P. 1
Pengertian Puasa

Pengertian Puasa

|Views: 902|Likes:
Published by Alfam Atthamimy
Makalah Puasa
Makalah Puasa

More info:

Published by: Alfam Atthamimy on Jul 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/25/2013

pdf

text

original

A.

PENDAHULUAN
Puasa merupakan salah satu rukun islam. Salah satu pilar penegak agama islam ini secara jelas disebutkan dalam Al quran, misalnya dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang kurang lebih artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Puasa juga diperintahkan kepada umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama puasa ini adalah agar kita bertaqwa, bertaqwa kepada Allah SWT. Puasa merupakan ibadah mahdhoh yang telah ditentukan syarat, rukun dan ketentuannya. Puasa terbagi atas puasa wajib, sunnah, makruh dan haram. Puasa yang diwajibkan misalnya, puasa pada bulan Ramadhan dan puasa nadzar. Tidak seperti ibadah mahdhoh yang lain, dimana amalan ibadah mahdhoh seperti shalat adalah untuk kita sendiri, akan tetapi ibadah puasa ini adalah milik Allah SWT. Puasa juga sebagai sarana latihan bagi kita untuk menahan hawa nafsu yang timbul dalam diri kita. Selain itu, puasa juga memberikan kesehatan jasmani bagi orang yang melaksanakannya salah satunya adalah kesehatan pencernaan.

1

B. PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN PUASA
Menurut bahasa Shiyam/ puasa berarti "menahan diri". “aku bernadzar kepada tuhan yang maha pengasih akan berpuasa”.(QS Maryam : 26) Menurut syara' ialah : "menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, karena perintah Allah semata mata, dengan disertai niat dan syarat-syarat tertentu. “Telah berfirman Allah „azza wajalla: “semua amalaan manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa, maka itu hendaklah untukKu1 dan Aku akan memberinya ganjaran2”. Dan puasa itu merupakaan benteng3, maka ketika datang saat puasa, janganlah seseorang berkata keji, berteriak atau mencaci-maki! Dan seandainya dicaci maki oleh seseorang, atau diajak berkelahi, maka jawablah : “saya ini berpuasa” sampai dua kali. Demi Tuhan yang nyawa Muhammad ada dalam genggaamannya, bau mulut orang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah pada haari kiamat daripada kasturi. Dan orang berpuasa itu akan beroleh kegembiraan yang menyenangkan hati: Di kala berbuka, dia akan gembiira dengan berbuka itu, dan di saat ia menemui Tuhannya nanti, ia akan gembira karena puasanya.”(HR. Ahmad, Muslim dan Nasa‟i) Puasa Ramadlan adalah salah satu sendi ibadat yang dilakukan pada bulan Ramadlan, selama satu bulan (29 atau 30) hari. Ketentuan yang mewajibkan puasa ini ialah firman Allah swt. :

1 2

dikatakan untuk Allah adalah sebagai penghargaan hadits ini sebagian merupakan hadits qudsi dan sebagian lagi adalah hadits biasa 3 maksudnya yang menjaga diri dari maksiat

2

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat men jalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) : memberi makan seorang miskin. Maka barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permu-laan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kelonggaran bagimu, dan tidak menghendaki kesempitan bagimu. Dan hendak-lah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur". (S.Al-Baqarah, ayat 183-184-185) Di dalam hadits juga dijelaskan tentang kewajiban puasa ini sebagaimana sabda Nabi saw. :

Artinya : Islam ditegakkan atas 5 dasar 1. Bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang patut disembah) melainkan Allah dan Muhammad saw. utusan-Nya. 2. Mengerjakan shalat. 3. Mengeluarkan zakat. 4. Mengerjakan haji. 5. Berpuasa pada bulan Ramadlan. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

3

Artinya : Dan dari Abi Hurairah r.a berkata : Rasulullah saw bersabda : "Allah telah berfirman : Semua amal kela-kuan anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali puasa, maka itu melulu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Dan puasa itu sebagai perisai, maka jika seorang sedang berpuasa, janganlah berkata keji atau ributribut, dan kalau seorang mencaci maki padanya, atau mengajak berke-lahi maka hendaknya dikatakan padanya : Aku berpuasa. Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, bau mulut orang yang berpuasa bagi Allah lebih ha-rum dari bau misik (kasturi). Dan untuk orang puasa dua kali masa gembira, yaitu ketika akan berbuka puasa, dan ketika ia menghadap Tuhan akan gembira benar, menerima pahala puasanya. (HR. Bukhari dan Muslim)

