P. 1
BAB IV

BAB IV

|Views: 26|Likes:
bab 4 skripsi e puji
bab 4 skripsi e puji

More info:

Published by: Sandy Bella Marquarius on Jul 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/12/2012

pdf

text

original

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian Hasil penelitian dari Aplikasi Multimode Fiber Coupler dan Turbin Flow Sebagai Sensor Laju Aliran Fluida adalah berupa frekuensi. Setelah dilakukan beberapa perhitungan, hasil akhir dari penelitian ini yaitu berupa nilai laju aliran fluida dengan variasi sudut baling-baling 45⁰, 60⁰, dan 90⁰. Hasil laju aliran fluida menggunakan turbin flow tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Data Rata-rata Frekuensi dan Data Laju Aliran Fluida Menggunakan Turbin Flow dan Flowmeter Pada Tiap Variasi Sudut Turbin.
Sudut Turbin 45⁰ ̅ v turbin flow 2.8818 3.8549 4.8233 5.799 6.795 7.891 9.087 10.505 11.654 13.088 Sudut Turbin 60⁰ ̅ v turbin flow Sudut Turbin 90⁰ ̅ v turbin flow v flowmeter

(m/s) (m/s) (m/s) (m/s) 0.20359917 2.643 0.18672795 2.4637 0.174060405 0.203821656 0.272348685 3.6949 0.261044685 3.5542 0.25110423 0.271762208 0.340766145 4.665 0.32958225 4.5159 0.319048335 0.33970276 0.40969935 5.639 0.39839535 5.533 0.39090645 0.407643312 0.48006675 6.655 0.47017575 6.521 0.46070865 0.475583864 0.55749915 7.628 0.5389182 7.502 0.5300163 0.543524416 0.64199655 8.597 0.60737805 8.811 0.62249715 0.611464968 0.74217825 9.513 0.67209345 9.764 0.6898266 0.67940552 0.8233551 11.104 0.7844976 10.695 0.75560175 0.747346072 0.9246672 12.641 0.89308665 11.645 0.82271925 0.815286624

Dari tabel 4.1 dilakukan plot grafik data laju aliran menggunakan turbin flow terhadap laju aliran fluida menggunakan flowmeter untuk masing-masing variasi sudut turbin. Plot grafik tersebut dapat dilihat pada gambar 4.1.

41

42

0.9 0.8

v Flowmeter (m/s)

0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 Sudut Turbin 90 Sudut Turbin 45 Sudut Turbin 60

v Turbin (m/s)
4.2 Pembahasan Dari grafik pada gambar 4.1 menunjukkan bahwa rentang pengukuran laju aliran fluida yang dilakukan sebesar 0,2 m/s - 0,8 m/s. Batas bawah yang terukur sebesar 0,2 m/s dikarenakan pada rentang pengukuran dibawahnya sensor laju aliran ini tidak mampu mendeteksi sebab baling-baling tidak dapat berputar sehingga frekuensi keluaran detektor tidak mengalami perubahan. Sedangkan batas atas sebesar 0,8 m/s dikarenakan pada rentang pengukuran diatasnya sensor ini tidak mampu mendeteksi sebab putaran baling-baling terlalu cepat sehingga frekuensi keluaran detektor berubah tidak beraturan. Dari grafik juga terlihat bahwa hubungan antara laju aliran fluida menggunakan turbin flow terhadap laju aliran fluida menggunakan flowmeter tidaklah linier, akan tetapi dari hasil eksperimen masih dapat ditemukan daerah yang linier. Untuk daerah linier laju aliran fluida menggunakan turbin flow terhadap laju aliran fluida menggunakan

43

flowmeter dengan variasi sudut baling-baling 45⁰, 60⁰, dan 90⁰ hasilnya ditampilkan pada gambar 4.2, 4.3, dan 4.4.

Pada plot grafik daerah linier sensor laju aliran fluida untuk variasi sudut turbin 45⁰ diperoleh persamaan regresi linier yaitu y = 0,965x + 0,009 dengan koefisien korelasinya adalah R2 = 0,999, untuk variasi sudut turbin 60⁰ diperoleh persamaan regresi linier yaitu y = 0,985x + 0,014 dengan koefisien korelasinya adalah R2 = 0,999, dan untuk variasi sudut turbin 90⁰ diperoleh persamaan regresi linier yaitu y = 0,928x + 0,044 dengan koefisien korelasinya adalah R2 = 0,998. Dengan demikian, dapat dipahami dari grafik data hasil eksperimen sensor laju aliran fluida menggunakan turbin flow mengakibatkan tidak terjadi perubahan frekuensi pada frekuensimeter. Untuk lebih jelasnya yang berbesehingga muncul nilai hasil perbandin gan Suatu zat yang mempunyai kemampuan mengalir pat dan dapat menyesuaikan bentuk wadah yang ditempatinya disebut dengan fluida, yang termasuk dalam kategori fluida adalah zat cair dan gas. Pada fluida cair, letak partikel lebih renggang karena gaya interaksi antarpartikelnya lemah. Sedangkan pada fluida gas mempunyai gaya interaksi antarpartikel sangat lemah sehingga dapat diabaikan, begitu juga dengan kerapatannya akan lebih kecil. Berdasarkan sifatnya, fluida dapat digolongkan dalam dua macam, yaitu: fluida statis dan dinamis. Fluida statis mempelajari keadaan fluida tersebut diam atau tidak

44

bergerak sedangkan dalam fluida dinamis mempelajari ketika fluida tersebut bergerak (Halliday dan Resnick, 1991). Fluida juga mempunyai jenis dan karakteristik profil aliran dalam wadah (umumnya pada pipa). Jenis aliran fluida tersebut dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni aliran lurus (laminar) dan aliran turbulen. Jika aliran tersebut mulus dan lapisan-lapisan yang bersebelahan meluncur satu sama lain maka aliran tersebut dikatakan sebagai aliran laminar. Pada aliran jenis ini, setiap partikel fluida mengikuti lintasan yang mulus dan lintasan-lintasan ini tidak saling bersilangan. Sedangkan aliran turbulen ditandai dengan lingkaran-lingkaran tidak menentu, kecil dan menyerupai pusaran yang disebut sebagai arus eddy (Giancoli, Dougas C, 2001). Proses pengukuran aliran fluida dalam industri sangat penting

dikendalikan. Sebab pada proses tersebut memerlukan penentuan kuantitas dari suatu fluida (liquid, gas atau steam) yang mengalir melalui suatu titik pengukuran, baik di dalam saluran tertutup maupun terbuka. Kuantitas fluida yang dapat diukur antara lain: laju aliran volume (volume flow rate), laju aliran massa (mass flow rate) dan laju aliran (flow rate). Misalnya, pada bidang industri PDAM sangat memerlukan alat yang digunakan untuk mengukur laju aliran air. Laju aliran air digunakan untuk menentukan berapa besarnya debit air dan volume air yang telah digunakan pelanggan. Instrumen untuk melakukan pengukuran kuantitas aliran fluida ini disebut flowmeter. Bentuk awal dari flowmeter adalah jenis arus yang ditulis sekitar tahun 1790 oleh Benyamin Gottlob Hoffman. Setelah itu, disempurnakan oleh Reinhard

45

Woltman, yang mengatakan bahwa flowmeter dapat digunakan untuk mengukur aliran udara dan air yang salah satu aplikasinya pada turbin. Tahun 1797 Giovanni Battista Venturi menerbitkan pipa venturi, sehingga dari prinsip kerja venturi, Clemens Herscel mengembangkan pipa venturi secara komersial pada tahun 1887. Pengukuran laju aliran fluida yang paling banyak digunakan sekarang ini yaitu turbin flowmeter dan venturimeter (Raldi Artono Koestoer, 2004). Pada pengukuran laju aliran fluida diperlukan suatu sistem pengendali dari flowmeter, yang terdiri atas beberapa unit komponen seperti, sensor yang berfungsi menghasilkan informasi tentang besaran yang diukur. Setelah itu, transmitter yang memproses informasi atau sinyal yang dihasilkan oleh sensor agar sinyal tersebut dapat ditransmisikan dan sebagainya. Pada penelitian sebelumnya, telah dilakukan pengukuran kecepatan aliran fluida dengan efek doppler menggunakan mikrokontroller AT89S51 (Muhammad Andang, 2010). Sensor yang digunakan pada penelitian tersebut yaitu, sensor ultrasonik yang terdiri dari dua buah kristal piezoelectric berfungsi sebagai pemancar serta penerima dari gelombang ultrasonik. Berdasarkan data hasil pengukuran didapatkan rasio penyimpangan sebesar 6-9%, hal tersebut kemungkinan disebabkan kurang pekanya sensor dalam menerima gelombang ultrasonik tersebut. Oleh sebab itu, pada penelitian ini mencoba mengaplikasikan serat optik (fiber optic) sebagai sensor. Karena sensor serat optik memiliki beberapa keunggulan, antara lain: tidak kontak langsung dengan obyek pengukuran, akurasi pengukuran yang tinggi, tidak terimbas induksi magnet

46

maupun listrik, dapat di monitor dari jarak yang cukup jauh dan dapat dihubungkan dengan sistem komunikasi data serta dimensi yang kecil dan ringan. Prinsip kerja dari sensor serat optik dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu berbasis modulasi panjang gelombang, modulasi fase dan modulasi intensitas (Krohn, 2000). Aplikasi dari sensor serat optik sudah banyak digunakan untuk mendeteksi beberapa parameter fisis diantaranya adalah deformasi bahan (Sklodowski, 2003), strain bahan (Inaudi and Glisic, 2005), suhu (Bongsoo et al., 2005), vibrasi (Binu et al., 2007), konsentrasi gas (Singh and Karan, 2001), pergeseran (Samian et al., 2009) serta parameter fisis lainnya. Dalam pemanfaatannya sebagai sensor, serat optik yang dibutuhkan adalah serat optik dengan diameter yang cukup besar. Hal ini akan memudahkan intensitas cahaya yang terpandu dalam core, sehingga serat optik yang memenuhi persyaratan ini adalah serat optik multimode step indeks. Salah satu piranti sensor optik berbasis pada serat optik yang telah dikembangkan saat ini adalah multimode fiber coupler yang dibuat dari penggabungan (fused) dua buah serat optik multimode dengan panjang lintasan kopling dan lebar gap tertentu (Samian et al., 2008). Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian ini kami mencoba menawarkan metode baru dalam menentukan laju aliran fluida yaitu dengan memanfaatkan multimode fiber coupler dan turbin flow, sehingga judul pada penelitian ini adalah “Aplikasi Multimode Fiber Coupler dan Turbin Flow Sebagai Sensor Laju Aliran Fluida”. Yang nantinya dimungkinkan untuk

47

dimanfaatkan pada proses menentukan kuantitas dari suatu fluida (liquid, gas dan steam) yang mengalirkan melalui suatu titik pengukuran pada bidang industri.

4.3 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan tersebut, timbul beberapa masalah diantaranya adalah: 1. Apakah multimode fiber coupler dan turbin flow sebagai sensor dapat digunakan untuk mengukur laju aliran fluida menggunakan turbin? 2. Berapakah batas ukur multimode fiber coupler dan turbin flow sebagai sensor laju aliran fluida?

4.4 Batasan Masalah Batasan masalah yang dipilih untuk membatasi penelitian agar ruang lingkup penelitiannya lebih spesifik adalah: Sumber cahaya menggunakan Laser He-Ne (Uniphase laser klasse 2 DIN 58126) yang mempunyai panjang gelombang 632,8 nm dengan daya keluarannya sebesar 1 mW, Multimode Fiber Coupler yang digunakan berstruktur 1 x 2 dari bahan serat optik plastik dan fluida (liquid) yang ditentukan laju alirannya harus mempunyai karakteristik aliran lurus (laminar).

4.5 Tujuan Penilitian

48

Dari perumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui peranan dari multimode fiber coupler dan turbin flow sebagai sensor untuk menentukan laju aliran fluida. 2. Menentukan batas ukur multimode fiber coupler dan turbin flow sebagai sensor laju aliran fluida.

4.6 Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk penemuan ilmiah alternatif sensor laju aliran fluida yang lebih baik, dengan pengukuran yang akurat, beresolusi tinggi, teknik pengoperasian yang mudah serta penggunaan yang aman. Serta hasil penelitian ini diharapkan mempunyai akurasi yang tinggi sehingga dapat digunakan dalam bidang industri seperti PDAM untuk pengendalian laju aliran fluida agar besaran yang diinginkan tetap pada kondisi awal serta teknik pengoperasian alat yang mudah dan biaya yang cukup murah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->