PERHITUNGAN CADANGAN BATUBARA 1.

pendahuluan Evaluasi dan Optimasi Cadangan Batubara ini merupakan pekerjaan (tahap) lanjutan dari hasil Pemodelan Sumberdaya Batubara. Pada tahapan ini mulai diterapkan (di identifikasikan) batasan-batasan teknis maupun ekonomis yang dapat menjadi pemba tas dari model sumberdaya batubara yang telah diterapkan (dimodelkan) sebelumnya . Selain itu, pada tahapan Evaluasi dan Optimasi Cadangan Batubara ini diharapkan telah dapat dikuantifikasi jumlah batubara yang realistis dan layak yang dapat d iperoleh melalui penambangan dengan metoda & sistem penambangan yang dipilih ses uai dengan model sumberdaya yang telah diketahui. Secara umum, aspek-aspek penting yang akan diuraikan & dipelajari dalam sesi (mo dul) ini adalah sebagai berikut : Penentuan & pemilihan pit potensial Konsep nisbah kupas (stripping ratio) Faktor-faktor pembatas dan losses Metoda-metoda perhitungan cadangan batubara Konsep optimasi jumlah cadangan tertambang. Beberapa pengertian/definisi dasar yang berhubungan dengan evaluasi cadangan bat ubara (diadopsi dari : geological survey circular 891, 1983) adalah : Coal (batubara) : suatu batuan yang dapat terbakar yang tersusun lebih dari 50% berat (lebih dari 70% volume) material karbonan (carbonaceous), termasuk inheren t moisture yang terbentuk material (bagian) tumbuhan yang telah mengalami kompak si, perubahan fisik-kimia oleh panas & tekanan dalam skala waktu geologi. Coal bed (seam) : seluruh lapisan (batubara dan parting) yang terdapat diantara batas roof (atap) dan floor (lantai). Bone coal (bone) : impure coal yang mengandung banyak lempung atau material-mate rial detrital berukuran halus dan kadang-kadang dikonotasikan dengan istilah sil ty coal atau shally coal atau sandy coal. Impure coal (coaly) : suatu batubara (coal) yang mengandung lebih dari 33% berat abu dan dapat diasosiasikan sebagai parting dalam suatu lapisan (seam) batubara . High ash coal : batubara yang mengandung lebih dari 15% abu dalam basis as-recei ved. High sulfur coal : batubara yang mengandung lebih dari 3% sulfur dalam basis asreceived. Recoverable coal : batubara yang dapat/bisa diekstrak dari suatu lapisan batubar a pada saat penambangan. Term “Recoverable” ini biasanya dikombinasikan dengan sumbe rdaya (resources) bukan dengan cadangan (reserve). Mineable coal : kapasitas (jumlah) cadangan batubara yang dapat ditambang (terta mbang) pada kondisi teknologi penambangan sekarang, dengan telah mempertimbangka n faktor lingkungan, hukum & perundang-undangan serta peraturan yang berlaku (le galitas), serta kebijakan pemerintah yang diterapkan. Untuk ketebalan, penyebaran lapisan batubara, serta evaluasi cadangan, beberapa catatan khusus yang perlu diperhatikan adalah : a. Suatu penentuan ketebalan batubara belum dapat dikatakan komplit (valid) jika : Pengukuran tebal dilakukan pada singkapan dimana batuan disekitarnya memperlihat kan gejala slumping, Pengukuran tebal dilakukan pada suatu singkapan batubara yang lapuk (tidak segar ), Pengukuran tebal dilakukan pada titik bor yang tidak menembus dengan baik roof & floor lapisan batubara, Pengukuran tebal dilakukan pada daerah yang diketahui mengalami erosi bidang pad a roof/floor lapisan batubara, Pengukuran tebal dilakukan dengan cara membuat channel pada suatu lapisan batuba ra, namun diketahui lapisan tersebut telah mengalami perubahan letak (perpindaha n) atau pada bongkah. b. Tingkat keyakinan geologi terhadap model sumberdaya yang dikonstruksi : Jarak antar titik informasi,

perkiraan harga jual batubara. Data-data awal yang diperlukan merupakan data-data yang diperoleh/dihasilkan pad a saat melakukan model sumberdaya. Kondisi ini dapat disebabk an oleh adanya tinggian/punggungan (bukit) di atas lapisan batubara. Pe ta iso-overburden secara umum (gamblang) dapat menggambarkan (merefleksikan) kon disi sebaran batubara terhadap variasi topografi pada areal tertentu. Gambar 1. Kondisi pembatas lain : misalnya adanya jalan. c. Analisis peta iso-overburden : Dengan memperhatikan pola kontur peta iso-overburden. serta perkiraan (target) keuntungan. maka Peta Iso-overburden ini dapat dengan cepat digunakan sebagai f aktor pembatas dalam penentuan pit limit. menunjukkan ketebalan overbu rden relatif mempunyai variasi yang besar & intensif. rank dan kualitas batubara. b. seperti : Kontur rapat dan berada di dekat cropline batubara. Peta iso-ketebalan : untuk mengetahui variasi ketebalan dari batubara. Nilai kontur pada peta iso-overburden merupakan refleksi dari ketebalan overburden. Adapun pola umum yang dapat diterapkan untuk penentuan pit potensial adalah seba gai berikut : a. yaitu dengan cara melakukan overlay antara pe ta struktur roof (elevasi top) batubara dengan peta topografi (Gambar 1). maka peta ini dapat digun akan sebagai faktor pembatas. Kontur relatif renggang dan mempunyai pola menjauhi cropline batubara. Peta elevasi top (atap roof) batubara . pola sebaran & kemenerus an lapisan batubara. Peta geologi lokal : untuk mengetahui variasi litologi. Pada beberapa kondisi khusus seperti terbatasnya tinggi (tebal) overburden yang disyaratkan. biaya (cost) penambangan. Derajad kelayakan ekonomis suatu pembukaan tambang batubara dipengaruhi oleh : ketebalan lapisan batubara & overburden. Kondisi geografis : jika. mak a ini juga dapat merefleksikan batasan ketebalan overburden maksimum. maka dapat d ipisahkan menjadi beberapa pit potensial. Kondisi litologi : jika pada model sumberdaya batubara diidentifikasikan adanya blok intrusi. maka dapat dipisahkan menjadi beb erapa pit potensial. Tingkat ketelitian (detil) dalam mengidentifikasikan struktur geologi. yaitu : Peta topografi : untuk mengetahui (melihat) variasi topografi (terutama daerah t inggian – lembah). maka dengan memplotkan lokasinya dapat digunakan sebagai batas pit potensial. Kondisi i .Konsep dalam pengkorelasian batubara. maka blok intrusi tersebut harus ditentukan batasnya untuk pembata s pit potensial. 2. atau areal lindung. Penentuan pit potensial ini diperlukan untuk dapa t memperkirakan/memprediksi suatu areal sumberdaya batubara yang potensial untuk nantinya akan dikembangkan menjadi suatu lokasi pit penambangan. pada peta topografi diketahui mengalir suatu sungai ya ng besar dan secara teknis sungai tersebut tidak dapat dipindahkan. Langkah awal yang dilakukan untuk penentuan pit potensial ini adalah membuat (me ngkonstruksi) peta iso-overburden. Kondisi geologi batubara : jika diidentifikasikan adanya ketebalan batubara yang tidak memenuhi syarat seperti t <> Kondisi geoteknik : jika diketahui limit (batas) ketinggian lereng maksimum. seperti : Struktur geologi : jika pada model sumberdaya batubara diidentifikasikan terdapa t beberapa struktur geologi (seperti patahan). PENENTUAN & PEMILIHAN PIT POTENSIAL Penentuan & pemilihan pit potensial merupakan sebagai langkah awal dalam melakuk an evaluasi cadangan batubara. Identifikasikan faktor-faktor pembatas. sehingga jika disyaratkan ketebalan minimum yang akan dihitung. untuk mengetahui pola kemenerusan lapisa n batubara. Sketsa konstruksi peta iso-overburden. serta pola struktur geologi. perkampungan.

Dalam pemodelan sumberdaya.5 m dengan kedalaman maksimum 300 m. Interval ketebalan overburden yang disarankan untuk pelaporan perhitungan cad angan. faktor ini dapat direfleksikan sebagai dasar untuk p erhitungan (penaksiran) jumlah cadangan batubara. dan PBP Namun secara umum. karena variasi ketebalan overburden relatif mempunyai interval yang lebar. Upah tenaga kerja Biaya produksi batubara Penambangan batubara. bangunan. Ketebalan batubara minimum yang dapat diperhitungkan sebagai cadangan : Untuk batubara antrasit & bituminous : ketebalan minimum adalah 70 cm dengan ked alaman maksimum 300 m. dan harga jual menjadi sangat penting dalam perumusan nilai Stripping Ratio. Pengetahuan jumlah (kuantitas) batubara dan jumlah batuan penutup yang harus dip indahkan untuk mendapatkan perunit batubara sesuai dengan metoda penambangan mer upakan konsep dasar dari Nisbah Kupas (Stripping Ratio). Untuk lignit : ketebalan minimum adalah 1. nilai kalori. kendaraan. yaitu areal yang telah dapat dipriori taskan. ada beberapa konsep mendasar yang dapat dipahami. adalah : Tonase batubara dengan ketebalan overburden 0 – 30 m. 1983.ni menguntungkan. Kedalaman maksimum ini telah memasukkan pertimbangan jika penambangan diteruskan dengan metoda penambangan bawah tanah. antara lain : a. gantirugi lahan.5 m dengan kedalaman maksimum 150 m. Dengan mengetahui lokasi pit potensial ini. Dalam Geological Survei Circul ar 891. Secara umum. Tonase batubara dengan ketebalan overburden 60 – 150 m. lingkungan. bahwa ketebalan lapisan batubara dan ke tebalan tanah penutup (overburden) merupakan faktor utama yang mengontrol kelaya kan suatu pembukaan tambang batubara. maka jumlah cadangan yang dapat diekstrak hanya terbatas. Faktor rank. peralatan penunjang. Recovery factor : suatu angka yang menyatakan perolehan batubara yang dapat d itambang (dengan metoda stip mining. Pada Gambar 2a dan 2b dapat dilihat contoh penentuan lokasi pit potensia l dengan pendekatan faktor pembatas yang berbeda. 3. c. Dengan mengkombinasikan kedua faktor di atas (faktor pembatas & faktor ketebalan overburden). pengangk utan batubara. kualitas. pengupasan tanah penutup. peralatan stockpile. maka dengan cepat lokasi pit potensial dapat dilokalisir (ditentuk an). atau underground mining) terh adap jumlah cadangan yang telah diperhitungkan sebelumnya. pembuatan jalan. pengolahan. Batubara dengan harga jual yang tinggi akan me mberikan Nisbah Kupas yang lebih baik daripada batubara dengan harga jual yang r endah. se dangkan sebagai follow-up perlu dipertimbangkan juga penggunaan metoda auger-min ing. faktor utama untuk penentuan nilai ekonomis stripping ratio i . b. peralatan tambang u tama. Tonase batubara dengan ketebalan overburden 30 – 60 m. Untuk batubara sub-bituminous : ketebalan minimum adalah 1. KONSEP NISBAH KUPAS (STRIPPING RATIO) Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. auger mining. karena kalau dalam pertimbangan ekonomis hanya dengan memperhatikan st ripping ratio saja. Konsep-konsep di atas perlu dipahami dengan tujuan konservasi sumberdaya batubar a (alam). adalah : Investasi Biaya eksplorasi. maka optimasi cadangan batubara dapat dilakukan pada areal yang terbatas. NPV. Harga jual batubara Analisis aliran kas : IRR. Stripping Ratio (SR) didefinisikan sebagai “Perbandingan jumlah volume tanah penutup yang ha rus dipindahkan untuk mendapatkan satu ton batubara”. royalti.. Beberapa parameter ekonomi yang diperlukan untuk penentuan stripping ratio yang masih ekonomis (Break Even Stripping Ratio).

Dalam penerapannya. maupun pada saat pengkorelasian lapisan batubara. Sedangkan faktor-faktor losses diterapkan pada saat proses perhitungan cadangan. Faktor-faktor pembatas suatu cadangan : Minimum ketebalan lapisan batubara. Perkirakan umur tambang. yaitu kalau diperkir akan akan dilakukan proses pencucian. Maksimum kandungan sulfur. yaitu faktor kehilangan akibat teknis penambangan. intrusi. Perkirakan unit cost penambangan untuk penggalian & pengangkutan overburden ke w aste dump. Maksimum stripping ratio. untuk total revenue. Perkirakan recoverable reserve. yaitu faktor kehilangan akibat adanya variasi ketebalan. 4. Perkirakan unit cost transportasi batubara dari stock pile sampai ke pelabuhan. Faktor Losses Yaitu faktor-faktor kehilangan cadangan akibat tingkat keyakinan geologi maupun akibat teknis penambangan. Batasan alamiah – geografis. Perkirakan harga jual batubara per ton. Perkirakan volume tanah penutup. Minimum (%) yield proses untuk mendapatkan batubara bersih. volume tanah penutup (BCM). dll. FAKTOR-FAKTOR PEMBATAS DALAM PENENTUAN CADANGAN TERTAMBANG Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. s erta umur tambang. hal ini berhubungan dengan nilai stripping rat io. part ing. Perkirakan biaya lain-lain. Maksimum kandungan abu. Processing Losses. m aka ada 2 (dua) faktor utama yang harus dikuantifikasi. untuk total cost. seperti faktor alat. dimana akan terjadi dilution sepanjan g tahap penambangan. Mining Losses. yaitu Faktor Pembatas Ca dangan dan Faktor Losses. Namun dapat juga dengan memperhatikan pola variasi ketebalan batubara. seperti adanya sungai besar. hal ini berhubungan dengan nilai atau tingkat kelayaka n penambangan. Batasan alamiah – geologi. yaitu berhubungan dengan batasan-batasan alam yang ha rus diperhatikan. yaitu berhubungan dengan batasan-batasan geologi. Maksimum kemiringan lapisan batubara. langsung diambil nilai umum yaitu 5 – 10%. yaitu den gan bantuan analisis statistik.ni adalah : jumlah cadangan batubara (marketable). hal ini akan berhubungan dengan teknologi penambangan dan nilai stripping ratio. dan dapat dikuantifikasi besar nilai losses tersebut. Maka perbandingan nilai jual batubara terhadap total cost harus lebih besar dari pada 1 (revenue > total cost). Beberapa faktor losses adalah : Geological Losses. daerah konservasi alam. seper ti adanya sesar. atau adan ya jalan negara. yaitu faktor kehilangan (recovey yield) akibat diterapkannya metoda pencucian batubara atau kehilangan pada proses lanjut di Stockpile. hal ini berhubungan dengan teknik penambanga n & stripping ratio. bahwa tidak mungkin akan diperoleh cada ngan tertambang 100% dari cadangan insitu. Secara sederhana (Rule of thumb) penentuan harga Stripping Ratio yang masih ekon omis adalah sebagai berikut : Perkirakan unit cost penambangan untuk penggalian & pengangkutan batubara ke sto ckpile. atau adanya suatu areal tertentu yang tidak mungkin dipindahkan . Sebelum mulai menghitung suatu nilai cadangan tertambang. Perkirakan biaya investasi & eksplorasi. b. Maksimum ketebalan tanah penutup. Berikut akan diuraikan co ntoh cara pengkuantifikasian faktor losses tersebut. faktor safety. Parameter statistik yang dapat digunakan adalah . yaitu sesuai dengan standar pasar yang akan dimasuki. dll. a. yaitu sesuai dengan standar pasar yang akan dimasuki. untuk total revenue. Faktor-faktor pembatas pada umumnya sudah cukup jelas. Geological Losses Biasanya untuk kemudahan. fakto r-faktor pembatas tersebut akan menjadi Pit Limit dalam panambangan.

Gambar 4a. Rata-rata = . tetapi jika perbedaann ya terlalu besar (Gambar 4b) maka digunakan rumus obelisk. seda ngkan untuk tambang bawah tanah digunakan mining losses sebesar 40-50% yaitu (me toda Long Wall mempunyai Recovery 60-70%. Perhitungan volume tersebut dapat dil akukan dengan menggunakan 1 (satu) penampang. Jika ketebalan lapisan hanya 1 m. Standard Deviasi = Koef. Penampang untuk rumus obelisk Rumus obelisk : . perhitungan cadangan dengan menggunakan metoda penampang ini ad alah mengkuantifikasikan cadangan pada suatu areal dengan membuat penampang-pena mpang yang representatif dan dapat mewakili model endapan pada daerah tersebut. Pada masing-masing penampang akan diperoleh (diketahui) luas batubara dan luas o verburden. maka u ntuk perhitungan cadangan dapat diterapkan metoda konvensional (klasik) dengan t ingkat ketelitian yang cukup baik. atau 2 (dua) penampang. untuk auger mining digunakan mining losses sebesar 60-70% (atau Recov ery 30-40% sesuai dengan spesifikasi perlatannya). dimana harga perolehan (yield) ditentukan dari hasil uji tersebut. variasi = Mining Losses Secara umum.. Dengan menggunakan 3 (tiga) penampang Metoda 3 (tiga) penampang ini digunakan jika diketahui adanya variasi (kontras) pada areal di antara 2 (dua) penampang. dan d adalah jarak antar penampa ng. Jarak pengaruh sebuah penampang. Dengan menggunakan 2 (dua) penampang Cara ini digunakan jika diasumsikan bahwa volume dihitung pada areal di antara 2 penampang tersebut. b. dan jika ketebalan lapisan adalah 5 m maka Mining Losses = 4%. untuk metoda Strip Mining digunakan mining losses sebesar 10%.: standard deviasi. 5. Volume batubara & overburden dapat diketahui dengan mengalikan luas t erhadap jarak pengaruh penampang tersebut.1 Metoda Penampang Pada prinsipnya. Penampang untuk rumus mean area & kerucut terpancung. atau juga dengan rangkaian banyak penampang. Volume = (A x d1) + (A x d2) dimana : A = luas overburden d1 = jarak pengaruh penampang ke arah 1 d2 = jarak pengaruh penampang ke arah 2 Volume yang dihitung merupakan volume pada areal pengaruh penampang tersebut. Jika tidak terlalu berbeda (Gambar 4a). koefisien variasi. maka Mining Losses = 20%. sedangkan jika ke tebalan lapisan adalah 2 m maka Mining Losses = 10%. Yang perlu diperhatikan adalah variasi (perbedaan) dimensi antara kedua penampang tersebut. Processing Losses (yield). Untuk menghitungnya digunakan rumus prismo . atau standard error. maka perlu ditambahkan penampang antara untuk mereduksi kesalahan (Gambar 5). kadang-kadang juga digunakan pendekatan ke tebalan lapisan yang akan ditinggalkan. Untuk metoda Strip Mining (open pit). yaitu 10 cm pada roof & 10 cm pada floor . atau 3 (ti ga) penampang. Untuk tujuan praktis. Gambar 3. Ji ka penampang tunggal tersebut merupakan penampang korelasi lubang bor.. Rumus mean area : Rumus kerucut terpancung : dimana A1 dan A2 adalah luasan penampang 1 & 2. 5. a. metoda Room & Pillar mempunyai Recover y 50-60%). Dengan menggunakan 1 (satu) penampang Cara ini digunakan jika diasumsikan bahwa 1 penampang mempunyai daerah pengaruh hanya terhadap penampang yang dihitung saja (lihat Gambar 3). maka akan merefleksikan suatu bentuk poligon dengan jarak pengaruh penampang sesuai denga n daerah pengaruh titik bor (poligon) tersebut. PERHITUNGAN CADANGAN BATUBARA DENGAN METODA PENAMPANG Karena batubara merupakan endapan dengan tingkat homogenitas yang tinggi. metoda penampang dapat diterapkan untuk perhitungan jumlah cadangan tertambang. sangat tergantung pada hasil uji ketercucian (washabi lity test). dimana c. Gambar 4b. maka da pat digunakan rumus mean area & rumus kerucut terpancung.

telah memasukkan elemen-elemen topografi. dalam tabulasinya sebaiknya dib uat dalam worksheet. yaitu dengan memasukkan pembobotan tonase pada range k ualitas tertentu sehingga dapat dioptimalkan tonase cadangan sesuai dengan syara t minimal yang ditargetkan. sehingga nantinya jug a akan dilakukan optimasi berdasarkan pembobotan tonase. serta faktor-faktor pembatas lainnya. Gambar 5. geometri lereng. yaitu dengan menghitung stripping ratio dengan lebar blok tertentu searah jurus perlapisan batubara dan lebar tert entu ke arah dipping dengan menggunakan interval elevasi kontur struktur batubar a. peta struktur elevasi roof/floor batubara). sebaiknya deretan penampang dibuat mem otong (relatif tegak lurus) arah umum bidang perlapisan. 5. yaitu dengan mengoptimasi stripping ratio masing-masing penampang. . untuk penaksiran ini dapat digunakan metoda poligon. Gambar 6.4 Tahap Pengerjaan Perhitungan Cadangan Pembuatan lintasan penampang perhitungan. 5. Konstruksi penampang. untuk penaksiran ini juga dapat digunakan metoda poligon. Perhitungan luasan masing-masing penampang. Perhitungan tonase batubara & volume overburden. atau metoda geostatistik.1 Optimasi berdasarkan Stripping Ratio Optimasi berdasarkan series penampang. maupun kumulatif stripping ratio keseluruhan areal. Seluruh data-data awal tersebut akan menjadi dasar dalam pembuatan (konstruksi) series penampang perhitungan cadangan.3 Data-Data Olahan & Konvensi Penaksiran tebal (jika diperlukan). dengan memperhatikan variasi masing-masing penampan g. metoda inverse distance. Mining Losses. dapat dengan menggunakan planimeter maupun dengan menggunakan program komputer. Processing Losses. Hasil analisis kestabilan lereng. 5. A2 adalah luas penampang antara. Kondisi penggunaan metoda 3 penampang Rumus prismoida : dimana A1 & A3 adalah luas penampang 1 & 3. disini biasanya digunakan peta iso-kualitas se bagai faktor pembatasnya. Optimasi berdasarkan elevasi batubara (blok). Beberapa contoh penampang perhitungan cadangan 6. Penaksiran kualitas (jika diperlukan). yaitu mengelompokkan series perhitungan p enampang dengan minimum kualitas. Optimasi berdasarkan series penampang. yaitu dengan melakukan penaksiran harga kualitas pada masing-masing blok yang telah disusun.ida. metoda inverse distance.2 Data-Data Awal Peta-peta dasar (peta topografi. bidang lapisan b atubara. OPTIMASI CADANGAN TERTAMBANG 6. Peta isopach ketebalan dan atau peta poligon daerah pengaruh lubang bor. peta geologi. atau metoda geostatistik. 6. Geological Losses. Peta Lokasi Pit Potensial & batasan-batasannya. Optimasi berdasarkan elevasi batubara (blok). Pemilihan rumus perhitungan. seperti yang telah diuraika n sebelumnya dapat melalui konvensi maupun dengan perhitungan.2 Optimasi berdasarkan Kualitas Faktor pembobotan tonase.