2. SYARAT WAJIB DAN SYARAT SAHNYA PUASA
1. Tentang syarat-syarat wajib berpuasa ini sebagai berikut : a. Beragama Islam. b. Baligh dan berakal ; anak-anak belumlah diwajibkan berpuasa ; tetapi apabila kuat mengerjakannya, boleh diajak berpuasa sebagai latihan. c. Suci dari haidh dan nifas (ini tertentu bagi wanita). d. Kuasa (ada kekuatan). Kuasa disini artinya, tidak sakit dan bukan yang sudah tua. Orang sakit dan orang tua, mereka ini boleh tidak berpuasa, tetapi wajib membayar fidyah. 2. Syarat-syarat sahnya puasa Syarat-syarat sahnya puasa sebagai berikut : a. Islam. b. Tamyiz; artinya orang-orang/anak-anak yang dapat membedakan antara baik dan buruk. Tegasnya bukan anak yang terlalu kecil dan bukan orang gila. c. Suci dari haidh dan nifas. Wanita yang sedang haidh dan nifas tidak sah jika mereka berpuasa, tetapi wajib qadla pada waktu lain, sebanyak bilangan hari yang ia tinggalkan. d. Tidak di dalam hari-hari yang dilarang untuk berpuasa, yaitu di luar bulan Ramadlan.

4

3. RUKUN PUASA
1. Niat ; yaitu menyengaja puasa Ramadlan, setelah terbenam matahari hingga sebelum fajar shadiq. Artinya pada malam harinya, dalam hati telah tergerak (berniat), bahwa besok harinya akan mengerja-kan puasa wajib Ramadlan. Adapun puasa sunnat, boleh niatnya dilakukan pada pagi harinya.

Artinya : Dari Hafshah Ummul Mu'minin ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda : "Barangsiapa yang tidak menetapkan akan berpuasa sebelum fajar, maka tiada sah puasa-nya". (HR. Imam yang lima, Nasa'i dan Turmudzi cenderung mentarjih mauqufhya, tapi disahkan secara marfu' oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dan dalam riwayat Daruq Uthni: "Tidak sah puasanya bagi orang yang tidak menetapkannya dari malam harinya". Niat itu sah pada salah satu saat di malam hari, dan tidak disyaratkan menngucapkannya, karena itu merupakan pekerjaan hati tak ada sangkut pautnya dengan lisan. Hakikat niat adalah menyengaja suatu perbuatan demi mentaati perintah Allah SWT dalam mengharapkan keridhaanNya.4 2. Meninggalkan segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari. Dalam Quran surat Al Baqarah ayat 187 yang aartinya : “maka sekarang, bolehlah kamu mencampuri mereka dan hendaklah kamu mengusahakan apa yang diwajibkan Allah atasmu, dan makan-minumlah hingga nyata garis putih dari garis hitam5 berupa fajar, kemudian sempurnakanlah puasa saampai malam!”

4. MACAM-MACAM PUASA
1. Puasa Fardhu Puasa fardhu adalah puasa yang harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan syariat Islam. Yang termasuk ke dalam puasa fardhu antara lain: a. Puasa bulan Ramadhan

4 5

Sayyid Sabiq. Fikih Sunnah 3. 1993. Bandung :Alma‟arif. Hlm175 Maksudnya ialah gelapnya malam dan terangnya siang. Lihat pula Sayyid Sabiq. 1993. Fikih Sunnah 3. Bandung : Alma‟arif. Hlm. 174.

