu melakukan aktivitas fisik Kriteria hasil : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri. Mempertahankan cairan / pembatasan natrium sesuai indikasi 8.• • Tujuan : Volume cairan pasien berkurang sampai dengan normal Kriteria hasil : Volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran bunyi nafas bersih. Meningkatkan Filtrasi Ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan dieresis 3. Auskuhasi bunyi nafas. Pemberian obat sesuai indikasi : Diuretik contoh : Furosemid (Lasix) 7. menyatakan tentang pembatasan cairan Intervensi Rasional 1. Menurunkan air total tubuh / reakumulasi cairan Menunjukkan perubahan indikatif peningkatan / perbaikan kongesti paru 1. Menunjukkan kelebihan volume cairandan dapat menunjukkan terjadinya gagal jantung 6. berat badan normal dan tidak oedem. mencapai peningkatan toleransi aktivitas . Timbang berat badan setiap hari 4. catat jumlah dan warna 2. catat penurunan dan atau bunyi tambahan 5. Keluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi jaringan 2. Pertahankan duduk / tirah baring dengan posisi Semi Fowler 3. Kelebihan volume cairan sering menimbulkan kongesti paru 5. tanda vital dalam batas normal. Catat perubahan ada / hilangnya oedema sebagai respon terhadap terapi 4. Pantau keluaran urine. Pantau tekanan darah dan CVP 6.

mengi 2. pucat Rasional 1. Catat respon Kardiopulmonal terhadap aktivitas. nyeri 4. Auskuitasi bunyi nafas. Memenuhi kebutuhan perawatan diri tanpa mempengaruhi stress Peningkatan aktivitas secara bertahap menghindari kerja jantung / konsumsi oksigen berlebihan Diagnosa 4 : Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan pertukaran gas Kriteria hasil : mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA / oksiometri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. nafas dalam 3. dispnea. catat krekel. catat tachicardi disritmia. Rasional 1. Implementasikan program rehabilitasi jantung / aktivitas 4. Kaji penyebab kelemahan. Menurunkan konsumsi oksigen / . Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia 4. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi 5. Menyatakan adanya kongesti paru / pengumpulan secret menunjukkan untuk intervensi lanjut 2.Intervensi 1. Kelemahan merupakan samping beberapa obat efek 2. Dapat menunjukkan peningkatan Decompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas 3. Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2 3. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas 3. contoh : pengobatan. Intervensi 1. Penurunan / ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktifitas dapat menyebabkan peningkatan frekuensi jantung 2. Anjurkan pasien selalu merubah posisi 4. Pertahankan duduk di kursi. Anjurkan pasien batuk efektif.

Berikan obat sesuai indikasi : Diuretik. bantu rentang gerak pasif / aktif 2. oedema. Intervensi 1. Terlalu kering atau lembab merusak kulit dan mempercepat kerusakan 3. Meningkatkan konsentrasi alveolar yang dapat memperbaiki / memudahkan hipoksemia jaringan Menurunkan kongesti alveolar. dan penurunan perfusi jaringan • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intregritas kulit Kriteria hasil : mempertahankan integritas mendemonstrasikan perilaku / tehnik mencegah kulit kulit. Pijat area kemerahan atau memutih Diagnosa 6 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi • • Tujuan : Pengetahuan pasien meningkat Kriteria hasil : − Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkanepisod berulang dan mencegah . Meningkatkan aliran darah 4. meningkatkan pertukaran gas 6. Memperbaiki sirkulasi / menurunkan waktu satu area yang menggangu aliran darah 2. Furosemid (lasix) Diagnosa 5 : Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. meminimalkan dengan kelembapan / ekresi 3.tirah baring dengan kepala tempat tidur lebih tinggi (Semi Fowler) 5. Edema interstitial dan gangguan sirkulasimemperlambat absorsiobat dan predisposisi untuk kerusakan kulit / terjadinya infeksi 4. Berikan oksigen sesuai indikasi tambahan kebutuhan dan meningkatkan ekpansi paru maksimal 5. Hindari obat intramuskuler Rasional 1. Ubah posisi saat ditempat tidur. Berikan perawatan kulit.

Jelaskan dan diskusikan peran keputusan berdasarkan informasi pasien dalam mengontrol faktor resiko dan faktor pencetus Diagnosa 7 : Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas • • Tujuan : Ansietas pasien berkurang sampai dengan hilang Kriteria hasil : − Mengakui dan mendiskusikan takut / masalah − Menunjukkan perasaan yang tepat − Wajah tampak rileks − Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi .komplikasi − Menyatakan tanda / gejala memerlukan intervensi cepat yang − Mengidentifikasi stress pribadi / faktor resiko untuk menangani − Melakukan perubahan perilaku yang perlu pola hidup / Intervensi 1. tujuan. dan efek samping memungkinkan pasien untuk membuat 4. Pemahaman kterapeutik dan pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah terjadinya komplikasi obat Menambah pengetahuan dan 3. Diskusikan obat. Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan 2. Pembatasan diit natrium diatas 3gr/hari akan menghasilkan efek diuretic 3. Diskusikan pentingnya fungsi jantung sehat 2. Diskusikan pentingnya pembatasan natrium Rasional 1.

Rujuk ke indikasi ahli gizi sesuai Rasional 1. Diketahui adanya tanda-tanda malnutrisi yang merupakan petunjuk adanya gangguan kebutuhan nutrisi 2. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan • • Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi untuk mempertahankan fungsi tubuh Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral. Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru untuk memilih intervensi yang tepat 2.Intervensi 1. menjelaskan factorfaktor bila diketahui. Dapat menambah nafsu makan. Intervensi 1. Dapat memperbaiki beberapa perasaan Kontrol / kemandirian pada pasien yang merasa tidak berdaya dalam menerima diagnosa Diagnosa 8 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. Kelola kebersihan mulut setiap 2-4 jam. Observasi tanda-tanda malnutrisi setiap hari 2. Libatkan pasien / orang terdekat dalam perencanaan perawatan 4. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa 2. menjelaskan rasional dan prosedur untuk pengobatan. Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit . Berikan waktu untuk menyiapkan peristiwa atau pengobatan Rasional 1. jika mungkin anjurkan untuk menyikat gigi 3. pasien tidak merasa pahit dan enak bila mengunyah 3. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi interpretasi terhadap informasi 3. Beri kesempatan untuk bertanya jawab 3.

2007. 2007. 2000. .Diagnosa 9 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur yang biasanya • • Tujuan : Pola tidur pasien terpenuhi Kriteria hasil : − Mampu adekuat pikiran menciptakan pola tidur yang dengan penurunan terhadap − Tampak / bisa istirahat yang cukup Intervensi 1. Berikan obat sesuai indikasi Rasional 1. Mempertahankan kestabilan lingkungan 4. Hall & Guyton. Horne Mima M & Swearingen. Keseimbangan cairan. EGC: Jakarta. Gagal Ginjal. EGC: Jakarta. Buku agar Fisiologi Kedokteran Edisi II. EGC: Jakarta Carpenito. Beri makan kecil sore hari 5. Lynda Juall. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta Carpenito. Anjurkan istirahat sejenak. PL. Lynda Juall. EGC : Jakarta. elektrolit & asam basa. Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Aktivitas fisik dan mental meningkatkan kelelahan yang dapat meningkatkan kebingungan 2. Moyet. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Hadibroto Iwan. Edisi 3. EGC: Jakarta Doengoes. Evaluasi tingkat stress 3. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Perawatan. 2001. 2006. Rencana Asuhan Keperawatan. turunkan aktifitas mental fisik pada sore hari 2. 2001. Tingkat stress dapat melonggarkan pola tidur yang mencapai tidur pulas 3. Lengkapi jadwal tidur dan ritual secara teratur 4. PT. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk Mungkin efektif dalam menangani penyakitnya kemampuan tidur untuk meningktkan DAFTAR PUSTAKA Alam Syamsir. Marilyn E.

