P. 1
Contoh Laporan Hidrologi

Contoh Laporan Hidrologi

|Views: 1,666|Likes:
Published by Christina Natalia

More info:

Published by: Christina Natalia on Jul 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2013

pdf

text

original

Pada jaringan irigasi Trase saluran dapat dibagi dua, yaitu trase penyusun
saluran-saluran irigasi pembawa dan trase penyusun pembuangan air.

Trase penyusunan saluran-saluran irigasi pembawa

Dalam penyusunan saluran irigasi seolah-olah kita harus memperhatikan
kehematan pembiayaannya, akan tetapi berhubungan dengan formasi dan letak
geografi tanah, keadaan setempat dan lain-lain hal lagi, seringkali terpaksa kita
menetapkan susunan saluran yang memerlukan biaya tinggi, karena dipandang dari
sudut teknis tidak ada cara pemecahan soal lain yang dapat mencukupi terhadap
syarat-syarat yang diperlukannya.
Jika ada 2 cara pemecahan soal susunan saluran yang kiranya dapat mencukupi
terhadap syarat-syaratnya, maka perihal ini kita harus mempertimbangkan terhadap
soal pembiayaannya, kemungkinan penyelenggaraanya. Kehematan pemeliharaannya
berhubungan dengan panjangnya atau letaknya saluran-saluran dan banyaknya atau
besarnya bangunan-bangunan.

17

Susunan saluran irigasi seharusnya terpisah dari susunan pembangunan air. Pada
keadaan yang memaksa ada kalanya saluran irigasi dialirkan ke saluran pembuangan
dan kemudian dipergunakan, selain untuk membuang air, juga untuk penyaluran air
guna mengairi sawah-sawah di sebelah hilir.
Jaring-jaring saluran itu harus mencukupi terhadap syarat untuk saluran pembawa
dan syarat-syarat untuk saluran pembuangan. Jika salah satu syarat tidak dicukupi
maka beberapa kesulitan tentu akan dialaminya. Karena itu jika keadaan masih
memungkinkan pembiayaannya tidak terlalu tinggi janganlah merencanakan susunan
saluran penyaluran dengan pembuangan.

Trase penyusunan pambuangan air

Daerah irigasi teknis membutuhkan saluran panyaluran air yang baik dan juga
susunan pembuangan air yang baik dan teratur. Pembuangan air yang tidak baik atau
tidak terpelihara akan merugikan sangat terhadap tanaman bahkan seringkali merusak
tanaman. Terutama di tanah datar harus mendapat perhatian benar-benar terhadap
kebaikan dan pemeliharaan pembuangan air itu.
Pembuangan yang sewaktu-waktu dipasang bendung sementara untuk diambil
airnya untuk membantu penyaluran air, atau dipasang sero guna mendapat ikan akan
menimbulkan kerugian besar terhadap tanaman.
Seringkali pada waktu menyusun petak-petak tersier dengan mengambil serokan-
serokan pembuangan air sebagai batas-batasnya maka dengan sendirinya terbentuklah
susunan pembuangan air yang baik. Ukuran saluran pembuangan didasarkan atas
penghiliran air terbesar dari daerah pengalirannya.
Adapun untuk merintis jalannya saluran adalah sebagai berikut :

1)

Setelah dibuatnya petak-petak tersier dan petak-petak sekunder dalam
peta dengan skala tertentu lalu direncanakan jalannya saluran-saluran irigasi
sebagai rintisan sementara. Pada merintis saluran di peta ikhtisar harus diperhatikan
syarat-syarat berikut :
a)

Letak saluran harus cukup tinggi guna mengairi seluruh daerah irigasi
dan airnya dapat mudah dibagi-bagi ke petak-petak tersier dengan perantara
bangunan-bangunan sadap.

