lighting, busana, properti, tata panggung, aktor, sutradara, busana, tata suara, penonton), casting (penentuan peran), dan

akting (peragaan gerak para pemain).

B. ALIRAN-ALIRAN KARYA SASTRA
B.I Realisme
Realisme adalah aliran dalam kesusastraan yang melukiskan suatu keadaan atau kenyataan secara sesungguhnya. Para tokoh aliran ini berpendapat bahwa tujuan seni adalah untuk menggambarkan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan subjektif. Pengarang realis melukiskan orang-orangnya dengan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya sampai sekecil-kecilnya, dengan tidak memihak memberi simpati atau antipati. Pengarang sendiri berada di luar, ia sebagai penonton yang objektif. Kenyataan-kenyataan itu tidak boleh ditafsirkan secara berlebihan seperti kaum romantik. Itu sebabnya karya-karya realis banyak yang berkisar pada golongan masyarakat bawah seperti kaum tani, buruh, gelandangan, pelacur dan sebagainya.

B.2 Naturalisme
Karya naturalisme sebenarnya merupakan lanjutan dari realisme. Jika realisme menyajikan kejadian yang nyata daam kehidupan sehari-hari, naturalisme cenderung melukiskan kenyataan tampa memilih dan memilahnya. Persamaan dengan realisme adalah sama-sama melukiskan realitas dengan terperinci dan teliti namun perbedaannya pada seleksi materi.

B.3 Impresionisme
Impresionisme adalah pelahiran kembali kesan kesan sang penyair atau pengarang terhadap sesuatu yang dilihatnya. Pengarang takkan melukiskan sampai mendetail, sampai yang sekecil-kecilnya seperti dalam aliran realisme atau naturalisme.

B.4 Ekspresionisme
Aliran kesusasteraan ekspresionisme merupakan gambaran dunia batin, imaji tentang sesuatu yang dipikirkan. Dalam ekspresionisme ini, pengarang menyatakan sikap jiwanya, emosinya, tanggapan subyektifnya tentang masalah manusia, ketuhanan, kemanusiaan. Dalam sajak, misalnya, penyair tidak mengungkapkan kisah, tetapi ia langsung berteriak, menyatakan curahan hatinya.

Genre Sastra
Dengan mengacu pada tiga paradigma peradaban menurut Alvin Toffler (1980), ranah sastra dapat dipilah ke dalam paradigma peradaban agraris, industrial, dan informasi. Sastra dalam peradaban agraris didominasi genre sastra lisan; sastra dalam peradaban industrial didominasi genre sastra tulis; dan sastra dalam peradaban informasi didominasi genre sastra elektronik.

Berdasarkan hal ini objek penelitian sastra dapat diklasifikasikan ke dalam sastra lisan, sastra tulis, dan sastra elektronik.

[sunting] Sastra Lisan
Menurut Wiget (lihat Lauter, 1994), sastra lisan dipertunjukkan di hadapan pendengar yang melakukan evaluasi baik cara maupun isi pertunjukan; evaluasi bukan merupakan kesimpulan dari pertunjukan tersebut, melainkan merupakan sebuah kegiatan yang berlangsung yang tercermin dalam tingkat perhatian dan komentar. Terdapat varitas yang sangat mengejutkan dari sastra lisan yang bertahan hidup di antara orangorang pra-aksara, dan sebagaimana kata-kata tertulis muncul dalam sejarah, menunjukkan bahwa semua genre penting sastra yang muncul pada awal masyarakat beradab adalah: epos heroik, nyanyian pujaan untuk pendeta dan raja, cerita misteri dan supernatural, lirik cinta, nyanyian pribadi hasil meditasi, kisah cinta, kisah petualangan dan heroisme rakyat jelata, yang berbeda dari epos heroik kelas atas, satir, satir pertempuran, balada, dogeng tragedi rakyat dan pembunuhan, cerita rakyat, fabel, teka-teki, pepatah, falsafah hidup, himne, mantra-mantra, nyanyian misteri para pendeta, dan mitologi. Dari berbagai varitas di atas, genre sastra lisan dapat klasifikasikan ke dalam sub-sub genre yang terdiri atas puisi lisan, prosa lisan, dan drama lisan. Edi Sedyawati (lihat Pudentia, 1998) menyusun sebuah gradasi dari sastra lisan yang paling murni sastra hingga ke pertunjukan teater yang paling lengkap media pengungkapannya, yakni: murni pembacaan sastra (mebasan dan macapatan); pembacaan sastra disertai gerak sederhana dan atau iringan musik terbatas (cekepung dan kentrung); penyajian cerita disertai gerak tari (randai); dan penyajian cerita melalui aktualisasi adegan, dialog dan tarian pemeran, dan iringan musik (wayang wong, makyong, wayang gong, dan lain-lain). Menurut Wiget, dalam banyak sastra lisan dunia, puisi lisan adalah nyanyian, seperti halnya mazmur-mazmur Daud, lirik-lirik Orpheus, maupun meditasi-meditasi Tecayahuatzin. Baik puisi lisan maupun prosa lisan Amerika terdapat dalam kesusastraan pribumi seperti puisi Zuni, Aztec, Inuit, Aleut, dan lain-lain; dan cerita-cerita dari suku-suku Indian Hitchiti, Zuni, Navajo, Lakota, Iroquois, dan lain-lain. Perkembangan penelitian terhadap sastra lisan yang merupakan sastra rakyat dilakukan dengan menggunakan metode-metode historik-komparatif, historik-geografik, dan historik-struktural. Menurut A Teeuw (1988), perkembangan dalam studi sastra lisan terutama yang menyangkut puisi rakyat antara lain dilakukan oleh Parry dan Lord. Hipotesis Parry dan Lord ternyata dapat dibuktikan dengan meneliti puluhan contoh epos rakyat seperti yang dinyanyikan oleh tukang cerita. Dengan meneliti teknik penciptaan epos rakyat, cara tradisi tersebut diturunkan dari guru kepada murid, dan bagaimana resepsinya oleh masyarakat, Parry dan Lord berkesimpulan bahwa epos rakyat tidak dihafalkan secara turun-temurun tetapi diciptakan kembali secara spontan, si penyanyi memiliki persediaan formula yang disebut stock-in-trade, terdapat adegan siap pakai yang oleh Lord disebut theme, dan variasi merupakan ciri khas puisi lisan.