EGC: Jakarta Soeparman. DR. Kapita Selekta Kedokteran. Stanley. Salemba Medika: Jakarta Price. 2005). Suzanne C. Nursalam. FKUI: Jakarta M. Jilid 2. 2006.Price. Wilson.gun. Arif. Media Aeskulapius. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. 2006. 2000. PENGERTIAN Gagal jantung Kongestif adalah ketidakmampuan Jantung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi (Brunner & Suddarth. Lorrelne M. 2002). Gagal jantung adalah keadaan patofisiologis ketika jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan (Sylvia A. EGC: Jakarta Smeltzer. Gagal jantung Kongestif adalah kondisi patofisiologik yang diakibatkan gangguan fungsi jantung karena jantung tidak dapat mempertahankan curah yang cukup untuk kebutuhan metabolik jaringan dan organ tubuh (Robbins. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2. 2002. Mansjoer. FKUI: Jakarta BAB I KONSEP DASAR MEDIK CONGESTIF HEART FAILURE (CHF) A.blogspot.http://keperawatan . Nurs. Sylvia A. Edisi 8. 1999). Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. B. PROSES TERJADINYA MASALAH . Edisi 3. L. Buku Ajar Keperawatan Medikel Bedah Brunner & Suddarth.com 2007/07/laporan pendahuluan gagal ginjal kronis. 2007.

2002). Hipertrofi otot jantung tidak dapat berfungsi secara normal dan akhirnya akan terjadi gagal jantung (Smeltzer. Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Hal ini menyebabkan volume diastolik – akhir ventrikel secara progresif bertambah. Suzanne C. Terjadinya Hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). sel-sel otot vebtrikel mengalami peregangan melebihi panjang . − Hipertensi sitemik atau Pulmonal (peningkatan afterload) meningkatnya beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Patofisiologi Gagal jantung kongestif terjadi sewaktu kontraktilitas jantung berkurang dan ventrikel tidak mampu memompa keluar darah sebanyak yang masuk sewaktu diastole. Faktor Presipitasi − Kelainan otot jantung (Miokardium) yang menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. 2. Faktor Predisposisi Penyakit yang dapat menimbulkan penurunan fungsi ventrikel seperti : − Penyakit Arteri Koroner − Hipertensi − Kardiomiopati − Penyakit jantung Kongenital 3.1. Seiring dengan peningkatan progresif volume diastolik – akhir. Efek tersebut (hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan meningkatkan kontraktilitas jantung. − Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi Miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung.

(Elizabeth J Corwin. atau perasaan sulit bernafas. 4. − Kelemahan fisik.2000). (Suzanne C Smeltzer. 2001). Semakin terisi berlebihan ventrikel. maka volume sekuncup jantunglah yang harus menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah jantung. adalah manifestasi gagal jantung yang paling umum. Dispnea disebabkan oleh peningkatan kerja pernafasan akibat kongesti vaskuler paru yang mengurangi kelenturan paru. Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan kontraktilitas jantung yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal. curah jantung dan tekan darah turun. Respon-respon reflek tubuh yang mulai bekerja sebagai jawaban terhadap penurunan tekanan darah akan secara bermakna memperburuk situasi. Akibatnya volume sekuncup. manifestasi utama dari penurunan curah jantung adalah kelemahan dan kelelahan dalam melakukan aktifitas. dipicu oleh timbulnya edema paru interstisial. − Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) atau mendadak terbangun karena dispnea. − Ortopnea (dispnea saat berbaring).optimumnya. Bila curah jantung berkurang maka sistem saraf simpatis akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan curah jantung. semakin sedikit darah yang dapat dipompa keluar sehingga akumulasi darah dan peregangan serat otot bertambah. terutama pada posisi berbaring. Tegangan yang dihasilkan menjadi berkurang karena ventrikel teregang oleh darah. dimana curah jantung (CO : Cardiac Output) adalah fungsi frekuensi jantung (HR : Heart Rate) x volume sekuncup (SV: Stroke Volume). Tanda dan gejala gagal jantung kanan : . Konsep curah jantung paling baik dijelaskan dengan persamaan CO = HR x SV . − Batuk non produktif juga dapat terjadi akibat kongesti paru. Manifestasi Klinik Tanda dan gejala gagal jantung secara umum : − Dispnea. Bila mekanisme kompensasi ini gagal untuk mempertahankan perfusi jaringan yang memadai.

(Sylvia A. tumit). − Derajat III : Timbul gejala sewaktu melakukan kegiatan fisik ringan. Edema mula-mula tampak pada bagian tubuh yang tergantung (tunkai bawah. seperti anoreksia. − Nokturia (dieresis malam hari) yang mengurangi retensi cairan.Price. Cor membesar. rasa penuh atau mual dapat disebabkan oleh kongesti hati dan usus. − Derajat II : Timbul gejala (nafas pendek. nyeri dada) yang terjadi pada kegiatan fisik biasa. Tanda dan gejala gagal jantung kiri : − Sesak nafas (dispnea) − Dispnea Nokturnal Paroksismal (DNP) − Ortopnea − Batuk-batuk − Sianosis − Jantung membesar. . nyeri dada) bila melakukan kegiatan fisik biasa.− Peningkatan tekanan vena jugularis (JVP) − Hepatomegali (pembesaran hati) : nyeri tekan hati dapat terjadi akibat peregangan kapsula hati. − Gejala saluran cerna. − Edema Perifer terjadi akibat penimbunan cairan dalam ruang interstisial. − Foto rontgent : Oedema Paru. Klasifikasi Menurut New York Heart Association (NYHA) gagal jantung dapat di klasifikasikan menurut derajatnya. 2005). yaitu : − Derajat I : Tidak ada gejala (seperti nafas pendek. − Derajat IV : kegiatan fisik hamper tidak bisa dilakukan oleh karena dengan istirahat saja telah timbul gejala (nafas pendek. tachycardia. nyeri dada).

Creatimin. Left bundle branch block.(Long C Barbara . menunjukkan penyakit jantung Iskemik. BUN. Aneurisma ventrikel kiri. Hipertrofi Ventrikel kiri dan gelombang T terbalik menunjukkan Stenosisa Aorta dan penyakit hipertensi. 5. Pemeriksaan ekokardiografi dapat digunakan untuk memperkirakan ukuran dan fungsi ventrikel kiri. Ultrasonografi Doppler. 3. thrombus dalam ventrikel. (Muttaqin Arif. Pemeriksaan Penunjang • Ekokardiografi Ekokardiografi sebaiknya digunakan sebagai alat pertama dalam diagnosis dan manajemen gagal jantung. Edema paru. kelainan ST/T menunjukkan disfungsi venrikel kiri kronis. dan berbagai bentuk penyakit jantung korgenital juga dapat dideteksi. Serum Albumin. • Elektrokardiografi (EKG) Pada pemeriksaan EKG untuk klien dengan gagal jantung dapat ditemukan kelainan EKG seperti dibawah ini : 1. Efusi Perikardial. • Pemeriksaan Laboratorium − Elektrolit. termasuk aliran warna dapat digunakan untuk menilai regurgitasi katup dan pirau intrakardiak. Right Bundle Branch block dan Hipertrofi ventrikel kanan menunjukkan adanya disfungsi ventrikel kanan. 2. 5.1996). Aritmia : Deviasi Aksis ke kanan. Gelombang Q menunjukkan infark sebelumnya dan kelainan segmen ST. • Rontgent Dada Foto sinar X dada Posterior – Anterior dapat menunjukkan adanya Hipertensi Vena. 4. Penatalaksanaan Medis . atau Kardiomegali. 2009).

M Sjaifoellah 1996 adalah : 1. Hidralazin Menurunkan tahanan vaskuler sistemik 6. pacu jantung 3.• Tujuan Penatalaksanaan menurut Noer H. Pengendalian Retensi garam dan cairan − Diit rendah garam − Diuretic − Pengeluaran cairan secara mekanik (Thoracosentesis. Pembatasan aktivitas kerja berat untuk menurunkan kerja jantung 2. Prosozin Melebarkan arteri Perifer Vena Pulmonalis . obat-obatan Simptomatik. Preparat Digitalis untuk meningkatkan Kontraktilitas Miokardium 4. Lily ismudiai 1998 adalah : 1. Furosemid dan Asam Etakrinat baik secara oral maupun intravena 3. Preparat Nitrat atau Isorbit Dinitrat meningkatkan kapsitas vena Pulmonalis. Memperbaiki daya pompa jantung Digitalis. menurunkan secara ringan tahanan vaskuler sistemik 5. Mengurangi beban kerja − Istirahat jasmani dan Emosional − Berat badan yang berlebihan (obesitas) sebaiknya dikurangi / diturunkan − Vasodilator 2. Parasentesis. Ultrafiltrasi) • Penatalaksanaan menurut Riiantono. Obat-obatan Diuretik untuk memp[erbaiki gejala kongestif seperti Dispnea Misal : Diuretik Tiazid.

Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 8. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. 2000 adalah : 7. 2000 adalah : 6.C. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan pada pasien gagal jantung menurut Marilyn Doengoes dkk. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan pemahaman / kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung / penyakit / gagal Diagnosa Keperawatan pada gagal jantung menurut Lynda Juall Carpenito edisi 8. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan 10. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 8. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen karena gagal jantung kongestif 7. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur seperti biasanya . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. dan penurunan perfusi jaringan 11. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 10. Resiko terhadap kelebihan volume cairan : odema yang berhubungan dengan penurunan aliran darah ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan 9. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 9. oedem. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 12.

Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan untuk mengambil posisi tidur yang biasanya D. bebas gejala jantung. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli 15. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual. disritmia terkontrol. Ansietas yang berhubungan dengan sesak nafas 17. anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran cerna 18. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air 12. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama.Dari kedua Diagnosa Keperawatan diatas dapat disimpulkan bahwa Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah : 10. Rasional 1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen / kebutuhan 13. FOKUS INTERVENSI Menurut Doengoes (2000) Diagnosa 1 : Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial 11. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang informasi 16. terjadi penurunan dispnea. Biasanya terjadi takikardi untuk • A Intervensi . ikut sertakan dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung. oedem. • Tujuan : Peningkatan frekuensi jantung • Curah jantung meningkat Kriteria hasil : pasien menunjukkan tanda vital dalam batas normal. dan penurunan perfusi jaringan 14.

Pantau keluaran urine. Diuretic : Furosemid (Lasix). S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa jantung 3. Beri posisi nyaman pada tempat dan natrium tidur atau kursi 7. digunakan untuk meningkatkan Asam Etakrinik volume sekuncup (Enderic). Pucat menunjukkan sianosis menurunnya Perfusi Perifer Sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung dan anemia Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung 6. Kaji adanya kulit pucat dan 5. Captopril(Capoten). Ginjal berrespon untuk konsentrasi urine menurunkan curah jantuingdengan menahan cairan 7. Banyaknya obat dapat 10. Berikan O2tambahan dengan kontraksi jantung den menurunnya kebutuhan oksigen kanul nasal / masker sesuai 8. Meningkatnya persediaan O2 indikasi untuk kebutuhan miokard 9.Bumetamid (Bumex) 10.• C • P • P mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler 2. sedang atau kronik. Untuk mengontrol gagal (Prinivil). Istirahat fisik dipertahankan untuk memperbaiki efisiensi 8. catat kronik penurunan dan kepekatan 6. Berikan obat sesuai indikasi untuk melawan efek iskemik 9. Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi 4. Eralapri (Vasotec) jantung dengan menghambat . TD dapat meningkat sehubungan dengan Septum Ventriculler Right (SVR) Intervensi Rasional 5. Pada gagal jantung kongestif dini. Usinopril 11. Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati pasien curah jantung Intervensi Rasional 11.

Menunjukkan kelebihan volume cairan dan dapat menunjukkan terjadinya gagal 6. Pantau dan ganti elektrolit konversi angiotesin dalam paru dan menurunkan tekanan darah 12. Mempertahankan cairan / tubulus ginjal pembatasan natrium sesuai 7. Menurunkan air total tubuh / indikasi reakumulasi cairan 8. Pantau tekanan darah dan CVP 5. Intervensi Rasional 1. Pemberian obat sesuai indikasi : jantung Diuretik contoh : Furosemid 6. catat 1. berat badan normal dan tidak oedem. Meningkatkan Filtrasi Ginjal dengan posisi Semi Fowler dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan dieresis 3.12. Timbang berat badan setiap hari 3. Auskuhasi bunyi nafas. Pantau Foto thorax Menunjukkan perubahan indikatif peningkatan / perbaikan . Catat perubahan ada / hilangnya oedema sebagai 4. Keluaran urine mungkin sedikit jumlah dan warna dan pekat karena penurunan perfusi jaringan. Dapat mempengaruhi elektrolit (kalium dan klorida) yang mempengaruhi irama jantung Diagnosa 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomelorus (menurunnya curah jantung) / meningkatnya produksi ADH dan retensi Natrium / air • • Tujuan : Volume cairan pasien berkurang sampai dengan normal Kriteria hasil : Volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran bunyi nafas bersih. tanda vital dalam batas normal. menyatakan tentang pembatasan cairan. Pertahankan duduk / tirah baring 2. Pantau keluaran urine. Meningkatkan laju aliran urine (Lasix) dan dapat menghambat reabsorsi natrium / klorid pada 7. catat respon terhadap terapi penurunan dan atau bunyi 4. Kelebihan volume cairan sering tambahan menimbulkan kongesti paru 5. Intervensi Rasional 2.

meningkatkan volume pucat sekuncup selama aktifitas dapat menyebabkan peningkatan frekuensi jantung 2. Penurunan / ketidakmampuan terhadap aktivitas. Intervensi Rasional 1. Menyatakan adanya kongesti krekel.kongesti paru Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 / kebutuhan • • Tujuan : Pasien mampu melakukan aktivitas fisik Kriteria hasil : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri. nyeri 4. catat miokardium untuk tachicardi disritmia. Intervensi Rasional 1. Dapat menunjukkan peningkatan Decompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas 3. dispnea. Memenuhi kebutuhan perawatan diri tanpa mempengaruhi stress Peningkatan aktivitas secara 3. Implementasikan program bertahap menghindari kerja jantung / rehabilitasi jantung / aktivitas konsumsi oksigen berlebihan Diagnosa 4 : Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler / alveoli • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan pertukaran gas Kriteria hasil : mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA / oksiometri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. Auskuitasi bunyi nafas. Catat respon Kardiopulmonal 1. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi 5. catat 1. Kaji penyebab kelemahan. mengi paru / pengumpulan secret menunjukkan untuk intervensi . Kelemahan merupakan efek samping beberapa obat 4. contoh : pengobatan. mencapai peningkatan toleransi aktivitas. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas 2.

Memperbaiki sirkulasi / bantu rentang gerak pasif / aktif menurunkan waktu satu area 2. oedema. Hindari obat intramuskuler kerusakan Edema interstitial dan gangguan Intervensi Rasional sirkulasi memperlambat absorsiobat dan predisposisi untuk kerusakan . meningkatkan pertukaran gas Diagnosa 5 : Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Meningkatkan konsentrasi alveolar yang dapat memperbaiki / memudahkan 6. Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia Menurunkan konsumsi oksigen / Intervensi 5. Intervensi Rasional 1. Pertahankan duduk di kursi. Ubah posisi saat ditempat tidur.2. Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional tambahan 4. Furosemid (lasix) Menurunkan kongesti alveolar. Berikan perawatan kulit. 1. kulit. yang menggangu aliran darah meminimalkan dengan 2. Membersihkan jalan nafas dan 4. Anjurkan pasien selalu merubah posisi lanjut 2. Berikan obat sesuai indikasi : hipoksemia jaringan Diuretik. tirah baring dengan kepala tempat tidur lebih tinggi (Semi kebutuhan dan meningkatkan ekpansi Fowler) paru maksimal memudahkan aliran O2 3. nafas dalam 3. Terlalu kering atau lembab kelembapan / ekresi merusak kulit dan mempercepat 3. dan penurunan perfusi jaringan • • Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intregritas kulit Kriteria hasil : mempertahankan integritas mendemonstrasikan perilaku / tehnik mencegah kulit. Anjurkan pasien batuk efektif.

