Pro dan Kontra UN 2010 Kontroversi pelaksanaan Ujian Nasional semakin ramai diperbincangkan oleh berbagai pihak, baik pihak yang berkompeten di bidangnya maupun pihak yang sama sekali tidak mengerti di bidang pendidikan. Sebelum melangkah lebih jauh mari kita kupas dulu Permen yang menjelaskan peruntukana hasil ujian nasional, yaitu: Hasil Ujian Nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk; 1. Pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; 2. Seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; 3. Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan 4. Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Dari poin 1 di atas rasanya sangat gamang kalau kita dapat menarik kesimpulan bahwa sekolah yang bisa meluluskan siswanya 100% dikatakan bermutu, hal ini cukup logis karena upaya mencapai kelulusan 100% bisa ditempuh dengan cara halal atau cara haram meskipun pemerintah sudah membentuk Tim Pemantau Independen(TPI), mengingat kinerja TPI sangat beragam dan ada sekolah yang sama sekali tidak pernah didatangi TPI mengingat sekolah tersebut cukup sulit medannya. Poin 2 di atas sama sekali tidak berfungsi, karena sebelum Ujian Nasional berlangsungpun Perguruan Tinggi sudah melakukan seleksi, apalagi setelah ujian nasional pelaksanaan tes masuk perguruan tinggi bisa dilaksanakan 3 gelombang di mana semuanya tanpa memperhitungkan jumlah nilai UN. Hanya poin 3 di atas yang dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah, yaitu hasil ujian nasional digunakan sebagai penentu kelulusan siswa dari satuan pendidikan, sehingga Ujian Nasional bisa merusak tatanan kehidupan masarakat yang selama ini sudah menjalankan norma kejujuran. Bahkan sekolah yang berbasi agampun bisa berbuat tidak jujur demi menyelamatkan nasip anak bangsa atau hanya sekedar mengejar prestise. Pemerintah menerapkan Ujian Paket C bagi siswa yang gagal lulus dari SLTA bukanlah jalan untuk meningkatkan mutu pendidikan, justru malah merendahkan mutu pendidikan sekaligus mengaburkan para lulusan paket C, karena bagi siswa yang sudah sekolah formal 3 tahun dari satuan pendidikan tertentu ijazah paket C nya tidak berlabel Satuan Pendidikan tertentu. Poin 4 di atas samasekali belum terealisasi dan adanya justifikasi dini terhadap mutu satuan pendidikan, karena sekolah sebagai biang kerok jika siswanya banyak yang gagal. Saya sangat setuju kalau Ujian Nasional tetap dilaksanakan tapi sekedar untuk mengetahui mutu satuan pendidikan, bukan sebagai satu-satunya penentu kelulusan, karena dengan demikian hasil ujian nasional benar-benar ASLI dan sekolah bisa mengembangkan kompetensi siswa dengan melakukan penelitian, observasi serta tindakan positif lainnya. Yang terjadi selama ini sekolah hanya konsentrasi pada persiapan ujian nasional dengan cara try out, tes psikologi dan cara lainnya yang memerlukan dana cukup besar. Sedangkan Balitbang tiap saat mengembangkan soal-soal ujian nasional yang secara rasional hanya menjebak siswa yang kemampuannya sangat beragam. (Dipublikasikan kaltengpos; Kamis 17 Desember 2009) BERITA PRO UJIAN NASIONAL 1. Penerbitan Permendiknas Ujian Nasional 2010 Mendiknas menerbitkan peraturan No.74 dan 75 tentang Panduan UN Tahun Pelajaran 2009-2010 SD dan SMP/SMA/SMK, ditandatangani oleh Mendiknas Bambang Sudibyo per tanggal 13 Oktober 2009. Salah satu isinya menyebutkan bahwa Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan. (baca selengkapnya Depdiknas ) 2. Kalah di MK Soal UN, Pemerintah Segera Ajukan PK Menyusul keputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi ujian nasional yang diajukan oleh pemerintah, Pemerintah akan kembali melakukan upaya hukum yang terakhir yakni pengajuan peninjauan kembali. “Terus terang saya belum membaca keputusan MA. Yang jelas kita menghormati apa pun keputusan lembaga hukum. Siapa pun juga harus menghormati upaya-upaya hukum yang masih dilakukan. Untuk selanjutnya, tentu pemerintah akan menggunakan hak yang dimiliki,” kata Menteri Pendidikan Nasional RI Mohammad Nuh seusai upacara bendera Peringatan Hari Guru, Rabu (25/11) di halaman Departemen Pendidikan Nasional RI, Jakarta. (baca selengkapnya Kompas.com) 3. 2010, UN Bukan Penentu Kelulusan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh mengatakan, pada tahun 2010 Departemen Pendidikan Nasional (depdiknas) akan melakukan perubahan pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Tetapi pihaknya menyangkal jika perubahan tersebut dikaitkan dengan keputusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi dari pemerintah berkait keputusan dari Pengadilan Tinggi Jakarta tentang pelaksanaan UN. (baca selengkapnya Republika Online) 4. Ujian Nasional Jalan Terus Salah satu anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Prof Mungin Eddy Wibowo, mengatakan bahwa putusan Mahkamah Agung (MA) yang melarang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tak memengaruhi penyelenggaraan UN pada 2010. “Kami akan tetap menyelenggarakan UN pada 2010 sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, dan hal itu juga telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,” kata Mungin. (baca selengkapnya Kompas.com) 5. Hasil UN Meningkat, Pemerintah Puas Pemerintah atau Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), mengaku merasa puas dengan hasil Ujian Nasional (UN) 2008/2009 yang secara nasional persentasenya mengalami kenaikan.(baca selengkapnya: Diknas.go.id) BERITA KONTRA UJIAN NASIONAL 1. Press Realease dari Mahkamah Agung Mahkamah Agung menolak permohonan pemerintah terkait perkara ujian nasional, dalam perkara Nomor : 2596 K/Pdt/2008 dengan para pihak Negara RI cq Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono; Negara RI cq Wakil Kepala Negara, Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla; Negara RI cq Presiden RI cq Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo; Negara RI cq Presiden RI cq Menteri Pendidikan Nasional cq Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan, Bambang Soehendro melawan Kristiono, dkk (selaku para termohon Kasasi dahulu para Penggugat/para Terbanding.(baca selengkapnya Mahkamah Agung ) 2. Pasca Putusan MA, Pemerintah Perlu Tinjau UN “… Dari segi hukum perlu diapresiasi, karena setidaknya putusan MA itu perlu dikritisi oleh pemerintah untuk benar-benar meninjau kembali UN, yang selama ini terjadi pemerintah tidak pernah melakukan itu,” ujar Dr Anita Lie, dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika WIdya Mandala Surabaya. “….Sementara itu, menurut Sekretaris Institute for Education Reform Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen, ada hal lebih penting dari putusan MA tersebut, yaitu soal pemborosan. Abduh mengatakan, pemborosan terjadi akibat dikeluarkannya kebijakan UN ulang bagi siswa yang tidak lulus. “Dengan model yang seperti ini, UN sampai saat ini tidak memperlihatkan satu hal pun yang menyangkut soal peningkatan mutu anak didik,” ujarnya. Abduh menegaskan, kalau tidak dikritisi oleh masyarakat, kondisi yang terjadi akan terus begini. “UN itu tentu bisa diadakan, tetapi kalau sudah dilakukan perubahan pada kerangka pendidikan nasional yang bermutu secara menyeluruh, namun kenyataannya secara makro hal itu tidak ada sama sekali, tidak ada kompromi,” tambahnya. (Baca selanjutnya Kompas.com) 3. Putusan Kasasi UN Dirayakan dengan Tumpeng Peringatan Hari Guru di Bandung dirayakan dengan tumpengan oleh guru, siswa, dan masyarakat pemerhati pendidikan. Syukuran ini juga dilakukan terkait ditolaknya permohonan kasasi pemerintah mengenai ujian nasional oleh Mahkamah Agung. (Baca se;engkapnya Kompas.Com ) 4. Pemerintah Dinilai Langgar Hukum Jika Tetap Gelar Ujian Nasional Pemerintah dinilai melanggar hukum jika tetap menyelenggarakan Ujian Nasional tahun depan. Sebab, putusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi yang diajukan pemerintah dianggap sudah final. (baca selengkapnya Tempointeraktif ) 5. Guru Menuntut Ujian Nasional Dibatalkan Para guru yang tergabung dalam Forum Interaksi Guru Banyumas (Figurmas), Jumat (27/11), menuntut agar Ujian Nasional dibatalkan, menyusul keputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi perkara UN yang diajukan pemerintah. (baca selengkapnya Kompas.Com ) 6. Wakil Ketua MPR Setuju Penghapusan Ujian Nasional Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin meminta pemerintah menerima putusan MA yang membatalkan ujian nasional. Ketimpangan fasilitas pendidikan menjadikan pendidikan di Indonesia tidak pantas lagi distandarisasi secara nasional. (baca se;lanjutnya : Detik News ) 7. Mahasiswa Demo Minta Ujian Nasional Dihapus Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan (AMPP) Polewali Mandar, Sulawesi Barat, melakukan aksi unjuk rasa di kantor dinas pendidikan setempat. Dalam orasinya para mahasiswa mendesak pemerintah dan dinas pendidikan untuk bertanggung jawab dengan bobroknya pelaksanaan ujian nasional tahun ini. (baca se;lanjutnya : Liputan6.com) 8. Tolak UN, BEM Universitas Palangkaraya Demo Puluhan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Palangkaraya berdemo di halaman Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah. Mereka menolak ujian nasional sebagai standar kelulusan. (baca se;lanjutnya: Kompas.com) BERITA “KORBAN” UJIAN NASIONAL 1. Peserta UN Dicampur, Guru Bingung … Kebijakan mencampur peserta UN itu membingungkan pihak sekolah, guru, dan siswa. Apalagi hingga saat ini kepastian soal perubahan-perubahan teknis dalam pelaksanaan UN belum juga disampaikan secara resmi ke sekolah.Sejumlah pimpinan sekolah dari berbagai daerah, Rabu (25/11), mengatakan, rencana mencampur peserta UN menambah beban psikologis pelajar. (baca selengkapnya: Kompas. com) 2. Kisah Pahit Para Korban Ujian Nasional Ujian nasional digugat. Ujian sebagai standarisasi kelulusan itu dianggap mengabaikan prestasi yang dibina anak didik selama bertahun-tahun. Banyak siswa berprestasi tidak lulus hanya lantaran gagal dalam ujian nasional. Seperti yang dialami Siti Hapsah pada 2006. Mimpinya kuliah di Institut Pertanian Bogor sirna gara-gara ujian ujian nasional. Ia dinyatakan tak lulus ujian nasional lantaran nilainya kurang 0,26. (baca selengkapnya VivaNews) 3. Pelajar Alami Gangguan Jiwa Hadapi UN {Video) Seorang siswi kelas 3 SMP Negeri 4 Kendari, Sulawesi Tenggara mengalami gangguan jiwa setelah terlalu banyak belajar menghadapi ujian nasional. (baca selengkapnya VivaNews) 4. Bunuh Diri Karena Tak Lulus UN Gara-gara tak lulus ujian nasional (UN) SMA, seorang pemuda nekat bunuh diri. Diduga karena tak kuat menahan beban psikis, Tri Sulistiono (21) memilih mengakhiri hidupnya dengan cara melompat ke dalam sumur. (baca selengkapnya Suara Merdeka) 5. Mengurung diri setelah gagal UN, Edy akhirnya bunuh diri Edi Hartono (19), aib karena gagal UN masih terus terasa menyesakkan. Setelah mengurung diri di rumah neneknya, mantan siswa SMA di Besuki itu akhirnya bunuh diri. (baca selengkapnya: Kompas. com) 6. Gagal UN, Siswi SMP Mencoba Bunuh Diri Hasil ujian nasional sekolah menengah pertama nyaris membawa korban jiwa di Banyuwangi, Jawa Timur, belum lama ini. Ida Safitri, siswi SMPK Santo Yusuf, mencoba bunuh diri dengan menenggak puluhan pil tanpa merek karena gagal lulus. Beruntung nyawa korban dapat diselamatkan setelah pihak keluarga segera membawanya ke rumah sakit. (baca selengkapnya: Liputan6.com) 7. Siswa SMK Coba Bunuh Diri, Diduga Karena Tak Bisa Ikut UN Ujian Nasional (UN) adalah segalanya bagi seorang siswa. Diduga karena stres tidak bisa ikut UN, Hendrik Irawan (19) nekat minum racun serangga. Beruntung nyawanya bisa diselamatkan. (baca selengkapnya : DetikNews.com) Isu yang mengatakan bahwa Ujian Nasional(UN) tidak akan dilaksanakan lagi pada tahun 2011 ternyata merupakan angin lalu. Nyatanya UN tetap dilaksanakan di tahun 2011. Oleh karena itu, kemungkinan besar UN akan tetap dilaksanakan di tahun 2012 ini.Ujian Nasional meru1pakan sesuatu yang tidak asing lagi di dalam dunia pendidikan. Ujian Nasional merupakan tahap akhir evaluasi belajar siswa dalam menyerap ilmu yantg diterimanya di sekolah.Ujian Nasional merupakan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan dan pelaksanaannya dilaksanakan oleh lembaga-lembaga seperti SD/MI, SMP/MTs. dan SMA/MA/SMK dengan tujuan agar siswa mengetahui kemampuannya serta mengukur kemampuannya dalam menyerap ilmu yang diterimanya di sekolah yang bersangkutan. Meskipun demikian, ujian nasional merupakan sesuatu yang pro dan kontra di kalangan masyarakat. Di satu sisi, masyarakat yang pro diadakannya Ujian Nasional adalah mereka yang beralasan bahwa dengan adanya ujian nasional akan dapat mengevaluasi siswa sejauh mana siswa mampu menyerap ilmu yang diterimanya. Dengan adanya UN, siswa juga dituntut lebih giat belajar dan memperbanyak do'a kepada Allah SWT serta tidak putus asa dalam menghadapi ujian nasional, karena ujian nasional merupakan penentu kelulusan mereka sekaligus penentu masa depan mereka. Penentu masa depan maksudnya, mereka yang sudah lulus ujian nasional akan berpikir ke depannya nanti.Mereka akan melanjutkan sekolah yang lebih tinggi atau berhenti sampai di situ saja. Tetapi di sisi lain, ada juga masyarakat yang kontra tentang diadakannya ujian nasional bahkan mereka mengatakan ujian nasional tidak perlu diadakan.Mereka beranggapan seperti itu karena dalam ujian nasional tidak sedikit mengandung unsur-unsur penipuan. Misalnya ada siswa yang dengan mudah membeli soal UN dan orang yang menjualnya dengan mudah memberikannyakarena tergiur dengan imbalan. Bocoran soal UN juga sering terjadi setiap tahun setaip akan diadakannya UN. Hal ini tentu merupakan suatu yang kontradiksi dari tujuan Ujian Nasional yaitu mengukur kemampuan siswa dalam menyerap ilmu yang diterimanya. Inilah kelemahan dari sistem pendidikan yang ada di negeri ini.Orang yang kontra terhadap UN juga beranggapan bahwa UN merupakan hantu yang menakutkan bagi siswa yang kemampuannya di bawah rata-rata, sehingga siswa tersebut tidak percaya diri dalam menghadapi UN karena dihantui rasa takut pada dirinya kalau-kalau mereka tidak lulus. Dari dua pendapat berbeda di atas, pemerintah dituntut untuk dapat memperbaiki sistem pendidikan yang ada di negeri ini. Misalnya pemerintah tetap mengadakan ujian nasional tetapi tidak sebagai penentu kelulusan siswa. UN hanya diadakan untuk mengevaluasi kemampuan siswa. Pemerintah tidak berpihak terhadap yang pro maupun yang kontra dengan UN.Pemerintah bersikap netral. Dengan demikian, masyarakat yang pro dan kontra terhadap UN, tidak akan lagi berselisih pendapat tentang diadakannya UN. Masalah intensif utk menggenjot nilai UN yg dilakukan sekolah2 seharusnya bukan salah pemerintah kan, knapa harus intensif...toh soal2 UN jauh lebih mudah dari soal2 ulangan harian di sekolah, malah utk UN pemerintah sudah keluarkan KISI-KISI jadi anak sudah bisa perkirakan yang keluar soal seperti apa. Kalo pelajar harus ambil les tambahan untuk pelajaran di sekolah bukankah yang