prosa tulis. (4) seni komunikasi. dan sastra elektronik. dan (7)komunikasi menembus jarak ruang. Dengan menggunakan metodologi kajian tradisi lisan. Hal ini penting karena teater rakyat tidak hanya merupakan bagian dari sastra lisan tetapi juga bagian dari seni pertunjukan rakyat yang memiliki jaringan dengan berbagai unsur kebudayaan. sastra elektronik dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis: sastra audio. (3) dalam teks-teks tertulis. Termasuk dalam klasifikasi novel adalah novelet. Bahkan teknologi elektronik berperan dalam menciptakan suatu genre baru dalam dunia kesenian yaitu seni elektronik. tulisan dapat dibaca ulang. yakni: (1) dalam bahasa tulis antara penulis dan pembaca kehilangan sarana komunikasi suprasegmental. [sunting] Sastra Elektronik Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kesenian. dan sastra multimedia. Sedangkan sesuai dengan genrenya. disusul oleh cerita pendek dan baru kemudian muncul novel dan novelet. Frank Popper (1993) membahas lima kategori seni elektronik: (1) seni laser dan holografik. demonstrasi dan pertunjukan. (5) bagi pembaca. (2) dalam bahasa tulis tidak ada hubungan fisik antara penulis dan pembaca. Teknologi ini memiliki keterkaitan erat dengan dunia kesenian. (3) seni komputer. sastra audiovisual. Novelet yaitu novel pendek yang lebih panjang dari cerita pendek. dan (5) seni instalasi. Genre-genre seni elektronik terdapat dalam berbagai bidang kesenian seperti seni musik elektronik. cerita pendek. dan novel. Lebih lanjut menurut Teeuw. dan kebudayaan. dan dikemas dengan menggunakan peralatan elektronik dapat dinamakan sastra elektronik. dimodifikasi. Bentuk novel ataupun novelet dan cerita pendek pada akhirnya merajai sastra di Indonesia. penelitian teater rakyat dapat dilakukan secara menyeluruh tidak hanya terbatas pada aspek kesastraannya saja tetapi juga mencakup aspek-aspek kebudayaan yang melingkupinya.Dewasa ini bentuk karya sastra yang paling diminat adalah cerpen dan novel. Hal ini menurut Teeuw sesuai dengan pengertian sastra (literature) dalam bahasa Barat yang umumnya berarti segala sesuatu yang tertulis. waktu. Salah satu bidang teknologi yang mengalami perkembangan pesat adalah teknologi elektronik. [sunting] Sastra Tulis Menurut Wellek dan Warren (1989). seni rupa elektronik. Sesuai dengan media yang dipakai. (2) seni video. (6) teks-teks tertulis dapat diproduksi dalam berbagai bentuk dan jangkauan komunikasi yang lebih luas. Dalam arti luas karya sastra yang diproduksi. dan drama tulis. salah satu batasan sastra adalah segala sesuatu yang tertulis. sastra elektronik dapat dijabarkan ke dalam sub-sub genre seperti di bawah ini. Genre sastra tulis dapat dijabarkan ke dalam sub-sub genre yang terdiri atas puisi tulis. Waluyo (2002:28) membagi karya fiksi menjadi roman. . baik sebagai alat produksi maupun sebagai media komunikasi. penulis tidak hadir dalam situasi komunikasi. Fokus bahasan Popper adalah senirupa elektronik. pemakaian bahasa dalam bentuk tertulis. roman adalah jenis cerita rekaan yang paling dulu muncul. bahasa tulis memiliki tujuh ciri. sinema elektronik.Sedangkan untuk melakukan penelitian terhadap teater rakyat dapat menggunakan metodologi kajian tradisi lisan. (4) teks-teks tertulis dapat lepas dari kerangka referensi aslinya.

The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. dongeng/cerita radio. sandiwara/ drama radio Audio-visual: puisi TV/puisi klip. Pada abad informasi dewasa ini. M. Sandiwara/fragmen/drama TV/film/drama/telenovela Multi-media: puisi internet/puisi digital/E-mail/LD/VCD/CD-Rom. Ada pula campuran antara sastra lisan dan sastra elektronik dalam bentuk sastra lisan yang dielektronikkan dan sastra elektronik yang dilisankan. Altick. Benjamin. layarperak. New York: WW Norton & Company. London: Macmillan Education. Richard D. Ltd. 1976. cerpen internet/ novel grafis/novel blog/novel interaktif/digital novel/LD/VCD/CD-Rom. James. dan sastra elektronik. ed. Walter. The Art of Literary Research. prosa elektronik. Dengan demikian patut disayangkan jika para pegiat sastra hanya berkutat dengan sastra lisan dan sastra tulis belaka. “English Poets: The Decline of Capitalism”. KM Newton. layarkaca sampai layarmaya. Oxford: Oxford University Press. fragmen/drama/ film drama/drama internet/lakonet/drama digital/VCD/LD/CD-Rom Klasifikasi di atas tidak menutup kemungkinan adanya genre campuran antara sastra lisan. (Semarang 8 Nopember 2007. Christopher. Twentieth-Century Literary Theory: A Reader. Sedangkan campuran antara sastra tulis dan sastra elektronik terdapat dalam bentuk sastra tulis yang dielektronikkan dan sastra elektronik yang dituliskan. sastra tulis. 1991. 1988. sastra elekronik mulai menjadi alternatif objek kajian sastra yang didominasi sastra lisan dan tulis. film naratif/film dokumenter/film cerita TV. drama elektronik Audio: puisi radio. Folklor Indonesia.H. Twentieth-Century Literary Theory: A Reader. Jakarta: Grafiti. . 1981. SiswoHarsono) [sunting] Daftar Pustaka Abrams.[sunting] Media Sastra Media: puisi elektronik. KM Newton. Ltd. Danandjaya. Percampuran tersebut menunjukkan adanya hubungan timbal-balik baik antargenre maupun lintasgenre. London: Macmillan Education. [sunting] Media Hibrida Seringkali terdapat hibrida atau campuran antara sastra lisan dan sastra tulis dalam bentuk sastra lisan yang dituliskan dan sastra tulis yang dilisankan. Sedangkan sastra elektronik tak terlirik samasekali. ed. mulai dari layarnyata. “The Author as Producer”. 1988. Caudwell. Terdapat deformasi media sastra.

Popper. Televisi Siaran: Teori & Praktek. Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat. Onong Uchjana. Teori Sastra Abad Keduapuluh. 1993.S. The Heath Anthology of American Literature. New York: Bantam Books. Jakarta: Yayasan Sumber Agung. London: Mac Millan. Jakarta: Gramedia.Effendy. Lexington. ed. 1998 (CD-Rom). D. Yogyakarta: Kanisius. Dongeng Asli Indonesia. Twentieth-Century Literary Theory: A Reader. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. 1. Aart Van. 1993. Bandung: Mandar Maju. 2-nd. 1993. MA: D. Panuti. The Third Wave. Metodologi Penelitian Sastra. Vol.S. Wolf. 1996 (Kaset). 1994.. Pudentia M. ed. 1991. Vol. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Diperoleh dari "http://id. New Jersey: Prentice-Hall.org/w/index. A. 1988. Lauter. E. 1992. Sudjiman. Sudjiman. Jr dan kawan-kawan. Selden. 1993. Toffler. Pasqua. 1993.wikipedia. Jakarta: Pustaka Jaya. Mass Media in the Information Age. Jakarta: Grafiti. Semiotika.P. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Bunga Rampai Stilistika. “Pinokio & Cinderela”. Jakarta: Gramedia. “Jaka Tarub”. New York: Thames and Hudson Ltd. 1993. Harsono. ed. The Social Production of Art. ed.W. Janet. Thomas M. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2000. K M. Ltd. Metode Penelitian Sastra. 1990. 1990. 1982.1988. Frank. 2. Art of the Electronic Age. Paul. Serba-serbi Semiotika. Atar. Bandung: Angkasa.C. 1998. Fokkema. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Sumaryono. Newton. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Siswo. Panuti dan Aart Van Zoest. Raman. Zoest. Alvin. Semarang: Deaparamartha. Seri Dongeng Dunia. Heath and Company. 1998. Teeuw.php?title=Sastra_elektronik&oldid=3974771" . Inc. London: Macmillan Education. Tim Software & Multimedia. dan Elurd Kunne-Ibsch. Semi.