4. Pijat area memutih

kemerahan

atau

kulit / terjadinya infeksi 3. Meningkatkan aliran darh, meminimalkan hipoksia jaringan

Diagnosa 6 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi • • Tujuan : Pengetahuan pasien meningkat Kriteria hasil : − Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkanepisod berulang dan mencegah komplikasi − Menyatakan tanda / gejala memerlukan intervensi cepat yang

− Mengidentifikasi stress pribadi / faktor resiko untuk menangani − Melakukan perubahan perilaku yang perlu pola hidup /

Intervensi Rasional 5. Diskusikan pentingnyafungsi 4. Pengetahuan proses penyakit jantung sehat dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program 6. Diskusikan pentingnya pengobatan pembatasan Pembatasan diit natrium diatas 3gr/hari Intervensi Rasional natrium akan menghasilkan efek diuretic 5. Diskusikan obat, tujuan, dan 7. Pemahaman kterapeutik dan efek samping pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah 6. Jelaskan dan diskusikan peran terjadinya komplikasi obat pasien dalam mengontrol faktor 8. Menambah pengetahuan dan resiko dan faktor pencetus memungkinkan pasien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi Diagnosa 7 : Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas

• •

Tujuan : Ansietas pasien berkurang sampai dengan hilang Kriteria hasil : − Mengakui dan mendiskusikan takut / masalah − Menunjukkan perasaan yang tepat − Wajah tampak rileks − Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi

Intervensi Rasional 1. Evaluasi tingkat pemahaman 1. Pasien dan orang terdekat pasien / orang terdekat tentang mendengar dan mengasimilasi diagnose informasi baru Intervensi Rasional untuk memilih intervensi yang 2. Beri kesempatan untuk bertanya tepat jawab 2. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan 3. Libatkan pasien / orang terdekat persepsi interpretasi terhadap dalam perencanaan perawatan informasi 4. Berikan waktu untuk menyiapkan 3. Dapat memperbaiki beberapa peristiwa atau pengobatan perasaan 4. Kontrol / kemandirian pada pasien yang merasa tidak berdaya dalam menerima diagnosa Diagnosa 8 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan mual, anoreksia sekunder terhadap kongesti vena saluran pencernaan dan keletihan • • Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi untuk mempertahankan fungsi tubuh Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral, menjelaskan factorfaktor bila diketahui, menjelaskan rasional dan prosedur untuk pengobatan

Intervensi Rasional 1. Observasi tanda-tanda 1. Diketahui adanya tanda-tanda malnutrisi setiap hari malnutrisi yang merupakan petunjuk adanya gangguan 2. Kelola kebersihan mulut setiap kebutuhan nutrisi 2-4 jam, jika mungkin anjurkan 2. Dapat menambah nafsu makan, untuk menyikat gigi pasien tidak merasa pahit dan enak bila mengunyah Memberikan konseling dan 3. Rujuk ke ahli gizi sesuai bantuan dengan memenuhi kebutuhan indikasi diit Diagnosa 9 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan dispnea noktural dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur yang biasanya • • Tujuan : Pola tidur pasien terpenuhi Kriteria hasil : − Mampu adekuat pikiran menciptakan pola tidur yang dengan penurunan terhadap

− Tampak / bisa istirahat yang cukup

Intervensi Rasional 6. Anjurkan istirahat sejenak, 1. Aktivitas fisik dan mental turunkan aktifitas mental fisik meningkatkan kelelahan yang pada sore hari dapat meningkatkan kebingungan 7. Evaluasi tingkat stress 2. Tingkat stress dapat melonggarkan pola tidur yang 8. Lengkapi jadwal tidur dan mencapai tidur pulas ritual secara teratur 3. Mempertahankan kestabilan 9. Beri makan kecil sore hari lingkungan 10. Berikan obat sesuai indikasi 4. Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk Mungkin efektif dalam menangani penyakitnya untuk meningktkan kemampuan tidur

EGC: Jakarta Sutedjo. Sizanne. EGC: Jakarta Perry & Potter.A.M.Price. I. J Elisabeth. dkk.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Jilid1. Patofisiologi. A. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Perawatan. EGC: Jakarta Smeltzer. 1996. Rencana Asuhan Keperawatan. Judith. 2002. FKUI: Jakarta Rilantono. Askep Pasien dengan Gangguan Penyakit Sistem Kardiovaskuler. Volume 2. Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. 2005. Bandung Muttaqin. EGC: Jakarta Robbins. 1998. Salemba Medika: Jakarta Noer. EGC: Jakarta Wolf. J & Moyet. Linda Juall. Buku Ajar Fundomental Keperawatan Konsep. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi. Dasar-dasar Ilmu Keperawatan. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart. Edisi 3. Arif. 2005. Buku Saku Patofisiologi. Proses Keperawatan. 2007.H. Buku Saku Dasar Patologi Panyakit. Barbara. 2001. 2007. C. Jakarta Long C. E. EGC: Jakarta Corwiri. buku ke 2 . EGC: Jakarta Lismidar. Stanley. Edisi 3. 1996. 2006. Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjadjaran. EGC: Jakarta Wilkinson. Proses dan Praktek. Buku Saku Diagnosis Keperawatan NIC dan NOC. Balai Penerbit UI. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Kepeawatan). Lily. Edisi 6. Buku ke2.Syaifullah. 2009. M. 1996. Marilyn. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Buku Ajar Kardiologi. 1990. Edisi 8. Edisi revisi. 1999. 1999. 2000. 1984. EGC: Jakarta Doengoes. Edisi 4. Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. EGC: Jakarta Carpenito L. Amara Books: Ygyakarta Sylvia.Y.L. EGC: Jakarta Depkes RI.

Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut dan letaknya di dalam rongga dada. merupakan SCLC ( small cell lung cencer ) dan NSCLS ( non small cell lung cencer ) atau karsinoma skuamosa.BAB I KONSEP DASAR MEDIK A. ( Underwood. Kanker Paru merupakan abnormalitas dari sel-sel yang mengalami proliferasi dalam paru. karsinoma sel besar. Tumor adalah Neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan baru yang abnormal. ( Hood Al Sagaff.1993 ) 2.1993 ) 3.2000 ) . Jenis tumor paru dibagi untuk tujuan pengobatan. ( Hood Al Sagaff. adenokarsinoma. DEFINISI 1. Karsinoma bronkogenik adalah tumor ganas primer yang berasal dari saluran nafas.

a. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam terdiri dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan. Jadi dari pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan kanker paru adalah penyakit keganasan yang terjadi dibagian paru yang mengalami proliferasi di dalam paru. Merokok Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. Faktor Presipitasi Penyebab terjadinya kanker paru belum jelas diketahui. Polusi udara Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap disel dalam atmosfer di kota. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. 2001. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif. menimbulkan tumor. Paparan zat karsinogen ( asbestos. c. B. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). b. Faktor Predisposisi Menurut Slamet Suyono. radon arse ) Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. 2. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. radiasi ion. .4.

Diet Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten. tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiah. Kanker paru akibat kerja Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenik (pembasmi rumput). selenium dan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru. Teori Onkogenesis. Pekerja pemecah hematite (paru – paru hematite) dan orang – orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden. Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen). Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan (insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya.d. Dengan demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada permulaan terbatas pada sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya. . Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom.programmed cell death). Predisposisi Gen supresor tumor Inisitor Delesi/ insersi Promotor Tumor/ autonomi Progresor Ekspansi/ metastasis d.

Wheezing unilateral dapat terdengar pada auskultasi.Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. tulang rangka. PATOFISIOLOGI Menurut Practice Guidelines. biasa timbul efusi pleura. 2002. dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra.C. pericardium. khususnya pada hati. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal.hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura. hemoptysis.hyperplasia dan displasia. penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase. Pada stadium lanjut. Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. otak. demam. dinding esofagus. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia. dan dingin. 0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d46430100 0000000001006a5d0000000001000000180300000000000018030000010000006c0 000000000000000000000350000006f0000000000000000000000f04100003b32000 020454d460000010018030000120000000200000000000000000000000000000040 120000901a0000c600000020010000000000000000000000000000950403007a640 400160000000c000000180000000a00000010000000000000000000000009000000 10000000960f0000db0b0000250000000c0000000e000080250000000c0000000e00 0080120000000c00000001000000520000007001000001000000a4ffffff000000000 000000000000000900100000000000004400022430061006c006900620072006900 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 0000000000000000000000000000000000000ca0668f0ca0610000000ccf3ca064cf1 ca0652516032ccf3ca06c4f0ca061000000034f2ca06b0f3ca0624516032ccf3ca06c4f 0ca062000000049642f31c4f0ca06ccf3ca0620000000ffffffff5c1ad200d0642f31fffff fffffff0180ffff0180edff0180ffffffff000000000008000000080000430000000100000 0000000005802000025000000372e9001000000000000000000000000ef0200a07b2 0004000000000000000009f00000000000000430061006c00690062007200000000 00c4f3ca060bf32e3158f6ca0658020000c4f3ca06f8f0ca069c382731060000000100 000034f1ca0634f1ca06e8782531060000005cf1ca065c1ad20064760008000000002 50000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c0000000100 0000180000000c00000000000002540000005400000000000000000000003500000 06f00000001000000cf9d8740888787400000000057000000010000004c000000040 000000000000000000000940f0000de0b0000500000002000000036000000460000 00280000001c0000004744494302000000ffffffffffffffff970f0000dd0b00000000000 04600000014000000080000004744494303000000250000000c0000000e00008025 . dispneu. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia.

dan menonjol kedalam bronki besar.Tumor ini timbul dari sel – sel Kulchitsky. b. KLASIFIKASI KANKER PARU Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma Pleura dan Paru – paru (1977) : 1. Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. komponen normal dari epitel bronkus. Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama bronki. Metastasis dini ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus. atau displasia akibat merokok jangka panjang. Karsinoma epidermoid (skuamosa). secara khas mendahului timbulnya tumor.D. Terbentuk dari sel – sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit. dinding dada dan mediastinum. Terletak sentral sekitar hilus. Ketika batuk dan menarik nafas yang dalam e) Hilang nafsu makan dan berat badan E. Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat). Karsinoma Bronkogenik. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinik pada penderita tumor paru yaitu : a) Batuk yang terus menerus dan berkepanjangan b) Nafas pendek-pendek dan suara parau c) Batuk berdarah dan berdahak d) Nyeri pada dada. Perubahan epitel termasuk metaplasia. a. demikian pula dengan penyebaran hematogen ke organ – . Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter dan cenderung menyebar langsung ke kelenjar getah bening hilus.

Lesi seringkali meluas melalui pembuluh darah dan limfe pada stadium dini. F. STADIUM Tabel Sistem Stadium TNM untuk kanker Paru – paru: 1986 American Joint Committee on Cancer. 1995). Tak terklasifikasi. Adenokarsinoma alveolar). (Price. Mesotelioma. Tumor papilaris dari epitel permukaan. 3). Melanoma. 4). d. tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat – tempat yang jauh. Lain – lain. Tumor kelenjar bronchial.organ distal. e. dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala – gejala sampai terjadinya metastasis yang jauh. Patofisiologi. Sarkoma 6). (termasuk karsinoma sel Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. c. 2). 1).paru perifer. Tumor campuran dan Karsinosarkoma 5). Kebanyakan timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang – kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut local pada paru – paru dan fibrosis interstisial kronik. Karsinoma sel besar. Sel – sel ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru . Merupakan sel – sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam – macam. Tumor karsinoid (adenoma bronkus). 8). . 7).

atau karina. Tumor dalam setiap ukuran yang sudah menyerang mediastinum atau mengenai jantung. atau adanya efusi pleura yang maligna. atau pericardium tanpa mengenai jantung. trakea. pleura mediastinalis. koepua vertebra. Tx TIS T1 T2 T3 Tumor dalam setiap ukuran dengan perluasan langsung pada dinding dada. atau dalam jarak 2 cm dari karina tetapi tidak melibat karina. Metastasis pada mediastinal ipsi lateral atau . esofagus. Tumor dengan diameter 3 cm atau dalam setiap ukuran dimana sudah menyerang pleura viseralis atau mengakibatkan atelektasis yang meluas ke hilus. pembuluh darah besar. pembuluh darah besar. trakea. diafragma. T4 Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar limfe regional. Metastasis pada peribronkial dan/ atau kelenjar – kelenjar hilus ipsilateral. esofagus. atau korpus vertebra.Gambaran TNM Tumor primer (T) T0 Defenisi Tidak terbukti adanya tumor primer Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus tetapi tidak terlihat pada radiogram atau bronkoskopi Karsinoma in situ Tumor dengan diameter ≤ 3 cm dikelilingi paru – paru atau pleura viseralis yang normal. harus berjarak 2 cm distal dari karina.

Metastasis jauh (M) M0 Karsinoma in situ. tidak ada Kelompok stadium Karsinoma TxN0M0 tersembunyi . Kelenjar limfe regional (N) N0 Metastasis pada mediastinal atau kelenjar – kelenjar limfe hilus kontralateral. N1 N2 Tidak diketahui adanya metastasis jauh. kelenjar – kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral. Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu (seperti otak). N3 Sputum mengandung sel – sel ganas tetapi tidak dapat dibuktikan adanya tumor primer atau metastasis.kelenjar limfe subkarina. M1 Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 tanpa adanya bukti metastasis pada kelenjar limfe regional atau tempat yang jauh. Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 dan terdapat bukti adanya metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral. Tumor termasuk klasifikasi T3 dengan atau tanpa bukti metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral.

Setiap tumor dengan metastasis pada kelenjar limfe hilus atau mediastinal kontralateral. atau 0 pada kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular. tidak ada metastasis jauh. I Setiap tumor dengan metastsis jauh. atau setiap tumor yang termasuk klasifikasi T4 dengan atau tanpa metastasis kelenjar limfe regional.metastasis jauh. Stadium TISN0M0 Stadium T1N0M0 T2N0M0 Stadium T1N1M0 T2N1M0 II Stadium T3N0M0 T3N0M0 IIIa Stadium Setiap T N3M0 setiap NM0 IIIb T4 .

limpa ) g) Mediastinoskopi menentukan apakah tumor telah metastase ke limfe mediastinum. namun hanya < 25 % kasus yang biasa di operasi dan hanya 25 % diantaranya ( 5 % dari semua kasus ) yang telah hidup setelah 5 tahun. Tetapi radikal sesuai untuk penyakit yang bersifat lokal dan hanya menyembuhkan sedikit diantaranya. Setiap G. 2) Radioterapi radikal Digunakan pada kanker paru bukan sel kecil yang tidak bisa di operasi. e) Aspirasi dengan jarum dan biopsi jaringan paru dapat dilakukan jika pemeriksaan radiologi menunjukkan lesi di paru-paru perifer. f) Radionuklide scan terhadap organ-organ lain menentukan luasnya metastase ( otak. PEMERIKSAAN PENUNJANG ( Barbara. tulang. PENATALAKSANAAN MEDIK 1) Pembedahan Memiliki kemungkinan kesembuhan terbaik. d) Bronkoskopi dapat dilakukan untuk memperoleh sample untuk biopsi dan mengumpulkan hapusan bronkial tumor yang terjadi di cabang bronkus.1995).Stadium IV T. Tingkat mortalitas perioperatif sebesar 3 % pada lobektomi dan 6 % pada pneumorektomi.setiap N. H. 1998 ) a) Foto dada menunjukkan sisi lesi b) Analisis sputum untuk sitologi menyatakan tipe sel kanker c) Skan tomografi komputer dan tomogram paru menunjukkan lokasi tumor dan ukuran tumor.M1 (Price. hepar. 3) Radioterapi paliatif .

nyeri dada b) Batuk produktif tak efektif c) Suara nafas : Mengi pada inspirasi d) Serak. sesak yang disertai nyeri dada b. 4) Kemoterapi Digunakan pada kanker paru sel kecil karena pembedahan tidak pernah sesuai dengan histologi kanker jenis ini. Kebutuhan dasar 1) pola makan : Nafsu makan berkurang karena adanya sekret dan terjadi kesulitan menelan ( disfagia ). sesak nafas atau nyeri lokal. paralysis pita suara . batuk. Pemeriksaan fisik 1) Sistem pernafasan a) Sesak nafas. kelemahan c. PENGKAJIAN 1. 5) Terapi endobronkhial Seperti kerioterapi. meningkatkan kualitas hidup. Pengumpulan data a. Keadaan umum : Lemah. Peran kemoterapi pada kanker bukan sel kecil belum jelas.Untuk hemoptisis. I. 6) Perawatan Faliatif Mengurangi dampak kanker. penurunan BB 2) pola minum : Frekuensi minum meningkat ( rasa haus ) 3) pola tidur : Susah tidur karena adanya batuk dan nyeri dada 4) Aktivasi : Keletihan. tetapi laser atau penggunaan stent dapat memulihkan gejala dengan cepat pada pasien dengan penyakit endobronkhial yang signefikan.

ukuran dan lokasi lesi. disritmia b) Menunjukkan pericardial ) efusi ( gesekan 3) Sistem gastrointestinal a) Mual.2) Sistem kardiovaskuler a) Takikardia. atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra. Data penunjang a) Foto rontgen dada secara posterior-anterior Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus. c) CT-Scanning untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura d) MRI Untuk menilai kelainan tumor yang menginvasi kedalam . Untuk melihat tumor di percabangan bronkus. BB menurun 4) Sistem urinarius Peningkatan frekuensi / jumlah urine 5) Sistem neurologis a) Perasaan takut / takut hasil pembedahan b) Kegelisahan a.muntah b) Kesulitan menelan c) Penurunan intake makanan. effuse pleural. b) Bronkhografi. Menggambarkan bentuk.