18

b)

Harus diusahakan jangan terletak di tanah urugan yang tinggi, juga

jangan ada di tanah galian yang dalam.
c)

Carilah rintisan yang sependek-pendeknya dengan mengingat syarat-
syarat kemungkinan penyelenggaraan dan penghematan pembiayaanya.
d)

Hindarkan sedapat mungkin rintisan pada tanah lunak atau tanah
cadas keras, supaya menghindarkan pengeluaran biaya guna perbaikan tanah.
e)

Sedapat mungkin rintisan saluran pertama dan sekunder ditempatkan
di tepi jalan raya atau direncanakan dengan pembuatan jalan, supaya pengangkutan
bahan-bahan guna pembuatan bangunan-bangunan mudah dilakukan dan juga
memudahkan terhadap pengurusan dan pemeliharaan saluran-saluran dan
bangunan-bangunannya.
f)

Karena luasnya dan susunannya dari petak-petak tersier telah
ditetapkan, maka kita dapat menghitung kekuatan dan ukuran dan saluran-
salurannya dan juga dapat ditetapkan tinggi muka air ditiap-tiap bangunan yang
didasarkan atas tinggi tanah yang akan dialirkannya.

g)

Setelah rintisan sementara ditetapkan lalu dilakukan pengukuran tanah
yang lebih teliti sepanjang rintisan (trace) jalannya dan penampang-penampang
melintang dalam skala 1 : 500, 1 : 200 atau 1 : 100.
h)

Sebaiknya tinggi muka air saluran induk dan sekunder seolah-olah
direncanakan di bawah tanah lapangan misalnya 0,10 sampai 0,25 m. Supaya
airnya tidak mudah hilang karena bocoran atau mudah diambil dengan secara tidak
sah. Hal ini tentunya tidak selalu mungkin.
i)

Seringkali permulaan arah saluran induk mengikuti garis tinggi tanah.
Setelah saluran induk itu sampai di tempat yang tepat, maka ia dibelokan ke
punggung tanah, dan terbagi dalam dua saluran sekunder; yang satu dari padanya
mengikuti garis tinggi sedang yang lain dibelokan ke punggung tanah yang arahnya
hampir siku dengan garis tanah.
Menurut letak saluran dapat dibedakan dalam “saluran di lereng tanah”, terkenal
sebagai saluran trace dengan terjemahan saluran garis tinggi dan “saluran di
punggung tanah”.

19

Kedua saluran termaksud di atas mempunyai sifat berlainan dan tentunya
mempunyai syarat-syarat yang berlainan pula.

j)

Saluran di lereng tanah mengikuti garis tanah yang biasanya tidak
membutuhkan terjunan air, jadi tidak memerlukan pembuatan bangunan penerjun
atas saluran miring dan kecepatan alirannya dapat disesuaikan dengan syarat
formasi tanah setempat sedang tanah galiannya dapat dipergunakan untuk
membuat tanggul di sebelahnya yang tentunnya dapat menghemat pengeluaran
biaya. Di samping keuntungan tersebut di atas terdapat beberapa kesulitan,
misalnya saluran di lereng tanah biasanya bersilangan dengan lembah-lembah
tanah serokan-serokan pembangunan atau sungai yang walaupun biasanya tidak
begitu besar akan tetapi sering sekali curam. Pada persilangan itu dibutuhkan
bangunan, antara lain gorong-gorong, talang atau sipon yang biaya
penyelenggaraannya tidak sedikit. Saluran di lereng tanah biasanya berbelok-belok
dengan sendirinya saluran itu menjadi panjang juga karena harus membuat tanggul
di lereng tanah yang biasanya harus diberi perkuatan atau pertahanan, karena
tanggul mudah longsor.
Saluran di lereng tanah menghalang-halangi air yang mengalir di lereng tanah
misalnya air hujan. Untuk menghindarkan masuknya air hujan kedalam saluran,
maka perlu dibuatnya serokan pembuang di sebelah atasnya saluran yang sejalan
dengan saluran. Air hujan termasuk di atas sering kali tidak dapat seluruhnya
dihindarkan dan terpaksa sebagian dari air hujan itu masuk ke dalam saluran yang
biasanya benda-benda padat, misalnya koral, pasir dan tanah ke dalam saluran
yang mengakibatkan banyak endapan di saluran dan dsasar saluran menjadi
dangkal. Pada waktu hujan di saluran terdapat penambahan banyaknya aliran yang
tidak dibutuhkan guna pengairan dan agar saluran lanjutannya tidak menjadi rusak
karena kebanyakan air maka di tempat di mana air kelebihan itu dapat dibuang,
dibuatnya bangunan guna membuang air yang kelebihan itu. Bangunan mana
disebut bangunan pelimpah atau peluap dengan atau tidak dengan alat penahan
banjir.

k)

Saluran di punggung tanah tidak menemui kesukaran terhadap adanya
persilangan dengan lembah tanah serokan pembangunan atau sungai. Saluran

20

dapat dibuat pendek karena biasanya dapat dibuat lurus. Pembuatan saluran
pembuangan di sebelah atasnya yang sejajar dengan saluran irigasi tidak
diperlukan, jadi juga kemungkinan mendapat tambahan air dan endapan ke dalam
saluran itu tidak akan ada. Saluran di punggung tanah dapat mengairi sawah-sawah
ke kanan dan ke kiri, jadi kesulitan yang dialami dalam pembuatan saluran di lereng
tanah di sini tidak akan dapat. Perhatian yang harus dicurahkan terhadap
pembuatan saluran itu, berhubung dengan formasi tanah, maka untuk menurunkan
muka air diperlukan pembuatan bangunan-bangunan antara lain bendung curahan
atau saluran miring. Bangunan-bangunan itu sering kali membutuhkan biaya yang
besar.

2.

Petak Tersier

Daerah irigasi teknis dibagi-bagi dalam beberapa bidang tanah yang disebut
petak-petak penghabisan, petak-petak pengairan atau petak-petak tersier dan
ditetapkan tempat pengambilan air dari saluran irigasi untuk tiap-tiap bidang tanah
(petak tersier) itu.

Bentuk dari suatu petak tersier harus tertentu dan luasnya petak-petak tersier
jangan terlalu banyak perbedaan.
Luas petak tersier dapat diambil :
Di tanah datar

200 – 300 ha

Di tanah agak miring

100 – 200 ha
Di tanah perbukitan (pengunungan)150 – 100 ha
(Perhatikan : Majalah Ing. In NI 1939 No. 1 dan 1941 No. 9 tentang besarnya petak
tersier).
Petak tersier yang besar menyulitkan pengurusan pembagian airnya dalam petak
itu, sedang petak tersier yang kecil membutuhkan banyaknya bangunan-bangunan
penyadap tersier yang menjadikan mahal dalam pembuatannya.
Petak-petak tersier untuk pengairan teknis harus mencukupi terhadap syarat-

syaratnya :
1)

Harus mempunyai bentuk dan luas tertentu.

21

2)

Jika bentuknya atau luasnya dari petak-petak tersier terlalu berbeda, maka
kehilangan airnya, jadi juga kebutuhan airnya dalam petak-petak itu akan berbeda
sekali.
3)

Batas petak tersier harus jelas dan pemberian airnya harus ditetapkan di

satu tempat.
4)

Dari tempat pemberian air seluruh tanah di dalam petak itu harus bisa

mendapat air.
5)

Air yang telah dipergunakan dan air hujan harus dapat dibuang dengan

tidak terganggu.
6)

Petak tersier harus merupakan satu bidang tanah yang tidak terpisah-pisah.

7)

Petak tersier seolah-olah harus terletak dalam satu desa, jika tidak mungkin
baru direncanakan dalam 2 sampai 3 desa.
8)

Bangunan penyadap tersier (pemberian air) harus seolah-olah di
perbatasan petak tersier, jika tidak mungkin supaya letak petak itu tidak jauh dari
bangunan penyadap tersier.

3.

Kapasitas Saluran

Dalam mendimensi saluran irigasi ini terlebih dahulu harus mengetahui berapa
besar debit yang akan dialirkan melewati saluran itu. Seperti telah kita ketahui tanaman
padi memerlukan air lebih banyak dari pada tanaman tebu maupun palawija.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan di daerah irigasi Pemali (yang di jadikan
pedoman sampai saat ini), maka pemakaian air untuk tanaman padi adalah sebagai
berikut :

Untuk padi dalam (rendangan).

Sebanyak 0.3 a l/det/ha guna pengolahan tanah/pembibitan yang
luasnya 1/8 × sampai 1/12 × luas sawah yang akan ditanami selama ½ bulan
pertama. Selama itu hanya tempat-tempat pembibitan yang diberi air.

Sebanyak a l/det/ha guna pengolahan tanah dan menanam selama ½

bulan ke-2, ke-3 dan ke-4.

Sebanyak 0,70 a l/det/ha guna tumbuhnya tanaman selama ½ bulan

ke-5 sampai dengan ke-10.

22

Sesudah itu tanaman tidak memerlukan air hingga saat panen.
Satuan a merupakan kebutuhan air maksimum dalam proses penanaman. Untuk
menentukan besarnya a ini dapat dilihat dalam perhitungan water requirement.
Sebenarnya memakai metode ini untuk menghemat penggalian saluran yang
besar. Seperti yang diketahui dalam suatu daerah irigasi kadang-kadang luasnya
sangat besar, sehingga kita tidak dapat melaksanakan penanaman secara serentak.
Adapun hal-hal yang tidak dapat melaksanakan penanaman serentak itu, ialah
keterbatasan tenaga manusia, hewan penggarap serta mungkin pula kekurangan air
yang tersedia untuk irigasi itu sendiri. Dengan keadaan yang demikian itu, maka
direncanakan penggiliran pemakaian air atau cara rotasi secara alamiah.
Untuk itulah dalam menghitung kapasitas saluran ini kita tidak perlu mengalikan
luas areal dengan a (atau A × a), melainkan kita harus mengalikan lagi dengan suatu
faktor (koefisien) yang menurut ordinat lengkung tegal.
Lengkung kapasitas tegal ini dari 0 ha sampai 140 ha merupakan garis lengkung,
dan dari 140 ha sampai 700 ha merupakan garis miring lurus, sedangkan untuk daerah
yang lebih besar dari 700 ha merupakan garis datar lurus dengan ordinat 0,80.
Pada perhitungan ini digunakan koefisien lengkung tegal. Dengan demikian untuk
menghitung kapasitas saluran dapat dirumuskan sebagai berikut :
Q = a x A

Keterangan :
Q= debit saluran (l/det)
a = kebutuhan air normal dari tumbuhan (l/det/ha)
A= luas daerah yang akan diairi (ha)

4.

Kecepatan Aliran

Kecepatan aliran irigasi ini tergantung pada sistem irigasi yang digunakan,
misalnya kecepatan pada sistem irigasi permukaan akan berbeda dengan kecepatan
sistem irigasi bawah permukaan begitu pula dengan sistem irigasi penyiraman. Hal
tersebut dapat dikarenakan karena beberapa faktor antara lain tekanan yang
ditimbulkan, keadaan tofografi, kapasitas air dan lain sebagainya.
Sehubungan dengan perbedaan tekanan, kecepatan aliran irigasi maka kecepatan
dapat dibagi menjadi dua yaitu kecepatan pada saluran terbuka dan kecepatan pada

23

saluran tertutup. Namun disini kita akan membahas kecepatan yang terjadi pada
saluran terbuka, dimana pada umumnya sistem irigasi di Indonesia menggunakan
saluran terbuka (sistem irigasi permukaan/surface irrigation) dan inipun sesuai dengan
tugas struktur perencanaan irigasi yang diberikan oleh dosen mata kuliah tersebut.
Dalam aliran melalui saluran terbuka, distribusi kecepatan tergantung pada banyak
faktor pula seperti bentuk saluran, kekasaran dinding dan juga debit aliran. Distribusi
kecepatan tidak merata di setiap titik pada tampang lintang.

24

Pada gambar di samping
menunjukan distribusi kecepatan
pada tampang lintang saluran
dengan berbagai bentuk saluran,
yang digambarkan garis kontur
kecepatan. Terlihat bahwa
kecepatan minimum terjadi di dekat
dinding batas (dasar dan tebing) dan
bertambah besar dengan jarak
menuju kepermukaan. Hal ini terjadi
karena adanya gesekan antara zat
cair dan tebing saluran dan juga
karena adanya gesekan dengan
udara pada permukaan. Untuk
saluran yang sangat lebar, distribusi
kecepatan disekitar bagian tengah
lebar saluran adalah sama.

Saluran trapesium

Pipa

Saluran dangkal

Saluran segitiga

Saluran persegi

Hal ini disebabkan karena sisi-sisi saluran tidak berpengaruh pada daerah
tersebut, sehingga saluran di bagian itu dapat dianggap 2 dimensi (vertikal). apabila
lebar saluran lebih besar dari 5–10 kali kedalaman aliran yang tergantung pada
kekasaran dinding. Dalam praktik, saluran dapat dianggap sangat lebar (lebar tak
terhingga) apabila lebar saluran lebih besar dari 10 kali kedalaman.
Distribusi kecepatan pada vertikal dapat ditentukan dengan melakukan
pengukuran pada berbagai kedalaman. Semakin banyak titik pengukuran akan
memberikan hasil semakin baik. Biasanya pengukuran kecepatan dilapangan dilakukan
dengan menggunakan currentmeter. Alat ini berupa baling-baling yang akan berputar
karena adanya aliran, yang kemudian akan memberikan hubungan antara kecepatan
sudut baling-baling dengan kecepatan aliran.
Untuk keperluan praktis dan ekonomis, dimana sering diperlukan kecepatan rerata
pada vertikal, pengukuran kecepatan dilakukan hanya pada satu atau dua titik tertentu.
Kecepatan rerata dapat diuku pada 0,6 kali kedalaman dari permukaan air, atau harga
rerata dari kecepatan pada 0,2 dan 0,8 kali kedalaman. Ketentuan ini hanya
berdasarkan hasil pengamatan dilapangan dan tidak ada penjelasan secara teoritis.
Besar kecepatan rerata ini bervariasi antara 0,8 dan 0,95 kecepatan di permukaan dan
biasanya diambil sekitar 0,85.

5.

Dimensi Saluran

Dalam perencanaan, semua saluran baik saluran induk, sekunder maupun tersier
direncanakan dengan konstruksi tanah atau dengan perkataan lain salurannya adalah
saluran tanah.
a.Bentuk hidraulis dan kriteria
1)Penampang saluran berbentuk trapesium.
2)Kecepatan minimum (V) = 0,25 m/det.
3)Lebar dasar minimum (b) = 0,30 m.
4)Perbandingan antara b; h; v; dan kemiringan talud (m) tergantung dari
debit.
Hal tersebut dapat dilihat hubungannya pada tabel berikut.

25

Q

b/h

Kecepatan
air
V(m/det)

Kemiringan
talud
(m)

0,00 – 0,15

1

0,25 – 0,30

1:1

0,15 – 0,30

1

0,30 – 0,35

1:1

0,30 – 0,40

1,5

0,35 – 0,40

1:1

0,40 – 0,50

1,5

0,40 – 0,45

1:1

0,50 – 0,75

2

0,45 – 0,50

1:1

0,75 – 1,50

2

0,50 – 0,55

1:1

1,50 – 3,00

2,5

0,55 – 0,60

1:1½

3,00 – 4,50

3

0,60 – 0,65

1:1½

4,50 – 6,00

3,5

0,65 – 0,70

1:1½

6,00 – 7,50

4

0,70

1:1½

7,50 – 9,00

4,5

0,70

1:1½

5)

Free board (W), tergantung pada debit.

Q
(m3/det)

F
(m)

0,00 – 0,30

0,30

0,30 – 0,50

0,40

0,50 – 1,50

0,50

1,50 – 15,0

0,60

6)Lebar tanggul (b)

Saluran

W (m)

Induk

2,00

Sekunder

1,50

Tersier

0,50

7)Jari-jari belokan pada as saluran 3-7 kali lebar muka air
8)Kapasitas saluran ditentukan oleh luas areal (A), angka pemberian air dan
koefisien lengkung tegal.

26

b.Rumus saluran terbuka dengan penampang trapesium.

Q= F.V
F = (b + mh)h

O = b + 2h

1

m2

+

R = F/O
Rumus Strickler : V = K.R3/

2

.I1/2

Dimana :

Q = Debit saluran (m3

/det)
F = Luas penampang basah saluran
(m2
)
V = Kecepatan aliran air (m/det)

O= Keliling basah saluran (m)
R = Jari-jari hidraulis (m)
K = Koefisien kekasaran strickler

Untuk nilai debit tertentu nilai K dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Saluran

K

Saluran Induk dan Sekunder Q > 10 m3

/det

50

Saluran Induk dan Sekunder 5 ≤ Q ≤ 10 m3

/det

47,50

Saluran Induk dan Sekunder Q < 5 m3

/det

45

Saluran muka

40,50

Saluran tersier

40

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->