Analisis Psikologis : PENYIMPANGAN SIKAP (PERILAKU) KEAGAMAAN

Oleh H.Munadi Sutera Ali

A. Pendahuluan Sikap keagamaan merupakan perwujudan dari pengalaman dan penghayatan seseorang terhadap agama, dan agama menyangkut persoalan bathin seseorang, karenanya persoalan sikap keagamaan pun tak dapat dipisahkan dari kadar ketaatan seseorang terhadap agamanya.
Sikap keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara unsure kognisi (pengetahuan), afeksi (penghayatan) dan konasi (perilaku) terhadap agama pada diri seseorang, karenanya ia berhubungan erat dengan gejala jiwa pada seseorang. Sikap keagamaan sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan berupa fithrah beragama; dimana manusia punya naluri untuk hidup beragama, dan faktor luar diri individu, berupa bimbingan dan pengembangan hidup beragama dari lingkungannya. Kedua factor tersebut berefek pada lahirnya pengaruh psikologis pada manusia berupa rasa takut, rasa ketergantungan, rasa bersalah, dan sebagainya yang menyebabkan lahirnya keyakinan pada manusia. Selanjutnya dari keyakinan tersebut, lahirlah pola tingkah laku untuk taat pada norma dan pranata keagamaan dan bahkan menciptakan norma dan pranata keagamaan tertentu. Dalam kehidupan di masyarakat, sering ditemui perilaku/ sikap keagamaan yang menyimpang, maka dalam makalah ini dengan kajian psikologis, akan dibahas tentang hal tersebut, berikut dengan penyebabnya, yang diharapkan dari sini dapat digali berbagai alternatif yang dimungkinkan untuk menghindari penyimpangan tingkah laku keagamaan tersebut. B. Pembentukan dan Penyimpangan Sikap Keagamaan Dr. Mar’at mengemukakan ada 13 pengertian sikap, yang dirangkum menjadi 4 rumusan berikut : Pertama sikap merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus menerus dengan lingkungan (di rumah, sekolah, dll) dan senantiasa berhubungan dengan obyek seperti manusia, wawasan, peristiwa atau pun ide, sebagai wujud dari kesiapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap obyek. Kedua, Bagian yang dominan dari sikap adalah perasaan dan afektif seperti yang tampak dalam menentukan pilihan apakah positif, negatif atau ragu, dengan memiliki kadar intensitas yang tidak tentu sama terhadap obyek tertentu, tergantung pada situasi dan waktu, sehingga dalam situasi dan saat tertentu mungkin sesuai sedangkan di saat dan situasi berbeda belum tentu cocok. Ketiga, sikap dapat bersifat relatif consistent dalam sejarah hidup individu, karena ia merupakan bagian dari konteks persepsi atau pun kognisi individu. Keempat sikap merupakan penilaian terhadap sesuatu yang mungkin mempunyai konsekuensi tertentu bagi seseorang atau yang bersangkutan, karenanya sikap merupakan penafsiran dan tingkah laku yang mungkin menjadi indikator yang sempurna, atau bahkan tidak memadai. [1] Dari rumusan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap merupakan predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap obyek tertentu yang mencakup komponen kognisi, afeksi dan konasi. Dengan demikian sikap merupakan interaksi dari komponen-komponen tersebut secara komplek. [2] Komponen kognisi akan menjawab apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang obyek. Komponen afeksi dikaitkan dengan apa yang dirasakan terhadap obyek. Komponen konasi berhubungan dengan kesediaan atau kesiapan untuk bertindak terhadap obyek. [3] Faktor penentu sikap, baik sikap positif atau pun sikap negatif, adalah motif, yang berdasarkan kajian psikologis dihasilkan oleh penilaian dan reaksi afektif yang terkandung dari sebuah sikap. Motif menentukan tingkah laku nyata (overt behavior) sedangkan reaksi afektif bersifat tertutup (covert behavior).[4] Dengan demikian, sikap yang ditampilkan seseorang merupakan hasil dari proses berfikir, merasa dan pemilihan motif-motif tertentu sebagai reaksi terhadap sesuatu obyek. Dengan demikian sikap terbentuk dari hasil belajar dan pengalaman seseorang dan bukan pengaruh bawaan (factor intern) seseorang, serta tergantung kepada obyek tertentu. [5] Karena Sikap dipandang sebagai perangkat reaksi-reaksi afektif terhadap obyek tertentu berdasarkan hasil penalaran, pemahaman dan penghayatan individu [6]

maka akan terjadi sikap keagamaan yang menyimpang. apalagi penyimpangan itu dalam bentuk kelompok. karenanya pengaruh yang ditimbulkannya pun lebih bersifat pengaruh psikologis.[12]Karenanya perubahan sikap.[7] Dimana fithrah yang dapat diartikan sebagai potensi untuk bertauhid (dapat disebut sebagai jiwa keagamaan). sering diawali oleh penyimpangan individual. Dan keyakinan merupakan hal yang abstrak dan susah dibuktikan secara empirik. dan tanggung jawab kedua orang tuannyalah untuk menjadikan anak itu nashrani. rohaniawan. yakni apabila seseorang menyadari apa yang dilakukannya sebelumnya adalah keliru. dapat dibentuk dengan mengkondisikan lingkungan sesuai dengan ketentuan norma-norma agama. keluarga sebagai lingkungan yang pertama ditemui anak. antara lain : 1. Sikap keagamaan sangat erat hubungannya dengan keyakinan/ kepercayaan. dimana mereka yang merubah sikap keagamaan ke arah penyimpangan dari nilai dan norma sebelumnya.[11] Karenanya penyimpangan sikap keagamaan cenderung di dasarkan pada motif yang bersifat emosional yang lebih kuat dan menonjol ketimbang aspek rasional. disamping menimbulkan masalah pada agama tersebut. penyimpangan sikap keagamaan dari sebelumnya. ternyata dirasakan punya pengaruh sangat positif bagi kemaslahatan . sehingga akan mendatangkan kepercayaan/ keyakinan baru kepada yang bersangkutan (baik indivual maupun kelompok). Penyebab Terjadinya Penyimpangan sikap Keagamaan Perubahan sikap keagamaan adalah awal proses terjadinya penyimpangan sikap keagamaan pada seseorang. Aliran psikologi ini juga mencoba melakukan kajian ilmiah terhadap demensi yang selama ini merupakan kajian dari kaum kebathinan. Pengenalan agama sejak usia dini. maka ia tentu akan mempertimbangkan untuk tetap konsisten dengan sikapnya yang ia sadari keliru. kelompok atau masyarakat. Jika keyakinan itu bertentangan atau tidak sejalan dengan keyakinan ajaran agama tertentu. sebagai bagian dari tingkat pikir transenden. penyimpangan sikap keagamaan dapat juga disebabkan karena pengaruh status sosial. Penyimpangan sikap keagamaan dapat menimbulkan tindakan yang negatif. untuk melahirkan sikap dan pola tingkah laku keagamaan. tidaklah dapat dilepaskan dari peran orang tua sebagai pendidik di lingkungan rumah tangga. juga sering mendatangkan gejolak dalam berbagai aspek kehidupan di masyarakat. karena melihat kemungkinan perbaikan pada status sosialnya. terjadinya konversi agama. ditentukan oleh terjadinya penyimpangan pada tingkat fikir seseorang ( tingkat fikir materialistik dan tingkat fikir transendental relegius ). sebagaimana sabdanya : “setiap anak dilahirkan atas fithrah. Penyimpangan sikap keagamaan ini. memberi pengertian dan akhirnya dapat diterima dan dijadikan sebagai sebuah sikap baru. pada dasarnya disebabkan oleh perbedaan situasi lingkungan yang dihadapi oleh masingmasing. penyimpangan dalam bentuk kelompok ini. merupakan potensi physikis pada manusia. yaitu jika terlihat sikap yang menyimpang dilakukan seseorang (utamanya mereka yang punya pengaruh besar). Penyimpangan sikap keagamaan. akan sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan kesadaran dan pengalaman beragama pada anak tersebut. C. Yahudi atau Majusi. Memang. Karenanya adalah sangat tepat. Seseorang yang mempunyai pengaruh terhadap kepercayaan dan keyakinan orang lain. agamawan dan mistikus. yang disebabkan oleh sikap yang bersangkutan (baik perseorangan atau kelompok) terhadap keyakinan agamanya mengalami perubahan. sehingga menarik perhatian.[9] Karena itu. Adanya perbedaan individu. adanya kemampuan lingkungan merekayasa obyek.[8] Jadi. Dan norma-norma tersebut akhirnya terintegrasi dalam kepribadian individu yang bersangkutan. pada kenyataannya sering ditemukan adanya penyimpangan-penyimpangan. Keyakinan itu sendiri merupakan suatu tingkat fikir yang dalam proses berfikir manusia telah menggunakan kepercayaan dan keyakinan ajaran agama sebagai penyempurna proses dan pencapaian kebenaran dan kenyataan yang terdapat di luar jangkauan fikir manusia. Rasul SAW menempatkan orang tua sebagai penentu bagi pembentukan sikap dan pola tingkah laku keagamaan seorang anak. maka sikap dapat diubah walaupun sulit. dapat disebabkan oleh beberapa hal.Pemberian dasar jiwa keagamaan pada anak. 2. [10] Akan sangat berpengaruh terhadap penyimpangan kelompok. Perubahan sikap diperoleh dari hasil belajar atau pengaruh lingkungan. pembinaan dan pengembangan fithrah sebagai potensi psikis manusia. Walau norma-norma agama telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang. 4. yang diakui adanya oleh para ahli psikologi transpersonal. sangat berperan dalam pembentukan pola perilaku/ sikap anak. Dan ini memungkinkan seseorang untuk bersikap yang menyimpang dari sikap keagamaan sebelumnya yang ia yakini sebagai suatu kekeliruan tadi. 3. tapi individual tersebut mempunyai pengaruh besar.

maka akan dimungkinkan terjadinya integritas sosial untuk menampilkan sikap yang sama. bahwa ‘kefakiran dekat dengan kekufuran’ (al Hadits). karena melihat kemungkinan perbaikan pada status sosialnya. Diantara penyebab terjadinya penyimpangan sikap keagamaan. sehingga akan mendatangkan kepercayaan/ keyakinan baru kepada yang bersangkutan (baik indivual maupun kelompok). dapat menampilkan daya tarik lebih besar dari apa yang ditampilkan oleh lingkungan. jika tidak diinginkan adanya mereka yang merubah sikap keagamaan ke arah penyimpangan dari nilai dan norma sebelumnya. ditentukan oleh terjadinya penyimpangan pada tingkat fikir seseorang . antara lain : a. Suatu sikap akan tidak bergeser. manakala norma/nilai yang melandasi keyakinan yang melahirkan sikap itu mampu menjawab berbagai hal yang menyebabkan terjadinya perubahan/ pergeseran sikap tadi. Karenanyanya. Untuk menghindari terjadinya penyimpangan sikap keagamaan. Jogjakarta. Mengupayakan pengangkatan status social pengikut suatu agama. 2. D.. kalau norma/ nilai yang mendasari keyakinan untuk lahirnya sebuah sikap keagamaan. adalah hal yang mutlak dilakukan. karena pengaruh status social d. Menampilkan nilai/ norma agama dengan mengedepankan apa yang dinilai sangat positif bagi kemaslahatan kehidupan masyarakat DAFTAR PUSTAKA Hanna Djumhana Bastaman. juga kehidupan keagamaan juga harus mengedepankan kemaslahatan kehidupan masyarakat. dengan dapatnya teruji pada kehidupan. Hal-hal yang dinilai sangat positif bagi kemaslahatan kehidupan masyarakat 3. d. dapatlah disimpulkan. untuk menarik perhatian.kehidupan masyarakat. Penutup Dari uraian di atas. Pustaka Pelajar. Menyajikan agama dengan performa yang senantiasa menarik b. Menyajikan agama dalam bentuk sesuatu kebenaran yang tidak pernah bergeser dan senantiasa teruji dan dapat diuji. Dan kekufuran berarti penyimpangan dari sikap sebelumnya. E. terjadinya konversi agama c. ada beberapa solusi alternatif. Hal ini juga telah disampaikan Rasul SAW. akan menghindarkan terjadinya proses konversi agama pada seseorang. walau adanya lingkungan merekayasa obyek. bahwa : 1. Penyimpangan sikap keagamaan. Kemampuan penyampai informasi dan komunikator nilai/ norma agama untuk meyakinkan kebenaran agama. Beberapa Solusi Alternatif Sikap keagamaan akan tidak mengalami distorsi. 1995 . Pentingnya memperhatikan masalah status social dalam kehidupan beragama . Integrasi Psikologi dengan Islam : Menuju Psikologi Islami. antara lain : a. adanya kemampuan lingkungan menarik perhatian b. walau pun disadari itu merupakan sikap yang menyimpang dari sikap sebelumnya. c.

emosionalitas. Kondisi seperti ini menurut temuan psikologi agama mempengaruhi sikap keagamaan . kemampuan mental dan bakat khusus (intelegensi tinggi. Selain itu ada factor lain yang juga mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang yaitu kebudayaan tempat dimana seseorang itu dibesarkan. Semua factor intern ini ikut mempengaruhi terlambat tidaknya perkembangan kepribadian seseorang. Kebudayaan turut mempengaruhi pembentukan pola tingkah laku serta berperan dalam pembentukan kepribadian. bakat khusus). kerja sama bagaimanapun akan memberi pengaruh dalam pembentukan pola dan sikap yang merupakan unsur dalam kepribadian seseorang. Adapun factor intern anak itu yang dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian adalah: konstitusi tubuh. Sikap Manusia : Perubahan serta pengukurannya. Erlangga. yaitu: factor yang terdapat pada diri anak dan factor yang berasal dari lingkungan. Bulan Bintang. Essentials of Psychology and life. Foresman & Company. Pengantar Ilmu Jiwa Sosial.Dr. sekolah (Singgih D. 1982 Philip G. Dr.Singgih D. Mar’at. Gunarsa dapat dibagi menjadi dua kelompok. Jakarta Prof.Jakarta. 1979 Keterlambatan pencapaian kematangan rohani ini menurut ahli psikokogi pendidikan sebagai keterlambatan dalam perkembangan kepribadian. Selanjutnya yang termasuk pengaruh factor lingkungan adalah: keluargaa. Factor-faktor ini menurut Dr. struktur dan keadaan fisik. Kebudayaan yang menekankan pada norma yang didasarkan kepada nilai-nilai luhur seperti kejujuran. Jakarta. Balai Aksara-Yudhistira dan Sa’adiyah.Zimbardo. Demikian pula halnya dengan kematangan beragama.Muhammad al Toumy al Syaibani.Gunarta: 88-96). koordinasi motorik. London Prof. 1979.Kasmiran Wuryo. Dalam kehidupan tak jarang dijumpai mereka yang taat beragama itu dilatar belakangi oleh berbagai pengalaman agama serta type kepribadian masing-masing. Filsafat Pendidikan Islam (terjemah : Hasan Langgulung). loyalitas. hambatan mental.

yaitu: type orang yang sakit jiwa. Latar belakan itulah yang kemudian menjadi penyebab perubahan sikap yang mendadak terhadap keyakinan agama. Ciri-ciri Dan Sikap Keberagamaan. William James menggunakanistilah “The Suffering”. sedangkan yang kedua adalah karena factor ekstern (penderitaan). . type orang yang sehat jiwa. Dengan demikian pengaruh tersebut secara umum memberi ciri-ciri tersendiri dalam sikap keberagamaan masing-masing. Kedua type ini menunjukkan perilaku dan sikap keagamaan berbeda: 1.seseorang. Dalam bukunya “The Varieties Of Religious Experience” William James menilai secara garis besarnya sikap dan perilaku keagamaan itu dapat dikelompokkan menjadi dua type. seperti yang dikemukakan oleh William James berpendapat bahwa penderitaan yang dialami disebabkan oleh dua factor utama yaitu: factor intern dan factor ekstern. Type orang yang sakit jiwa (The Sick Soul). Menurut Wiliiam James sikap keberagamaan orang yang sakit jiwa ini ditemui pada mereka yang pernah mengalami latar belakang kehidupan keagamaan yang terganggu. Mereka beragama akibat dari suatu penderitaan yang mereka alami sebelumnya. Alasan ini pula tampaknya yang menyebabkan dalam psikologi agama dikenal dua sebutan yaitu The Sick Soul dan The Suffering. a. William Starbuck. type yang pertama dilatar belakangi oleh factor intern (dalam diri). Temperamen merupakan salah satu unsur dalam membentuk kepribadian manusia sehingga dapat tercermin dari kehidupan jiwa orang-orang yang melancholis akan berbeda dengan orang yang berkepribadian displastis dalam sikap dan pandangannya terhadap ajaran agama. Faktor intern yang diperkirakan menjadi penyebab dari timbulnya sikap keberagamaan yang tidak lazim ini adalah: Temperamen. C.

Bagi mereka yang semasa sehatnya kurang memiliki pengalaman dan kesadaran agama yang cukup umumnya menafsirkan musibah sebagai peringatan Tuhan bagi dirinya. b. hal ini menyebabkan terjadi semacam perubahan sikap pada dirinya. Konflik dan Keraguan Konflik kejiwaan yang terjadi pada diri seseorang mengenai keagamaan mempengaruhi sikap keagamaannya. Akibat musibah seperti itu tak jarang pula menimbulkan perasaan menyesal yang mendalam dan mendorong mereka untuk mematuhi ajaran agama secara sungguh-sungguh. Jauh dari Tuhan Orang yang dalam kehidupannya jauh dari ajaran agama. Konflik dan keraguan ini dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap agama seperti taat. lazimnya akan merasa dirinya lemah dan kehilangan pegangan saat menghadapi cobaan. Tindak tanduk keagamaan dan pengalaman keagamaan yang ditampilkannya tergantung dari gangguan jiwa yang mereka idap. fanatic atau agnostic hingga keateis. Kejahatan . adalah: Musibah Terkadang musibah yang serius dapat mengguncangkan kejiwaan seseorang. mengalami proses keagamaan secara nograduasi.Gangguan Jiwa. Orang yang mengidap gangguan jiwa menunjukkan kelainan dalam sikap dan tingkah lakunya. menyayangi paham yang ortodoks. Faktor Ekstern yang diperkirakan turut mempengaruhi sikap keagamaan secara mendadak. keguncangan ini sering pula menimbulkan kesadaran pada diri manusia berbagai macam tafsiran. Adapun ciri-ciri tidak keagamaan mereka yang mengalami kelainan kejiwaan itu umumnya cenderung menampilkan sikap: pesimis. introvert.

Pahala menurut pandangannya adalah hasil jerih payahnya yang diberikan Tuhan.Mereka yang menekuni kehidupan dilingkungan dunia hitam. c. Type Orang Yang Sehat Jiwa (Healty-Minded-Ness) Ciri dan sifat agama pada orang yang sehat jiwa menurut W. dll. Optimis dan Gembira Orang yang sehat jiwa menghayati segala bentuk ajaran agama dengan perasaan optimis. Ekstrovet dan tak Mendalam Sikap optimis dan terbuka yang dimiliki orang yang sehat jiwa ini menyebabkan mereka mudah melupakan kesan-kesan buruk dan luka hati yang tergores sebagai ekses agamis tindakannya. 2.Houston Clark dalam bukunya Religion Psychology adalah: a. b. Dosa mereka anggap sebagai akibat perbuatan mereka yang keliru. D. baik sebagai pelaku maupun sebagai pendukung kejahatan. Menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal Sebagai pengaruh kepribadian yang ekstrovet maka mereka cenderung: Menyenangi Theologi yang luwes dan tidak baku Menunjukkan tingkah laku keagamaan yang lebih bebas Menekankan ajaran cinta kasih daripada kemurkaan dan dosa Bersifat liberal dalam menafsirkan pengertian ajaran islam Selalu berpandangan positif Berkembang secara graduasi.Starbuck yang dikemukakan oleh W. umumnya akan mengalami keguncangan batin dan rasa berdosa. Mistisisme Dan Psikologi Agama .

Selo Sumartjan dalam simpusium mengatakan “sila ketuhanan yang maha esa” tanggal 14 Februari 1966 di Jakarta. Dalam memaparkan sejarah perkembangan ini kami mengetengahkan intisari dari uraian Prof. Mistisisme merupakan gejala umum yang terlihat dalam kehidupan tokoh-tokoh mistik. mistisisme yang dalam islam adalah tasyawuf disebut sufisme. Kesadaran berada dekat Tuhan itu dapat mengambil bentuk ijtihad. 1. Jadi bukan dilihat dari absah tidaknya mistisisme itu berdasarkan pandangan agama masing-masing. tasyawuf atau sufisme mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan. Dalam evolusi system-sistem kepercayaan diuraikan sebagi berikut: . sebutan ini tidak dikenal dalam agamaagama lain. Dengan demikian mistisisme menurut pandangan psikologi agama hanya terbatas pada upaya untuk mempelajari gejala-gejala kejiwaan tertentu yang terdapat pada tokoh-tokoh mistik. melainkan khusus untuk sebutan mistisisme islam (Harun Nasution: 56). Mistisisme dalam kajian psikologi agama dilihat dari hubungan sikap dan perilaku agama dengan gejala kejiwaan yang melatar belakanginya. tanpa harus mempermasalahkan agama yang mereka anut. Ciri khas Mistisisme yang pertama kali menarik para ahli psikologi agama adalah kenyataan bahwa pengalaman-pengalaman mistik atau perubahan-perubahan kesadaran yang mencapai puncaknya dalam kondisi yang digambarkannya sebagai kemanunggalan. bersatu dengan Tuhan. baik yang teistik maupun nonteistik. Kondisi ini digambarkan oleh mereka yang mengalami hal itu dirasakan sebagai pengalaman menyatu dengan Tuhan. Sebagaimana halnya mistisisme. Sejarah perkembangan aliran kepercayaan. Harun Nasution dalam tulisan Orientalis Barat.Menurut Prof. sehingga disadari benar bahwa seseorang berada dihadirat Tuhan. Intisarinya adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi (Harun Nasution: 56).

Berdasarkan kondisi social budaya yang mereka miliki dicarilah usaha untuk menguasai alam dengan kekuatan ghaib sejalan dengan kekuatan alam yang bagi mereka merupakan kekuatan ghaib. Berdasarkan fungsinya kekuatan ghaib itu dapat dibagi menjadi: Kekuatan ghaib hitam (black magic). Lingkungan alam meliputi: benda organis dan anorganis yang hidup disekitar manusia dan lingkungan masyarakat adalah masa manusia yang berada disekitarnya. Perkembangan itu melibatkan masyarakat umum dan individu yang bersifat umum berkembang menjadi kultus dan individualis berkembang menjadi perdukunan.Manusia dan masyarakat hidup dalam dua lingkungan yaitu lingkungan alam dan lingkungan masyarakat. yaitu yang tidak dapat diamati oleh rasio dan pengalaman fisik manusia. b. untuk kebaikan. Ilmu Ghaib Yang dimaksud dengan ilmu ghaib disini adalah cara-cara dan maksud menggunakan kekuatan-kekuatan yang diduga ada dialam ghaib. Didorong oleh keinginan untuk mempertahankan hidupnya. Hal-hal termasuk mistisisme a. untuk melumpuhkan kekuatan atau kemauan orang lain (hypotisme) Kekuatan ghaib kuning (yellow magic). untuk dan mempunyai pengaruh jahat Kekuatan ghaib merah (red magic). Magis . untuk praktek occuitisme Kekuatan ghaib putih (white magic). maka timbul keinginan mereka untuk mencari jalan agar pengaruh alam itu tidak merugikan dan membinasakan mereka. Demikian pula perkembangan kepercayaan dari tahap politeisme menjadi monoteisme. Perkembangan masyarakat pada kenyataan selalu membawa bekas dari unsur generasi terdahulu. 2.

Ilmu kebatinan memberikan ajaran kepada para penganutnya tentang bagaimana mereka masing-masing dapat hidup secara harmonis yang mengandung keterangan dan rasa damai dengan masyarakat serta dengan Tuhannya melalui pengalaman syarat-syarat ilmunya. Magis dan kultus Jika dihubungkan dengan kultus maka magis merupakan perbuatan yang dianggap mempunyai kekuaan memaksa kehendak kepada supernatural (Tuhan). Magic dan tahayul Orang percaya bahwa untuk membunuh seseorang dapat dipergunakan bagian yang berasal dari tubuh orang yang dimaksud. Misalnya tindakan membunuh dan membakar rambut dan kuku agar seseorang mati (magis) dan penggunaan rambut dan kuku sebagai alat pembunuh (Tahayul).Mistis ialah suatu tindakan dengan anggapan bahwa kekuatan ghaib bisa mempengaruhi duniawi secara nonkultus dan nonteknis berdasarkan kenangan dan pengalaman. Para psikologi Menurut ilmu jiwa gejala jiwa manusia itu dapat dibagi atas: . Kultus merupakan perbuatan yang terbatas pada mengharap dan mempengaruhi supernatural (Tuhan). Kebatinan Ilmu kebatinan umumnya bermaksud untuk menemukan jalan yang dapat menempatkan manusia pada tempat yang sewajarnya ditengah-tengah masyarakat didunia dan juga dalam hubungannya dengan Tuhan. c. Untuk menjelaskan hubungan antara unsure-unsur kebatinan ini kita pertentangkan magis ini dengan masalah lain yang erat hubungannya. d. Magis dan Ilmu ghaib Seperti contoh diatas jika meleui suatu proses pengolahan tertentu secara irrasional tergolong ilmu ghaib.

menurut Evely Underhill stadium meditasi itu umumnya adalah: Kebangunan diri pribadi kearah realitas ketuhanan Purgation. yaitu suatu stadium kesediaan dan usaha Illumination. Dalam aliran kebatinan dikenal suatu cara meditasi yang mengarah kekehidupan mistik. yaitu stadium kegembiraan yang sebenarnya menjurus kesatu eksaltasi Purifikasi. misalnya: ingin tahu. yaitu kesempurnaan pribadi Persatuan dan kehidupan absolute .1) Gejala jiwa yang normal (yang terdapat pada orang yang normal) 2) Gejala jiwa yang annormal terdiri dari: Gejala jiwa supranormal: yang terdapat pada tokoh-tokoh pemimpin yang terkenal dan genius Gejala jiwa paranormal: gejala jiwa yang terdapat pada manusia normal dengan beberapa kelebihan yang menyebabkan beberapa kemampuan berupa gejala-gejala yang terjadi tanpa melalui sebab akibat panca indera Gejala jiwa ubnormal: gejala jiwa yang menyimpang dari gejala biasa karena beberapa gangguan (sakit jiwa) Para (disamping) psikologi meneliti ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa yang terjadi tanpa peran panca indera serta perubahan-perubahan yang bersifat fisik yang digerakkan oleh jiwa tanpa menggunakan kekuatan yang terkait dalam tubuh manusia. rasa tidak aman. e. kurang percaya pada diri sendiri ataupun ingin memperdalam ajaran suatu aliran kebatinan. Aliran kebatinan dan schizophrenia Yang menggerakkan seseorang untuk memasuki aliran kebatinan ada berbagai motif kejiwaan.

Penderitaan schizophrenia (schizoprenik) mengalami gejala-gejala: Kekaburan individualitas yang disebabkan oleh proses disintegrasi kepribadian Dengan adanya disintegrasi itu penderita memiliki predisposisi khusus yang cenderung untuk menafsirkan sesuatu yang kadang-kadang irrealistik dan melakukan tindakan yang asosial. William James dalam buku “The Varieties Of Religious Experience” mengemukakan tanda-tanda mistisisme sebagai berikut: Tak dapat diungkapkan (ineffability) Intustif (neutik quality) Sementara dan cepat (tran siency) Cenderung kearah kepasifan (passivity) f. hilang kemampuan penerimaan rangsangan dan keinginan untuk menilai keadaan lingkungan.Jika dianalisis secara psikologis dan urutan stadium meditasi tersebut tampak gejala-gejala kejiwaan sebagai berikut: Respon terhadap dunia luar menyempit (mengasingkan diri dan konsentrasi jiwa) Timbulnya eksaltasi dan kesedihan yang mendalam Terdapat gejala disosiasi. Ditinjau dari gejala penderita schizophrenia. maka tampat ciri-ciri yang hampir sama. Timbulnya halusinasi yang menyebabkan terjadinya Anxienty yang hebat sehingga dapat menimbulkan frustasi dan panicreaction serta perbuatan nekad. Tasyawuf dan Tariqat . halusinasi dan waham Terdapat kebekuan dorongan berbuat.

Sebagai unsure spiritual (Rohaniah). dalam hal ini akan terjawab masalah tersebut dengan terlebih dahulu memahami: pengertian matang beragama. yaitu mengatur nafas pada waktu melakukan zikir tertentu. islam memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan. Menurut Harun Nasution intisari dari mistisisme (termasuk tasyawuf) ialah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. sehingga disadari benar bahwa seseorang berarti dihadirat Tuhan. KESIMPULAN Berasarkan pembahasan pada uraian diatas maka dapat diambil suatu kesimpulan tentang criteria orang yang matang beragama. Tasyawuf atau mistisisme menurut Harun Nasution dijumpai dalam setiap agama. serta menyebut namanya dengan lisan 2.Tasyawuf disebut juga mistisisme. Tarikat itu pada mulanya adalah tasyawuf dan kemudian berkembang dengan berbagai faham dan aliran yang dibawa oleh para syekhnya dan kemudian melembaga menjadi suatu organisasi yang disebut tarikat. yaitu ingatan yang menerus kepada Allah dalam hati. kesucian bersifat rohaniah. 4. Tuhan sebagai dzat yang maha suci hanya mungkin didekati oleh manusia yang suci pula. Rahb. Zikir. . Makanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dilakukan melalui proses pensucian jiwa. Muzik. Pelaksanaan tariqat itu diantaranya: 1. yaitu dengan membaca wirid diiringi wirid-wirid dan bacaan-bacaan supaya lebih khidmat. Untuk berada dekat dengan Tuhan orang harus menempuh jalan yang panjang yang berisi stasiun-stasiun yang disebut muqamat. Bernafas. yaitu menyebut kalimat “Laa Ilaaha Illallah” dengan gaya gerak dan irama tertentu 3. mereka yang bergabung dalam kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara melakukan pensucian jiwa.

tetapi secara rohani ternyata ia belum matang. Jalaludin. Bandung. Dr. 2002. tetapi perimbangan antara kedewasaan jasmani dan kematangan rohani ini ada kalanya tidak berjalan sejajar. Psikologi Agama Edisi Refisi 2002.factor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian manusia. Prof. karena itu ia berusaha menjadi penganut yang baik. mistisisme dan agama. secara fisik (jasmani) seseorang mungkin sudah dewasa. Tafsir Ahmad. Jakarta. Jadi kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami. Kalam Mulia. PT Remaja Rosdakarya. Secara normal memang seorang yang sudah mencapai tingkat kedewasaan akan memiliki pola kematangan rohani seperti kematangan berfikir. menghayati. Keyakinan itu ditampilkan dalam sikap dan tingkah laku keagamaan yang mencerminkan ketaatan terhadap agamanya. Dr. ciri-ciri dan sikap keberagamaan. Filsafat Ilmu. Prof. Jakarta. Ramayulis. Ia menganut suatu agama karena menurut keyakinannya agama tersebutlah yang terbaik. serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari. kematangan kepribadian maupun kematangan emosi. Dr. 2006 . DAFTAR PUSTAKA H. Jakarta. 2002. Bulan Bintang. 1973. Filsafat Mistisisme Dalam Islam. PT Raja Grafindo Persada. H. Prof. Nasution Harun. Pengantar Psikologi Agama.