5

b. Puasa Kafarat Puasa kafarat adalah puasa sebagai penebusan yang dikarenakan pelanggaran terhadap suatu hukum atau kelalaian dalam melaksanakan suatu kewajiban, sehingga mengharuskan seorang mukmin mengerjakannya supaya dosanya dihapuskan, bentuk pelanggaran dengan kafaratnya antara lain : • Apabila seseorang melanggar sumpahnya dan ia tidak mampu memberi makan dan pakaian kepada sepuluh orang miskin atau membebaskan seorang roqobah, maka ia harus melaksanakan puasa selama tiga hari. • Apabila seseorang secara sengaja membunuh seorang mukmin sedang ia tidak sanggup membayar uang darah (tebusan) atau memerdekakan roqobah maka ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut (An Nisa: 94). • Apabila dengan sengaja membatalkan puasanya dalam bulan Ramadhan tanpa ada halangan yang telah ditetapkan, ia harus membayar kafarat dengan berpuasa lagi sampai genap 60 hari. • Barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji bersama-sama dengan umrah, lalu tidak mendapatkan binatang kurban, maka ia harus melakukan puasa tiga hari di Mekkah dan tujuh hari sesudah ia sampai kembali ke rumah. Demikian pula, apabila dikarenakan suatu mudharat (alasan kesehatan dan sebagainya) maka berpangkas rambut, (tahallul) ia harus berpuasa selama 3 hari. Menurut Imam Syafi‟I, Maliki dan Hanafi: Orang yang berpuasa berturut-turut karena Kafarat, yang disebabkan berbuka puasa pada bulan Ramadhan, ia tidak boleh berbuka walau hanya satu hari ditengah-tengah 2 (dua) bulan tersebut, karena kalau berbuka berarti ia telah memutuskan kelangsungan yang berturut-turut itu. Apabila ia berbuka, baik karena uzur atau tidak, ia wajib memulai puasa dari awal lagi selama dua bulan berturut-turut. c. Puasa Nazar Puasa nadzar adalah puasa yang tidak diwajibkan oleh Tuhan, begitu juga tidak disunnahkan oleh Rasulullah saw., melainkan manusia sendiri yang telah menetapkannya bagi dirinya sendiri untuk membersihkan (Tazkiyatun Nafs) atau mengadakan janji pada dirinya sendiri bahwa apabila Tuhan telah menganugerahkan keberhasilan dalam suatu pekerjaan, maka ia akan berpuasa sekian hari. Mengerjakan puasa nazar ini sifatnya wajib. Hari-hari nazar yang ditetapkan apabila tiba, maka berpuasa pada hari-hari tersebut jadi wajib atasnya dan apabila dia pada hari-hari itu sakit atau mengadakan perjalanan maka ia harus mengqadha pada harihari lain dan apabila tengah berpuasa nazar batal puasanya maka ia bertanggung jawab mengqadhanya. 2. PUASA SUNNAT Puasa sunnat (nafal) adalah puasa yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Adapun puasa sunnat itu antara lain : a. Puasa 6 (enam) hari di bulan Syawal

6

Bersumber dari Abu Ayyub Anshari r.a. sesungguhnya Rasulallah saw. bersabda: “ Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian dia menyusulkannya dengan berpuasa enam hari pada bulan syawal , maka seakan – akan dia berpuasa selama setahun” b.Puasa Tengah bulan (13, 14, 15) dari tiap-tiap bulan Qomariyah Pada suatu hari ada seorang Arab dusun datang pada Rasulullah saw. dengan membawa kelinci yang telah dipanggang. Ketika daging kelinci itu dihidangkan pada beliau maka beliau saw. hanya menyuruh orang-orang yang ada di sekitar beliau saw. untuk menyantapnya, sedangkan beliau sendiri tidak ikut makan, demikian pula ketika si arab dusun tidak ikut makan, maka beliau saw. bertanya padanya, mengapa engkau tidak ikut makan? Jawabnya “aku sedang puasa tiga hari setiap bulan, maka sebaiknya lakukanlah puasa di hari-hari putih setiap bulan”. “kalau engkau bisa melakukannya puasa tiga hari setiap bulan maka sebaiknya lakukanlah puasa di hari-hari putih yaitu pada hari ke tiga belas, empat belas dan ke lima belas. c. Puasa hari Senin dan hari Kamis. Dari Aisyah ra. Nabi saw. memilih puasa hari senin dan hari kamis. (H.R. Turmudzi) d. Puasa hari Arafah (Tanggal 9 Dzulhijjah atau Haji) Dari Abu Qatadah, Nabi saw. bersabda: “Puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun, satu tahun yang tekah lalu dan satu tahun yang akan datang” (H. R. Muslim) e. Puasa tanggal 9 dan 10 bulan Muharam. Dari Salim, dari ayahnya berkata: Nabi saw. bersabda: Hari Asyuro (yakni 10 Muharram) itu jika seseorang menghendaki puasa, maka berpuasalah pada hari itu. f. Puasa nabi Daud as. (satu hari bepuasa satu hari berbuka) Bersumber dari Abdullah bin Amar ra. dia berkata : Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya puasa yang paling disukai oleh Allah swt. ialah puasa Nabi Daud as. sembahyang yang paling d sukai oleh Allah ialah sembahyang Nabi Daud as. Dia tidur sampai tengah malam, kemudian melakukan ibadah pada sepertiganya dan sisanya lagi dia gunakan untuk tidur, kembali Nabi Daud berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari.” Mengenai masalah puasa Daud ini, apabila selang hari puasa tersebut masuk pada hari Jum‟at atau dengan kata lain masuk puasa pada hari Jum‟at, hal ini dibolehkan. Karena yang dimakruhkan adalah berpuasa pada satu hari Jum‟at yang telah direncanakan hanya pada hari itu saja. g. Puasa bulan Rajab, Sya‟ban dan pada bulan-bulan suci Dari Aisyah r.a berkata: Rasulullah saw. berpuasa sehingga kami mengatakan: beliau tidak berbuka. Dan beliau berbuka sehingga kami mengatakan: beliau tidak berpuasa. Saya tidaklah melihat Rasulullah saw. menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadhan. Dan saya tidak melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada puasa di bulan Sya‟ban.

