P. 1
Komunikasi Sosial

Komunikasi Sosial

|Views: 86|Likes:
Published by teguhkresnoutomo
Mata kuliah Komunikasi Sosial di perguruan tinggi lain bernama Komunikasi dan Perubahan Sosial. Dulunya bernama Komunikasi Sosial dan Pembangunan. Jauh sebelumnya lagi merupakan dua entitas mata kuliah yang terpisah yakni: Komunikasi Sosial dan Komunikasi Pembangunan. “Apalah arti sebuah nama” begitu kata sastrawan Inggris Willam Shakespeare. “Segala sesuatu pasti berubah, yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri” kata pemikir Yunani kuno Heraklitos yang hidup empat abad sebelum Yesus Kristus lahir. Artinya, eksistensinya bisa berubah tapi esensinya tetap sama yaitu: menelaah bagaimana peranan komunikasi dalam perubahan sosial umumnya dan pembangunan khususnya. Kata “pembangunan” harap dibaca dengan “P” bukan dengan “p”.
Menuangkan setumpuk gagasan yang berjibun di kepala dalam bentuk tulisan yang belum tentu dimengerti oleh orang lain bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi perkembangan ilmu pengetahuan via IT demikian pesat. Sehingga tidak tertutup kemungkinan tulisan ini dengan segala keterbatasan referensi yang menjadi acuannya sudah out of date. Ia hanya sekedar pembuka diskusi saja ke arah persoalan yang lebih kompleks dalam konteks peranan komunikasi dalam perubahan sosial yang bernama pembangunan.
Mata kuliah Komunikasi Sosial di perguruan tinggi lain bernama Komunikasi dan Perubahan Sosial. Dulunya bernama Komunikasi Sosial dan Pembangunan. Jauh sebelumnya lagi merupakan dua entitas mata kuliah yang terpisah yakni: Komunikasi Sosial dan Komunikasi Pembangunan. “Apalah arti sebuah nama” begitu kata sastrawan Inggris Willam Shakespeare. “Segala sesuatu pasti berubah, yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri” kata pemikir Yunani kuno Heraklitos yang hidup empat abad sebelum Yesus Kristus lahir. Artinya, eksistensinya bisa berubah tapi esensinya tetap sama yaitu: menelaah bagaimana peranan komunikasi dalam perubahan sosial umumnya dan pembangunan khususnya. Kata “pembangunan” harap dibaca dengan “P” bukan dengan “p”.
Menuangkan setumpuk gagasan yang berjibun di kepala dalam bentuk tulisan yang belum tentu dimengerti oleh orang lain bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi perkembangan ilmu pengetahuan via IT demikian pesat. Sehingga tidak tertutup kemungkinan tulisan ini dengan segala keterbatasan referensi yang menjadi acuannya sudah out of date. Ia hanya sekedar pembuka diskusi saja ke arah persoalan yang lebih kompleks dalam konteks peranan komunikasi dalam perubahan sosial yang bernama pembangunan.

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: teguhkresnoutomo on Jul 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

11/26/2012

1

KOMUNIKASI SOSIAL

Mata kuliah Komunikasi Sosial di perguruan tinggi lain bernama Komunikasi dan Perubahan Sosial. Dulunya bernama Komunikasi Sosial dan Pembangunan. Jauh sebelumnya lagi merupakan dua entitas mata kuliah yang terpisah yakni: Komunikasi Sosial dan Komunikasi Pembangunan. “Apalah arti sebuah nama” begitu kata sastrawan Inggris Willam Shakespeare. “Segala sesuatu pasti berubah, yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri” kata pemikir Yunani kuno Heraklitos yang hidup empat abad sebelum Yesus Kristus lahir. Artinya, eksistensinya bisa berubah tapi esensinya tetap sama yaitu: menelaah bagaimana peranan komunikasi dalam perubahan sosial umumnya dan pembangunan khususnya. Kata “pembangunan” harap dibaca dengan “P” bukan dengan “p”. Menuangkan setumpuk gagasan yang berjibun di kepala dalam bentuk tulisan yang belum tentu dimengerti oleh orang lain bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi perkembangan ilmu pengetahuan via IT demikian pesat.

Sehingga tidak tertutup kemungkinan tulisan ini dengan segala keterbatasan referensi yang menjadi acuannya sudah out of date. Ia hanya sekedar pembuka diskusi saja ke arah persoalan yang lebih kompleks dalam konteks peranan komunikasi dalam perubahan sosial yang bernama pembangunan.

2 I. PENDAHULUAN Secara ringkas tulisan ini dapat dibagi menjadi empat pokok bahasan sebagai berikut: Pertama, membicarakan konsep dasar komunikasi dan komunikasi sosial. Kedua, membahas dialektika antara komunikasi dan perubahan sosial umumnya. Serta pembangunan khususnya. Ketiga, menelaah eksistensi komunikasi sosial dalam perspektif teoritis. Keempat, melacak sejauh mana aplikasi teoritis di atas dalam tahap praksis dengan segala masalah yang dihadapinya. Setiap bagian akan diuraikan secara ringkas tanpa menghilangkan

relevansinya terhadap keseluruhan materi yang akan dibahas. Artinya, setiap bagian merupakan suatu kesatuan yang bersifat holistik untuk menjelaskan peranan komunikasi dalam perubahan sosial umumnya dan pembangunan khususnya.

II. KONSEP DASAR KOMUNIKASI DAN KOMUNIKASI SOSIAL Istilah komunikasi berasal dari communication (Inggris) yang bermuara pada communicare (Latin) dan communis yang berarti: “sama “makna”. Dengan demikian, komunikasi dapat dimaknai sebagai tindakan untuk mencapai kesamaan makna tentang apa yang dibicarakan (Effendy, 1988). Pengertian yang lebih lengkap sebagai berikut: “communication is a transactional symbolic process which allows people to relate to and manage their environtments by (1). establishing human conduct; (2). exchanging information: (3). reinforcing the

3 attitudes and behaviour of other and; (4). changing the attitudes and behaviour of others” (Book, 1980). Eksistensi komunikasi dapat ditelaah dari perspektif: Pertama, komunikasi sebagai ilmu (science). Kedua, komunikasi sebagai keahlian (skill). Ketiga, komunikasi sebagai seni (art). Sesuai dengan maksud semula, tulisan ini lebih dititikberatkan pada yang pertama. Artinya, ia tidak membicarakan bagaimana menulis berita dan iklan pembangunan yang cangguh misalnya. Sebab ini merupakan wilayah kajian mata kuliah lainnya yang lebih bersifat teknis dan spesifik seperti news writing dsb. Ia lebih ditujukan pada pemahaman konseptual tentang peranan komunikasi dalam perubahan sosial umumnya dan

pembangunan khususnya sebagai suatu fenomena sosial dalam kerangka teori sosial. Bukan berdasarkan pada teori komunikasi an sich. Sebab perlu diingat bahwa komunikasi sebagai ilmu bersifat interdisipliner yang dibangun oleh ilmuilmu lain yang telah lebih dahulu mapan seperti: sosiologi dan psikologi sosial. Bahkan matematika yang dipelopori oleh Norbert Wiener dengan konsep cybernetics: communication as information processing (Griffin, 2006).

Konsekuensinya, bisa saja seseorang yang dianggap pakar dalam ilmu komunikasi ternyata dalam kesehariannya tidak komunikatif. Elitis dalam konteks keilmuan sekaligus tidak populis dalam konteks sosial. Seperti yang telah disebutkan semula, sebagai ilmu komunikasi merupakan salah satu jurusan di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik. Bahkan di beberapa universitas baik negeri maupun swasta sekarang telah menjelma menjadi fakultas tersendiri. Dulunya bernama publisistik yang berarti: pernyataan

4 umum yang aktual. Publisistik berasal dari Eropa Kontinental. Tepatnya Jerman, negara asal pemimpin fasis Adolf Hitler dengan partai NAZI yang

memporakporandakan benua Eropa dalam PD II. Kata “publisistik” berasal dari publizistikwissenshaft persuratkabaran). Pasca kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, orientasi pendidikan di Indonesia berubah kiblat dari Belanda ke AS yang ikut mempengaruhi perubahan publisistik menjadi komunikasi. Disamping untuk menjawab yang senada dengan zaitung wissenshaft (ilmu

pertanyaan tentang bagaimana mengkaji pernyataan umum yang tidak aktual yang kemudian menjadi obyek kajian komunikasi massa. Seperti film sebagai fenomena sosial dalam mata kuliah filmologi. Awalnya komunikasi merupakan bagian dari jurusan sastra Inggris dengan nama speech communication. Kemudian menjadi mass communication. Gabungan speech communication dengan mass communication menjelma menjadi communication science. Yang akhirnya berubah nama menjadi human communication (Effendy, 1988). A. PARADIGMA KOMUNIKASI Sebagai mana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ilmu komunikasi bersifat interdispliner yang dipengaruhi oleh berbagai disiplin ilmu lainnya. Konsekuensinya, ini menimbulkan berbagai paradigma. Sejauh ini dalam dunia komunikasi dikenal empat paradigma di bawah ini: 1. Paradigma mekanis: yang dipengaruhi oleh fisika klasik. Komunikasi diterjemahkan sebagai proses mekanistis antarmanusia. Lokusnya terletak

5 pada channel (saluran). Pesan mengalir melintasi ruang dan waktu dari komunikator ke komunikan secara simultan. Ini berdasarkan logika sebabakibat dengan tekanan pada efek; metode ekperimental dan kuantitatif. 2. Paradigma psikologis: yang dipengaruhi oleh psikologi sosial. Komunikasi dilihat sebagai mekanisme internal penerimaan dan pengolahan informasi dalam diri manusia. Lokusnya terletak pada filter konseptual individu ybs. Dengan demikian, komponennya bukan lagi komunikator-komunikan tetapi stimulus-respon yang masih menggunakan metode ekperimental dan kuantitatif. 3. Paradigma interaksional: yang dipengaruhi oleh sosiologi. Tepatnya interaksi simbolis. Komunikasi dimaknai sebagai interaksi antarmanusia. Lokusnya terletak pada peran sosial individu ybs dalam konteks tindakan sosialnya. Metodenya cenderung fenomenologis dengan analisis kontekstual dan kualitatif. 4. Paradigma pragmatis: yang juga dipengaruhi oleh sosiologi. Khususnya teori sistem sosial. Komunikasi dipahami sebagai prilaku yang berurutan berupa pola interaksi, sistem, struktur dan fungsinya. Lokusnya terletak pada sistem sosial tempat individu ybs tersosialisasikan. Metodenya hanya dimungkinkan dengan analisa kualitatif (Fisher, 1990). B. TINJAUAN KOMUNIKASI SOSIAL Setelah berbicara panjang lebar tentang komunikasi, tibalah saatnya kita mendiskusikan pokok bahasan utama mata kuliah ini: Komunikasi Sosial. Tetapi sebaiknya lebih dahulu dianalisis kata “sosial” (social) yang mengikuti kata

6 “komunikasi” itu. Sosial atau social (Inggris) didefinisikan sebagai concerning the organization of and relations between people and communities. Derivasinya society: system in which people live in organized communities. Ini bermuara pada perubahan sosial (social change) yang mengambil bentuk dalam kata “pembangunan” (development) yang diartikan sebagai perubahan sosial yang terencana ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Bukan dalam pengertian sempit, yaitu: sekedar pemenuhan kebutuhan basis material masyarakat di negara-negara dunia ketiga (baca: pembangunan ekonomi) semata. Tetapi termasuk realisasi basis immaterial seperti dimensi spiritual, etika dan nilai-nilai lainnya (Soedjatmoko, 1985). Singkat kata, komunikasi sosial membicarakan bagaimana peran komunikasi dalam perubahan sosial umumnya dan pembangunan khususnya.

III. KOMUNIKASI DAN PERUBAHAN SOSIAL Komunikasi dilihat sebagai faktor penunjang modernisasi dan

pembangunan. Tetapi teori pembangunan Barat terasa a historis dalam tingkat praksis di negara-negara dunia ketiga. Sebab ia lebih menekankan pada faktor internal masyarakat daripada faktor eksternal sebagai penyebab utama keterbelakangan dan kemiskinan. Mereka melihat perkembangan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern tidak lain dari eksistensi intelektual kontemporer evolusi sosial Darwin. Ini bisa dilacak dari pemikiran Ferdinand Tonnies dengan konsep gammeinschaft dan gesselscaft atau Emile Durkheim dengan konsep solidaritas mekanis dan organis-nya.

7 Kritik paling radikal diajukan oleh intelektual asal Amerika Latin Andre Gunder Frank yang intinya melihat kapitalisme negara-negara industri majulah sebagai penyebab utama pemerasan, ketimpangan, keterbelakangan dan kemiskinan negara-negara dunia ketiga (Nasution, 1988). Komunikasi tidak selamanya sebagai penyebab perubahan sosial. Serta tidak selamanya pula tidak relevan dengan perubahan sosial. Artinya, ada perubahan sosial yang tidak disebabkan oleh komunikasi dan ada pula komunikasi yang ditujukan untuk menghalangi perubahan sosial itu. Misalnya, komunikasi yang bersifat ritual yang pada dasarnya untuk memelihara status quo. Dengan demikian, komunikasi dikatakan sebagai penyebab perubahan sosial sejauh ia dapat mengubah konsepsi seseorang tentang hakekat materi dan dirinya sendiri (Rogers, 1987).

IV. KOMUNIKASI SOSIAL DALAM PERSPEKTIF TEORITIS A. KONTEKS HISTORIS Komunikasi sosial tidak lain dari penggunaan metode komunikasi untuk menghapuskan kemiskinan dalam proses perubahan sosial dan pembangunan khususnya. Awalnya berupa ide komunikasi penunjang pembangunan

(development support communication) UNDP-PBB tahun 1960. kemudian berubah menjadi jurnalisme pembangunan (development reporting) tahun 1968. Setelah itu berubah lagi secara lebih spesifik menjadi komunikasi pertanian (agriculture communication) yang dipelopori oleh University of Phillipines tahun 1970. Era tahun 1980-an berubah menjadi komunikasi pembangunan

8 (development communication) dan komunikasi sosial (sosial communication). Tahun 1990-an berubah lagi menjadi komunikasi sosial dan pembangunan (social and development communication). Akhirnya, sekitar awal tahun 2000-an kembali menjadi komunikasi sosial (social communication). Tetapi di perguruan tinggi lainnya muncul dengan nama komunikasi dan perubahan sosial (communication and social change). Apapun eksistensinya, esensi dan substansinya tetap sama, yaitu: menelaah peranan komunikasi dalam perubahan sosial terutama pembangunan dengan tujuan menghapuskan kemiskinan. Itu saja kalau dapat! Pasca PD II dalam Marshal Plan tahun 1949 ada keinginan untuk mengubah negara-negara eks jajahan yang notabene terbelakang dan miskin (under developed/developing countries) menjadi kurang lebih sama dan sederajat dengan eks penjajahnya (developed countries). Tentunya dengan perspektif yang sangat bias Barat dan terselip semangat politik etis dari rasa bersalah Barat. Idenya: paradigma lama pembangunan yang menekankan adanya pertumbuhan ekonomi via industrialisasi sebagai kunci utama menuju modernisasi. Intinya, pertumbuhan ekonomi (growth), kemajuan (progress), modernisasi (industry) yang berbasis teknolgi dan kapital (technology and capital) sebagai pengganti tenaga kerja (labour) dan kemiskinan (poverty) lenyap (?) Secara akademis ini merupakan photo copy proses modernisasi Barat, yaitu: revolusi industri tahun 1800-an, teknologi padat modal, pertumbuhan ekonomi dan kuantifikasi dalam bentuk GNP (Gross National Product) sebagai

9 indeks utama pembangunan yang mencerminkan iptek, akumulasi kapital, SDA dan jumlah penduduk. Maka disusunlah konsep investasi diantara produksi dan pendapatan perkapita yaitu: Pertama, 10 – 25% (negara maju). Kedua, 5 – 10% (negara berkembang). Ketiga, 0 – 5% (negara miskin). Kemudian dengan disponsori oleh AS berdirilah beberapa lembaga keuangan untuk mewujudkan ide di atas. Misalnya, USAID (USA for International Development), IBRD (International Bank for Reconstruction and Development), UNDP (United Nation Development Programme) dsb. WW Rostow dalam karyanya The Stage of Economic Growth: A Non Communist Manifesto (Cambridge University Press, 1965) jelas mencerminkan Barat sebagai the image of the future. Ia melihat lima tahapan yang harus dilalui suatu negara dalam proses modernisasinya: Pertama, masyarakat tradisional subsisten. Kedua, prakondisi tinggal landas dengan pertanian sebagai leading sector-nya. Ketiga, tinggal landas dengan investasi 5 – 10%. Keempat, menjelang kedewasaan dengan investasi 10 - 20%. Kelima, konsumsi massa tinggi dengan tekanan pada sektor produksi jasa (Siregar, 1987). Rostow melihat lima tahapan di atas sebagai acceleration of history atau mobilization of periphery yang terkenal dengan efek menetes ke bawah (trickle down effect) yang lebih mengutamakan aspek pertumbuhan ekonomi daripada pemerataan pendapatan. Konsep inilah yang diadobsi oleh rezim Orde Baru di bawah pimpinan bekas Presiden Soeharto (alm) selama 32 tahun berkuasa yang tercermin pada Trilogi Pembangunan: pertumbuhan ekonomi; pemerataan hasil pembangunan; stabilitas politk dalam GBHN 1978.

10 B. RAGAM ALIRAN PEMBANGUNAN 1. Aliran ekonomi klasik (classical economy): yang berbasis ekonomi murni GNP berupa barang atau jasa yang dihasilkan dalam setahun. Aliran ini dipelopori oleh Adam Smith dalam karyanya The Wealth of Nations tahun 1776. Smith melihat adanya “tangan-tangan tak tampak” yang mengatur perekonomian dengan menghindari campur tangan negara. Konsep ini diperbarui oleh ekonom Malaysia berdarah Tionghoa Doh Joon Chien dengan indikator sosial MASOL (Minimum Acceptable Standard of Living). Sebagai ilustrasi di AS tahun 1980-an US $ 300/bulan. Ada pula konsep lainnya, NEW (Net Economic Welfare). 2. Aliran ekonomi-politik neo klasik (neo classical-political economy): Tokoh yang paling menonjol adalah Andre Gunder Frank di samping tokoh lainnya seperti Thomas Szantes dan Samir Amin. Frank dengan analisis neo marxisnya digolongkan pada penganut teori ketergantungan klasik yang mencermati penyebab keterbelakangan dan kemiskinan masyarakat di negara-negara dunia ketiga bukan pada faktor internal masyarakatnya. Tetapi lebih pada faktor eksternal, yaitu: penetrasi capitalis mode of production yang disponsori AS dan sekutu Eropa Barat-nya ke dalam masyarakat di negara-negara dunia ketiga yang masih pre capitalist mode of formation (Sumarsono, 1994). Hubungan yang asimetris ini melahirkan tiga kontradiksi: (1). polarisasi sistem kapitalis menjadi negara pusat (metropolitan centre) versus negara pinggiran (peripheral satellites); (2). ekspropriasi surplus ekonomi untuk membangun negara pusat (metropolitan centre) dengan ciri-ciri keuntungan komparatif

11 dan substitusi impor; (3). appropriasi kontradiksi ini dipertahankan terusmenerus oleh negara pusat (metropolitan centre) dengan melebarkan sayap MNC’S seperti Freeport, KFC, Coca-Cola dsb yang menghisap potensi kekayaan SDA negara pinggiran (peripheral satellite) tetapi dengan SDM berkualitas rendah (Nasution, 1988). 3. Aliran neo ekonomi (neo economy): Secara singkat aliran ini mengkritisi aliran klasik dengan tiga pertanyaan pokok: (1). kemiskinan; (2). pengangguran; (3). ketimpangan. Tokohnya Dudley Seers tahun 1969 yang dengan tegas mengatakan bahwa selama tiga hal di atas masih terdapat dalam suatu negara maka pembangunan ekonominya dianggap gagal. Berapa pun tinggi tingkat pertumbuhan eknomi yang telah dicapainya. Ini selaras dengan konsep millenium development goal dewasa ini. 4. Aliran pembangunan berwajah manusia (humanities development): yang dipelopori oleh Pastor Katolik Ivan Illich tahun 1973 dengan konsep de schooling society. Ia melihat pembangunan sebagai proses keseimbangan yang multidimensional terhadap manusia dalam konteks kelangsungan hidup (life sustenance); kehormatan (self esteem); kemerdekaan (freedom). Illich melihat pendidikan umumnya dan iptek khususnya bukan lagi sekedar alat tetapi sudah menjadi tujuan yang menciptakan dehumanisasi di segala sektor kehidupan. Ditambahkan oleh pendukung lain aliran ini Rex Mortimer dengan tiga pertanyaan pula: (1). who is development for?; (2). who will in benefit?; (3) who will have to pay the cost it involves? Artinya, jika dua pertanyaan awal jawabannya elite dan pertanyaan terakhir jawabannya rakyat maka

12 pembangunan suatu negara dianggap gagal (Tjokrowinoto, 1987).

Singkatnya, sedikit orang mendapat begitu banyak, sebaliknyanya banyak orang mendapat begitu sedikit bahkan tidak mendapat apapun. C. PEMBANGUNAN EKONOMI-POLITIK INTERNASIONAL Bagaimana dengan Indonesia? Mengutip pakar ekonomi-politik Prof. Mohtar Mas’oed, MA, Ph.D UGM

dapat dijelaskan dalam dua perspektif

ekonomi-politik internasional di bawah ini: 1. International political economics (economics theory of international politics) dengan karakter: positif; empiris; nomologis yang dapat dilihat dalam perspektif liberal dengan tekanan pada aspek trade as the machine of growth dan comparative advantage. Perekonomian diatur oleh “tangan-tangan tak tampak” dengan menghindari campur tangan negara. Ini terlihat dalam karya Adam Smith The Wealth of Nations tahun 1776 dan David Ricardo The Law of Diminishing Return 2. International political-economy (political economy) dengan karakter:

interpretif; relevansi; ideologis yang dapat terlihat dalam tiga perspektif:

a. Perspektif Merkantilis: yang menitikberatkan pada aspek intervensi negara terhadap harga dan upah buruh, substitusi impor dan manufaktur. Ini tercermin dalam karya John Maynard Keynes The General Theory of Employment, Interest and Money tahun 1935 yang berbicara tentang peran dinamis para investor dan pemerintah. Sebab dalam masa depresi

13 hukum dan pasar bebas tidak berlaku seperti diyakini penganut liberal selama ini. b. Perspektif Radikal: yang menekankan pada aspek revolusi dengan tokoh utamanya Andre Gunder Frank. Sebagai mana yang telah diulas sebelumnya, Frank lebih melihat faktor eksternal berupa penetrasi cara produksi kapitalis ke dalam masyarakat negara-negara dunia ketiga yang masih dalam format pra kapitalis sebagai biang keladi keterbelakangan dan kemiskinan. Solusinya adalah revolusi dengan memutus

ketergantungan terhadap negara-negara kapitalis maju. c. Perspektif Reformis: yang mencoba mengawinkan dua perspektif sebelumnya sebagai alternatif jawaban untuk mengatasi keterbelakangan dan kemiskinan masyarakat di negara-negara dunia ketiga. Fenomena ini di Indonesia tampak pada keterlibatan NGO’s baik lokal maupun asing dalam berbagai proyek pembangunan nasional.

V. KOMUNIKASI SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN Setelah menguraikan konsep pembangunan dari berbagai perspektif maka tiba saatnya kita menelaah bagaimana peran komunikasi dalam

perubahan sosial yang bernama pembangunan itu. Terutama dalam tingkat praksis di negara-negara dunia ketiga umumnya dan Indonesia khususnya. Ternyata komunikasi sebagai agen perubahan sosial seringkali bersifat tidak langsung (indirect process) dan hanya bersifat membantu saja (Rogers, 1987). A. SEPUTAR PEMUKA PENDAPAT (OPINION LEADER)

14 Pengaruh komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh elite terdidik sebagai kelas menengah dalam konteks intelektual masyarakat ternyata punya peran lebih signifikan dalam proses komunikasi sosial. Para elite ini disebut sebagai pemuka pendapat (opinion leader) dengan karakter sbb: pendidikan lebih tinggi; inovatif dalam menerima gagasan baru; punya akses ke media massa; kosmopolitan; tingkat partisipasi sosial lebih tinggi (Wiryanto, 2000). Pemuka pendapat ini terdiri dari berbagai varian, diantaranya: pemuka pendapat aktif (opinion giving) dan pemuka pendapat pasif (opinion seeking). Dalam konteks status sosialnya dapat dipilah menjadi homophily yang merupakan pemuka pendapat dengan status sosial sama dengan pengikutnya (follower) dan heterophily dengan status sosial lebih tinggi daripada pengikutnya (follower). Artinya, dalam kasus seperti ini pemuka pendapat harus punya

tingkat empati yang tinggi. Sementara itu berdasarkan topik atau isi pesan terpilah jadi polymorphic yang menguasai segala macam hal (all purpose) dan monomorphic yang hanya mendalami topik-topik tertentu saja. B. STRUKTUR SOSIAL INDONESIA Masalah utama komunikasi sosial yang dihadapi oleh negara-negara dunia ketiga umumnya dan Indonesia khususnya dapat dipetakan sebagai berikut: 1. Organisasi sosialnya terfragmentasi berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). 2. Tarik-menarik antara budaya feodal (peasant culture) dengan budaya borjuis masyarakat industri (industrial culture).

15 3. Norma kelompok yang terbelah di antara memberships group dan reference group yang kontradiktif. Secara singkat dapat disimpulkan karakter masyarakat majemuk sebagai berikut: struktur sosialnya terpecah dalam beberapa subsistem yang berdiri sendiri dalam ikatan primordial yang nonkomplementer; segmentasi kultural yang saling berbeda yang tidak punya konsensus dan loyalitas terhadap nilai-nilai dasar; konflik sosial berbentuk vertikal dan horizontal; intergrasi sosial bersifat koersif dan dominasi politik bersifat rasial (Nasikun, 1989). Struktur sosial masyarakat majemuk di Indonesia (plural society) terdiri atas dua elemen yang berdiri sendiri tanpa pembauran sebagai masyarakat politik (polity). Ini dapat dicermati dengan pendekatan konflik (conflict approach) dan pendekatan struktural-fungsional (functional-structural approach). Seorang sosiolog bernama JS Furnivall dalam karyanya Netherland India: A Study of Plural Economy (Cambridge University Press, 1967) melihat masyarakat Indonesia terbelah secara vertikal: kelas sosial ekonomi dan secara horizontal: SARA. Kekuasaan politik didominasi ras tertentu (baca: Jawa) tanpa ada kehendak bersama (common will). Dalam karyanya yang lain Colonial Policy and Practice: A Comparative Study of Burma and Netherlands India (New York University Press, 1956), Furnivall menyebutkan dalam masyarakat majemuk seperti ini tidak ada common social demand. Artinya, hubungan sosial di antara elemen-elemen masyarakat majemuk semata-mata didasari oleh proses produksi material. Kepentingan ekonomi berimpit dengan perbedaan ras yang mengerucut seperti piramida: pribumi sebagai alasnya dalam bidang pertanian

16 sawah (wet rice cultivation) di Jawa dan pertanian ladang (shifting cultivation) di luar Jawa, posisi tengah ditempati oleh Timur Asing (Tionghoa; Arab; India) sebagai pedagang perantara dan puncaknya ditempati oleh bangsa Eropa yang komandani oleh Belanda di sektor perkebunan. Pasca revolusi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 lapisan atas bergeser ditempati oleh segelintir elite pribumi. Lapisan lainnya nyaris tidak berubah. Masalahnya, pembangunan yang tidak lain dari perubahan sosial yang terencana dengan budaya (culture), situasi (situation) dan waktu (time) yang berbeda antara suatu negara dengan negara lainnya. Dengan demikian, tidak bisa konsep-konsep modernisasi Barat dicangkokkan begitu saja dalam proyek rekaya sosial masyarakat di negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Seperti terlihat dalam pemikiran David Mc Clelland dengan konsep N-Ach (Need for Achievement) dalam karyanya The Achieving Society (Princeton van Nostrand, 1961) yang mirip dengan karya sosiolog Jerman Max Webber The Protestant Ethics and The Rise of Capitalism yang intinya melihat kerja keras dan disiplin tinggi sebagai panggilan Illahi (calling) sebagai dasar modernisasi Barat. Inilah yang tidak dimiliki oleh sebagian besar masyarakat di negaranegara dunia ketiga termasuk Indonesia. Intinya mereka terbelakang dan miskin karena malas. Untuk itulah perlu disusun strategi komunikasi yang bisa mengubah mental masyarakat yang selaras dengan modernisasi. Pemikiran ini diadobsi oleh rezim Orde Baru dulu. Tayangan “Ria Jenaka” di TVRI yang memanfaatkan komunikasi tradisional dengan tokoh punakawan dalam dunia

17 perwayangan sebagai agen modernisasi. Atau drama radio “Butir-Butir Pasir Laut” di RRI yang memuat pesan KB Nasional bisa dijadikan sekedar ilustrasi. Begitu pula Daniel Lerner dalam karyanya The Passing of Traditional Society: Modernizing The Middle East (New York: Free Press, 1965). Pemikirannya khas seorang pengamat Barat. Ia mirip Rostow yang percaya bahwa media massa bisa menjadi alat percepatan sejarah (acceleration of history) dan mobilisasi massa (mobilization of periphery). Lerner membandingkan modernisasi Barat sebagai berikut: urbanisasi; melek huruf; partisipasi media massa; partisipasi politik. Sementara proses modernisasi di negara-negara dunia ketiga mengambil bentuk sebagai berikut: harapan meningkat (rising

expectation); kekecewaan meningkat (rising frustrations); kudeta militer (military take over). Tesis inilah yang dikoreksi oleh Johan Galtung dalam karyanya A Structural Theory of Imperialism. Tokoh aliran strukturalis ini mirip dengan Frank yang lebih melihat faktor eksternal daripada faktor internal masyarakat di negaranegara dunia ketiga sebagai penyebab keterbelakangan dan kemiskinan mereka. Ini meliputi political and legal aspect of information dan techno-financial aspect of information yang timpang antara negara-negara maju dengan negaranegara dunia ketiga. Ibarat bumi dengan langit. Dengan demikian, asumsi dasar dari difusi-inovasi yang selama ini diajarkan oleh Barat kepada dunia ketiga perlu dipertanyakan kembali validitasnya seperti:

18 1. Komunikasi an sich dapat menggerakkan pembangunan tanpa melihat

situasi-kondisi struktur sosial masyarakat di negara-negara dunia ketiga. 2. Modernisasi adalah peningkatan produksi-konsumsi barang dan jasa. Serta pemerataan pendapatan dan kesempatan yang perlu dicapai dalam waktu tertentu. 3. Kunci peningkatan itu adalah inovasi teknologi tanpa melihat siapa yang diuntungkan dan dirugikan (Rogers, 1987). DAFTAR PUSTAKA Book, Cassandra L. Human Communication: Principles, Contexts, and Skills. New York: St. Martin’s Press, 1980. Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: CV. Remadja Karya, 1988. Fisher, B Aubrey. Teori Komunikasi (terj.). Bandung: PT. Remadja Rosda Karya, 1990. Griffin, EM. A First Look at Communication Theory (Sixth Edition). Singapore: Mc Graw – Hill Education (Asia), 2006. Mas’oed, Mohtar. Ekonomi-Politik Internasional dan Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994. Nasikun, J. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali Pers, 1989. Nasution, Zulkarimen. Komunikasi Pembangunan: Pengenalan Teori dan Penerapannya. Jakarta: CV. Rajawali Pers, 1988. Rogers, Everret M. Komunikasi dan Pembangunan: Perspektif Kritis (terj.). Jakarta: LP3ES, 1987. Siregar, Amir Effendi. “Komunikasi Pembangunan” kumpulan tulisan yang tidak diterbitkan. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, 1987. Soedjatmoko. Pembangunan dan Kebebasan. Jakarta: LP3ES, 1985. Sumarsono. et.al. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES, 1994

19

Tjokrowinoto, Moeljarto. Politik Pembangunan: Sebuah Analisis Konsep, Arah dan Strategi. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1987.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->