Supraklavikula. . e) Bone scanning Pemeriksaan ini diperlukan bila diduga ada tanda-tanda metastasis ke tulang. pemeriksaan 3-5 berturut-turut. g) Pemeriksaan Histopatologi Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas diagnosis kanker paru untuk mendapatkan spesimennya dapat dengan cara biopsi melalui : a) Bronkoskopi Memungkinkan visualisasi. f) Pemeriksaan Sitologi : Pemeriksaan sitologi sputum rutin dikerjakan terutama bila pasien ada keluhan batuk. medula spinal.vertebrata.dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui). pemeriksaan sputum yang baik dapat memberikan hasil positif sampai 67-85 % pada karsinoma sel skuamosa. sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %. Insiden tumor Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC). Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada cairan pleura. mediastinum. Dianjurkan e) Waktu pemeriksaan sputum ( sputum harus segar ) Pada kanker paru yang letaknya sentral. aspirasi kelenjar getah bening servikal. bilasan dan sikatan bronkus pada bronkoskopi. Pemeriksaan sitologi tidak selalu memberikan hasil positif karena ia tergantung dari : a) Letak tumor terhadap bronkus b) Jenis tumor c) Tekhnik mengeluarkan sputum d) Jumlah sputum yang diperiksa. pencucian bagian. b) Trans Torakal Biopsi ( TTB ) Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm.

Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan krisis situasi. Dan/atau obat-obat penghilang rasa nyeri yang dapat mengganggu kemampuan untuk membersihkan sekresi. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder. Kerusakan Pertukaran Gas Berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dari paru dengan permukaan yang terkena karena kanker atau pneumonia. Perubahan proses Pikir berhubungan dengan Sindrom SSP (susunan saraf pusat) dan/atau peningkatan tekanan intracranial sekunder terhadap terapi radiasi cranial. 6. menurunnya tingkat kesadaran karena anesthesia. faktor psikologis. 2. proses penyakit kronis 5. Resiko Tinggi terhadap Disfungsi Neurovaskuler Perifer berhubungan . 8. Kurang pengetahuan berhubungan dengan terapi radiasi kranial 7. d) Mediastinoskopi Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat dapat dilakukan dengan cara mediastinoskopi dimana mediastinoskopi dimasukkan melalui insisi supra sternal.takut mati. ancaman untuk/perubahan status kesehatan.2000 1.c) Torakoskopi Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Danielle Gale. e) Torakotomi Untuk diagnosis kanker paru dikerjakan bila berbagai prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor. Hasil biopsi memberikan nilai positif 40 % dari studi lain nilai negatif palsu pada mediastinoskopi di dapat sebesar 3-12 ( diikuti dengan torakotomi ). 4. Perubahan Nutrisi Kurang dari kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Tidak mampu mencerna makanan yang masuk secara adekuat karena lokasi tumor dan penanganan tumor seperti kemoterapi dan/atau terapi radiasi. J. 3. terpasangnya jalan napas buatan yang menghambat kemampuan untuk membersihkan sekresi. Resiko terhadap Bersihan Jalan Napas Tak efektif berhubungan dengan Peningkatan jumlah sekresi akibat dari manipulasi pembedahan.

nyeri mulut. taxol. 11. mual.2000 1. K.2000 dan Lynda Juall Carpenito. Kaji adanya anoreksia. atau disfagia. 9. Diare berhubungan dengan Perubahan pada membrane mukosa kolon dan usus besar. mempengaruhi mukosa oral atau gastrointestinal yang membuat pencernaan makanan menjadi sulit. muntah Berat badan turun Mengeluh masukan makan kurang Cepat merasa kenyang Tidak mampu makan sehubungan dengan dipsnea atau keletihan. dan/atau ulserasi. stomatitis dengan kemoterapi/ radiasi yang mukolitis. Memberikan Kaji makanan yang disukai dan/atau informasi untuk . Dispepsia. muntah Tanda dan gejala yang berhubungan (berapa kali dan jumlah). terutama agen alkaloid vinka seperti vincristine dan vinblastine dan agen lainnya seperti ciplatin. 10. Resiko terhadap Konstipasi berhubungan dengan Neurotoksistas dari agen kemoterapi alkaloid vinka seperti vinblastine dan viankritisne. Definisi : Suatu keadaan di mana individu yang tidak puasa mengalami atau yang berisiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan yang takadekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik. Perubahan Nutrisi Kurang dari kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Tidak mampu mencerna makanan yang masuk secara adekuat karena lokasi tumor dan penanganan tumor seperti kemoterapi dan/atau terapi radiasi. Nyeri berhubungan dengan parestesia menyakitkan karena agen kemoterapi. FOKUS INTERVENSI Menurut Danielle Gale.dengan kerusakan saraf Karena kemoterapi. Intervensi Rasional Anoreksia Mual. Batasan Karakteristik : a) b) c) d) e) f) Kriteria hasil : Pasien makan cukup makanan untuk mempertahankan berat badan dalam 5% berat badan dasar. procarbazine.

anjurkan pasien untuk makan saat tidak merasa lapar. penurunan massa otot/jaringan. Menurukan stimulus pada pusat muntah dan mengurangi mual berkaitan dengan peningkatan waktu tidur. Berikan kemoterapi saat malam hari. obat antiemetik sebelum Mencegah mual dan muntah dan meningkatkan pemasukan makanan yang adekuat. Mencegah distensi berlebihan dari lambung yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada diafragma. Stomatis dari kemo/radioterapi dapat menyebabkan mukosa kering. Akibat dari pengaruh metabolik tumor kakeksia. Berikan makan. dan Berikan perawatan mulut sebelum amat nyeri yang membuat kesulitan makan dan/atau anesthesia local/topical untuk makan. . Tawarkan makanan sedikit tapi sering. Kaji penurunan berat badan. jika ada Meningkatkan pemasukan makanan. kelemahan. iritasi. Kaji adanya rasa cepat kenyang.yang tidak disukai. perencanaan diet. jika ada masalah nyeri mulut/oral. Meningkatkan kelembaban dalam rongga mulut yang merupakan efek Tawarkan saliva buatan jika ada maslah samping dari radiasi. pada metabolisme tubuh dan jeratanjeratan nutrient dengan memecah sel tumor secara cepat. yang membuat kesulitan bernapas. mulut kering.

mencegah keletihan.Memberikan kalori dan masukan protein tinggi untuk mempertahankan cadangan protein dan Tawarkan kudapan dengan tinggi protein kalori. pernapasan. Batasan Karakteristik : a) b) c) d) Kriteria Hasil : Oksigenasi jaringan dapat dipertahankan. dan/atau cairan pengganti yang mudah di konsumsi. Dipsnea Hipoksia Gelisah Gas darah abnormal Intervensi Rasional Kaji frekuensi. sianosis. kedalaman pernapasan. atau menggunakan otot-otot aksesoris menggunakan otot-otot Bantu napas dan/atau sianosis. Kerusakan Pertukaran Gas Berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dari paru dengan permukaan yang terkena karena kanker atau pneumonia. mungkin mengindikasikan distress pernapasan dan memerlukan intervensi segera. 2. Definisi : Keadaan di mana seorang individu mengalami penurunan jalannya gas ( oksigen dan karbondioksida ) yang aktual ( atau dapat mengalami potensial ) antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular. dispnea. . Perubahan dalam pola dan/atau frekuensi dan mudah timbul dispnea.

kaji penurunan adanya suara tambahan mengindikasikan atau hilangnya ventilasi. Peningkatan masukan cairan diperlukan untuk menghilangkan sekresi dan lebih Anjurkan untuk batuk efektif dan napas mudah untuk membatukkannya. maksimum.Suara napas menurun/hilang mengindikasikan kolaps paru atau Auskultasi suara napas. hari. Membantu untuk mengeluarkan sekresi. status Difusi dan pertukaran O² dan CO² dipengaruhi jika ketersediaan permukaan jaringan berkurang atau menurun dan mungkin mengakibatkan Kaji hasil analisa gas darah jika ketidakseimbangan asam asam basa yang memerlukan intervensi segera. Meningkatkan Biasanya dengan kanula 2-3 L/menit. kendali pernapasan. Kaji perubahan kesadaran. dalam. ronki. dan adanya kebutuhan intervensi tambahan. suara-suara tambahan seperti mengi. pake rangsang. Membantu mempertahankan oksigenasi Berikan posisi semi Fowler atau Fowler jaringan adekuat tanpa menekan pusat tinggi atau izinkan untuk duduk di kursi. gelisah. potensial ventilasi . Meningkatkan potensi ventilasi secara Anjurkan minum minimal 2 liter per maksimal. Berikan Oksigen sesuai kebutuhan. Adanya hal-hal ini mungkin mengindikasikan penurunan oksigenasi jaringan otak. mental. dilakukan.

Berikan antibiotik sesuai pesanan 3. krekels. Definisi : Suatu keadaan di mana seseorang individu mengalami suatu ancaman yang nyata atau potensial pada status pernapasan. Batasan karakteristik : a) b) c) d) e) f) g) Suara napas abnormal (rale. ronki) Frekuensi dan kedalaman pernapasan menurun Takikardia Batuk tidak efektif Sianosis Dipsnea Nyeri yang menghambat kemampuan untuk batuk Kriteria hasil : kecepatan pernapasan kembali pada batas-batas normal dengan jalan napas paten. terpasangnya jalan napas buatan yang menghambat kemampuan untuk membersihkan sekresi. Berikan aerosal atau pengobatan nebulizer sesuai kebutuhan Berikan brokodilator sesuai kebutuhan. Infeksi muncul dan hilang secara teratur pada permukaan paru karena adanya pertukaran gas. . menurunnya tingkat kesadaran karena anesthesia.Meningkatkan terbukanya jalan napas. Dan/atau obat-obat penghilang rasa nyeri yang dapat mengganggu kemampuan untuk membersihkan sekresi. Risiko terhadap Bersihan Jalan Napas Takefektif berhubungan dengan Peningkatan jumlah sekresi akibat dari manipulasi pembedahan.

jika Instruksikan pasien untuk mengambil Untuk penggunaan penghisap napas sebelum. hisapan tersebut. . Pilih kateter dengan diameter setengah dari diameter jalan napas. Tindakan untuk mencegah penurunan saturasi dan trauma yang berlebihan Gunakan penghisap dengan risiko selama melakukan tindakan penghisapan dimana lapisan mukosa sedikit terkena nasofaringeal. nasotrakeal masukan jalan napas nasal. Membantu pasien/keluarga dalam Instruksikan pasien dan/atau keluarga mempertahankan kepatenan jalan napas tentang risiko penghisapan mulut ketika pemberi asuhan/pelayanan dan/atau nasotrakeal sesuai kebutuhan. dan sesudah tindakan. selama dan setelah nasotrakel masukan jalan napas nasal. penggunaan oksigen tambahan sesuai kebutuhan. Mengetahui /menemukan Auskultasi pengunaan penghisap penghisapan itu efektif. Hentikan penghisapan dan berikan suplemen oksigen jika pasien memperlihatkan adanya brakardia.Intervensi Rasional Tentukan kebutuhan akan Mungkin sangat diperlukan penghisapan oral dan/atau trakea. Mencegah penghantaran infeksi bacteria kedalam paru yang dapat menimbulkan infeksi. Tanda-tanda yang mengindikasikan distres pernapasan dan/atau jantung berkaitan dengan kekurangan oksigen. tampak adanya ektopik ventrikel dan/atau penurunan saturasi oksigen. untukmempertahankan terbukanya jalan napas. selama. Memantau oksigen sebelum. Meningkatkan kepatuhan Instruksikan pasien dan/atau keluarga terhadap pentingnya dilakukan penghisapan. Gunakan alat-alat steril untuk setiap prosedur penghisap nasofaring. kesehatan tidak ada.

Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder. proses penyakit kronis Definisi : peningkatan resiko dikarenakan mikroorganisme patogenik Kriteria hasil : Mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam intervensi untuk mencegah/mengurangi resiko infeksi Tetap tidak demam dan mencapai pemulihan tepat pada waktunya .4.

membatasi entri portal terhadap agen Tekankan pentingnya higiene oral infeksius. seperti pangunjung dan staf pengunjung. Tekankan higiene personal. baik.Intervensi Rasional Tingkatkan prosedur mencuci tangan Lindungi pasien dari smber-sumber yang baik dengan staf dan infeksi. Pengenalan diri dan intervensi terhadap segera dapat mencegah progresi pada situasi/sepsis yang lebih serius. Mungkin digunakan untuk Batasi/hindari prosedur Taati tehnik aseptik. mengidentifikasi pasien imunosupresi. Ubah posisi sering. Peningkatan suhu terjadi karena berbagi faktor. pertahankan linen kering dan bebas kerutan. Kaji semua sistem tanda/gejala infeksi. misalnya efek samping kemoterapi. proses penyakit atau infeksi. Panta suhu. Membantu potensial sumber infeksi dan/ pertumbuhan sekunder. Menurunkan resiko kontamonasi. Berikan antibiotik sesuai indikasi. invasif. mengalami ISK. Menurunkan tekanan dan iritasi pada jaringan dan mencegah kerusakan kulit (sisi potensial untuk perkembangan bakteri). infeksi atau diberikan secara profilaktik pada . Terjadinya stomatitis meningkatkan risiko terhadap infeksi.

ancaman untuk/perubahan status kesehatan. . d) Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif.takut mati.5. Definisi : Keadaan di mana individu/ kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom dalam berespons terhadap ancaman yang tidak jelas. Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan krisis situasi. Kriteria hasil : a) Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya. c) Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani. b) Mengakui dan mendiskusikan takut. faktor psikologis.

Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan. . Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi. Identifikasi persepsi klien ancaman yang ada oleh situasi terhadap Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu. Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi. Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol. Rasional Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas. meditasi.Intervensi Observasi peningkatan gelisah. Definisi : Suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalamindefisiensi pengetahuan kognitif atau keterampilanketerampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan. Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. emosi labil. Kurang pengetahuan berhubungan dengan terapi radiasi pada dada untuk kanker paru. 6. bimbingan imajinasi. Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi.

disfagia dan esofagitis ( 3 minggu setelah jaringan sekitarnya. fibrosis pulmonal. Jelaskan efek samping yang mungkin Berkaitan dengan efek terapi dari terapi radiasi pada dada. orientasi realitas. mielitis (jangka lama). Intervensi Rasional Kaji pengetahuan tentang rencana Memberikan informasi untuk pengobatan terapi radiasi dan mengembangkan rencana pengobatan kemungkinan efek sampingnya. Kriteria Hasil : Pasien dapat mendiskusikan kemungkinan efek samping dari penanganan radiasi pada dada dan bagaimana mengatasinya jika efek samping ini timbul/terjadi. pengobatan tersebut. Beritahu pasien/kelurga kapan Informasi kebutuhan pasien/keluarga pengobatan akan dimulai. pemecahan masalah. waktu. perikarditis. Definisi : Keadaan di mana individu mengalami suatu gangguan dalam aktivitas mental seperti berpikir sadar. pneumotitis (1-3 bulan setelah pengobatan). untuk merencanakan aktivitas seharilamanya pengobatan. berdasarakan kebutuhan pasien. 7. Perubahan proses Pikir berhubungan dengan Sindrom SSP (susunan saraf pusat) dan/atau peningkatan tekanan intrakranial sekunder terhadap terapi radiasi kranial. rambut rontok. pengobatan dimulai).Batasan Karakteristik : Pasien mengeluh kurang pengetahuan dan/atau bertanya tentang pengobatan terapi radiasi yang bakan dijalaninya. reaksi kulit pada daerah tersebut radiasi secara fisik pada lapang paru dan (7-10 hari setelah pengobatan). tujuan dari hari sekitar pengobatan. sekresi bronchial yang kental. penilaian dan pemahaman yang .

status mental Meningkatkan orientasi pasien. Hindari aktivitas yang meningkatkan Mencegah trauma atau kerusakan otak tekanan intracranial. mual. Berikan keyakinan yang optimis tetapi Meningkatkan adaptasi pada perubahan realistis pada keluarga dan pasien. muntah.berhubungan dengan koping. sindrom SSP yang mengakibatkan perubahan pada status mental. Intervensi Rasional Kaji tanda dan gejala peningkatan Radiasi cranial dapat menyebabkan tekanan intracranial (TIK) perubahan proses pembengkakan pada jaringna pengelihatan. Batasan Karakteristik : a) Memori hilang b) Tremor c) Somnolen d) Bicara tidak jelas e) Tidak mampu belajar f) Sakit kepala g) Perubahan pengelihatan h) Mual dan muntah Kriteria hasil : Pasien dan/atau keluarga atau orang terdekat mampu mengidentifikasi perubahan status mental yang perlu untuk dilaporkan pada tim tenaga kesehatan. lebih lanjut. Pantau status neurologis secara terus Radiasi kranial dapat menyebabkan menerus. . dan sakit otak yang mengalami trauma. kepala.

atau gerakan ekstremitas. terutama agen alkaloid vinka seperti vincristine dan vinblastine dan agen lainnya seperti ciplatin. Risiko Tinggi terhadap Disfungsi Neurovaskuler Perifer berhubungan dengan kerusakan saraf Karena kemoterapi. karena demielinisasi dan degenerasi akson saraf. 8. Keruskan saraf dari alkaloid vinca dapat menggangu kemampuan penerimaan stimulus taktil. Definisi : Suatu keadaan di mana seorang individu berisiko mengalami suatu gangguan sirkulasi. Batasan karakteristik : a) Pasien mengeluh hilangnya gerakan motorik halus b) nyeri terbakar pada ekstremitas c) baal pada ekstremitas d) gangguan berdiri Kriteria hasil : perubahan persepsi/sensori akan terdeteksi secara dini dan rasa tidak nyaman dan/atau hilang fungsi darinya akan minimal. taxol. Pantau respons pada rangsang taktil. Intervensi Rasional Pantau terhadap parestesia : kebas. refleks tendon dalam. procarbazine. . berjalan. Kerusakan saraf dari alkaloid vinca mungkin dapat menyebabkan perubahan Kaji fungsi propriosepsi seperti gaya pada fungsi propriosepsi. sensasi.Kaji orientasi dan orientasikan kembali sesuai kebutuhan. penempatan bagian tubuh tertentu. kelemahan otot atau atrofi otot. keseimbangan. Parastesia dari alkaloid vinca mungkin kesemutan sebelum setiap dosis obat.

9. .Beritahu dokter jika ada perubahan pada Meningkatkan identifikasi dini terhadap status neurologist. efek samping obat atau agen tertentu yang mungkin mengakibatkan penghentian atau penurunan dosis obat yang diberikan. Diskusikan dampak dari perubahan neurologis terhadap aktivitas sehari-hari dan kebutuhan yang mungkin dan/atau terapi fisik. Gangguan sensori dapat mempengaruhi Rujuk dengan tepat pada terapi okupasi kemampuan untuk melakukan aktivitas atau terapi fisik. Meningkatkan kemandirian dengan memaksimalkan fungsi yang ada. Batasan Karakteristik : a) Pasien mengeluh terasa terbakar b) Kesemutan c) Nyeri gesekan pada ekstremitas Kriteria Hasil : Nyeri pasien akan menurun Intervensi Rasional Kaji tingkat kenyamanan dan adanya Memberikan informasi penting untuk kesemutan hebat atau sensasi gesekan. Definisi : Keadaan di mana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam berespons terhadap suatu rangsangan yang berbahaya. Nyeri berhubungan dengan parestesia menyakitkan karena agen kemoterapi. hidup sehari-hari yang memerlukan bantuan seorang profesionalisme untuk memaksimalkan fungsi tersebut.

frekuensi dari obat-obat nyeri yang diresepkan dokter dan bahwa efek dari medikasi itu mungkin tidak segera Meningkatkan penggunaan obat yang benar untuk keuntungan maksimum. nyeri meliputi obat-obatan dan teknik lain yang bermanfaat pada nyeri neuropatik. catat intensitas. natrium fenitoin (Dilantin). dalam dapat Tawarkan pasien tindakan-tindakan nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri . Tindakan-tindakan tersebut mungkin bermanfaat dalam menghilangkan nyeri yang resisten pada metode penanganan Instruksikan pasien/keluarga tentang nyeri tradisional seperti obat-obat nyeri tindakan-tindakan untuk menghilangkan non-narkotik dan narkotik. sperti bimbingan imajinasi. waktu. masase.kram atau rasa terbakar. Nyeri neuropatik lebih sulit untuk hilang dan menggunakan penggunaan tindakan penghilang nyeri non-tradisional Beritahu pasien/keluarga mengenai dosis. relaksasi otot progresif. Agen-agen ini diindikasikan pengobatan nyeri disestetik. Panas dan/atau dingin meningkatkan rasa nyeri. mengembangkan rencana perawatan. . Identifikasi factor-faktor presipitasi seperti texrpajan panas atau dingin dan cara-cara menghindarinya. kualitas dan frekuensi dari sensasi tersebut. Berikan analgesic dengan kerja neurologist seperti amitriptilin HCI (Elavil). dan lain-lain.

Batasan Karakteristik : lebih umum dengan vineristine dan/atau vinblastine dosis tinggi (20 mg).10. Rasional Memberikan informasi dasar. Pantau bising usus dan/atau proses defekasi. untuk Meningkatkan kandungan cairan lebih Anjurkan masukan cairan per hari 2-3 tinggi pada feses untuk kemudahan liter. yang mengakibatkan jarang eliminasi dan/atau feses keras dan kering. Meningkatkan kerja propulsif usus. mengeluh konstipasi. Resiko terhadap Konstipasi berhubungan dengan Neurotoksistas dari agen kemoterapi alkaloid vinka seperti vinblastine dan viankritisne. Anjurkan latihan teratur. dapat mengarah pada ileus paralitik dengan nyeri abdomen berat. Kriteria Hasil : Pasien akan mempunyai pola defekasi teratur. Anjurkan makan tinggi serat Degredasi serat dalam kolon membantu dalam membentuk dan pasase feses. pasase. Definisi : Keadaan di mana individu berada pada risiko mengalami status usus besar. Mencegah ileus paralitik melalui . Intervensi Kaji pola eliminasi defekasi. Memberikan informasi memformulasikan perencanaan.

Diare berhubungan dengan Perubahan pada membrane mukosa kolon dan usus besar.defekasi regular. dan . Intervensi Ambil fese untuk kultur dan sensitivitas Memberikan infeksi. Definisi : Keadaan di mana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami defekasi sering dengan feses cair. Rasional informasi mengenai Evaluasi sifat pengobatan mempunyai efek samping gastrointestinal. pada Pantau kulit pada daerah perineal Meningkatkan perawatan kulit terhadap kemungkinan iritasi dan mungkin dapat mencegah infeksi ulserasi. atau feses tidak berbentuk. Berikan laksatif jika tidak dapat defekasi paling sedikit satu kali sehari. Batasan Karakteristik : a) Feses cair b) sering defekasi c) desakan defekasi Kriteria Hasil : pasien mengungkapkan pemahamannya tentang strategi koping pada efek samping ini. 11. Mencegah penggunaan obat-obat yang yang dapat menyebabkan diare.

Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Underwood. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 1998. hood. patrick.2001. Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses Holistik. Jakarta : EGC Long. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah volume I.dkk. Barbara. Edisi 3.Timbang berat badan secara reguler Memberikan mengenai diet yang adekuat. EGC Davey. 2003. 1993. Slamet. 2000.Lynda Juall. 1999. J. 2000. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran Sudoyo. At a Giance Medicine. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. 2006. Danielle dkk. informasi DAFTAR PUSTAKA Alsagaaff.C. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8 : Jakarta. Aru W dkk. 1996. Jilid II. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Suyono. Barbara C.E. Jakarta : Erlangga Engram. Jakarta : EGC . Jakarta : EGC Gale. Patologi Umum & Sistemik Edisi 2. Surabaya : Airlangga Carpenito.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful