PENDAHULUAN Wilayah pedesaan selalu identik dengan masalah kemiskinan.

Dengan anggapan bahwa pedesaan jarang sekali diperhatikan kesejahteraannya dibanding dengan masyarakat perkotaan. Ini lah yang memicu pedesaan mengalami kemiskinan. Pada hakekatnya masalah kemiskinan tidak terlepas dari masalah yang lebih besar, yaitu masalah ketimpangan antar wilayah dan antar golongan penduduk. Masalah ketimpangan ini sangat rumit dan hanya dapat diatasi secara bertahap berkesinambungan. Ketimpangan sosial, yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat merupakan masalah yang mendesak. Setidaknya 70 persen dari penduduk dunia sangat miskin di pedesaan, dan sebagian besar masyarakat miskin dan lapar adalah anak-anak dan orang muda. Baik dari fakta-fakta kemungkinan perubahan dalam waktu dekat, meskipun urbanisasi luas dan demografis di semua daerah. Asia Selatan, dengan jumlah terbesar penduduk miskin pedesaan, dan subSahara Afrika, dengan kejadian tertinggi kemiskinan di pedesaan, adalah wilayah paling parah terkena dampak kemiskinan dan kelaparan. Tingkat kemiskinan bervariasi Namun, tidak hanya antar daerah dan negara, tetapi juga di dalam negara. Mata pencaharian rumah tangga miskin di pedesaan beragam antar daerah dan negara, dan dalam negara. Mata pencaharian yang bervariasi, dari petani kecil-termasuk produksi peternakan dan perikanan rakyat-upah tenaga kerja pertanian, wirausaha dalam perekonomian non-pertanian pedesaan dan migrasi.

Gambar 1 Diagram Jumlah Penduduk dengan Pendapatan Kurang Dari US $1/hari
Sumber: World Bank,2000

Di Indonesia, hingga saat ini desa tetap menjadi kantong utama kemiskinan. Pada tahun 1998 dari 49,5 juta jiwa penduduk miskin di Indonesia sekitar 60%-nya (29,7 juta jiwa) tinggal di daerah pedesaan. Pada tahun 1999, prosentase angka kemiskinan mengalami penurunan dari 49,5 juta jiwa menjadi 37,5 juta jiwa. Prosentase kemiskinan di daerah perkotaan mengalami penurunan, tetapi prosentase kemiskinan di daerah pedesaan justru mengalami peningkatan dari 60% tahun 1998 menjadi 67% tahun 1999 sebesar 25,1 juta jiwa, sementara di daerah perkotaan hanya mencapai 12,4 juta jiwa (BAPPENAS, 2004). Lebih dari 56,86 persen penduduk di Indonesia bertempat tinggal di pedesaan, dan 14,15 persen dari penduduk tersebut adalah orang miskin (BPS, 2009). Sampai saat ini, kemampuan masyarakat pedesaan sering diperlakukan secara terpisah dari investasi dalam menciptakan peluang untuk pembangunan pedesaan.

jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan. dan lainnya) sumber-sumber keuangan. namun kemiskinan itu sendiri sebenarnya merupakan fenomena yang bersifat kompleks dan multidimensi. shelter and healthcare. kesehatan. water. Kemiskanan seringkali dipahami sebagai fenomena rendahnya kesejahteraan semata. 2010 PEMBAHASAN Definisi Kemiskinan Pengertian dan definisi tentang kemiskinan sangat beragam sesuai evolusi ilmu pengetahuan atau perkembangan ilmu sosial. atau kondisi di mana individu mengalami deprivasi relatif dibandingkan dengan individu yang lainnya dalam masyarakat. pengetahuan. organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama. barangbarang. peralatan. including food.Gambar `2 Jumlah dan Persentase penduduk Miskin Indonesia Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah). Menurut Encyclopedia Of The City 2005 kemiskinan diartikan menjadi dua yaitu (1) Absolut poverty defines minimum requirements needed for physical survival. Kemiskinan didefenisikan sebagai ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial. Basis kekuasaan sosial meliputi (tidak terbatas pada) modal yang produktif atau assets (misalnya tanah. perumahan. keterampilan yang memadai dan informasi yang berguna (Friedmann. 1979: 101). Hall dan Midgley (2004:14). menyatakan kemiskinan dapat didefenisikan sebagai kondisi deprivasi materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup di bawah standar kehidupan yang layak. (2) Relative poverty is defined as what is required to .

menunjukkan bahwa dimensi kemiskinan menyangkut aspek ekonomi. kemiskinan dilihat dari tingkat akses terhadap kekuasaan (power). sosial-budaya dan politik. keadaan kesehatan yang buruk. Faktor-faktor penghambat tersebut secara umum meliputi faktor internal dan eksternal. Kemiskinan secara sosial-psikologis menunjuk pada kekurangan jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan-kesempatan peningkatan produktivitas. Badan Koordinasi Penanggulanan Kemiskinan (BKPK) berkerjasama dengan Lembaga Penelitian SMERU (2001) menjelaskan beberapa definisi kemiskinan : a) Kemiskinan pada umumnya didefinisikan dari segi pendekatan dalam bentuk uang ditambah dengan keuntungan-keuntungan non material yang diterima oleh seseorang. Dimensi Kemiskinan Pengertian kemiskinan memiliki dimensi meliputi ekonomi. c) Kemiskinan non material meliputi berbagai macam kebebasan. Secara politik. Kekuasaan dalam pengertian ini mencakup tatanan sistem politik yang dapat menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan sumberdaya. misalnya. hak atas rumah tangga. Ellis (1984:242-245) dalam E. Poverty exists when such universal needs are not met. melainkan pula semua jenis kekayaan (wealth) yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam arti luas. Sumberdaya dalam konteks ini menyangkut tidak hanya aspek finansial.participate in the „normal‟ life of a particular society. emas. . Suharto. rumah. Secara ekonomi. uang. Dimensi kemiskinan ini juga dapat diartikan sebagai kemiskinan yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor penghambat yang mencegah atau merintangi seseorang dalam memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada di masyarakat. hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak. politik dan sosial-psikologis. kemiskinan dapat didefinisikan sebagai kekurangan sumberdaya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang. dan kehidupan yang layak. Secara luas kemiskinan meliputi kekurangan atau tidak memiliki pendidikan. peralatan. kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. b) Kemiskinan didefinisikan dari segi kurang atau tidak memiliki aset-aset seperti tanah. kredit dan lain-lain.

Indikator Kemiskinan Menurut data BPS. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar /arang /minyak tanah. buruh tani. sedangkan rata-rata anggota rumah tangga miskin di perdesaan adalah 4. Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester. Indikator kemiskinan menurut Badan Pusat Statistik yaitu : 1. Penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.00 seperti sepeda motor (kredit/non kredit). 8.8 orang. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani : dengan luas lahan < 0. poverty is the result of econom economic. 6. emas. rumah tangga miskin mempunyai rata-rata anggota keluarga lebih besar dari pada rumah tangga tidak miskin. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp 500. Hanya membeli satu setel pakaian baru dalam satu tahun. kapal motor. Penyebab Kemiskinan Pedesaan “Causes of poverty are multidimensional.00 perbulan. 2. Luas lantai bangunan tempat tinggal < 8m2 per orang. Kemisikinan yang terjadi di pedesaan disebabkan oleh banyak faktor namun untuk lebih memudahkan di dalam mengerti faktor-faktor tersebut maka penyebab kemiskinan di pedesaan akan dibahas dalam tujuh aspek utama sebagai berikut: . 10. Lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.1 orang. buruh bangunan. atau barang modal lainnya. 9. Tidak mempunyai fasilitas buang air besar 5.5 ha.000. 13. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di Puskesmas /poliklinik. social and economic processes that interact with each other and frequently reinforce each other in ways that exacerbate the state of deprivation in which the poor live” (World Bank. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan 7. Rumahtangga miskin di perkotaan rata rata mempunyai anggota 5. 12. buruh perkebunan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600. Pendidkan tertinggi kepala rumah tangga : tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD 14. ternak. Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam satu minggu. 4. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari 11. 3.000. 2000).

1. hampir 2/3 wanita di negara berkembang bekerja di sektor informal atau sebagai pekerja yang tidak dibayar di rumah. 3. Menurut UNDP dalam Millenium Development Goals (MDGs) sekitar 75% perempuan di dunia tidak bisa mendapatkan pinjaman bank karena mereka memiliki pekerjaan yang tidak dibayar atau tidak aman dan tidak berhak atas kepemilikan properti. 2010). Aspek Pendidikan dan Sumber Daya Manusia  Akses kepada kesempatan kerja dan ekonomi formal terhalang oleh tingkat pendidikan formal hal ini menyebabkan kualitas masyarakat di pedesaan semakin rendah. kredit perbankan untuk pertanian se-Indonesia tumbuh 28% per tahun. Namun porsi nilai kredit pertanian . pilihan yang salah. Aspek Sosial dan Budaya:  Dari segi budaya seperti pada teori kemiskinan budaya (cultural poverty) yang dikemukakan oleh Oscar Lewis menyatakan bahwa kemiskinan dapat muncul sebagai akibat adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang-orang miskin. mayoritas anak perempuan tidak bersekolah.  Bagi nelayan: pemahaman teknik penangkapan dan pemanfaatan hasil tangkapan masih rendah akibat rendahnya kualitas SDM dan rendahnya tingkat pendidikan. sehingga mereka tidak mampu untuk mengembangkan usaha-usaha pertanian yang produktif (diversifikasi produk pertanian) guna mencukupi kebutuhan dasar yang lebih rendah karena lapangan pekerjaan yang tersedia semakin menuntut keahlian dari setiap individu. Nelayan tidak pernah memikirkan dampak di masa yang akan datang bahwa ikan yang di bom atau di potasium secara alamiah akan merusak ekosistem laut yang berakibat pada hilangnya bibit bibit ikan (Budiantoro. seperti malas. mudah menyerah pada nasib. Terutama dirasakan oleh kaum perempuan dan seringkali menjadi kelompok yang terpinggirkan. Oleh sebab itu budaya dari suatu masyarakat atau individu juga memberikan kontribusi bagi kemiskinan di pedesaan. Selain itu juga penduduk miskin di daerah pedesaan di dominasi oleh anak-anak dan orang muda. 2.  Ketidaksetaraan gender menjadi salah satu penyebab kemiskinan di pedesaan. kurang memiliki etos kerja. Aspek Ekonomi  Dalam aspek ekonomi salah satu yang menyumbang penyebab terjadinya kemiskinan ialah perkreditan pertanian di desa: dalam masa 1972-1981. Hal ini menyebabkan masyarakat yang bekerja sebagai petani tidak dapat beralih pada pekerjaan lain.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan seringkali terjadi kesewenang-wenangan dalam menggunakan kekuasaan yang berakibat pada tata kelola pemerintahan yang kurang baik (bad governace) salah satunya tindak korupsi di kalangan pemerintah. sedangkan 19% lainnya dari kredit informal. Sistem perbankan belum sesuai kebutuhan masyarakat desa. Di desa-desa sampel baru 15% rumah tangga yang terlibat dalam kredit formal. .  Persentase pekerja di pedesaan lebih tinggi namun. keterbatasan peluang kerja di luar pertanian sangat tinggi akibat minimnya pendidikan.  Keterbatasan masyarakat pedesaan akan pasar produk serta adanya keterbatasan peluang kerja di sektor non-pertanian. 4.  Adanya sistem pemasaran hasil pertanian yang menguntungkan satu pihak.  Adanya kebijakan pembangunan yang tidak memberdayakan petani khususnya pada subsidi pupuk dan obat yang kurang tepat sasaran. Sistem pemasaran yang dilakukan adalah pemasaran hasil panen melalui pedagang perantara atau tengkulak. dan jasa. Artinya desa dibuat sedemikian rupa menjadi „mahluk‟ yang menghambakan segala kehormatannya kepada „mahluk‟ kota (Studi oleh Indonesia Institute for Public Policy and Development Studies).menurun. ketrampilan dan modal. Kekuasaan dalam pengertian ini mencakup tatanan sistem politik yang dapat menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan sumberdaya. Penerapan kebijakan pembangunan pedesaan yang tidak sesuai dengan kondisi pedesaan yang ada karena tiap pedesaan memiliki tipologinya masing-masing oleh sebab itu berbeda-beda penanganannya. Keterbatasan akses masyarakat miskin pedesaan terhadap modal yang cukup bagi kegiatan ekonomi di pedesaan. Hal ini dikarenakan petani merasa kesulitan dalam mendapatkan pupuk dan obat yang telah disediakan. Aspek kebijakan dan Tata Kelola Pemerintahan  Apabila melihat kemiskinan dari dimensi politik maka kemiskinan dilihat dari tingkat akses terhadap kekuasaan. (Studi Dinamika Pedesaan: Proyek Survey Agro-Ekonomi.  Dalam istilah Gramsci-hegemoni (dominasi satu ras/kota/negara dalam hal pengaruh atau kekuatan). Departemen Pertanian). beralih ke bidang-bidang dagang. industri. jenis pekerjaan di dominasi oleh pekerjaan domestik yang tidak dibayar seperti buruh tani atau wirausaha dengan mengeksploitasi diri sendiri.

tidak adanya deversifikasi usaha penangkapan.  Keterbatasan sumber daya alam yang dipengaruhi oleh kondisi topografi.5. setiap desa. yaitu wilayah bagian timur Pulau Jawa (90%) . 6. Kurangnya infrastruktur dasar di daerah pedesaan seperti jalan Rendahnya kualitas sarana tempat tinggal dan sarana MCK di pedesaan seringkali menyebabkan kondisi kesehatan masyarakat pedesaan mudah terserang penyakit dan cenderung jenis penyakit yang menular yang pada akhirnya mempengaruhi segala kegiatan ekonomi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. ketergantungan terhadap okupasi melaut sedangkan petani kesulitan menemukan pasar akibat terbatasnya informasi pasar permintaan akan bahan pangan. antara lain:     Keterbatasan akses terhadap fasilitas pendidikan. 7. Aspek Teknologi dan Informasi  Keterbatasan modal. perkebunan di tiap desa di berbagai negara berbeda-beda pula tingkat kesuburannya. Perubahan iklim global yang terjadi belakangan ini juga menyebabkan iklim dan cuaca yang terus berubah sehingga mempengaruhi proses kegiatan pertanian. seringkali teknologi yang digunakan juga tidak tepat sasaran. Secara geografis provinsi ini terdiri dari dua bagian. atau bahkan negara memiliki kondisi topografi yang berbeda-beda sehingga menyebabkan lahan pertanian. Akumulasi dari keterbatasan kesempatan kerja dan ekonomi formal menyebabkan keterbatasan pada akses terhadap fasilitas kesehatan. perkebunan maupun peternakan di daerah pedesaan. perikanan. informasi dan teknologi penangkapan. Kondisi kemiskinan pedesaan di Jawa Timur Jawa Timur merupakan sebuah provinsi dengan luas sekitar 47 ribu km2. Aspek Prasarana dan Sarana Keterbatasan masyarakat pedesaan akan fasilitas publik menyebabkan masyarakat di pedesaan terus mengalami kemiskinan. menyebabkan nelayan seringkali menggunakan peralatan tangkap yang tidak ramah lingkungan sehingga terjadi kerusakan ekosistem. kurang adanya hubungan kerja dalam organisasi penangkapan. Aspek Kondisi Fisik Alam (SDA) dan Geografi termasuk perubahan iklim global.   Wabah hama yang merusak produk pertanian dan keterbatasan akses akan obat pembasmi hama.

menunjukkan angka sebesar 8. untuk sebagian mungkin benar. persentase angka kemiskinan tercatat hanya 19.8 juta jiwa. tetapi selama 5 tahun di bawah era kepemimpinan Imam Utomo ternyata angka kemiskinan justru meningkat. kualitas layanan. produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita pada 2000 (dengan memperhitungkan gas dan minyak) sebesar Rp1. baik makanan maupun bukan makanan. tatkala Imam Utomo mulai memimpin Jawa Timur. . dalam arti rendahnya penghasilan atau tidak dimiliki-nya mata-pencaharian yang cukup mapan untuk tempat bergantung hidup. namun lebih dari itu esensi kemiskinan adalah menyangkut kemungkinan atau probabilitas orang atau keluarga miskin itu untuk melangsungkan dan mengembang-kan usaha serta taraf kehidupannya. Sementara tahun 2005 menurut data Analisis Indikator Makro Jawa Timur.34 % (7. kendati penanggulang-an kemiskinan merupakan salah satu program prioritas. Menurut BPS. jumlah penduduk Jawa Timur adalah lebih dari 35 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk pertahunnya 0. Di Jawa Timur. kemiskinan adalah ketidakmampuan untuk memenuhi standar tertentu dari kebutuhan dasar. Ibu kota provinsi ini adalah Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Di Jawa Timur.1 juta jiwa).53 % atau sekitar 6. terungkap bahwa jumlah penduduk miskin di Jawa Timur ternyata justru meningkat menjadi 20. yakni nilai pengeluaran konsumsi kebutuhan dasar makanan setara 2. Kemiskinan sesungguh-nya bukan semata-mata kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok atau standar hidup layak. Pada 2005. Definisi seperti ini.390. tetapi diakui atau tidak kurang mencermin-kan kondisi riil yang sebenarnya dihadapi keluarga miskin.600. Padahal. kesehatan masyarakat. Kendati pembangunan fisik tak kalah dengan perkembangan kota metropolitan di Indonesia bahkan di dunia. Dari hasil pembacaan nota pertanggungjawaban akhir masa jabatan Gubernur di hadapan Rapat Paripurna DPRD Jatim. Standar ini disebut garis kemiskinan. ditambah nilai pengeluaran untuk kebutuhan dasar bukan makanan yang paling pokok. Salah satu problema yang dihadapi Jawa Timur dewasa ini adalah makin meningkatnya tekanan dan kondisi kemiskinan di pedesaan.100 kalori energi per kapita per hari. pendidikan dan kualitas sumber daya manusia masih belum tertangani secara maksimal.dan seluruh Pulau Madura dan Pulau Bawean (10%). Kekeliruan di masa lalu yang acapkali terjadi adalah kemiskinan didefinisikan semata hanya sebagai fenomena ekonomi.45%.996 jiwa. Jawa Timur memiliki 29 kabupaten dan 9 kota. tetapi berbagai masalah lain seperti kemiskinan.000.

(c) keterbatasan penguasaan modal dan teknologi. dan kondisi bentang lahan dengan topografi "berat" mengakibatkan transfer informasi.26oC.2000 mm. semakin rendahnya rata-rata pemilikan lahan pertanian. dan (e) masih rendahnya akses sosial masyarakat terhadap peluang-peluang "bisnis" yang ada  Lokasi Lokasi wilayah miskin seringkali jauh dari pusat-pusat pelayanan "Kota Kecamatan". (b) lokasi yang terisolir dan/atau terbatasnya sarana dan prasarana fisik. Beberapa hal yang diperkirakan menjadi penyebab kemiskinan di wilayah pedesaan Jawa Timur. Gambaran umum neraca lengas lahan dan lamanya musim pertumbuhan selama setahun dicirikan oleh defisit lengas selama 4-5 bulan. Pada umumnya transportasi antar lokasi dalam wilayah miskin masih sangat terbatas. dengan suhu rata-rata berkisar 22oC . dan sisanya merupakan lahan berombak hingga datar.Fenomena kemiskinan yang terjadi di jawa timur ini dibarengi dengan beberapa kenyataan bahwa ketersediaan sumberdaya alam menjadi semakin terbatas.  Keadaan Agroekologi Rataan curah hujan tahunan di wilayah miskin berkisar antara 1500 . Kondisi bentang lahan di wilayah miskin dicirikan oleh bentuk lahan bergelombang dan berbukit (rata-rata 60-80% dari total luas wilayah) . materi dan moneter antara desa dengan pusat pelayanan formal menjadi sangat terbatas. Daerah datar hingga berombak dikelola penduduk sebagai lahan pertanian tanaman pangan (sawah tadah hujan dan tegalan). dan krisis ekonomi yang berkepanjangan. nilai tukar yang semakin rendah antara hasil pertanian dengan hasil-hasil industri. yaitu (a) kapabilitas sumberdaya lahan yang rendah. Sebagai akibat lanjutan dari keadaan ini terjadi proses pemiskinan sumberdaya manusia. Keterbatasan sarana dan prasarana perhubungan. (d) lemahnya kemampuan kelembagaan (formal dan non-formal) penunjang pembangunan di tingkat pedesaan. sedangkan kebun campuran umumnya berlokasi di daerah bergelombang hingga berbukit. jumlah kelompok miskin menjadi semakin banyak dan bahkan cenderung terjadi pada sebagian besar masyarakat di wilayah pedesaan. . Tingkat kesuburan tanahnya beragam dari rendah (Tanah Litosol) hingga relatif tinggi (Tanah Kambisol dan Mediteran). area yang luas.

berupa tegalan dengan tanaman palawija dan kebun campuran dengan aneka tanaman tahunan. sebagian bekerja sebagai buruh bangunan atau bidang jasa lain di luar wilayah kecamatan. dan air bawah tanah (groundwater). sedangkan lainnya dalam sektor-sektor perkebunan. Sebagian besar masyarakat mempunyai mata pencaharian dalam sektor pertanian tanaman pangan (70-80%). . Peranan lembaga non-formal tampaknya cukup besar dan mempunyai peluang untuk dikembangkan lebih jauh untuk dapat menjadi komplemen dan sekaligus mendukung program-program pemberdayaan masyarakat. danau). buruh-buruh. Angkatan kerja (terutama angkatan muda) di sebagian besar wilayah pedesaan tidak semuanya tertampung dalam lapangan kerja di pedesaan. Surplus air hujan ini sebagian besar menjadi run-off karena kapasitas infiltrasi tanah umumnya agak rendah dan kemiringan lahan umumnya lebih dari 30%. dedaunan. Sistem pertanian lahan kering merupakan penggunaan terluas (60-80%) yang dikelola oleh penduduk setempat. dan umbi-umbian. air permukaan (mata air. Tindakan untuk menahan dan menampung surplus air hujan ini di tempat jatuhnya dipandang mempunyai peluang yang cukup baik untuk memperbaiki tata air. Di beberapa lokasi intervensi masyarakat terhadap kawasan hutan telah melampaui batas yang “diperbolehkan”. sungai.  Sumberdaya Hutan dan Air Sumberdaya hutan di sekitar kawasan pemukiman pedesaan memberikan sumbangan yang cukup "berarti" bagi masyarakat di sekitarnya. Surplus air hujan yang terjadi selama 3-4 bulan pada musim penghujan belum dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian. peternakan. sehingga diperlukan strategi khusus untuk mengarahkannya.  Demografi dan Kependudukan Sistem pendidikan masyarakat di wilayah miskin secara fungsional dilayani oleh berbagai kelembagaan pendidikan formal dan nonformal. Hasil hutan yang lazim dimanfaatkan penduduk adalah kayu bakar. Penggunaan Lahan dan Sistem Produksi Pertanian Penggunaan lahan pertanian didominasi oleh lahan kering tadah hujan. perdagangan dan jasa-jasa lainnya seperti jasa angkutan. Air yang dapat dimanfaatkan adalah air hujan. hijauan pakan. industri/pengrajin.

Ini terlihat dari besarnya angka kemiskinan yang ada di pedesaan sampai bulan Maret 2010.com. Dari masalah kemiskinan yang telah dikemukakan diatas. Program-program pelatihan ketrampilan dan kredit formal selama ini masih belum mampu secara efektif menjangkau kelompok masyarakat miskin di pedesaan. Padahal jumlah kemiskinan di pedasaan selama ini lebih besar dari perkotaan. Hal ini tercermin dalam etos kerja masyarakat pedesaan "yang tidak mengenal lelah" dalam mengelola sumberdaya alam yang dikuasai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.  Penguasaan Modal dan Teknologi Umumnya penguasaan masyarakat pedesaan terhadap modal dan teknologi sangat terbatas.12% dari jumlah penduduk miskin di Jatim pada bulan Maret 2010 yang mencapai 5. Peranan kelembagaan non-formal dan tokoh panutan non-formal lebih berperanan dibandingkan dengan kelembagaan formal.88%. akses terhadap fasilitas modal formal sangat terbatas atau bahkan tidak ada.2010). . Sementara kemiskinan di perkotaan pada Maret 2010 hanya menyumbang sebesar 33. Teknologi yang dikuasai berasal dari "warisan orang tua". Hal ini disebabkan karena penurunan jumlah rakyat miskin di perkotaan jauh lebih besar dari penurunannya di pedesaan selama satu tahun ini. pedesaan masih menjadi kantong kemiskinan yang belum bisa diatasi secara maksimal oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim). (Kabarbisnis. Mekanisme akumulasi modal hanya bertumpu kepada hasil produksi pertaniannya yang relatif rendah. sikap. dan motivasi masyarakat pedesaan untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih baik pada umumnya sudah benar. naik sebesar 0. sedangkan kegiatan transfer teknologi melalui agensi-agensi formal masih sangat terbatas. karena penyaluran kredit tersebut harus melibatkan prosedur yang dianggap cukup rumit.Persepsi.85% dari Maret 2009 yang mencapai 65. Kurangnya kegiatan-kegiatan/fasilitas lapangan kerja di luar bidang pertanian primer tampaknya berkaitan erat dengan keterbatasan penguasaan modal dan teknologi oleh penduduk dan kurangnya informasi pasar di luar daerah.529 juta jiwa berada di daerah pedesaan. Program kredit formal yang ada selama ini kurang menarik di kalangan mereka.26%. Tercatat bahwa saat ini. Data Badan Pusat Statistik Jatim menunjukkan bahwa 66.

Orang miskin itu tidak dapat melanjutkan pendidikan anaknya. Orang miskin itu tidak memiliki tempat tinggal dan lahan. Orang miskin itu tidak mempunyai peralatan ke laut.970 jiwa. Realitas persepsi sebagaimana yang di kemukakan masyarakat miskin itu sendiri pada lokasi dan lingkungan sosiogeografi dan sosiodemografi yang berbeda akan berimplikasi pada berbagai upaya penanggulangan kemiskinan. Jawa Timur. Orang miskin itu tidak memiliki kendaraan. 3. karena perspektif pemerintah lebih mendominasi. 4. terutama karena perannya sebagai pembuat kebijakan yang harus dipatuhi. Indikator kemiskinan dalam perspektif masyarakat miskin di daerah pesisir pantai (Desa Dharma Tanjung. Orang miiskin itu tidak memiliki keterampilan dan modal. Akumulasi akibat tersebut adalah tidak tepatnya sasaran kebijakan pengentasan kemiskanan pada masyarakat pedesaan yang ada malah menambah beban baru bagi masyarakat itu sendiri. Jawa Timur): 1.Data BPS menunjukkan. Kabupaten Sampang. penduduk miskin di daerah pedesaan berkurang hanya sekitar 218. 3. . perspektif kemiskinan dari sudut pandang masyarakat miskin itu sendiri seringkali terabaikan. produktivitas. Pemerintah seringkali melihat kemiskinan dari segi infrastruktur. Orang miskin itu tidak berpendidikan tinggi. Orang miskin itu tidak punya tempat berusaha. dan kemiskinan di daerah perkotaan berkurang sebesar 274. Jawa Timur): 1. 4. Indikator kemiskinan dalam perspektif masyarakat miskin di daerah perkotaan (Desa Kamoning. Kabupaten Sampang. Oleh sebab itu. Orang miskin itu tidak bisa merantau. 5. Kemiskinan Pedesaan dari Perspektif Masyarakat Pedesaan di Kabupaten Sampang. 2. selama periode Maret 2009 sampai Maret 2010. Orang miskin itu tidak memiliki modal usaha. dan beberapa indikator pelayanan umum lainnya.320 jiwa. pendapatan. Akibatnya program-program pemerintah dalam mengentaskan kemiskanan yang lebih mendominasi daripada inisiatif program dari masyarakat miskin itu sendiri. 2.

dengan demikian ia tidak menjadikan sebagai prioritas dalam mengalokasikan pengahasilannya untuk kedua kebutuhan tersebut. 6. Orang miskin itu tidak mempunyai anak yang bekerja tetap. Orang miskin itu tidak mempunyai ternak pembajak. Ia mempunyai persepsi tentang kemiskinan secara absolute. Orang miskin itu tidak mempunyai harta pustaka 5. 3. Jawa Timur): 1. Orang miskin itu tidak mempunyai lahan pertanian yang berpengairan teknis. Orang miskin itu tinggal di rumah tidak layak huni. Sedangkan kesehatan dan pendidikan walaupun dirasakan penting tetapi belum dilihat sebagai kebutuhan pokok. Desa Alas Kokon. Madura.Indikator kemiskanan dlam perspektif masyarakat miskin berbasis pertanian (Desa Astapah. karena mereka merasa miskin disebabkan penghasilannya belum mencukupi kebutuhan pokoknya seperti pangan. Pada umumnya masyarakat miskin merasakan bahwa ia adalah miskin. Jawa Timur Tabel 1 Indikator Kesejahteraan menurut Masyarakat Petani Lahan Kering. Studi Kasus Desa Alas Kokon. Kabupaten Sampang. Orang miskin itu tidak makan 3 kali sehari. 4. sandang dan papan. Madura. 2. Jawa Timur .

Alas Kokon memiliki satu sekolah dasar negeri dan satu sekolah dasar swasta. Ada sebuah puskesmas pembantu dan polindes yang berjarak tujuh kilometer. kacang kedelai. Berdasarkan standar lokal. di Pulau Madura. dan tanaman musiman seperti mangga. pisang dan kapuk). Rumah tangga bergantung pada pertanian musiman lahan kering (jagung. Kecamatan Modung. mereka merasa berada pada tingkat kemiskinan 67%. dan 80% menurut kriteria BKKBN. Air bersih yang tersedia di dalam sumur terbatas secara kuantitas dan sanitasi rendah. Desa ini memiliki tingkat kemiskinan 46% menurut peta kemiskinan BPS. 2006 Desa ini terdiri dari 508 rumah tangga di Kabupaten Bangkalan. .Sumber: Indopov (The World Bank). kacang polong. cabai.

Kurangnya sekolah menengah berarti anak-anak perempuan harus menikah. Separuh sekolah tidak memiliki fasilitas sanitasi. Awalnya dia dibantu oleh dukun beranak setempat. para peneliti bertemu dengan Nurhayati yang berusia 14 tahun.Layanan Pendidikan Penduduk Alas Kokon di Madura lebih menyukai Madrasah daripada SD Negeri. Tidak satu sekolahpun memiliki sambungan listrik atau perpustakaan. Tiga sekolah memiliki atap yang rusak. di desa Alas Kokon di Madura. sehingga beberapa kelas harus dikelompokkan bersama. namun ada . namun kemudian bidan di desa harus dipanggil untuk menolong. Sekolah di pedesaan dinilai dalam kondisi buruk. Pada 15 September 2005. menulis dan berhitung. dengan lantai rusak. Alasan orang tua untuk pilihan ini adalah:    Madrasah tidak mengharuskan seragam yang mahal. Karena tidak ada sekolah menengah di desa ini. baik karena jarak yang jauh maupun karena biaya. setelah tiga hari tiga malam mengalami kesulitan persalinan. Guru-guru lebih disiplin dan menetap di Madrasah. Dia baru saja melahirkan anak pertamanya. Bagaimana Nurhayati dan anak-anak perempuan muda lainnya bisa diberdayakan untuk mendapatkan kontrol atas badan dan hidup mereka?. Kehamilan di usia muda tidak dapat dihindari. sehingga mutu layanan secara signifikan lebih rendah daripada sekolah di perkotaan. sekolah di pedesaan hanya memiliki dua atau tiga ruang kelas. Untung kali ini nyawanya tertolong. Kehidupan anak perempuan berubah drastis jika sekolah menengah tidak dapat dijangkau. Guru SDN sering kali absen/tidak disiplin. Hanya sekolah dasar negeri yang diamati. setiap anak perempuan langsung menikah setelah lulus sekolah dasar. Fasilitas sanitasi di sekolah lain tidak dapat digunakan. Walaupun semua sekolah dasar dirancang untuk Kelas 1 sampai dengan 6. Tingkat kehadiran dalam satu hari pengamatan di empat sekolah pedesaan berkisar antara 28 hingga 92 persen. Dalam keadaan demikian. Ruang kelas berdebu dan kotor. SDN hanya mengajarkan anak-anak untuk membaca. anak perempuan akan segera menikah setelah lulus sekolah dasar dan hamil pada saat mereka baru saja memasuki masa puber. Di Madrasah mereka juga belajar agama dan membaca Al Qur‟an. ini berarti kemungkinan angka kematian akan semakin tinggi. Tidak satupun sekolah dasar pedesaan yang memiliki air bersih.

dan menggunakan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah. juga tidak memberikan vitamin tambahan atau imunisasi TT. Berpengalaman. Dukun beranak tahu bagaimana mengubah posisi janin ”jika kepalanya tidak berada di posisi yang benar”. telah banyak membantu persalinan bayi sehat sebelumnya. Layanan Air Bersih dan Sanitasi Rumah-rumah tangga di Alas Kokon menghabiskan 150 hingga 200 jam sebulan mengangkut air untuk mencuci. Meskipun demikian. kadangkadang hanya dibayar dengan beras atau kelapa. Terpercaya dan terkenal. dan ternak. Tidak ada hasil karya murid yang dipajang di dinding. Para guru menunjukkan tidak ada bias jender dalam menghadapi murid-murid. mandi.000 sampai Rp. Tingkat disiplin rendah.1. Guru tidak tinggal di desa melainkan datang dan pergi dari daerah perkotaan. Dukun beranak mengenakan biaya Rp. Layanan Kesehatan Masyarakat miskin yang menggunakan jasa dukun beranak untuk layanan pra-persalinan menyadari bahwa dukun beranak tidak dilengkapi dengan peralatan yang memadai untuk mendeteksi atau menangani kehamilan yang berisiko tinggi. sementara Puskesmas berada jauh dan membutuhkan biaya transportasi.5. Sering kali. Warga perempuan di desa itu mengatakan mereka butuh “dua sampai tiga kali perjalanan ke sungai untuk membawa air dari sungai .000 per kunjungan. dan cahaya matahari. pengajar menunjukkan kemampuan mengajukan pertanyaan yang terbatas dan tidak melakukan interaksi dengan murid-murid. Pada murid di kelas yang diamati hanya kurang dari seperempat yang memiliki buku pelajaran dan alat tulis. selain itu. dan sering terlambat atau tidak hadir. sementara bidan jarang ada di Polindes atau Pustu setempat. ventilasi. Papan tulis merupakan satu-satunya perangkat mengajar di ruang kelas.cukup banyak kursi. murid ditinggalkan sendirian di ruang kelas tanpa guru. Alasan mereka ialah kurangnya air bersih dan layanan sanitasi. biaya bidan tiga sampai lima kalinya. mereka memilih untuk menggunakan jasa dukun beranak dengan alasan berikut:       Dukun beranak selalu ada di tempat. tidak ada murid yang bertanya di kelas manapun. Dukun beranak tinggal dekat dengan rumah mereka.

sehingga memungkinkan penyebaran penyakit.” sambil mengambil air.”     Kuota 20 liter/hari/rumah tangga. Penduduk perempuan (61%) dan laki-laki (74%) mengatakan bahwa mereka buang air besar di alam terbuka. Tidak ada bayaran. Gambar 3 Jamban terbuka di halaman belakang rumah bisa dijangkau oleh hewan peliharaan. Jamban lubang terbuka rumah tangga yang tidak aman digunakan oleh 25 hingga 35% lainnya. disungai. Mengambil air sungai untuk keperluan lain. ketiga kegiatan ini “menghabiskan lebih dari tiga jam sehari. kolam. Sumber: Indopov (The World Bank). menghabiskan 210jam/rumah/bulan Menggunakan lubang jamban sederhana di/dekat rumah.5 kilometer. waktu yang dikeluarkan 8-10 jam/orang/rumah/bulan. sawah dan semak-semak.sejauh 1. mereka juga mencuci dan mandi. Terdapat sekadar galian lubang di halaman. hanya untuk masak dan minum. pantai. 2006 .

multiplycontent. Indopov-The World Bank. Diakses tanggal 28 Maret 2011-04-08 Mukherjee..id/index.multiply. 2011.contentMDK:22565240~pagePK:141137~piPK: 141127~theSitePK:447244. Diakses tanggal 6 April 2011. (URL:http://data. 2011.worldbank..or.Agenda 21 Jawa Timur. (URL: http://www. 2011.2010..images.Nilanjana.2006.org/)..com/. Diakses tanggal 4 April 2011 .00.html> Brighten Institute.com/ nasional/2812958-6612penduduk_miskin Jatim_ada di desa .ruralpovertyportal.php?option=com_content&view=article&id=67:ke miskinan-di-pedesaan-dan-perlunya-pendekatan-yang-tepat&catid=50:sikapkami&Itemid=44).. 2008.12% penduduk miskin Jatim ada di desa.. New Challenges: New Opportunities For Tomorrow‟s Generation. International Fund For Agricultural Development (IFAD).. Diakses tanggal 4 April 2011 World Bank. /Bab3-PENGENTASAN%20MISKIN..html). 66... Permasalahan Sektor Pedesaan dan Pertanian di Indonesia (URL:http://web..> . (URL:http://data.ifad. World Development Report 2000/2001 :Attacking Poverty..worldbank.org) . Diakses tanggal 4 April 2011 World Bank.doc?.worldbank. Kemiskinan di Pedesaan dan Perlunya Pendekatan yang Tepat (URL:http://www.soemarno .. <http://www.. Diakses 15 Mei 2011.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/EASTASIAPACIFI CEXT/INDONESIAINBAHASAEXTN/0. Jakarta.< http:// www.. Rural Poverty Report 2011 New Realities.org/).brighten.. Diakases 13 Mei 2011.Suara Masyarakat Miskin: Mengefektifkan pelayanan bagi Masyarakat Miskin di Indonesia.org/web/guest/country/home/tags/indonesia).Daftar Pustaka ..kabarbisnis. Diakses tanggal 28 Maret 2011 Rural Poverty Portal : Rural Poverty in Indonesia (URL:http://www. World Bank. World Development Report 2008 :Agriculture For Development.

A Mailia Dwi Astuti Astriana M Asbanu Mikaela Tien Muyaan Nova Mandasari Mariana Iftisan Jerry Alfajri Amrifa (24-2008-003) (24-2008-007) (24-2008-008) (24-2008-012) (24-2008-013) (24-2008-018) (24-2008-019) (24-2008-020) (24-2008-021) (24-2008-026) INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN JURUSAN TEKNIK PLANOLOGI BANDUNG 2011 .KTW 328-Analisis Kebijakan Publik Masalah Kemiskinan Pedesaan di Jawa Timur Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kuliah Analisis Kebijakan Publik Oleh : Sekar Pandanwangi Bunga Hanifitriane Sabrina Witanti Nur Utami Annisa Ayu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times