praromantisme. dan eksistensialisme. Secara sederhana aliran besar yang terdapat dalam kesusastraan dunia adalah romantisisme. realisme-sosialis. dan pascamodernisme. Realisme-soialis yang berkembang di Indonesia selama ini terbungkus Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Aliran sastra yang menginduk pada mazhab . Aliran yang dinobatkan berasal dari kawasan Eropa dan Inggris tersebut tentunya mengalami migrasi. pascaromantisisme. realisme. art for art‘s sake. Realisme-sosialis yang berkembang di Indonesia salah satu contohnya. sesuai dengan kondisi negeri di mana aliran tersebut berkembang. ghotik. dadaisme. BAB 1 PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Dalam dunia kesusatraan ada banyak gerakan dan aliran yang berkembang di dalamnya. Mengalir dan berkembang ke penjuru dunia.oleh Dheka Dwi Agusti N. Baik sebagai hasil dari saripati yang diperas dari karakteristik karya yang berkembang maupun sebagai kararkter yang sengaja dimunculkan dalam sebuah karya sastra sebagai pengokoh keberadaan sebuah gerakan atau aliran kesusatraan tertentu. naturalisme. termasuk Indonesia. dan selama ini pula kerap menjadi bahan perbincangan yang tak ada habisnya. dekaden. Pada setiap negeri yang disinggahi oleh perkembangan aliran itu tentunya memiliki dan memunculkan karakteristik yang lebih khas lagi. Setiap gerakan maupun aliran memiliki karakteristik yang khas yang sedikit banyak menampakkan kondisi zaman di mana aliran tersebut berkembang. utilitarian. simbolisme. neoklasisisme. absurdisme. Sementara gerakangerakan yang dianggap sebagai aliran kecil yang memengaruhi aliran besar di atas adalah klasisisme. impresionisme. modernisme.

maka rumusan masalah dalam makalah ini yaitu: Bagaimanakah ciri-ciri aliran realism-sosialis yang terdapat dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer? 3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui dan mendeskripsikan ciriciri aliran realisme-sosialis yang terdapat dalam karya sastra Indonesia bergenre novel yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer. smentara Lekra sendiri adalah organisasi seniman yang berafiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Relisme-sosialis adalah ideologi Lekra. novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer kerap diklasifikasikan sebagai novel sejarah. Novel yang akan dianalisis adalah karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Ciri-ciri atau karakteristik aliran realism-sosialis ini dapat digali dari karya sastra genre apapun. 2 Batasan dan Rumusan Masalah Pembahasan dalam makalah ini dibatasi pada aliran realisme khususnya realisme-sosialis. sebab novel sejarah merupakan bentuk konkret karya sastra beraliran realismsosialis.realism ini pada taraf mula di Indonesia karyanya kerap mendapatkan ejekan. Berdasarkan pembatasan masalah di atas. dan PKI adalah partai politik yang sosoknya selalu diidentikkan jahat yang tak boleh ada di bumi Indonesia. 4 Kerangka Teori . Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa dalam karya-karya Pram sedikit banyak memuat cirri realismsosialis. Di Indonesia. hinaan dan lecehan dari golongan-golongan dan klas borjuis sebagai karya-karya yang tidak memenuhi ketentuan-ketentuan seni dan sastra. realisme-sosialis kerap dianggap sebagai ideologi jahat. tetapi yang paling kentara adalah novel. Jauh lebih menyedihkan lagi. dan dalam media karya sastra bergenre novel.

4. impresionisme. school. 1972:9). ditimbulkan karena menentang pahampaham lama (Hadimadja. Secara sederhana gerakan dan aliran yang terdapat dalam kesusastraan sebagai berikut: Gerakan-gerakan 1 2 3 Klasisisme Neoklasisisme Praromantisisme-ghotik romantisisme 1 dadaisme realisme 1 2 3 4 5 naturalisme Realisme-sosialis. Kata itu bermakna ― keyakinan yang dianut golongan-golongan pengarang yang sepaham. yaitu periods. generation dan movements. Dalam bahasa Inggris. terdapat dua kata yang maknanya sangat berkaitan dengan aliran. 1 Aliran dalam Kesusasteraan Kata ―aliran‖ berasal dari kata stroming (bahasa Belanda) yang mulai muncul di Indonesia pada zaman Pujangga Baru. art for art‘s sake Simbolisme. Lucaks utilitarian Pascaromantisisme. dekaden modernisme 1 2 Eksistensialisme absurdisme Aliran atau mazhab . age.

2) kelas menengah. dan 3) aspirasi atau slogan kebebasan. dan teknologi. Pada abad ke-19 Inggris merajai dunia. Kemajuankemajuan di bidang itu mengokohkan iptek dan kelas menengah. yaitu teori evolusi. Di Amerika Serikat perkembangan realisme di dalam novel didahului oleh Mark Twain. misalnya George Eliot. yang dimaksud adalah seluruh negara bagian karena karya sastra yang ditulis menggunakan bahasa Inggris (meskipun negara-negara bagian itu memiuliki bahasa sendiri. Hal itu disebabkan adanya revolusi industri dan penemuan Charles Darwin dalam khazanah ilmu pengetahuan dan teorinya. Britania memerintah serta menguasai samudera dan dunia. Kesusastraan Inggris sebetulnya hanya England. Perubahan itu mencakup pertumbuhan 1) nasionalisme yang sangat kuat. sosial. Inilah yang kemudian ditolak . Thakeray dan Charles Dickens. dan Henry James. Aliran atau Mazhab Sastra 4.pascamodernisme Bagan 1. dengan demikian seni bagi realisme adalah sarana untuk mengkritik dan menyampaikan pesan moral. 2 Aliran Realisme Pada umumnya realisme dilihat sebagai reaksi terhadap aliran romantik. Pengarang realisme di Inggris. Revolusi industri memacu kemajuan ekonomi. Akan tetapi. Realisme selalu memasukkan moral. Revolusi industri merupakan katalisator bangkitnya kelas menengah. William Dean Howells. kemudian segala sesuatu dimesinkan. Realisme berusaha menggambarkan hidup dengan sejujur-jujurnya tanpa prasangka dan tanpa usaha memperindahnya. Abad ke-19 adalah abad penuh perubahan dalam sejarah peradaban Barat. Aliran ini didorong oleh semangat zaman yang mementingkan kegiatan yang rasional dan kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke19. Trollope.

Oleh sebab itu. Suatu perkembangan lebih lanjut dari realisme adalah aliran naturalisme. Flaubert (Pr. Pada abad ke-19 muncul juga gerakan sosialisme. gerakan ini mengajarkan kolektivisme dan kebersamaan. Karl Marx mengumumkan manifestonya dan dari manifesto ini lahirlah komunisme. Emile Zola. Untuk menggambarkan apa adanya. Kepercayaan terhadap agama juga merosot sebagai akibat perkembangan iptek.oleh gerakan seni untuk seni karena puisi bukan merupakan sarana pesan. maka dicari formulasi baru terhadap kepercayaan agama. Karena agama tidak lagi mndominasi kehidupan manusia. maka naturalisme merpakan ucapan artistik di abad ke-19.). Maupassant. Apabila realisme merupakan ucapan artistik suatu sikap terhadap kenyataan yang biasa pada berbagai individu di zaman apapun. dan berperilaku dalam dunia sekarang ini). Dostoevsky (Rusia).). Hegel (Jerman) adalah orang yang melakukan pekerjaan itu. bertindak. mengatakan bahwa pengarang harus meniru ilmuwan dengan mengamati kenyataan tanpa menyelidki sebab-sebabnya mengapa kenyataan itu demikian. dan de Goncourt. sementara naturalisme menggambarkan kebobrokan . Ibsen (Norwegia. Realisme sering dibingungkan dengan naturalisme. Dengan sendirinya. yang lahir dan berkembang di Perancis. Dickens (Ing. Semua novelis. realisme memakai metode induktif dan bersifat observatif agar realitas yang digambarkan benar-benar objektif. Pengarang naturalisme. Tolstoy (Rusia). Novel-novel sejarah dapat dimasukkan ke dalam realisme Tokoh/sastrawan realisme tulen: Balzac (Pr). Zola. Genre penting dalam realisme adalah novel. kepribadian penulisnya ditekan sedemikian rupa. kecuai ibsen (drama). Realisme menggambarkan kebobrokan kelas menengah. Pengarang naturalisme Perancis yang terkenal adalah Flaubert. realisme membahas kehidupan kontemporer (yang sedang berlangsung) dan tingkah laku manusia temporal (yang berpikir. Realisme menginginkan representasi dari realitas (menggambarkan realitas/kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Alphons Daudet.