dipertanyakan SEKOLAH nya...ngapain aja dia di SEKOLAH sampai harus les tambahan...iya kan. Kecuali utk BAHASA INGGRIS, SENI dan KETRAMPILAN lainnya, memang les tambahan di luar sekolah masih perlu karena jam belajar di sekolah masih kurang untuk itu, tapi utk pelajaran lain seharusnya tdk ada istilah LES, yang lebih parah lagi ada guru yang memberikan les tambahan pada muridnya sendiri, padahal kan banyak murid sekolah lain yg bisa dia LES in. Lalu masalah MUTU, kalo untuk UN yang sangat mudah saja anak kita GAGAL, bagaimana kita bisa bilang sekolah kita bermutu. Tes, Evaluasi, Ujian, Ulangan atau apapun namanya merupakan cara termudah untuk mengetahui keberhasilan, bukankah semua jenjang rutinitas akademik dan aplikasinya menggunakan metode ini. Mau ke PTN harus tes, mau lamar kerja harus tes, mau naik pangkat harus tes, semua serba tes karena memang itulah cara ter-efisien. Dari 3 tahun proses belajar mengajar yg difasilitasi negara, negara hanya menuntut 1 kali saja TES yang mudah, masa itu saja jadi beban buat kita. Untuk lulus dari Universitas syaratnya juga harus TES kan, 4 thn kuliah capek2 kalo SIDANG yang hanya 2 jam itu tidak lulus ya tetap saja tidak lulus, knapa TES yang itu tidak ada yg PROTES. Bukankah jauh lebih baik kalo kita mengajar saja dengan benar dan mendukung anak2 kita melalui TES ini supaya mereka terbiasa berkompetisi, terbiasa dengan UJIAN, terbiasa mendapatkan sesuatu yang baik dengan bersusah payah. Sukoharjo (Espos)–Kendati masih menuai pro kontra di kalangan pusat, Dinas Pendidikan Sukoharjo menyatakan siap menghadapi ujian nasional (UN) 2009/2010. Hingga kini, para siswa yang akan menghadapi UN di Sukoharjo telah mendapat penambahan pelajaran. Kepala Dinas Pendidikan Sukoharjo, Djoko Raino Sigit saat memberikan pemaparan di hadapan anggota KOMISI X DPR RI, belum lama ini mengatakan, selain memberikan penambahan pelajarankepada siswa, pihaknya kini telah berupaya mengklasifikasi atau memetakan siswa-siswa yang memiliki kemampuan lebih atau pintar. “Pada umumnya kami sudah siap menghadapi UAN, sebab kami sudah melakukan persiapan jauh-jauh hari baik dari sekolah maupun dari muridnya sendiri, bahkan ada juga murid yang juga mengikuti bimbingan belajar di luar untuk persiapan UN, siswa yang pintar juga sejauh ini sudah kami klasifikasi,” terangnya. Terkait adanya isu UN digelar dengan sistem silang siswa antarsekolah, dia memastikan pelaksanaan sistem tersebut bukan merupakan masalah yang harus dikhawatirkan lantaran hal tersebut juga telah dipersiapkan secara matang. “Yang kami terima sejauh ini ada isu UN dilakukan secara silang siswanya tapi khusus untuk SMA atau MA, namun yang jelas dengan sistem apapun kami siap,” katanya. Sementara itu, Bupati Sukoharjo Bambang Riyanto mengatakan, tingkat kelulusan siswa mulai dari jenjang pendidikan SD, SMP hingga SMA di Sukoharjo selama ini cukup baik. Pasalnya, tingkat kelulusan siswa setiap tahunnya rata-rata mencapai 95% hingga 99,94% sehingga rangking UN tingkat provinsi dan tingkat nasional di Sukoharjo terus meningkat. “Meskipun pendidikan di Sukoharjo gratis namun selama ini tidak mempengaruhi kualitas pendidikan menjadi menurun, sebab tingkat kelulusan siswa selama ini juga tetap bagus,” katanya. Pro-Kontra Ujian Nasional 2    Ditulis oleh Joko supriyanto Masalahnya adalah pemerintah ngotot mempertahankan Ujian Nasional sebagai finalisasi seorang siswa pada jenjang pendidikan(SMA/MA dan Kejuruan) Ditinjau dari segi pemerintah bahwa Ujian Nasional dibutuhkan sebagai kontrol sejauh mana suatu sekolah telah menerapkan dengan baik program pendidikan nasional. Oleh karena itu hasil ujian nasional adalah salah satu indikasi keberhasilan sekolah dalam menerapkan kurikulum pendidikan nasional. Dengan alasan ini maka Ujian Nasional apapun kendalanya tetap diperlukan. Sebaliknya jika ditinjau dari pihak sekolah maka dianggap bahwa Ujian nasional sering memperlakukan siswa/i secara tidak adil karena; 1. Yang paling mengetahui perkembangan siswa/i adalah sekolah sendiri maka logikanya yang berhak memberi ujian secara penuh adalah sekolah. 2. Dengan adanya ketentuan harus lulus ujian nasional, maka sia-sialah pelajaran yang diberikan selama 3 tahun jika seorang siswa/i tidak lulus , hanya karena satu-dua pelajaran saja. 3. Bahwa sekolah berhak menentukan siswa/i lulus-tidak lulus ditentukan oleh sekolah tetapi kenyataannya sekolah selalu bersandar pada lulus-tidak lulus Ujian Nasional. Ngapain tahan-tahan mereka kalau nyatanya dia lulus Ujian Nasional? 4. Dengan kenyataan yang dikejar-kejar oleh sekolah adalah pelajaran yang diujikan secara nasional dan ada kesan yang penting lulus ujian nasional pasti lulus ujian sekolah. 5. Ujian Nasional yang dijadikan tolok ukur hanya ranah kognitif sedangkan sekolah mengembangkan 3 ranah pendidikan. Ini semua saya ungkapkan bukan karena saya tidak setuju ujian nasional, bagi saya lebih pilihannya seperti ini; SEMUA DIUJKAN SECARA NASIONAL ATAU SEMUA DIUJIKAN DI SEKOLAH SAJA. Mengapa saya berpendapat demikian? karena jika semua pelajaran diujikan secara nasional maka semua pelajaran akan terangkat, tidak ada “dinomorduakan”. Jika semua diujikan sekolah maka sekolah akan berlomba-lomba meningkatkan mutu sekolah/tidak ada sikap masa bodoh. Jika semua diujikan oleh sekolah, dijamin tidak ada berita soal bocor. Mengapa? karena semua sekolah pasti menjaga kerahasiaan soal dan tidak ada alasan soal bocoran dari sekolah lain. Akhir-akhir ini diketahui, bahwa adanya kebijakan UAN menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, baik dari kalangan pendidikan maupun dikalangan non kependidikan. Adalah suatu hal yang wajar, apabila adanya suatu keputusan menimbulkan suatu yang pro dan kontra. Namun pro yang kontra kali ini, patut dipikirkan oleh pemerintah dalam hal ini jajaran Pemerintah yang berkaitan dengan Pendidikan Nasional. Saya melihat adanya kebijakan Ujian Akhir Nasional dari dua sudut pandang; Pertama, Ujian Akhir Nasional perlu diadakan, dalam rangka untuk mengetahui daya beda pencapaian target dari standar nasional yang ditetapkan, dengan adanya UAN, maka kita akan mengetahui daerah tertentu sudah mmampu memenuhi target, untuk itu kedepannya perlu ditingkatkan, nah bagi daerah yang belum mencapai, maka dibutuhkan suatu terobosan bagaimana daerah tersebut bisa mencapai standar yang ditetapkan. Kedua, UAN tidak perlu dilaksanakan, kalau hanya dijadikan sebagai standar kelulusan, karena akan merusak proses yang selama ini diikutiu oleh siswa. akan menjadi preseden buruk ke depan kalau ini tetap dipaksakan. sebagai ilustrasi, ada anaka yang rajin dan pintar, tidak pernah bolos, selalu juara, tetapi, karena pada malam sebelum ujian, ibu kandungnya sakit, sehingga harus menemani di rumah sakit, dan pagi harinya ujian diikuti dengan tidak konsentrasi akhirnya hasil menyatakan gagal. seorang siswa lainnya yang sering bolos, nilainya kurang memuaskan, tetapi pada saat ujian, kebetulan duduk berdekatan dengan anak yang pitar, sehingga dapat mencontek, akhirnya lulus. dua contoh di atas, menunjukkan bahwa ada ketidak adilan dalam penentuan kelulusan jika hanya menggunakan standar UAN. oleh karena itu solusi yang dapat saya berikan adalah, UAN tetap dilaksanakan untuk point pertama tadi, tetapi untuk menentukan kelulusan berikanlah kesempatan dan otonomi kepada sekolah dalam hal ini adalah guru untuk menentukan kelulusan karena guru yang tahu proses selama ini.
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful