P. 1
Tata Cara Penyusunan Perda

Tata Cara Penyusunan Perda

|Views: 543|Likes:
Published by perdamenta

More info:

Published by: perdamenta on Jul 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2014

pdf

text

original

Tata Cara Penyusunan Perda

Tata Cara Penyusunan Perda | 01 Jan, 1970 Tata Cara Penyusunan Perda, prosedurnya adalah sebagai berikut : 1. Penyusunan suatu Peraturan Daerah mengacu pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, dimana : a. ketentuan Pasal 7 ayat (1) menyebutkan : "Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut : 1. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. UU / Perpu; 3. Peraturan Pemerintah; 4. Peraturan Presiden; 5.Peraturan Daerah. b. Ketentuan Pasal 7 ayat (4) menyebutkan : "Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi". 2. Terkait dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) keberadaan Peraturan Daerah merupakan salah satu jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan, yang mana dalam pembentukannya dibuat eleh DPRD bersama dengan Gubernur sesuai ketentuan Pasal 7 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 10 tahun 2004. 3. Selain Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004, Landasan Yuridis penyusunan suatu Rancangan Peraturan Daerah di Previnsi DKI Jakarta adalah sebagai berikut : a. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. (Pasa1136 s.d Pasa1147) b. Peraturan Presiden Nomer 68 Tahun 2005 tentang Penyusunan Produk Hukum Pusat. c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2006 tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah. d. Peraturan Gubernur Nomor 110 Tahun 2005 tentang Keerdinasi Penyusunan Preduk Hukum Daerah. 4. Dalam melakukan penyusunan produk hukum daerah sebagaimana tersebut pada angka 1, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukannya dengan tahapan sebagai berikut : a. tahapan pada tingkat Eksekutif. b. tahapan pada tingkat Legislatif. 5. Pada tingkat Eksekutif, dengan mengambil contoh penyusunan Rancangan Peraturan Daerah, dilakukan tahapan kegiatan sebagai berikut: a. rapat persiapan; b. inventarisasi peraturan perundang-undangan yang dibutuhkan; c. penyusunan draft Rancangan Peraturan Daerah; d. pembahasan draft Rancangan Peraturan Daerah, dengan mengikutsertakan SKPD/UKPD terkait dan tenaga ahli yang dibutuhkan;

e. melakukan Seminar I Temu Pakar dalam rangka uji public terhadap draft Raperda yang telah disusun, untuk memperoleh masukan dari masyarakat dalam rangka penyempurnaan substansi materi; f. melakukan harmonisasi I sinkronisasi substansi materi Raperda; dan g. membuat surat usulan Gubernur dengan dilampiri draft Raperda untuk selanjutnya disampaikan kepada DPRD. 6. Pada tingkat Legislatif, dilakukan kegiatan pembahasan bersama-sama pihak Eksekutif terhadap draft Raperda yang telah diusulkan oleh Eksekutif, dengan mengacu pada Tata Tertib DPRD dan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penyusunan Peraturan Daerah, yang mana pasda tingkat Lagislatif pembahasan dilakukan oleh Badan Legislasi Daerah (Balegda) bersama-sama dengan pihak Eksekutif. 7. Berkenaan segi pembiayaan penyusunan Raperda, sesuai tupoksi sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Nomer 10 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah, merupakan tupoksi Biro Hukum. Akan tetapi dikarenakan dalam penyusunan tersebut memerlukan dukungan biaya, maka untuk koordinasi pelaksanaan penyusunan dapat dilakukan oleh SKPD/UKPD selaku pengguna Raperda dimaksud, namun tetap mengikut sertakan Biro Hukum dalam rapat pembahasannya. 8. Apabila pembahsan telah selesai dilakukan dan telah disampaikan kata akhir oleh DPRD dalam rapat paripurna DPRD, selanjutnya Rancangan Peraturan Daerah yang telah disahkan tersebut, ditetapkan oleh Gubernur dan dalam jangka waktu paling lambat 7 hari sudah harus disampikan ke Departemen Dalam Negeri. 9. Khusus untuk Raperda yang terkait dengan pajak daerah, retribusi daerah dan tata ruang sebelum ditetapkan oleh Gubernur, terlebih dahulu dikirimkan kepada Depdagri untuk dilakukan evaluasi, dan apabila sudah disetujui baru ditetapkan oleh Gubernur dan dikirimkan kembali ke Departemen Dalam Negeri. 10.Terhadap penyusunan Raperda yang merupakan ide/prakarsa DPRD, maka prosedurnya diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 28 ayat (2) UndangUndang Nomor 10 Tahun 2004.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->