P. 1
Dm Kelompok 8 (1)

Dm Kelompok 8 (1)

|Views: 50|Likes:
Published by Sarah Anindita

More info:

Published by: Sarah Anindita on Jul 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2012

pdf

text

original

Sections

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya semakin meningkat dari tahun ke tahun, World health organization (WHO) memprediksi kenaikan jumlah pasien diabetes di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030, bahkan Indonesia menempati urutan keempat di dunia sebagai jumlah penderita diabetes mellitus terbanyak setelah India, China dan Amerika (Pratiwi, 2007). Pengobatan diabetes memerlukan waktu yang lama (karena diabetes merupakan penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup) dan sangat kompleks (tidak hanya membutuhkan pengobatan tetapi juga perubahan gaya hidup) sehingga seringkali pasien tidak patuh dan cenderung menjadi putus asa dengan program terapi yang lama, komples dan tidak menghasilkan kesembuhan. Hasil penelitian di beberapa Negara, ketidak patuhan pasien diabetes dalam berobat mencapai 40 – 50%. Menurut laporan WHO pada tahun 2003, kepatuhan rata – rata pasien pada terapi jangka panjang terhadap penyakit kronis di Negara maju hanya sebesar 50% dan di Negara berkembang jumlah tersebut bahkan lebih rendah. Tahun 2006 jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 14 juta orang, dari jumlah itu baru 50% penderita yang sadar mengidap dan sekitar 30% diantaranya melakukan pengobatan secara teratur (delamater, 2009; Pratiwi, 2007). Perawat merupakan faktor yang mempengaruhi peran penting dalam merubah perilaku pasien sehingga terjadi kondisi keseimbangan (equilibrium) dalam diri pasien. Pada makalah ini akan dibahas tentang bagaimana perawatan komunitas pada kelompok dewasa dengan diabetes militus.

1.2.Tujuan Tujuan Umum Untuk memberikan gambaran tentang perilaku berisiko pada keluarga dengan anggota penderita diabetes melitus untuk upaya pencegahan dan penanganannya melalui pendekatan proses keperawatan.

Tujuan Khusus: 1. Menjelaskan tentang konsep diabetes melitus 2. Menjelaskan tentang asuhan keperawatan komunitas yang diberikan pada keluarga dengan anggota penderita diabetes melitus.

1.3. Manfaat Sesuai dengan permasalahan dan tujuan di atas, asuhan keperawatan yang ditujukan pada keluarga dengan anggota penderita diabetes melitus diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain: 1. Membantu keluarga untuk memberikan pendidikan formal maupun masyarakat luar. 2. Membantu keluarga dengan anggota penderita diabetes melitus dalam mencegah terjadinya perilaku berisiko. 3. Memberikan informasi data tentang keluarga dengan anggota penderita diabetes melitus dan risiko yang mungkin terjadi. 4. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait keluarga dengan anggota penderita diabetes melitus. 5. Sebagai bahan informasi tambahan bagi petugas kesehatan dalam memberikan penanganan keluarga dengan anggota penderita diabetes melitus dalam hal promotif dan preventif.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Keluarga 2.1.1. Pengertian Keluarga Banyak ahli menguraikan pengertian keluarga sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat. a. Duvall Sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan social dari tiap anggota. b. WHO, 1969 Keluarga adlah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi atau perkawinan. c. Friedman, 1998
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang bergabung karena ikatan tertentu untuk berbagi pengalaman dan pendekatan emosional serta mengodentifikasi diri mereka sebagai bagian darikeluarga

d. Berges, 1962 Yang dimaksud keluarga adalah:     Terdiri dari kelompok orang yang mempunyai ikatan perkawinan, keturunan/hubungan, sedarah atau hasil adopsi. Anggota tinggal bersama dalam satu rumah. Anggota berinteraksi dan berkomunikasi dalam peran social. Mempunyai kebiasaan atau kebudayaan yang berasal dari masyarakat tetapi mempunyai keunukan tersendiri. e. Helvie, 1981 Keluarga adalah sekelompok manusia yang tinggal dalam satu rumah tangga dalam kedekatan yang konsisten dan hubungan yang erat.

f. Salvicion G. bailon dan aracelis maglaya, 1989 Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam perannya masing-masing menciptakan serta

mempertahankan kebudayaan. g. Departemen kesehatan R.I 1998 Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri dari kepela keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah auatu atap dalam keadaan saling

ketergantungan. h. Bailon dan Maglaya. Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya.

Dari pengertian tentang keluarga, dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah 1. Terdiri dari dua atau lebih individuyang diikat oleh hubungan darah perkawinan atau adopsi. 2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain. 3. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran social sebagai suami, istri, anak, kakak dan adik. 4. Mempunyai tujuan yaitu menciptakan dan memperthankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan social anggota.

2.1.2. Tipe Keluarga a. Tradisional Nuclear Keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah. b. Extended Family Adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan lain sebagainya. c. Reconstituted Nuclear Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami atau istri, tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru. Satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah. d. Niddle Age/Aging Couple Suami sebagai pencari uang, istridi rumah atau kedua-duanya bekerja di rumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/ perkawinan/ meniti karir. e. Dyadic nuclear Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak, keduanya atau salah satu bekerja diluar rumah. f. Single Parent Satu orang tua sebagai akibat perceraian atau kematian pasanganya dan anak-anaknya dapat tinggal dirumah atau diluar rumah. g. Dual cariier Suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak h. Commuter married Suami istri atau keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu, keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu. i. Single adult Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untuk kawin.

j. Three Generation Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah k. Institusional Anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti. l. Communal Satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang monogamy dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas. m. Group Marriage Satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunanya didalam satu kesatuan keluarga dan tiiap individu menikah dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak. n. Unmarried parent and Child Ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anak diadopsi. o. Cohibing Couple Dua orang atau pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin.

2.1.3. Struktur keluarga a. Macam Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah: 1. Patrilineal Patrilinear adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak keluarga sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah. 2. Matrilineal Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dari beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalir garis ibu. 3. Matrilokal Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri. 4. Patrilokal Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.

5. Keluarga kawinan Adalah hubungan suami istri sebagai dasar pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri. (Nasrul Effendy, 1998).

b. Ciri-ciri struktur keluarga 1. Terorganisasi Saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga 1. Ada keterbatasan Setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing. 2. Ada perbedaan dan kekhususan Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masingmasing(Anderson Carter)

2.1.4. Peran Keluarga Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal yang berhubungan dengan posisi dan situasi tertentu. Berbagai peran ayng terdapat dalam keluarga adalah sebagai berikut: 1. Peran ayah sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, kepalarumah tangga, anggota dari kelompok sosialnya dan anggota masyarakat. 2. Peran ibu sebagai isteri, ibu dari anaknya, mengurus rumah tangga, pengasuh, pendidik dan pelindung bagi anak-anaknya, anggota kelompok social dan anggota masyarakatserta berperan sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarga. 3. Peran anak-anak sebagai pelaksana peran psikososial sesuai dengan tingkat perkembangan baik fisik, mental dan spiritual.

2.1.5. Fungsi Keluarga Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga sebagai berikut : 1. Fungsi biologis a. Untuk meneruskan keturunan b. Memelihara dan membesarkan anak c. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga d. Mememlihara dan merawat anggota keluarga 2. Fungsi psikologis a. Memberikan kasih sayang dan rasa aman b. Memberikan perhatian diantara anggota keluarga c. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga d. Memberikan identitas keluarga 3. Fungsi sosialisasi a. Membina sisialisasi pada anak b. Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak c. Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga 4. Fungsi ekonomi a. Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga b. Pengaturan pengunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga c. Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga dimasa akan datang misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebaginya. 5. Fungsi pendidikan a. Menyekolahkan anak untuk mremberikan pengetahuan,

keterampilan dan memebentuk perilaku anak esuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. b. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang ddewasa. c. Mendidik anan sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.

Ahli lain membagi fungsi keluarga sebagai berikut : 1. Fungsi pendidikan Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila kelak dewasa nanti. 2. Fungsi sosialisasi anak Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik. 3. Fungsi perlindungan Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari tindakantindakan yang tidak baik, sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman. 4. Fungsi perasaan Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif, merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga. 5. Fungsi religius Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah kehidupan ini. 6. Fungsi ekonomis Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah mencari sumber-sumber kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja untuk memperoleh penghasilan, mengatur

penghasilan tersebut sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.

7. Fungsi rekreatif Tugas keluarga dalam fungsi rerekreasi ini tidak selalu harus pergi ke tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat mecapai keseimbangan kepribadian masing-masing anggotanya. Rekreasi dapat dilakukan di rumah dengan cara menonton televisi bersama, bercerita tenatang pengalaman masing-masing dan sebagainya 8. Fungsi biologis Tugas utama keluarga dalam hal ini adalah untuk meneruskan keturunan sebagai generasi penerus.

Dari beberapa fungsi diatas ada 3 fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarganya, adalah : 1. Asih Adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya. 2. Asuh Adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan mereka anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosial, dan spiritual. 3. Asah Adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan mas depannya.

2.2. Konsep Keperawatan Keluarga Perawat keluarga adalah perawat yang berperan membantu individu dan keluarga untuk menghadapi penyakit dan disabilitas kronik dengan meluangkan sebagian waktu bekerja di rumah pasien dan bersama keluarganya. Keperawatan keluarga dititikberatkan pada kinerja perawat bersama dengan keluarga karena keluarga merupakan subyek. Tujuan keperawatan keluarga

dari WHO di europe yang merupakan praktek keperawatan termodern saat ini adalah :   Promoting and protecting people health. Merupakan perubahan pradigma dari cure menjadi care melalui tindakan preventif. Mengurangi kejadian dan penderitaan akibat penyakit.

Peran perawat keluarga menurut WHO Europe tahun 2000 adalah : a. Health educator (pemberi pendidikan kesehatan) b. Coordinator (Conector) : mengatur perencanaan program-program atau merancang intervensi yang akan dilaksanakan. Contoh merencanakan klien untuk dirujuk ke tim medis lain. c. Provider / caregiver : memberikan pelayanan kesehatan secara langsung. d. Health Promotion (home care & home visit) e. Consultant : penasehat dan memberi saran jika diminta oleh klien f. Collaborator : berkolaborasi dengan tim medis lain untuk tujuan kesembuhan klien. g. Fasilitator : contohnya memfasilitasi keluarga yang kurang mampu untuk memperoleh jamkesmas. h. Case founder : penemu kasus i. Enviromental modifier : memodifikasi lingkungan baik berupa fisik, psikis, maupun perilaku dan gaya hidup. Selain itu peran perawat yang lain juga dapat memberikan saran tentang gaya hidup, perilaku beresiko. dengan pengkajian dapat mendeteksi awal penyakit sehingga dapat memberikan intervensi terhadap penanganan penyakit dini. Mengetahui faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi masalah kesehatan keluarga agar dapat memberikan intervensi yang tepat. Perawat bertindak sebagai lynchpin yaitu terlibat bersama keluarga, tidak terbatas merawat, tetap juga tahu masalah keluarga dan harus menempatkan diri sebagai anggota keluarga sehingga dapat menghubungkan keluarga dengan tim kesehatan lain.

Empat intervensi utama perawat keluarga dititikberatkan kepada pencegahan. 1) Primer : proaktif mencegah stessor, mempermudah mendapatkan fasilitas kesehatan. Contoh : memberi pendkes untuk mencegah penyakit, menciptakan suasana harmonis di keluarga. 2) Sekunder : screening, vaksinasi, deteksi awal timbulnya penyakit. 3) Tersier : rehabilitasi untuk mencegah morbiditas lebih lanjut. Contohnya ROM bagi penderita stroke. 4) Direct care : bekerja sama dengan keluarga yang merupakan sistem pendukung utama untuk menyembuhkan.

Empat tingkatan keluarga 1. Family as context          Fokus pada kesehatan individu Keluarga sebagai background dari anggotanya Keluarga sebai support system atau stressor terberat bagi anggota Individu / anggota keluarga akan dikaji dan diintervensi Keluarga akan dilibatkan dalam berbagai kesempatan

2. Family as client Fokus pada seluruh anggota keluarga Keluarga didefinisikan sebagai kelompoka atau keseluruhan dari anggota keluarga Keluarga merupakan penjumlahan dari anggota-anggotanya Masalah kesehatan atau keperawatan yang sama dari masing-masing anggota kan diintervensi bersamaan. 3. Family as system     Fokus masalah pada hubungan antara anggota keluarga Fokus pengkajian dan intervensi keperawatan adalah subsistem dalam keluarga Anggota-anggota keluarga dipandang sebagai unit yang berinteraksi Fokus intervensi : mengenai hubungan ibu anak, hub perkawinan, dll

4. Family as component of society     Seluruh keluarga dipandang sebagai klien dan jadi fokus utama dari pengkajian dan keperawatan. Fokus keluarga dengan individu sebagai background Keluarga dipandang sebgai interaksional sistem Fokus intervensi : dinamia internal keluarga, hubungan dalam keluarga, hubungan subsistem keluarga dengan lingkungan luar.

2.3. Konsep Tumbuh Kembang Perkembangan keluarga merupakan proses perubahan yang terjadi pada sistem keluarga meliputi; perubahan pola interaksi dan hubungan antar anggota keluarga disepanjang waktu. Perubahan ini terjadi melalui beberapa tahapan atau kurun waktu tertentu. Pada setiap tahapan mempunyai tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar tahapan tersebut dapat dilalui dengan sukses. Perawat perlu memahami setiap tahapan perkembangan keluarga serta tugas tugas perkemabangannya. Hal ini penting mengingat tugas perawat dalam mendeteksi adanya masalah keperawatan yang dilakukan terkait erat dengan sifat masalah yaitu potensial atau aktual. Tahap-tahap perkembangan keluarga Tahap perkembangan dibagi menurut kurun waktu tertentu yang dianggap stabil. Menurut Rodgers cit Friedman (1998), meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangan secara unik, namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama. Tahap perkembangan keluarga menurut Duvall dan Milller (Friedman, 1998) 1) Pasangan Baru Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing. Meninggalkan keluarga bisa berarti psikologis karena kenyataannya banyak keluarga baru yang masih tinggal dengan orang tuanya. Dua orang yang membentuk keluarga baru membutuhkan penyesuaian peran dan fungsi. Masing-masing belajar hidup bersama serta beradaptasi dengan

kebiasaan sendiri dan pasangannya, misalnya makan, tidur, bangun pagi dan sebagainya. Tugas perkembangan 1. Membina hubungan intim dan memuaskan. 2. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial. 3. Mendiskusikan rencana memiliki anak. Keluarga baru ini merupakan anggota dari tiga keluarga ; keluarga suami, keluarga istri dan keluarga sendiri. 2) Keluarga “child bearing” kelahiran anak pertama Dimulai sejak hamil sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak berumur 30 bulan atau 2,5 tahun. Tugas perkembangan kelurga yang penting pada tahap ini adalah: 1. Persiapan menjadi orang tua 2. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan sexual dan kegiatan. 3. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.

Peran utama perawat adalah mengkaji peran orang tua; bagaiaman orang tuan berinteraksi dan merawat bayi. Perawat perlu menfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang positif dan hangat sehingga jalinan kasih sayang antara bayi dan orang tua dapat tercapai. 3) Keluarga dengan anak pra sekolah Tahap ini dimulai saat anak pertama berumur 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun. Tugas perkembangan 1. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman. 2. 3. Membantu anak untuk bersosialisasi. Beradaptasi dengan anaky baru lahir, sementara kebutuhan anak lain juga harus terpenuhi. 4. Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam keluarga maupun dengan masyarakat. 5. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.

6. 7.

Pembagian tanggung jawab anggota keluarga. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang.

4) Keluarga dengan anak sekolah Tahap ini dimulai saat anak berumur 6 tahun (mulai sekolah ) dan berakhir pada saat anak berumur 12 tahun. Pada tahap ini biasanya keluarga mencapai jumlah maksimal sehingga keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah, masing-masing anak memiliki minat sendiri. Dmikian pula orang tua mempunyai aktivitas yang berbeda dengan anak. Tugas perkembangan keluarga. 1. 2. 3. Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkungan. Mempertahankan keintiman pasangan. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat,

termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga. Pada tahap ini anak perlu berpisah dengan orang tua, memberi kesempatan pada anak untuk nbersosialisasi dalam aktivitas baik di sekolah maupun di luar sekolah. 5) Keluarga dengan anak remaja Dimulai saat anak berumur 13 tahun dan berakhir 6 sampai 7 tahun kemudian. Tujuannya untuk memberikan tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa. Tugas perkembangan 1. 2. 3. 4. 5. Memberikan kebebasan yang seimbnag dengan tanggung jawab. Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga. Mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua. Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.

Merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja. 6) Keluarga dengan anak dewasa Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahapan ini

tergantung jumlah anak dan ada atau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua. Tugas perkembangan 1. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar. 2. Mempertahankan keintiman pasangan. 3. Membantu orang tua memasuki masa tua. 4. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat. 5. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga. 7) Keluarga usia pertengahan Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Pada beberapa pasangan fase ini dianggap sulit karena masa usia lanjut, perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang tua. Tugas perkembangan 1. Mempertahankan kesehatan. 2. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak. 3. Meningkatkan keakraban pasangan. 4. Fokus mempertahankan kesehatan pada pola hidup sehat, diet seimbang, olah raga rutin, menikmati hidup, pekerjaan dan lain sebagainya. 8) Keluarga usia lanjut Dimulai saat pensiun sanpai dengan salah satu pasangan meninggal dan keduanya meninggal. Tugas perkembangan 1. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan. 2. Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan pendapatan. 3. Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat. 4. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat. 5. Melakukan life review.

6. Mempertahankan penataan yang memuaskan merupakan tugas utama keluarga pada tahap ini

2.4. Pengertian Diabetes Melitus 2.4.1. Pengertian Diabetes Mellitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, dengan tanda – tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin di dalam tubuh. Gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein. ( Askandar, 2000 ). Diabetes Mellitus adalah sindroma yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara tuntutan dan suplai insulin. Sindroma ini ditandai oleh

hiperglikemi dan berkaitan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Abnormalitas metabolik ini mengarah pada perkembangan bentuk spesifik komplikasi ginjal, okular, neurologik dan kardiovaskuler. Sistem untuk klasifikasi DM dikembangkan oleh The National Diabetes Data Group of the National Institutes of Health (USA) dengan masukan dari Word Health Organization tahun 1985 adalah : A. Clinical Classes I. DM 1. IDDM ( DM Type 1 ). Diabetes tipe I ditandai dengan sekresi insulin oleh pankreas tidak ada dan sering terjadi pada orang muda. Secara normal, insulin bekerja untuk menurunkan kadar glukosa darah dengan membolehkan glukosa masuk kedalam sel untuk dimetabolisme. Caranya dengan mengikat dirinya secara kuat pada tempat reseptor pada membran sel. Efek utama metabolik insulin adalah di otot dan jaringan adiposa. Pada orang diabetes,

kekurangan atau ketiadaan insulin menimbulkan kelaparan pada jaringan ini dan ini menjelaskan mengapa pasien menjadi lelah dan berat badan menurun.

Karena insulin tidak digunakan, terjadi penumpukan didalam darah pada orang diabet dan meluap kedalam urine yang menyebabkan haus dan keluarnya urine dalam jumlah yang banyak. Lebih lanjut masalah ini akan menimbulkan komplikasi physiologic, kecuali kalau diberikan penggantian insulin. Sehingga orang yang menderita DM Tipe I perlu injeksi insulin secara teratur dalam hidupnya untuk mencegah ketosis. Suatu komplikasi yang muncul,akibat gangguan metabolisme lemak. Untuk alasan ini, DM tipe I dikenal sebagai IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus). 2. NIDDM ( DM Type 2 ). Type II akibat dari tidak sensitifnya reseptor insulin terhadap insulin yang sudah tersedia. Pada kelompok ini diit khusus diajurkan untuk menurunkan BB dan diberikan tablet untuk merangsang pancreas untuk mensekresi lebih banyak insulin. Karena tidak dibutuhkan insulin maka diabetes tipe II dikenal sebagai NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes melitus). Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin disebabkan kegagalan relatif sel β pulau Langerhans dan resisteni insulin. Resitensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang

pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel β tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relatif insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel β pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa (Mansjoer, A., 1999). Orang-orang yang DM saat hamil atau gestational diabetes (GDM) biasanya dikenal sebagai type II. Faktor risiko Diabetes Mellitus tipe II antara lain usia, obesitas, riwayat keluarga dengan Diabetes Mellitus tipe II, etnis, , kebiasaan diet, kurang berolahraga, wanita dengan hirsutisme, dan/atau penyakit ovarium polikistik, diabetes gestasional, dan/atau dengan berat badan bayi lebih dari 4 kg saat dilahirkan 3. Questionable DM , bila meragukan type 1 atau type 2. 4. MRDM

a. Fibrocalcolous Pancreatic DM ( FDPD ). b. Proten Deficient Pancreatic DM ( PDPD ). 5. DM type lain dengan keadaan dan gejala yang tertentu. II. Impaired Glucosa Tolerance ( GTG ). III. Gestasional Diabetes Mielitus.

B. Statistical Risk Classes. 1. Kedua orang tuanya pernah menderita DM. 2. Pernah menderita GTG kemudian normal kembali. 3. Pernah melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4 kilogram.

Komplikasi akut mayor berkenaan dengan DM adalah diabetik ketoasidosis (DKA), sindroma nonketotik hiperosmolar hiperglikemia (SNKHH) dan hipoglikemia. Komplikasi jangka panjang mayor berkenaan dengan DM adalah penyakit makrovaskular, penyakit mikrovaskular dan neuropati. Ketoasidosis lebih sering terjadi pada diabetik tipe I karena tak ada insulin yang diproduksi, sedangkan diabetik tipe II menghasilkan sebagian insulin tetapi tidak cukup untuk mempertahankan kadar glukosa darah normal. Penyakit mikrovaskular dan neuropati terjadi lebih sering pada diabetik tipe II karena kesulitan dalam menentukan timbulnya hiperglikemia. Cara terbaik dalam mencegah komplikasi ini adalah melalui kontrol glikemik. DKA adalah gangguan metabolik yang mengancam hidup yang secara potensial akut terjadi sebagai akbat dari defisiensi insulin berkepanjangan. DKA ditandai dengan hiperglikemia ekstrim Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya

jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. ( Askandar, 2001 ). Gangren Kaki Diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitamhitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar di tungkai. ( Askandar, 2001).

2.4.2. Etiologi a. Diabetes Melitus DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu : 1. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin. 2. Faktor – faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara

berlebihan, obesitas dan kehamilan. 3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel – sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel - sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus. 4. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin. b. Gangren Kaki Diabetik Faktor – faktor yang berpengaruh atas terjadinya gangren kaki diabetik dibagi menjadi endogen dan faktor eksogen. Faktor endogen : a. Genetik, Metabolik b. Angiopati diabetik c. Neuropati diabetik Faktor eksogen : a. Trauma b. Infeksi c. Obat

2.4.3. Patofisiologis a. Diabetes Melitus Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut:

1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 – 1200 mg/dl. 2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah. 3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh. Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yang parah yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ), akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat Glukosuria ini akan menyerap kembali semua glukosa. diuresis osmotik yang

mengakibatkan

menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi. Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan arterosklerosis, penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya gangren. b. Gangren Kaki Diabetik Ada dua teori utama mengenai terjadinya komplikasi kronik DM akibat hiperglikemia, yaitu teori sorbitol dan teori glikosilasi. 1. Teori Sorbitol Hiperglikemia akan menyebabkan penumpukan kadar

glukosa pada sel dan jaringan tertentu dan dapat mentransport glukosa tanpa insulin. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan

termetabolisasi habis secara normal

melalui glikolisis, tetapi

sebagian dengan perantaraan enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol. Sorbitol akan tertumpuk dalam sel / jaringan tersebut dan menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi. 2. Teori Glikosilasi Akibat hiperglikemia akan menyebabkan terjadinya

glikosilasi pada semua protein, terutama yang mengandung senyawa lisin. Terjadinya proses glikosilasi pada protein membran basal dapat menjelaskan semua komplikasi baik makro maupun mikro vaskular. Terjadinya Kaki Diabetik (KD) sendiri disebabkan oleh faktor – faktor disebutkan dalam etiologi. Faktor utama yang berperan timbulnya KD adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Neuropati merupakan faktor penting untuk terjadinya KD. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi otot kaki, sehingga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulsetrasi pada kaki pasien. Angiopati akan

menyebabkan terganggunya

aliran darah

ke kaki. Apabila

sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin, nyeri kaki di malam hari, denyut arteri hilang, kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi, oksigen ( zat asam ) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh ( Levin,1993). Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai KD akibat berkurangnya

aliran darah atau neuropati, sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhdap penyembuhan atau pengobatan dari KD. Klasifikasi Wagner ( 1983 ) membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan , yaitu : Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “ claw,callus “. Derajat I Derajat II Derajat III Derajat IV : Ulkus superfisial terbatas pada kulit. : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang. : Abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis. : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis. Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai.

Sedangkan Brand (1986) dan Ward (1987) membagi gangren kaki menjadi dua golongan : 1. Kaki Diabetik akibat Iskemia ( KDI ) Disebabkan penurunan aliran darah ke tungkai akibat adanya makroangiopati ( arterosklerosis ) dari pembuluh darah besar ditungkai, terutama di daerah betis. Gambaran klinis KDI : - Penderita mengeluh nyeri waktu istirahat. - Pada perabaan terasa dingin. - Pulsasi pembuluh darah kurang kuat. - Didapatkan ulkus sampai gangren. 2. Kaki Diabetik akibat Neuropati ( KDN ) Terjadi kerusakan syaraf somatik dan otonomik, tidak ada gangguan dari sirkulasi. Klinis di jumpai kaki yang kering, hangat, kesemutan, mati rasa, oedem kaki, dengan pulsasi pembuluh darah kaki teraba baik. Pemeriksaan laboratorium a. Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl. b. Urine Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine.

Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ), dan merah bata ( ++++ ).

2.4.4. Gejala klinis Diagnosis Kriteria diagnosis DM dengan gangguan toleransi glukosa : I. Diagnosis DM apabila : a. Terdapat gejala – gejala DM ditambah dengan, b. Salah satu dari GDP > 120 mg/dl dan 2 J PP > 200 mg/dl, atau

random GDA > 200 mg/dl. II. Diagnosis DM apabila : a. Tidak terdapat gejala DM tetapi, b. Terdapat dua dari GDP > 120 mg/dl dan 2 j PP > 200 mg/dl, atau random GDA > 200 mg/dl. III. Diagnosis GTG apabila : GDP < 120 mg/dl dan 2 j PP antara 140 – 200 mg/dl. IV. Untuk kasus meragukan dengan hasil GDP > 120 mg/dl dan 2 j PP > 200 mg/dl, ulangi pemeriksaan sekali lagi dengan persiapan minimal 3 hari dengan diit karbohidrat > 150 gr/hari dan kegiatan fisik seperti biasa.

2.4.5. Penatalaksanaan. Terapi primer I. II. III. Terapi sekunder IV. V. Diit. Latihan Fisik. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat. Obat Hypoglikemi ( OAD dan Insulin ) Cangkok pankreas.

2.5. Asuhan keperawatan 2.5.1. Pengkajian Pengumpulan data 1. Anamnese a. Identitas penderita Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal masuk rumah sakit dan diagnosa medis. b. Keluhan Utama Adanya rasa kesemutan pada kaki / tungkai bawah, rasa raba yang menurun, adanya luka yang tidak sembuh – sembuh dan berbau, adanya nyeri pada luka. c. Riwayat kesehatan sekarang Berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya. d. Riwayat kesehatan dahulu Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit – penyakit lain yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas. Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh penderita. e. Riwayat kesehatan keluarga Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang juga menderita DM atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi, jantung. f. Riwayat psikososial Meliputi informasi mengenai prilaku, perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita.

2. Pemeriksaan fisik a. Status kesehatan umum Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan dan tanda – tanda vital. b. Kepala dan leher Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan

pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata keruh. c. Sistem integumen Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban dan shu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku. d. Sistem pernafasan Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM mudah terjadi infeksi. e. Sistem kardiovaskuler Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,

takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis. f. Sistem gastrointestinal Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrase, perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas. g. Sistem urinary Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih. h. Sistem muskuloskeletal Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan, cepat lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di ekstrimitas.

i. Sistem neurologis Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.

3. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah : a. Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl. b. Urine Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine.

Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict (reduksi). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau (+), kuning (++), merah (+++), dan merah bata (++++). c. Kultur pus Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman.

2.5.2. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap proses kehidupan/ masalah kesehatan. Aktual atau potensial dan kemungkinan dan membutuhkan keperawatan untuk memecahkan masalah tersebut. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien gangren kaki diabetik adalah sebagai berikut : 1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. 2. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. 3. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan. 4. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka. tindakan

5. Gangguan

pemenuhan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan intake makanan yang kurang. 6. Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis ) berhubungan dengan tingginya kadar gula darah. 7. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang

penyakitnya. 8. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. 9. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh. 10. Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.

2.5.3. Perencanaan Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka intervensi dan aktivitas keperawatan perlu ditetapkan untuk mengurangi, menghilangkan, dan mencegah masalah keperawatan penderita. Tahapan ini disebut perencanaan keperawatan yang meliputi penentuan prioritas, diagnosa keperawatan, menetapkan sasaran dan tujuan, menetapkan kriteria evaluasi dan merumuskan intervensi dan aktivitas keperawatan. a. Diagnosa no. 1 Gangguan perfusi berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. Tujuan : mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal. Kriteria Hasil : - Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler - Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosis - Kulit sekitar luka teraba hangat. - Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah. - Sensorik dan motorik membaik Rencana tindakan : 1. Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi Rasional : dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah.

2. Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah: Tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung ( posisi elevasi pada waktu istirahat ), hindari penyilangkan kaki, hindari balutan ketat, hindari penggunaan bantal, di belakang lutut dan sebagainya. Rasional : meningkatkan kelancarkan aliran darah balik sehingga tidak terjadi oedema. 3. Ajarkan tentang modifikasi faktor-faktor resiko berupa : Hindari diet tinggi kolestrol, teknik relaksasi, menghentikan kebiasaan merokok, dan penggunaan obat vasokontriksi. Rasional : kolestrol tinggi dapat mempercepat terjadinya arterosklerosis, merokok dapat menyebabkan terjadinya

vasokontriksi pembuluh darah, relaksasi untuk mengurangi efek dari stres. 4. Kerja sama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator, pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ). Rasional : pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah sehingga perfusi jaringan dapat diperbaiki, sedangkan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat

mengetahui perkembangan dan keadaan pasien, HBO untuk memperbaiki oksigenasi daerah ulkus/gangren.

b. Diagnosa no. 2 Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. Tujuan : Tercapainya proses penyembuhan luka. Kriteria hasil : 1. Berkurangnya oedema sekitar luka. 2. pus dan jaringan berkurang 3. Adanya jaringan granulasi. 4. Bau busuk luka berkurang.

Rencana tindakan : 1. Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan. Rasional : Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya. 2. Rawat luka dengan baik dan benar : membersihkan luka secara abseptik menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang menempel pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati. Rasional : merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi yang timbul, sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi. 3. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan kultur pus pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik. Rasional : insulin akan menurunkan kadar gula darah, pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan, pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan penyakit.

c. Diagnosa no. 3 Ganguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan. Tujuan : rasa nyeri hilang/berkurang Kriteria hasil : 1. Penderita secara verbal mengatakan nyeri berkurang/hilang . 2. Penderita dapat melakukan metode atau tindakan untuk mengatasi atau mengurangi nyeri . 3. Pergerakan penderita bertambah luas. 4. Tidak ada keringat dingin, tanda vital dalam batas normal.( S : 36 – 37,5 0C, N: 60 – 80 x /menit, T : 100 – 130 mmHg, RR : 18 – 20 x /menit ). Rencana tindakan : 1. Kaji tingkat, frekuensi, dan reaksi nyeri yang dialami pasien.

Rasional : untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien. 2. Jelaskan pada pasien tentang sebab-sebab timbulnya nyeri. Rasional : pemahaman pasien tentang penyebab nyeri yang terjadi akan mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan pasien untuk diajak bekerjasama dalam melakukan tindakan. 3. Ciptakan lingkungan yang tenang. Rasional : Rangasanga yang berlebihan dari lingkungan akan memperberat rasa nyeri. 4. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi. Rasional : Teknik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien. 5. Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien. Rasional : Posisi yang nyaman akan membantu memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin. 6. Lakukan massage dan kompres luka dengan BWC saat rawat luka. Rasional : massage dapat meningkatkan vaskulerisasi dan

pengeluaran pus sedangkan BWC sebagai desinfektan yang dapat memberikan rasa nyaman. 7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik. Rasional : Obat –obat analgesik dapat membantu mengurangi nyeri pasien.

d. Diagnosa no. 4 Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal. Kriteria Hasil : 1. Pergerakan paien bertambah luas 2. Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan ( duduk, berdiri, berjalan ). 3. Rasa nyeri berkurang.

4. Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan. Rencana tindakan : 1. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien. Rasional : Untuk mengetahui derajat pasien. 2. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal. Rasional : Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan. 3. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui kemampuan. Rasional : Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik. 4. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Rasional : Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi. 5. Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter (pemberian analgesik) dan tenaga fisioterapi. Rasional : Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar. kekuatan otot-otot kaki

e. Diagnosa no. 5 Gangguan pemenuhan nutrisi ( kurang dari ) kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi Kriteria hasil : 1. Berat badan dan tinggi badan ideal. 2. Pasien mematuhi dietnya. 3. Kadar gula darah dalam batas normal. 4. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.

Rencana Tindakan : 1. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan. Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat. 2. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan. Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia. 3. Timbang berat badan setiap seminggu sekali. Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ). 4. Identifikasi perubahan pola makan. Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan. 5. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik. Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam diet jaringan yang sehingga sesuai dapat gula darah

menurun,pemberian

mempercepat

penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.

f. Diagnosa no. 6 Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis) berhubungan dengan tinggi kadar gula darah. Tujuan : Tidak terjadi penyebaran infeksi (sepsis). Kriteria Hasil : 1. Tanda-tanda infeksi tidak ada. 2. Tanda-tanda vital dalam batas normal ( S : 36 – 37,5
0

C)

3. Keadaan luka baik dan kadar gula darah normal.

Rencana tindakan : 1. Kaji adanya tanda-tanda penyebaran infeksi pada luka. Rasional : Pengkajian yang tepat tentang tanda-tanda penyebaran infeksi dapat membantu menentukan tindakan selanjutnya. 2. Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk selalu menjaga kebersihan diri selama perawatan. Rasional : Kebersihan diri yang baik merupakan salah satu cara untuk mencegah infeksi kuman. 3. Lakukan perawatan luka secara aseptik. Rasional infeksi. 4. Anjurkan pada pasien agar menaati diet, latihan fisik, pengobatan yang ditetapkan. Rasional : Diet yang tepat, latihan fisik yang cukup dapat meningkatkan daya tahan tubuh, pengobatan yang tepat, : untuk mencegah kontaminasi luka dan penyebaran

mempercepat penyembuhan sehingga memperkecil kemungkinan terjadi penyebaran infeksi. 5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotika dan insulin. Rasional : Antibiotika dapat menbunuh kuman, pemberian insulin akan menurunkan kadar gula dalam darah sehingga proses penyembuhan.

g. Diagnosa no. 7 Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang

penyakitnya. Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang. Kriteria Hasil : 1. Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan. 2. Emosi stabil., pasien tenang. 3. Istirahat cukup.

Rencana tindakan : 1. Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien. Rasional : Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat. 2. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya. Rasional : Dapat meringankan beban pikiran pasien. 3. Gunakan komunikasi terapeutik. Rasional : Agar terbina rasa saling percaya antar perawatpasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan. 4. Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan. Rasional : Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien. 5. Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin. Rasional : Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien. 6. Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian. Rasional : Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu. 7. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman. Rasional : lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien.

h. Diagnosa no. 8 Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya. Kriteria Hasil : 1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat

menjelaskan kembali bila ditanya. 2. Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh. Rencana Tindakan : 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan gangren. Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau

pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga. 2. Kaji latar belakang pendidikan pasien. Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien. 3. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti. Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. 4. Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya. Rasional : Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang. 5. Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan ( jika ada / memungkinkan). Rasional : gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan.

i. Diagnosa no. 9 Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh. Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan bentuk salah satu anggota tubuhnya secar positif. Kriteria Hasil : Pasien mau berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan. Tanpa rasa malu dan rendah diri. - Pasien yakin akan kemampuan yang dimiliki. Rencana tindakan : 1. Kaji perasaan/persepsi pasien tentang perubahan gambaran diri berhubungan dengan keadaan anggota tubuhnya yang kurang berfungsi secara normal. Rasional : Mengetahui adanya rasa negatif pasien terhadap dirinya. 2. Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya dengan pasien. Rasional : Memudahkan dalm menggali permasalahan pasien. 3. Tunjukkan rasa empati, perhatian dan penerimaan pada pasien. Rasional : Pasien akan merasa dirinya di hargai. 4. Bantu pasien untuk mengadakan hubungan dengan orang lain. Rasional : dapat meningkatkan kemampuan dalam mengadakan hubungan dengan orang lain dan menghilangkan perasaan terisolasi. 5. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan kehilangan. Rasional : Untuk mendapatkan dukungan dalam proses berkabung yang normal. 6. Beri dorongan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri dan hargai pemecahan masalah yang konstruktif dari pasien. Rasional : Untuk meningkatkan perilaku yang adiktif dari pasien.

j. Diagnosa no.10 Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. Tujuan : Gangguan pola tidur pasien akan teratasi. Kriteria hasil : 1. Pasien mudah tidur dalam waktu 30 – 40 menit. 2. Pasien tenang dan wajah segar. 3. Pasien mengungkapkan dapat beristirahat dengan cukup. Rencana tindakan : 1. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang. Rasional : Lingkungan yang nyaman dapat membantu

meningkatkan tidur/istirahat. 2. Kaji tentang kebiasaan tidur pasien di rumah. Rasional : mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien. 3. Kaji adanya faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain seperti cemas, efek obat-obatan dan suasana ramai. Rasional : Mengetahui faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain dialami dan dirasakan pasien. 4. Anjurkan pasien untuk menggunakan pengantar tidur dan teknik relaksasi . Rasional : Pengantar tidur akan memudahkan pasien dalam jatuh dalam tidur, teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri. 5. Kaji tanda-tanda kurangnya pemenuhan kebutuhan tidur pasien. Rasional : Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.

2.5.4. Implemnetasi Tujuan utama penatalaksanaan klien DM adalah untuk mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya kompikasi akut dan kronis. Jika klien berhasi

mengatasi diabetes yang dideritanya maka ia akan terhindar dari hiperglikemia dan hipoglikemia. Penatalaksanaan diabetes tergantung pada ketepatan interaksi dari ketiga faktor: (1) aktivitas fisik, (2) diet dan (3) intervensi farmakologi dengan preparat hipoglikemik oral atau insulin. Penyuluhan kesehatan awal dan berkelanjutan penting dalam membantu klien mengatasi kondisi kronis ini. Intervensi yang direncanakan untuk diabetes harus individual, ini berarti intervensi tersebut harus berdasarkan pada tujuan, usia, gaya hidup, kebutuhan nutrisi, maturasi, tingkat aktivitas, pekerjaan, tipe diabetes klien dan kemampuan untuk secara mandiri melakukan ketrampilan yang dibitihkan oleh rencana penatalakasanaan. Penyatuan aspek psikososial ke dalam rencana keseluruhan adalah vital. Tujuan awal untuk klien yang baru didiagnosa diabetes atau klien dengan kontrol buruk diabetes harus difokuskan pada yang berikut ini : a. Eliminasi ketosis (Jika ada) b. Pencapaian berat badan yang diiinginkan, c. Pencegahan manifestasi hiperglikemia,

d. Pemeliharaan toleransi latihan, e. Pemeliharaan kesejahteraan psikososial.

f. Pencegahan hipoglikemia.

2.5.5. Evaluasi Evaluasi dilkukan dengan mengacu pada tujuan dan criteria evaluasi yang telah ditentukan.

Bab 3 Tinjauan Kasus

3.1. Pengkajian A. Identitas 1. Nama KK 2. Umur 3. Alamat 4. Pekerjaan 5. Pendidikan : Tn. M : 47 tahun : Maospati : Swasta :-

6. Komposisi Keluarga : No . 1. 2. 3. Ny. J Tn. S Nn. J Nama Jenis kelamin P L P Hubungan keluarga Isteri Saudara Anak 42 th 40 th 24 th Swasta Swasta Swasta DM Sehat Sehat Umur Pekerjaan Keterangan

7. Tipe Keluarga 8. Suku Bangsa 9. Agama 10. Status Sosial ekonomi keluarga 11. Aktivitas rekreasi keluarga

: keluarga besar : Jawa – Indonesia : Islam : Suami – Isteri swasta :-

B. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga 1. Tahap perkembangan saat ini. : Keluarga berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak dewasa muda. 2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi : Keluarga mengatakan tahap perkembangan yang belum terpenuhi adalah tahap perkembangan anak remaja, karena Nn.J hanya bersekolah sampai SMP saja. Dikarenakan keterbatasan biaya.

C. Pengkajian Lingkungan 1. Karakteristik Rumah a. Luas rumah 150m2 memiliki 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 dapur, 1 kamar mandi dan ada kandang ternak di depan rumah. b. Kondisi rumah : lantai berupa mester, penerangan cukup (3 jendela) ruangan agak sempit. c. Sumber air minum dari air sumur. d. Kondisi kamar mandi dan jamban : kamar mandi berada di luar rumah tidak ada atapnya, dan jamban berupa WC cemplung. e. Pembuangan sampah : sampah di buang dibelakang rumah kemudian di bakar.

2. Sistem pendukung kesehatan keluarga a. Fasilitas penunjang kesehatan : jika ada masalah kesehatan, keluarga hanya kadang berkonsultasi pada mantri (perawat) di dekat rumahnya. kemudian jarak puskesmas dengan rumahnya sekitar 3km. Keluarga mengatakan tidak memiliki jamkesmas b. Fasilitas pendukung lainnya : dalam keluarga tidak memiliki satu kendaraanpun. Jadi kemana-mana pasti jalan kaki.

3. Karakteristik masyarakat. a. Keluarga mengatakan di dalam masyarakat tidak ada kebiasaan dan aturan yang dapat mempengaruhi kesehatan. b. Fasilitas pelayanan kesehatan : puskesmas, dokter praktek, dan juga perawat.

D. Struktur Keluarga 1. Pola Komunikasi Keluarga Keluarga mengatakan apabila ada masalah keluarga atau masalah kesehatan, keluarga selalu membicarakanya.

2. Struktur Kekuatan Keluarga Keluarga mengatakan apabila ada masalah kesehatan, kepala keluarga yang memutuskan untuk pengambilan keputusan. Dan tidak jarang juga dilakukan dengan musyawarah keluarga. 3. Struktur Peran Apabila ada anggota keluarga yang sakit yang bertanggung jawab adalah Tn. M, sedangkan yang mencari biaya adalah Tn. M dan Nn. J. dan peran Ny.J jika sakit kadang digantikan olehnya anaknya semisal seperti memasak, bersih-bersih rumah dan lainnya. 4. Nilai atau Norma Keluarga Keluarga mengatakan tidak ada norma atau nilai yang khusus mengatur tentang kesehatan.

E. Fungsi Keluarga 1. Fungsi Afektif Dalam keluarga kurang ada rasa saling memiliki dan menghargai. Ini ditunjukkan dengan kurang perhatian jika ada anggota keluarga yang sakit. 2. Fungsi Sosialisasi Dalam keluarga jarang ada yang mengingatkan tentang peran tanggung jawabnya. Semuanya berjalan dengan sendirinya. 3. Fungsi Reproduksi Keluarga mengatakan ingin memiliki 2 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi tidak terpenuhi karena alasan biaya untuk masa depan anaknya. Ny. J tidak menggunakan alat kontrasepsi sejak 3 tahun yang lalu. Dikarenakan sudah males dan merasa sudah tua jadi tidak perlu memakai KB lagi. Sebelumnya menggunakan KB suntik 3 bulan sekali. 4. Fungsi Ekonomi Jumlah pendapatan perbulan tidak pasti, karena bekerja serabutan. Dan pengeluaran hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

5. Fungsi Pengontrol Kepala keluarga yang berperan aktif untuk menerapkan disiplin dalam keluarga. Semisal dengan bangun pagi lebih awal dan peraturan lainnya. 6. Fungsi Perawatan kesehatan Di dalam keluarga pengetahuan tentang perawatan kesehatan khususnya untuk DM belum begitu dimengerti. a. Riwayat Kesehatan Keluarga Dalam keluarga ada yang menderita kencing manis (DM), Ny. J sudah 6 bulan menderita penyakit tersebut. Jari kaki sebelah kiri terdapat luka sejak 3 minggu yang lalu dan belum sembuh. Dalam keluarga tidak pernah menderita penyakit selain batuk, pilek dan demam. Dan saat ini tidak ada keluarga yang sakit. Semuanya dalam keadaan sehat wal’afiat. b. Riwayat Keluarga Sebelumnya. Di dalam keluarga Suami atau Istri tidak ada yang menderita penyakit yang sama ataupun penyakit lainnya.

Riwayat Kesehatan No. Riwayat kesehatan 1. Keluhan saat ini · Tidak ada keluhan · Nyeri luka pada kaki · Tidak ada keluhan kiri 2. Riwayat penyakit saat ini · Tidak ada · Ibu sudah 6 bulan di · Tidak ada diagnose menderita Tidak ada Tidak ada keluhan Tn.M Ny.J Tn.S Nn.J

kencing manis dan jari kaki kiri terdapat luka 3. Riwayat yang diderita · Pusing, pegel pegel · Punya hipertensi, · Batuk pilek biasa batuk, pilek biasa

sebelumnya 4. Pengalaman terhadap · belum pernah MRS

pusing · belum pernah MRS · Belum pernah MRS Belum pernah MRS

pelayanan kesehatan

Pemeriksaan fisik 5. 6. Keadaan umum Tanda tanda vital · Baik T : 130/80 mmhg N : 86x/menit · Baik T : 130/80 mmhg N : 80x/menit · Baik T : 120/70 mmhg N : 90x/menit · Baik T : 120/80 mmhg N : 86x/menit

S : 36,7 0c RR : 18x /menit BB : 65 kg TB : 165 cm 7. Kepala · Rambut hitam · Konjungtiva merah muda · Sklera tidak ikterus · Palpebra tidak bengkak · Fungsi pengelihatan baik · Tidak ada polip pada hidung · ada sekret · Fungsi penciuman baik · Telinga simetris tdak ada sumbatan · Fungsi pendengaran baik · Bibir lembab, tidak pucat · Tidak ada stomatitis · Gigi tidak ada karies,

S : 36,4 0c RR : 22x /menit BB : 46 kg TB : 155 cm · Rambut hitam · Konjungtiva metrah muda · Sklera tidak ikterus · Palpebra tidak bengka · Fungsi penglihatan baik · Tidak ada polip pada hidung · Tidak ada sekret · Fungsi penciuman baik · Telinga simetris tdakada sumbatan · Fungsi pendengaran baik · Bibir lembab, tidak pucat · Tidak ada stomatitis

S : 36,5 0c RR : 20x /menit BB : 50 kg TB : 157 cm · Rambut hitam · Konjungtiva merah muida · Sklera tidak ikterus · Palpebra tidak bengkak · Fungsi pengelihatan baik · Tidak ada polip pada hidung · Tidak ada sekret · Fungsi penciuman baik · Telinga simetris tdak ada sumbatan · Fungsi pendengaran baik · Bibir lembab, tidak pucat · Tidak ada stomatitis

S : 37,0 0c RR : 20x /menit BB : 63 kg TB : 164 cm · Rambut hitam · Konjungtiva merah muda · Sklera tidak ikterus · Palpebra tidak bengkak · Fungsi pengelihatan baik · Tidak ada polip pada hidung · Tidak ada sekret · Fungsi penciuman baik · Telinga simetris tdak ada sumbatan · Fungsi pendengaran baik · Bibir lembab, tidak pucat Tidak ada stomatitis · Gigi tidak ada karies,

· Lidah merah muda, permukaan berbintik

· Gigi tidak ada karies, · Lidah merah muda, permukaan berbintik

· Gigi tidak ada karies, · Lidah merah muda, permukaan berbintik.

· Lidah merah muda, permukaan berbintik.

8.

Leher

· Tidak ada pembengkakan · Tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid. kelenjar tyroid

· Tidak ada Pembengkakan Tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid. · Tidak ada pembesaran vena jugularis. · Suara nafas vesikuler · Suara nafas vesikuler retraksi raongga kelenjar tyroid Tidak ada pembesaran vena jugularis.

· Tidak ada pembesaran · Tidak ada pembesaran vena jugularis. 9. dada · Suara nafas vesikuler · Ada retraksi ronggadada vena jugularis · Suara nafas vesikuler

· Tidak retraksi rongga · Tidak retraksi rongga Tidak dada dada · Inspeksi, dada

10.

Abdomen

· Inspeksi,

Inspeksi,

· Inspeksi, Tidak ada lesi, tidak ada bekas luka jahitan · Auskultasi Bising usus terdengar 15 x/menit · Perkusi Timpani · palpasi:

Tidak ada lesi, tidak ada Tidak ada lesi, tidak ada Tidak ada lesi, tidak ada bekas luka jahitan bekas luka jahitan bekas luka jahitan · Auskultasi

· Auskultasi Bising usus · Auskultasi terdengar 15 x/menit · Perkusi Timpani · palpasi: tidak ada

Bising usus terdengar 15 Bising usus terdengar 15 x/menit · Perkusi Timpani x/menit · Perkusi Timpani · palpasi:

pembesaran · palpasi:

organ

tidak organ

ada

pembesaran tidak organ

ada

pembesaran tidak organ

ada

pembesaran

11.

Ekstremitas atas

· Tangan kanan dan kiri simetris. · Teraba arteri brakhialis. · Tidak menderita kelumpuhan (kekuatan otot baik)

· Tangan kanan dan kiri simetris. · Teraba arteri brakhialis. · Tidak menderita kelumpuhan (kekuatan otot baik)

· Tangan kanan dan kiri simetris. · Teraba arteri brakhialis. · Tidak menderita kelumpuhan (kekuatan otot baik) · Kaki kanan dan kiri simetris. · Tidak ada odema

· Tangan kanan dan kiri simetris. · Teraba arteri brakhialis. Tidak kelumpuhan (kekuatan otot baik) · Kaki kanan dan kiri simetris. · Tidak ada odema Tidak menderita menderita

12.

Ekstremitas bawah

· Kaki kanan dan kiri · Kaki kanan dan kiri simetris. simetris.

· Tidak ada odema· Tidak · Tidak ada odema menderita kelumpuhan · Tidak

menderita · Tidak menderita kelumpuhan (kekuatan otot baik)

(kekuatan otot baik)

kelumpuhan (kekuatan otot baik) · Ada luka pada jari-jari kaki kiri dengan diameter 2 cm, tidak ada pus, luka kemerahan

kelumpuhan (kekuatan otot baik)

1. Kemampuan Mengenal Masalah Keluarga belum mengetahui apa pengertian dan penyebab dari penyakit Ny. J.

2. Kemampuan Mengambil Keputusan Kemampuan keluarga kurang, dikarenakan pengetahuan yang kurang tentang penyakinya.

3. Kemampuan Merawat Anggota yang Sakit Keluarga baru 2 kali membawa Ny.J ke perawat untuk merawat lukanya. Keluarga mengetahui tentang nutrisi yang dibutuhkan oleh Ny. J. Yaitu rendah gula dan nutrisi yang cukup berupa telur dan buah. Ny. J makan 3 kali sehari dan kadang hanya makan seadanya. karena terkendala lagi dengan uang.

4. Kebiasaan Tidur Keluarga sering tidur pada pukul 22.00 wib. Dan bangun pada pukul 4.30 wib. Dalam keluarga tidak ada masalah kesulitan tidur.

5. Latihan dan Rekreasi Keluarga tidak pernah melakukan rekreasi dan latihan apapun. Mereka hanya mengisi waktu luang dengan berbincang-bincang dengan keluarga dan menonton tv.

6. Kebiasaan Menggunakan Obat Dalam keluarga ada yang senang mengkonsumsi kopi, minimal sekali sehari. Di rumah tidak obat-obat lain selain obat untuk kencing manisnya. Obat diminum 3 kali sehari sebelum makan. Jika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga hanya membelinya di warung atau toko misal obat sakit kepala, obat batuk dan pilek. Obat disimpan di lemari bersama dengan lemari baju.

7. Kemampuan Memelihara Lingkungan Rumah yang Sehat Dalam keluarga kemampuan untuk memelihara lingkungan rumah masih kurang, ini ditunjukkan dengan adanya kandang kambing di depan rumah (halaman) dan tidak terpelihara dengan baik. Ny.J sering tidak memakai alas kaki jika membersihkan kandang atau ketika menyapu halamannya.

8. Kemampuan Menggunakan Layanan Kesehatan Keluarga mengatakan jarang pergi ke puskesmas atau yankes yang lainnya. Karena malas dan tidak ada waktu serta tidak ada yang mengantar Ny.J untuk pergi berobat. Selain itu keluarga ini tidak memiliki jamkesmas atau askeskin.

9. Stress dan Koping Keluarga Strees jangka panjang : keluarga kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keperluan sehari-hari. Strees jangka pendek : Keluarga pusing menghadapi masalah mengenai penyakit yang diderita Ny.J yang jari kaki kirinya sudah luka dan bagaimana cara perawatannya untuk cepat sembuh dikarenakan keterbatasan biaya. Cara mengatasi strees hanya dengan diselesaikan dengan musyawarah keluarga. Dan membeli obat di apotik sesuai dengan kopi resep dokter.

Analisa data Data Masalah Keperawatan Data Subyektif :  Keluarga mengatakan bahwa Gangguan integritas kulit Kurang mampu mengenal masalah DM Etiologi

Ny. J jari kirinya sudah luka, sudah 3 minggu belum sembuh dan baru 2 kali merawat lukanya di perawat. Data Obyektif :  Pada kaki Ny. J sebelah kiri

terdapat luka kecil dan belum sembuh, diameter 2 cm, tidak ada pus, luka kemerahan

3.2.Diagnosa Keperawatan Resiko tinggi kerusakan integritas kulit yang meluas berhubungan dengan kurangnya perawatan kesehatan oleh keluarga.

No. 1.

Kriteria Sifat masalah

Perhitungan 3/3 x 1

Skor 1

Pembenaran Luka pada penderita DM bila tidak dirawat dengan baik dan benar akan menjadi infeksi yang meluas (gangrene).

2.

Kemungkinan masalah diubah. dapat

1/2x2

1

Alat untuk perawatan luka dapat dijangkau oleh keluarga tetapi biaya terbatas.

3.

Potensi mencegah masalah.

untuk

2/3/ x 1

2/3

Perluasan luka dapat dicegah dengan benar. perawatan luka yang

4.

Menonjolnya masalah.

2/2 x 1

1

Keluarga

menyadari

adanya

masalah tetapi kesibukan kerja tidak dapat mengantar anggota keluarga puskesmas. yang sakit ke

Total skor

3 2/3

3.3. Perencanaan No. Diagnosa Keperawatan 1. Umum Tujuan Khusus 1. Ny. kontrol J Kriteria Evaluasi Kriteria dapat 1. Verbal teratur (Pengetahuan ) 1. Standar Keluarga dapat 1. Kaji pengetahuan keluarga tentang-tanda infeksi 2. Kaji kemampuan keluarga Kriteria Intervensi

Resiko tinggi Setelah kerusakan dilakukan

menyebutkan tanda dan meluasnya gejala luka

integritas kulit tindakan yang meluas keperawatan, pasien keluarga mengerti dalam dan

untuk DM dan luka pada kiri. 2. Ny. J dapat kaki (jari)

dalam merawat luka infeksi jari kaki Ny. J. 3. Kaji tindakan keluarga yang

berhubungan dengan kurangnya perawatan

infeksi di jari kaki Ny. J 2. Keluarga dapat

menyebutkan bila luka dikaki (jari) sembuh (berangsur). 3. Keluarga membagi untuk dapat peran perawatan

pernah

dilakukan

setelah

mengidentifikasi tanda-tanda meluasnya luka

mengetahui ada luka di jari kaki Ny. J 4. Diskusikan tanda-tanda

kesehatan oleh perawatan luka keluarga. yang diderita.

infeksi di jari kaki Ny. J 3. Keluarga memutuskan tindakan bila ada dapat

Infeksi dengan keluarga 5. Diskusikan dengan keluarga cara perawatan luka dan

kesehatan Ny. J.

mencegah perluasan 6. Diskusikan alternatif yang

tanda

meluasnya

dapat

dilakukan keadaan

untuk luka

luka infeksi.

mengontrol

yang dapat dilakukan untuk mengontrol kedaan luka 7. Beri kesempatan keluarga

untuk menanyakan penjelasan yang belum dimengerti. 8. Evaluasi terhadap secara topik singkat untuk

mencegah meluasnya infeksi pada keluarga 9. Berikan pujian terhadap

kemampuan keluarga yang diungkapkan setiap diskusi. 2. Psikomotor ( Prilaku ) 1. Keluarga dapat menyiapkan sarana perawatan yang diperlukan oleh Ny. J 1. Kaji kemampuan keluarga

untuk menyediakan sarana perawatan Ny. J 2. Ajarkan cara memelihara

kebersihan luka Ny. J

2. Ny. J dapat minum obat dengan

3. Ajarkan cara merawat luka Ny. J 4. Ajarkan dan anjurkan untuk Cek kondisi Ny. J dan minum obat setelah ada hasil cek dari dokter. 5. Anjurkan menjaga kebersihan

pengawasan dokter 3. keluarga dapat

memfasilitasi Ny. J untuk kontrol DM ke puskesmas 4. Keluarga dapat

rumah terutama ruangan Ny. J 6. Anjurkan untuk memodifikasi diet diabetes sesuai advis dokter 7. Kolaborasikan ke puskesmas untuk bantuan 8. Lakukan kunjungan rumah setelah pendidikan 9. Beri pujian atas kemampuan keluarga keluarga diberi

memodifikasi diet dan untuk Ny. J. olah raga

kesehatan

10.

Berikan

penguatan

terhadap perilaku yang telah dilakukan untuk

dipertahankan setiap hari.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, S. Price, L. dan Mc, W. (1985), Patofisiologi Konsep Klinik ProsesProses Penyakit,ed. 2, bagian 2, EGC, Jakarta

Capernito, L. J. (1998), Diagnosa Keperawatan, alih bahasa Yasmin Asih, ed. 6, EGC, Jakarta.

Corwin, J. E (2001), Pankreas dan Diabetes Melitus, EGC, Jakarta.

Doenges, E. M (2000), Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumnetasian, ed. 3, EGC, Jakarta.

Long, C. B. (1996), Pendekatan Proses Keperawatan, alih bahasa Yayasan Ikatan Alumni Pnedidikan Keperawatan Bandung, Bandung.

Soetmadji, DJ. W. (1997), Diabetes Up Date, FK UNAIR, Surabaya.

Suyono, S. (1996), Penyakit Dalam, jilid 1, ed. 3, FKUI, Jakarta.

Tjokroprawiro, A. (1997), Diabetes Up Date,FK UNAIR, Surabaya.

Tjokroprawiro, A. (2001), Hidup Sehat dan Bahagia Bersama Diabetes,Pustaka Utama, Jakarta.

Woodly, M dan Whelean, A. (1995), Pedoman dan Pengobatan, Yayasan Essentia Medica dan Andi Offset, Yogyakarta.

Keluarga Tn. M ( 47 Tahun ) mempunyai istri Ny. J ( 42 th ) anak Nn. J (24 th) dan adik dari Ny. J yaitu Tn.S (40 th). Sejak 6 bulan yang lalu Ny.J di diagnosa menderita kencing manis (DM) ibu tidak bisa kontrol teratur ke puskesmas karena yang mengantarkan tidak ada dan keterbatasan biaya. Tn. M dan istrinya bekerja serabutan, tetapi Tn.M kadang (jika ada rejeki) membeli obatnya di apotek terdekat sesuai foto copi resep dokter. Hasil observasi jari kaki Ny. J sebelah kiri terdapat luka kecil sudah 3 minggu belum sembuh.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->