7

C. PUASA MAKRUH Menurut fiqih 4 (empat) mazhab, puasa makruh itu antara lain : a. Puasa pada hari Jumat secara tersendiri Berpuasa pada hari Jumat hukumnya makruh apabila puasa itu dilakukan secara mandiri. Artinya, hanya mengkhususkan hari Jumat saja untuk berpuasa. Dari Abu Hurairah ra. berkata: “Saya mendengar Nabi saw. bersabda: “Janganlah kamu berpuasa pada hari Jum‟at, melainkan bersama satu hari sebelumnya atau sesudahnya.” b. Puasa sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi saw. beliau bersabda: “Janganlah salah seorang dari kamu mendahului bulan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka berpuasalah hari itu.” c. Puasa pada hari syak (meragukan) Dari Shilah bin Zufar berkata: Kami berada di sisi Amar pada hari yang diragukan Ramadhan-nya, lalu didatangkan seekor kambing, maka sebagian kaum menjauh. Maka „Ammar berkata: Barangsiapa yang berpuasa hari ini maka berarti dia mendurhakai Abal Qasim D. PUASA HARAM Puasa haram adalah puasa yang dilarang dalam agama Islam. Puasa yang diharamkan. Puasa-puasa tersebut antara lain: a. Puasa pada dua hari raya Dari Abu Ubaid hamba ibnu Azhar berkata: Saya menyaksikan hari raya (yakni mengikuti shalat Ied) bersama Umar bin Khattab r.a, lalu beliau berkata:”Ini adalah dua hari yang dilarang oleh Rasulullah saw. Untuk mengerjakan puasa, yaitu hari ini kamu semua berbuka dari puasamu (1 Syawwal) dan hari yang lain yang kamu semua makan pada hari itu, yaitu ibadah hajimu.6(Shahih Bukhari, jilid III, No.1901) b. Puasa seorang wanita dengan tanpa izin suami Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda: “Tidak boleh seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada di rumah, di suatu hari selain bulan Ramadhan, kecuali mendapat izin suaminya.”7

5. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA
Yang membatalkan puasa itu ada dua macam : a. Yang membatalkan dan karenanya wajib qadha b. Yang membatalkan tidak wajib qadha.

6 7

(Shahih Bukhari, jilid III, No.1901) (Sunan Ibnu Majah, jilid II, No.1761).

8

Adapun yang membatalkan puasa dan wajib qadha ialah : 1. Memasukkan sesuatu ke dalam lobang rongga badan dengan sengaja, seperti makan, minum, merokok, memasukkan benda ke dalam telinga atau ke dalam hidung hingga melewati pangkal hidungnya. Tetapi jika karena lupa, tiadalah yang demikian itu membatalkan puasa. Suntik di lengan, di paha, di punggung atau lainnya yang serupa, tidak memba-talkannya, karena di paha atau di punggung bukan berarti melalui lobang rongga badan. 2. Muntah dengan sengaja8; muntah yang tidak dengan sengaja tidak membatalkannya. 3. Haidh dan nifas; wanita yang haidh dan nifas haram mengerjakan puasa, tetapi wajib mengqadha sebanyak hari yang ditinggalkan waktu haidh dan nifas. 4. Jima' pada siang hari atau pada waktu fajar shadiq telah nampak. 5. Gila walaupun sebentar. 6. Mabuk atau pingsan sepanjang hari. 7. Murtad, yakni keluar dari agama Islam. Perlu diterangkan disini tentang sangsi orang yang jima' (bercampur) pada siang hari di bulan Ramadlan; Orang yang berjima' (melakukan hubungan kelamin) pada siang hari bulan Ramadlan, puasanya batal. Selain itu ia wajib membayar denda atau kifarah, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw. :

Artinya : Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya seorang laki-laki pernah bercampur dengan isterinya siang hari pada bulan Ramadlan, lalu ia minta fatwa kepada Rasulul lah saw. tentang itu. Maka jawab Nabi saw. : "Adakah engkau mempunyai budak ?. (dimerdekakan). La menjawab : Tidak. Nabi berkata lagi : "Kuatkah engkau puasa dua bulan berturut-turut ?". la menjawab : Tidak. Sabda Nabi lagi : "Kalau engkau tidak berpuasa, maka berilah makan orang-orang miskin sebanyak enam puluh orang". (H.R. Muslim)

c. HIKMAH PUASA
Puasa merupakan ajaran agama yang mempunyai hikmah sangat banyak. Puasa ialah ibadat badaniyah, dan tindakan serentak yang bertalian antara perasaan jiwa dan perasaan badan dan kerja yang menghubungkan langsung antara bathin dan lahir.

8

menyengaja dan mengeluarkan muntah misalnya dengan mencium bau sesuatu yang merangsang muntah atau memasukkan tangan ke dalam kerongkongan.

9

Dalam berpuasa seseorang dapat mengontrol anggauta badannya hingga gerak gerik jiwa dan bathinnya dan ucapan mulutnya. Kesucian yang ditimbulkan dari akibat puasa adalah kesucian "ma'nawi". Bukan hanya kesucian lahir semata-mata yang mungkin dapat dibersih-kan dengan air, juga kesucian bathin dapat dibersihkan dengan latihan jiwa dan perbuatan kalbu. Hikmah puasa dapat disimpulkan sebagai berikut : a. Mendidik para mu'min supaya berperangai luhur dan agar dapat mengontrol seluruh nafsu dalam keinginan manusia biasa. b. Mendidik jiwa agar biasa dan dapat menguasai diri, sehingga mudah menjalankan semua kebaikan dan meninggalkan segala larangan. c. Membiasakan orang yang berpuasa bersabar dan tahan uji. d. Mendidik jiwa agar dapat memegang amanat sebaik-baiknya, karena orang berpuasa itu sebagai seorang yang mendapat amanat untuk tidak makan dan minum atau halhal yang membatalkannya. Sedang amanat itu harus dapat dipegang teguh, baik di hadapan orang banyak maupun di kala sendirian. e. Untuk mendidik manusia agar jangan mudah lekas dipengaruhi oleh benda sekalipun ia dalam keadaan sengsara/kelaparan dapat mempertahankan pribadinya dan pribadi Islam hingga tidak lekas terjerumus ke jurang ma'shiat dan sebagainya. f. Ditinjau dari segi kesehatan, puasa sangat berguna untuk menjaga dan memperbaiki kesehatan. g. Untuk menyuburkan rasa syukur kepada "Allah" atas karunia yang telah diberikan kepada hamba-Nya. h. Menanamkan "rasa cinta kasih" sesama manusia, terutama terhadap orangorang miskin, orang-orang yang menderita kelaparan dan kesengsaraan. Dengan berlatih lapar dan dahaga setiap hari selama satu bulan, orang yang mampu dapat merasakan nasib fakir dan miskin.

10

C. PENUTUP
1. SIMPULAN DAN SARAN Memang segala sesuatu harus diketahuai ilmunya dan dasar-dasar yang mendasari sesuatu hal, sehingga seseorang akan mau dan mampu mempelajari dan mengamalkan sesutuatu hal lebih banyak dan dengan baik seperti pula puasa, maka seseorang itu akan melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh jikalau tahu manfaatnya dan hukum-hukum yang mendasari sebuah amalan. Kerjakanlah puasa sesuai dengan segala ketentuannya dan pada bulan Ramadhan jadikanlah bulan suci Ramadhan sebagai bulan untuk berprestasi seperti halnya Rasulullah saw. Para sahabat dan orang-orang saleh sebagai bulan untuk berprestasi kepada Allah. Jangan sia-siakan kesempatan terbaik ini karena kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah Swt. Bulan Ramadhan merupakan hadiah besar yang langsung dberikan Allah . Bagi umat islam sebagai sarana penyucian diri, Insya Allah,orang termalangpun bisa sukses apabila melaksanakan puasa dengan baik dan benar. Oleh karena itu segeralah mengejar ilmunya dan amalkan dengan sungguh-sungguh.

11

DAFTAR PUSTAKA
Sabiq. Sayyid. 1993. FIKIH SUNNAH 3. Bandung: Alma‟arif.

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->