Realisme sosial di Rusia merupakan kelanjutan realisme.kelas gembel karena ambisi untuk dapat naik ke kelas yang lebih tinggi dengan mengorbankan apapun demi ambisinya tercapai—naturalisme tidak menghadirkan konflik-konflik yag berkaitan dengan moral. Jadi. . 3 Relisme-Sosial Realisme-sosialis adalah pempraktikan sosialisme di bidang kreasi sastra. Realisme-sosialis itu sendiri bukan hanya penamaan satu metode di bidang sastra. 4. realisme berkaitan dengan sosiologidan naturalisme dengan sosiatri. adanya militansi. tapi lebih tepat dikatakan suatu hubungan filsafat. namun dengan banyak menghadirkan kritik sosial dan poltik. Realisme-sosialis sebagai metode sosialis menempatkan realitas sebagai bahan-bahan global semata untuk menyempurnakan pemikiran dialektika. setiap fakta. adanya kawan-kawan sebarisan dan lawan-lawan di seberang garis. Dalam ilmu ada sosiologi (membahas kelompok-kelompok masyarakat) dan sosiatri (membahas kelompok masyarakat kelas rendah/gembel). adanya perjuangan. Aliran ini. Tokoh utama yang biasa mendapatkan penghargaan sebagai pelopornya adalah pujangga besar Soviet maxim Gorki dengan karya utamanya Ibunda. bukan kebenaran itu sendiri. Istilah ini muncul untuk memenangkan sosialisme di Uni Soviet. Bagi realisme-soaialis setiap realitas. metode penggarapan dengan estetikanya sendiri. hanya sebagian dari kebenaran. hendak mencapai gambaran kenyataan secara objektif. adanya orang-orang yang mencoba menghindar dari front. sesuai dengan realisme. Di Indonesia dikembangkan realisme sosialis oleh Lekra. Selain itu penamaan ini juga terdapar dalam politik estetik di bidang sastra yang sekaligus mencakupkesadaran adanya front. Suatu perkembangan realisme lain adalah Neue Sachlichkeit—dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah The New Objectivity– yang muncul pada awal abad ke-20.

tapi dengan kapitalismenya. Tulisan-tulisan semacam ini dapatditemukan di berbagai lembaran kebudayaan tahun limapuluhan. Peringatan bahwa setiap kapitalisme adalah musuh dan musuh kemanusiaan selalu nampak sebagai watak realisme-sosialis. melenyapkan setiap kemungkinan munculnya minoritas yang mengeksploitasi tenaga mayoritas yang produktif dan kreatif. kontras. ―he must be destroyed. Satu. Kapitalisme itu memang hanya terdiri atas beberapa gelintir orang. dan sebagainya yang sifatnya sama sekali telah akademik. Pada mulanya.Istilah realisme-sosialis mencakup pula persoalan taktik dan strategi. realisme-sosialis hanya merupakan semboyan dengan penulisan-penulisan yang bertaraf semboyan pula. dengan sistem pengaturan . watak-watak kebangunan rakyat di seluruh dunia dengan kebutuhannya akan nilai-nilai moral. hanya ini mungkin mengambil manifestasi dalam pengemukakan plot. metode penyampaian. Sastra sosialis. dunia yang dibangun di atas landasan keadilan yang merata. sastra realisme-sosialis mulai hidup dan subur di Indonesia adalah sebagai matarantari dari watak sosial abad 20. kelas beruntung di seluruh dunia. maka dia terus-menerus melakukan effensi atas musuhmusuhnya dan pembangunan yang cepat di kalangan barisan sendiri. Kemudian yang terpenting adalah menciptkan dunia baru. dengan menudingkan telunjuk pada urgensinya pengusahaan penghapusan pembagian manusia atas kelas-kelas. dan nilai kultural serta politik yang lebih banyak. tak boleh tidak dia punya watak yang jelas. karena segaris dengan perjuangan politik sosialis. perbendaharaan kata. nilai sosial.” Atau yang sebaliknya yakni dalam artikelnya yang lain: ―The poeple must know their history. militansi sebagai ciri tak kenal kompromi dengan lawan.” Dalam dua artikelnya ini Gorki untuk kesekian kalinya membela humanismeproletar. Watak realisme-sastra sejalan dengan keradaannya dalam bidang sastra yang melingkupi adanya front perjuangan. juga di Indonesia. gaya bahasa. pilihan kata. sekalipun di bidang sastra.‖ kata Gorki dalam salah satu artikelnya. dan yang selama ini hanya dikuasai oleh kelas borjuis. Dua. ‗If the enemy does not surrender.

untuk melawan dan menentang penindasan bukan saja berdasarkan emosi atau sentimen tapi juga berdasarkan ilmu dan pengetahuan. dan 14 tahun yang melelahkan di masa Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969). Jejak Langkah. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah. Hamper separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara – sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial. BAB 2 CIRI-CIRI REALISME-SOSIALIS DALAM NOVEL SEKALI PERISTIWA DI BANTEN SELATAN KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER 1 Pramoedya Ananta Toer dan Karyanya Pramoedya Ananta Toer lahir pada tahun 1925 di Blora. Pengungkapan pedagogik dan sugestif. tahanan kota. Indonesia. Magelang pada NovemberDesember 1979 tanpa proses pengadilan. . ajakan dan dorongan untuk lebih tegap dan perwira memenangkan keadilan merata untuk maju. 1 tahun di masa Orde Lama. pulau Nusa-Kambangan pada Juli 1969-16 Agustus 1969.sosialnya. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini. Jawa Tengah. praktis mereka yang memiliki seluruh angkatan perang dan kepolisian. Pada segi lain watak ini nampak pada semangat yang diberikannya kepada rakyat. dan merekalah yang memberikan komando tertinggi. di antaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia. dan Rumah Kaca). terutama memberanikan rakyat untuk melakukan orientasi terhadap sejarahnya sendiri. Anak Semua Bangsa. tahanan Negara. pulai Buru pada Agustus 1969-12 November 1979. sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun.

semoga sumbangsih ini sedikit atau banyak punya arti yang konstruktif. Jepang pada tahun 2000. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang semakin membuat mereka miskin. Sebagaimana pengakuan Pramoedya. Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Bukan saja kaum Kolonial. Ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleg. novel ini merupakan hasil ―reportase‖ singkat hasil kunjungannya beberapa waktu lamanya pada akhir 1957 di wilayah Banten Selatan yang subur tetapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah yang sebur tetapi masyarakatnya miskin. di antaranya: The PEN Freedom-to-write Award pada 1988. pada tahun 2003 mendapatkan penghargaan The Norwegian Authours Union dan tahun 204 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagor Escobar. orang-orang yang mengenal daerah ini. Fukuoka Cultur Grand Price. Ramon Magsasay Award pada 1995. Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan internasional. Pram ingin menyumbangkan pikirannya untuk bangsa: “Dengan tulisan ini aku ingin menyumbangkan sedikit pikiran dengan medium dan caraku sendiri. yang tentu saja dengan harapan besar. dan sedikit banyak pernah . Sampai akhir hidupnya. 2 Novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer Novel ini ditulis Pramoedya Ananta Toer ketika penindasan menggulung orangorang kecil yang tidak berdaya.Penjara tak membuatnya berhenti sejengkalpun untuk menulis.‖ Beberapa orang tokoh dalam cerita ini diambil dari orang-orang yang pernah Pram temui di daerah Banten Selatan. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan.baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. yang ikut dengan sukaduka perkembangan daerahnya. tapi juga kaum pemberontak yang dalam novel ini dimaksudkan kepada Darul Islam (DI). ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam dafrat Kandidat Pemenang Nobel Sastra. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar. Lewat novel ini.

novel ini merupakan hasil ―reportase‖ singkat di wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan‖ (Hal. Pengantar) Demikian paragraf kedua dari pengantar yang ditulis oleh Lentera Dipantara sebagai penerbit novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan menerangkan bahwa karya sastra bergenre novel ini merupakan . 1 Berusaha menggambarkan hidup dengan sejujurnya tanpa prasangka dan tanpa upaya untuk memperindahnya (representasi sebuah realitas) dengan metode induktif dan bersifat observatif sehingga realitas yang digambarkan bersifat objektif. dan petani yang pada waktu itu sedang kerjabakti memperbaiki jalan yang tertimpa tebing longsor. Rasa solider itulah yang diistilahkan sebagai gotongroyong. Pram menitiskan sebintik rasa kuat untuk meneguhkan rasa percaya diri sebuah masyarakat. Sang Lurah. keberanian. Sebuah keteguhan. dan kemalangan hidup dengan rasa solider masyarakat (rakyat). kemiskinan. Penindasan yang dialami oleh semua rakyat bahkan rakyat paling miskin terjadi di daerah Banten Selatan salah satunya dikarenakan oleh adanya pemberontakan yang dilakukan oleh DI. beberapa buruh tambang. Lewat tokoh Ranta. Seorang di antaranya adalah Lurah. 3 Ciri-ciri Aliran Realisme-Sosialis dalam Novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer 3.menceritakan kepadanya tentang hal-hal yang pernah mereka alami den mereka dambakan. “Sebagaimana pengakuan Pramoedya. semua penderitaan tersebut dapat dikalahkan melalui perjuangan bersama yang dilakukan oleh seluruh masyarakat dengan keyakinan dan kebersamaan yang kuat. Gotong royong itulah yang pada akhirnya menghantarkan masyarakat pada kehidupan yang kondusif lagi optimis. dan keyakinan untuk melawan penindasan. seorng lagi bekas mandor yang ikut kerja rodi membuka jalan antara Pelabuhan Ratu dan tambang mas Cikotok. Namun.

banyak memuat kritik sosial dan politik sebab seni bagi realisme adalah sarana untuk menyampaikan kritik dan pesan moral atau seni yang memikul tugas sosial. orang begitu bagus-bagus. di antaranya terdapat dalam kepolosan dialog dua tokoh pembawa singkong yang tengah beristirahat sambil mengingat kolonialisme.sebuah hasil reportase atau dokumentasi dari kunjungan Pram ke tanah Banten Selatan pada tahun 1957.‖ (Hal. 13) Gambaran nyata lainnya adalah mengenai kondisi pasar yang diungkapkan dalam dua kalimat pendek oleh tokoh Ireng. Upaya penggabaran hidup yang jujur tanpa upaya untuk memperindahkannya. ―Pasar kacau. Diobrak-abrik DI. yaitu: . membuat objektivitas tampak begitu nyata. Hal ini Pramoedya ungkapkan secara lugas dalam paragraf pertama pengantar yang ditulisnya untuk novel ini. “Yang Kedua: I-ya-ya. tapi tamaknya…. bukan berdasar pada prasangka dan emosi sebagai pribumi semata.. kulitnya putih. Ngudubilah setan! Yang Pertama: Ngudubilah setan!‖ (Hal. Pak. Novel ini merupakan contoh konkret bagaimana karya sastra sebagai seni dianggap sebagai seni yang memikul tugas atau lebih dikenal dengan istilah applied art. 15) 3. 2 Bertendensi. istri Ranta. hidungnya mancung. Metode induktif tampak dari kalimat terakhir yang menutup pernyataan dari tokoh pemikul singkong serta isi pernyataan yang bersifat observatif terhadap orang-orang Belanda (penjajah) yang secara fisik memiliki ketampanan yang dikagumi tetapi sifatnya rakus dan tamak akan kekuasan terhadap kekayaan nusantara.

. sesudah kita bersatu. yang tentu saja dengan harapan besar. Kita ini manusia. buat seluruh keturunan! Ayo berdiri semua……. dengar! Kita ini bukan binatangbuas. semoga sumbangsih ini sedikit atau banyak punya arti yang konstruktif. Jadi………‖ (Hal. bersatu. Tetapi lebih baik lagikalau kita hidup rukun. yang ditemuinya bakal jadi kurbannya. Mereka cuma hidup dari pembunuhan. ini berarti. yaitu melalui dialog pidato tokoh Ranta sebagai Pak Lurah: ―Sekarang Pak Lurah berdiri. kerjasama. Kalau binatang buas hidup sendiri-sendiri. Kita harus kerja……… Kerja buat anak……… Kerja buat anak……… Buat seluruh keturunan………. Kalau dia menemui sesame mahluk. Karena itu dia terpaksa hidup sendiri-sendiri. gotongroyong.. Tapi kita bukan binatang buas. Semua berdiri sambil berseri-seri Ranta meneruskan dengan mengayun-ayunkan tinjunya: Mari kita teriakkan bersama-sama: Kita harus kerja……. Pada suatu kali pun dia akan dibunuh. 119) Juga dengan sorak-sorai kerumunan masyarakat yang telah berhasil dalam perjuangan melawan pemberontakan: ―Kita harus kerja-kerja buat anak.“Dengan tulisan ini aku ingin menyumbangkan sedikit pikiran dengan medium dan caraku sendiri. karena ganasnya gerombolan. Dulu kita tak berani berkumpul-kumpul semacam ini. bersaudara. Tidak mau bergaul. mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mulai pidato: Saudara-saudara. Buat seluruh keturunan………. banyak sekali bagian novel yang secara implisit menjadi media pengungkapan pesan yang hendak disampaikan oleh penulis yang telah meniatkan diri untuk memberikan sumbangsihnya dalam bentuk dan caranya sendiri ini. gerombolan dapat kita musnahkan. Lihat. Kita tak perlu hidup dari pembunuhan. Pengantar) Selain daripada itu.‖ (Hal.

Ranta. Mereka! Mereka!‖ (Hal. tetapi juga dialog ketika Ranta usai terpaksa mencuri. Mereka. tentu saja tak ada seorang juga mau jadi maling. juga kondisi yang tengah terjadi berikut dengan pola pikir orang ketika itu yang tergambar dalam dialog antara suami-istri. 3 Membahas kehidupan kontemporer dan tingkah laku manusia yang temporal. Ireng. Pak? …. dengan menyuruh orang lain (orang miskin) untuk mencuri. Jangan doakan. dipukuli penjaga onderneming…. Ireng…. Mereka! Yang hidup memisah dari kita. Yaitu: ―Pergi juga. Hal ini digambarkan sangat nyata dalam dialog tokoh Juragan Musa dan Ranta. Ranta dan Ireng.. dalam dialognya Ranta . jangan.. Ireng.Hore……… Hore……… ― (Hal. Reng. 125) 3. Kalau dipukuli orang banyak. 20-21) Bukan hanya dialog di awal kepergian tokoh Ranta yang hendak mencuri. Pak? Nyolong bibit karet? Dengar. Mereka! …… Mereka! Yang datang pada kita hanya untuk menyuruh kita jadi maling. Pak! Pak! Sekarang ini mereka yang tentukan hidup kita. Pak.. seperti binatang buas di rima. Tapi bukan karena kemauanku aku jadi maling. dialah tokoh yang dipaksa oleh Juragan Musa untuk mencuri bibit karet. Kalau ditangkap. Kehidupan yang tertindas lagi miskin yang digambarkan dalam novel ini ditambahi pula oleh ulah dan tingkah laku tokoh Juragan Musa yang tak puas memperkaya diri. yang dalam kepalnya Cuma ada pikiran mau mangsa sesamanya. Memang aku sering nyolong.

25) Hal edan yang terjadi pada saat itu adalah orang miskin dipaksa mencuri untuk Juragan Musa. Membunuh dia tak ada gunanya. Kondisi kehidupan masyarakat yang pada masa itu identik dengan menjadi maling juga Nampak dari ujaran-ujaran tokoh Ranta yang baru saja dipaksa mencuri lagi disiksa oleh Juragan Musa. Ireng. Berapa harganya? Tak cukup buat modal gadang di pasar! Ludas! Tandas! Kuras!‖ (Hal. ‗mana upahku?‘ mereka beri aku upah pukulan rotan. yaitu: ―Biarlah. Pak? Kenapa? Mana pikulan? Mana golok? Hilang! Semua. lalu ketika selesai mencuri dan hasil curianpun sudah berada di tangan Juragan Musa maka dipukuli dan disiksalah pencuri suruhannya tadi dengan alasan ketahuan mencuri bibit karet onderneming. Mereka suruh aku curi bibit karet onderneming. Mereka juga ambil tanah kita. pulang kau1‘ aku Tanya. padahal karena ia terlalu tamak dan tak ingin memberi upah pada pencuri suruhannya tersebut. Tapi mereka juga dibuat jadi maling. ‗Cukup. Mereka bilang. Kita sudah dibuatnya jadi maling. serta melenyapkan . Tahu apa mereka bilang? ‗Jangan berani-berani ke sini curi bibit karetku. Aku bawakan sampai dua kali balik. ya?‘ Ireng merintih Cuma orang semacam Juragan Musa bisa berbuat begitu!‖ (Hal. “Kenapa. 26) 3. Panen seluruhnya mereka ambil.menggambarkan keadaan pada zaman tersebut di mana orang-orang DI tak berbeda dengan binatang buas. Dirampas binatang-binatang buas itu juga. 4 Berisikan perlawanan terhadap segala sesuatu yang berbau “humanismeborjuis” untuk memenangkan “humanisme-proletar” dan berupaya untuk menghapus klas-klas serta pelapisan atas manusia. merampas pikulan dan golokku. kau ingat waktu anak kita yang pertama sakit keras. Kekayaannya mereka peroleh dari maling. terpaksa jual tanah. Kita kelaparan. pinjam hutang pada mereka? Anak kita meninggal.Mereka! Aku tak takut dibui.

Kalau kau coba-coba beli gerobak. Kondisi adanya dominasi kekuasaan yang mengambil setting tempat di Banten Selatan ini salah satunya ditunjukkan oleh dialog tokoh pemikul singkong yang tengah beristirahat sambil merokok. Ranta mendesak terus. Dia punya uang. tapi sekarang sambil melepas tangan Komandan: . Ireng?‖ (Hal. 31) Upaya untuk menghapus klas-klas serta pelapisan atas manusia. dua kali pajak. Pak Lurah. berapa pajak mesti dibayar. Dulu. tiap kali dua pintu jalan onderneming itu?!‖ (Hal. Baru sekali ini sejak jadi Komandan di sini kami dapat menghancurkan gerombolan dengan begitu baik. kamilah yang seharusnya berterimakasih. Kita Cuma punya kawan orang kecil-kecil. rodi. Komandan berterimakasih pada Ranta sebagai Lurah yang telah mencetuskan semangat gotong-royong yang berimbas pada stabilitas keamanan masyarakat setempat dari pemberontakan DI. “Ireng segera menyambar: Kalau dia mau.kemungkinan munculnya minoritas yang mengeksploitasi tenaga mayoritas yang produktif. “Begini. jalan ini dulu kita yang buat. Malah menangkap biangkeladinya. Kita akan perbaiki keadaan kita. siapa di antara kita bisa lawan? Dia tak pakai tenaga badannya. Bukan. serta melenyapkan kemungkinan munculnya minoritas yang mengeksploitasi tenaga mayoritas juga tercermin dari dialog tokoh Komandan usai berjuang melawan pemberontakan. Tak pernah sebelumnya ini terimpi-impi oleh kami. Apa sekarang? Lewat jalan yang kita buat sendiri kita bayar pajak pada onderneming. yaitu: ―Huh! Ingat kau. Dua pintu jalan. dan sudah dua kali pula. 13) Kondisi tersebut juga apat dilihat dari dialog Ireng dan suaminya. Dia punya kawan orang-orang besar. ramai-ramai. Kita takkan putus asa lagi. Kita tak bisa lawan uangnya. Ranta memutuskan kata-kata isterinya: Kita sudah bosan putus asa.

Sekarng aku baru tahu engkau sendiri ini pembesar DI! Juragan Musa berdiri. Penipu! Jadi kau minta direjam seperti yang lain-lain? Tempat kita terpencil. tetapi pada akhirnya mereka tidak bersama lagi. 101) 3. Sekalipun tidak jadi bercerai. “Jadi kau mau khianati aku? Jadi kau sudah lupa. sebenarnya kita semua wajib berterimakasih pada semangat gotongroyong. tapi hasilnya buat kami. 5 Memiliki watak yang jelas. Hahah.. 6 Berupaya mempercepat pembangunan kalangan sendiri dengan membela humanisme-proletar dan berupaya untuk menciptakan dunia baru yang dibangun di atas landasan keadilan yang merata. sebab juragan Musa terbukti sebagai Residen DI yang kemudian ditangkap dan dihukum sebagai pemberontak. bertolak pinggang dan meradang juga Kau punya pura-pura alim! Kau yang pura-pura saleh! Kau murtad pada takdir Tuhan. di antaranya yaitu militansi sebagai ciri tak kenal kompromi dengan lawan. ―(Hal. Rejamlah. Watak yang tegas dan tak kenal kompromi diperlihatkan oleh tokoh Nyonya. istri drai Juragan Musa yang meminta cerai pada suaminya tersebut. Ciri lain dari aliran realism-sosialis di antarnya adalah adanya muatan yang berupaya mempercepat pembangunan kalangan sendiri dan menciptakan dunia yang .‖ (Hal. orang tuaku dihabisi DI? Keluargaku lari tungganglanggang karena DI.Itu memang kewajiban Bapak. pada semangat persatuan ……………. Tuhan sudah pilih aku jadi hambaNya untuk menegakkan hukumNya. Tak ada yang mengahalangi kau merejam aku. Engkau pembesar DI. Nyonya jatuh terduduk. Tangan Juragan Musa melayang. Engkau suamiku. 54-55) 3. Dan sewaktu duduk nyonya menyeka mulutnya yang berdarah sambil berkata muak.

tanpa kutanyai. tentara bersama rakyat. kalian semua ketua Rukun Tetangga. 77-78) Percepatan pembangunan kalangan sendiri dengan membela humanismeproletar ini juga nampak dalam penggambaran situasi setelah usai masyarakat berjuang melawan pemberontakan. Pak. saudara-saudara. Kita pergunakan tong-tong di tiap rumah untuk menyampaikan berita dan mengerahkan rakyat untuk melawan musuh bersama. Jalanan di sini tidak banyak. Hal ini tampak dari deskripsi seorang tokoh mengenai kondisi masyarakat saat itu yang lebih baik dari pada sebelumnya. orang-orang sudah bilang: keadaan sekarang sudah mulai baik benar. barangkali Pak Lurah bisa kasih bantuan mempertahankan keamanan daerah ini. jebakan. ‖ (Hal. Mereka punya senjata dan gerombolan. Kita bersama-sama bergotong-royong membuat pertahanan. Nah.‖ (Hal. Pak Lurah. Rukun tetangga di sini didirikan buat bantu pemerintahan desa. Kami mendapat laporan. Pak. Pak Lurah sendiri tahu. dan pemerintahan desa dipulihkan buat bantu saudara semua. “Pak Lurah tersenyum puas. Dengan sungguh-sungguh Pak Lurah menyarankan: Kita persatukan rakyat. Pak Lurah. Maksudku. kami di sisni hanya tahu tanah dan pacul. Kalau kita tidak mau bersatu. Pak. “Ah. Cobalah pikir. Komandan menengahi: Maksudmu gotong-royong? Tentu. Dan sebolehboleh jangan sampai ada jatuh korban. Bagus. Kita pergunakan bambo untuk ranjau-ranjau. ……. ranjau-ranjau. Kita Cuma tahu . kekuatan tentara di sini tidak besar. kita lawan musuh bersama-sama. Berkata: Jadi sudah datang semua. gerombolan Oneng sudah ada di sekitar daerah kita ini. apa yang kami bisa perbuat dengan Cuma tahu tanah tahu pacul ini! …… Begitulah. Yaitu ketika Ranta telah menjadi seorang Lurah. tidak mau gotong-royong. 75) “Begini.adil.

Nah.bantu-membantu. Karena itu kita mesti melawan! Kalau kita susun perlawanan kita baik-baik. Semua itu saudarasaudara sudah hafal. siapa keberatan? Seorang tua. 7 Menampakkan adanya peringatan bahwa kapitalisme adalah musuh manusia dan kemanusiaan serta mengupayakan rakyat untuk berani melakukan orientasi terhadap sejarahnya sendiri. kalau kita bersatu. semua yang satu.‖ (Hal. bersama-sama kerja. Dengarkan baik-baik: Gerombolan akan datang menyerang lagi. Oleh karena sosialisme sangat bertolakbelakang dengan paham kapitalisme maka penentangan terhadap kapitalisme menjadi salah satu ciri dominan dalam realisme-sosialis. Coba perhatikan. juga dari kemiskinan dan bencana alam. gugurgunung. turuntemurun kita hidup morat-marit. Kalau kita tidak melawan seperti selama ini. Kenapa? Karena tidak mengerti. . biar penjajah bisa kita usir!‖ (Hal. 86) 3. Peringatan mengenai kapitalisme sebagai musuh tampak menonjol sebagai ciri dari relisme-sosialis. Kita sendiri mesti belajar mempertahankan keselamatan kita sendiri. kerjabakti. nah. 85) “Dan orang tua itu meneruskan: Kalau kita tak bisa seorang diri pertahankan keselamatan kita. bersaudara. sebenarnya kekuatan kiata jauh lebih besar. Nah. Semua saja bisa kita kerjakan. mereka mau binasakan kita. yang sudah berjenggot dan berkumis putih. seperti kucing! Melawan atau tidak. satu dengan yang lain. Tentara yang ditempatkan di desa terpencil ini cuma sedikit. Bukan saja dari keganasan gerombolan. “Apa salahnya? Mengapa mesti apa salahnya? Kita semua tahu. kita dibunuhi. kita kerja beramai-ramai. kita mesti melawan. Kita tak bisa mengandalkan diri pada tentara dan OKD saja. satu dengan semua. Kita semua harus ikut melawan. dibakari. 85) …….‖ (Hal. Kapitalisme yang terjadi digambarkan oleh deskripsi tokoh yang memperlihatkan situasi dan kondisi yang kacau di wilayah Banten Selatan tersebut. sekarang ada soal penting. gotong-royong. Jangankan waduk buat seluruh desa kita. Salah satu gambaran tersebut adalah cerita yang diungkapkan oleh Komandan khususnya mengenai Juragan Musa yang cukup kapitalis. kita pasti menang. menyambut sambil tertawa: Memang. bersama-sama bela diri.

Sampai keluarga yang paling miskin tak luput dari kebiadabannya. membakari rumah. 66) Adanya kapitalisme yang menyengsarakan rakyat juga tercermin dalam monolog tokoh Nyonya. cuma dapat dilaksanakan oleh semua orang. Juragan Musa yang kaya ini tidak pernah diganggu olehnya. Juragan benar. Kekuwatiran hanya bagian pendurhaka.“Sudah lama daerah sini kacau. itu gotongroyong. perampokan dan penganiayaan di daerah sini. 56) “Dengar. Tapi aneh. Juragan Musa. Pertama-tama isterimu sendiri menyebut kau pembesar DI.‖ (Hal. Jadi bagaimana sekarang. Sang Kapitalis dalam Novel ini.. Gerombolan terus-menerus menggedor. Tetapi ada bukti-bukti yang membuat kami curiga. Daerah sini daerah paling kacau. Dengar…‖(Hal. Kedua Pak Lurah sini. …. Sebagai orang beragama. Hati-hatilah! Hati-hatilah! Satu orang bisa hancurkan kita semua. Juragan Musa dan Pak Lurah ikut bertanggungjawab atas peristiwaperistiwa pembunuhan. Banar! Tapi keselamatan tiap orang. dan ketiga surat-surat dalam tas Juragan sendiri. Mengapa? Nah. seluruh bangsa. Pak Residen? Mengaku? …… Sudah tiga bukti menyatakan. kan?‖ (Hal 108) . tapi apa buktinya? Bukti-buktinya: Juragan dan Pak Lurah sendiri pengkhianat rakyatnya sendiri. seluruh bangsa. kami curiga. Tapi kesejahteraan kita harus diciptakan oleh semua kita bersama-sama. Juragan punya hubungan akrab dengan gerombolan pengacau. kerukunan. …. Tidak layak berkhianat! Islam tidak mengajarkan dan mewajibkan pengkhianatan pada rakayat dan sesamanya. Sudah kuusahakan bermusyawarah dengan orang-orang terkemuka di sini dan Pak Lurah.. tidak layak memungkiri janji. kalau ada persatuan. “Satu pendurhaka dapat hancurkan seluruh kebahagiaan tiap orang. Pelaksanaan ini mungkin. …… Tak perlu kuwatir. Ya. kau Residen DI. persaudaraan. Juragan Musa berjanji mau bantu kami. yang sekarang baru ketahuan orang DI juga. istri dari Juragan Musa.

“Aku percaya padamu. Sambil bangkit dari kursi Ranta membantah: Tidak. Sudah jangan bantah. memakmurkan daerah sendiri.‖ (Hal 73) Juga dalam percakapan antara Rodjali dengan Ranta ketika membahas mengenai pemberontakan. Ranta. “Nasib kita akan lebih buruk kalau mereka membalas dendam. mereka punya senjata. Biar bersatu. Dengar! Dari dahulu kita hidup kocarkacir. Mulai hari ini kau jadi lurah sini. dan miskin. barangkali kau sendiri pernah dengar. merawat daerah sendiri. Baru berapa bulan kita mau kerjasama? Lihat sendiri. ajakan dan dorongan untuk tetap tegap melawan penindasan demi terciptanya keadilan merata bukan sekadar berdasarkan emosi tetapi juga berdasarkan ilmu dan pengetahuan. menjaga ketertiban dan keselamatan bersama. persatuan dan kebenaran.Juga dengan dialog Komandan yang tengah bertukar pengalaman seraya mengupayakan masyarakat untuk berani melakukan orientasi terhadap sejarahnya sendiri. kalau kita bersatu. seperti Komandan yang memberikan keparcayaan terhadap Ranta untuk menjadi Lurah sementara sebab Lurah sebelumnya ternyata adalah seorang pengkhianat yang terbongkar melalui jasa Ranta.‖ (Hal 115) 3. “Komandan itu menegakkan badannya dan bertanya: Dari dulu aku bilang. dan juga. 8 Menampakkan adanya semangat yang diberikan kepada masyarakat berupa: ungkapan pedagogis dan sugestif. sudah begitu banyak kita dapat perbuat. . Karena itu juga kalian dulu tidak punya sekolah untuk anak-anak kalian. dan dorongan untuk tetap tegap melawan penindasan demi terciptanya keadilan merata sebagai penyemangat bagi masyarakat terlihat dalam dialog tokoh-tokohnya. Kerjasama dalam segala hal: mengamankan daerah sendiri. Tidak punya jalanan yang baik. Mengapa? Karena orang semuanya ini tidak rela kerjasama. Ungkapan pedagogis dan sugestif. kita semua mesti bisa kerjasama. Kau harus ikut jaga keamanan dengan kami. melarat.

Itu benar. juga didasarkan bukan hanya sekadar emosional semata. 76-77) Tokoh Ranta yang tengah menenangkan kerisauan akan kemungkinan timbulnya pemberontakan yang tak dapat diterka kapan datangnya secara langsung maupun menjadi media penyemangat bagi masyarakat. jangankan rumah. Djali? Abdi dengar. Persatuan saja modalnya. Djali. Tiap hari dia mangsa hidup kita.‖ (Hal. Kemudian dengan irama mendongeng Ranta bercerita: Kalau kita semua tidak mau bersatu. kebahagiaan kita. kau berpikir secara dulu juga seperti yang lain-lain. Surabaya. kita bersatu dan juga melawan. kemudian bertanya: Dan kemiskinan kita? Itu juga mudah kita lawan. Begini Djali. Jakarta. semua bisa kita kerjakan. kalau ada persatuan. Sejenak Rodjali berseri-seri. persaudaraan. “Dengar kalian tak perlu takut. tidak mau bergaul dengan sesamanya. kita akan gali beramai-ramai. kita semua akan berkelahi terusmenerus satu dengan yang lain. Bandung. dia tetap akan menjadi mangsa. Di mana-mana sama saja. Jadi. gunung dan laut bisa kita pindahkan. kita semua disuruhnya membantu. Apa akhirnya? Akhirnya barangsiapa kuat. Djali. kalau ada persatuan. Dengar. dia berubah menjadi binatang buas. Kau dengar. Tapi abdi lebih percaya pada kebenaran. Pasang ranjau-ranjau bamboo terpendam di . Di manamana aku selalu dengar: Yang benar juga akhirnya yang menang. barang ke mana pergi.Tidak. bahkan menyerang. melainkan pertimbangan yang matang lagi bijak. Tapi bila sekali waktu binatang buas ini bertemu dengan binatang buas lainnya. Satu-satunya yang menelamatkan kita semua Cuma persatuan. semua-muanya. Pertama-tama kita mesti jadi sahabat dan saudara satu dengan yang lain. anak dan bini kita. Kau belum banyak makan garam. Binatang-binatang buas ini menarik diri. pulanglah saudara ke tempat masing-masing. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit. Ah. Orang-orang lemah yang tidak bisa jadi binatang buas. Barang apa dikerjakannya. Mereka keluar dari sarang hanya untuk mencari mangsa. Kau ingat saluran air sawah yang dangkal dan ditumbuhi semak-semak sejak zaman Jepang dulu? Nah. dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar………. rejeki kita. dia akan tetap jadi mangsa. Pak Lurah. Aku sudah pernah lihat Palembang. Kalian punya anakbuah. kemudian sawah kita akan makmur lagi. Benar sekali.

maupun Pram sebagai penulis novel. laki. bagaimana anak-cucu kita! Seorang orang tua dalam kelompok itu mengusulkan suaranya: Saudara-saudara. baik yang ditulis oleh pihak penerbit. Dialog para tokohnya dalam memperbincangkan realitas yang terjadi sebagai muatan cerita. Ialah Pram yang menuliskan pengalaman dan penguasaan realitas di Banten selatan pada akhir tahun 1957. semua sebaiknya ikut membantu. bukti yang lebih eksplisit yang menerangkan bahwa pengarang novel ini menguasai realitas dan juga mendapat bimbingan dari kaum proletar ada pada pengantar. Salah satu kutipan yang memperlihatkan hal tersebut adalah pengantar yang ditulis Pram dalam paragraf kedua. Di samping itu.‖ (Hal 86) “Siapkan tanaman duren dan kelapa buat kalian waktu kalian masih bayi? Kalian sendiri? Ha-ha! Orangtua. sebenarnya tidak ada orang yang bertanam buat dirinya sendiri. kakek kalian! Kalau semua orang cuma mau menanam buat diri sendiri. yaitu: “Beberapa orang tokoh dalam cerita ini diambil dari orang-orang yang pernah Pram temui di daerah Banten Selatan. Kalau gerombolan dapat dihalaukan dari tempat ini.tempat-tempat yang bakal dilewati gerombolan. selain menumpas gerombolan. Nanti sore aku akan datang ke tempat-tempat saudara. Ranta berteriak mengatasi keributan yang timbul: Benar! Juga kita hidup bukan untuk diri kita. Nah. Panah dan sumpit bagikan pada semua orang. Hal ini nampak dari prolog yang disajikan penulis yang berkaitan dengan latar tempat dan waktu. tua. baru kita bisa bekerja dan hidup dengan aman. orang-orang yang mengenal . Jangan pikirkan yang lain-lain. ikut mengatur. Isi dari novel ini menunjukkan kepiawaian penulis dalam mereportase sebuah kejadian. tetapi buat anak-cucu kita!‖(Hal 118) 3. Alur yang maju-mundur tampak tak berbias dengan kehidupan seorang manusia. sekarang pulanglah. perempuan. muda. 9 Pengarang menguasai realitas kehidupan sosial tanah airnya dan dengan bimbingan humanisme-proletar memperjuangkan kepentingan tanah air dan rakyat.

seorng lagi bekas mandor yang ikut kerja rodi membuka jalan antara Pelabuhan Ratu dan tambang mas Cikotok. Novel yang sebagian besar memang berisikan dialog ini memberikan suguhan cerita mengenai kondisi tertentu pada sebuah zaman. Realisme-sosialis adalah pempraktikan sosialisme di bidang kreasi sastra. Karya-karya Pram yang didaulat sebagai karya (novel) sejarah telah berhasil mendokumentasikan hadirnya realism-sosialis yang lebih lanjut diperlihatkan melalui karakteristik atau ciri-ciri yang terdapat dalam novel tersebut. Karya sastra Indonesia bergenre novel yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer adalah sebuah wujud di mana aliran realismsosialis berkembang di negeri Indonesia. dan sedikit banyak pernah menceritakan kepadanya tentang hal-hal yang pernah mereka alami den mereka dambakan.‖(Hal. . Ciri-ciri realisme-sosialis dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan secara dominan terlihat dari percakapan para tokohnya. beberapa buruh tambang. Ciri dari realisme-sosialis di antaranya adalah wataknya yang sejalan dengan keradaannya dalam bidang sastra yang melingkupi adanya front perjuangan. dengan tingkah laku manusia yang temporal pada masa itu. aliran realisme juga berkembang di Indonesia. yaitu pada masa pemberontakan DI di Banten Selatan. yang ikut dengan sukaduka perkembangan daerahnya. Seorang di antaranya adalah Lurah. Berbagai ciri lain mengenai realism-sosialis yang berkembang di Indonesia diperlihatkan dari sejumlah catatan dan keterangan yang secara personal diberikan oleh penulis dan dimuat dalam pengantar novel ini. Melalui karakteristiknya aliran realisme kemudian memiliki fokus yang lebih spesifik lagi. Pengantar) BAB 3 PENUTUP Seperti aliran sastra lainnnya. dan petani yang pada waktu itu sedang kerjabakti memperbaiki jalan yang tertimpa tebing longsor. Realisme-sosialis di Indonesia berkembang oleh adanya peranan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).daerah ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful